Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2012

Setiap orang pasti memiliki impian untuk menjadi orang yang istimewa, tidak biasa, dan berbeda dari orang lainnya. Tapi tidak dengan cowok berusia 14 tahun bernama Sumida Yuichi (Sometani Shota). Satu-satunya impian Sumida adalah menjadi orang biasa dan menjalani hidup yang biasa. Bukan hidup yang bahagia, tapi juga bukan hidup yang tidak bahagia. I want to live quietly like a mole, itulah mimpi Sumida. Tapi takdir berkata lain. Hidupnya tidak akan pernah bisa menjadi biasa. Ia tinggal berdua dengan ibunya. Mereka hidup dari uang hasil usaha penyewaan boat. Sang ayah (Mitsuishi Ken) yang sudah lama berpisah dengan mereka sering datang untuk mengancam dan mengambil uang Sumida. Dan suatu hari, ibunya pun diam-diam pergi meninggalkannya. Bagaimana bisa ia menjalani hidup yang biasa dengan latar belakang seperti itu?

Lalu ada Chazawa Keiko (Nikaido Fumi). Anak orang kaya ini sangat tergila-gila pada Sumida. Ia juga bisa dikatakan sebagai stalkernya Sumida, selalu memperhatikan Sumida dan bahkan mengkoleksi kata-kata yang pernah diucapkan cowok itu. Ia juga punya impian sederhana, yaitu hidup dengan laki-laki yang ia cintai, saling melindungi satu sama lain, dan kemudian meninggal dengan senyuman. Tapi Keiko juga punya latar belakang keluarga yang suram. Apakah suatu saat impiannya akan terkabul?

Suatu hari, keinginan Sumida untuk hidup dengan biasa tampaknya tidak akan pernah terwujud lagi. Ia melakukan suatu tindakan kriminal yang berhubungan dengan ayahnya. Sejak saat itu, Sumida bertekad untuk melakukan suatu kebaikan terhadap masyarakat, yaitu dengan ‘membasmi’ orang-orang yang selalu menimbulkan kesulitan bagi orang lain. Apa yang akan terjadi selanjutnya pada Sumida? Mampukah ia melakukan hal tersebut?

Film berjudul Himizu yang disutradarai Sono Sion (Love Exposure, Suicide Club) ini merupakan film yang diangkat dari manga berjudul sama karya Furuya Minoru. Film ini sendiri cukup banyak memiliki perbedaan dengan manganya, salah satunya adalah latar waktu di filmnya yang disesuaikan dengan keadaan saat ini, tepatnya pada peristiwa setelah bencana tsunami di Jepang tahun 2011 lalu. Oleh karena itu, film ini juga bisa dilihat dari sudut pandang bencana tersebut, yaitu bagaimana dampak tsunami terhadap kondisi sosial dan psikologis masyarakat Jepang saat itu (selain tokoh Sumida, kita juga akan diperkenalkan pada karakter orang-orang yang menumpang tinggal di tanah milik Sumida, orang-orang yang kehilangan rumahnya akibat tsunami).

Mengenai film ini sendiri, saya sendiri rada susah untuk menggambarkan apa kelebihan atau kekurangan dari film ini, apakah ini film yang bagus atau bukan, atau semacamnya. Film ini memang tidak sebagus film-film Sono Sion yang sebelumnya, dan juga mungkin akan mengecewakan bagi sebagian orang. Tapi yang jelas, film ini berhasil membuat saya merasa terbawa ke dalam ceritanya. Film ini sendiri dapat dimasukkan ke kategori “film depressing”. Tapi depressing di sini adalah depressing yang enak diikuti, bukan tipe depressing yang bikin kamu merasa gak kuat dan gak mau lanjut nonton lagi. Ini adalah jenis film depressing yang bisa saya tonton berulang kali. Film ini juga berhasil membuat saya tertarik dan peduli terhadap tokoh-tokoh di dalamnya. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh akting yang cemerlang dari kedua pemeran utamanya, yaitu Sometani Shota dan Nikaido Fumi (yang sama-sama mendapat penghargaan “Marcello Mastroianni Award” di Venice Film Festival berkat akting mereka di film ini). Sulit rasanya membayangkan ada aktor/aktris muda yang bisa memerankan tokoh Sumida & Keiko sebaik mereka. Pemeran-pemeran lainnya yang kebanyakan sudah pernah bermain di film-film garapan Sono Sion pun turut menampilkan akting yang bagus dan memperkuat film ini.

Meskipun diangkat dari manga, film ini sendiri tetap tidak kehilangan ciri khas Sono Sion. Penggunaan narasi (meskipun sedikit), penggunaan puisi, penggunaan musik klasik, dan kekerasan (tapi kadarnya masih rendah kok), semuanya ada di sini. Film ini juga memiliki kemiripan dengan beberapa film Sono Sion sebelumnya yang selalu bercerita tentang ‘perjalanan’ psikologis manusia yang dipengaruhi oleh suatu hal (bisa tragedi, ataupun hal-hal lainnya). Jadi, untuk penggemar Sono Sion, film ini tentunya adalah film yang tidak boleh dilewatkan.

Well, secara keseluruhan saya sangat menyukai film ini. Ini adalah film yang depressing. Tapi film ini juga menunjukkan bahwa meskipun dunia seolah bertindak tidak adil terhadap kita dan kejahatan akan selalu ada, kita tetap boleh memiliki harapan. Yeah, film ini memiliki pesan yang sangat simpel dan digambarkan dengan sangat jelas (tapi tidak sampai merusak esensi filmnya), yaitu “jangan menyerah, dan bermimpilah”. Oke, 4 bintang deh untuk film ini 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

1. Fine, Totally Fine (Japan, 2008)

Seperti yang pernah saya bilang di review Flipped, hal paling menyenangkan ketika menonton film adalah ketika kita tidak menyimpan ekspektasi apa-apa terhadap film tersebut dan ternyata film tersebut berhasil memuaskan kita. Perasaan itu kembali saya rasakan ketika menonton film Fine, Totally Fine yang merupakan debut penyutradaraan dari Fujita Yosuke. Menonton film ini tanpa mengetahui informasi apapun (kecuali pemainnya) dan film ini sukses mengejutkan saya dengan keunikan dan kesederhanaan yang dimilikinya. Film ini sendiri bercerita tentang kisah cinta segitiga yang sangat unik (dan sebenarnya tidak sekadar tentang cinta segitiga). Teruo (Arakawa YosiYosi), si penggemar segala hal tentang horror yang terobsesi ingin membuat rumah hantu yang hebat dan teman sejak kecilnya Hisanobu (Okada Yoshinori), seorang manager rumah sakit yang baik hati dan tidak pernah tega menolak permintaan orang lain sama-sama jatuh cinta pada Akari (Kimura Yoshino), seorang perempuan yang cantik tapi pemalu dan sangat ceroboh. Premis yang super simpel, tapi dieksekusi menjadi sangat unik dan manis. Letak keunikannya tentu saja ada pada unsur komedinya yang benar-benar lucu, meskipun lucu di sini bukanlah tipe lucu untuk semua orang terutama yang tidak terbiasa dengan film komedi khas Jepang. Dan yang saya kagumi dari film ini (dan kebanyakan film Jepang yang lain) adalah segala keunikan dan keanehan tersebut ditempatkan pada latar kehidupan sehari-hari, sehingga meskipun terlihat aneh film ini tetap bisa terlihat sederhana dan membumi. Dan humor-humor yang ada di film ini dihadirkan pada suasana yang tenang dan tidak lebay. Secara keseluruhan, jika kamu menyukai film-film komedi ala Miki Satoshi (Adrift in Tokyo) atau Ishii Katsuhito (The Taste of Tea), mungkin kamu akan menyukai film ini juga karena gaya komedinya cenderung mirip. Yang jelas saya sangat menantikan film-film yang akan disutradarai Fujita Yosuke selanjutnya. Recommended. 4/5

2. Love Me If You Dare (France, 2003)

Film komedi romantis dari Prancis, dibintangi Marion Cotillard dan Guillaume Canet. Bercerita tentang seorang perempuan dan laki-laki yang bersahabat sejak kecil dan sebenarnya saling menyimpan perasaan cinta yang belum mereka disadari. Julien dan Sophie (kedua sahabat tersebut) memiliki sebuah permainan yang mereka mainkan sejak kecil, di mana pada permainan tersebut mereka saling memberikan tantangan yang berbeda-beda kepada satu sama lain. Dan ketika dewasa, permainan tersebut terus berlanjut. Sampai di suatu hari Sophie menantang Julien untuk menciumnya, semuanya berubah. Apakah hal tersebut semata-mata hanya permainan bagi Julien? Bagaimana sebenarnya perasaannya yang sebenarnya terhadap Sophie? Somehow, ini adalah film yang ketika selesai menontonnya saya sulit menentukan apakah saya suka atau tidak terhadap filmnya. Kisah romance antara Julien dan Sophie itu saya akui manis dan unik. Tapi di sisi lain saya merasa permainan yang mereka lakukan itu sudah sampai taraf keterlaluan. Saya juga merasa kasihan terhadap orang-orang di sekeliling mereka, yang terkena imbas dari permainan yang mereka lakukan (mungkin film ini menganut peribahasa “ketika dua orang jatuh cinta, dunia serasa milik berdua, yang lain cuma ngontrak” kali ya). Dan jika saya menemukan dua orang yang seperti Julien dan Sophie di dunia nyata, saya pasti bakalan benci banget mereka berdua, hehe. Tapi di luar semua itu, film ini lumayan menarik dan menghibur meskipun kisahnya kurang believable untuk terjadi di dunia nyata. Cocok ditonton penyuka film romance yang unik dan tidak biasa. 3/5

3. The Woodsman and the Rain (Japan, 2011)

Percayakah kamu pada keajaiban dari proses pembuatan film? Bahkan untuk pembuatan b-movie yang sering dianggap remeh oleh sebagian orang? Meskipun belum pernah melihat proses pembuatan film secara langsung, setelah menonton film ini saya yakin bahwa proses pembuatan film adalah suatu hal yang ajaib dan bisa memengaruhi banyak orang, termasuk bukan penyuka film sekalipun. Koichi (Oguri Shun), seorang sutradara muda yang sangat pemalu, sedang membuat film zombie di sebuah desa. Koichi dan kru-nya tidak sengaja bertemu dengan Katsuhiko (Yakusho Koji), seorang penebang kayu yang sangat jauh dari dunia film dan bahkan tidak pernah mendengar kata “zombie”. Karena tidak begitu mengenali lokasi yang mereka gunakan, Koichi dan kru-nya pun meminta Katsuhiko untuk membantu mereka mencari beberapa lokasi yang bagus di desa tersebut. Tidak hanya itu, mereka pun meminta Katsuhiko untuk berperan sebagai figuran (sebagai salah satu zombie). Katsuhiko yang awalnya tidak begitu tertarik lama-lama jadi antusias dan menjadi sangat bersemangat membantu mereka, bahkan ia pun mengajak warga desa yang lain untuk ikut membantu para kru film tersebut. Hal tersebut juga rupanya memengaruhi diri Koichi dan kepercayaan dirinya sebagai sutradara. Secara keseluruhan, saya sangat menyukai film ini. Film ini begitu heartwarming, dan kecintaan saya pada film menjadi semakin bertambah setelah menonton film ini.  Tidak hanya itu, akting dan chemistry antara Yakusho Koji dan Oguri Shun pun sangat baik dan menambah bagusnya film ini. Film ini juga banyak mengandung momen-momen lucu, terutama di adegan-adegan ketika Katsuhiko membantu para kru film. Well, film ini cocok ditonton bagi pecinta film pada umumnya, terutama yang percaya pada keajaiban dari proses pembuatan film. 4/5

Read Full Post »

Setelah bertahun-tahun menonton film dan dorama Jepang, tahun ini saya mencoba untuk menonton dua jenis tontonan lain yang berasal dari negeri sakura itu. Apa itu? Well, masih dalam lingkup dorama sih tapi cuma beda format aja. Yak, dua jenis tontonan itu adalah taiga drama dan asadora  yang keduanya sama-sama ditayangkan di channel NHK. Untuk taiga drama saya memilih drama Atsu-Hime, sedangkan untuk asadora saya memilih drama Carnation. Di postingan kali ini saya mencoba untuk mereview Carnation dulu ya (review Atsu-Hime menyusul).

Sebelum memulai reviewnya, mari saya jelaskan dulu apa maksud dari Asadora. Asadora alias “drama pagi” adalah dorama yang ditayangkan setiap pagi selama enam hari dalam seminggu, dengan jumlah episode mencapai 150-an episode. Wah, banyak amat kayak sinetron! Tenang tenang, meskipun jumlah episodenya ratusan, setiap episode dari asadora hanya memiliki durasi 15 menit saja. Jadi asadora tidak akan menyiksa batin kamu seperti yang biasa sinetron lakukan. Biasanya asadora bercerita tentang apa sih? Asadora biasanya bercerita tentang perjalanan hidup seseorang (biasanya wanita) dari sejak kecil sampai tua (dan meninggal). Mungkin masyarakat Indonesia yang sudah pada berumur tidak asing dengan drama Jepang berjudul “OSHIN”. Nah, itu adalah salah satu contoh dari asadora. Intinya, asadora adalah drama seri yang bercerita tentang perjalanan hidup seorang wanita yang menginspirasi.

Carnation merupakan kisah fiksi yang terinspirasi dari perjalanan hidup Koshino Ayako, seorang desainer terkenal yang merupakan ibu dari Koshino sisters (Koshino Hiroko, Koshino Junko, Koshino Michiko), tiga orang desainer terkenal Jepang yang karirnya sudah mendunia. Pada tahun 2006 lalu, Koshino Ayako menghembuskan napas terakhirnya di usia ke-92. Dan di tahun 2011 lalu, Asadora yang dibuat berdasarkan kisah hidupnya telah ditayangkan. Tokoh utama yang sosoknya terinspirasi dari Koshino Ayako ini punya nama Ohara Itoko, diperankan oleh aktris Ono Machiko.

Cerita dari asadora berjumlah 151 episode ini dimulai pada era Taisho, tepatnya pada tahun 1924, bertempat di daerah Kishiwada, Osaka. Ohara Itoko yang saat itu masih berusia 11 tahun adalah seorang anak dari pedagang kimono bernama Ohara Zensaku (Kobayashi Kaoru). Itoko sangat menyukai festival Danjiri, sebuah festival tahunan yang menjadi kebanggaan warga Kishiwada, dan punya cita-cita ingin menjadi Carpenter (orang yang mengendarai Danjiri). Namun, ia diberitahu bahwa perempuan tidak mungkin bisa mengendarai Danjiri. Suatu hari, cita-citanya sebagai Carpenter teralihkan ketika ia melihat sebuah pesta di kediaman kakeknya di Kobe. Itoko terkagum-kagum melihat pakaian yang dikenakan orang-orang (yang merupakan orang-orang barat) di pesta tersebut yang sangat berbeda dengan kimono yang ia kenakan. Itoko akhirnya mengetahui bahwa pakaian yang dikenakan orang-orang barat itu memiliki nama “dress”. Dan sejak saat itu Itoko bercita-cita ingin membuat pakaian ala barat. Ketika menginjak usia remaja, secara tidak sengaja Itoko melihat sebuah benda aneh yang kemudian diketahuinya sebagai “mesin jahit” di sebuah toko. Dan sejak saat itu Itoko memutuskan mesin jahit sebagai Danjiri yang bisa ia kendarai.

Dalam usahanya untuk memperjuangkan cita-citanya sebagai pembuat pakaian ala barat, Itoko kemudian memutuskan untuk keluar dari sekolahnya dan bekerja di toko yang menyimpan mesin jahit yang pertama dilihatnya. Perjuangan Itoko tentunya tidak berhenti sampai di situ. Banyak tantangan yang ditemuinya, mulai dari ayahnya si pedagang kimono tidak laku yang membenci pakaian orang barat, dipecat dari tokonya, sampai masa perang dunia ke 2 yang mengambil banyak nyawa dari orang-orang yang disayanginya. Lalu, apa lagi yang akan terjadi pada Itoko? Apakah ia akan terus membuat pakaian ala barat sepanjang hidupnya? Tonton aja deh 🙂

Pertama-tama saya mau bilang kalo saya cintaaaaa banget sama asadora ini dan gak nyesel karena milih drama ini sebagai asadora pertama yang saya tonton setelah bertahun-tahun absen (asadora pertama yang saya tonton: Suzuran. Pernah ditayangin di TV Lokal). Awalnya saya milih nonton drama ini cuma karena theme songnya yang dibawakan Shiina Ringo, dan gak nyangka kalo drama ini bisa sebegitu menghipnotis saya. Apa yang membuat saya sangat mencintai drama ini dan menganggap drama ini sebagai sebuah masterpiece? Mari kita lihat.

  • Temanya, yaitu tentang perjalanan seorang desainer pakaian ala barat pada masa di mana orang-orang masih banyak yang menggunakan kimono sebagai pakaian sehari-hari (terutama di daerah tempat Itoko tinggal) .

Apalagi Itoko adalah anak seorang pedagang kimono, sehingga cita-citanya tersebut sangat jelas melawan arus. Dan gini-gini juga saya suka banget ngeliat baju-baju bagus, hihi. Yang jelas, saya jatuh cinta sama dress-dress bergaya vintage yang dirancang Itoko (fyi, baju-baju rancangan Itoko yang ditunjukkan di drama ini merupakan baju-baju asli yang dirancang Koshino Ayako). Jadi, jika kamu pecinta fashion (terutama pecinta baju vintage), sangat-sangat disarankan untuk menonton drama ini.

  • Drama ini memiliki jalan cerita dan skenario yang sangat bagus.

Jalan ceritanya enaaaaak banget diikutin. Mulai dari Itoko kecil, remaja, dewasa, sampai tua, gak ada satu bagian pun yang bikin bosen. Banyak sekali kejadian yang dialami Itoko sepanjang hidupnya, dan yang jelas kejadian-kejadian tersebut berhasil membuat saya merasakan berbagai macam perasaan ketika menontonnya. Senyum, tawa, haru, gregetan, sedih, tangis, adalah berbagai macam ekspresi dan perasaan yang saya rasakan ketika menonton drama ini. Well, intinya ini adalah tipe drama yang akan selalu melekat di hati penontonnya. Menonton drama ini rasanya seperti menemukan sebuah keluarga atau sahabat akrab. Kita akan dibuat peduli untuk mengikuti ceritanya, tokoh-tokohnya, dan banyak hal lainnya, sebagaimana kita memedulikan keluarga/sahabat kita. Tidak hanya itu, saya pun dibuat ingin ikut serta, ingin ikut masuk ke dalamnya, dan hidup bersama mereka.

  • Osaka sebagai latar belakangnya.

Latar belakang drama ini adalah kota Osaka (tepatnya di daerah Kishiwada), dan kayaknya ini pertama kalinya saya nonton drama Jepang yang lokasi utamanya bertempat di Osaka. Ada perasaan yang berbeda ketika menonton drama ini dibandingkan dengan drama Jepang dengan latar belakang daerah lain (seperti Tokyo misalnya). Mungkin karena perbedaan dialek ya. Dialek Osaka emang terdengar sangat khas. Dan, orang-orang Osaka itu keliatannya ‘rame’ banget ya. Mungkin kesannya orang-orang Osaka itu kasar dan blak-blakan (karena pengaruh dialek juga kali ya), tapi itu malah yang bikin drama ini jadi menarik, dan karakter-karakternya jadi cepet berasa akrab sama penontonnya. Kalau ada dorama Jepang yang lokasi utamanya  di Osaka selain Carnation, kasih tahu saya ya 😀

  • Karakterisasi dan akting para pemainnya.

(Untuk karakter Itoko, bakal saya omongin di satu bagian tersendiri) Yak, karena episodenya banyak, jadi banyak karakter yang diperkenalkan di drama ini. Mulai dari anggota keluarga Itoko: ayahnya yang galak, ibunya yang ceroboh, neneknya, dan ketiga adik perempuannya. Ada juga keluarga Yasuoka tetangga mereka: Tamae-Obachan, Taizo-niichan, Kansuke, Yaeko-san. Lalu ada Yoshida Natsu (Kuriyama Chiaki), mantan teman sekelas Itoko yang punya hubungan yang sangat aneh dengannya (dibilang sahabat bukan, musuh juga bukan). Tokoh-tokoh lainnya ada teman-teman Zensaku, keluarga ibu Itoko di Kobe, Masa-chan dan para pekerja di tokonya Itoko, dan masih banyak lagi. Itoko sendiri nantinya akan menikah dan berkeluarga. Adalah Masaru-san (Suruga Taro), mantan teman kerjanya yang kemudian menjadi suaminya. Pernikahan mereka membuahkan tiga anak perempuan (Yuko, Naoko, Satoko), yang nantinya akan mengikuti jejak Itoko sebagai desainer. Saya sangat menyukai karakter-karakter yang ada di dorama ini. Tapi yang paling saya suka dari semua tokoh di drama ini (selain Itoko) adalah karakter Suo Ryuichi yang diperankan Ayano Go. Karakter ini baru muncul di episode 80-an, dan kemudian menjadi salah satu orang paling berarti bagi Itoko. Secara keseluruhan, semua pemain di dorama ini semuanya menunjukkan akting yang bagus. Porsi tampilnya pun pas. Bahkan karakter yang munculnya cuma selewat-selewat dan seolah tidak penting seperti Harutaro (Koizumi Kotaro) saja cukup meninggalkan kesan yang kuat.

  • The heroine, Ohara Itoko.

Last but not least, yang membuat drama ini menjadi sangat menarik dan spesial tentu saja tokoh utama kita, Ohara Itoko. Itoko is the heart of this drama. Itoko bukanlah tipe karakter utama Asadora yang klise. Well, masih inget drama Legal High-nya Sakai Masato? Di drama itu tokoh Mayuzumi dipanggil dengan sebutan “Asadora heroine”. Melalui drama itu saya menyimpulkan bahwa asadora heroine itu punya tipikal karakter yang naïf, berhati bersih, pokoknya kayak malaikat lah. Tipe karakter kayak gitu menurut saya sangat membosankan. Dan untungnya Ohara Itoko tidak jatuh pada tipikal karakter seperti itu. Kadang-kadang ia memang bisa keliatan naïf. Tapi ia juga bisa galak, keras kepala, dan seenaknya sendiri (mungkin karena orang Osaka begitu semua kali ya :D). Meskipun begitu, Itoko tetap bisa menjadi karakter yang dicintai oleh penontonnya tanpa harus terlihat suci bak malaikat. Itoko adalah seorang pekerja keras, dan karakter ini menunjukkan bahwa seorang perempuan seperti dia pun bisa berdiri di kakinya sendiri (apalagi dia hidup di era di mana perempuan masih sering dianggap sebelah mata). Selain sebagai wanita yang bekerja, ia juga adalah ibu dan kepala keluarga, dan sukses mendidik ketiga anaknya menjadi para perempuan yang berkarakter. Hmm, mungkin saya membuat Itoko terlihat seperti perempuan super ya? Tapi tidak kok, di balik segala kelebihan dan keunikannya, karakter ini sama sekali tidak digambarkan sebagai karakter yang super sempurna dan masih sangat mungkin ada di dunia nyata. Hal itulah yang membuat saya sangat menyayangi karakter ini.

Sang aktris sendiri, yaitu Ono Machiko sangat berhasil memerankan karakter satu itu. Saya rasa berakting di Asadora bukanlah hal yang mudah. Asadora mencapai 150-an episode dan membuat penonton tertarik untuk mengikuti sampai akhir tentunya adalah pekerjaan sulit, terutama bagi pemeran utamanya. Dan Ono Machiko sangat berhasil membuat karakter Itoko ini menjadi sangat hidup dan memorable. Ia memerankan Itoko sejak Itoko masih berusia belasan tahun sampai 50 tahun-an (Ono Machiko sendiri aslinya berusia 30 tahun). Dan perkembangannya (kepribadian sampai fisik) terlihat sangat believable. Malah saya sampai nangis di episode terakhir Ono Machiko berperan sebagai Itoko (selanjutnya digantikan Natsuki Mari yang memerankan Itoko dari usia 72 tahun). Rasanya gak rela gitu berpisah dengannya. Untungnya Natsuki Mari berhasil melanjutkan peran Itoko ini dengan tidak kalah cemerlangnya di 20 episode terakhir. Kedua aktris ini sendiri masing-masing mendapat penghargaan atas akting mereka sebagai Ohara Itoko (best actress untuk Ono Machiko, special award untuk Natsuki Mari).

Overall, Carnation adalah asadora yang sangat berkesan untuk saya. Saking berkesannya, setelah menonton ini saya jadi merasa hampa dan bengong terus. Rasanya sediiih banget karena harus berpisah dengan drama ini (rasanya seperti kehilangan orang yang disayangi mungkin? :D). Jadi, 5 bintang deh untuk drama ini. Masterpiece 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »