Feeds:
Posts
Comments

Archive for July 15th, 2010

Peringatan: Review ini mengandung SPOILER, jadi jika anda tidak menyukai spoiler, silakan cepat-cepat tutup tab blog ini sebelum terlambat 🙂

Tokyo. Apa yang ada di pikiran anda ketika mendengar kata itu? Nama kota? Ibu kota Jepang? Kota terpadat di Jepang? Lalu, bagaimana pandangan anda terhadap kota tersebut? Saya sendiri belum pernah menginjakkan kaki di kota tersebut, tapi berhubung saya punya hobi nonton film / dorama Jepang dan juga baca komik Jepang yang sering menggunakan kota Tokyo sebagai latarnya, saya jadi tidak terlalu asing dengan kota ini dan punya impian untuk suatu hari menginjakkan kaki di kota tersebut (amiiiin). Lalu, bagaimana tanggapanmu jika mendengar tiga orang sutradara dari tiga negara berbeda di luar Jepang menuangkan pemikiran mereka mengenai Tokyo ke dalam tiga buah film pendek? Kalo saya sih, penasaran, hehe :p

Tokyo! adalah sebuah film berbentuk “antologi” yang terdiri dari tiga film pendek yang masing-masing berdurasi sekitar 30-40 menit yang disutradarai oleh tiga sutradara berbeda yang semuanya menggunakan kota Tokyo sebagai latar belakang tempatnya. Film pertama berjudul “Interior Design” yang disutradarai oleh Michel Gondry, sutradara yang pernah membuat saya terpesona melalui salah satu karyanya yang berjudul Eternal Sunshine of the Spotless Mind, sebuah film yang memiliki cerita yang unik sekaligus absurd. Ke-absurd-an juga saya temukan dalam Interior Design. Karena itu, anda tidak perlu mengerutkan kening melihat hal-hal di luar akal sehat yang ada di film ini, cukup nikmati saja!  Interior Design bercerita tentang sepasang kekasih bernama Hiroko (Fujitani Ayako) dan Akira (Kase Ryo) yang pindah ke Tokyo untuk mengadu nasib. Di Tokyo mereka tidak memiliki tempat tinggal, karena itulah mereka menumpang di flat sempit milik Akemi (Ito Ayumi) yang merupakan sahabat mereka. Dalam film ini kita dibawa kepada konflik dalam diri Hiroko yang merasa tidak memiliki kegunaan sama sekali. Ia tidak punya pekerjaan, tidak punya bakat, dan tidak punya ambisi. Berbeda dengan pacarnya yang memiliki tujuan hidup yaitu membuat film. Kehadiran mereka pun mulai jadi beban bagi Akemi, dan Hiroko belum juga berhasil menemukan tempat tinggal yang pas setelah berhari-hari. Kejutan ditampilkan ketika suatu hari *spoiler alert, kalo mau tau blok aja yg diputihin* Hiroko berubah menjadi KURSI secara perlahan-lahan. Manusia lain mungkin akan merasa hal tersebut sebagai musibah, tapi tidak bagi Hiroko. Hiroko yang kemudian ditemukan dan dipungut oleh seorang pria yang tampaknya berprofesi sebagai seniman malah menjadi bahagia karena setelah ia menjadi kursi, ia merasa dirinya memiliki kegunaan bagi orang lain. Melalui segmen ini, kita diperlihatkan bahwa Tokyo adalah tempat yang ideal untuk mengadu nasib sehingga banyak orang dari kota-kota lainnya memilih untuk pindah ke sana (mungkin kalo di sini sama aja dengan Jakarta, di mana banyak orang dari berbagai daerah mengadu nasib di sana). Namun, Tokyo juga adalah kota yang keras, sehingga jika ingin bertahan di sana, kita dituntut untuk punya ‘kegunaan’. Di kota besar, manusia jadi sering dipandang sebagai sekadar ‘alat’. Gak bisa kerja? Gak ada guna? Sana minggir aja! Karena itulah, apa bedanya manusia dengan benda mati (yang memiliki kegunaan)? Tidak heran jika ada manusia yang kemudian lebih senang menjelma menjadi benda mati tapi berguna, dibanding jadi manusia tapi tidak berguna (dalam hal ini, Hiroko), jika manusia hanya dipandang dari segi ‘kegunaan’ saja.

segmen “Interior Design”

segmen “Merde”

Lalu, cerita kedua berjudul “Merde”, disutradarai oleh Leos Carax yang merupakan sutradara asal Prancis. Film ini bercerita tentang laki-laki mengerikan yang tiba-tiba muncul dari saluran bawah tanah dan tingkah lakunya menggemparkan kota Tokyo. Dia berjalan ke sana kemari dan merebut barang-barang dari orang-orang yang ia lewati. Tidak hanya itu, tingkahnya juga menewaskan banyak warga Jepang, yaitu ketika ia melemparkan banyak granat yang ia temukan dari bawah tanah. Laki-laki yang dijuluki “The Creature From the Sewers” ini pun diburu dan akhirnya ditahan. Namun, laki-laki yang dari fisiknya terlihat bahwa dia adalah orang asing ini tidak mau berkata apa-apa ketika diinterogasi dan memiliki bahasa yang tidak dimengerti orang-orang. Lalu, didatangkanlah pengacara asal Prancis yang mengaku dapat mengartikan bahasa laki-laki yang kemudian diketahui bernama Merde (bahasa Prancis dari “shit”) tersebut. Lalu Merde ini kemudian menjalani sebuah pengadilan, di mana motif ia melakukan terror-teror tersebut adalah karena ia membenci orang-orang, terutama orang Jepang yang menurutnya disgusting, dan katanya lagi tentang orang Jepang “their eyes are shaped like woman’s sex”.

segmen “Shaking Tokyo”

Segmen ketiga berjudul Shaking Tokyo” (nah, yang ini favorit saya nih) yang disutradarai oleh sutradara asal Korea bernama Joon-ho Bong. Segmen ini bercerita tentang sebuah fenomena yang memang terjadi di Jepang sana (terutama di kota besar seperti Tokyo), yaitu fenomena Hikkikomori. Hikkikomori sendiri adalah suatu kondisi di mana seseorang mengurung diri dalam rumahnya dan tidak pernah keluar rumah dalam jangka waktu yang lama. Film ini bercerita tentang seorang lelaki (diperankan Kagawa Teruyuki) yang sudah tidak pernah keluar dari rumahnya sejak 10 tahun yang lalu. Ia tinggal sendiri, dan kebutuhan hidupnya terpenuhi dari uang yang dikirim oleh ayahnya. Mau makan pun, ia tinggal pesan delivery sehingga ia tidak perlu repot-repot keluar rumah, seperti kebiasaannya setiap hari Sabtu yaitu memesan pizza. Suatu hari, untuk pertama kalinya ia melakukan kontak mata dengan orang lain setelah 10 tahun, yaitu dengan seorang pengantar pizza perempuan (sebelumnya ia tidak pernah menatap mata para pengantar pesanannya). Kontak pertama yang juga dibarengi dengan terjadinya gempa tersebut cukup berkesan bagi laki-laki tersebut, dan ia ingin bertemu lagi dengan perempuan tersebut (diperankan Aoi Yu yang juga bermain di Hana and Alice). Namun sayangnya, setelah itu perempuan tersebut tidak bekerja sebagai pengantar pizza lagi. Hal tersebut mendorong laki-laki tersebut untuk keluar dari rumahnya, hanya untuk menemui perempuan tersebut. Dan ketika ia berhasil keluar dari rumahnya, ia menemui kenyataan bahwa ternyata semua orang, termasuk perempuan tersebut, telah menjadi hikkikomori seperti dirinya. Hal ini sendiri menurut saya sangat menakutkan. Salah satu yang menyebabkan fenomena hikkikomori salah satunya adalah kecanggihan teknologi (yang di jepang memang canggih) yang membuat segala sesuatu jadi lebih praktis (meskipun tokoh Hikkikomori yang diperankan Kagawa Teruyuki di sini tidak diperlihatkan sebagai maniak elektronik dan ia menjadi hikkikomori karena tidak menyukai orang-orang). Segala hal bisa didapatkan di rumah, bahkan kita tidak perlu kemana-mana untuk mendapatkan hiburan atau kebutuhan seperti makanan. Bentuk komunikasi langsung pun lama-lama hilang dan tergantikan komunikasi tidak langsung (melalui internet). Makanya bukan tidak mungkin jika semua orang Tokyo menjadi hikkikomori, bahkan para pengantar delivery pun ikut-ikutan menjadi hikkikomori dan pekerjaan mereka kemudian diambil alih oleh robot. Sampai-sampai tidak ada alasan lagi yang dapat membuat mereka mau keluar rumah, kecuali gempa. Ya, sesuai judulnya, Shaking Tokyo, tampaknya satu-satunya hal yang bisa membuat seorang hikkikomori mau keluar dari rumahnya hanyalah gempa, seperti yang terjadi pada film ini. Oh ya, melalui Shaking Tokyo, saya juga dibuat kagum karena dalam segmen ini, pusat kota Tokyo yang biasanya padat diperlihatkan jadi sangat sepi dan lengang tanpa seorang pun.

Well, secara keseluruhan film ini bagus banget, meskipun tampaknya tidak semua orang bisa menikmati film bergaya seperti ini. 4,5 bintang deh (4 bintang buat Interior Design & Merde, 5 bintang untuk Shaking Tokyo).

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Advertisements

Read Full Post »