Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2012

Salah satu hal yang saya kagumi dari sineas film/dorama Jepang adalah cara mereka dalam menonjolkan unsur kebudayaan khas Jepang pada karya-karyanya. Kadang, hal tersebut tidak ditonjolkan sebagai sekadar hiasan, tapi juga sebagai tema utamanya. Tiger & Dragon adalah salah satu dorama yang mengangkat kebudayaan/kesenian tradisional Jepang sebagai tema utamanya. Kesenian itu bernama rakugo, sebuah kesenian tradisional yang bergerak di bidang komedi. Penjelasan singkatnya, rakugo itu adalah sebuah kesenian di mana seorang rakugo performer duduk di atas panggung sambil menceritakan cerita lucu dengan dibantu beberapa properti sederhana (penjelasan lebih lanjut baca aja di wikipedia). Dan yang menarik lagi dari dorama ini adalah tema rakugo tersebut dipadukan dengan unsur yang tidak kalah Jepang banget, yaitu yakuza. Hmm… yakuza dan rakugo, apa kaitan dua kata itu? Mari kita mulai reviewnya…

Oh ya, perlu diketahui bahwa Tiger & Dragon ini bermula dari drama spesial satu episode yang tayang dengan jarak waktu yang berdekatan dengan doramanya. Makanya, ada baiknya jika kamu menonton drama spesialnya terlebih dahulu sebelum menonton doramanya untuk mengetahui latar belakang kisahnya. Dorama ini bercerita tentang seorang yakuza bernama Toraji (Nagase Tomoya). Suatu hari, ia ditugaskan untuk menagih hutang kepada seorang pria paruh baya bernama Hayashiyatei “Don-chan” Donbei (Nishida Toshiyuki) yang berprofesi sebagai rakugo performer. Secara tidak sengaja Toraji menonton penampilan rakugo Donbei. Toraji yang jarang sekali tertawa merasa terharu melihat penampilan tersebut, dan ia pun langsung jatuh cinta seketika pada rakugo. Toraji pun memohon kepada Donbei untuk mengajarkan rakugo kepadanya dengan iming-iming uang seratus ribu yen untuk setiap cerita yang diajarkan. Setelah beberapa kejadian, Donbei pun kemudian menjadi guru rakugo Toraji, dan kemudian memberi nama baru kepada Toraji, yaitu “Kotora”. Donbei sendiri memiliki seorang anak laki-laki yang sangat berbakat dalam rakugo. Namun, anaknya yang bernama Ryuji (Okada Junichi) tersebut malah memilih pergi dari rumah untuk mewujudkan cita-citanya sebagai desainer dengan mendirikan sebuah toko baju di Harajuku (yang ngomong-ngomong, baju-baju rancangannya itu norak sekali). Kotora dan Ryuji pun kemudian menjadi sahabat. Lalu, apa yang akan terjadi pada dua orang tersebut? Apakah Kotora bisa menyeimbangkan peranannya sebagai seorang rakugo performer dan yakuza? Dan apakah suatu saat Ryuji akan kembali pada dunia rakugo? Tonton aja deh.

Tiger & Dragon (btw Tiger = tora, Dragon= ryu, so Tiger and Dragon= Kotora & Ryuji :)) adalah salah satu dorama yang ditulis oleh salah satu penulis skenario dorama favorit saya, yaitu Kudo Kankuro (Manhattan Love Story, Kisarazu Cat’s Eye). Salah satu ciri khas Kudo Kankuro adalah ia selalu memasukkan unsur pop culture ke dalam karya-karyanya. Lalu bagaimana jika penulis komedi modern seperti dia mencoba bereksperimen dengan kesenian komedi tradisional seperti rakugo? Jawabannya adalah awesomeness :D. Ya, penulis tersebut berhasil mengemas tema rakugo secara modern tanpa menghilangkan unsur ketradisionalannya. Dorama ini sendiri memiliki pola yang sama di setiap episodenya. Ada satu cerita klasik rakugo yang dipelajari Kotora di setiap episodenya. Dan di setiap episodenya selalu ditampilkan dua buah penampilan berdasarkan satu cerita tersebut. Yang pertama adalah penampilan dengan cerita yang murni sama dengan aslinya. Yang kedua adalah penampilan versi Kotora dengan sumber cerita yang sama tapi dengan latar yang lebih modern dan berdasarkan kejadian yang dialaminya dan tokoh-tokoh lainnya. Salut untuk Kudo Kankuro atas kelihaiannya dalam menghubungkan kejadian yang dialami Kotora dkk ke dalam cerita klasik rakugo. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa cerita klasik dalam rakugo tidak lekang oleh zaman dan sangat mungkin terjadi di kehidupan modern ini.

Untuk komedinya, saya sendiri pada awalnya agak susah nangkep apa yang lucu dari kesenian rakugo itu (dan juga agak susah nangkep apa maksud dari cerita klasik yang ditampilkan). Namun, melalui cerita versi Kotora yang lebih mudah dimengerti, semakin lama saya jadi semakin terbiasa dan mulai tertawa ketika penampilan rakugo di episode-episode selanjutnya ditampilkan. Di luar unsur rakugo-nya, dorama ini banyak mengandung adegan-adegan yang sangat lucu khas Kudo Kankuro, dengan tokoh-tokoh yang kocak dan plot yang penuh kejutan. Yang saya suka lagi adalah dorama ini juga tidak hanya mencoba memperkenalkan rakugo saja, tapi juga kesenian tradisional lainnya seperti manzai di salah satu episodenya (episode 5). Selain itu, kehidupan Kotora sebagai yakuza juga bukan sekadar tempelan dan memiliki peran penting yang akan memengaruhi jalan ceritanya. Begitu juga dengan kehidupan Ryuji sebagai desainer eksentrik yang tidak laku. Selain itu saya juga sangat menyukai cara persahabatan Kotora dan Ryuji digambarkan. Penyuka bromance tentunya harus banget nonton dorama ini. 😀

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dorama ini memiliki banyak karakter yang kocak dan menarik. Dan semua aktor dan aktris dalam dorama ini berhasil memerankan tokoh-tokoh itu dengan baik. Nagase Tomoya memang selalu cocok berperan sebagai seorang yakuza. Begitu juga dengan Okada Junichi yang juga cocok dengan peran Ryuji yang konyol dan tidak jauh-jauh dari perannya di Kisarazu Cat’s Eye. Ito Misaki yang biasanya berakting lemah di dorama lain pun kali ini berakting cukup bagus sebagai cewek playgirl bernama Megumi yang ditaksir habis-habisan oleh Ryuji. Aktor-aktris lainnya seperti Tsukamoto Takashi, Abe Sadao, dan Aoi Yu pun memerankan perannya masing-masing dengan baik dan menambah warna dorama ini. Dari kalangan senior, jangan lupakan Nishida Toshiyuki dan Shoufukutei Tsurube (bos yakuza Kotora) yang berperan sangat baik sebagai dua orang sahabat lama.

Overall, menurut saya Tiger & Dragon adalah salah satu dorama teroriginal dan terunik yang pernah saya tonton. Dorama ini sangat cocok ditonton oleh orang-orang yang tertarik pada rakugo atau penggemar komedi pada umumnya. 4,5 bintang deh untuk dorama ini. Highly recommended!

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »

I love Japanese comedy, terutama komedi yang terdapat dalam film atau dorama asal negara tersebut. Dan jika kita berbicara tentang film komedi Jepang, nama Mitani Koki tentunya tidak boleh luput dari pembicaraan. Siapakah dia? Yeah, dia adalah seorang penulis sekaligus sutradara di balik beberapa film komedi terkenal di Jepang. Tidak hanya film, ia juga menulis/menyutradarai beberapa serial tv dan juga pertunjukkan teater. Meskipun cukup terkenal di Jepang, saya sendiri sebenarnya masih asing dengan karya sutradara ini. Saya cuma pernah menontonnya tiga karyanya, yaitu The Magic Hour, Suteki na Kakushidori, dan karyanya yang paling baru Suteki na Kanashibari/A Ghost of a Chance (sayangnya yang ini agak mengecewakan). Dan baru-baru ini akhirnya saya menemukan salah satu filmnya yang lain yang berjudul Welcome Back, Mr. McDonald (judul asli: Rajio no Jikan). Film ini sendiri adalah debut penyutradaraan dari Mitani Koki setelah sebelumnya lebih sering menyutradarai pertunjukkan teater. Dan setelah menonton film ini, saya rasa sebutan Japan’s Master of Comedy yang sering disematkan pada namanya di banyak artikel bukanlah sesuatu yang berlebihan.

Lalu, bercerita tentang apakah film Welcome Back, Mr. McDonald ini? Cukup sederhana, yaitu tentang proses pembuatan sebuah drama radio. Drama radio tersebut berasal dari naskah yang ditulis Suzuki Miyako (Suzuki Kyoka). Miyako sendiri adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Naskah drama berjudul “Woman of Destiny” itu adalah naskah pertama yang ditulisnya. Dan ia beruntung karena naskah pertamanya tersebut berhasil memenangkan lomba penulisan naskah drama radio yang diadakan sebuah stasiun radio. Dan sebentar lagi, naskah tersebut akan diwujudkan menjadi drama radio yang disiarkan secara langsung pada tengah malam. Tidak ada kesulitan yang berarti ketika rehearsal dilakukan. Namun, setelah itu muncul masalah kecil ketika aktris yang mengisi suara pemeran utama drama radio tersebut meminta nama dari peran yang dimainkannya diganti hanya beberapa saat sebelum on air. Sang produser, Ushijima, sama sekali tidak berani menolak permintaan Senbon Nokko (nama aktris tersebut, diperankan Toda Keiko). Maka bergantilah nama karakter utama drama radio tersebut, dari Ritsuko menjadi Mary Jane. Perubahan satu nama saja harusnya sih tidak menjadi masalah besar ya. Harusnya. Tapi hal tersebut rupanya memancing rasa iri dari pemain lain, dan kemudian berujung pada banyak perubahan lain. Lalu, perubahan apa saja kah yang terjadi pada naskah tersebut? Bagaimana perasaan Miyako melihat naskah yang ditulisnya diacak-acak dan menjadi sangat berbeda? Dan apakah proses pembuatan drama radio tersebut akan berakhir dengan lancar? Tonton aja deh.

Yak, satu lagi film komedi Jepang favorit saya. Welcome Back, Mr. McDonald adalah salah satu film yang berhasil bikin saya ketawa terus hampir sepanjang film berlangsung. Jika harus membandingkan dengan film lain, kesan yang dihasilkan film ini hampir mirip dengan kesan saya terhadap film Kisaragi. Keduanya sama-sama bercerita tentang satu buah peristiwa saja dengan lokasi yang terbatas. Keduanya juga menyimpan kejutan-kejutan kecil yang bisa membuat penonton merasa deg-degan terhadap hal-hal yang akan terjadi selanjutnya. Selain itu, kelucuan dari kedua film tersebut juga sama-sama disetir oleh karakter-karakternya yang beraneka ragam. Makanya, jika kamu menyukai Kisaragi, rasanya akan sulit untuk tidak menyukai film ini.

Karakterisasi tokoh-tokoh dalam film ini memang merupakan faktor utama yang membuat film ini menjadi sangat lucu. Meskipun hanya berkisar pada satu buah peristiwa selama kurang lebih satu sampai dua jam saja, dengan mudah kita bisa langsung mengetahui seperti apa kepribadian tokoh-tokohnya. Tokoh-tokoh tersebut antara lain adalah Miyako, si penulis amatir yang pemalu dan tidak bisa berbuat apa-apa ketika naskah ciptaannya diubah dengan seenaknya; Kudo (Karasawa Toshiaki), si sutradara yang cool dan kadang berkata pedas; Ushijima (Nishimura Masahiko), si produser (?) berwajah ramah tapi kurang tegas dalam bertindak; Senbon Nokko, aktris yang bertingkah bak putri raja  sekaligus sumber dari segala permasalahan film ini. Selain mereka, masih ada beberapa tokoh lainnya yang juga berperan penting terhadap perkembangan ceritanya. Segala tindakan dan pilihan tak terduga dari para karakternya lah yang membuat film ini menjadi sangat fun dan penuh kejutan. Hal itu juga membuat film ini jadi sedikit menegangkan dan bikin saya deg-degan dan penasaran ingin tahu perubahan apa lagi yang akan terjadi selanjutnya. Selain unsur tersebut, satu lagi yang membuat film ini menjadi sangat menarik adalah kita bisa melihat proses pembuatan sound effect secara alami di film ini. Hal tersebut terjadi karena CD effect yang mereka miliki terkunci di ruangan lain. Oleh karena itu secara terpaksa mereka harus membuat sound effect sendiri (dengan bantuan seorang kakek). Dan hal tersebut menurut saya sangat mengagumkan 😀

Well, segini aja deh review dari saya. Overall, saya sangat menyukai film ini. Dan meskipun baru sedikit film-film Mitani Koki yang sudah saya tonton, menurut saya ini adalah karyanya yang terbaik. Film ini juga termasuk film yang bisa saya tonton berulang kali. 4 bintang untuk film ini 😀

Trivia: Dalam film ini Mitani Koki tampaknya melakukan tribute untuk sutradara terkenal Itami Juzo (1933-1997). Hal tersebut terlihat dari kemunculan Watanabe Ken yang berperan sebagai seorang supir truk yang sedang mendengarkan siaran drama radio di truknya. Watanabe Ken sendiri juga pernah berperan sebagai seorang supir truk dalam film Itami Juzo yang berjudul Tampopo. Selain itu, di film ini juga ada penampilan cameo dari Miyamoto Nobuko, istri dari Itami Juzo yang juga membintangi sebagian besar film karya suaminya.

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Cowok Kaya dan Cewek Miskin. Si cowok kaya bernama Hyuga Toru (Oguri Shun) yang karakternya mungkin dapat diibaratkan sebagai Mark Zuckerberg-nya Jepang: drop out dari sekolah dan kemudian membangun perusahaan IT besar bernama Next Innovation. Si cewek miskin bernama Sawaki Chihiro (Ishihara Satomi), seorang mahasiswa tingkat akhir Universitas Tokyo (yes, that Toudai) yang selalu gagal dalam mencari pekerjaan. Hyuga Toru adalah seorang pria yang punya penyakit “tidak bisa mengingat wajah dan nama orang”, sedangkan Sawaki Chihiro adalah seorang perempuan yang memiliki kemampuan mengingat yang luar biasa. Kedua orang ini pertama bertemu ketika Chihiro mencoba melamar pekerjaan ke Next Innovation. Pada saat itu, Chihiro sudah gagal di tahap pertama. Namun, pada saat itu ia meninggalkan kesan yang cukup dalam terhadap Hyuga karena Chihiro memiliki nama yang tampaknya punya kenangan khusus dengan Hyuga. Selain itu, kemampuan mengingat Chihiro rupanya menarik perhatian Hyuga sehingga dia kemudian merekrut perempuan tersebut sebagai pegawai sementara di Next Innovation untuk membantunya pada proyek bernama “Personal File” yang menjadi ambisinya. Kedua orang tersebut pun mulai menjadi dekat. Namun, Chihiro rupanya punya rahasia yang berhubungan dengan identitasnya. Apakah rahasia tersebut suatu saat akan ketahuan?

Konflik dari dorama ini tidak berhenti di situ. Selain Hyuga dan Chihiro, ada juga dua karakter lainnya yaitu Asahina Kousuke (Iura Arata) dan adiknya yang bernama Asahina Yoko (Aibu Saki). Asahina adalah orang penting kedua di Next Innovation yang tampaknya memiliki suatu rencana yang akan mempengaruhi masa depan Hyuga selanjutnya. Sedangkan Yoko adalah seorang koki perempuan yang tampaknya pernah punya kenangan bersama Hyuga dan secara terang-terangan memperlihatkan rasa sukanya pada pria tersebut. Lalu, apa yang akan selanjutnya terjadi pada mereka berempat? Tonton aja deh.

Rich Man Poor Woman. Dari judul tampaknya norak ya dan keliatan kayak judul yang biasa dipake di ftv-ftv buatan sctv. Tapi jangan dibuat ilfil dulu sama judulnya yang menipu tersebut. Dorama ini bukan dorama percintaan antara cowok kaya dan cewek miskin yang tipikal. Maksud dari “rich” dan “poor” di sini sendiri menurut saya bukan mengacu pada kekayaan berbentuk uang (mengingat merk handphone-nya Chihiro aja Galaxy S III). Tapi lebih seperti tokoh Hyuga ini “rich” karena ia bisa membangun perusahaan besar meskipun punya latar belakang “drop out dari sekolah”. Sedangkan Chihiro “poor” karena ia selalu mengalami kegagalan dalam mencari pekerjaan meskipun ia kuliah di universitas top di Jepang. Jadi “rich” dan “poor” ini kayaknya lebih mengacu pada cara pemikiran kedua tokohnya.

Dorama ini sendiri adalah satu-satunya dorama musim panas tahun ini yang berhasil saya tamatkan (entahlah, musim ini doramanya pada kurang menarik perasaan). Dan saya sangat menikmati menonton dorama ini. Dorama ini emang punya plot dan jalan cerita yang enak banget diikuti. Belum lagi episode pertamanya menurut saya menarik banget karena punya ending yang mengundang penasaran untuk mengikuti episode-episode selanjutnya. Meskipun misteri seputar identitas Chihiro ternyata tidak punya peran yang begitu penting, tapi hal tersebut menurut saya sudah cukup bagus sebagai hal pertama yang membangun hubungan antara Hyuga dan Chihiro. Yang agak mengecewakan menurut saya adalah konflik utama dorama ini yang berhubungan dengan hal yang direncanakan Asahina. Konflik tersebut mungkin akan mengingatkanmu pada konflik yang terdapat pada dorama Tsuki no Koibito-nya Kimura Takuya. Well, yang mengecewakan saya bukan karena kemiripan konfliknya sih, karena RMPW menurut saya masih lebih baik dari Tsuki no Koibito (tokoh Hyuga dan Asahina gak membosankan kayak karakter yang diperankan Kimura Takuya dan Matsuda Shota. Apalagi Hyuga masih bisa menunjukkan reaksi yang sangat manusiawi terhadap konflik yang ada, gak kayak Kimutaku yang dapet konflik apapun tetep stay cool dan jaim). Yang bikin saya agak kecewa sih penyelesaian dari konfliknya yang menurut saya terkesan klise dan digampangin banget. *SPOILER* Dan pas Asahina nangis dan minta maaf sambil sujud-sujud ke Hyuga itu, kok saya ngerasa itu kayak pembunuhan karakter ya. Rasanya malu sendiri pas lihat Asahina melakukan hal itu*SPOILER ENDS*.

Di luar hal-hal yang agak mengecewakan tadi, dorama ini sendiri menurut saya tetap enjoyable dan layak tonton kok. Hal itu tentu saja karena faktor romance-nya yang sangat-sangat saya suka. Menurut saya dorama romance yang berhasil itu adalah dorama yang juga bisa bikin penontonnya ikut merasa doki-doki (deg-degan) dan berharap kedua tokoh utamanya akan bersatu pada akhirnya. Dan dorama ini berhasil melakukannya. Oguri Shun dan Ishihara Satomi punya chemistry yang sangat baik di sini dan bikin saya ikut doki-doki tiap liat mereka lagi bareng (dan juga bikin saya sebel sama karakter Yoko yang berperan sebagai saingan cinta Chihiro, hihi). Unsur romance-nya juga menurut saya ditempatkan dengan sangat pas. Tidak begitu mendominasi (karena dorama ini lebih banyak fokus ke dunia bisnisnya daripada percintaannya) tapi tetep berhasil bikin doki-doki. Dari akting, semua aktor dan aktris di dorama ini berhasil memerankan perannya masing-masing dengan baik. Oguri Shun cocok sekali dengan peran Hyuga, direktur muda kaya yang kadang suka seenaknya sendiri. Ishihara Satomi juga sangat pas berperan sebagai Chihiro. Karakter ini mungkin akan terasa annoying bagi sebagian orang, tapi saya sendiri sangat menyukai karakter ini. Saya juga sangat menyukai aktingnya Arata meskipun karakternya menjadi terkesan tipikal di akhir-akhir. Dan meskipun saya sebel sama karakternya, Aibu Saki di sini memerankan karakter Yoko dengan cukup baik meskipun tidak istimewa.

Overall, meskipun memiliki beberapa kekurangan, menurut saya Rich Man Poor Woman tetaplah dorama yang layak banget buat ditonton kok, terutama buat penggemar dorama bergenre romance. 3,5 bintang deh 😀

Rating : 1 2 3 3,5 4 5

Read Full Post »