Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘bae doona’

Yo! Sejak postingan yang ini, sudah lama saya tidak menambah postingan baru di kategori Memorable Scene. Padahal banyak banget memorable scene dari berbagai macam film yang pengen saya bagi di sini. Tapi apa daya, saya selalu terserang penyakit males akut tiap niat ngepost itu (ngereview aja udah makin males sekarang :p). Mumpung lagi gak males dan tiba-tiba keingetan, sekarang saya mau ngebagi salah satu scene favorit saya dari film Jepang berjudul Linda Linda Linda (review singkatnya bisa dibaca di sini).

Linda Linda Linda (Japan, 2005)

Starring: Kashii Yu, Maeda Aki, Bae Doona, Sekine Shiori

Credit: ireul114@youtube

Adegan ending (jadi kalo belum nonton sebaiknya video di atas tidak usah dilihat jika tidak mau kenikmatan nontonnya terganggu) tersebut adalah salah satu adegan yang paling berkesan dari film ini. Adegan ini adalah adegan ketika Paranmaum (nama band sekolah yg menjadi fokus utama film ini) akhirnya berhasil tampil di panggung acara festival sekolah setelah mengalami berbagai kejadian, seperti kehujanan. Karena telat dan kehujanan, maka penampilan mereka pun terkesan seadanya (rambut basah dan kostum yang hanya seragam sekolah). Namun, meskipun seadanya, penampilan mereka sangat menyenangkan untuk dilihat. Memang, dari segi musikalitas, musikalitas yang mereka tampilkan tergolong biasa-biasa saja dan tidak ‘canggih’. Suara Bae Doona sang vokalis pun bukan tipe suara yang bagus-bagus amat. Namun, menonton penampilan ini membuat saya  merasa bersemangat dan  ingin menjadi bagian dari penonton lalu ikut loncat-loncat bersama mereka.  Dan setelah menonton adegan ini (atau filmnya secara keseluruhan), saya langsung terngiang-ngiang terus sama lagu berjudul Linda Linda yang mereka bawakan. Oh iya, setelah lagu ini masih ada satu lagu lagi sih, tapi yang saya tampilin di sini yg Linda Linda aja ya 😀

Tambahan, lagu ini juga memiliki sebuah music video yang memiliki sedikit perbedaan pada bagian musiknya dengan penampilan di atas. Ini dia music video-nya:

Credit: yuji82@youtube

Sekalian, ini lagu Linda Linda yang dibawakan oleh penyanyi aslinya, The Blue Hearts. Sebelum ada film Linda Linda Linda, lagu ini sudah termasuk populer sejak lama di Jepang.

Credit: chimalogy@youtube

Advertisements

Read Full Post »

Saya adalah penggemar kata-kata. Saya sering kali terkagum-kagum ketika melihat bahwa satu buah kata saja bisa dikembangkan menjadi banyak hal, termasuk menjadi tema film. Sutradara asal Korea Selatan bernama Park Chan-wook mungkin adalah salah satu orang yang berhasil mengembangkan satu buah kata ke dalam media film. Dan tidak tanggung-tanggung, tidak hanya satu film saja yang ia buat, tapi tiga film! Dan tiga film dengan cerita berbeda tersebut semuanya sama-sama bersumber dari satu kata saja, yaitu kata vengeance (sengaja pake istilah Inggrisnya, karena kalo dibahasa Indonesia-kan maka artinya jadi pembalasan dendam, dan jadinya dua kata dong, hehehe). Tiga film yang kemudian terkenal dengan sebutan Vengeance Trilogy tersebut masing-masing memiliki judul “Sympathy for Mr. Vengeance”, “Oldboy”, dan terakhir “Lady Vengeance”. Namun, yang akan saya bahas kali ini adalah film pertamanya yang berjudul “Sympathy for Mr. Vengeance”, sekaligus film terakhir yang saya tonton dari trilogi ini (urutan nonton: Oldboy -> Lady Vengeance -> Sympathy for Mr. Vengeance).

Alkisah dalam film ini ada seorang adik yang sangat menyayangi kakaknya. Adik tersebut bernama Ryu (Shin Ha-kyun), yang merupakan seorang penderita bisu-tuli. Kakak yang disayanginya ini terserang penyakit gagal ginjal. Karena sayang banget sama kakaknya, tentunya Ryu pun bertekad untuk menyumbangkan ginjalnya dong. Namun, sayangnya, golongan darah yang berbeda membuat Ryu tidak boleh mendonorkan ginjalnya tersebut. Dan sialnya, pada saat itu belum ditemukan pendonor baru untuk kakaknya. Padahal Ryu punya uang sebesar 10 juta Won yang bisa ia gunakan untuk membayar si pendonor. Di tengah keresahan hati Ryu akibat tidak adanya pendonor, ia melihat sebuah stiker yang memuat iklan tentang pasar gelap yang menjual organ tubuh manusia. Karena ingin kakaknya cepat-cepat sembuh, maka tanpa berpikir panjang Ryu pun menghubungi pasar gelap tersebut. 10 Juta Won yang ia miliki ternyata tidak cukup untuk membeli ginjal dari pasar gelap tersebut. Si penjual pun berkata bahwa Ryu bisa mendapatkan ginjal yang ia mau jika ia mau membayar uang tersebut beserta ginjal yang ia miliki. Demi kakaknya, ia pun mau menyumbangkan ginjal miliknya kepada pasar gelap tersebut. Setelah ginjalnya diambil, bangun-bangun ia mendapati dirinya dalam keadaan telanjang bulat dan para penjual organ tubuh tersebut menghilang beserta uang dan ginjal miliknya tersebut. Yeah, ia ditipu sodara-sodara. Dan yang paling naas adalah, setelah kejadian itu, dokter sang kakak memberitahu Ryu bahwa akhirnya ada pendonor yang mau menyumbangkan ginjalnya untuk sang kakak. Ryu hanya bisa terpaku mendengar hal itu. Ia sudah tidak punya uang lagi untuk membayar pendonor tersebut. Dan tentunya mendapatkan uang sebesar 10 juta won itu bukanlah hal yang mudah. Uang 10 juta won yang ia miliki sebelumnya pun ia dapatkan karena perusahaan tempat ia bekerja memecatnya (alias uang pesangon).

Ketika memikirkan bagaimana caranya untuk mendapatkan uang yang baru, Yeong-mi (Bae Doo-na) yg merupakan kekasih Ryu memberi Ryu ide untuk menculik anak perempuan dari Park Dong-jin (Song Kang-ho), mantan bos yang telah memecatnya tersebut. Awalnya Ryu menolak hal tersebut. Namun, Yeong-mi meyakinkan bahwa hal tersebut tidak akan menimbulkan kerugian apa-apa. Tinggal culik -> minta tebusan pada sang ayah-> diberi uang tebusan -> kembalikan si anak pada ayahnya. Terdengar mudah bukan? Toh si ayah adalah orang kaya. Kehilangan uang sebesar 10 juta won tidak akan membuatnya menjadi miskin. Akhirnya Ryu menyetujui ide tersebut. Penculikan pun dimulai. Namun, sebuah rencana tidak akan menjadi semudah kelihatannya ketika dilakukan bukan? Ya, penculikan yang ia lakukan kemudian berjalan tidak sesuai rencana. Sesuatu terjadi pada si anak, dan pembalasan dendam pun dimulai…

Menurut saya, film ini sangat berhasil dalam menggambarkan dendam dan akibatnya jika dendam tersebut dibalaskan. Pada awalnya, pas pertama nonton saya sempet dibikin ngantuk sama film ini. Dan baru 15 menit nonton saya langsung matikan filmnya. Mungkin karena waktu itu saya nonton pas mood-saya lagi gak tepat buat nonton tipe film sepi kayak gini ya, hehe. Ketika akhirnya saya mencoba menonton kembali film ini (yang adalah beberapa bulan setelah yang pertama itu :D), saya dibuat terhipnotis oleh cara penyampaian film ini. Film ini adalah sebuah film yang setelah menontonnya saya merasakan perasaan seperti…err..patah hati? Rasanya sedih banget di dada ini. Sedih di sini tidak sama seperti perasaan sedih ketika menonton film sedih yang mendayu-dayu ya. Namun sedih di sini lebih mirip kayak waktu abis nonton film All About Lily Chou-Chou. NYESEK! Nah, itu dia kayaknya kata yang lebih pas untuk menggambarkan perasaan saya setelah nonton film ini 😀

Melalui film ini, saya jadi mengerti kenapa orang-orang bijak selalu memberi nasihat agar kita jangan mudah mendendam. Kenapa? Karena dendam adalah suatu hal yang tidak akan pernah berujung. Ketika kita melakukan hal yang buruk pada seseorang, akan ada orang lain yang akan membalaskan perbuatan buruk kita tersebut. Dan setelah itu, akan ada orang lain juga yang akan membalaskan perbuatan orang yang membalaskan perbuatan buruk kita tersebut. Ribet ya? Hehe. Tapi itulah dendam. Seperti lingkaran setan yang tidak berujung. Ketika sebuah dendam dibalaskan, bukan berarti semua hal jadi selesai begitu saja. Yang ada, masalah-masalah baru yang akan muncul. Ya, setidaknya itulah yang saya tangkep dari film ini :D.

Dan faktor utama yang membuat film ini jadi sungguh menyesakkan jiwa adalah, karena pelaku-pelaku pembalas dendam dalam film ini pada dasarnya adalah orang-orang yang baik. Ryu dan Dong-jin itu adalah orang baik. Dan pembalasan dendam tersebut dilakukan semata-mata karena satu hal, yaitu kasih sayang mereka pada masing-masing orang yang mereka cintai. Saking sayangnya sama kakaknya, Ryu rela menyumbangkan ginjalnya pada orang tak dikenal. Saking sayangnya pada anaknya, Dong-jin rela untuk tidak melapor polisi dan menuruti perintah penculik demi keselamatan anaknya. Ketika segala hal tersebut tidak berjalan sesuai rencana dan menimbulkan hal yang buruk pada masing-masing orang yang mereka sayangi, perasaan dendam pun tumbuh di hati mereka.  Dari situlah mungkin judul film itu tercipta. Kita tidak bisa memihak mana yang salah dan mana yang benar di sini. Namun, kita sama-sama merasakan perasaan simpati kepada kedua tokoh yang berlawanan ini.

Dari segi thriller-nya, mungkin film ini tidak se-thrilling dan se-shocking Oldboy ya. Film ini menurut saya tergolong thriller yang sepi. Adegan-adegan berdarahnya tetap ada sih, dan ada beberapa adegan yang membuat emosi saya serasa diaduk-aduk, biarpun adukannya tidak sekencang Oldboy :D. Tapi menurut saya bukan itu poin dari film ini. Film ini seperti lebih ingin menunjukkan konsekuensi dari pembalasan dendam, dan bukan proses pembalasan dendam seperti pada Oldboy. Film ini juga lebih menunjukkan bagaimana kondisi psikologis para pelaku pembalas dendam, bahwa orang-orang baik seperti mereka saja bisa berubah dan mampu melakukan apa saja, termasuk hal-hal yang melampaui batas moral, ketika dendam tumbuh di hati mereka.

Overall, saya sangat menyukai film ini. Film ini cocok untuk ditonton oleh para penyuka film thriller, terutama thriller yang gak asal menegangkan saja, tapi juga bikin mikir. Ja, 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Jadi ceritanya saya lagi libur kuliah (tapi ikut sp satu mata kuliah sih) dan selama libur ini kerjaan saya nonton film terus. Saking banyaknya film yang ditonton, saya sampai bingung mau nge-review yang mana dulu. Karena itu kali ini saya akan nulis review singkat dari beberapa film (gak semua ya, kebanyakan soalnya :p) yang saya tonton belakangan ini. Mungkin kalau tidak malas, beberapa film dalam review ini akan saya buatkan review versi panjangnya.

1. Linda Linda Linda (Japan, 2005)

Salah satu film remaja Jepang yang cukup bagus dan menarik. Idenya sederhana, tentang sebuah band yang beranggotakan siswi-siswi SMU yang akan tampil dalam festival sekolah, namun menemui masalah yang menyebabkan dua personil band itu keluar (termasuk sang vokalis). Beberapa hari sebelum tampil, mereka pun mencari vokalis baru secara ‘asal’. Adalah  Son, siswi pindahan dari Korea Selatan, yang menjadi vokalis baru mereka. Lalu timbul berbagai kejadian sebelum mereka tampil, dan meskipun baru beberapa hari, karakter Son ini akhirnya menemukan kegembiraan dan semangat baru sejak bergabung dengan band tersebut. Film ini menarik dan cukup menghibur. Yang saya suka adalah ide cerita film ini sama sekali tidak muluk-muluk, namun tidak mengurangi daya tarik film ini. Akting Bae Doona sebagai orang Korea yang sekolah di Jepang sangat memikat. Begitu juga dengan Kashii Yuu. Terakhir, habis nonton film ini saya jadi terus terngiang-ngiang sama lagu Linda Linda dari The Blue Hearts yang mereka bawakan pada festival tersebut :D. 3,5 / 5

2. Kick-Ass (2010)

Sebenarnya saya tidak pernah tertarik  pada film-film bertema superhero. Bukan karena jelek, tapi memang bukan selera saya saja. Tapi begitu mendengar bahwa superhero-superhero dalam Kick-Ass bukanlah superhero beneran (maksudnya mereka tidak mempunyai kekuatan super), saya pun jadi pengen nonton film ini, dan ternyata saya menyukai filmnya. Film ini lucu dan segar. Humornya yang tergolong ke dalam humor-humor masa kini lumayan menghibur. Dan yang membuat film ini semakin menarik adalah karakter Hit Girl yang diperankan Chloe Moretz. Meskipun memancing banyak perdebatan, tapi saya cinta karakter ini. 4/5

3. Rainbow Song (Japan, 2006)

Nama Shunji Iwai yang berperan sebagai produser dan co-writer film ini lah yang membuat saya menonton film ini. Belum lagi ada Hayato Ichihara, Ueno Juri, dan Yu Aoi. Dan saya gak nyesel nontonnya! Ceritanya termasuk klise, tentang persahabatan yang menjadi cinta *ceileh*. Cewek dan cowok bersahabat, lalu si cewek mulai jatuh cinta pada si cowok. Tapi sebelum si cowok menyadari perasaannya pada si cewek, si cewek keburu meninggal (tenang ini bukan spoiler karena dari awal kita sudah diberitahu kalo ceweknya meninggal). Cerita seklise apapun kalau dikemas dengan baik, pasti akan jadi film yang bagus. Begitu juga dengan film ini. Saya sangat menikmati film ini dari awal sampai akhir. Ueno Juri berakting sangat bagus di film ini sebagai karakter cewek yang meninggal itu. Dan Hayato Ichihara, ini kali kedua saya melihat dia setelah melihatnya di Lily Chou-chou, dan penampilan fisiknya udah jauh berubah dari pas di Lily Chou-chou. Yu Aoi, meskipun kemunculannya tidak begitu banyak  tapi tetap menampilkan akting yang memikat. Sebenarnya film ini memiliki beberapa kekurangan, tapi tidak begitu mengganggu. Yang jelas, ini tipe film yang akan saya tonton berkali-kali. 3,75/5.

4. The Girl Who Leapt Through Time (Japan, 2006)

Akhir-akhir ini lagi ketagihan nonton anime yang berbentuk movie. Dan film ini adalah salah satu anime movie yang sangat saya rekomendasikan untuk ditonton! Tentang seorang siswi SMU yang tiba-tiba memiliki kemampuan untuk meloncati waktu. Dan kemampuannya ini digunakannya untuk mengubah hal-hal yang bisa dibilang sederhana, namun nantinya akan menimbulkan masalah. Film ini lucu dan menghibur, animasinya juga bagus. Selain itu film ini menampilkan kejutan yang tidak saya duga. Review panjangnya menyusul ya. 4/5.


5. The Notebook (2004)

Karena saya ini termasuk orang yang menyukai film-film cinta yang mengharu biru, awalnya saya kira film ini akan berhasil membuat saya termehek-mehek. Tapi nyatanya, dari awal sampai akhir, ekspresi saya tetap datar. Ya ya ya, mungkin ada yang salah pada diri saya karena sebagian besar orang yang menonton film ini mengatakan film ini mengharukan dan sebagainya. Tapi entahlah, saya tidak bisa merasakan kedalaman hubungan antara Noah dan Allie. Karakter Noah yang begitu hidup di bagian awal, setelah berpacaran dengan Allie kok rasanya jadi melempem dan tidak terasa semangatnya. Tapi di luar itu saya suka aktingnya Rachel McAdams. 2,75/5

6. Perfect Blue (Japan, 1998)

Anime movie juga, disutradarai oleh Satoshi Kon. Ceritanya tergolong berat dan sama sekali bukan konsumsi anak-anak karena menampilkan sedikit nudity dan kekerasan. Tentang seorang pop idol yang memutuskan ganti haluan menjadi seorang aktris. Dan hal ini menimbulkan masalah karena ada fans yang tidak setuju dan sebagai aktris ia dituntut untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak dia inginkan. Belum lagi setelah itu muncul persona/kepribadian lain yang terus menghantuinya. Sebuah thriller psychology yang lumayan mencekam. Endingnya juga mengejutkan dan gak ketebak. Sebenernya saya ngerasa kalo film ini dibikin jadi live action, pasti filmnya akan semakin bagus. Tapi okelah anime juga, meskipun saya agak kurang suka desain karakternya. 4,5/5

7. Being John Malkovich (1999)

Edan film ini bagus banget! Jenius! Ceritanya termasuk orisinil dan menampilkan kejutan-kejutan yang tak terduga. Skenarionya ditulis oleh orang yang menulis skenario Eternal Sunshine of The Spotless Mind yang sama-sama sangat orisinil, yaitu Charlie Kaufman. Dan, menurut saya film ini lebih mudah dimengerti daripada Eternal Sunshine. Setidaknya saya tidak perlu mengulang-ngulang beberapa adegannya agar bisa mengerti sepenuhnya seperti pada saat saya nonton Eternal Sunshine. Selain ceritanya yang jenius, film ini juga menurut saya termasuk menghibur dan sudah pasti film ini masuk ke daftar my all time favorite movies. Review panjangnya tunggu saja ya 😀 5/5

8. Aoi Tori / The Blue Bird (Japan, 2008)

Nonton film ini karena faktor Kanata Hongo, dan agak nyesel nontonnya. Mengangkat tema school bullying, sebenarnya film ini berpotensi jadi bagus. Tapi saya malah kebosanan mengikutinya. Karakter guru gagap yang dimainkan Abe Hiroshi sebenarnya unik, tapi entah kenapa saya tidak bisa bersimpati padanya, dan tanggapan saya padanya sama seperti tanggapan murid-murid di sini. Latar belakang anak yang pindah sekolah karena dibully itu pun kurang kuat, mungkin kalo ditampilkan potongan adegan-adegan yang menampilkan karakter ini ketika bersekolah di sekolah itu, film ini akan jadi lebih menarik. Dan Kanata Hongo, kerjanya cemberut aja sik, tapi tetep cakep *alah*. 2,5/5

9. Despicable Me (2010)

Filmnya lucu dan mengharukan, dan tentunya sangat menghibur. Lelucon-leluconnya sebenarnya banyak yang slapstick, tapi tidak begitu mengganggu kok. Dan sejak karakter Gru ini mengadopsi tiga anak yatim piatu tersebut, ceritanya jadi mudah ketebak, tapi meskipun begitu film ini tetap menghibur. Dan yang menonton film ini pasti jatuh cinta pada karakter minion-minion yang menggemaskan itu. Ihik. Pengen cari merchandise-nya. 3,75/5

Read Full Post »