Feeds:
Posts
Comments

michiruposterPernahkan kamu membayangkan hidupmu tiba-tiba berjalan ke arah yang tidak terduga hanya karena langkah-langkah kecil yang kamu ambil? Furukawa Michiru (Toda Erika) mungkin tidak pernah membayangkan hal seperti itu sebelumnya. Ia adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai karyawan sebuah toko buku di Nagasaki. Ia memiliki pacar bernama Kanbayashi Kyutaro (Emoto Tasuku) yang tampaknya akan melamarnya tidak lama lagi. Namun, Michiru sendiri tampaknya tidak terlalu menyukai Kyutaro. Ia berselingkuh dengan Toyomasu (Arai Hirofumi), seorang salesman dari sebuah penerbitan yang tinggal di Tokyo dan sudah punya istri. Suatu hari, ketika Toyomasu akan kembali ke Tokyo setelah menyelesaikan pekerjaannya di Nagasaki, Michiru mengejarnya dan memutuskan untuk ikut ke Tokyo dan menghabiskan semalam bersamanya. Namun, janji semalam tersebut malah berlanjut sampai berhari-hari. Michiru tidak pulang-pulang ke Nagasaki dan berbohong kepada banyak orang di sekelilingnya, mulai dari Kyutaro, keluarganya, sampai orang-orang di toko buku. Karena tidak ingin merepotkan Toyomasu, Michiru kemudian memutuskan menumpang tinggal di apartemen Takei (Kora Kengo), teman sejak kecilnya dari Nagasaki yang saat ini tinggal dan berkuliah di Tokyo. Michiru merasa semuanya akan baik-baik saja, sampai suatu hari ia pergi ke tempat pengecekan lotere untuk mengecek puluhan lotere yang dibelinya di Nagasaki. Lotere tersebut sendiri adalah lotere titipan dua orang rekannya di toko buku yang dibelinya sebelum ia memutuskan untuk pergi ke Tokyo. Dan salah satu dari puluhan lotere tersebut ternyata memenangkan hadiah utama 200 juta yen. Apa yang akan terjadi pada Michiru selanjutnya? Apakah hal tersebut akan membawanya pada kebahagiaan? Atau malah kesengsaraan?

michiru1Langkah kecil yang kita ambil bisa jadi akan membawa perubahan besar pada hidup kita. Untuk kasus Michiru, hal itu tidak hanya mengubah hidupnya, tapi juga hidup orang-orang di sekitarnya. Dengan memutuskan pergi ke Tokyo (yang sebenarnya merupakan hasil dari kesembronoan dan bukannya sesuatu yang diputuskan matang-matang), ia harus membohongi banyak orang. Awalnya saya mengira fokus utama dorama ini adalah uang 200 juta yen yang didapat Michiru dari lotere. Namun, ternyata 200 juta yen tersebut hanyalah salah satu dari sekian hal yang mengubah hidup Michiru (meskipun tetap punya peranan penting). Di episode pertama, saya masih tidak tahu mau dibawa ke mana cerita dorama ini. Dan itu adalah salah satu yang saya suka dari dorama ini karena hal tersebut membuat saya terus merasa penasaran. Apalagi, dorama ini berkembang ke arah yang tidak terduga (yang bikin saya makin suka). Dorama ini juga berjalan secara pelan-pelan dalam membangun situasi dan karakterisasi tokoh-tokohnya. Barulah di episode 5, dorama ini akhirnya menemukan gong-nya. Ya, di episode tersebut dorama ini berkembang menjadi gelap dan menegangkan, dan perkembangannya tersebut terasa sangat natural dan tanpa dipaksakan. Beberapa karakter menunjukkan karakter aslinya. Michiru yang awalnya merasa semuanya akan baik-baik saja lalu hidup dalam ketakutan. Dan serentetan kejadian tidak menyenangkan satu persatu terjadi di depan matanya.

michiru2Para pemain di dorama ini menunjukkan akting yang baik dan memperkuat dorama ini. Toda Erika sangat pas memerankan Michiru. Mungkin awalnya kita akan merasa sebal karena kebohongan dan kesembronoannya. Namun, sedikit demi sedikit, saya mulai bersimpati pada karakter ini, karena Michiru hanyalah perempuan biasa yang masih labil dan tidak memahami tindakannya sendiri. Kora Kengo sebagai Takei juga berakting sangat baik di sini, dan karakternya ini adalah karakter yang paling gak bisa ditebak di dorama ini (*SPOILER*: sampai akhir saya masih gak tau maksud dari tindakannya, sakit jiwakah? Apa benar-benar untuk Michiru? Atau untuk uang yang dipegang Michiru? *SPOILER END*). Para pemain seperti Ando Sakura (tapi saya berharapnya karakter yang dimainkannya ini diberi peranan lebih, bukan hanya sebagai teman atau penenang Michiru), Arai Hirofumi, Emoto Tasuku, Takakura Erika, dan lain-lainnya pun menunjukkan akting yang bagus dan memperkuat dorama ini. Dan seperti dorama NHK pada umumnya, dorama ini pun memiliki sinematografi yang sangat bagus dan cantik.

Secara keseluruhan, saya sangat menyukai dorama berjumlah 10 episode ini (durasi 30 menitan per episode). Satu-satunya yang saya tidak suka dari dorama ini menurut saya cuma endingnya (*SPOILER* setelah serangkaian episode sebelumnya yang bikin deg-degan, endingnya terasa antiklimaks banget. Komentar akhir cuma: gitu doang? *SPOILER END*). Terlepas dari endingnya itu, menurut saya dorama ini tetap recommended dan tidak boleh dilewatkan. 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

bibliaposterSetiap buku pasti memiliki cerita. Cerita tersebut tidak hanya cerita yang ada di dalamnya saja, tapi juga di luarnya. Terutama untuk buku lama, yang memiliki kemungkinan pernah berpindah-pindah tangan. Dengan melihat sebuah buku, kita mungkin bisa menebak-nebak seperti apa pemiliknya atau kenangannya bersama buku tersebut. Yak, hal itulah yang menjadi keahlian dari Shinokawa Shioriko (Gouriki Ayame), gadis muda yang merupakan owner dari sebuah toko buku antik bernama Biblia. Kita pertama kali melihat kemampuannya ketika seorang pria jangkung bernama Goura Daisuke (AKIRA) suatu hari datang ke tokonya. Pria tersebut baru kehilangan neneknya yang meninggal karena sakit. Sang nenek meninggalkan bertumpuk-tumpuk buku kepadanya. Salah satu buku yang ditinggalkannya memiliki tanda tangan Soseki Natsume (penulis besar Jepang) di dalamnya. Untuk mengetahui keaslian tanda tangan tersebut, Daisuke datang ke Biblia, toko yang tidak sengaja dilihatnya di jalan, dan meminta tolong kepada sang owner, Shioriko. Singkat cerita, melalui segala hal yang ada pada buku tersebut (price tag dsb) beserta informasi yang diberikan Daisuke, Shioriko dapat mengetahui bukan hanya mengenai keaslian tanda tangan tersebut, tapi juga rahasia besar yang disimpan nenek Daisuke selama berpuluh-puluh tahun. Sebuah rahasia yang sama sekali tidak diketahui Daisuke meskipun memiliki kaitan dengannya. Setelah kejadian tersebut, Shioriko menawari Daisuke untuk bekerja di tokonya. Kebetulan pada saat itu Daisuke tidak memiliki pekerjaan sehingga ia pun menerima tawaran Shioriko, meskipun sebenarnya ia tidak menyukai buku dan tidak bisa membaca buku (selalu pusing-pusing setiap membaca buku). Bersama-sama, mereka berdua memecahkan kasus-kasus yang berhubungan dengan buku lama. Kasus-kasus yang berhubungan dengan buku apa sajakah itu? Tonton aja deh 😀

biblia1Awalnya saya agak malas ketika mau nonton dorama ini karena pemeran utamanya Gouriki Ayame. Akting annoying-nya membuat saya malas melanjutkan menonton dorama Mirai Nikki. Tapi dorama ini punya tema yang menarik perhatian saya (buku lama+misteri!), jadi coba ditonton deh. Dan saya gak nyesel karena memutuskan nonton ini. Suka ❤ Well, sebenarnya dorama ini gak istimewa-istimewa amat sih, tapi saya sangat menikmati menonton dorama ini. Kasus-kasus yang dihadirkan menurut saya hampir semuanya menarik. Meskipun bukan kasus-kasus yang tergolong luar biasa, tapi saya menyukai bagaimana kasus-kasus tersebut dihubungan dengan buku. Yang saya suka lagi, dorama ini fokus dengan problem solving dan gak ngelantur ke mana-mana. Kalau dibandingkan dengan dorama lain, dorama ini mengingatkan saya pada dorama Kagi no Kakatta Heya (tema terletak pada kasus + fokus sama problem solving). Wajar sih karena penulis skenarionya sama, yaitu Aizawa Tomoko. Jadi mungkin kamu akan menyukai dorama ini juga jika kamu menyukai Kagiheya.

biblia2Ada satu buku (atau satu pengarang) yang menjadi fokus cerita di setiap episodenya (tapi ada juga yang sampai dua episode). Dan setiap nonton episode-episode di Biblia ini saya selalu sukses dibikin mupeng pengan bacain buku-buku yang disebut-sebut di dorama ini (terutama buku-buku pengarang Jepang yang gak diterbitin di sini). Setiap kasus berdiri sendiri dan tidak terlalu memiliki kaitan satu sama lain. Namun, seperti dorama misteri pada umumnya, ada satu kasus utama yang petunjuk-petunjuknya disajikan sedikit-sedikit di setiap episodenya, yaitu kasus yang berhubungan dengan ibunya Shioriko yang menghilang sepuluh tahun yang lalu. Sama seperti Shioriko, sang ibu juga memiliki kecerdasan yang luar biasa mengenai dunia buku dan sepertinya menghilang karena buku juga. Untuk kasus yang berhubungan dengan ibunya ini, sampai akhir masih agak-agak menggantung. Dan misteri mengenai sang ibu ini menurut saya masih kalah dengan misteri pada episode-episode yang biasa dan tidak terlalu membuat saya penasaran. Melalui karakter sang ibu dan juga karakter-karakter lainnya, kita bisa melihat berbagai macam karakter manusia yang bisa berubah karena buku. Kadang, ada orang yang mau berbuat kriminal demi mendapatkan buku yang bernilai langka. Kadang saya seperti Daisuke, gak habis pikir kenapa ada orang yang segitunya sama buku. Well, tapi orang-orang seperti itu mungkin memang ada di dunia nyata. Yang jelas saya bersyukur kecintaan saya sama buku masih taraf normal dan gak kayak beberapa tokoh di dorama ini, hehe (tapi saya mau dong bisa sepinter Shioriko) 😀

biblia3Mengenai castnya, tadi saya bilang kalo saya gak suka Gouriki Ayame karena akting annoyingnya di Mirai Nikki. Tapi menurut saya dia berakting baik di sini sebagai Shioriko. Beruntung karena karakter Shioriko ini ceritanya tenang dan pemalu, sehingga dia gak berisik kayak di Mirai Nikki di sini. Dan karakternya di sini pun cukup lovable. Akira (member grup Exile) berakting baik juga di sini sebagai partner Shioriko (dan kenapa Akira tiba-tiba jadi ganteng di sini?). Begitu juga dengan Takahashi Katsumi, meskipun menurut saya karakternya tidak sebegitu menonjol meskipun dia ikut mejeng di posternya (gak kayak di Kagiheya, di mana porsi tiga pemeran utamanya terlihat adil, di sini keliatannya cuma Shioriko+Daisuke doang yang banyak). Selain tiga pemain utama itu, yang paling menarik perhatian di sini menurut saya adalah Suzuki Kosuke yang berperan sebagai teman Daisuke yang merupakan pemilik kafe (comedic relief dorama ini). Para bintang tamu pada dorama ini pun aktingnya bagus-bagus, seperti Nakamura Shido, Sato Eriko, Iura Arata, dan lain-lain.

Well, meskipun memiliki beberapa kekurangan, secara keseluruhan saya sangat menyukai dorama ini. Sangat cocok ditonton pecinta buku sekaligus pecinta cerita misteri. 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

gegegeposterSetelah menonton Carnation, saya jadi ketagihan pengen nonton lebih banyak asadora. Nah, asadora kedua yang berhasil saya tamatkan setelah Carnation ini memiliki judul “Gegege no Nyobo”. Kalo denger judul itu, mungkin kamu akan teringat pada sebuah anime klasik dengan judul Gegege no Kitaro yang dulu pernah ditayangkan di tv lokal. Dua tontonan tersebut memang berkaitan kok, karena Gegege no Nyobo bercerita tentang kehidupan dari Mizuki Shigeru yang merupakan mangaka dari Gegege no Kitaro. Namun, sesuai judulnya yang memiliki arti “Gegege’s Wife”, kehidupan mangaka tersebut diceritakan melalui sudut pandang sang istri. Drama ini sendiri diangkat dari autobiografi istri Mizuki Shigeru yang bernama Mura Nunoe. Pada drama ini, sang istri memiliki nama Iida Fumie / Murai Fumie, diperankan oleh aktris Matsushita Nao.

gegege1Gegege no Nyobo berkisah pada era Showa (dimulai dari tahun 1939, namun sebagian besar ceritanya berlatar pada tahun 60-an). Iida Fumie merupakan anak keempat dari enam bersaudara. Sejak kecil, Fumie merupakan anak yang pemalu. Ia memiliki tinggi badan di atas anak perempuan rata-rata. Hal tersebut membuat Fumie merasa semakin rendah diri, bahkan ketika ia sudah berusia dewasa. Tinggi badannya tersebut pula membuatnya susah mendapat jodoh meskipun sudah menginjak usia 28 tahun. Sampai suatu hari datang tawaran omiai (arranged marriage/perjodohan) pada dirinya. Namun, laki-laki yang menjadi partner omiai Fumie ini kelihatan kurang meyakinkan. Ia sepuluh tahun lebih tua dari Fumie, bekerja sebagai mangaka untuk rental manga, tinggal di Tokyo, dan (yang paling mengejutkan) tidak memiliki lengan kiri karena terluka ketika ikut perang. Hmm, apa ada perempuan yang mau dinikahkan dengan laki-laki seperti itu? Meskipun beberapa anggota keluarga Fumie tidak menyetujui hal tersebut, sang ayah (diperankan Osugi Ren) bersikeras untuk tetap memproses lamaran tersebut. Fumie yang awalnya merasa ragu pun akhirnya memutuskan menerima lamaran itu, karena ia merasa laki-laki bernama Murai Shigeru (atau punya nama pena Mizuki Shigeru, diperankan oleh Mukai Osamu) yang akan menjadi calon suaminya tersebut adalah orang yang baik.

gegege2Pertemuan antara kedua keluarga pun ditetapkan. Pada pertemuan pertama itu, kedua belah pihak sama-sama setuju untuk menikahkan kedua anak mereka. Yang mengagetkan lagi, pernikahan diputuskan dilaksanakan pada lima hari setelah pertemuan pertama mereka karena Shigeru memiliki deadline pekerjaan sehingga ia harus cepat-cepat kembali ke Tokyo (dan sebenarnya Shigeru tidak pernah berpikir untuk menikah kalau tidak karena dipaksa oleh ibunya). Setelah pernikahan selesai dilaksanakan, Fumie pun dibawa Shigeru ke Tokyo. Meskipun suaminya tersebut tinggal di Tokyo, rumahnya sendiri berada di daerah yang jauh lebih ‘desa’ daripada daerah tempat tinggal Fumie di Otsuka (prefektur Shimane). Ketika sampai pun, Shigeru langsung mengurung diri di kamarnya untuk melanjutkan pekerjaannya dalam menggambar manga. Fumie pun merasa sedih karena ia tetap merasa sendirian meskipun sudah menikah. Di luar hal itu, meskipun Shigeru selalu mengerjakan manganya dengan sepenuh hati, manga-manga karyanya tersebut tidak pernah laku sehingga hal itu membuat pasangan suami istri tersebut harus hidup dalam kemiskinan. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya pada hubungan Fumie dan Shigeru? Apakah mereka berdua sanggup bertahan hidup dalam kemiskinan? Tonton aja deh 😀

gegege3Di balik kesuksesan seorang pria, pasti ada wanita hebat di belakangnya. Pepatah tersebut mungkin sangat tepat untuk menggambarkan inti cerita drama ini. Di balik segala kesulitan yang ditempuh Shigeru dalam usahanya untuk mencapai kesuksesan, ada Fumie yang selalu setia berada di sampingnya. Mungkin terdengar klise ya tapi hal tersebut digambarkan dengan sangat natural dan realistis. Shigeru dan Fumie bukanlah pasangan suami istri yang sempurna. Shigeru bukanlah tipe suami idaman para wanita. Ketika baru menikah, ia langsung kembali ke pekerjaannya dan membiarkan Fumie seorang diri. Dan ketika sedang bekerja, ia sama sekali tidak bisa diganggu oleh apapun. Ia juga miskin dan punya banyak tagihan. Pekerjaannya sebagai mangaka pun tidak menjanjikan apa-apa karena dunia rental manga yang memang sedang berada dalam masa sulit saat itu (manga yang dikerjakan Shigeru dipasarkan melalui rental, bukan majalah manga seperti yang terkenal sampai saat ini). Kadang penerbit membayar Shigeru hanya setengah dari yang seharusnya. Dan kadang ia tidak dibayar sama sekali. Kadang ia juga harus menggadaikan barang berharga miliknya agar bisa makan hari itu. Hmm, kebanyakan perempuan mungkin lebih memilih pergi dan kembali ke orang tuanya ya daripada bertahan hidup dengan Shigeru. Namun Fumie tetap bertahan. Pada awalnya ia memang merasa tidak nyaman dengan keadaannya. Ia merasa jauh dan tidak mengenal suaminya. Namun, sedikit demi sedikit ia mulai membiasakan dirinya dengan hal-hal ‘unik’ yang ada pada diri Shigeru. Sedikit demi sedikit pula, ia mulai jatuh cinta pada Shigeru yang meskipun terlihat cuek di luar, tapi sebenarnya punya hati yang baik dan punya cara sendiri dalam menunjukkan perhatiannya. Pada saat paling sulit sekalipun, Fumie tetap tidak pernah meninggalkan Shigeru. Secara tidak langsung, hal itu menjadi kekuatan bagi Shigeru. Jika tidak ada Fumie, mungkin saja Shigeru tidak akan menjadi sesukses seperti saat ini. Dan hal itulah yang saya suka dari asadora. Asadora selalu menunjukkan “girl power” dengan cara yang berbeda-beda. Di Carnation, girl power-nya ditunjukkan melalui perjuangan Itoko sebagai wanita yang bekerja sekaligus tulang punggung keluarga. Sementara itu di Gegege no Nyobo girl power-nya ditunjukkan melalui kesetiaan sang istri dalam mendampingi suaminya. Hmm, mungkin terdengar pasif ya jika dibandingkan dengan yang di Carnation, tapi bukankah kebahagian tiap perempuan itu berbeda-beda? 🙂

gegege4Selain hal di atas itu, yang menarik lagi dari drama berjumlah 156 episode ini (15 menit tiap episode) adalah kita bisa melihat perjalanan Mizuki Shigeru dalam meraih kesuksesan. Sejak kecil, Shigeru tertarik dengan hal-hal berbau gaib seperti yokai atau semacamnya. Hal itu berpengaruh pada manga-manga ciptaannya yang banyak bercerita tentang hal itu (selain menggambar tentang yokai, Shigeru juga menggambar manga-manga tentang perang berdasarkan pengalamannya ketika ikut perang, sebuah pengalaman yang membuatnya kehilangan sebelah lengannya). Bakat yang ia miliki pun membuat manga-manganya menjadi original dan berbeda dengan manga-manga yang lainnya. Namun, pada masa itu manga masih dianggap sebagai bacaan untuk anak-anak, dan manga-manganya dianggap terlalu seram untuk dibaca anak-anak. Oleh karena itu, manganya pun tidak pernah laku. Namun, tidak ada perjuangan yang sia-sia kan? Ya, proses Shigeru sebelum mencapai kesuksesan ini adalah salah satu yang paling menarik dari drama ini. Ia dan Fumie harus hidup dalam kemiskinan. Tapi miskin di sini bukan miskin kayak di sinetron Indonesia yang selalu terlihat lebay ya, tapi juga bukan berarti miskin di sini adalah hal yang sepele. Saya suka dengan cara Shigeru dan Fumie yang menganggap kemiskinan sebagai suatu tantangan. Ada saat-saat di mana mereka merasa depresi karena kemiskinan, tapi ada juga saat-saat di mana mereka merasa bahagia hanya dengan hal-hal kecil. Dan ketika manga karya Shigeru tiba-tiba mendapat perhatian penerbit besar yang membawanya pada kesuksesan, bukan berarti perjuangan berhenti sampai di situ. Berbagai hal yang menguji rumah tangga mereka berdua tetap ada bahkan ketika Shigeru sudah sukses, tapi yang terpenting adalah bagaimana cara mereka berdua dalam menghadapi ujian-ujian tersebut.

gegege5Seperti asadora pada umumnya, drama ini juga memiliki banyak karakter. Matsushita Nao berperan sangat baik sebagai Fumie, heroine drama ini. Karakternya mungkin tidak terasa istimewa jika dibandingkan dengan karakter sang suami yang kepribadiannya benar-benar unik, tapi ia punya chemistry yang sangat pas dengan Mukai Osamu sehingga peran yang dimainkannya tetap bisa mengimbangi peran sang suami. Dan saya selalu suka Mukai Osamu ketika ia memainkan peran-peran cuek dan easy-going seperti Shigeru ini (karena di peran-peran serius aktingnya biasanya gak terlalu bagus). Gak heran kenapa dia bisa jadi sepopuler itu setelah membintangi drama ini, karena karakternya memang tipe karakter yang gampang disukai (meskipun dengan segala keunikannya). Karakter-karakter lainnya, seperti anggota keluarga Iida (keluarga Fumie) dan keluarga Murai (keluarga Shigeru) pun hampir semuanya memiliki karakterisasi menarik (perhatian khusus untuk Osugi Ren yang berperan sebagai ayah Fumie serta Takeshita Keiko dan Kazama Morio yang berperan sebagai orang tua Shigeru). Para pemeran di luar anggota keluarga Fumie dan Shigeru pun menampilkan akting yang sama baiknya. Beberapa di antaranya adalah Matsuzaka Keiko (pemilik rental manga dekat rumah Shigeru yang menjadi teman pertama Fumie di lingkungan barunya), Sugiura Taiyou (teman sejak kecil Shigeru yang gila duit dan selalu punya banyak akal), Murakami Hiroaki (pemilik penerbitan kecil yang menyadari bakat Shigeru), Kajihara Zen (rekan Shigeru yang sesama mangaka), Emoto Tasuku (asisten terlama Shigeru), dan masih banyak lagi. Semua karakter yang ada di drama ini memiliki pengaruh yang berbeda-beda terhadap pasangan suami istri tersebut dan membuat drama ini menjadi lebih berwarna.

Overall, drama ini menurut saya recommended banget dan cocok ditonton penggemar asadora (atau orang yang baru mau memulai menonton asadora). Tidak semengesankan Carnation tapi dorama ini punya charm-nya sendiri yang menjadikannya memiliki tempat istimewa di hati saya. 4,5 bintang! 🙂

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

[DORAMA] Tabloid (1998)

tabloid-poster“Tabloid: An eye-catching photo or headline. A small-scale newspaper focusing on sensational news. Not home delivered but sold at newsstands and stores.”

Kalimat tersebut merupakan kalimat pembuka dari sebuah dorama dengan judul Tabloid. Ya, di Jepang, tabloid memang terkenal sebagai sumber dari berita-berita yang sifatnya sensasional, seperti skandal artis dan semacamnya. Katayama Saki (Tokiwa Takako) adalah seorang wartawan dari media massa terkemuka Chuo Newspaper. Ia adalah seorang wartawan yang pintar dan tajam. Namun, ketajamannya itu malah membawanya pada suatu masalah di suatu hari, dan hal tersebut membuatnya dipindahkan ke sebuah tabloid bernama Yukan Top. Tempat kerja baru Katayama tersebut tentunya sangat berbeda dengan Chuo. Di hari pertama kerja saja, ia sudah ditugaskan untuk menyelidiki seorang artis yang rumornya akan mengeluarkan nude photobook. Berita yang sifatnya ‘vulgar’ tersebut bukanlah berita yang biasa ia tulis sebelumnya. Namun, Katayama hanya bisa menerima nasib tersebut dan terpaksa mengikuti perintah pimpinan barunya, Kirino (Sato Koichi). Selain Kirino, teman-teman barunya di Yukan Top antara lain adalah 1) Kurumi (Tomosaka Rie), wartawan perempuan bermulut pedas yang diam-diam naksir Kirino, 2) Saruwatari a.k.a Saru (Kashiwabara Takashi), fotografer andalan Yukan Top, 3) Chika, pencipta semua headline sensasional Yukan Top, dan masih ada beberapa kru lainnya. Meskipun tetap melakukan pekerjaannya di Yukan Top, Katayama tentu saja tetap ingin meliput berita yang dianggapnya sebagai berita penting. Ia meminta Kirino mengizinkannya untuk menyelidiki kasus pembunuhan seorang entertainer bernama Aoshima Bingo yang terjadi tiga tahun yang lalu. Seorang pria bernama Manabe Toshihiko (Sanada Hiroyuki) ditangkap sebagai tersangka pembunuhan. Namun, setelah tiga tahun ditahan, ia tiba-tiba menyatakan bahwa dirinya tidak bersalah. Kirino mengizinkan Katayama untuk menyelidiki kasus tersebut dan sejak saat itu Katayama mulai rajin mengunjungi Manabe di penjara untuk menggali informasi. Di luar hal itu, Yukan Top sendiri terancam akan ditutup oleh Chuo Group (perusahaan yang menaungi Yukan Top) jika tidak berhasil menjual 500.000 eksemplar sampai tiga bulan ke depan.  Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Manabe benar-benar tidak bersalah dalam kasus tersebut? Apakah Yukan Top akan benar-benar ditutup? Apakah kasus yang diselidiki Katayama tersebut akan berpengaruh pada masa depan Yukan Top?

tabloid-1Yak, dorama ini termasuk dorama jadul karena tayang pada tahun 1998. Tertarik menonton ini karena temanya yang seputar profesi jurnalis tabloid. Awalnya saya mengira dorama ini akan seperti dorama bertema profesi pada umumnya: seorang wartawan dipindahkan ke tabloid yang terancam ditutup lalu berusaha keras mengangkat citra tabloid tersebut agar tidak jadi ditutup. Dan saya bersyukur karena dorama ini tidak jatuh ke klise seperti itu. Tokoh utama dorama ini sendiri sebenarnya tokoh utama yang umum ditemukan dalam dorama bertema profesi: naïf dan keras kepala. Yak seperti jurnalis idealis pada umumnya, ia selalu menjadikan “mencari kebenaran” sebagai pedomannya dalam mencari berita. Sementara itu Kurumi, teman kerja sekaligus rivalnya adalah tipe wartawan yang realistis. Ia tidak peduli pada hal semacam mencari kebenaran atau apa, tapi jika sudah ditugaskan mencari suatu berita, ia akan menyelidiki sampai ke akar-akarnya. Interaksi antara dua perempuan yang bertolak belakang ini merupakan salah satu hal paling menarik dari dorama ini (bagaimana menyebutnya? Sismance? :D)

tabloid-2Namun, hal yang paling disorot dari dorama ini adalah bagaimana tabloid atau media massa dapat memengaruhi orang-orang yang diberitakan atau orang-orang yang membacanya. Begitu juga dengan Yukan Top yang notabene merupakan tabloid “kacangan” yang biasa memberitakan skandal artis dengan harga yang saingannya cuma kopi kalengan. Pengaruh tersebut bisa saja berupa pengaruh negatif ataupun pengaruh positif. Ada yang hatinya bisa terluka hanya dengan membaca sebuah artikel saja. Tapi ada juga artikel yang bisa membuat orang yang membacanya menjadi berterima kasih. Dorama ini tidak hanya menunjukkan putihnya dunia jurnalisme, tapi juga hitamnya. Profesi wartawan tidak diceritakan yang baik-baiknya saja, tapi juga yang jelek-jeleknya. Misalnya, ketika wartawan sedang sibuk meliput berita, terkadang ia menjadi begitu fokus pada kegiatan tersebut dan melupakan hal-hal di sekitarnya. Dan hal tersebut kadang-kadang bisa melukai orang lain tanpa si wartawan tersebut sadari. Dan wartawan juga hanyalah manusia biasa, bukan tidak mungkin suatu hari seorang wartawan jatuh cinta pada objek beritanya. Seperti halnya Katayama yang mulai menaruh perasaan khusus pada Manabe Toshihiko yang sering dikunjunginya di penjara. Apakah perasaan tersebut akan memengaruhi kredibilitasnya sebagai seorang wartawan?

tabloid-3Seperti dorama profesi pada umumnya, di beberapa episode pertama, dorama ini menyajikan satu berita yang menjadi headline di setiap episodenya. Namun, di beberapa episode terakhir dorama ini berfokus pada hal-hal yang berkaitan dengan Manabe Toshihiko dan kasus pembunuhan Aoshima Bingo. Di sinilah satu lagi kekuatan media massa. Keberadaan Yukan Top akan sangat berpengaruh pada nasib Manabe Toshihiko selanjutnya, dan begitu juga sebaliknya. Kasus Aoshima Bingo tersebut merupakan salah satu unsur misteri dari dorama ini. Seperti Katayama, kita akan berusaha menebak-nebak, apakah Manabe Toshihiko benar-benar tidak bersalah? Sehubungan hal ini, terdapat beberapa kejutan di episode-episode akhir, yang meskipun berhasil saya tebak, tapi tetap bikin hati deg-degan dan penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya setelah itu. Hal-hal itulah yang membuat dorama ini keluar dari klise dorama bertema profesi pada umumnya.

tabloid-4Dari segi akting, Tokiwa Takako berakting baik di sini sebagai tokoh utama, meskipun kadang-kadang saya suka merasa sebal pada karakter ini. Sato Koichi seperti biasa selalu menampilkan akting yang menghibur sebagai seorang editor in chief yang santai dan humoris tapi tetap memiliki ketajaman seorang jurnalis. Namun yang paling saya suka di sini adalah Tomosaka Rie yang berperan sebagai Kurumi, wartawan yang juga merupakan seorang single parent. Sifat judes Kurumi digambarkan dengan sangat baik oleh Tomosaka Rie, dan karakternya sendiri karakter yang paling saya suka di sini. Kashiwabara Takashi? Lumayan lah sebagai pemanis, meskipun karakternya ternyata tidak terlalu disorot (kecuali di satu episode yang berfokus pada karakternya). Sanada Hiroyuki pun berperan bagus sebagai Manabe Toshihiko. Misteriusnya dapet banget sehingga penonton pun bisa bingung dalam memilih untuk mempercayainya atau tidak.

Overall, saya sangat menyukai dorama jadul berjumlah 10 episode ini. Recommended, terutama untuk orang-orang yang tertarik pada dunia jurnalistik atau yang bercita-cita (atau sudah) menjadi wartawan. 4 bintang!

Rating : 1 2 3 4 5

[DORAMA] GOLD (2010)

goldposter2Keluarga dan obsesi. Ada beberapa orang di dunia ini yang membentuk sebuah keluarga demi mewujudkan sebuah obsesi. Seperti halnya Saotome Yuri (Amami Yuki), yang terobsesi pada medali emas Olympic. Kakaknya yang seorang atlet renang meninggal dunia sekitar dua puluh tahun yang lalu sebelum sempat memenangkan medali emas di Olympic. Sejak saat itu, Yuri terobsesi untuk meneruskan cita-cita kakaknya tersebut. Obsesi tersebut disalurkan melalui ketiga anaknya yang ia didik sejak kecil untuk menjadi atlet. Ayah dari tiga anak tersebut sendiri adalah Akashi Tatsuya (Terajima Susumu), seorang mantan atlet yang pernah memenangkan medali emas beberapa puluh tahun yang lalu (sehingga Yuri berharap gen “emas” yang dimiliki Akashi akan menurun pada ketiga anaknya). Akashi sendiri sekarang hanyalah seorang pria tidak berguna dan sudah lama tinggal terpisah dengan Yuri, tapi tidak pernah diceraikan karena Yuri tidak mau citranya sebagai public figure yang sering berbicara tentang parenting di berbagai acara televisi rusak. Yuri sendiri merupakan seorang pengelola perusahaan keluarga yang bergerak di bidang sports gym dan aesthetic salon. Ia dibantu oleh Hasumi Joji (Sorimachi Takashi), seseorang pria yang diadopsi oleh keluarganya sejak usianya masih kecil dan diam-diam menyimpan perasaan terhadap Yuri. Lalu ada Nikura Rika (Nagasawa Masami), perempuan cantik tapi keliatan agak bodoh yang ditunjuk sebagai sekretaris baru Yuri.

gold1Masalah muncul ketika anak laki-laki kedua Yuri yang bernama Ren (Yano Masato) tiba-tiba mengajukan niatnya untuk berhenti dari dunia atletik dengan alasan tidak tahan dibesarkan hanya untuk menjadi ‘robot’ ibunya. Tidak hanya itu, si anak perempuan bungsu Akira (Takei Emi) yang sedang memasuki masa puberitas berpacaran dengan seorang fotografer (diperankan Ayano Go) yang tampaknya punya niat buruk terhadap keluarga Saotome. Selain itu, si sulung Kou (Matsuzaka Tori) yang selama ini merupakan anak paling penurut pun suatu hari melakukan sesuatu yang memperkecil kemungkinannya untuk memenangkan medali emas. Selain mereka bertiga, Yuri sendiri masih memiliki satu anak lagi yang masih kecil, yaitu Tomo, yang sering sakit-sakitan sehingga tidak mungkin dibesarkan menjadi atlet. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya pada keluarga Saotome? Apa satu persatu anaknya akan mengkhianati Yuri dalam obsesinya terhadap medali emas? Dan apa yang akan dilakukan Yuri dalam menghadapi semua itu? Tonton aja deh.

gold2Sebelum menonton dorama berjudul GOLD ini, awalnya saya mengira dorama ini adalah dorama bergenre sport tentang perjuangan seorang ibu dalam membesarkan anak-anaknya menjadi pemenang olimpiade. Tapi ternyata fokus utama dorama ini adalah tentang keluarga Saotome yang disfungsional, tepatnya tentang obsesi seorang ibu yang disalurkan melalui anak-anaknya. Saotome Yuri adalah karakter ibu yang ‘menarik’. Ia sudah menentukan apa yang akan menjadi ‘takdir’ dari anak-anaknya sejak mereka masih di dalam kandungan. Ia juga memiliki pola pikir yang berbeda dengan kebanyakan orang. Pola pikir yang realistis dan kejam, dan mungkin tidak akan disetujui banyak orang.  Sosoknya seperti ibu kejam yang tidak membiarkan anaknya untuk menentukan tujuan hidupnya sendiri. Saya sendiri tidak setuju terhadap beberapa pemikirannya. Meskipun begitu, saya sendiri sangat menyukai karakternya. Ia adalah perempuan kuat yang dapat memengaruhi banyak orang dengan memakai kata-kata saja, dan tidak ada orang yang bisa membalikkan kata-kata yang diucapkannya. Oleh karena itu, menurut saya karakter Yuri ini tipe karakter yang bisa dibenci sekaligus dicintai. Kita bisa membenci segala tindakannya yang terlihat kurang berperasaan itu, tapi kita juga ingin mengetahui apa lagi yang akan ia lakukan untuk menggapai obsesinya, dan apakah ia memiliki maksud lain di balik semua tindakannya itu. Karakteristiknya yang kuat tersebut menurut saya merupakan daya tarik utama dari dorama berjumlah 11 episode ini.

gold3Selain karakteristik tokoh utamanya yang menarik, kelebihan lain dari dorama ini terdapat pada skenarionya yang ditulis oleh Nojima Shinji (Love Shuffle, Bara no Nai Hanaya). Saya sangat menyukai dialog-dialog yang ada di dorama ini, terutama dialog antara Yuri dan sekretarisnya Rika (yang menjadi unsur komedi di dorama ini). Momen “brainwashing” Yuri terhadap Rika adalah momen paling lucu dan paling saya nantikan di dorama ini :D. Selain itu, sama seperti dua drama yang ditulis Nojima sebelumnya, GOLD pun menyimpan banyak kejutan kecil yang membuat kita akan terus penasaran dan menonton sampai akhir. Kejutan-kejutan tersebut menyangkut rahasia keluarga Saotome (yang dapat mengancam keutuhan keluarga tersebut), terutama misteri seputar Saotome Shuichi (Mikami Kensei), kakak laki-laki Yuri yang meninggal karena kecelakaan dua puluh tahun yang lalu.

gold4Amami Yuki seperti biasa menunjukkan akting yang cemerlang sebagai Saotome Yuri. Dan surprisingly saya juga menyukai aktingnya Nagasawa Masami di sini (sepertinya dia emang paling cocok berperan jadi karakter yang rada-rada baka ya :D), dan chemistry-nya dengan tante Amami pun pas sekali. Sorimachi Takashi juga menurut saya terlihat sangat keren sebagai Joji, teman sejak kecil Yuri yang juga merupakan pelatih renang anak-anaknya. Tiga pemeran anak-anak Yuri berakting cukup baik di sini walau tidak istimewa. Tapi agak agak salah casting juga untuk yang dua anak laki-laki (atlet kok kurus kering :D). Saya juga gak pernah suka Takei Emi, tapi peran abg labil (yang kadang suka bikin sebel) lumayan cocok lah sama dia.

Overall, saya sangat menyukai dorama ini. Cerita, karakteristik, serta skenarionya yang kuat membuat dorama ini menjadi sangat patut ditonton, terutama untuk para penyuka drama yang berfokus tentang keluarga disfungsional. 4 bintang 😀

Rating : 1 2 3 4 5

top 7 actorsHalo, selamat tahun baru ya para pembaca blog ini! Yosh, di awal tahun 2013 ini saya akan menulis postingan yang sudah ingin saya buat dari dulu. Di postingan ini saya akan menulis list tentang tujuh orang aktor Jepang favorit saya. Ya, aktor atau aktris adalah salah satu faktor yang membuat saya memutuskan untuk menonton satu film tertentu. Begitu juga dengan film Jepang. Setelah bertahun-tahun menonton film dan dorama Jepang, banyak sekali perubahan pada list aktor Jepang favorit saya. Contohnya bertahun-tahun yang lalu saya terbiasa mengidolakan aktor-aktor dari Johnny’s macam Yamapi, Nishikido Ryo atau Matsumoto Jun. Sekarang, dengan semakin banyaknya film dan dorama Jepang yang saya tonton, semakin banyak pula aktor Jepang yang saya suka dan membuat list aktor Jepang favorit saya berubah terus. Apa kriteria dari aktor-aktor di list di bawah ini sehingga saya menyebutnya sebagai favorit? Akting tentu saja kriteria nomor satu. Tapi karena list di bawah ini sifatnya personal, ada juga hal-hal lain yang mendasari pemilihan itu, contohnya karena saya *ahem* naksir sama aktornya. Tapi biasanya saya naksir sama seorang aktor setelah terkagum-kagum sama aktingnya kok.

Oh ya, list ini sifatnya personal ya. Jadi jangan protes kalo nama-nama hebat seperti Asano Tadanobu, Watanabe Ken, Yakusho Koji, atau Abe Hiroshi gak masuk list ini. Saya sangat mengagumi mereka dan kayaknya kemampuan akting mereka udah banyak yang tahu, jadi ya gak perlu dimasukkan ke dalam list ini. Dan mengapa cuma tujuh orang? Well, pada awalnya saya berniat untuk memasukkan 10 orang ke daftar ini. Tapi ketika saya memikirkan tiga orang terakhir dari 10 orang itu, saya jadi sangat bingung.  Ada banyak aktor yang ingin saya masukkan, dan rasa suka saya sama mereka kurang lebih sejajar. Jadi daripada bingung mau milih yang mana, mending gak dimasukkan sama sekali (maaf ya, penulis blog ini emang pemalas). Jadi katakanlah daftar di bawah ini adalah daftar yang sudah pasti dan susah berubahnya.

Catatan: para aktor di bawah ini merupakan para aktor kelahiran antara tahun 70-an sampai 80-an awal. Mungkin suatu saat saya akan buat list baru tentang aktor favorit dengan usia yang lebih muda/lebih tua daripada yang ada list di bawah ini. Oke, mari dimulai saja listnya (btw bannernya menyusul ya).

Continue Reading »

gmhposterTerdapat dua buah kejutan kecil di tahun 2012 ini, setidaknya kejutan bagi para penggemar dorama sekaligus film Jepang. Ya, dua orang sutradara film Jepang yang namanya mungkin sudah tidak asing bagi para penggemar film di kalangan internasional tahun ini tiba-tiba melebarkan sayapnya ke dunia televisi dengan menyutradarai serial drama. Yang pertama adalah Kurosawa Kiyoshi (Pulse, Tokyo Sonata), yang pada awal tahun menyutradarai mini seri lima episode berjudul Shokuzai (Penance) yang ditayangkan di channel WOWOW. Sementara itu, di akhir tahun ini giliran sutradara Koreeda Hirokazu (Nobody Knows, After Life) yang memberi kita sebuah “hadiah manis” berupa dorama berjudul Going My Home yang akan saya review di postingan ini.

gmh1Going My Home bercerita tentang seorang pria yang bekerja sebagai CM (commercial movie) Producer bernama Tsuboi Ryota (Abe Hiroshi). Ryota sendiri adalah seorang pria yang sudah berkeluarga. Istrinya, Sae (Yamaguchi Tomoko), adalah seorang food stylist (semacam tukang masak masakan cantik untuk keperluan acara TV/majalah) terkenal. Sementara anak perempuan satu-satunya yang bernama Moe (Makita Aju), menimbulkan ‘masalah’ di sekolahnya karena mengaku bisa berkomunikasi dengan makhluk yang ‘tidak kelihatan’. Sebuah masalah terjadi ketika Ryota mendapat kabar bahwa ayahnya mendadak collapse yang berujung pada koma di sebuah kota bernama Nagano. Nagano sendiri adalah kampung halaman ayahnya ketika masih kecil, dan Ryota sendiri merasa heran mengapa ayahnya bisa berada di situ setelah sekian lama. Ryota sendiri kemudian mengunjungi ayahnya secara rutin ke rumah sakit kota tersebut bersama dengan ibu dan kakak perempuannya. Dan pada suatu hari ia melihat seorang perempuan muda cantik sedang mengunjungi ayahnya. Rasa penasaran akan hubungan ayahnya dengan perempuan misterius itu membawa Ryota ke sebuah daerah (masih di Nagano). Ia pun kemudian mengetahui bahwa perempuan yang ternyata bernama Shimojima Naho (Miyazaki Aoi) tersebut adalah putri dari teman lama ayahnya (diperankan Nishida Toshiyuki). Selain itu, ia juga mendapat kejutan lain mengenai alasan ayahnya mengunjungi Nagano beberapa bulan terakhir ini, yaitu berkaitan dengan pencarian sebuah makhluk kecil misterius yang diyakini bernama “Kuna”. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya pada Ryota? Apakah suatu hari ayahnya akan bangun dari komanya? Apa sebenarnya Kuna tersebut, dan apakah makhluk tersebut benar-benar ada? Dan untuk apa ayahnya mencari makhluk tersebut? Tonton aja deh.

gmh2-1Dorama bertema keluarga biasanya selalu berhasil meluluhkan hati saya, tidak terkecuali dengan dorama berjumlah 10 episode dengan judul Going My Home ini. Kata heartwarming rasanya merupakan salah satu kata yang tepat untuk mewakili kesan yang saya dapat dari menonton dorama ini. Dorama ini sendiri seperti filmnya Koreeda kebanyakan: lambat, tenang, sederhana, dan tanpa konflik yang berlebihan. Oleh karena itu, sebagian orang mungkin akan merasa dorama ini membosankan (apalagi jika kamu menyukai film/dorama bertempo cepat dengan konflik yang dramatis) dan tidak menarik. Tapi tidak dengan saya. Saya sangaaaat menikmati dorama ini dari awal sampai akhir. Yang paling saya suka dari dorama ini adalah gambaran suasana serta interaksi tokoh-tokohnya yang terlihat sangat natural dan realistis. Misalnya ketika kita melihat Ryota bersama dengan ibu dan kakak perempuannya. Mereka itu keluarga yang biasa-biasa saja dan bukan keluarga sempurna. Namun, ketika saya melihat mereka sedang berkumpul dan mengobrol bersama, saya seperti sedang melihat keluarga beneran. Interaksi antara Ryota dengan istri dan anak perempuannya pun terlihat sangat natural dan wajar. Mereka bukan tipe keluarga yang lengket atau apa, tapi mereka semua saling menunjukkan perhatiannya kepada satu sama lain dengan caranya masing-masing. Interaksi yang natural antara para anggota keluarga tersebut menurut saya sangat didukung oleh skenario dari dorama ini (yang ditulis Koreeda sendiri). Dialog-dialog yang ada di dorama menurut saya lucu dan gmh4menggelitik (meskipun bukan tipe lucu yang bikin tertawa terbahak-bahak, tapi lebih ke lucu yang bikin kita tersenyum kecil). Sepintas, dialog-dialog yang ada mungkin terdengar kurang penting karena banyak menyinggung hal remeh temeh. Namun, itulah yang menambah kerealistisan dorama ini, karena percakapan mereka rasanya seperti percakapan yang dilakukan oleh kebanyakan orang di kehidupan sehari-hari. Jadi para penyuka dorama bergenre slice of life, mungkin dorama ini akan menjadi pilihan yang sangat tepat untuk kamu tonton.

gmh3Dan selayaknya keluarga yang realistis, meskipun selalu bersama-sama setiap saat, bukan berarti kita sepenuhnya mengetahui segala hal tentang anggota keluarga kita yang lain. Dalam Going My Home, anggota keluarga yang menyimpan sebuah misteri adalah ayahnya Ryota. Meskipun sudah berpuluh tahun bersama, tapi ada juga hal-hal yang Ryota tidak ketahui mengenai ayahnya. Hal itu membawanya pada suatu hal bernama “Kuna”, sebuah makhluk kecil yang kabarnya dapat mempertemukan kita dengan orang yang sudah meninggal. Ryota yang tidak percaya pada segala hal yang tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat diam-diam mulai menunjukkan ketertarikannya pada “kuna”. “Kuna” ini sendiri tidak jelas apakah benar-benar ada atau tidak. Namun, ada atau tidak adanya “kuna” ini sendiri menurut saya bukanlah poin utama dorama ini. Peran “kuna” di sini adalah sebagai simbol harapan sekaligus penyesalan. Kita mungkin menyimpan banyak harapan terhadap orang-orang yang kita sayangi, misalnya anggota keluarga kita. Kadang-kadang, hal tersebut bisa saja berujung pada suatu penyesalan. Namun, adanya kedua hal itu menunjukkan bahwa rasa cinta pernah hidup di hati kita untuk orang-orang tersebut. Ya, hal-hal tersebut sama seperti “kuna”, sesuatu yang tidak bisa kita lihat dengan mata telanjang, tapi bukan berarti tidak ada. Hal itulah yang membuat dorama ini menjadi sangat ‘nancep’ ke hati ini.

gmh5Selain hal-hal yang saya sebut di atas, yang paling saya sukai dari dorama ini adalah jajaran castnya yang bagus. Abe Hiroshi sangat bagus aktingnya sebagai Ryota, pria canggung yang kadang berkelakuan awkward. Begitu juga dengan Yamaguchi Tomoko yang sangat pas berperan sebagai Sae, istri Ryota (btw dorama ini menandakan kembalinya Yamaguchi ke dunia akting setelah 16 tahun lamanya). Miyazaki Aoi pun tampil memikat sebagai seorang single parent bernama Naho. Para aktor-aktris lainnya seperti Nishida Toshiyuki, YOU, Yoshiyuki Kazuko, Arai Hirofumi, Abe Sadao, dan lain-lainnya pun memerankan perannya masing-masing dengan baik. Terakhir, jangan lupakan aktris cilik pendatang baru bernama Makita Aju yang tampil sangat memikat sebagai Moe, anak perempuan Ryota.

Secara keseluruhan, Going My Home merupakan salah satu dorama favorit saya di tahun 2012 ini (meskipun di negaranya dorama ini memiliki rating/viewership yang jeblok). Highly recommended, terutama untuk para penyuka dorama bergenre family & slice of life dan tidak keberatan dengan alur yang slow. 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

saigoposterYoshino Chiaki (Koizumi Kyoko) adalah seorang perempuan berusia 45 tahun yang sampai saat ini masih sendiri dan sudah lama tidak merasakan hubungan percintaan. Perempuan yang bekerja sebagai produser drama tv ini pun memutuskan untuk pindah rumah ke sebuah kota kecil bernama Kamakura untuk menikmati kesendiriannya dengan tenang. Di rumah barunya itu, ia bertetangga dengan sebuah keluarga yang dikepalai oleh seorang duda satu anak berusia 50 tahun yang bernama Nagakura Wahei (Nakai Kiichi). Pertemuan pertama pria yang bekerja di City Hall itu dengan Chiaki sedikit meninggalkan kesan yang buruk, sehingga setiap kali mereka bertemu obrolan mereka selalu diisi dengan berbagai macam perdebatan. Lalu ada Noriko (Ijima Naoko), adik perempuan Wahei yang berusia sama dengan Chiaki. Noriko sendiri sudah berumah tangga dan tidak tinggal di Kamakura. Namun, permasalahannya dengan keluarganya membuat ia sering datang dan menginap di rumah Wahei. Sementara itu, dua adik terakhir Wahei adalah sepasang anak kembar bernama Shinpei (Sakaguchi Kenji) dan Mariko (Uchida Yuki). Shinpei adalah seorang pria baik hati yang menganggap dirinya sebagai ‘volunteer’ bagi para perempuan kesepian seperti Chiaki. Sementara saudara kembarnya, Mariko, adalah perempuan introvert yang senang melakukan eksperimen terhadap sebuah dating site. Apa yang akan terjadi selanjutnya pada kehidupan baru Chiaki di kota tersebut? Apakah kisah cinta akan kembali menghampirnya? Tonton aja deh.

saigokara1Ada satu dialog di dorama ini yang kira-kira berbunyi begini: “orang-orang berusia 20 tahunan tidak akan tertarik menonton kisah cinta orang-orang yang sudah berusia 40-50 tahunan”. Dan dengan berat hati saya harus menyatakan ketidaksetujuan terhadap pernyataan tersebut, karena buktinya saya sangat menikmati dorama yang berjudul Saigo Kara Nibanme no Koi ini. Yeah, Saigo Kara Nibanme no Koi (judul bahasa Inggris: Second to Last Love) adalah sebuah dorama bertema komedi romantis yang melibatkan orang-orang yang sudah berusia sekitar 40 sampai 50 tahunan. Sepintas memang terasa kurang menarik bagi para penonton berusia muda, tapi meskipun begitu saya sendiri sangat menikmati dorama ini dari awal sampai akhir. Ceritanya sih sebenarnya tidak ada yang istimewa dan sudah banyak diangkat ke banyak dorama (misal: Around 40), yaitu tentang perempuan single di usia yang sudah tidak muda lagi yang tiba-tiba mengalami kehidupan percintaan lagi. Kehidupan percintaan di sini pun sebenarnya adalah kehidupan percintaan yang dapat dibilang lambat dan mungkin terasa tipikal: perempuan dan pria bertemu dan berdebat setiap saat namun sebenarnya saling menyimpan perasaan cinta yang tidak disadari. Sungguh klise dan terasa kekanakan karena tokoh utamanya saigokara2berusia lebih dari kepala empat, bukan? Namun, ceritanya yang klise dan tidak dapat dibilang original itu berhasil ditutupi dengan skenarionya yang benar-benar lucu dan cerdas. Pertengkaran dan perdebatan antara Chiaki dan Wahei bukanlah perdebatan yang bikin sebel, tapi malah menghibur karena perdebatan tersebut diisi dengan dialog yang lucu, menggelitik, dan turut membuat penonton turut berpikir (dan sedikit mengingatkan saya pada perdebatan-perdebatan antara Abe Hiroshi dan Natsukawa Yui di Kekkon Dekinai Otoko). Selain dialognya dengan Wahei, dialog Chiaki dengan tokoh-tokoh lainnya, seperti dua sahabatnya yang sesame single, para pekerja di kantornya, dan adik-adik Wahei juga tidak kalah lucu dan turut menghidupkan dorama ini. Oleh karena itu, bukan sebuah kejutan lagi ketika Okada Yoshikazu (penulis skenario drama ini) mendapatkan penghargaan Best Screenwriter berkat skenario dorama ini.

saigokara4Permasalahan-permasalahan yang meliputi kehidupan Chiaki dan Nagakura Family pun menurut saya lucu dan menghibur. Chiaki sendirinya awalnya tertarik pada Shinpei, pria dengan julukan “angel” yang selalu berusaha membuat orang lain bahagia dan menerima permintaan apapun dari Chiaki selama ia tidak diharuskan berkomitmen. Shinpei sendiri menyimpan sebuah rahasia yang menjadi alasannya untuk tidak terikat dengan seorang perempuan. Hubungan Chiaki dengan Shinpei merupakan salah satu langkah awal dari Chiaki untuk mencari cinta yang sebenarnya. Selain Wahei dan Shinpei, ia juga dihadapkan pada permasalahan-permasalahan lain yang melibatkan anggota keluarga Nagakura lainnya, seperti Noriko yang sering merasa sebal pada Chiaki karena kehidupannya yang lebih baik darinya (dan suaminya yang sempat ‘tertarik’ pada Chiaki), dan Mariko yang tiba-tiba merasakan suatu ‘perasaan khusus’ terhadap Chiaki. Permasalahan dalam dorama ini juga tidak hanya seputar Chiaki saja. Wahei pun turut tertimpa sebuah masalah (atau keberuntungan?) ketika ia ditawari omiai (semacam perjodohan) dengan dua orang perempuan yang merupakan ibu dan anak. Bagian omiai ini menurut saya merupakan salah satu bagian paling lucu dan saya suka ekspresi Nakai Kiichi dalam usahanya menolak  ibu dan anak tersebut 😀

saigokara3Selain didukung skenario yang bagus, dorama ini juga didukung dengan jajaran castnya yang sempurna. Koizumi Kyoko (one of my favorite obasan joyuu) sudah tidak perlu diragukan lagi lah ya aktingnya, begitu juga dengan Nakai Kiichi yang berperan sebagai ‘lawan debat’-nya Chiaki. Ijima Naoko dan Sakaguchi Kenji juga turut bermain bagus di sini, tapi yang menjadi kejutan bagi saya adalah Uchida Yuki yang berperan sebagai Mariko, si bungsu berpenampilan aneh dan berkelakuan awkward. Karakter yang diperankannya merupakan karakter yang paling saya suka di dorama ini. Dan perkembangan yang terjadi pada karakter ini pun menurut saya adalah perkembangan yang paling tidak terduga.

Overall, saya sangat menyukai dorama ini. Dialog, interaksi, dan suasana-suasana yang ada di dorama ini (btw saya juga jadi pengen tinggal di Kamakura :D) sangat mendukung cerita yang sebenarnya sudah basi tersebut menjadi sebuah tontonan yang sangat menghibur. Well, ada juga sih hal yang menurut saya menjadi kelemahan dorama ini, seperti bagaimana dorama ini sepertinya ingin sekali menunjukkan bahwa pasangan yang benar-benar serasi adalah pasangan yang selalu berdebat setiap kali bertemu (dan ini bukan hanya ditunjukkan melalui karakter Wahei+Chiaki saja). Tapi secara keseluruhan, dorama ini menurut saya tetep recommended banget, terutama untuk pecinta romantic comedy dengan skenario yang berkualitas. Jadi, 4 bintang deh untuk dorama ini.

Rating : 1 2 3 4 5

dfposterInfernal Affairs adalah salah satu film Hong Kong yang menjadi favorit saya. Film ini adalah sebuah film yang tidak hanya bagus secara kualitas, tapi juga dari segi pendapatan (di negaranya film ini disebut-sebut sebagai box office miracle). Hollywood pun sudah pernah me-remake film ini dengan judul The Departed (sayangnya belum nonton). Kali ini, film ini kembali dilirik sineas dari negara lain, yaitu Jepang, untuk dibuat adaptasinya. Namun, adaptasi kali ini tidak berbentuk film layar lebar, melainkan drama spesial dua episode yang ditayangkan di dua stasiun tv yang berbeda.

df1Adaptasi baru Infernal Affairs ini memiliki judul Double Face. Ceritanya sendiri, sama seperti pada Infernal Affairs, yaitu tentang dua orang pria yang menjalani dua peran. Nishijima Hidetoshi memerankan tokoh Moriya Jun (karakternya Tony Leung di IA), seorang polisi yang menyusup ke dalam suatu kelompok yakuza dan menjalankan perannya sebagai yakuza selama bertahun-tahun. Sementara itu, Kagawa Teruyuki memerankan tokoh Takayama Ryosuke (karakternya Andy Lau di IA), seorang yakuza yang menyusup ke kepolisian dan menjalankan perannya sebagai polisi selama bertahun-tahun juga. Episode pertama drama spesial ini (yang punya judul Sennyuu Sousa Hen) ditayangkan di channel TBS. Bagian ini berfokus pada kehidupan Moriya Jun sebagai seorang polisi yang sudah lelah menjalani perannya sebagai yakuza. Sementara itu, episode kedua (yang punya judul Giso Keisatsu Hen) yang ditayangkan di channel WOWOW berfokus pada kehidupan Takayama, polisi mata-mata yakuza yang tampaknya punya sebuah rencana sendiri. Lalu, apa yang akan terjadi pada dua orang ini? Dan yang terpenting, apakah drama spesial ini merupakan adaptasi yang berhasil?

df2Double Face adalah salah satu contoh remake yang patuh terhadap sumber aslinya. Jalan cerita, adegan, dialog, dan karakter-karakter drama ini, hampir semuanya mirip dengan film aslinya. Well, ada beberapa perubahan dan tambahan-tambahan juga sih (dan kabarnya ada sedikit cipratan dari Infernal Affairs 2, tapi saya belum nonton film yang itu jadi gak tahu), tapi tidak sampai merusak esensi dari film aslinya dan malah membuat drama ini menjadi lebih matang dari film aslinya. Yeah, karena terbagi menjadi dua bagian (masing-masing episodenya berdurasi 90 menitan, berarti total dua kali lebih lama dari film aslinya), latar belakang kedua tokoh utamanya menjadi lebih kuat dan lebih dikembangkan. Dan meskipun saya sudah menonton film aslinya dan tahu apa saja yang akan terjadi selanjutnya, saya tetap berhasil dibuat deg-degan dan harap-harap cemas menanti adegan selanjutnya. Intinya, menurut saya drama spesial ini merupakan remake yang berhasil.

df3Dua aktor utama drama spesial ini berhasil memerankan perannya masing-masing dengan sangat baik. Nishijima Hidetoshi menurut saya tidak kalah bagus aktingnya dengan Tony Leung. Ia bisa menyampaikan rasa lelah dan frustrasinya sebagai undercover police cukup dengan ekspresi wajah saja. Kagawa Teruyuki pun menghidupkan peran Takayama Ryosuke dengan tidak kalah baiknya meskipun pada awalnya saya protes karena Kagawa Teruyuki tidak ganteng seperti Andy Lau. Namun, jika menurut saya karakter Moriya punya karakteristik yang kurang lebih sama dengan karakter aslinya, image Takayama menurut saya agak berbeda dengan image karakter yang diperankan Andy Lau. Karakter Takayama di sini adalah karakter yang sangat serius. Berdasarkan hal ini, ditambahkan juga beberapa perbedaan dengan film aslinya. Seperti kemunculan tokoh Mari (Aoi Yu) yang punya karakteristik sama dengan Mary di Infernal Affairs tapi punya posisi yang berbeda dengan yang di Infernal Affairs. Peran Aoi Yu di sini menurut saya sangat mendukung perbedaan karakter Takayama yang tampaknya punya usia beberapa tahun lebih tua dari karakter di film aslinya. Selain mereka, aktor aktris lain seperti Kadono Takuzo, Wakui Emi, Ito Atsushi, dan Kohinata Fumiyo juga turut berakting baik sebagai para pemeran pendukung, terutama Kohinata Fumiyo yang berperan sebagai seorang bos yakuza yang memiliki kharisma yang jauh lebih besar dari karakter di film aslinya. Secara teknis, drama spesial ini menurut saya memiliki teknis yang juara banget. Sebagai tayangan televisi, film ini memiliki gambar dan sinematografi yang sudah menyerupai film bioskop. Musik yang digunakan pun bagus, dan turut mendukung suasana-suasana yang ditampilkan di drama ini.

df4Hubungan antara Moriya dan Takayama di sini sendiri agak berbeda dengan film aslinya. Mereka memang sama-sama digambarkan saling mencari, tapi mereka tidak memiliki ‘keakraban’ seperti yang ada di film aslinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa adaptasi yang ini lebih menyorot kehidupan mereka berdua secara individual. Dan seperti judulnya, inti utama Double Face adalah ‘dua wajah’ yang dikenakan oleh dua orang tokoh utama ini. Saking lamanya memerankan dua wajah tersebut, mereka sampai tidak tahu lagi mana wajah mereka yang sebenarnya. Dan seperti pada adegan pertama, mereka bagaikan anjing kecil yang ditelantarkan. Tidak tahu apakah mereka akan kembali lagi kepada pemilik yang sebenarnya. Well, 4 bintang deh. Recommended!

Rating : 1 2 3 4 5

Catatan: Info yang tidak begitu penting, mulai postingan ini, kategori tanpatsu saya ganti namanya jadi dorama sp ya.

Jika kamu pembaca setia blog ini (kayak ada aja), kamu pasti tahu siapa aktor Jepang yang paling saya suka saat ini. Ya, dia adalah Eita! Perkenalan saya dengan aktor yang punya nama lengkap Nagayama Eita ini bermula sekitar lima tahun yang lalu tepatnya di dorama Nodame Cantabile yang sangat populer itu. Di dorama itu ia berperan sebagai Mine Ryutaro, violinist bergaya rocker yang juga bersahabat dengan Nodame sang tokoh utama. Namun, saya baru menaruh perhatian padanya ketika melihat aktingnya di dorama Last Friends (dari lima tokoh utama di dorama itu, karakter Takeru yang diperankannya lah yang paling saya suka). Meskipun begitu, saya baru menyatakan diri sebagai penggemarnya setelah melihat aktingnya sebagai mahasiswa forensik penuh rasa ingin tahu di dorama berjudul Voice. Dan sejak saat itu, saya selalu berusaha untuk mencari dan menonton dorama-dorama atau film-film yang memasang Eita sebagai pemainnya. Apa yang membuat saya jatuh cinta pada aktor satu ini? Tentu saja aktingnya. Menurut saya, Eita termasuk aktor yang bisa memerankan berbagai macam peran, mulai dari peran serius sampai peran komedik. Dan setelah menonton sebagian besar film/dorama yang pernah dimainkannya, saya terpikir untuk membuat postingan khusus tentang lima film yang dibintanginya yang menjadi favorit saya. Siapa tahu list di bawah ini bisa jadi referensi tontonan atau sukur-sukur bisa bikin kalian tertarik untuk ‘mengenal’ Eita.

Continue Reading »