Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘fukiishi kazue’

Di dunia ini, ada berapa banyak sih orang-orang yang tidak memiliki keluarga? Tentunya tak terhitung ya. Perceraian, kematian, ditelantarkan, adalah beberapa dari sekian banyak alasan seseorang tidak memiliki keluarga (atau merasa tidak memiliki keluarga). Dan, tidak punya keluarga itu kadang-kadang merupakan suatu hal yang merepotkan.  Anak dari seorang single parent kadang-kadang lebih sulit diterima untuk bersekolah di sekolah unggulan dibanding dengan anak dari orang tua yang lengkap. Seseorang dengan latar belakang keluarga tidak jelas pun akan menemui beberapa kesulitan dalam hidupnya, misalnya ketika ia ingin menikah (ditentang oleh orang tua si calon). Selain itu, banyak juga orang-orang kesepian yang membutuhkan sosok keluarga untuk mengusir rasa kesepiannya. Berdasarkan hal-hal tersebut, didirikanlah sebuah perusahaan rahasia (?) bernama “Family Romance”, sebuah perusahaan yang menyediakan layanan jasa “penyewaan keluarga”.

Adalah Yamamuro Shuji (Tamaki Hiroshi), direktur sekaligus pendiri Family Romance. Sampai sekarang, bisnis yang dijalankannya telah berjalan dengan baik dan tanpa kesulitan yang berarti. Suatu hari, seorang perempuan bernama Kobashi Beniko (Tanaka Rena) datang ke perusahaan tersebut untuk melamar pekerjaan. Tanpa banyak basa-basi, Beniko langsung diterima untuk menjalani masa trial. Beniko sendiri sebenarnya tidak begitu mengetahui tentang perusahaan itu. Oleh karena itu, ia pun langsung terkaget-kaget ketika mengetahui bahwa bisnis yang dijalankan perusahaan yang dilamarnya itu berupa bisnis penyewaan keluarga. Namun, ia tetap mencoba untuk menjalankan pekerjaan barunya tersebut. Suatu hari, perusahaan tersebut kedatangan seorang klien bernama Tozaki Ryunosuke (Takenaka Naoto). Tozaki adalah seorang pria tua kaya penderita kanker yang divonis hanya punya sisa waktu sekitar enam bulan saja. Terinspirasi dari sebuah film dokumenter berjudul “Ending Note” yang merupakan dokumenter berisi hari-hari terakhir seorang ayah yang direkam oleh anak perempuannya, Tozaki pun meminta untuk menyewa seorang istri dan anak perempuan untuk melakukan hal yang sama. Tozaki sendiri sebenarnya memiliki istri dan anak perempuan yang masih hidup, tapi mereka sudah berpisah selama enam tahun dan si istri menolak untuk kembali kepadanya meskipun suaminya tersebut sedang sakit keras. Yamamuro lalu menugaskan Beniko untuk berperan sebagai peran anak perempuan yang bertugas untuk memfilmkan hari-hari terakhir Tozaki. Karena masih baru, tentu saja Beniko masih merasa canggung dan kebingungan ketika bertugas di hari pertama. Namun, lama-lama ia jadi terbiasa juga dan mulai merasa bersimpati kepada Tozaki. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Beniko akan mulai menyukai pekerjaan anehnya tersebut? Apakah keluarga “asli” Tozaki akhirnya mau menemui Tozaki sebelum kematian menghampirinya? Dan, apakah alasan sebenarnya Yamamuro dalam mendirikan Family Romance ini?

Family Complex (judul bahasa Jepang: Kazoku Kashimasu) adalah sebuah drama spesial satu episode (alias tanpatsu) yang ditayangkan di channel NTV. Ide tanpatsu ini sendiri menurut saya cukup menarik meskipun tidak original karena mengingatkan saya pada film Noriko’s Dinner Table-nya Sono Sion (apalagi Fukiishi Kazue si pemeran Noriko juga ikut bermain dalam drama ini). Jika “family rental” dalam Noriko’s Dinner Table digambarkan sebagai bisnis gelap yang menyedihkan sampai-sampai para pegawainya sudah seperti kehilangan identitas, “family rental” dalam Family Complex digambarkan lebih cerah dan lebih normal. Para pegawai di Family Romance masih merupakan orang-orang normal dan punya keluarga masing-masing (seperti Beniko misalnya). Dan jika di Noriko’s Dinner Table penonton diposisikan untuk menentang bisnis tersebut, di Family Complex penonton seperti diposisikan untuk mendukung bisnis yang diceritakan sudah membantu banyak orang tersebut. Di luar hal itu, bisnis family rental di dua film berbeda itu kurang lebih hampir-hampir mirip lah (misalnya ada batas waktu khusus dan tidak boleh ada perpanjangan waktu).

Meskipun kurang original, saya sendiri cukup menikmati drama spesial ini. Berhubung klien utama yang diceritakan pada drama ini adalah seseorang yang sebentar lagi akan meninggal, kita pun akan menemukan beberapa adegan yang cukup menyentuh dan mengharukan meskipun gak sampe bikin nangis. Dan meskipun bercerita tentang penyewaan keluarga yang punya jasa besar, drama ini juga tidak jadi serta merta menyudutkan keluarga yang sebenarnya. Meskipun si klien cukup puas dengan jasa Family Romance, tapi sudah pasti ada juga perasaan ingin bertemu dengan keluarga sebenarnya yang sudah lama berpisah. Hal itu turut berpengaruh kepada para pegawai Family Romance, terutama Yamamuro si direktur yang tampaknya punya masa lalu buruk yang berkaitan dengan keluarganya.

Para pemain di drama ini berhasil menunjukkan akting yang baik. Tamaki Hiroshi cukup berhasil memerankan Yamamuro si pemimpin yang cukup berwibawa dan sampai sekarang masih suka terjun langsung dalam melaksanakan pekerjaannya (menyamar jadi anggota keluarga klien). Tanaka Rena juga berhasil menghidupkan perannya sebagai perempuan yang agak kikuk dan canggung. Takenaka Naoto yang merupakan aktor senior sudah tidak perlu diragukan lagi aktingnya di sini sebagai Tozaki. Selain mereka, jangan dilupakan kehadiran Sometani Shota dan Ando Sakura yang memberikan akting yang bisa diterima meskipun tampil tidak terlalu banyak (btw agak pangling liat Ando Sakura di sini yang tampil cukup manis sebagai seorang perempuan hamil). Well, secara keseluruhan menurut saya drama ini punya casting yang bagus mulai dari pemeran utama sampai pemeran pendukung.

Overall, saya cukup menyukai drama spesial ini. Drama ini enjoyable dan cukup menghibur, dan menurut saya punya potensi untuk dikembangkan menjadi sebuah dorama (berhubung saya pengen lihat jenis-jenis klien lainnya). 3,5 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 3,5 4 5

Advertisements

Read Full Post »

Dalam pertandingan sepak bola, ada sesuatu yang dinamakan perpanjangan waktu (injury time/additional time/loss time/apalah namanya itu), di mana suatu pertandingan mendapat tambahan waktu beberapa menit dengan beberapa syarat tertentu. Nah, apa jadinya jika hal tersebut berlaku juga di kehidupan nyata? Apa yang akan kamu lakukan jika kamu mendapat perpanjangan waktu di saat ajal akan menjemput?  Ide tersebut merupakan premis dasar dari dorama berjudul Loss:Time:Life, sebuah dorama yang bercerita tentang orang-orang yang diberi perpanjangan waktu ketika kematian mendekati mereka.

Loss:Time:Life sendiri adalah sebuah dorama berjumlah sembilan episode yang setiap episodenya memiliki cerita yang berdiri sendiri dan tidak memiliki kaitan secara langsung antara episode yang satu dengan yang lainnya (kecuali kaitan tema). Setiap episodenya memiliki satu orang tokoh utama yang diceritakan menemui ajalnya dengan cara yang berbeda-beda. Misalnya di episode pertama ada Nakayama Haruhiko (Eita), seorang fotografer berita yang mati karena tertembak oleh penjahat yang sedang diselidikinya. Ketika peluru hampir mengenainya, tiba-tiba waktu di ruangan itu berhenti dan empat orang berpakaian wasit datang menghampirinya. Salah satu di antaranya membawa sebuah papan bertuliskan tambahan waktu yang dimilikinya. Ya, sama seperti sepak bola, rupanya Haruhiko mendapat perpanjangan waktu beberapa jam sebelum ajal benar-benar menghampirinya. Dengan diawasi wasit-wasit tersebut, ia harus memanfaatkan sisa waktunya tersebut untuk menyelesaikan segala urusannya. Dan seperti sepak bola juga, terdapat berbagai aturan yang harus dipatuhi selama masa tambahan waktu tersebut, misalnya tidak boleh memberitahu orang lain bahwa dia sudah meninggal, tidak boleh mengganti baju, dan berbagai macam peraturan lainnya. Jika peraturan tersebut dilanggar, maka ia akan mendapat kartu kuning. Dan ketika tambahan waktu itu akan habis, ia diwajibkan untuk kembali ke tempat kematiannya dan melanjutkan hal yang menjadi takdirnya tersebut. Selain Haruhiko, masih ada delapan tokoh lagi dengan latar belakang dan cara kematian berbeda-beda yang mengalami hal serupa. Siapa saja kah mereka? Apa yang mereka lakukan dalam sisa waktunya tersebut? Apakah mereka benar-benar akan mati? Tonton aja deh.

Ini adalah salah satu dorama yang saya tonton karena faktor ada Eita-nya *ahem*, dan rupanya dorama ini berhasil memuaskan saya. Yang paling saya suka dari dorama ini tentu saja ide atau premisnya yang menarik. Dan ide tersebut berhasil dieksekusi dengan sangat baik. Meskipun punya premis yang terkesan repetitif (orang mati, dapat tambahan waktu, menyelesaikan urusannya, selesai), tapi si pembuatnya berhasil membuat setiap episodenya memiliki keunikan tersendiri yang membedakannya dari episode lainnya, sehingga saya selalu merasa menemukan hal yang baru di setiap episodenya. Setiap tokoh utama di masing-masing episodenya memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Selain Haruhiko si fotografer, masih ada delapan tokoh lain dengan profesi yang berbeda-beda. Ada yang seorang polisi (episode 2, diperankan Koyama Keiichiro), ibu rumah tangga (episode 3, diperankan Tomochika), perawat (episode empat, diperankan Ueno Juri), mangaka (episode 5, diperankan Ito Atsushi), aktor kurang terkenal (episode 6, diperankan Tanaka Naoki), istri yakuza (episode 7, diperankan Tokiwa Takako), wanita karir (episode 8, diperankan Maki Yoko), dan hikikomori (episode 9, diperankan Oizumi Yo). Cara kematiannya pun berbeda-beda, ada yang dibunuh, kecelakaan, bunuh diri, serangan jantung, bahkan ada yang sampai mati karena tersedak makanan. Tambahan waktunya pun berbeda-beda. Ada yang tiga jam, empat jam, lima jam, bahkan ada yang jauh lebih lama dari itu. Segala macam perbedaan tersebut membuat setiap episodenya memiliki daya tarik masing-masing dan menjadikan kesan repetitif itu menjadi tidak terlihat.

Selain itu, yang menarik lagi dari dorama ini adalah cara tokoh-tokoh tersebut menghabiskan waktunya yang tersisa. Yang paling saya suka adalah episode 4 yang memasang Ueno Juri sebagai tokoh utamanya. Di situ ia diceritakan sebagai seorang perawat yang mencoba bunuh diri setelah diputuskan pacarnya. Dan setelah ia mendapat tambahan waktu, yang ia lakukan adalah… mencoba bunuh diri lagi 😀 Selain episode itu, masih ada beberapa episode lainnya yang saya suka. Secara keseluruhan, episode-episode favorit saya adalah episode satu, tiga, empat, lima, dan delapan. Namun, selain episode-episode itu, episode-episode lainnya juga tidak kalah menarik kok. Dan yang paling saya suka adalah setiap episodenya selalu berhasil bikin saya merasa tersentuh dan gak rela kalau mereka bener-bener akan mati (dan saya emang lemah sama cerita yang temanya tentang kematian). Apalagi, melalui tambahan waktu tersebut, para tokoh di sini kemudian menemukan hal-hal berharga yang tidak pernah dialaminya ketika hidup dan tambahan waktu tersebut membuat mereka menjadi lebih menghargai kehidupan.

Di luar hal-hal di atas, yang paling saya suka di sini adalah… karakter wasit-wasitnya. Ya, kayaknya cuma di dorama ini malaikat maut digambarkan dengan sosok manusia berpakaian wasit. Wasit-wasit ini sendiri tidak pernah diperlihatkan berbicara, tapi gerak-gerik mereka selalu bisa bikin saya ketawa. Selain loss time, wasit, dan kartu kuning, ada satu lagi unsur dari pertandingan sepak bola yang dimasukkan di dorama ini dan membuat dorama ini menjadi lebih menarik. Ya, komentator! Pertandingan sepak bola pasti tidak akan seru jika tidak dilengkapi dengan suara komentator. Begitu juga dengan dorama ini. Seperti pada sepak bola, ada suara-suara yang mengomentari segala tindak-tanduk yang dilakukan tokoh-tokohnya (yang komentarnya banyak yang kocak). Bahkan untuk adegan tertentu ada juga yang diulang alias diberi tayangan replay-nya 😀 Hal-hal tersebut membuat dorama ini menjadi semakin menghibur dan meskipun bertema tentang kematian, dorama ini sama sekali tidak memberi kesan depresif.

Overall, saya sangat menyukai dorama berjumlah sembilan episode ini. Oh ya episode-episode di sini memang tidak memiliki kaitan secara langsung satu sama lain. Tokoh utama antara satu episode dengan episode lainnya diceritakan tidak saling mengenal. Tapi ada satu orang tokoh yang selalu ada di setiap episodenya, yaitu tokoh Omoto-san yang diperankan Nukumizu Youichi. Tidak terlalu jelas latar belakang karakter ini, dan berhubung dengan itu, dorama ini memiliki dua episode tambahan (overtime) yang berfokus pada kehidupan karakter itu (dengan ditambah pemeran lain seperti Kuriyama Chiaki dan Sakai Wakana). Sayangnya, dua episode itu menurut saya tidak semenarik sembilan episode sebelumnya dan tidak begitu menjelaskan apa maksud dari keberadaan tokoh itu. Di luar hal itu, karena setiap episodenya berdiri sendiri, menurut saya dorama ini bisa dinikmati secara acak alias tidak berurutan. Saya juga setelah episode satu langsung loncat ke episode 4 dan selanjutnya nonton berdasarkan urutan artis yang saya suka, dan hal itu sama sekali tidak mengganggu kenikmatan menonton dorama ini. Tapi saran saya, jika mau menonton secara acak, lebih baik episode pertama yang ditonton tetap episode 1 dan episode terakhir yang ditonton tetap episode 9 (tengah-tengahnya terserah mau nonton yang mana dulu). Well, 4 bintang deh 😀

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »