Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘hayashibara megumi’

“Do you know what tomorrow is? Tomorrow is my birthday.”

Iwai Shunji adalah sutradara Jepang pertama yang saya apresiasi. Maksudnya, sebelum menonton film-filmnya Iwai Shunji, saya termasuk tipe orang yang suka nonton film (dalam hal ini, film Jepang) tanpa peduli siapa sutradaranya. Tapi setelah menonton Hana and Alice dan All About Lily Chou-Chou (salah dua film yang disutradarai Iwai Shunji dan merupakan film-film favorit saya sepanjang masa), saya merasa perlu untuk mencari dan menonton karya-karyanya yang lain. Dan setelah itu, saya jadi mulai memperhatikan sutradara-sutradara film Jepang lainnya (tapi Iwai Shunji tetap akan mendapat tempat pertama di hati saya :)).

Saya sudah menonton hampir semua film yang disutradarai Iwai Shunji. Tapi menonton Ritual (judul asli: Shiki-Jitsu) adalah pengalaman pertama saya dalam melihatnya berakting. Ritual sendiri adalah sebuah film yang disutradarai oleh Anno Hideaki (yang terkenal sebagai sutradara anime legendaris Neon Genesis Evangelion). Di film ini, Iwai berperan sebagai seorang pria yang baru saja kembali ke kampung halamannya. Di hari pertama di kampung halamannya, ia melihat seorang perempuan aneh (diperankan Fujitani Ayako) sedang tiduran di rel kereta api sambil memegang payung berwarna merah. Beberapa saat kemudian, ia bertemu lagi dengan perempuan itu. Perempuan itu lalu berkata bahwa yang ia lakukan di rel kereta api tadi adalah sebuah ritual. Selain itu, ia juga memberitahu pria itu bahwa besok adalah hari ulang tahunnya.

Keesokkan harinya, pria itu datang lagi menemui si perempuan aneh yang masih melakukan ritualnya di rel kereta api. Pria tersebut datang dengan membawa kado ulang tahun untuk perempuan itu. Tapi perempuan itu menolaknya sambil berkata “ulang tahunku besok”. Besok dan besoknya lagi, pria itu kembali menemui perempuan itu. Dan perempuan itu tetap meracau bahwa besok adalah hari ulang tahunnya. Di hari keempat, perempuan itu mengajak si pria ke tempat tinggalnya. Tempat tinggal perempuan itu adalah sebuah bangunan beberapa lantai yang hanya diisi oleh “barang-barang yang disukai” perempuan itu. Pria tersebut juga akhirnya mengetahui bahwa perempuan itu masih punya beberapa ritual lainnya. Salah satunya adalah ritual “berdiri di tepian atap rumahnya”. Jika ia bisa berdiri tanpa berusaha melompat, maka artinya dia baik-baik saja. Di hari ketujuh, pria itu memutuskan untuk tinggal bersama dengan perempuan itu. Lalu diketahui bahwa pria tersebut ternyata berprofesi sebagai sutradara dan sejak saat itu ia berusaha memfilmkan kegiatan sehari-hari si perempuan.

Saya sudah menyukai film ini sejak adegan pertama film ini dimulai. Yeah, adegan pertama di film ini, yaitu ketika Iwai Shunji memandangi Fujitani Ayako (yang balas memandangnya sambil tersenyum) di rel kereta api itu memang sangat menarik perhatian dan membuat saya langsung berpikir “wah filmnya pasti aneh nih” dan “wah, kayaknya saya bakal suka banget film ini” (fyi, sebelum menonton film ini saya sama sekali tidak tahu informasi apapun tentang film ini kecuali Iwai Shunji bermain di dalamnya dan Anno Hideaki adalah sutradaranya). Dan setelah adegan itu, semakin lama filmnya menjadi semakin menarik. Menonton film ini mungkin akan membuat kita merasakan sesuatu yang sama dengan yang dirasakan karakter yang diperankan Iwai (yang tidak diketahui namanya dan hanya dipanggil dengan sebutan “Kantoku”/”Sutradara”). Yeah, seperti pada Kantoku, kita akan dibuat untuk terus tertarik dan penasaran ingin mengetahui lebih jauh tentang perempuan itu (yang juga sama sekal tidak diketahui namanya). Si perempuan memang punya kepribadian yang sangat unik dan menarik. Ia selalu berkata bahwa besok adalah hari ulang tahunnya. Dia juga selalu ceria dan selalu tersenyum. Tapi kita tahu bahwa sebenarnya ia hanyalah perempuan kesepian yang mencoba menciptakan dunianya sendiri untuk mengusir kesendiriannya. Ia juga hanyalah perempuan biasa yang butuh orang lain untuk selalu berada di sampingnya (dalam hal ini si Kantoku). Dapat ditebak bahwa ia punya masa lalu yang menyakitkan (yang tampaknya ada hubungannya dengan keluarganya) dan berusaha lari dari kenyataan yang menyakitkan tersebut. Sementara itu, Kantoku adalah kebalikan dari si perempuan. Seperti yang telah diketahui, ia adalah seorang sutradara yang ingin membuat film live action (sepertinya aslinya dia adalah sutradara anime, sama seperti Anno-sensei). Itu berarti dia dekat dengan dunia-dunia yang bersifat fiksi, dan menjadi lelah karena hal itu. Usahanya memfilmkan si perempuan adalah usahanya untuk lari dari dunia fiksi dan kembali ke kenyataan, meskipun hal tersebut seperti kontradiksi karena si perempuan sendiri berusaha lari dari dunia nyata.

Selain hal di atas, yang saya suka lagi dari film ini adalah sinematografinya yang sangat indah dan memberi kesan puitis. Film ini memang punya gambar-gambar yang indah, dan yang paling saya suka adalah keindahan tersebut ditempatkan pada keanehan. Yang paling saya suka adalah bangunan tempat tinggal si perempuan. Tempat tinggalnya itu terlalu aneh untuk disebut sebagai rumah. Isi dari tempat tinggal tersebut pun terlihat sangat ganjil. Namun, sutradaranya berhasil menampilkan keganjilan pada tempat tersebut menjadi sangat indah (terutama pada bagian basement yang gelap dan ‘banjir’, tapi terlihat sangat artistik dengan penempatan payung-payung warna merahnya). Film ini juga punya sentuhan dokumenter, seperti digambarkan pada usaha memfilmkan kegiatan sehari-hari si perempuan. Dan karena Anno Hideaki juga merupakan sutradara anime, di film ini juga disisipkan beberapa sentuhan animasi yang turut membuat film ini menjadi semakin unik. Di luar sinematografinya, saya juga sangat menyukai dialog-dialog dan interaksi antara Kantoku dan si perempuan. Begitu juga dengan narasinya yang dibawakan dengan sangat baik oleh Matsuo Suzuki dan Hayashibara Megumi.

Dari segi akting, Iwai Shunji tampaknya tidak mengalami kesulitan karena perannya tidak jauh-jauh dari profesinya sendiri dan juga tidak memiliki kompleksitas yang rumit. Bintang utama dari film ini tentu saja adalah Fujitani Ayako, yang aktingnya menjadi kejutan terbesar di film ini dan membuat saya terus tertarik untuk mengikuti filmnya. Saya cuma pernah melihat dia sebagai pemeran pendukung di Atami no Sousakan dan sebagai pemeran utama di salah satu segmen di film Tokyo!, sehingga aktingnya di sini membuat saya terkejut karena dia bisa berakting sebegitu bagusnya (dan kejutan yang lain: dia adalah anaknya Steven Seagal!). Tapi kejutan yang paling besar adalah film ini ternyata merupakan film yang diangkat dari novel yang ditulisnya sendiri. Buku dengan judul Touhimu tersebut bergenre fiksi, tapi di beberapa sumber buku ini juga disebut-sebut sebagai semi-autobiografi dari Fujitani Ayako berdasarkan pengalaman akan keterasingannya ketika tinggal di Los Angeles. Hal tersebut membuat saya bertanya-tanya apakah aktingnya di Ritual memang benar-benar ‘akting’ 😀

Well, secara keseluruhan saya sangat menyukai film ini. Satu-satunya yang menjadi poin minus film ini menurut saya cuma endingnya yang digambarkan terlalu jelas. Ya, di sebagian pertama filmnya kita bisa melihat bahwa permasalahan yang dialami si perempuan hanya diperlihatkan secara samar dan melalui beberapa penyimbolan. Di bagian akhir, permasalahan tersebut langsung dijelaskan secara sejelas-jelasnya, yang membuat penonton tidak perlu mereka-reka lagi mengenai apa yang terjadi sebenarnya pada si perempuan itu. Namun, mungkin ending seperti itu adalah ending yang paling cocok untuk film ini.Yosh, menurut saya film ini cocok ditonton oleh penyuka film yang “nyikologis”, penyuka film-film yang artistik, dan penyuka film yang puitis. Film ini juga cocok untuk ditonton penggemar Iwai Shunji yang mungkin penasaran ingin melihat seperti apa ketika dia berakting. 4 bintang 😀

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »