Feeds:
Posts
Comments

Archive for October 13th, 2011

Jika kamu diminta untuk memilih satu momen paling berarti dalam hidupmu, maka apa yang akan kamu pilih? Mungkin momen ketika kamu masih duduk di sekolah menengah pertama, atau momen di mana kamu sedang bersama dengan orang yang kamu cintai, atau bermacam-macam momen lainnya, yang mungkin akan membuat kamu menjadi bingung mau memilih yang mana. Pertanyaan itulah yang menjadi premis dasar dari film After Life (judul asli: Wandâfuru raifu), sebuah film yang disutradarai oleh Hirokazu Kore-eda, yang terkenal melalui film-filmnya seperti Nobody Knows dan Still Walking.

Sesuai judulnya, After Life berlatarkan sebuah dunia setelah kematian. Bukan surga atau neraka, tapi dunia sebelum itu (mungkin semacam Purgatory?). Ada sebuah bangunan di mana orang-orang yang baru saja meninggal dikumpulkan. Mereka diwawancara satu persatu oleh staff tempat itu, diberitahu bahwa mereka akan tinggal selama seminggu di situ, dan diberi tugas yaitu: memilih kenangan atau momen paling berarti dalam hidup mereka. Cukup satu saja. Mereka diberi waktu tiga hari untuk memutuskan itu. Setelah mereka mantap memilih, staff tempat itu akan menciptakan kembali kenangan yang mereka pilih dan memfilmkannya. Setelah itu, ketika mereka melanjutkan ke tahap selanjutnya (mungkin surga atau neraka, atau mungkin kehidupan selanjutnya, jika reinkarnasi benar-benar ada), mereka hanya akan membawa kenangan yang mereka pilih tersebut, dan melupakan semua hal yang terjadi dalam hidup mereka.

Orang-orang yang telah meninggal tersebut (kebanyakan manula, tapi ada juga gadis remaja) lalu berusaha untuk mengingat-ingat kembali apa saja yang terjadi di kehidupan mereka. Ada yang memilih momen ketika mereka masih kecil, ada yang bingung memilih, ada yang memilih untuk tidak memilih, bahkan ada yang berbohong dan memilih momen yang tidak pernah terjadi di kehidupan mereka, melainkan diharapkan terjadi. Belakangan, hal tersebut nantinya tidak hanya akan mempengaruhi orang-orang tersebut saja, tapi juga para staff tempat itu, yang sebenarnya  tidak jauh berbeda dari mereka.

Menonton film ini membuat saya turut berpikir dan kembali mengingat-ingat apa saja yang telah terjadi dalam kehidupan saya. Seandainya saya berada di posisi mereka, maka kenangan apa yang akan saya pilih? Pertanyaan yang cukup sulit bukan? Karena begitu banyak momen yang ingin saya pilih dan tidak ingin saya lupakan. Menonton film ini rasanya seperti sedang melakukan refleksi akan diri maupun kehidupan kita. Kadang-kadang, dengan mengingat kembali yang telah terjadi, kita jadi bisa memahami apa yang dulu tidak kita pahami, seperti yang terjadi pada salah satu tokoh dalam film ini.

Ya, biarpun berlatarkan dunia setelah kematian, sesungguhnya film ini bercerita tentang kehidupan (dan bukankah kematian sendiri adalah bagian dari kehidupan?). Melalui film ini, kita seolah disadarkan bahwa yang paling berarti dari kehidupan kita itu adalah hidup itu sendiri, sesuai judul aslinya, Wandâfuru raifu (Wonderful Life), yang menurut saya lebih merepresentasikan maksud film ini dibandingkan judul internasionalnya.

Seperti film-film Kore-eda lainnya, film ini berjalan dengan tenang dan tanpa letupan emosi yang berlebihan. Film ini juga banyak mengandung momen menyentuh tanpa perlu dihiasi adegan yang didramatisasi. Selain itu, yang saya suka di sini adalah setting after life-nya yang tidak jauh berbeda dari dunia orang hidup. Orang-orang yang tinggal di sana masih melakukan aktifitas-aktifitas sebagaimana orang hidup, seperti minum teh, gosok gigi, bahkan bermain catur. Proses memfilmkan kenangannya pun sama seperti proses membuat film di dunia nyata. Tidak ada hal yang aneh atau ajaib di dunia tersebut. Mungkin, berdasarkan penafsirannya, Kore-eda mencoba mencoba menunjukkan bahwa dunia orang mati sesungguhnya sama saja seperti dunia orang hidup. Ja, segini aja reviewnya. 4 bintang untuk film ini. Recommended!

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »