Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2010

“This place is so dead”

Jika kamu ingin menonton film yang bisa membuatmu ketakutan sekaligus tertawa, maka kamu harus menonton film satu ini. Zombieland adalah sebuah film komedi-horror yang sangat menyenangkan. Film ini bercerita tentang Amerika, yang sekarang keadaannya sudah tidak sama lagi karena adanya sebuah wabah ‘zombie’ yang menjadikan negara itu dipenuhi mayat hidup yang juga senang memakan daging manusia. Bisa dibilang hanya sedikit manusia yang tersisa di Zombieland, salah satunya adalah Columbus (bukan nama sebenarnya, diperankan oleh Jesse Eisenberg), yang berhasil bertahan dari serangan para zombie karena mengikuti aturan yang dibuatnya sendiri. Dalam perjalanannya ke rumah orang tuanya di Ohio, ia bertemu dengan Tallahassee (juga bukan nama sebenarnya, diperankan oleh Woody Harrelson), seorang pria yang dari luar kelihatan menyeramkan namun sebenarnya memiliki hati yang lembut (ini kelihatan dari saat ia menceritakan tentang ‘puppy’nya yang sudah meninggal). Mereka berdua lalu memutuskan untuk pergi bersama. Ketika mereka berdua masuk ke sebuah toko makanan, mereka bertemu dengan dua orang lagi manusia yang bertahan dari serangan zombie, yaitu kakak beradik perempuan yang juga merupakan seorang penipu, sebut saja nama mereka Wichita (Emma Stone) dan Little Rock (Abigail Breslin). Akhirnya setelah melalui beberapa hal, keempat orang ini memutuskan untuk pergi bersama, mengikuti tujuan Wichita dan Little Rock ke Pacifik Playland, sebuah amusement park yang diduga bebas zombie. Mengingat karakter mereka sangat berbeda dan mereka tidak saling mempercayai, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah mereka akan selamat dari serangan zombie-zombie kelaparan tersebut? Tonton aja deh :p

 

Fun and entertaining! Itu pendapat saya setelah menonton film ini. Film ini sudah sangat menghibur bahkan sejak detik pertama film ini dimulai dan sampai film ini berakhir. Openingnya yang menampilkan zombie-zombie yang mengejar manusia dengan cara slow motion itu benar-benar memancing tawa. Begitu juga dengan sederet adegan-adegan lainnya. Film ini hadir dengan narasi cerdas dari sang tokoh utama, Columbus, dan itu menambah nilai plus film ini karena saya selalu suka sama film yang ada narasi-nya 🙂

Humor-humor yang ada dalam film ini memang menjadi kekuatan utama dari film ini. Humornya sangat pas, gak berlebihan dan gak slapstick. Namun, film ini tidak hanya berakhir menjadi lucu saja. Ada beberapa hal yang juga menyeramkan, misalnya penampilan para zombie itu yang selalu bikin saya bergidik setiap melihatnya (apalagi kalo zombie itu lagi ‘ngegigit’ orang).

Untuk akting, saya suka akting semua pemainnya. Jesse Eisenberg (entah kenapa liat orang ini saya jadi inget sama Michael Cera) sangat cocok memerankan Columbus, seorang nerd yang juga agak penakut (dan lebih takut pada badut dibanding pada zombie). Rules dalam menghadapi zombie buatannya pun menjadi salah satu yang membuat film ini jadi hidup. Tapi yang paling saya suka karakternya (serta aktingnya) di sini adalah Tallahassee yang diperankan oleh Woody Harrelson. Karakter ini gila banget!! Dari luar keliatannya menyeramkan dan senang membunuh zombie, tapi sebenarnya hatinya baik dan lembut. Apalagi dia punya sebuah misi yang benar-benar bikin saya ngakak, yaitu mendapatkan Twinkies, sebuah merk makanan kecil yang saat itu sudah sangat langka dan sulit ditemukan. Kedua kakak beradik Wichita (Emma Stone) dan Little Rock (Abigail Breslin) pun, meski perannya kalah menonjol dibanding karakter Columbus dan Tallahassee, juga berakting baik di film ini. Cuma saya kecewa karena Abigail Breslin aktingnya gak seistimewa aktingnya di Little Miss Sunshine, tapi di sini dia tetap menampilkan akting yang bagus kok. Jangan dilupakan keberadaan Bill Muray yang menjadi cameo di film ini sebagai dirinya sendiri. Adegan yang melibatkan dirinya adalah salah satu adegan terkocak di film ini 😀

Film ini juga tidak hadir sebagai sekedar film lucu saja. Banyak yang bisa kita ambil dalam film ini, contohnya adalah tentang mempercayai orang lain. Keempat karakter ini pada awalnya tidak saling mempercayai, terbukti dengan masing-masing dari mereka yang tidak memberitahu nama aslinya dan memakai nama samaran. Namun pada akhirnya mereka dapat bersatu dan menciptakan sebuah ‘keluarga’ baru. Melalui film ini juga kita belajar untuk menghadapi dan melawan rasa takut, seperti yang terjadi pada Columbus yang berusaha untuk menghadapi rasa takutnya pada badut (yang di film ini badutnya adalah zombie juga). Well, secara keseluruhan ini adalah film yang bagus dan menghibur. Recommended dan sayang banget buat dilewatkan! Saya kasih 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Ahem. Mungkin rasanya agak telat ya saya me-review film satu ini (berhubung review film ini sudah banyak bertebaran di mana-mana). Tapi, sesuai dengan motto favorit saya, better late than never kan?

Oke, jadi film yg akan saya review kali ini adalah Sherlock Holmes. Well, hanya sedikit informasi yang saya ketahui mengenai salah satu tokoh detektif terkenal di dunia fiksi satu ini, yaitu: 1) pencipta karakter ini bernama Sir Arthur Conan Doyle, 2) dia adalah detektif yang sangat diidolakan oleh Conan Edogawa dalam komik Meitantei Conan, 3) punya partner bernama Watson, 4) tinggal di sebuah rumah di jalan bernama Baker Street, 5) punya musuh abadi bernama Prof. Moriarty. Selain itu, saya sangat buta dan tidak tahu apa-apa mengenai detektif satu ini karena memang belum pernah baca novelnya sama sekali. Tapi karena itu saya jadi tidak punya ekspektasi apa-apa sebelum menonton film ini, dan sebagai orang yang belum pernah membaca novelnya, hasilnya saya merasa sangat puas menonton film ini. Sherlock Holmes adalah sebuah tontonan yang sangat seru dan menghibur.

Film ini diawali dengan adegan penangkapan Lord Blackwood (Mark Strong), seorang pelaku pembunuhan masal 5 orang gadis yang juga penganut ilmu hitam dan pada saat ditangkap ia sedang melakukan sebuah ritual untuk ‘menumbalkan’ gadis yang ke-6. Blackwood lalu dijatuhi hukuman mati. Namun, sebelum ia menemui ajalnya ia meminta untuk bertemu dengan Sherlock Holmes (Robert Downey Jr.), seorang detektif terkenal di London yang merupakan orang yang telah menangkap dan memenjarakan Blackwood. Ia mengatakan pada Holmes bahwa ia akan bangkit lagi dan akan ada beberapa pembunuhan lagi setelah kematiannya. Keesokan harinya Blackwood melaksanakan eksekusi hukuman matinya dengan cara digantung. Watson (Jude Law), seorang dokter yang juga merupakan sahabat Holmes, pun memastikan bahwa Blackwood benar-benar sudah mati. Namun beberapa hari setelah itu ada orang yang melaporkan bahwa ia melihat Blackwood berjalan-jalan di dekat makamnya. Begitu kepolisian memeriksa makamnya, mereka mendapati bahwa orang yang dikuburkan di makam Blackwood adalah orang lain. Dan seperti yang dikatakan Blackwood pada Holmes sebelumnya, terjadi kembali beberapa pembunuhan (yang salah satu korbannya adalah ayah Blackwood sendiri) setelah kejadian itu. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Holmes berhasil memecahkan kasus tersebut? Apakah pembunuhan-pembunuhan tersebut benar-benar berkaitan dengan ilmu hitam (mengingat Holmes tidak memercayai hal-hal yang berada di luar akal sehat)? Silakan deh tonton saja film ini.

Saya sukaaa film ini. Selain itu, saya memang menyukai cerita detektif karena saya sangat menyukai komik-komik detektif semacam Meitantei Conan atau Kindaichi (malah waktu kecil saya sempet bercita-cita jadi detektif karena Conan :D). Dan film ini berhasil membuat saya tegang dan juga penasaran mengenai trik apa yang dilakukan oleh Blackwood. Sayangnya otak saya gak nyampe untuk menebak hal itu :p Dan saya sangat kagum sama penyelesaian akhirnya di mana Holmes mengungkapkan segala hal di balik semua kejadian itu. Keren deh!

Duo Robert Downey Jr. dan Jude Law pun sangat ciamik dan mantap dalam memerankan Holmes dan Watson. Berhubung saya belum baca novelnya, saya gak peduli kalo orang bilang bahwa image mereka di film sangat berbeda dengan di novel. Yang penting akting mereka bagus dan mereka berhasil menampilkan chemistry yang sangat pas. Meskipun kadang kedua partner ini sering bertengkar, tapi mereka ini sejatinya saling membutuhkan dan tidak sanggup meninggalkan satu sama lain. Contohnya pas Watson udah mau pergi untuk menemui calon istrinya, ia memilih untuk balik lagi dan menolong Holmes. So sweet abis gak sih? *err….ini omongan saya kok jadi terkesan saya pengen me-yaoi-kan mereka ya :p*. Robert Downey Jr. sendiri menurut saya sangat sukses memerankan Sherlock Holmes, seorang detektif nyentrik yang sangat hebat dalam menganalisis sesuatu. Saya selalu terkagum-kagum saat melihat Holmes dapat menyimpulkan suatu hal hanya dengan melihat keadaan atau kondisi saat itu, contohnya saat ia ‘menganalisa’ calon istri Watson, hanya dengan melihat keadaan fisiknya saja ia bisa menyimpulkan beberapa hal mengenai wanita itu (meskipun karena itu akhirnya ia malah mendapat sebuah ‘semprotan’ dari Mary). Selain Downey Jr., Jude Law pun sangat bagus memerankan Watson. Saya suka liat ekspresinya saat sedang kesal pada Holmes, namun meskipun begitu ia tetap mau membantu Holmes 😀 Selain kedua tokoh utama itu, jangan lupakan keberadaan Rachel McAdams yang berperan sebagai Irene Idler, mantan kekasih (atau istri?) Holmes yang datang pada Holmes untuk meminta pertolongannya untuk mencari seseorang yang kemudian diketahui adalah anak buah Blackwood (si orang hilangnya, bukan Irene). Akting McAdams di sini pun tidak kalah dengan akting duo Downey Jr. – Law. Yang menurut saya aktingnya lemah di sini malah adalah Mark Strong sebagai Blackwood, entah kenapa menurut saya rasanya karakter ini kurang psikopat dan kurang nyeremin :p

Selain menyuguhkan kecerdasan otak Holmes, film ini juga menyajikan adegan action yang seru dan menegangkan, karena perjuangan Holmes dalam memecahkan kasus ini tidak mudah dan selalu menemui bahaya. Banyak hal-hal yang membuat Holmes dan Watson nyaris mati di film ini, dan hal itu turut membuat penonton tegang saat menonton film ini. Selain hal itu, saya juga sangat menyukai sinematografi film ini. Film ini berhasil menampilkan Inggris sekitar abad 18 melalui suasana kota London dan gaya pakaian yang dikenakan oleh orang-orang pada masa itu. Keren pokoknya 😀

Well, secara keseluruhan film ini adalah film yang sangat menarik dan menghibur. Saya sangat menantikan sekuelnya, berhubung di akhir film ini disinggung sedikit sebuah teka-teki mengenai Prof. Moriarty. Semoga sekuelnya akan lebih seru dan lebih bagus dari film ini. Oh iya, gara-gara nonton film ini saya jadi tertarik pengen baca versi novelnya. Sebelumnya novel-novel detektif yang pernah saya baca cuma novel Hercule Poirot-nya Agatha Christie dan Trio Detektif-nya Alfred Hitchcock (oh iya saya jadi pengen dua novel ini juga diangkat ke film, pasti gak kalah dari Sherlock Holmes). Akhir kata, film ini sangat recommended! 4 bintang deh.

catatan: sutradara film ini adalah Guy Ritchie, yang merupakan mantan suami dari penyanyi wanita legendaris Madonna 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Wah, udah lama juga gak nge-review film Korea. Kali ini film Korea yang akan saya review adalah film “Jenny Juno”. Well, melihat judul film ini, mungkin kamu akan teringat pada film “Juno” yang dibintangi oleh Ellen Page. Sebelumnya saya sempet baca (lupa baca di mana) kalo film Juno itu (gosipnya loooh) terinspirasi / diadaptasi dari film Korea satu ini. Tapi setelah saya nonton film ini, beda ah ceritanya. Well, satu-satunya kesamaan antara kedua film ini adalah kedua film ini bercerita tentang seorang remaja yang hamil di luar nikah dan bagaimana kisah “kecelakaan” ini tidak selalu berkisah dengan sedih, melainkan cerah ceria.

Film ini diawali dengan karakter Jenny (Park Min-ji), seorang cewek abg, tengah mengetes  *err… mengetes? Kok kedengerannya aneh ya* urine-nya dengan menggunakan test pack, dan harus mendapati kenyataan bahwa hasilnya positif, yang artinya ia hamil *yaiyalah*. Keesokan harinya ia memberitahu hal itu pada pacarnya, Juno (Kim Hye-seong). Awalnya, Juno tampak menghindar dan berusaha lari dari masalah tersebut. Namun, setelah melalui perbincangan dan adu panco, mereka akhirnya memutuskan untuk mempertahankan bayi dalam kandungan Jenny untuk tumbuh dan lahir ke dunia ini. Hal tersebut turut mempengaruhi hubungan mereka di mana dengan kehamilan Jenny, hubungan mereka bertambah hangat. Apalagi Juno selalu melindungi Jenny dan menuruti keinginan pacarnya tersebut, contohnya saat Jenny ‘ngidam’ tengah malam dan Juno langsung pergi dari rumahnya untuk membawakan makanan yang Jenny inginkan. Pokoknya siapa pun yang melihat mereka pasti akan iri melihat mesranya hubungan mereka. Namun, hal itu tentunya tidak berhenti di situ. Kandungan Jenny mulai membesar dan mereka berdua tidak mungkin menutupi hal tersebut terus menerus, apalagi baik orang tua Jenny maupun orang tua Juno belum mengetahui perihal kehamilan Jenny tersebut. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya pada mereka berdua? Bagaimana tanggapan orang tua-orang tua mereka saat mereka mengetahui kehamilan Jenny? Tonton aja deh kalo mau tau :p

Menurut saya, film ini manis dan romantis sekali. Saya suka melihat tingkah kedua pasangan abg tersebut dalam menjalani hari-hari mereka. Apalagi bagaimana sikap Juno dalam menjaga Jenny serta kandungannya, so sweet abis. Mau dong punya pacar kayak Junooooo. Udah cakep, baik banget lagi *ngayal mode on*.

Akting kedua pemeran utamanya cukup baik dan seimbang. Meskipun saya kurang suka wajah si karakter Jenny yang kelihatan agak lebih tua dari umurnya, dan agak kurang cocok disandingkan dengan karakter Juno yang mukanya baby face abis (sehingga kalo saya liat, dari segi fisik mereka kayak kakak adek :p). Tapi untungnya dia terbantu oleh aktingnya sehingga chemistry yang dibangun oleh mereka berdua sangat pas. Yang paling penting, saya suka akting si pemeran Juno ini. Dia sukses memerankan seorang remaja yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Dan satu lagi, kepolosan-kepolosan yang mereka tampilkan sebagai seorang remaja yang akan menjadi calon orang tua ditampilkan dengan sangat alami. Begitu juga dengan pandangan-pandangan mereka tentang kehamilan tersebut, di mana mereka awalnya tidak langsung memutuskan untuk membiarkan bayi dalam kandungan tersebut tumbuh, dan di mana mereka sempat merasa takut dan berusaha lari dari kenyataan, yang menurut saya sangat wajar dan pasti terjadi pada pasangan-pasangan remaja hamil di luar nikah di mana pun itu.

Kekurangan-kekurangan dari film ini sih buat saya bagaimana kehamilan karakter Jenny tidak begitu kelihatan dari segi fisik. Kok rasanya perutnya segitu-gitu aja ya? Gak nambah gede. Padahal si karakter Jenny ini di film ini sering pamer-pamer puser, tapi kok gak keliatan bertambah gendut. Satu lagi, buat anda yang tidak suka romantisme berlebihan mungkin akan menganggap beberapa hal romantis di sini sebagai hal yang norak. Contohnya bagaimana kedua tokoh  tersebut memiliki bantal dengan gambar pacar masing-masing. Anda mungkin akan menganggap hal ini sebagai hal yang manis, tapi bisa juga anda menganggap hal ini sebagai hal yang norak. Saya sih menganggap hal tersebut agak norak dan berlebihan ya untuk pasangan yang umurnya masih abg tersebut, tapi untung aja gambar si Juno di bantalnya cakep, jadi dimaafkan lah *loh?*

Well, secara keseluruhan film ini menarik untuk ditonton kok. Ringan dan menghibur. Cocok untuk ditonton oleh pecinta film komedi romantis atau pecinta film Korea. Film ini sendiri mengajarkan kita agar mau mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan, contohnya melalui karakter Jenny dan Juno yang memilih untuk membiarkan janin di tubuh Jenny tumbuh dan tidak memilih jalan aborsi. 3 bintang deh 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Jika kamu menyukai film romantis, dengan cerita percintaan antara seorang wanita dan pria yang memiliki latar belakang sosial berbeda di mana yang satu dari kalangan ‘berada’ dan yang satunya lagi hanyalah ‘rakyat biasa’, mungkin kamu akan menyukai film ini. Film ini adalah jenis film yang akan  membuat penontonnya berkata “so sweet banget sih” karena menghadirkan sebuah kisah cinta yang manis, sederhana, dan amat menghibur.

Film ini menghadirkan ide cerita yang sederhana sekali, yaitu percintaan antara seorang perempuan bernama Anna Scott (Julia Roberts) yang merupakan aktris terkenal asal Amerika dengan William Thacker (Hugh Grant) yang hanyalah seorang penjaga toko buku yang menjual buku-buku travel dan tinggal di sebuah kota kecil di Inggris yang bernama Notting Hill. Keduanya pertama bertemu saat Anna yang sedang berada di Inggris dalam rangka promo filmnya, datang ke toko buku tempat William bekerja. Setelah beberapa obrolan singkat di toko buku tersebut, mereka bertemu lagi dan tanpa sengaja William menumpahkan minuman yang dipegangnya ke pakaian Anna. Karena apartemen William dekat sekali dengan tempat kejadian, William menawarinya untuk datang ke apartemennya untuk mengganti bajunya yang kotor karena tumpahan minuman tersebut. Setelah mengganti bajunya, sebelum pergi dari rumah William, Anna melakukan suatu hal pada William yaitu MENCIUMNYA. Sejak itulah hubungan keduanya dimulai. Anna menghubungi William lagi dan mereka mulai bertemu dan berkencan. Namun, sayangnya hubungan mereka tidak berjalan mulus. William telah ‘disakiti’ Anna dua kali. Yang pertama adalah saat ia mengetahui bahwa Anna sebenarnya sudah punya pacar di Amerika sana. Dan yang kedua, setelah berbulan-bulan tidak bertemu, mereka bertemu lagi dan menjalin cinta lagi, tapi hubungan tersebut tercium oleh pers dan mengacaukan hubungan cinta mereka. Lalu, apa yang akan terjadi pada mereka berdua? Apakah pada akhirnya mereka akan bersatu? Tonton aja deh 😀

Sebuah kisah yang manis dan romantis. Meskipun hadir dengan ide sederhana, tapi film ini sama sekali tidak berakhir dengan cheesy. Hugh Grant memang sangat pas berperan di film-film romantis macam film ini. And I love his character. Siapa bilang cuma bad boy saja yang bisa menarik hati wanita? Karakternya yang super baik hati dan sopan itu bener-bener bikin saya jatuh cinta dan kesel setengah mati sama Anna yang dua kali nyakitin hatinya. Dan Julia Roberts pun berperan baik sebagai Anna *meskipun saya kesal sama karakter ini karena alasan di atas*, seorang aktris terkenal yang cantik dan elegan. Chemistry antara keduanya pun sangat pas. Kita bisa merasakan bahwa Anna menemukan kenyamanan saat ia bersama William dan dengan itu ia bisa melupakan popularitasnya sebagai seorang bintang.

Peran-peran lainnya pun sangat mendukung dan membuat film ini menjadi lebih hidup. Misalnya keluarga William, yang meskipun keluarga kecil dan sederhana, tapi selalu mendukung dan menyemangati William (misalnya saat Will patah hati karena Anna, mereka langsung berusaha menghiburnya dengan mengenalkannya pada beberapa perempuan). Dan, salah satu pemeran yang turut membuat film ini jadi berwarna adalah karakter Spike, teman satu flat William, yang ketololan (dan kepolosan)nya menjadi salah satu yang berhasil memancing tawa penonton 😀

Pemandangan Notting Hill yang disajikan di film ini juga membuat film ini menjadi lebih menarik. Saya mau doooong duduk-duduk di kursi taman ituuuu dan tiduran di pangkuan Hugh Grant *alah*. Meskipun Notting Hill hanyalah sebuah kota kecil, tapi melalui film ini kota ini tampak seperti kota yang sangat hangat dan ramah *err….ini ceritanya personifikasi *. Film ini pun turut didukung soundtrack yang amat romantis dan sangat memperkuat adegan-adegan di film ini.

Oke sekian review dari saya. Film ini sangat cocok ditonton oleh penyuka film-film romantis. Recommended! 🙂

Memorable Quotes:

William: I live in Notting Hill. You live in Beverly Hills. Everyone in the world knows who you are, my mother has trouble remembering my name.

Anna Scott: I’m also just a girl, standing in front of a boy, asking him to love her.

Catatan: eh ngomong-ngomong di film ini ada Mischa Barton (yang terkenal dengan serial The O.C) loooh, masih kecil dan tampil sebagai cameo di film ini sebagai aktris cilik yang ‘diwawancarai’ oleh William.

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Orang bodoh saja bisa masuk Todai (Universitas Tokyo). Itulah yang ingin disampaikan oleh dorama berjumlah sebelas episode ini. Ryuzan adalah sebuah sekolah (SMA) yang terkenal sebagai sebuah “sekolah bodoh” karena berisi murid-murid dengan nilai rata-rata 30-an. Sekolah ini pun sudah berada di ambang kebangkrutan. Sakuragi Kenji (Abe Hiroshi), adalah seorang pengacara yang disewa untuk mengurus penutupan sekolah tersebut. Namun, ketika ia datang ke Ryuzan, ia tiba-tiba memiliki rencana lain. Ia berniat untuk membuat sebuah kelas khusus persiapan masuk Todai alias Tokyo Daigaku alias Universitas Tokyo. Todai adalah salah satu universitas terbaik di Jepang, dan amat sangatlah susah untuk masuk ke sana. Banyak orang , baik murid-murid maupun para guru, yang meragukan serta meremehkan niat Sakuragi tersebut karena, HEY~ itu Todai gitu looooh. Mana mungkin anak-anak dari sekolah yang terkenal sebagai sekolah bodoh bisa masuk ke universitas terkemuka seperti Todai. Namun (seperti yang saya sebut di atas), tidak ada hal yang tidak mungkin bukan? Sakuragi berusaha untuk mengumpulkan murid-murid untuk masuk ke kelas khususnya (btw Sakuragi menjanjikan  5 orang murid pasti akan berhasil masuk Todai pada sekolah). Murid-murid tersebut adalah, Yajima Yusuke (Yamashita Tomohisa), seorang anak miskin yang ‘terpaksa’ ikut kelas khusus karena dipinjami uang oleh Sakuragi untuk membayar hutang keluarganya; Mizuno Naomi (Nagasawa Masami), anak perempuan yang ingin membuktikan pada ibunya bahwa ia bukanlah orang yang bodoh; Ogata Hideki (Koike Teppei), cowok childish anak orang kaya yang sering diremehkan oleh ayahnya sendiri; Kosaka Yoshino (Aragaki Yui), pacar Yajima yang ikut hanya karena ikut-ikutan Yajima, namun akhirnya termotivasi sendiri setelah mengikuti kelas tersebut; Kobayashi Maki (Saeko), cewek manis yang ikut kelas khusus karena sebal pada temannya yang hobi pamer; dan belakangan kelas khusus tersebut bertambah dengan kehadiran Okuno Ichiro (Nakao Akiyoshi), cowok aneh yang memiliki kembaran yang sekolah di Shuumekan (sekolah kebalikan Ryuzan karena terkenal dengan murid-muridnya yang pintar) dan sebenarnya sudah sejak awal sering memerhatikan kelas khusus tersebut.

Banyak hal yang terjadi di kelas khusus tersebut. Apalagi cara belajar mereka sangat jauh dari cara belajar konvensional. Mereka belajar matematika dengan cara main tenis dan main kartu, belajar sejarah dengan cara membaca komik, belajar bahasa inggris dengan cara menyanyi dan menari, serta cara belajar lainnya yang dibilang ‘aneh’ tapi sebenarnya sangat efektif karena tidak membuat murid-murid bosan. Sakuragi tentunya tidak sendirian dalam mengurus kelas khusus ini. Ia juga dibantu oleh Ino-sensei (Hasegawa Kyoko), guru ceroboh yang awalnya ikut menentang adanya kelas khusus ini, tapi kemudian malah ikut membantu Sakuragi. Apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya? Apakah misi Sakuragi dalam memasukan 5 muridnya ke Todai berhasil? Sila tonton saja deh.

Sebuah kisah yang sangat bagus dan menginspirasi. Sangat perlu ditonton oleh anak-anak sekolah di mana pun. Apalagi sebentar lagi ada SNMPTN kan?? Ayo tontonlah ini. Mungkin kamu akan termotivasi untuk terus belajar seperti murid-murid kelas khusus ini yang awalnya malas sekali belajar namun akhirnya termotivasi untuk mengejar impian mereka untuk masuk Todai. Dorama ini juga mengajarkan kita agar tidak menganggap diri sendiri bodoh. Semua orang pasti bisa menggapai impiannya, asal dia mau berusaha 🙂

Meskipun menghadirkan tema yang sudah umum  yaitu tema “meraih mimpi”, Dragon Zakura sama sekali tidak menghadirkan sesuatu yang klise. Endingnya realistis sekali (kayak gimana? Tonton aja deh sendiri :p). Dorama ini juga menunjukkan sebuah realitas bahwa hidup itu kejam. Banyak hal yang dibutuhkan untuk dapat masuk ke ‘masyarakat’, jangan mau jadi orang bodoh karena orang bodoh akan selalu tertipu. Karena itu, seperti apa yang dibilang oleh Sakuragi “If you want to change your life, get into Todai”. Meskipun saya tahu bahwa Todai bukan satu-satunya jalan untuk membuktikan diri pada masyarakat, tapi melalui hal ini mereka belajar banyak hal, bukan hanya belajar tentang pelajaran sekolah saja, tapi juga belajar tentang kehidupan.

Selain ceritanya yang bagus, dorama ini juga menghadirkan banyak aktor aktris terkenal. Dari kalangan senior ada Abe Hiroshi dan Hasegawa Kyoko yang mantep banget aktingnya di sini. Abe Hiroshi sangat berhasil memerankan seorang pengacara nyentrik mantan anggota geng motor yang suka seenaknya sendiri. Begitu juga dengan Hasegawa Kyoko yang tampil sebagai guru cantik tapi ceroboh, yang cara mengajarnya diakui oleh murid-muridnya sangat membosankan. Sebagai murid-murid sekolah khusus, aktor/aktris (yang di dorama ini masih) abg di dorama ini pun tampil dengan baik. Memang tidak ada yang istimewa dari akting Yamapi alias Yamashita Tomohisa di sini, tapi dia cukup berhasil memerankan Yajima yang cool *btw rambutnya anak kampung sekali :p*. Masami Nagasawa, Aragaki Yui, Koike Teppei, Saeko, dan Nakao Akayoshi pun menampilkan akting yang sama baiknya. Di luar mereka, pemain pendukung film ini seperti staf guru sekolah, guru-guru sekolah khusus, dan karakter-karakter lainnya pun turut bermain bagus dalam film ini. Oh ya, film ini juga menyajikan humor yang meskipun bukan tipe humor yang bisa bikin penonton tertawa terbahak-bahak, namun cukup menghibur sehingga membuat penonton tidak bosan.

Sekian saja review dari saya. Dorama ini amat saya rekomendasikan pada anak-anak sekolah ataupun orang yang mempercayai  bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Oh iya, kalau tidak salah baru-baru ini dorama yang diangkat dari manga berjudul sama ini telah diadaptasi oleh Korea dengan judul God of Study. Saya belum nonton tapi saya harap serial korea-nya akan sebagus ini juga. 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Seperti biasanya, saya baru nonton film produksi tahun 1979 ini kemaren-kemaren #telatdotcom. Film yang dibintangi oleh Dustin Hoffman dan Meryl Streep ini sebenarnya memiliki cerita yang sangat sederhana, tapi deeeeeeeeep *baca: dalem* banget dan sangat meninggalkan kesan yang dalam buat saya.

Ted Kramer (Dustin Hoffman) adalah seorang pekerja di perusahaan periklanan yang sangat ambisius dan workaholic. Suatu hari, di saat dia mendapat berita baik mengenai pekerjaannya di kantor, saat ia pulang ke rumah, istrinya, Joanna (Meryl Streep) sudah mengepak barang dan berniat meninggalkan Ted karena merasa tidak bahagia selama perkawinannya. Joanna pergi begitu saja entah kemana, meninggalkan Ted dan putranya, Billy (Justin Henry), yang masih sangat kecil. Awalnya Ted merasa kesal dan marah pada Joanna, apalagi dengan kepergian Joanna, ia harus mengasuh Billy seorang diri, suatu hal yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan karena pekerjaan mengasuh Billy adalah pekerjaan Joanna yang seorang ibu rumah tangga. Banyak hal yang terjadi antara Ted dan Billy. Di bagian awal, Ted sering merasa kesal sendiri saat mengasuh Billy, misalnya saat ia memasak French toast yang berakhir gosong, atau di saat Billy tidak mau menuruti aturannya. Namun, dengan berlalunya waktu, Ted mulai menikmati pekerjaannya dalam mengasuh Billy, malah ia jadi sering melalaikan pekerjaan kantornya karena lebih memprioritaskan kepentingan Billy. Kepergian Joanna membuat rasa sayang Ted pada Billy jadi lebih besar daripada sebelumnya. Namun, berbulan-bulan setelah kepergian Joanna, ia hadir kembali menemui Ted dan tiba-tiba meminta hak asuh atas Billy. Ted tentunya tidak menerima hal itu, dan persidangan dalam memperebutkan hak asuh Billy pun dimulai. Apa yang terjadi selanjutnya? Siapakah yang akan memenangkan persidangan ini? Tonton aja deh.

Seperti yang saya bilang di atas, film ini hadir dengan tema yang sederhana tapi sangat menyentuh. Saya suka sekali melihat interaksi antara Ted dan putranya, Billy. Pada awalnya mereka tidak begitu akur karena Billy lebih dekat dengan ibunya. Namun, seiring berjalannya waktu, hubungan ayah dan anak ini menjadi sangat dekat dan tak terpisahkan. Chemistry antara Dustin Hoffman dan Justin Henry (Billy) sangat pas sehingga saat kedua orang ini akan dipisahkan, saya tidak rela dan jadi kesal setengah mati pada karakter Joanna yang diperankan oleh Meryl Streep. Dustin Hoffman menampilkan aktingnya yang sangat bagus di film ini. Begitu juga dengan Meryl Streep, yang meskipun penampilannya di film ini tidak begitu banyak (karena di separuh film ia menghilang), tapi tetap menampilkan aktingnya yang sempurna sebagai seorang istri yang tidak bahagia dalam perkawinannya. Justin Henry yang berperan sebagai si kecil Billy pun tidak kalah dengan Dustin Hoffman dan Meryl Streep yang berperan sebagai orang tuanya. Tidak heran ketiga pemain utama film ini semuanya dinominasikan dalam ajang Academy Award (yang kemudian dimenangkan oleh Dustin Hoffman pada kategori Best Actor in a Leading Role dan Meryl Streep pada kategori best actress in supporting role).

Melalui perpisahan antara pasangan suami istri tersebut, selain membuat Ted belajar untuk lebih mencintai anaknya, ia juga jadi lebih memahami perasaan mantan istrinya. Awalnya ia tidak mengerti kenapa Joanna meninggalkannya begitu saja dan amat marah pada mantan istrinya tersebut. Tapi seiring berjalannya waktu, ia mulai mengerti dan timbul perasaan bersalah pada dirinya yang dulu lebih mementingkan diri sendiri dan selalu membatasi Joanna untuk melakukan hal yang diinginkannya. Dan, meskipun saya kesal pada karakter Joanna ini, sebenarnya karakter ini juga tidak bisa dipersalahkan begitu saja. Banyak faktor yang membuat ia meninggalkan Ted, dan membuat kita mengerti akan tindakannya. Film ini juga mengajarkan kita mengenai hubungan antara suami dan istri, bahwa seorang istri tidak boleh terlalu dikekang atau tidak diperbolehkan melakukan hal yang diinginkannya (misal: bekerja). Hal itu terjadi pada Joanna yang kemudian meninggalkan Ted karena ingin melakukan hal yang ia inginkan.

Ja, segini aja review saya. Film ini ‘dalem’, menyentuh, dan amat berkesan. Dan meskipun film ini adalah film tahun 70-an, tapi tetap menarik untuk ditonton sampai sekarang. Saya kasih nilai sempurna deh 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Film animasi produksi Prancis ini (tapi saya nonton versi yang didubbing pake bahasa Inggris :D) menceritakan kehidupan seorang perempuan Iran bernama Marjane Satrapi. Ya, Marjane Satrapi ini adalah sutradara dari film ini sendiri (didampingi Vincent Paronnaud). Persepolis sendiri diangkat dari komik (atau bahasa kerennya graphic-novel) autobiografi karyanya yang memiliki judul sama.

Marjane Satrapi (yang biasa dipanggil Marji) adalah seorang anak perempuan yang berasal dari sebuah keluarga liberal nan demokratis. Pada masa itu, sedang ramai masyarakat yang mengajukan tuntutan untuk menurunkan pemimpin Iran saat itu yang memiliki sifat diktator dan kebarat-baratan. Banyak pejuang revolusi yang ditangkap dan keluar masuk penjara pada saat itu, termasuk kakek dan paman Marjane.

Perjuangan mencapai revolusi itu akhirnya berhasil dan pemimpin pada saat itu berhasil diturunkan. Namun, bukannya membawa Iran pada sebuah kebebasan, revolusi malah membawa Iran ke suatu sistem baru yang lebih parah dari sebelumnya, di mana Iran menjadi suatu negara Islam fundamental, di mana kebebasan banyak dikekang dan hal-hal yang dinilai bertentangan dengan agama tidak diperbolehkan ada di negara itu (selain itu, semua perempuan di Iran diharuskan memakai jilbab). Hal itu tentunya tidak cocok dengan Marjane dan keluarganya yang sangat demokratis itu. Apalagi, Marjane kecil adalah penggemar musik punk, menyukai Michael Jackson, dan senang memakai sepatu sneaker. Dan hal itu tentu saja dilarang! Ada satu scene yang amat lucu dan menggelikan di mana transaksi album musik saja dilakukan secara sembunyi-sembunyi seolah-olah seperti sedang transaksi narkoba (pada saat itu ceritanya si Marjane ini sedang membeli album Iron Maiden). Berlebihan banget ya rasanya. Apalagi di mana-mana ada polisi yang ditugaskan untuk mengawasi tingkah laku orang-orang.

Selain hal tersebut, hal itu juga diperparah dengan serangan Irak ke Iran (err….saya lupa tahunnya). Hal itu membuat Marjane dikirim ke Vienna (Austria) untuk sekolah di sana karena Iran sudah tidak aman lagi. Hal itu turut mengubah diri Marjane karena tidak seperti di Iran, kebebasan sangat terbuka lebar di Austria. Marjane kemudian bergaul dengan orang-orang yang berjiwa bebas, senang berpesta, merokok, dan menemukan orang yang dicintainya. Namun, suatu hari ia dikhianati oleh pacarnya dan hal itu membuatnya sangat terpuruk sehingga ia memutuskan untuk kembali ke Iran karena sudah tidak tahan berada di Vienna. Kembalinya ke Iran, keadaan ternyata tidak berubah sama sekali. Revolusi Islam yang bersifat radikal tersebut masih berjalan. Lalu, apa yang akan terjadi pada Marjane? Tonton aja deh.

Film ini baguuuuuus sekali. Kelebihan dari film ini (dan hal yang paling saya suka dari film ini) adalah animasinya yang menurut saya gak kalah dari animasi-animasi disney atau pixar. Malah, menurut saya animasi-nya memiliki perbedaan dan ciri khas sendiri dibanding film-film animasi yang pernah saya tonton sebelumnya. Terus terus, animasi 2D ini 98 % nya dihiasi warna hitam putih saja, dan hal itu sama sekali tidak menurunkan daya tarik film ini, malah itu merupakan salah satu nilai lebih film ini dan tidak kalah menarik dengan film-film animasi berwarna.

Film animasi ini bukanlah film yang pantas ditonton oleh anak kecil (bahkan orang-orang dewasa yang berpikiran sempit). Perlu kedewasaan dan pikiran yang terbuka dalam menonton film ini, karena tema film ini agak menyinggung sesuatu yang berhubungan dengan SARA. Tapi menurut saya, film ini sama sekali gak menyinggung agama kok (dalam hal ini, Islam). Yang dikritik oleh film ini adalah sistem yang dijalankan oleh Iran yang bersifat radikal dan memaksa (bukan agamanya loh, wahai orang-orang skeptis). Banyak adegan yang bikin saya miris, misalnya saat suatu tempat ‘digrebek’ karena disinyalir telah diadakan sebuah pesta di tempat itu (padahal cuma pesta biasa looooh). Hal itu kok jadi mengingatkan saya pada tingkah FPI yang suka main grebek-menggrebek secara anarkis ya. Bukan hanya itu saja, saat Marjane sedang berlari karena takut terlambat sampai ke tempat kuliahnya, ia dihentikan begitu saja oleh para ‘polisi tingkah laku’ karena gerakan larinya dinilai tidak pantas dilakukan (karena membuat pantatnya ikut bergoyang) dan bisa berakibat yang tidak-tidak (duh, ini kan tergantung orang yang ngeliatnya aja pak polisi, atau emang para ‘polisi tingkah laku’ itu pikirannya pada ngeres?).

Lalu, bagaimana akhirnya? (btw, spoiler alert) Pada akhirnya keadaan tetap berjalan sama dan perjuangan Marjane untuk menuntut kebebasan sama sekali tidak berhasil. Ia lalu memilih untuk pindah ke Prancis. Mungkin, Iran memang bukanlah negara yang cocok untuk dirinya yang berjiwa bebas (spoiler end). Film ini sendiri membuat saya bersyukur karena saya tinggal di Indonesia yang  menganut sistem demokrasi meskipun sebagian besar penduduknya beragama Islam. Gak kebayang kalo saya tiba-tiba ditahan hanya karena pake celana jeans atau sepatu sneaker. Dan bagi saya, keimanan itu bukanlah sesuatu yang harus dipaksakan atau hanya dilihat dari segi luarnya saja. Selain itu, keimanan itu sifatnya pribadi antara individu dengan Tuhannya. Sesuatu yang dipaksakan itu buat saya malah bisa berakibat buruk bagi orang tersebut. Untuk apa dari luar kelihatan seperti orang beriman tapi dalam hatinya sama sekali tidak ada perasaan ikhlas sama sekali? Well, itu hanya pendapat saya aja kok. Secara keseluruhan ini adalah film yang bagus dan menarik. Oh ya, film yang konon dilarang ditayangkan di Iran ini juga mendapat banyak  penghargaan dan nominasi di festival-festival film Internasional, salah satunya nominasi Best Animated Feature pada ajang Academy Award tahun 2007. 4 bintang deh 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Older Posts »