Feeds:
Posts
Comments

Archive for December 23rd, 2009

This is not a love story. This is a story about love.

Tom Hansen (Joseph Gordon-Levvit), adalah tipikal cowok yang percaya akan cinta pada pandangan pertama, cinta sejati, jodoh, dan sebagainya. Sebaliknya, Summer Finn (Zooey Deschanel) adalah perempuan yang tidak percaya pada hal itu dan merupakan cewek independen yang tidak suka terikat dengan laki-laki. Keduanya pertama bertemu saat Summer diperkenalkan sebagai karyawan baru di tempat Tom bekerja. Sejak pertama melihatnya, Tom langsung jatuh cinta pada pandangan pertama pada Summer yang memang menarik dan misterius. Akhirnya setelah melalui berbagai hal, Summer pun mulai tertarik pada Tom dan mereka mulai menjalani sebuah ‘hubungan’.
Yeah, karena Summer adalah orang yang tidak menyukai adanya ikatan, hubungannya dengan Tom merupakan hubungan tanpa status. Jadi mereka melakukan hal-hal seperti selayaknya orang pacaran, bermesraan, ciuman, bobo bareng *halah*, dan sebagainya. Namun, menurut Summer mereka hanyalah teman. Tom yang awalnya bahagia-bahagia saja mulai menuntut kejelasan hubungan mereka pada Summer. Kata Tom: “friends do not kissing in photocopy room. And friends do not do shower sex.” Hal itu membuat Tom mulai frustrasi dan kesal. Jadi, gimana selanjutnya? tonton aja deh :p

My Opinion:

I love this movie. Film ini bukan tipe film komedi romantis yang semuanya berakhir bahagia dan si cewek dan si cowok kemudian bersatu selamanya setelah melalui berbagai pertengkaran. Bukan seperti itu. Film ini memiliki happy ending, tapi happy ending di sini adalah bagaimana Tom dan Summer menemukan kebahagiaannya masing-masing. (sebelumnya maaf spoiler nih) Summer yang tidak percaya akan adanya ikatan malah akhirnya menikah lebih dulu dengan seorang yang belum lama ditemuinya. Tom yang percaya bahwa Summer adalah cinta sejatinya kemudian menemukan gadis lain yang (mungkin) akan menjadi jodohnya. Film ini menampilkan realitas atau kenyataan yang tidak seperti film-film romantis lainnya. Seperti kata tagline filmnya, ini bukanlah cerita cinta, tapi ini adalah cerita tentang cinta (bingung? tonton aja deh).
Selain hal-hal tersebut, yang saya suka dari film ini adalah kemasan atau tampilannya. Alurnya acak, sebagaimana judulnya, (500) days of summer, film ini menampilkan 500 hari itu. Jadi di scene awal ditampilkan hari yang ke berapa gitu (lupa) lalu scene selanjutnya menampilkan hari pertama.
Banyak scene yang cukup cantik dan memorable. Saya suka adegan di toko Ikea. Scene-nya lucu dan cantik bangeet. Selain itu, soundtrack-nya juga mantep!! Cocok sama adegan-adegan yang ditampilkan oleh film ini.
Untuk akting, saya suka akting kedua pemainnya. Joseph Gordon-Levvit cocok memerankan cowok lugu yang jatuh cinta pada Summer. Cuman kok tampangnya agak-agak nyebelin minta ditabok gitu ya? *pendapat saya loh*. Zooey terlihat adorableeee sekali di film ini. Meskipun menurut saya sebetulnya wajahnya biasa aja dan ga cantik-cantik amat, tapi dia punya pesona dan karisma yang memukau sekali di film ini. Mau sebel sama dia yang terlihat mempermainkan perasaan Tom juga jadi ga bisa ^^

Jadi, 4,5 bintang dari saya. Recommended!

My Rating: 4,5 / 5

Advertisements

Read Full Post »

*Review ini pertama kali ditulis 21 Desember 2009 di http://purisuka.multiply.com

Saya tertarik untuk baca buku ini waktu lagi milih-milih buku di batu api (tempat penyewaan buku). Karena tertarik dengan cover dan sinopsisnya, tanpa pikir panjang saya langsung pinjem buku ini, dan ternyata saya gak nyesel minjemnya, bukunya emang bagus ^^

Buku ini merupakan novelet, ada dua cerita di dalamnya, yang satu “Kitchen” (seperti judul novelnya) dan yang satu lagi “Moonlight Shadow”. Dua-duanya memiliki tema yang sama, yaitu tentang orang-orang yang mengalami kehilangan.

Cerita “Kitchen” menceritakan sosok perempuan muda bernama Mikage Sakurai. Hidupnya sebatang kara, orang tuanya meninggal saat ia masih kecil. Ia lalu tinggal dengan neneknya. Namun, saat menginjak usia kuliah, neneknya pun menyusul kepergian orang tuanya alias meninggal dunia. Sejak itu Mikage merasa dirinya benar-benar sebatang kara. Ia hanya menemukan kenyamanan di dapur. Dapur adalah satu-satunya tempat yang dapat membuatnya tidak merasa kesepian dan setelah neneknya meninggal setiap hari ia memilih untuk tidur di dapur.
Suatu hari datang seorang pemuda bernama Tanabe Yuichi. Yuichi adalah pemuda yang bekerja di toko bunga yang sering dikunjungi nenek Mikage. Yuichi sangat akrab dengan nenek Mikage dan ia menawarkan Mikage untuk tinggal di apartemennya bersama dia dan ibunya. Mikage pun menerima tawaran itu dan begitu datang ke apartemen Yuichi ia langsung menyukai dapur keluarga Tanabe. Ia juga berkenalan dengan Eriko Tanabe, ibu Yuichi yang sebenarnya adalah ayah kandung Yuichi yang memilih jadi transeksual sejak istrinya meninggal. Kehidupan Mikage pun mulai kembali ceria sejak tinggal bersama mereka berdua. Namun, setelah Mikage tidak tinggal bersama mereka lagi, Eriko kemudian meninggal dunia karena dibunuh seorang pria yang jatuh cinta padanya dan merasa tertipu saat mengetahui bahwa Eriko sebenarnya adalah Pria. Sejak itu, hubungan Mikage dan Yuichi menjadi kaku dan saling menjauh. Tapi kemudian mereka mulai bangkit dari kesedihan dan mulai mencairkan kekakuan hubungan mereka.

Cerita “Moonlight Shadow” juga bercerita tentang orang-orang yang kehilangan orang yang dicintai. Satsuki harus menerima kenyataan bahwa kekasihnya Hitoshi meninggalkannya karena kecelakaan mobil. Shu, adik Hitoshi, juga kehilangan kakak serta kekasihnya, Yumiko, yang meninggal dalam kecelakaan yang sama dengan Hitoshi. Sejak itu kekosongan menghantui mereka berdua. Satsuki mulai memiliki kebiasaan jogging setiap pagi. Sedangkan Shu, setelah kematian Yumiko jadi sering memakai seragam yang biasa dipakai oleh Yumiko (yang adalah seragam kelasi lengkap dengan rok). Setelah Satsuki bertemu dengan seorang gadis misterius bernama Urara dan mengalami suatu kejadian ajaib yang melibatkan gadis itu, Satsuki dan Shu mulai bangkit dari kesedihan dan melanjutkan hidup mereka.

My Opinion:
Saya suka cerita buku ini. Ceritanya sebetulnya sederhana, tapi punya makna yang ‘dalem’ banget buat saya. Saya mengerti betul bahwa orang yang mengalami kehilangan orang yang disayangi selalu akan mengalami kekosongan dalam jiwanya. Kehilangan seseorang kadang-kadang terasa lebih menyedihkan dibandingkan jika kita yang meninggalkan orang-orang yang kita sayangi tersebut. Kadang-kadang saya sering merasa takut jika orang-orang yang saya sayangi satu persatu pergi meninggalkan saya.

Oke, cukup untuk curhat pribadinya. Seperti yang saya bilang, ceritanya sederhana, dalem, dan menyentuh. Saya suka bagaimana Mikage menggambarkan mengapa dapur adalah tempat yang tidak akan membuatnya kesepian. Saya juga suka melihat (atau membaca) interaksinya dengan Yuichi, seperti di bagian akhir saat Mikage nekad melintasi kota untuk bertemu Yuichi di tengah malam.
Cerita Moonlight Story juga cukup dalem dan menyentuh. Di sini diperlihatkan bagaimana orang-orang yang mengalami kehilangan tersebut lalu menemukan pelarian seperti pada Satsuki yang jadi sering lari pagi dan Shu yang kemudian suka memakai baju perempuan. Namun akhirnya mereka sadar, bahwa melakukan hal tersebut tidak membuat semuanya menjadi lebih baik melainkan hanya akan semakin menambah kesedihan saja. Pada akhirnya mereka sadar dan bangkit untuk maju dan memutuskan untuk tidak dikerangkeng oleh kesedihan tersebut. Cerita Moonlight Shadow ini mengajarkan kita agar dapat bangkit dari kesedihan dan kekosongan akibat kehilangan orang yang dicintai.

4 bintang dari saya. Terjemahannya sendiri enak banget dibaca dan ceritanya cukup singkat. Recommended! 🙂

My Rating: 4 / 5

Read Full Post »

[BOOK] The Alchemist (Paulo Coelho)

*Review ini pertama kali ditulis 28 November 2009 di http://purisuka.multiply.com

Buku ini baru beres saya baca beberapa jam yang lalu. Ini adalah buku Paulo Coelho kedua yang saya baca setelah sebelumnya saya pernah membaca salah satu karyanya yang lain yang berjudul the Witch of Portobello. Dan setelah baca buku ini, saya makin jatuh cinta sama Paulo Coelho dan jadi semakin ingin baca karya-karyanya
yang lain ^^

Buku ini betul-betul bagus dan sangat wajib dibaca. Buku ini bercerita tentang perjalanan seorang bocah dalam meraih mimpinya. Jadi alkisah ada seorang bocah bernama Santiago (selanjutnya dalam novel ini namanya jarang disebut dan hanya disebut bocah saja), bocah yang memiliki keinginan untuk mengembara, dan memutuskan untuk menjadi seorang gembala demi tujuannya untuk mengembara. Suatu hari ia bermimpi hal yang sama dua kali berturut-turut. Dalam mimpinya ada seorang anak yang membawanya ke piramida di Mesir dan mengatakan bahwa di sana ada harta terpendam. Karena merasa terganggu oleh mimpinya, ia pun pergi ke seorang wanita peramal gipsi, dan peramal itu hanya menyarankan si bocah itu untuk pergi ke piramida untuk mengambil hartanya. Bocah itu merasa kecewa dan merasa ditipu oleh peramal itu. Namun setelah pergi dari tempat peramal itu ia bertemu dengan seorang lelaki tua yang mengaku sebagai raja Salem. Si raja itu ternyata mengetahui mimpi si bocah itu dan akan memberitahunya bagaimana cara mendapat harta tersebut dengan syarat ia meminta imbalan berupa sepersepuluh domba yang dimiliki si bocah itu. Awalnya bocah itu ragu namun akhirnya ia mengikuti keinginan si raja Salem tersebut. Raja Salem pun memberitahunya untuk pergi ke Piramida di Mesir dan mengikuti tanda-tanda. Lalu, dimulailah pengembaraan bocah tersebut ke Mesir, tempat yang sangat asing baginya dan memiliki bahasa yang berbeda pula. Di sini ia banyak mendapat pengalaman-pengalaman dan rintangan seperti bertemu pencuri, bekerja pada pedagang Kristal, menumpang karavan, tinggal di sebuah oasis dan bertemu dengan Fatima yang merupakan cinta sejatinya, hingga bertemu dengan sang Alkemis yang kemudian membantunya mencapai piramida. Lalu bagaimana selanjutnya? Apakah bocah itu berhasil mencapai tujuannya? Di manakah dan apakah harta itu? Baca aja deh :p

My Opinion:
I LOVE THIS BOOK! Buku ini betul-betul buku yang sangat menginspirasi. Buku ini mengajarkan kita agar terus berusaha untuk mengejar impian yang kita miliki. Berhubung banyak orang yang membuang jauh-jauh impiannya, seperti karakter si pedagang kristal dalam novel ini yang memiliki impian untuk pergi ke Mekah untuk naik haji dan belum juga melaksanakan impiannya tersebut karena takut ia tidak akan punya alasan untuk hidup lagi jika impiannya terwujud. Melalui karakter si pedagang Kristal ini juga kita belajar untuk mengetahui bahwa dunia itu luas, tidak hanya berkutat pada itu-itu saja, dan mengajarkan kita untuk tidak takut menghadapi perubahan.

Buku ini juga memperlihatkan pada kita bahwa yang berharga dari pengalaman bocah tersebut bukanlah harta yang akhirnya ia peroleh, namun makna dari pengembaraannya tersebut di mana ia banyak menemui berbagai macam orang dan mendapat pelajaran berharga dari pengalaman-pengalamannya tersebut. Oh iya, yang saya suka dari buku ini juga adanya quote-quote menarik berupa pepatah-pepatah bijak. Salah satu kutipan yang saya suka adalah: “saat kamu menginginkan sesuatu, segenap alam semesta bersatu untuk membantumu meraihnya.”
Oke, segitu aja reviewnya. Di luar ceritanya yang bagus dan sangat menginspirasi, bukunya juga enak banget dibaca dan ga butuh waktu lama untuk menghabiskannya karena cuma terdiri dari 179 halaman (cukup singkat kan?). Jadi, 5 bintang dari saya deh 🙂

My Rating: 5 / 5

Read Full Post »

*Review ini pertama kali ditulis 27 November 2009 di http://purisuka.multiply.com

Saya selalu tertarik buat nonton karya adaptasi, seperti dari buku ke film, film ke buku, film ke film, dan berbagai jenis karya adaptasi-adaptasi lainnya. Rasanya menarik aja melihat suatu cerita yang sama tapi versinya berbeda. Meskipun kadang-kadang saya (sering) dibuat kecewa karena karya adaptasinya ternyata gak sebagus atau jauh banget kualitasnya sama karya aslinya.

Film My Sassy Girl versi Hollywood ini adalah satu karya adaptasi yang mengecewakan (menurut saya loh). Film ini merupakan adaptasi dari film Korea yang berjudul sama, dan merupakan salah satu film Korea favorit saya. Makanya, pas tau film ini diadaptasi ke versi Hollywood, saya pun penasaran pengen tau seperti apakah my sassy girl versi ‘bule’ ini.

Ceritanya sendiri sama persis dengan yang versi Korea, berkisah tentang Charlie (Jesse Bradford), seorang cowok lugu yang bertemu dengan seorang cewek ‘aneh’ di stasiun kereta api. Cewek itu sebelumnya pernah dilihat Charlie di jalan, dan pada saat itu ia tertarik pada cewek itu. Di stasiun, cewek itu tampak tengah mabuk dan akhirnya pingsan. Karena tidak ada yang menolongnya, maka Charlie pun membawanya ke apartemennya. Setelah kejadian itu, mereka pun saling mengenal. Cewek itu ternyata bernama Jordan (Elisha Cuthbert). Dia berbeda dengan cewek-cewek kebanyakan. Jordan suka mabuk-mabukan, galak, suka mengarang cerita aneh, dan pemaksa. Namun, meskipun begitu Charlie jatuh cinta padanya. Mereka pun mulai menjalani hubungan asmara yang tentunya mengalami rintangan karena kepribadian Jordan yang sebetulnya merupakan mimpi buruk bagi Charlie. Lalu, gimana selanjutnya? Apakah hubungan mereka akan terus berjalan? Tonton aja deh (tapi saya lebih menyarankan buat nonton yang versi korea-nya aja ^^)

My Opinion:
KURANG GREGET! Itu komentar saya buat film ini. Ceritanya bisa dibilang 90% sama persis, tapi gak ‘greget’ sama sekali. Pertama, dari pemainnya menurut saya dua-duanya kurang cocok. Elisha Cuthbert kurang terlihat galak sebagai Jordan si ‘sassy girl’, beda dengan pemain versi Korea-nya (yg karakter di filmnya tidak memiliki nama dari awal sampai akhir) yang karakternya bener-bener ‘megang’ di film itu. Selain itu, karakter cowoknya terlihat datar-datar saja, padahal karakter aslinya digambarkan sebagai cowok yang lugu dan (tampak) bego. Di sini sih cowoknya malah terlihat baik hati sekali dan aktingnya sangat datar. Selain masalah pemeran, adegan-adegan di film ini yang harusnya romantis atau mengharukan malah terlihat biasa-biasa saja di film versi hollywoodnya ini (misalnya waktu Jordan mencari Charlie melalui pengeras suara di stasiun).
Settingnya juga kurang ‘dapet’. Contohnya pohon di mana mereka mengubur surat, entah kenapa gak kerasa pas aja karena terlihat dibuat-buat dan letaknya yang berada di tengah kota, bikin keromantisan film ini semakin berkurang saja. Untuk endingnya (awas spoiler), sebetulnya sama persis, bedanya yang di Hollywood endingnya ciuman dan yang Korea hanya berpegangan tangan. Dan buat saya endingnya lebih bagus versi Korea-nya, lebih manis aja gitu.
Oke, jadi 2,5 bintang aja dari saya. Ceritanya gak beda jauh dengan versi Korea-nya, tapi karena pemain, setting, dan adegannya kurang pas dan kurang greget, membuat adaptasi ini gagal dan gak memuaskan penggemar film aslinya.

My Rating: 2,5 /5

Read Full Post »

*Review ini pertama kali ditulis 21 November 2009 di http://purisuka.multiply.com

Buku ini saya baca beberapa hari yang lalu, pinjem dari tempat penyewaan buku Batu Api (dasar ga modal). Dari dulu penasaran karena buku ini merupakan asal mula film klasik terkenal berjudul sama yang dibintangi Audrey Hepburn. Kebetulan, beberapa minggu sebelumnya saya beli dvd film itu tapi belum sempet saya tonton. Jadi, lebih baik saya baca bukunya dulu aja baru nonton filmnya.

Novel ini bercerita tentang perempuan bernama Holly Golightly (di filmnya diperankan oleh Audrey Hepburn), perempuan misterius yang punya masa kecil kelam. Ia menikah di usia 14 tahun dan pada usia itu pula ia kabur dari rumah (suami)nya. Holly adalah perempuan berjiwa bebas, banyak pria yang memujanya. Ia sering mengadakan pesta di rumahnya, berteman dengan banyak laki-laki, dikira sebagai gadis panggilan bahkan dianggap kaki tangan mafia. Novel ini menceritakan tentang lika-liku kehidupan Holly, perempuan dengan kepribadian unik dan cerewet, melalui sudut pandang tokoh ‘aku’ (yang di filmnya bernama Paul Varjak), pria yang tinggal di apartemen yang sama dengannya dan akhirnya bersahabat dengan Holly. Untuk cerita selengkapnya, baca aja deh bukunya :p

My Opinion:
Novelnya lumayan menarik untuk dibaca. Saya suka bagaimana karakter Holly digambarkan melalui sosok ‘aku’, dan saya juga suka melihat interaksi antara mereka berdua. Dan yeah, saya suka banget sama karakter Holly Golightly ini. Karakternya unik meskipun dia agak seenaknya, sangat pantas kalo karakternya disebut-sebut sebagai salah satu ikon fiksi di dunia sastra/perfilman.

Setelah beres baca bukunya, saya langsung nonton versi filmnya. Cukup banyak perbedaan antara bukunya dengan filmnya. Cerita filmnya lebih disederhanakan, beberapa adegan di bukunya dihilangkan tapi gak mengganggu jalan cerita film itu sendiri. Saya suka banget sama akting Audrey Hepburn, dia betul-betul cocok memerankan karakter Holly Golightly ini, meskipun kabarnya Truman Capote tidak setuju dengan pemilihan cast-nya ini karena dia menginginkan Marilyn Monroe sebagai Holly. Ending pada bukunya yang dibuat menggantung di filmnya berubah jadi happy ending antara tokoh Holly dengan Paul (si tokoh ‘aku’ kalo di buku).

Btw, meskipun judul novelnya sendiri adalah Breakfast at Tiffany’s, tapi di sepanjang bukunya sama sekali gak diceritakan ada adegan Holly sarapan di tempat itu. Berbeda dengan filmnya yang di adegan awal menampilkan Holly sarapan croissant di depan toko perhiasan Tiffany’s itu, di bukunya cuma diceritakan tentang kekaguman Holly terhadap tempat itu. Ja, segitu aja reviewnya. 3,5 bintang dari saya.

My Rating: 3,5 / 5

Read Full Post »

[MOVIE] 17 Again (2009)

*Review ini pertama kali ditulis 15 November 2009 di http://purisuka.multiply.com

Nonton film ini karena banyak yang ngasih respon positif di berbagai tempat yang saya baca. Awalnya mikir dua kali juga sih, berhubung pemeran utamanya adalah Zac Efron, yang menurut saya agak-agak gimanaaaa gitu (no offense). Apalagi di scene awal dia sudah terlihat melambai pas adegan dia joged bareng para pemandu sorak itu (jadi berasa HSM banget). Tapi makin ke sana, kok dia jadi KELIHATAN GANTENG yah??!! Aduh tidaaaak, karma ini karma!

Ceritanya sendiri cukup umum dan gampang ditebak. Udah banyak film yang mengangkat tema seperti ini. Tapi tetep menarik buat ditonton karena filmnya sendiri cukup menghibur. Jadi, film ini bercerita tentang Mike O’Donnell (Matthew Perry), pria berumur 37 tahun yang memiliki kehidupan datar-datar saja. Ia sedang dalam proses cerai dengan istrinya, Scarlet (Leslie Mann); hubungannya dengan kedua anaknya tidak begitu dekat; pekerjaannya di kantor juga tidak mengalami peningkatan; dan ia harus menumpang hidup pada temannya, Ned, yang super aneh dan kaya raya. Padahal 20 tahun yang lalu Mike adalah murid populer dan pemain basket sekolah yang cukup handal, namun ia harus membuang semua itu karena memutuskan untuk menikahi Scarlet yang hamil di luar nikah.

Di tengah hidupnya yang tidak menyenangkan itu, Mike mengunjungi sekolahnya yg dulu dan bertemu dengan kakek-kakek pembersih sekolah yang misterius. Lalu, setelah mengalami insiden yang melibatkan kakek-kakek tersebut, Mike kembali jadi 17 tahun! Awalnya ia tidak bisa mempercayai hal itu, begitu juga dengan Ned, yang langsung menyerangnya karena kaget melihat ‘orang asing’ di rumahnya. Namun, akhirnya Ned pun percaya. Mike lalu mengganti namanya menjadi Mark (Zac Efron) dan mendaftar ke sekolahnya yang dulu yang juga merupakan sekolah kedua anaknya. Di sini lah mata Mike mulai ‘terbuka’, di mana dia jadi lebih ‘mengenal’ kedua anaknya, ia juga mulai pedekate lagi dengan istrinya, dan berbagai hal lainnya. Lalu, gimana selanjutnya? Apa ia kembali ke wujudnya yang semula atau tetap terkurung dalam tubuh 17 tahunnya? Apakah hubungannya dan keluarganya jadi membaik? Tonton aja deh :p

My Opinion:
Ceritanya lucu dan cukup menghibur meskipun tema-nya sangat umum dan gampang ditebak. Dan, seperti yang saya bilang di atas, kok Zac Efron keliatan GANTENG ya di sini?? Apalagi waktu keluar mobil dan pake kacamata hitam (yang bikin gantengnya adalah karena mata lentiknya jadi ketutupan). Aktingnya juga cukup bagus, dia lumayan bisa meranin bapak-bapak yang terperangkap dalam tubuh remaja. Selain itu, yang saya suka dari film ini adalah karakter Ned yang super nerd itu, ceritanya dia pura-pura jadi ayahnya Mark dan jatuh cinta pada kepala sekolahnya Mark. Ada-ada aja tingkahnya buat narik perhatian si kepala sekolah.
Yosh,cukup sampai di sini aja, film ini recommended kok. Filmnya ringan tapi menghibur dan gak ngebosenin. 4 bintang deh dari saya 🙂

My Rating: 4 / 5

Read Full Post »

[MOVIE] Cloverfield (2008)

*Review ini pertama kali ditulis 6 November 2009 di http://purisuka.multiply.com

Saya tertarik nonton film ini karena membaca artikelnya di Cinemagz beberapa bulan yang lalu. Kabarnya film ini misterius sekali, trailernya hadir waktu pemutaran Transformers dan membuat orang jadi penasaran banget karena film ini serba rahasia (menurut yg saya baca di cinemagz). Maka, seperti orang-orang itu, saya pun ikut-ikutan penasaran (alah).

Ternyata ini film monster. Monsternya sendiri menurut saya monster terjelek yang pernah saya lihat di film mana pun. Bentuknya aneh. Pokoknya Godzilla atau King Kong keliatan jadi ganteng banget kalo disandingin sama monster di Cloverfield. Untungnya yaaaa monsternya jarang diperlihatkan ^^

Film ini bercerita tentang sekelompok anak muda yang tengah berpesta, tepatnya pesta perpisahan Rob yang sebentar lagi akan ke Jepang. Pesta tersebut diabadikan oleh Hud, sahabat Rob, dengan memakai handycam-nya Rob. Jadi begitulah, film ini ditampilkan seolah-olah seperti film dokumenter, urut dan goyang-goyang, kayak kejadian beneran. Diam-diam Rob punya hubungan khusus dengan Beth, yang merupakan teman baiknya sendiri, dan tidak diketahui oleh teman-temannya yang lain. Rob marah karena Beth datang ke pesta bersama cowok lain. Akhirnya Beth memilih pulang lebih dulu meskipun pestanya belum usai.

Setelah itu, bumi bergoncang (aduh pris, berhenti lebay deh). Iya maksudnya tiba-tiba apartemennya bergoyang. Ada suatu kejadian di luar sana, sampai-sampai patung liberty pun belah dan menimpa jalan. Selidik punya selidik ternyata ada monster yang menyerang Amerika! Gak tau dari mana datangnya tuh monster, Rob dan kawan-kawannya pun mencoba menyelamatkan diri ke tempat lebih aman. Setelah agak jauh Rob menelepon Beth dan mendapati kalau Beth terluka dan terjebak di apartemennya. Rob pun bertekad untuk kembali dan menyelamatkan Beth. Gimana selanjutnya? Apa misi mereka berhasil dan mereka bisa bertahan hidup? Jawabannya hanya satu, tonton aja sendiri.

My Opinion:

Film ini di bagian awalnya sedikit ngebetein (pas pesta). Isinya cuma orang ngomong ngomong dan ngomong. Apalagi dengan kamera yang goyang-goyang. Tapi mulai adegan gempa, filmnya jadi asik dan fun. Lumayan menegangkan, apalagi film ini dibuat seperti film dokumenter, jadi kayak liat kejadian nyata beneran. Yes, kelebihannya memang pada formatnya yang seperti film dokumenter itu, patut dipuji meskipun bikin mata ini pusing karena ceritanya yang ngerekam ini seorang yang amatir.

Karena film ini lumayan sukses bikin tegang, bikin saya sedikit melupakan logika ceritanya. Seperti, dari mana monster itu? Kok kayaknya gak jelas banget asal usulnya, tiba-tiba muncul begitu aja. Gak dijelaskan sama sekali dari awal sampe akhir. Tapi ini mungkin karena film ini kan formatnya dokumenter, berdasarkan sudut pandang sekelompok orang ini, jadi wajar monsternya gak dijelasin juga sih. Saya lumayan suka endingnya, meskipun bikin kecewa karena si Rob-nya metong (uuups, spoiler). Ngomong-ngomong soal Rob, pemeran si Rob ini guanteeeng loh. Nama pemerannya Michael Stahl-David, baru denger, kurang terkenal kali ya (dihajar). Semoga selanjutnya dia banyak main film lagi.

Jadi kesimpulannya, film ini lumayan. Dibilang bagus banget nggak, jelek juga enggak. Saya suka filmnya, 3,5 bintang deh dari saya. Kalo mau nonton film monster dengan gaya yang berbeda, boleh tuh ditonton.

My Rating: 3,5 / 5

Read Full Post »

Older Posts »