Feeds:
Posts
Comments

Archive for April 18th, 2010

Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Orang bodoh saja bisa masuk Todai (Universitas Tokyo). Itulah yang ingin disampaikan oleh dorama berjumlah sebelas episode ini. Ryuzan adalah sebuah sekolah (SMA) yang terkenal sebagai sebuah “sekolah bodoh” karena berisi murid-murid dengan nilai rata-rata 30-an. Sekolah ini pun sudah berada di ambang kebangkrutan. Sakuragi Kenji (Abe Hiroshi), adalah seorang pengacara yang disewa untuk mengurus penutupan sekolah tersebut. Namun, ketika ia datang ke Ryuzan, ia tiba-tiba memiliki rencana lain. Ia berniat untuk membuat sebuah kelas khusus persiapan masuk Todai alias Tokyo Daigaku alias Universitas Tokyo. Todai adalah salah satu universitas terbaik di Jepang, dan amat sangatlah susah untuk masuk ke sana. Banyak orang , baik murid-murid maupun para guru, yang meragukan serta meremehkan niat Sakuragi tersebut karena, HEY~ itu Todai gitu looooh. Mana mungkin anak-anak dari sekolah yang terkenal sebagai sekolah bodoh bisa masuk ke universitas terkemuka seperti Todai. Namun (seperti yang saya sebut di atas), tidak ada hal yang tidak mungkin bukan? Sakuragi berusaha untuk mengumpulkan murid-murid untuk masuk ke kelas khususnya (btw Sakuragi menjanjikan  5 orang murid pasti akan berhasil masuk Todai pada sekolah). Murid-murid tersebut adalah, Yajima Yusuke (Yamashita Tomohisa), seorang anak miskin yang ‘terpaksa’ ikut kelas khusus karena dipinjami uang oleh Sakuragi untuk membayar hutang keluarganya; Mizuno Naomi (Nagasawa Masami), anak perempuan yang ingin membuktikan pada ibunya bahwa ia bukanlah orang yang bodoh; Ogata Hideki (Koike Teppei), cowok childish anak orang kaya yang sering diremehkan oleh ayahnya sendiri; Kosaka Yoshino (Aragaki Yui), pacar Yajima yang ikut hanya karena ikut-ikutan Yajima, namun akhirnya termotivasi sendiri setelah mengikuti kelas tersebut; Kobayashi Maki (Saeko), cewek manis yang ikut kelas khusus karena sebal pada temannya yang hobi pamer; dan belakangan kelas khusus tersebut bertambah dengan kehadiran Okuno Ichiro (Nakao Akiyoshi), cowok aneh yang memiliki kembaran yang sekolah di Shuumekan (sekolah kebalikan Ryuzan karena terkenal dengan murid-muridnya yang pintar) dan sebenarnya sudah sejak awal sering memerhatikan kelas khusus tersebut.

Banyak hal yang terjadi di kelas khusus tersebut. Apalagi cara belajar mereka sangat jauh dari cara belajar konvensional. Mereka belajar matematika dengan cara main tenis dan main kartu, belajar sejarah dengan cara membaca komik, belajar bahasa inggris dengan cara menyanyi dan menari, serta cara belajar lainnya yang dibilang ‘aneh’ tapi sebenarnya sangat efektif karena tidak membuat murid-murid bosan. Sakuragi tentunya tidak sendirian dalam mengurus kelas khusus ini. Ia juga dibantu oleh Ino-sensei (Hasegawa Kyoko), guru ceroboh yang awalnya ikut menentang adanya kelas khusus ini, tapi kemudian malah ikut membantu Sakuragi. Apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya? Apakah misi Sakuragi dalam memasukan 5 muridnya ke Todai berhasil? Sila tonton saja deh.

Sebuah kisah yang sangat bagus dan menginspirasi. Sangat perlu ditonton oleh anak-anak sekolah di mana pun. Apalagi sebentar lagi ada SNMPTN kan?? Ayo tontonlah ini. Mungkin kamu akan termotivasi untuk terus belajar seperti murid-murid kelas khusus ini yang awalnya malas sekali belajar namun akhirnya termotivasi untuk mengejar impian mereka untuk masuk Todai. Dorama ini juga mengajarkan kita agar tidak menganggap diri sendiri bodoh. Semua orang pasti bisa menggapai impiannya, asal dia mau berusaha 🙂

Meskipun menghadirkan tema yang sudah umum  yaitu tema “meraih mimpi”, Dragon Zakura sama sekali tidak menghadirkan sesuatu yang klise. Endingnya realistis sekali (kayak gimana? Tonton aja deh sendiri :p). Dorama ini juga menunjukkan sebuah realitas bahwa hidup itu kejam. Banyak hal yang dibutuhkan untuk dapat masuk ke ‘masyarakat’, jangan mau jadi orang bodoh karena orang bodoh akan selalu tertipu. Karena itu, seperti apa yang dibilang oleh Sakuragi “If you want to change your life, get into Todai”. Meskipun saya tahu bahwa Todai bukan satu-satunya jalan untuk membuktikan diri pada masyarakat, tapi melalui hal ini mereka belajar banyak hal, bukan hanya belajar tentang pelajaran sekolah saja, tapi juga belajar tentang kehidupan.

Selain ceritanya yang bagus, dorama ini juga menghadirkan banyak aktor aktris terkenal. Dari kalangan senior ada Abe Hiroshi dan Hasegawa Kyoko yang mantep banget aktingnya di sini. Abe Hiroshi sangat berhasil memerankan seorang pengacara nyentrik mantan anggota geng motor yang suka seenaknya sendiri. Begitu juga dengan Hasegawa Kyoko yang tampil sebagai guru cantik tapi ceroboh, yang cara mengajarnya diakui oleh murid-muridnya sangat membosankan. Sebagai murid-murid sekolah khusus, aktor/aktris (yang di dorama ini masih) abg di dorama ini pun tampil dengan baik. Memang tidak ada yang istimewa dari akting Yamapi alias Yamashita Tomohisa di sini, tapi dia cukup berhasil memerankan Yajima yang cool *btw rambutnya anak kampung sekali :p*. Masami Nagasawa, Aragaki Yui, Koike Teppei, Saeko, dan Nakao Akayoshi pun menampilkan akting yang sama baiknya. Di luar mereka, pemain pendukung film ini seperti staf guru sekolah, guru-guru sekolah khusus, dan karakter-karakter lainnya pun turut bermain bagus dalam film ini. Oh ya, film ini juga menyajikan humor yang meskipun bukan tipe humor yang bisa bikin penonton tertawa terbahak-bahak, namun cukup menghibur sehingga membuat penonton tidak bosan.

Sekian saja review dari saya. Dorama ini amat saya rekomendasikan pada anak-anak sekolah ataupun orang yang mempercayai  bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Oh iya, kalau tidak salah baru-baru ini dorama yang diangkat dari manga berjudul sama ini telah diadaptasi oleh Korea dengan judul God of Study. Saya belum nonton tapi saya harap serial korea-nya akan sebagus ini juga. 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

Seperti biasanya, saya baru nonton film produksi tahun 1979 ini kemaren-kemaren #telatdotcom. Film yang dibintangi oleh Dustin Hoffman dan Meryl Streep ini sebenarnya memiliki cerita yang sangat sederhana, tapi deeeeeeeeep *baca: dalem* banget dan sangat meninggalkan kesan yang dalam buat saya.

Ted Kramer (Dustin Hoffman) adalah seorang pekerja di perusahaan periklanan yang sangat ambisius dan workaholic. Suatu hari, di saat dia mendapat berita baik mengenai pekerjaannya di kantor, saat ia pulang ke rumah, istrinya, Joanna (Meryl Streep) sudah mengepak barang dan berniat meninggalkan Ted karena merasa tidak bahagia selama perkawinannya. Joanna pergi begitu saja entah kemana, meninggalkan Ted dan putranya, Billy (Justin Henry), yang masih sangat kecil. Awalnya Ted merasa kesal dan marah pada Joanna, apalagi dengan kepergian Joanna, ia harus mengasuh Billy seorang diri, suatu hal yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan karena pekerjaan mengasuh Billy adalah pekerjaan Joanna yang seorang ibu rumah tangga. Banyak hal yang terjadi antara Ted dan Billy. Di bagian awal, Ted sering merasa kesal sendiri saat mengasuh Billy, misalnya saat ia memasak French toast yang berakhir gosong, atau di saat Billy tidak mau menuruti aturannya. Namun, dengan berlalunya waktu, Ted mulai menikmati pekerjaannya dalam mengasuh Billy, malah ia jadi sering melalaikan pekerjaan kantornya karena lebih memprioritaskan kepentingan Billy. Kepergian Joanna membuat rasa sayang Ted pada Billy jadi lebih besar daripada sebelumnya. Namun, berbulan-bulan setelah kepergian Joanna, ia hadir kembali menemui Ted dan tiba-tiba meminta hak asuh atas Billy. Ted tentunya tidak menerima hal itu, dan persidangan dalam memperebutkan hak asuh Billy pun dimulai. Apa yang terjadi selanjutnya? Siapakah yang akan memenangkan persidangan ini? Tonton aja deh.

Seperti yang saya bilang di atas, film ini hadir dengan tema yang sederhana tapi sangat menyentuh. Saya suka sekali melihat interaksi antara Ted dan putranya, Billy. Pada awalnya mereka tidak begitu akur karena Billy lebih dekat dengan ibunya. Namun, seiring berjalannya waktu, hubungan ayah dan anak ini menjadi sangat dekat dan tak terpisahkan. Chemistry antara Dustin Hoffman dan Justin Henry (Billy) sangat pas sehingga saat kedua orang ini akan dipisahkan, saya tidak rela dan jadi kesal setengah mati pada karakter Joanna yang diperankan oleh Meryl Streep. Dustin Hoffman menampilkan aktingnya yang sangat bagus di film ini. Begitu juga dengan Meryl Streep, yang meskipun penampilannya di film ini tidak begitu banyak (karena di separuh film ia menghilang), tapi tetap menampilkan aktingnya yang sempurna sebagai seorang istri yang tidak bahagia dalam perkawinannya. Justin Henry yang berperan sebagai si kecil Billy pun tidak kalah dengan Dustin Hoffman dan Meryl Streep yang berperan sebagai orang tuanya. Tidak heran ketiga pemain utama film ini semuanya dinominasikan dalam ajang Academy Award (yang kemudian dimenangkan oleh Dustin Hoffman pada kategori Best Actor in a Leading Role dan Meryl Streep pada kategori best actress in supporting role).

Melalui perpisahan antara pasangan suami istri tersebut, selain membuat Ted belajar untuk lebih mencintai anaknya, ia juga jadi lebih memahami perasaan mantan istrinya. Awalnya ia tidak mengerti kenapa Joanna meninggalkannya begitu saja dan amat marah pada mantan istrinya tersebut. Tapi seiring berjalannya waktu, ia mulai mengerti dan timbul perasaan bersalah pada dirinya yang dulu lebih mementingkan diri sendiri dan selalu membatasi Joanna untuk melakukan hal yang diinginkannya. Dan, meskipun saya kesal pada karakter Joanna ini, sebenarnya karakter ini juga tidak bisa dipersalahkan begitu saja. Banyak faktor yang membuat ia meninggalkan Ted, dan membuat kita mengerti akan tindakannya. Film ini juga mengajarkan kita mengenai hubungan antara suami dan istri, bahwa seorang istri tidak boleh terlalu dikekang atau tidak diperbolehkan melakukan hal yang diinginkannya (misal: bekerja). Hal itu terjadi pada Joanna yang kemudian meninggalkan Ted karena ingin melakukan hal yang ia inginkan.

Ja, segini aja review saya. Film ini ‘dalem’, menyentuh, dan amat berkesan. Dan meskipun film ini adalah film tahun 70-an, tapi tetap menarik untuk ditonton sampai sekarang. Saya kasih nilai sempurna deh 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »