Feeds:
Posts
Comments

Archive for July 9th, 2012

Saitou Kazumi dan Saitou Kazuo, nama keluarga serta nama kecil mereka memang mirip, tapi mereka sama sekali tidak memiliki hubungan darah. Mereka berdua berteman ketika mereka masih duduk di bangku TK, bahkan waktu kecil Kazuo (diperankan Morita Naoyuki) pernah berjanji untuk menikahi Kazumi (diperankan Renbutsu Misako) di saat dewasa nanti. Namun sayangnya pertemanan mereka hanya berjalan sangat singkat karena Kazuo kemudian pindah ke kota lain karena pekerjaan ayahnya.

Bertahun-tahun kemudian, di usianya yang kelima belas, Kazuo akhirnya pindah kembali ke kampung halamannya bersama dengan ibunya (kedua orang tuanya baru saja bercerai). Di sekolahnya yang baru, Kazuo ditempatkan di kelas yang sama dengan Kazumi. Kazumi pun langsung mengenali Kazuo begitu cowok itu diperkenalkan di depan kelas (bahkan tanpa malu-malu menceritakan cerita memalukan yang pernah dialami Kazuo waktu kecil ke seisi kelas). Di waktu pulang sekolah, Kazumi mengajak (atau lebih tepatnya memaksa) Kazuo untuk ke rumahnya yang merupakan restoran soba. Setelah kunjungan itu, Kazumi mengajak Kazuo ke Spring of Sabishira, yang merupakan sumber dari air yang digunakan keluarga Kazumi untuk membuat soba. Ketika mereka mau mengambil air dari kolam di  tempat itu, mereka berdua malah terjatuh ke dalam kolam tersebut. Setelah mereka berdua berhasil keluar dari kolam tersebut, Kazuo langsung pulang duluan ke rumahnya tanpa menyadari ada yang aneh pada dirinya. Dan begitu ia bercermin di rumahnya, ia akhirnya menyadari bahwa tubuh yang ia tempati adalah tubuh Kazumi. Kazuo pun langsung mencari Kazumi ke rumahnya, dan hal yang sama juga terjadi pada Kazumi yang sekarang menempati tubuhnya. Setelah berbagai macam keributan, mereka pun setuju untuk membiarkan dulu keadaan mereka saat ini untuk sementara. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Kazumi dan Kazuo akan berhasil kembali ke tubuh mereka masing-masing? Apalagi, pada suatu hari kejadian tak terduga menimpa Kazuo yang masih berada di tubuh Kazumi…

Switching – Goodbye Me (judul aslinya “Tenkousei: Sayonara Anata” yang punya arti harfiah “Murid Pindahan, Selamat Tinggal Kamu”) adalah sebuah film yang disutradarai oleh Obayashi Nobuhiko ( sutradara dari film horror menakjubkan Hausu dan Toki o Kakeru Shojo/The Girl who Leapt Through Time versi jadul). Film ini diangkat dari novel yang ditulis oleh Yamanaka Hisashi dan juga merupakan remake dari film rilisan tahun 1982 berjudul “I Are You, You Am Me” yang disutradarai oleh Obayashi Nobuhiko juga. Ya, baru kali ini saya mendengar ada sutradara yang meremake filmnya sendiri. Saya sendiri belum menonton versi originalnya yang memiliki rentang waktu 25 tahun dengan versi yang ini, tapi saya saaaaangat menyukai versi filmnya yang ini. Ide cerita film ini sendiri, yaitu tentang cewek dan cowok yang bertukar tubuh, memang tidak original dan rasanya sudah sering diangkat menjadi tema dari banyak film. Namun biarpun begitu, film dengan ide seperti itu menurut saya tetap menarik untuk ditonton karena biasanya selalu menawarkan adegan-adegan yang lucu dan menghibur. Begitu juga dengan film ini. Banyak kejadian lucu yang ditimbulkan setelah Kazumi dan Kazuo bertukar tubuh secara tidak sengaja, dan adegan-adegan tersebut lumayan bikin saya nyengar-nyengir sendiri. Film ini sendiri cukup ringan dan gampang dimengerti penontonnya. Namun, biar begitu film ini bukan sekadar film komedi yang fungsinya cuma bikin penontonnya ketawa. Film ini ternyata juga memiliki muatan yang cukup ‘dalem’ dan bikin penontonnya mikir, terutama tentang manusia, cinta, keluarga, pengorbanan, pendewasaan, kelahiran, sampai kematian.

Tidak seperti film Jepang kebanyakan yang biasanya bertempo lambat, film ini memiliki tempo yang cukup cepat sehingga durasinya yang hampir dua jam menjadi tidak terasa sama sekali. Di satu jam pertama, film ini tampak seperti film komedi yang ringan nan menyenangkan, tapi di satu jam terakhir filmnya berubah menjadi dramatis dan melankolis. Dan yang saya suka adalah perubahan tersebut diperlihatkan dengan sangat halus dan gak maksa. Well, saya gak mau spoiler tapi dari judulnya mungkin sudah ketebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang jelas, film ini adalah tipe film yang akan membuat kamu tertawa-tawa di awal-awal dan kemudian berakhir dengan air mata di wajah ketika film ini selesai (ya, saya nangis di beberapa adegan terakhir). Dan seperti yang saya bilang sebelumnya, film ini memiliki makna yang cukup dalem tentang manusia dan kehidupan, seperti bagaimana seseorang kadang-kadang harus menjadi orang lain dulu sebelum bisa benar-benar menjadi dirinya sendiri, atau bagaimana seseorang baru bisa memerhatikan dirinya sendiri ketika berada di tubuh orang lain, dan juga tentang pengorbanan terhadap orang yang dicintai.

Selain hal-hal di atas, akting juga merupakan salah satu kekuatan film ini. Saya sangat menyukai akting Renbutsu Misako di sini, mulai dari ketika ia masih menjadi Kazumi sampai ketika ia menjadi Kazuo. Morita Naoyuki sebagai Kazuo juga berakting baik di sini, dan ia juga berhasil memerankan sosok perempuan yang terjebak di tubuh laki-laki dengan baik. Namun sayangnya kepribadian Kazumi yang sebelumnya digambarkan sebagai seseorang yang memiliki imajinasi liar menjadi tidak terlihat ketika ia berada di tubuh Kazuo. Pemeran-pemeran lainnya, seperti pemeran ibu Kazuo serta keluarga Kazumi juga berhasil memerankan peran mereka masing-masing dan turut menghidupkan film ini. Begitu juga dengan aktor dan aktris yang berperan sebagai Hiroshi dan Akemi yang merupakan pacar (dan mantan pacar) dari Kazumi dan Kazuo yang menampilkan penampilan yang bisa diterima meskipun tidak spesial. Selain akting, sinematografi juga menjadi salah satu kelebihan dari film ini. Sinematografinya indah dan juga sedikit unik karena gambar-gambar di film ini banyak diambil dari angle yang sedikit miring (tapi masih enak dilihat dan gak bikin pusing kok). Selain itu saya juga menangkap kesan agak jadul dari sinematografi (yang didominasi warna kekuningan) serta suasana-suasana di film ini (well gimana ya menjelaskannya, yang jelas nuansanya  mengingatkan saya pada nuansa jadul di film-film Obayashi sebelumnya yang saya sebutkan di atas). Film ini juga memiliki musik yang bagus dan turut memperkuat film ini,

Secara keseluruhan, menurut saya film ini recommended. Cocok ditonton oleh penyuka film-film yang manis sekaligus pahit (atau bittersweet gitu deh istilah enggresnya). Dan yang jelas ini adalah tipe film yang akan sering saya tonton berulang kali. 4 bintang deh 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »