Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘emoto akira’

longgoodbyeposterPertama-tama, mohon maaf karena sudah begitu lama menelantarkan blog ini. Saya agak terkejut ketika menyadari bahwa satu tahun sudah berlalu sejak terakhir kali saya menulis di sini. Well, tanpa perlu banyak ngeles, saya kembali pada blog ini dengan sebuah review baru. Mudah-mudahan setelah postingan ini saya akan mulai rutin menulis review kembali.

Yang akan saya review kali ini adalah sebuah dorama Jepang produksi channel NHK yang berjudul The Long Goodbye. Ada yang merasa familiar dengan judul tersebut? Ya, dorama ini merupakan adaptasi dari novel  tahun 1953 berjudul sama yang ditulis oleh Raymond Chandler, dan juga pernah difilmkan pada tahun 1973 oleh sutradara Robert Altman. Saya belum pernah membaca novel asli ataupun menonton adaptasi film terdahulunya, tapi fakta tersebut sudah cukup membuat saya tertarik untuk menonton dorama ini karena penasaran seperti apakah dorama Jepang yang diadaptasi dari novel barat. Belum lagi, bintang utama dorama ini adalah Asano Tadanobu dan salah satu bias saya Ayano Go yang lebih aktif berakting di film. Skenario dorama ini juga ditulis oleh Watanabe Aya yang merupakan penulis skenario asadora Carnation, salah satu dorama favorit saya sepanjang masa. Jadi, saya tidak punya alasan untuk tidak menonton dorama ini kan? 😀

longgoodbye1

Berlatar di Jepang dengan setting waktu pasca Perang Dunia II, The Long Goodbye bercerita tentang seorang detektif swasta bernama Masuzawa Banji (Asano Tadanobu) yang pada suatu hari menolong seorang pria mabuk bernama Harada Tamotsu (Ayano Go). Kejadian tersebut membuat keduanya menjalin semacam persahabatan, sampai suatu hari Tamotsu datang kepada Banji dan memberitahu bahwa ia menemukan istrinya, seorang aktris bernama Harada Shizuka (Ohta Rina), telah tewas di guest house rumah mereka. Sebagai orang pertama yang menemukan korban, bukan mustahil bahwa Tamotsu akan ditunjuk sebagai tersangka utama. Oleh karena itu, ia meminta Banji untuk membantunya kabur ke Taiwan. Setelah kepergian Tamotsu ke Taiwan, Banji ditangkap polisi karena dituduh menyembunyikan Tamotsu. Namun, ia kemudian dibebaskan setelah beberapa hari, tepatnya setelah adanya kabar bahwa Tamotsu telah mati bunuh diri di Taiwan dengan meninggalkan catatan pengakuan bahwa dirinya telah membunuh Harada Shizuka. Banji bagaimanapun tidak percaya pada pengakuan tersebut. Kecurigaannya disebabkan oleh Harada Heizo (Emoto Akira), ayah Shizuka, yang merupakan seorang politikus yang sebentar lagi akan mengikuti pemilu. Banji menduga Harada Heizo berada di balik kematian dan pengakuan palsu Tamotsu untuk kepentingan politiknya. Banji pun kemudian menyelidiki kasus pembunuhan tersebut untuk membuktikan bahwa Tamotsu tidak bersalah. Dalam usahanya menyelidiki kasus tersebut, ia bertemu dengan orang-orang baru, di antara adalah Kamiido Aiko (Koyuki), wanita cantik yang meminta bantuan Banji untuk menolong suaminya, Kamiido Joji (Furuta Arata), seorang novelis yang juga seorang pemabuk; Koumura Yoshino (Tominaga Ai), kakak kandung Shizuka yang percaya bahwa Tamotsu-lah yang membunuh adiknya; Morita (Takito Kenichi), seorang jurnalis surat kabar yang juga mencurigai adanya keanehan pada kematian Tamotsu (sekaligus narrator drama ini); Masatora (Yabe Kyousuke), seorang yakuza yang mengaku berteman dengan Tamotsu di kala menjadi prajurit pada PDII dan mengancam Banji agar berhenti menyelidiki kasus tersebut; dan tentunya, Harada Heizo sendiri, politikus yang namanya sedang berkibar dan kabarnya tidak memiliki hubungan baik dengan anaknya sendiri, Shizuka. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Banji akan berhasil menemukan pelaku sebenarnya dan membuktikan bahwa Tamotsu tidak bersalah? Dan mengapa Banji begitu mempercayai Tamotsu yang belum lama dikenalnya itu?

longgoodbye3

Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya belum membaca novel asli ataupun menonton film adaptasi terdahulunya, sehingga pada review ini saya tidak bisa membandingkan dorama ini dengan dua hal tersebut. Ini adalah dorama Jepang yang diangkat dari novel barat, dan kita dapat melihat dorama ini kental sekali dengan sentuhan “barat”-nya. Namun hal ini tidak terasa dipaksakan dan tidak mengurangi “ke-Jepang-annya” karena dorama ini memiliki setting waktu yang sangat tepat,yaitu pada pasca PDII di mana westernisasi sedang marak-maraknya melanda negeri matahari terbit itu. Dorama ini juga memiliki sinematografi yang sangat cantik. Meskipun dorama ini memiliki style ala film noir, tapi dorama ini tidak sepenuhnya gelap dan kelam (kalo dorama ini tayang di channel WOWOW, pasti bakal gelap banget, but it’s NHK guys). Warna-warna terang turut menghiasi dorama ini dan berpadu dengan sangat pas dengan unsur-unsur gelapnya, dan ditambah dengan irama musik jazz dari composer Otomo Yoshihide (yang setelah Amachan dan drama ini, menjadi salah satu composer favorit saya) menjadikan dorama berjumlah lima episode ini menjadi sangat enak untuk dipandang dan didengar.

longgoodbye2

Namun, dorama ini tidak berakhir sebagai sekadar dorama “cantik” saja. Saya suka ceritanya, yang mana membuat dorama ini tidak berakhir sebagai dorama detektif standar. Pertemuan Banji dengan Tamotsu dan bagaimana persahabatan mereka terjalin merupakan salah satu hal paling menyentuh dari dorama ini meskipun hal tersebut hanya digambarkan secara singkat di episode pertama. Apalagi, kedua orang itu memiliki kepribadian yang begitu bertolak belakang. Tamotsu, pria muda yang tampak tidak berguna dan hanya bisa menjadi “anjing peliharaan” istrinya tanpa disangka-sangka bisa tampak klop sekali dengan Banji, detektif handal yang mandiri dan tampak tidak membutuhkan apa-apa. Penggambaran hubungan kedua orang ini membuat kita dapat memahami alasan mengapa Banji bersikeras untuk mempercayai bahwa Tamotsu bukanlah pembunuh istrinya. Sebagai penggemar Ayano Go, saya awalnya deg-degan dan takut aktingnya gak bisa mengimbangi akting Asano Tadanobu yang termasuk aktor senior dan jauh berpengalaman. Tapi dia mampu berakting baik dan membangun chemistry yang sangat pas dengan Asano. Tokoh-tokoh lain yang kemudian terlibat dengan Banji pun berhasil diperankan dengan baik oleh masing-masing aktor/aktris. Tokoh yang kemudian menjadi fokus setelah Tamotsu adalah Kamiido Aiko, wanita cantik dengan karakter yang rapuh dan tampak menyimpan luka dari masa lalunya. Karakter tersebut diperankan dengan baik oleh Koyuki yang memang selalu cocok memerankan karakter wanita kaya yang cantik dan anggun. Selain mereka berdua, Furuta Arata sebagai Kamiido Joji, suami Aiko, juga berhasil mencuri perhatian dengan akting orang mabuknya.

Sebagai karakter utama sekaligus “hero” dorama ini, Asano Tadanobu pun berakting sangat baik sebagai Masuzawa Banji, versi Jepang dari karakter Philip Marlowe ciptaan Raymond Chandler, yang tidak hanya muncul di novel The Long Goodbye, tapi juga di beberapa novel karya Chandler lainnya. Saya tidak tahu sedekat apa penggambaran karakter Banji dengan karakter Marlowe, tapi akting Asano Tadanobu sangat berhasil di sini dan membuat saya mengharapkan suatu saat Masuzawa Banji akan kembali dengan adaptasi novel Chandler yang lainnya.

Overall, The Long Goodbye adalah salah satu dorama favorit saya di musim ini. Sebuah dorama detektif yang tidak sekadar tentang “detektif-mengungkap-kasus” tapi juga memiliki cerita yang dalam dan menyentuh hati tanpa perlu terlihat cheesy. Ditambah endingnya yang manis pahit, membuat dorama ini hampir sempurna. 4,5 bintang untuk dorama ini. Highly recommended!

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »

Kita mungkin masih sering bertanya-tanya, untuk apa sih hidup ini? Apa sih arti hidup? Seperti apa sih hidup yang bermakna itu? Dan seperti apa sih hidup yang tidak bermakna itu? Jawaban yang keluar mungkin bermacam-macam. Ada yang mengatakan hidup yang bermakna itu adalah hidup yang dipenuhi kesuksesan atau hidup yang  sesuai dengan keinginan. Ada yang mengatakan hidup yang tidak bermakna itu adalah ketika kita salah jalan, atau ketika kita tidak memiliki kegunaan bagi orang lain, terus mengalami kemalangan tanpa ada titik cerah, dan segala hal yang kita lakukan terasa sia-sia dan tidak ada artinya. Namun, apakah benar seperti itu?

Menonton Memories of Matsuko membuat saya kembali mempertanyakan hal-hal di atas. Sesuai judulnya, Memories of Matsuko bercerita tentang kehidupan seorang perempuan bernama Matsuko Kawajiri (Miki Nakatani). Dimulai dari narasi seorang pemuda bernama Sho Kawajiri (Eita), seseorang yang hidupnya terlihat tidak berguna sama sekali. Kabur dari rumah dua tahun yang lalu dengan tujuan untuk menjadi musisi, namun rencananya tidak berjalan sesuai keinginan. Keluar dari band-nya, diputuskan oleh pacarnya yang terang-terangan mengatakan bahwa “hidup bersamanya benar-benar membosankan”, membuat hidupnya terlihat benar-benar menyedihkan. Tidak ada hal yang dilakukannya selain menonton adult video di kamarnya yang sangat berantakan. Lalu tiba-tiba, setelah dua tahun tidak berhubungan dengan keluarganya, ia tiba-tiba kedatangan ayahnya (diperankan Kagawa Teruyuki), yang mengabari bahwa bibinya yang bernama Matsuko telah meninggal dunia karena dibunuh di sebuah taman entah oleh siapa. Sebelumnya Sho tidak pernah tahu bahwa dia memiliki seorang bibi bernama Matsuko. Ayahnya pun menjelaskan, bahwa Matsuko sudah puluhan tahun tidak berhubungan dengan keluarga mereka. “Her life was meaningless,” kata ayahnya. Ayahnya kemudian meminta Sho untuk membersihkan apartemen yang merupakan tempat tinggal Matsuko dulu. Dan datanglah Sho ke apartemen tersebut, apartemen yang dipenuhi sampah, dan menemukan beberapa hal yang membuatnya penasaran, seperti apakah bibinya tersebut? Seperti apakah kehidupannya yang menurut ayahnya “meaningless” tersebut?

Cerita pun berganti menyorot bagaimana kisah hidup dari karakter Matsuko ini, melalui narasi dari Matsuko sendiri. Matsuko ketika kecil adalah seorang anak manis yang kurang mendapat kasih sayang dari ayahnya. Ayahnya adalah orang yang baik dan sebenarnya menyayangi Matsuko, namun perhatiannya lebih ia tunjukan pada adik perempuan Matsuko yang sakit-sakitan. Ketika dewasa, Matsuko mendapat pekerjaan menjadi seorang guru SMP. Di sini Matsuko digambarkan sebagai guru ala Gokusen, guru yang mati-matian membela muridnya yang terkena masalah. Namun hal itu malah membawanya ke masalah baru yang membuatnya dipecat. Sejak itulah kehidupan Matsuko berubah total. Kecemburuannya pada adiknya membuat dia meninggalkan rumah itu, dan mengalami berbagai macam hal, seperti berpacaran dengan seorang pria yang sering melakukan kekerasan terhadapnya, menjadi simpanan seorang pria beristri, menjadi seorang “massage parlor girl”, membunuh seseorang, masuk penjara, berpacaran dengan yakuza, dan sebagainya. Hidupnya dipenuhi kemalangan, dan pada akhirnya hal tersebut membuat ia menutup diri dari kehidupan sosial, dan puncaknya ia terbunuh oleh entah siapa.  Selain oleh narasi Matsuko sendiri, kisah hidup Matsuko juga diceritakan dari sudut pandang orang-orang yang mengenal Matsuko di masa hidupnya kepada Sho. Hal tersebut membuat Sho semakin ingin bertemu dengan Matsuko, yang kata orang-orang yang mengenal Matsuko, sangat mirip dengannya.

Sebenarnya alasan saya menonton film ini hanyalah karena Eita bermain di dalamnya, dan saya tidak menyangka kalau filmnya ternyata bagus. Bukan bagus lagi, bagus banget malah. Menonton film ini membuat saya ikut terbawa ke dalam kisah hidup Matsuko yang sangat menyedihkan dan tidak pernah mendapat kebahagiaan untuk waktu yang lama. Oh ya sinopsisnya mungkin membuat kamu mengira kalau film ini adalah film sedih. Ya, ini memang film dengan cerita yang menyedihkan, namun semua itu digambarkan dengan penuh warna dan juga beberapa  unsur komedi. Memories of Matsuko adalah film komedi yang pahit, getir, dan menyedihkan. Dan kayaknya saya belum bilang ya kalo ini film musikal? Ini pertama kalinya saya nonton film musikal yang dibuat oleh Jepang, dan tanpa ragu saya mengatakan bahwa  film ini adalah salah satu film musikal terbaik yang pernah saya tonton. Selain itu visual film ini sangat bagus dan indah. Sinematografinya sangat oke, ditambah beberapa efek CGI yang tidak membuat visualnya jadi lemah, tapi malah membuat film ini menjadi semakin kaya.

Gaya penceritaan pada film ini mungkin akan mengingatkan kamu pada film Prancis berjudul Amelie (malah ada yang bilang kalo film ini lebih bagus dari Amelie). Namun, Matsuko sangat berbeda dengan Amelie. Amelie bisa dibilang merupakan karakter yang mesti dicontoh oleh banyak orang. Tapi Matsuko, dia bukan contoh karakter panutan. Sering kali ia salah jalan dan bersikap egois. Tapi, ada satu hal yang membuat karakter Amelie mirip dengan Matsuko. Mereka hanya ingin membawa kebahagiaan untuk orang lain. Matsuko hanya ingin membuat orang lain bahagia, namun sayangnya hal tersebut malah lebih sering berbuntut pada kemalangan. Ada satu quote bagus yang diucapkan oleh mantan pacar Sho: “A life isn’t valued by what one receives. But by what one gives.” Dan seperti itulah Matsuko, hidupnya mungkin terlihat meaningless karena ia lebih sering mendapat penderitaan dibanding kebahagiaan. Tapi di luar itu ia telah memberikan kebahagiaan kepada banyak orang di sekitarnya, meskipun mungkin tanpa disadari.

Kesimpulannya, Memories of Matsuko bukanlah film biasa. Ini adalah film yang sangat bagus. Cerita, visual, musik, serta akting yang gemilang dari para pemainnya, terutama Miki Nakatani sang pemeran Matsuko, yang lewat film ini meraih penghargaan pada kategori Best Actress di Asian Film Awards 2007, membuat film ini sangat layak ditonton. Film yang disutradarai oleh Tetsuya Nakashima ini juga dihiasi oleh beberapa cameo, seperti Kou Shibasaki, Kaela Kimura (yang sekarang menjadi istri dari Eita, gara-gara film ini), Anna Tsuchiya, Bonnie Pink, dan mungkin masih ada lagi tapi saya gak kenal :p Highly recommended!

P.S: lewat film ini, saya pertama kali melihat boyband bernama “Hikaru Genji”, salah satu boyband tertua dari agensi Johnny’s Entertainment yang sangat terkenal itu (di adegan mana? Lihat aja deh sendiri :D)

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »