Feeds:
Posts
Comments

Archive for May 29th, 2010

My name is Salmon, like the fish. First name, Susie. I was fourteen years old when I was murdered on December 6th, 1973. I wasn’t gone. I was alive in my own perfect world. But in my heart, I knew it wasn’t perfect. My murderer still haunted me. My father had the pieces but he couldn’t make them fit. I waited for justice but justice did not come.

Nama Peter Jackson mungkin sudah tidak asing bagi para pecinta film. Ia adalah sutradara trilogi The Lord of the Rings yang luar biasa itu dan juga pernah menyutradarai remake dari film King Kong. Kali ini, ia menyutradarai film yang memiliki tema yang agak berbeda dari film-film yang pernah ia sutradarai sebelumnya, yaitu drama. The Lovely Bones adalah film yang diangkat dari novel best seller karangan Alice Sebold yang berjudul sama. Film ini bercerita tentang Susie Salmon (Saoirse Ronan), seorang anak perempuan berusia 14 tahun yang pada suatu hari dibunuh oleh tetangganya sendiri, Mr. Harvey (Stanley Tucci). Pembunuhan tersebut dilakukan secara ‘rapi’ dan mayat serta beberapa bukti disembunyikan oleh Mr. Harvey sehingga pihak keluarga dan kepolisian tidak bisa menemukan Susie. Susie yang masih belum rela akan kematiannya terjebak di sebuah dunia di antara kehidupan dan surga, sehingga ia masih bisa mengamati bagaimana hidup keluarganya setelah ditinggal dirinya. Dan setelah kematiannya, hidup keluarganya memang tidak sama lagi. Sang ayah, Jack Salmon (Mark Wahlberg), merasa depresi dan terobsesi untuk menangkap pembunuh putrinya dan menjadi paranoid. Sang ibu, Abigail (Rachel Weisz), berusaha menghindari hal-hal yang berhubungan dengan putrinya (misalnya ia tidak mau masuk ke kamar Susie). Selain mereka, Susie juga mengamati orang-orang lain dalam kehidupannya, seperti Lindsey dan Buckley yang merupakan adik-adiknya; Grandma Lynn (Susan Sarandon), neneknya; Ray, cowok yang ditaksirnya; Ruth, anak perempuan aneh yang sanggup merasakan kehadirannya; sampai pembunuhnya sendiri, Mr. Harvey. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Susie pada akhirnya akan memilih untuk pergi ke surga dan berhenti mengamati orang-orang di dunia nyata? Apakah pelaku pembunuhannya, Mr. Harvey, pada akhirnya akan tertangkap? Tonton aja deh.

Sebelum saya nonton film ini, sebelumnya saya udah baca novelnya (yang lumayan tebal ituh) dan jujur, saya kurang bisa menikmati novelnya. Mungkin karena terjemahannya kurang enak ya, saya jadi lama banget baca novel tersebut (beberapa bulan mungkin?) dan selalu ngantuk tiap bacanya. Padahal dari segi cerita, saya suka banget sama ide cerita novel ini. Dan versi filmnya ini menurut saya gak begitu membuat saya bosan sebagaimana versi novelnya. Hmm, ada sih beberapa scene yang membosankan dari film ini, tapi overall gak begitu banyak dan menurut saya film ini lumayan bagus.

Yang patut diacungi jempol dari film ini adalah visualisasi dunia antara-dunia-nyata-dan-surga yang menurut saya keren banget. Pas saya baca novelnya, imajinasi saya kayaknya gak nyampe situ. Indah. Indah banget. Perubahan-perubahan suasana yang ada di dunia tersebut, yang bikin filmnya sedikit bernuansa surealis, juga bikin saya terkagum-kagum melihatnya. Peter Jackson gitu, kayaknya ada yang salah kalo dia gak nyempilin efek-efek canggih :p Oh iya, visualisasi dunia yang ada di film ini juga sedikit mengingatkan saya pada visualisasi dunia-dalam-cermin yang ada di film The Imaginarium of Doctor Parnassus. Tapi masih lebih canggih The Imaginarium meskipun kedua-duanya sama-sama indah.

Dari segi cerita, cerita filmnya tampak lebih sederhana dari versi novelnya, yang menurut saya oke-oke aja *malah kalo terlalu detail kayak di novelnya, mungkin film ini akan tambah membosankan*. Dan menurut saya sah-sah aja menggabungkan beberapa genre dalam sebuah film. Meskipun tema utamanya adalah drama, tapi sang sutradara juga menyisipkan unsur thriller (yang lumayan bikin tegang) dan fantasi (melalui dunia Susie) ke dalam film ini, yang menurut saya oke-oke aja dan sama sekali gak mengganggu cerita secara keseluruhan atau membuat film ini jadi tidak jelas genre-nya. Toh, dalam kehidupan sesungguhnya, tidak mungkin hidup ini hanya berisi satu tema bukan? *ting ting*

Akting-akting pemainnya pun lumayan oke. Yang paling hebat sih, Stanley Tucci sebagai Mr. Harvey. Awalnya sih, sosok Mr. Harvey di film ini gak sesuai sama bayangan saya. Yang di film terlalu ramah abisnya. Tapi begitu ekspresinya berubah jadi kepribadiannya yang sebenarnya *bukan topeng*, saya gak bisa ngomong apa-apa lagi. Salut *lah, ini bisa ngomong?*. Saoirse Ronan juga sangat pas memerankan karakter Susie. She’ll be the next rising star 🙂 Mark Wahlberg dan Rachel Weisz juga sama-sama menampilkan aktingnya yang prima. Oh iya, satu lagi yang paling saya suka aktingnya adalah Susan Sarandon yang berperan sebagai Grandma Lynn. Gokil banget akting nenek satu ini :D. Btw, saya kurang sreg sama pemeran karakter Ray dan Ruth. Kalo soal Ray, ini subjektif sih, kurang suka tampangnya dan gak sesuai sama bayangan saya. Kalo Ruth, menurut saya, tampangnya terlalu tua untuk anak 14 tahun. Selain itu, aktingnya menurut saya agak kaku. Padahal Ruth ini di novelnya adalah salah satu karakter yang paling menarik karena memiliki kepribadian yang unik. Tapi sayangnya di film ini karakternya tidak begitu dikembangkan dan tampak seperti tempelan saja.

Well, segini aja review saya. Secara keseluruhan film ini lumayan bagus, meskipun memiliki beberapa kekurangan. Saya kasih 3,5 bintang deh 🙂

Rating : 1 2 3 3,5 4 5

Advertisements

Read Full Post »