Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2012

1. Usagi Drop (Japan, 2011)

Saya selalu tertarik dengan film yang menggambarkan hubungan ayah dan anak. Dan meskipun ayah dan anak dalam Usagi Drop ini bukanlah ayah dan anak beneran, hal tersebut tidak mengurangi ketertarikan saya pada film ini. Bercerita tentang bujangan berusia tiga puluh tahun bernama Daikichi (Matsuyama Ken’ichi) yang memutuskan untuk mengasuh Rin (Ashida Mana) yang disebut-sebut sebagai anak haram dari kakeknya yang baru saja meninggal dunia, dengan segala lika-likunya. Well, film ini enjoyable dan cocok untuk ditonton para penyuka film-film bergenre slice of life atau film yang bercerita tentang hubungan ayah dan anak. Saya belum pernah baca versi manganya atau nonton versi anime-nya, jadi saya gak bisa mengatakan apakah adaptasi ini berhasil atau tidak. Tapi saya lumayan menikmati film ini. Matsuyama Ken’ichi cukup pas memerankan seorang pria single yang tiba-tiba harus mengasuh anak kecil, dan ia berhasil membangun chemistry yang sangat baik dengan Ashida Mana. Ya, Ashida Mana! Sungguh ya anak kecil satu ini adorable sekali. Dan tidak hanya adorable, aktingnya pun sangat bagus di sini. Di luar hal itu, film ini juga memiliki kekurangan di mana ada part-part yang seharusnya mengaduk-aduk emosi penontonnya, tapi jadinya malah datar-datar aja. Tapi di luar itu saya cukup suka film ini kok. 3,5/5.

2. Chonmage Purin / A Boy and His Samurai (Japan, 2010)

Tertarik menonton film ini karena posternya yang kelihatan lezat, plus karena film ini disutradarai oleh Nakamura Yoshihiro (Fish Story, Ahiru to Kamo no Koinrokka), dan saya cukup penasaran ingin tahu seperti apakah film buatannya ketika ia tidak bekerja sama dengan Isaka Kotaro. Film ini bercerita tentang seorang samurai (pada periode Edo) bernama Yasube Kijima (Nishikido Ryo) yang terkena time leapt ke 180 tahun kemudian. Di 180 tahun kemudian itu, tepatnya di Jepang masa kini, ia bertemu dengan seorang single mother bernama Hiroko (Tomosaka Rie) beserta anak laki-lakinya, Tomoya (Suzuki Fuku). Hiroko lalu mengizinkan Yasube untuk tinggal bersamanya dan anaknya, dan sebagai balas budi, Yasube kemudian membantu Hiroko dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga di rumahnya, yang nantinya berujung ketika ia mulai belajar membuat kue. Film ini mungkin masih mirip-mirip dengan Usagi Drop, di mana bercerita tentang ‘hubungan keluarga’ tanpa ikatan darah. Tapi film ini tidak hanya bercerita tentang hubungan Yasube dengan ibu dan anak tersebut saja. Film ini juga berusaha menyinggung tentang permasalahan gender, yang ditunjukkan melalui sosok Hiroko sebagai single mother yang bekerja di luar, dan Yasube yang melakukan pekerjaan rumah tangga. Menurut saya film ini cukup menghibur dan enjoyable, dan terdapat kejutan manis yang sedikit bikin terharu meskipun gak sampe bikin nangis. Dari segi akting, Nishikido Ryo cukup baik memerankan Yasube, samurai super serius yang kemudian terdampar ke dunia patisserie. Tomosaka Rie dan Suzuki Fuku juga lumayan baik aktingnya (dan Suzuki Fuku ini lucuu, dia ini versi anak laki-lakinya Ashida Mana kayaknya, hehe). Overall, film ini cocok untuk ditonton penyuka film keluarga, dan juga penyuka film tentang makanan, karena kue-kue buatan Yasube di film ini sungguh bikin ngiler (tapi untuk pudingnya ternyata kurang menggiurkan, masih lebih menggiurkan puding yang di My Boss My Hero :D). 3,5/5

3. Toad’s Oil / Gama no Abura (Japan, 2009)

Aktor kawakan Yakusho Koji mencoba untuk menunjukkan bakatnya yang lain, yaitu dalam menyutradarai sebuah film. Dan hasilnya, untuk sebuah debut, film ini menurut saya lumayan banget. Di film ini, ia tidak hanya menyutradarai, tapi juga turut bermain sebagai pemeran utama. Film ini bercerita tentang Yazawa Takuro (Yakusho Koji) yang tinggal di mansion yang cukup besar bersama istri (Kobayashi Satomi) dan anak laki-lakinya, Takuya (Eita). Suatu hari, Takuya mengalami insiden yang membuat dirinya koma. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Menurut saya, film ini berhasil menggambarkan bagaimana rasanya kehilangan dengan sangat baik. Di sini kita dihadapkan pada tokoh Takuro, seorang ayah yang tingkah lakunya masih kekanak-kanakan dan tidak mencerminkan karakter seorang ayah. Saking kekanak-kanakannya, ketika anak laki-lakinya sedang koma di rumah sakit, ia malah sibuk telepon-teleponan dengan Hikari (Nikaido Fumi), pacar LDR Takuya, dengan berpura-pura sebagai Takuya. Setelah suatu hal (yang mungkin sudah bisa ditebak) terjadi, Takuro pun melakukan suatu perjalanan yang nantinya akan mendewasakan dirinya. Menurut saya, ini adalah tipe film yang bisa membuat penontonnya bersedih (meskipun bukan tipe sedih yang bikin nangis) dan tersenyum. Saya lumayan suka perjalanan yang dilakukan Takuro dan Akiba (teman masa kecilnya Takuya) yang dibumbui dengan bumbu komedi ‘unik’ khas Jepang. Saya juga suka melihat bagaimana hubungan Takuro dengan Hikari lewat telepon, yang menurut saya manis sekali meskipun dari luar keliatannya gak wajar. Semua pemain bermain dengan baik di sini, dan nilai plus lagi film ini memiliki sinematografi yang sangat indah. Dan saya lumayan menyukai endingnya yang memberikan kesan pahit dan manis sekaligus. Overall, menurut saya Yakusho Koji cukup berhasil menggambarkan perasaan kehilangan dan perasaan cinta seorang ayah terhadap anaknya dengan baik. Semoga ke depannya ia akan menyutradarai film lagi, karena debutnya yang ini sudah cukup menjanjikan. 3,5/5

Advertisements

Read Full Post »

“Manhattan” dalam dorama ini adalah nama sebuah coffee shop yang terletak tepat di seberang sebuah stasiun televisi. Coffee shop ini dimiliki oleh seseorang yang biasa dipanggil Tenchou/manager (diperankan Matsuoka Masahiro). Tenchou (yang sebenarnya lebih ingin dipanggil dengan “master”) adalah seorang barista yang sangat mencintai kopi buatannya, dan yang ia inginkan hanyalah pelanggan café-nya bisa menikmati kopi buatannya. Namun, sejak stasiun televisi di seberang Café Manhattan didirikan, mulai bermunculan pelanggan-pelanggan ‘aneh’ yang datang ke coffee shop-nya bukan dengan tujuan untuk menikmati kopinya, sehingga hal tersebut selalu membuat Tenchou kesal. Tenchou sendiri adalah pria pendiam yang hampir tidak pernah bicara (dan lebih sering berbicara menggunakan suara hatinya). Ia sendiri tidak sendirian dalam mengelola cafenya. Ada Shinobu (Tsukamoto Takashi), satu-satunya pelayan di Café Manhattan yang keberadaannya sangat menolong pekerjaan Tenchou di café tersebut.

Yang menjadi permasalahan dalam dorama ini adalah ketika Tenchou mulai punya hobi “menguping” pembicaraan para pelanggannya. Melalui hobi mengupingnya tersebut, ia menyadari bahwa beberapa pelanggan dalam café tersebut saling terlibat dalam love affair yang sangat kompleks. Btw, pelanggan-pelanggan tersebut adalah: (1) supir taksi perempuan bernama Akabane Nobuko (Koizumi Kyoko); (2) seorang penari bernama Bessho Hideki (Oikawa Mitsuhiro); (3) penulis skenario dorama bernama Chikura Maki (Morishita Aiko); (4) seiyuu/voice actor bernama Doigaki Satoshi (Matsuo Suzuki); dan (5) seorang pembawa berita ramalan cuca bernama Emoto “Emo-yan” Shiori (Sakai Wakana). Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya pada hubungan cinta segi banyak tersebut? Apa yang akan dilakukan Tenchou terhadap permasalahan cinta yang dialami para pelanggannya tersebut? Dan, apakah dia akan turut serta ke dalam ‘siklus cinta’ para pelanggannya tersebut? Tonton aja deh 😀

Setelah menonton Kisarazu Cat’s Eye dan Tiger & Dragon (reviewnya kapan-kapan ya), saya jadi penasaran sama dorama yang ditulis Kudo Kankuro yang lainnya. Pilihan saya lalu jatuh pada dorama ini karena saya ingin tahu bagaimana hasilnya jika Kudo Kankuro menulis cerita romance. Dan ya, di tangannya, cerita romance biasa pun bisa menjadi suatu tontonan yang unik dan tidak biasa. Dari adegan pertama dalam dorama ini, yaitu adegan Akabane mengendarai taksi-nya dengan penumpang yang berbeda-beda (yang menampilkan beberapa cameo, salah satunya cameo karakter Master *Sato Ryuta* dari dorama Kisarazu Cat’s Eye), saya sudah yakin bahwa saya akan sangat menyukai dorama ini. Dan dugaan tersebut ternyata benar. Saya sukaaaa banget sama dorama ini. Ini adalah salah satu dorama yang berhasil bikin saya ngakak terus dari awal sampai akhir. Tidak diragukan lagi, Kudo Kankuro memang pantas disebut sebagai salah satu penulis komedi terbaik di Jepang, karena ia selalu berhasil menyajikan humor-humor yang benar-benar lucu dan berkesan melalui skenario yang ditulisnya.

Unsur komedi memang menjadi kekuatan utama dorama ini. Kelucuan-kelucuan yang ada di dorama ini selain dihasilkan dari skenarionya yang memang bagus juga dihasilkan dari karakteristik serta interaksi antar tokoh-tokohnya. Yang paling lucu tentu saja karakter Tenchou yang diperankan dengan sangat baik oleh Matsuoka Masahiro (drummer band Tokio). Hal-hal yang ia ucapkan di dalam hatinya, ekspresi dan gerak-gerik yang ia keluarkan, dan sifatnya yang sangat kaku adalah salah satu yang membuat dorama ini menjadi sangat lucu. Dan saya suka sekali dengan bagaimana ia kemudian terlibat dan secara tidak langsung membantu permasalahan cinta yang dialami para pelanggannya (meskipun nanti ujung-ujungnya dia juga yang dibantu). Namun, yang paling bersinar di dorama ini tentunya adalah Koizumi Kyoko yang memerankan Akabane si supir taksi. Sebelumnya saya terbiasa melihat Koizumi Kyoko berperan sebagai karakter-karakter yang serius seperti di Shokuzai dan Hanging Garden, makanya di dorama ini saya agak takjub karena  aktris satu ini ternyata cocok juga bermain dalam film/dorama komedi. Aktingnya adalah yang terbaik dari semuanya. Dia berhasil menghidupkan karakter Akabane yang punya kepribadian yang sangat unik. Pada suatu saat ia bisa terlihat sebagai perempuan yang galak dan menyeramkan, tapi di saat yang lain ia bisa tiba-tiba berubah menjadi perempuan centil yang bertingkah laku seperti ABG (terutama ketika sedang jatuh cinta). Tidak heran Koizumi Kyoko berhasil mendapatkan penghargaan Best Supporting Actress melalui perannya dalam dorama ini. Selain mereka berdua, karakter-karakter lainnya juga turut memiliki karakteristik yang menarik, meskipun mungkin agak kurang menarik bagi kamu yang berharap akan menemukan pemain yang cakep dan cantik (dan muda) seperti yang biasa ada di dorama bergenre romance (tapi masih ada Tsukamoto Takashi kok yang bisa jadi eye candy buat cewek-cewek). Para pemain di sini bukan tipe pemain yang luar biasa cakep dan cantik, tapi hal itu malah bikin karakter-karakternya lebih believable meskipun ceritanya sulit dibayangkan untuk terjadi di dunia nyata.

Dari segi cerita, saya pun sangat menyukai ceritanya, meskipun mungkin terkesan agak ribet karena menghadirkan cerita cinta segi banyak. Dan menurut saya ini adalah salah satu dorama terbaik yang menggambarkan cerita cinta segi banyak (saingannya mungkin cuma Love Shuffle yang sama-sama komedi). Di sini kita bisa melihat bahwa pada awalnya si A mungkin menyukai si B dan si B menyukai si C dan si C menyukai si D dan si D menyukai si E, tapi hal tersebut bukan berarti berlaku mutlak dan bisa saja suatu saat berubah. Untuk hal ini, saya ucapkan salut lagi pada Kudo Kankuro karena berhasil menyajikan perubahan-perubahan pada siklus cinta tersebut dengan natural dan gak maksa. Selain itu, dorama berjumlah 11 episode ini juga berhasil memberikan berbagai macam kejutan yang tidak disangka-sangka di setiap episodenya, dan membuat penonton menjadi selalu penasaran ingin tahu bagaimana kelanjutan ceritanya. Kejutan-kejutannya tersebut pula lah yang membuat dorama ini menjadi semakin menyenangkan untuk ditonton.

Overall, menurut saya Manhattan Love Story adalah salah satu dorama terlucu yang pernah saya tonton (kelucuannya hampir mendekati Kisarazu Cat’s Eye, yang merupakan dorama terlucu nomor satu saya). Tambahan, dorama ini juga berhasil memborong 8 penghargaan pada 39th Television Drama Academy Award, yaitu pada kategori  Best Drama, Best Supporting Actress (Koizumi Kyoko), Best Theme Song, Best Scriptwriter (Kudo Kankuro), Best Directors, Best Musical Arrangement, Best Casting, dan Best Opening. Ja, 4,5 bintang deh. Highly recommended.

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »

Kita Yoshio (Kohinata Fumiyo) selalu merasa bahwa dirinya adalah orang paling sial sedunia. Baginya, hanya ada dua kebahagiaan yang pernah dia alami dalam hidupnya, yaitu pernikahannya dengan Mizuho (Konishi Manami) 11 tahun yang lalu yang sayangnya hanya bertahan selama enam bulan, dan pertemanannya dengan Minami Takao (Imai Masayuki), yang telah meninggal dalam kecelakaan pesawat 11 tahun silam. Selain dua hal itu, baginya tidak ada hal baik lagi yang terjadi pada dirinya. Untuk itulah, Kita Yoshio memutuskan akan mengakhiri hidupnya 11 hari lagi, tepatnya pada hari peringatan 11 tahun kematian Minami.

Di hari pertama dalam 11 hari itu, suatu kejadian mempertemukannya dengan seorang pengelola cabaret club bernama Yashiro Heita (Matsuda Ryuhei). Mengetahui bahwa orang yang baru dikenalnya itu akan mengakhiri hidupnya sebelas hari lagi, Heita lalu berusaha untuk membantu Kita Yoshio mewujudkan hal yang ingin dilakukannya sebelum mati, seperti mencarikan dan mempertemukannya dengan Mizuho (mantan istrinya) dan mempertemukannya dengan seorang artis idola bernama Yoimachi Shinobu (Yoshitaka Yuriko). Dan tanpa disangka-sangka, 11 hari tersebut menjadi 11 hari paling ‘menarik’ dalam hidup seorang Kita Yoshio. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Kita Yoshio akan benar-benar mengakhiri hidupnya sebelas hari lagi? Tonton aja deh kakak.

Tertarik menonton dorama ini karena premisnya yang menarik, plus jajaran castnya yang bagus semua. Premis dalam Ashita no Kita Yoshio (Kita Yoshio’s Tomorrow) memang cukup sederhana, tentang 11 hari terakhir seseorang yang akan bunuh diri. Namun, ternyata ceritanya tidak sesederhana itu. Ceritanya ternyata cukup kompleks dan bukan cuma tentang 11 hari terakhir orang yang akan bunuh diri saja, tapi juga tentang misteri dalam hidup Kita Yoshio sendiri yang berkaitan dengan hubungannya dengan Mizuho sebelas tahun yang lalu. Penonton akan dibuat penasaran dengan misteri mengapa Mizuho mau menikahi Kita Yoshio sebelas tahun yang lalu. Apalagi karakter Mizuho di masa kini pun memiliki beberapa permasalahan yang membuat seorang insurance investigator bernama Sugimoto (Namase Katsuhisa) menyelidikinya (dan menyelidiki Kita Yoshio pula). Nantinya, kita akan dibawa pada berbagai macam kejutan yang tak disangka-sangka yang membuat dorama ini menjadi semakin menarik. Seperti apa kejutannya? Tonton sendiri deh 😀

Selain itu, kita juga akan menemukan studi karakter yang sangat menarik di dorama ini. Kita bisa melihat bahwa dalam dorama ini Kita Yoshio dipertemukan dengan orang-orang yang sebelumnya tidak pernah ia kenal tapi memberi pengaruh yang kuat pada 11 hari terakhirnya. Dan yang paling saya suka adalah karakter-karakter ini tidak ada yang sepenuhnya putih atau sepenuhnya hitam. Misalnya karakter Heita yang diperankan dengan sangat baik oleh Matsuda Ryuhei. Awalnya kita pasti akan dibuat bingung mengapa orang ini mau susah-susah membantu Kita Yoshio yang baru saja ditemuinya. Tapi nantinya kita akan mengetahui bahwa Heita ternyata memiliki tujuan sendiri sehubungan dengan hal itu. Namun, seperti yang saya bilang, tidak ada karakter yang benar-benar jahat atau benar-benar baik di sini. Semuanya adalah manusia yang memiliki sisi baik dan sisi buruk. Dan tidak hanya Heita saja, ada juga karakter Rika (Kuriyama Chiaki), pacar Heita yang tengah putus asa karena suatu hal. Melalui dua karakter ini kita bisa melihat bahwa keputusasaan bisa membuat orang memiliki niat buruk terhadap orang lain. Namun, pertanyaannya adalah, apakah mereka sanggup melaksanakan niat buruk tersebut?  Selain dua karakter itu, ada berbagai macam karakter lain yang turut memberi warna pada dorama ini. Seperti karakter Yoimachi Shinobu, seorang idol yang turut membuat 11 hari terakhir Kita Yoshio menjadi semakin menarik sekaligus menegangkan (dan akting Yoshitaka Yuriko sebagai Shinobu sangat mencuri perhatian di sini, saya heran kenapa di poster doramanya karakter ini gak ada); karakter Mizuho yang penuh misteri; karakter Moriwaki (Kaname Jun) yang jalan pikirannya tidak pernah bisa ditebak; dan karakter Sugimoto yang menjadi bumbu komedik dalam dorama ini. Dan semua aktor dan aktris dalam dorama ini berhasil memerankan perannya masing-masing dengan baik.

Selain karakter-karakter di atas, jangan dilupakan karakter utamanya, yaitu Kita Yoshio yang diperankan dengan sangat baik oleh Kohinata Fumiyo. Para penggemar dorama Jepang pasti tidak asing dengan wajahnya karena ia selalu ada di hampir semua dorama yang pernah saya tonton (mungkin ini lebay, tapi dia emang hampir selalu ada di dorama apapun, sama halnya dengan Nukumizu Youichi yang juga muncul di dorama ini sebagai bintang tamu). Namun, berapa kah yang mengingat namanya? Ya, meskipun penggemar dorama akan mengingat wajahnya tapi mungkin hanya ada sedikit sekali yang mengingat namanya karena ia memang lebih sering memerankan karakter-karakter pembantu (atau sekadar pelengkap) di banyak dorama.  Di Ashita no Kita Yoshio, ia mendapat kesempatan untuk menunjukkan aktingnya sebagai pemeran utama. Karakternya sendiri  di sini sebenarnya adalah karakter yang umum ia perankan di dorama lain, yaitu karakter pria setengah baya yang saking baiknya jadi gampang dimanfaatkan orang lain (dan Kohinata Fumiyo itu emang punya muka orang baik yang bisa bikin orang kasian).  Namun, bukan berarti Kohinata Fumiyo hanya mampu memerankan karakter semacam itu saja. Di dorama ini, kita juga akan dipertemukan pada karakter Negative Yoshio, yaitu kepribadian lain dari Kita Yoshio yang merupakan sisi negatifnya. Kohinata Fumiyo sangat berhasil memerankan sosok itu, dan hal itu juga membuktikan bahwa aktor satu ini tidak cuma berbakat dalam memerankan satu jenis karakter saja.

Well, secara keseluruhan saya sangat menyukai dorama ini. Beberapa orang bilang kalau dorama ini alurnya agak lambat dan membosankan, tapi saya merasa baik-baik saja dengan alurnya tersebut dan hal itu menurut saya malah memperkuat perkembangan yang ada dalam ceritanya. Dan saya juga tidak pernah merasa kebosanan ketika menontonnya karena kejutan-kejutannya selalu membuat saya merasa penasaran mengenai kelanjutan hidup Kita Yoshio selanjutnya. Tambahan, dorama ini juga memiliki soundtrack yang sangat bagus dan sangat pas ditempatkan di dorama ini (dan saya suka sekali lagu Mayonaka no Boon Boon yang jadi theme song-nya). Jadi, 4 bintang deh 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Jika ada orang yang sangat menyukai makan siang lebih dari apapun, orang itu pastilah Mugita Natsumi (Takeuchi Yuko). Natsumi sangaaat menyukai makan siang. Baginya, makan siang adalah hal utama yang membuat dirinya bersemangat. Pada suatu hari, di saat ia sedang menyantap makan siangnya di suatu restoran, seorang pria tak dikenal menariknya keluar dan membawanya ke suatu tempat. Pria yang ternyata pelanggan di coffee shop tempat Natsumi bekerja itu mengatakan bahwa ayahnya saat ini sedang sakit. Dan ia yang sudah dua tahun tidak berhubungan dengan ayah serta keluarganya itu ingin pulang dan membangun kembali hubungannya dengan keluarganya. Oleh karena itu, pria itu meminta Natsumi untuk pura-pura menjadi tunangannya, karena ia butuh alasan agar bisa pulang. Awalnya, Natsumi menolak mentah-mentah permintaan pria aneh tersebut. Namun, dengan iming-iming berupa “the best Omurice in all of Japan” (makanan kesukaan Natsumi), Natsumi pun menuruti permintaan pria bernama Kenichiro (Tsutsumi Shinichi) tersebut. Mereka berdua pun pergi ke rumah keluarga Kenichiro yang ternyata merupakan restoran bernama “Kitchen Macaroni”.

Namun, kedatangan Kenichiro rupanya tidak disambut baik oleh keluarganya. Ternyata, dua tahun yang lalu Kenichiro kabur dari rumah dengan membawa uang 5 juta yen yang merupakan penghasilan dari restoran tersebut. Natsumi pun berusaha membela Kenichiro. Namun, setelah pembelaan yang ia lakukan, nyatanya Kenichiro malah kabur lagi setelah mencuri uang dari kasir restoran. Natsumi jadi merasa bersalah karena mau-maunya dimanfaatkan oleh Kenichiro. Di sisi lain, ia juga jatuh cinta pada Kitchen Macaroni (sebelumnya Natsumi sempat mencoba dan langsung jatuh cinta pada Omurice buatan restoran itu). Oleh karena itu, keesokkan harinya Natsumi datang lagi ke Kitchen Macaroni, dan meminta untuk diizinkan tinggal dan bekerja di tempat itu sambil menunggu Kenichiro kembali. Permintaan tersebut pada awalnya ditentang oleh orang-orang di restoran tersebut (btw, Kitchen Macaroni ini adalah restoran  yang dikelola ayah Kenichiro beserta anak-anaknya *adik-adik Kenichiro* dan sudah berdiri sejak 30 tahun yang lalu). Namun, setelah beberapa hal terjadi, akhirnya Natsumi diizinkan juga tinggal bersama mereka di situ. Dan yang menarik adalah, setelah beberapa lama Natsumi tinggal dan bekerja di situ, satu persatu adik dari Kenichiro diceritakan mulai jatuh cinta pada Natsumi. Btw adik-adik Kenichiro ini adalah (1) Yujiro (Eguchi Yosuke) si anak kedua yang keras kepala dan pada awalnya sangat menentang ide Natsumi untuk tinggal bersama mereka, (2) Junzaburo (Tsumabuki Satoshi), anak ketiga yang polos dan selalu membela Natsumi, dan terakhir (3) Koshiro (Yamashita Tomohisa), si bungsu yang masih sekolah dan kecil-kecil sudah playboy. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya pada Natsumi? Apakah dia akan jatuh cinta pada salah satu dari mereka? Apakah rahasianya sebagai tunangan palsu Kenichiro suatu saat akan terbongkar? Tonton aja deh.

Ide cerita tentang satu cewek dikelilingi pria-pria tampan memang umum ditemukan pada dorama atau manga Jepang (contoh lain: Hanakimi, Atashinchi no Danshi, Hana Yori Dango). Meskipun begitu, cerita seperti ini menurut saya tetap menarik untuk ditonton karena selalu ditampilkan dengan kemasan yang menarik dan menghibur. Lunch Queen (judul asli: Lunch no Joou) adalah salah satu dorama dengan tema tersebut yang menjadi favorit saya. Namun, dorama ini bukan tipe dorama yang cuma menjual cowok ganteng dan kisah cinta saja, tapi juga menjual cerita yang menarik serta akting dan karakteristik yang kuat.

Ya, akting dan karakteristik, itulah yang paling saya suka dari dorama ini. Semua karakter dalam dorama ini menurut saya memiliki karakteristik yang sangat menarik dan gampang disukai. Mulai dari Natsumi si tokoh utama, yang merupakan karakter perempuan yang kuat dan tidak mudah menyerah. Saya suka banget karakter ini, dan menurut saya wajar banget kalo adik-adik Kenichiro pada jatuh cinta sama dia. Dan Takeuchi Yuko sangat berhasil memerankan tokoh ini (oh iya, mbak Yuko ini kayaknya cocok jadi mc acara kuliner, karena tiap adegan dia lagi makan, makanan yg keliatan biasa aja entah kenapa keliatannya kayak enak banget). Karakter-karakter lain seperti karakter adik-adiknya Kenichiro pun tidak kalah menarik. Dan yang paling saya suka adalah, karakter-karakter pria di dorama ini adalah tipe karakter yang akan sering kita temui di dunia nyata. Biasanya kan di dorama ikemen macam gini, karakter cowoknya sering digambarin sempurna dan “menyilaukan”, pokoknya too good to be true lah. Tapi di sini gak kayak gitu, karakternya tetep normal dan sangat manusiawi (yg bikin saya kadang-kadang gak nganggep dorama ini sebagai dorama ikemen). Tapi, meskipun karakter-karakter cowoknya terbilang normal, bukan berarti karakter-karakter cowoknya jadi gak menarik. Saya suka banget sama karakter-karakter cowoknya, terutama karakter Junzaburo yang diperankan dengan sangat baik oleh Tsumabuki Satoshi (yang bikin saya betah banget nonton dorama ini, hehe).  Tapi karakter-karakter lainnya juga pada menarik kok, dan para aktor dalam dorama ini hampir semuanya berhasil memerankan perannya masing-masing dengan baik, mulai dari Eguchi Yosuke, Tsutsumi Shinichi, Yamada Takayuki, Morita Go, sampai Ito Misaki. Paling cuma Yamapi alias Yamashita Tomohisa yang agak kurang aktingnya karena ekspresinya yang selalu datar, tapi gak sampai mengganggu keseluruhan dorama ini kok. Btw, di sini juga ada Eita loooh, jadi peran kecil yang setiap episode munculnya gak sampe lima menit sih, tapi tentu saja saya harus mencantumkan namanya pada review ini *halah*.

Selain karakter, dorama ini juga memiliki cerita yang sangat menarik. Ceritanya sebenernya sederhana, tapi untungnya berhasil digarap dengan baik sehingga dorama ini menjadi sangat asik ditonton dan tidak membosankan. Selain itu, saya juga suka sama unsur komedinya, yang meskipun bukan tipe komedi yang bisa bikin saya tertawa terbahak-bahak, tapi lumayan bisa bikin saya nyengir-nyengir unyu. Untuk kisah cintanya, saya pun sukaaaa banget. Saya sangat suka interaksi Natsumi dengan karakter cowok-cowok di dorama ini, terutama interaksinya dengan Junzaburo, yang bikin saya gemes banget. Tapi seperti yang saya bilang, kisah cinta sepertinya bukanlah jualan utama dorama ini, karena sampai akhir kisah cintanya tetap digambarkan menggantung. Dorama ini lebih ingin menunjukkan bagaimana makanan bisa menimbulkan kebahagiaan dan harapan pada diri orang lain, yang dalam hal ini tidak hanya ditunjukkan melalui tokoh Natsumi serta Junzaburo dan saudara-saudaranya saja, tapi juga melalui karakter-karakter pelanggan di restoran itu. Dan buat yang suka dorama bertemakan makanan, pasti suka banget dorama ini (dan gak mungkin gak ngiler abis nonton dorama ini). Oh iya melalui dorama berjumlah 12 episode ini saya jadi menyimpulkan bahwa orang Jepang itu kayaknya sangat menghargai makanan ya. Coba deh Indonesia, bikin film/sinetron tentang makanan gitu kek. Kita kan punya berbagai macam makanan yang beraneka rupa, dan menurut saya bakal menarik kalo dijadiin tema film/sinetron.

Overall, Lunch Queen adalah dorama yang sangat menarik dan menghibur. Segala unsur yang ada di dorama ini berhasil ditampilkan dengan baik, dan yang pasti dorama ini adalah tipe dorama yang akan sering saya tonton ulang. Ja, 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Ada pepatah yang mengatakan bahwa seorang anak tidak bisa memilih siapa yang akan menjadi orang tuanya ketika ia dilahirkan. Lalu, apakah pepatah ini bisa berlaku untuk kebalikannya? Kalau tahu apa yang akan terjadi nantinya, mungkin saja Eva Khatchadourian (Tilda Swinton) akan memilih untuk tidak melahirkan Kevin (Ezra Miller), atau bahkan memilih untuk melahirkan anak yang lain saja, yang penting bukan Kevin. Kevin memang bukan anak laki-laki yang normal seperti anak-anak yang biasanya. Ia lahir seolah-olah dengan tujuan untuk membuat hidup ibunya hancur. Padahal, Eva rela meninggalkan hal yang ia cintai (seperti kecintaannya terhadap travelling) demi membesarkan Kevin. Namun, sebesar apapun usahanya untuk membesarkan atau mendekatkan dirinya dengan Kevin, selalu saja ada jarak di antara mereka.

We Need to Talk About Kevin berjalan dengan alur non-linear. Film ini dibuka dengan adegan Eva yang sedang bersenang-senang mengikuti pesta tomat di Spanyol. Dapat ditebak bahwa ini adalah kejadian ketika Kevin belum lahir ke dunia. Eva terlihat sebagai perempuan yang bebas dan seolah tanpa beban. Adegan selanjutnya berganti dengan kehidupan Eva di masa kini, di mana ketika ia baru keluar dari rumahnya, ia mendapati dinding rumahnya telah berlumuran cat merah. Lalu, adegan-adegan selanjutnya seperti memperlihatkan bahwa Eva adalah perempuan yang dibenci seluruh umat. Adegan-adegan berikutnya kemudian secara bergantian memperlihatkan kehidupan Eva di masa kini dan kehidupan Eva pada saat sebelum dan sesudah melahirkan Kevin (mulai dari saat ia masih bayi sampai remaja). Sedikit demi sedikit, dengan mudah kita bisa menebak bahwa perlakuan buruk orang-orang terhadap Eva pasti berhubungan dengan hal yang telah dilakukan Kevin.

Kevin sendiri sejak lahir sudah digambarkan sebagai anak yang aneh. Ketika ia bayi ia tidak pernah berhenti menangis. Ketika ia masih balita, ia tidak pernah menanggapi ketika Eva mengajaknya bermain (sehingga awalnya ia sempat dikira menderita autisme). Pokoknya, segala hal yang dilakukan Kevin seolah-olah bertujuan untuk merenggut kebahagiaan ibunya. Ia juga tampak seperti manusia bermuka dua, karena ia selalu bertingkah manis di depan sang ayah, Franklin (John C. Reilly), sementara dengan ibunya, ia terlihat seperti sangat membencinya. Apalagi ketika Celia (anak kedua Eva) lahir. Berbeda dengan Kevin yang introvert, Celia adalah anak yang manis dan ceria, sehingga kasih sayang Eva pada Celia tampak berbeda dengan kasih sayangnya pada Kevin, yang mengakibatkan kecemburuan muncul di hati Kevin. Puncaknya adalah ketika Kevin melakukan suatu hal besar yang sulit dimaafkan, yang membuat hidup Eva tidak akan pernah berjalan normal lagi seperti dulu.

Menonton We Need to Talk About Kevin membuat saya merasa ngeri sendiri dan membayangkan bagaimana nantinya jika suatu saat saya punya anak (#eaa). Ya, menonton film ini mungkin akan membuat penontonnya merasa takut untuk punya anak, takut bahwa mereka tidak cukup baik dalam membesarkan anak mereka, dan takut mengalami hal yang sama dengan Eva. Film garapan sutradara Lynne Ramsay ini memang menunjukkan bahwa membesarkan anak itu bukanlah hal yang mudah. Dan ini bukan tentang perkara cara membesarkan anak saja, karena cara Eva membesarkan Kevin saya rasa adalah cara yang wajar dilakukan para orang tua. Namun, kita dapat melihat bahwa meskipun Eva sudah berusaha keras dalam membesarkan anaknya, dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia juga menganggap Kevin sebagai sebuah beban. Apalagi, kehamilannya akan Kevin adalah suatu hal yang di luar rencana. Dan meskipun masih kecil, mungkin Kevin bisa merasakan hal itu, sehingga perlakuannya pada ibunya seakan-akan dilakukan supaya beban yang dipanggul Eva semakin bertambah.

Yang paling saya kagumi dari film ini adalah bagaimana film ini berhasil menghadirkan sebuah drama thriller yang mencekam tanpa harus memperlihatkan adegan kekerasan. Meskipun hal yang dilakukan Kevin masih berhubungan dengan kekerasan, namun kekerasan tersebut tidak ditampilkan dan seolah-olah diserahkan pada bayangan penonton saja. Namun, dengan melihat ekspresi Kevin saja, kita sudah bisa merasakan terror yang sebenarnya terjadi. Terror yang lain ditunjukkan melalui cat merah yang melumuri dinding rumah Eva, yang menunjukkan bahwa warna tersebut bisa tetap terlihat menakutkan meskipun tidak diperlihatkan melalui darah (dan bagian pesta tomat itu, meskipun kelihatannya menyenangkan bagi Eva, buat saya keliatannya rada serem karena warnanya kayak darah). Alurnya yang maju mundur tak beraturan pun membuat film ini menjadi semakin menarik. Meskipun film ini bukan tipe film yang mengandung twist mengejutkan seperti di kebanyakan film beralur non-linear (karena dari awal ceritanya sudah cukup tertebak), tapi kita tetap dibuat ingin tahu mengenai seperti apa sih karakter Kevin itu.

Para pemain dalam film ini menurut saya berhasil menjadikan film ini terasa semakin mencekam. Tilda Swinton dengan ekspresi suramnya berhasil memerankan karakter ibu yang seolah tidak pernah bisa merasa bahagia lagi sejak anaknya lahir. Ezra Miller sebagai Kevin pun sangat bagus aktingnya. Dari cara ia bergerak dan menatap saja, sudah terlihat bahwa karakter ini memiliki masalah yang berhubungan dengan kejiwaannya (oh iya, dua aktor cilik yang memerankan Kevin balita dan Kevin kecil juga tidak kalah bagus aktingnya). Yang aktingnya saya rasa agak-agak kurang di sini menurut saya John C. Reilly yang memerankan Franklin, suami Eva sekaligus ayah Kevin.  Aktingnya tidak buruk sih, tapi saya ngerasa kurang sreg aja sama perannya di sini dan rasanya agak aneh melihat dia dipasangkan dengan Tilda Swinton, tapi dimaafkanlah karena fokus utama film ini adalah Eva dan Kevin.

Overall, We Need to Talk About Kevin adalah sebuah film yang menunjukkan betapa kompleksnya kepribadian manusia. Segala hal pasti ada alasannya, namun kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa atas hal yang terjadi dalam film ini. Apakah semuanya semata-mata salah Kevin? Atau salah Eva? Kita akan dibuat untuk merasa tidak yakin akan hal itu, sama seperti yang diungkapkan Kevin pada bagian akhir film ini. Ja, 4 bintang.

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »