Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘henry hopper’

Kematian merupakan salah satu topik yang rasanya tidak akan pernah berhenti dibicarakan atau dijadikan sebagai tema sebuah film, seperti juga pada film terbaru karya sutradara Gus Van Sant (Good Will Hunting, Elephant) yang berjudul Restless ini. Dalam film ini, Gus Van Sant membawa kita pada topik mengenai kematian melalui sudut pandang seorang remaja.

Remaja itu bernama Enoch (Henry Hopper), seorang remaja laki-laki yang berbeda dari remaja kebanyakan, di mana ia sama sekali tidak bersekolah dan punya suatu obsesi khusus terhadap kematian. Ya, kematian. Obsesinya pada hal tersebut sudah ditunjukkan dari awal film ini, di mana ia terlihat sedang tiduran sambil ‘menggambar’ di aspal sesuai dengan lekuk tubuhnya (tunjuk poster), seperti yang biasa kita temukan pada lokasi bekas pembunuhan (untuk menandai posisi korban). Obsesinya pada kematian tidak hanya ditunjukkan melalui hal itu saja. Ia juga punya suatu hobi unik yaitu mengunjungi pemakaman orang-orang yang sama sekali tidak ia kenal. Dan satu hal yang paling ajaib adalah, ia memiliki teman yang merupakan sesosok hantu pilot Kamikaze yang bernama Hiroshi (Ryo Kase).

Pada suatu pemakaman yang didatanginya, ia bertemu dengan Annabel (Mia Wasikowska). Dan setelah beberapa kejadian, mereka mulai dekat dan saling jatuh cinta. Lalu belakangan diketahui bahwa Annabel ternyata seorang penderita kanker, dan menurut perkiraan dokter, hidupnya hanya tinggal menunggu 3 bulan lagi. Lalu, bagaimanakah sikap Enoch, si remaja yang terobsesi dengan kematian, dalam menghadapi kenyataan bahwa orang yang paling disayanginya akan menghadapi kematian tidak lama lagi?

Film yang bercerita tentang orang yang terkena penyakit ganas dan sebentar lagi akan meninggal memang sudah banyak. Tahun lalu juga ada 50/50 yang dibintangi Joseph Gordon-Levitt. Namun, film ini lebih memfokuskan pada sudut pandang orang yang akan ditinggalkan, yaitu karakter Enoch yang punya semacam obsesi khusus pada kematian. Karena obsesinya tersebut, saat pertama kali mendengar bahwa hidup Annabel tinggal tiga bulan lagi, ia mampu bersikap biasa dan bahkan melontarkan kalimat “orang bisa melakukan banyak hal dengan waktu 3 bulan. Kamu bisa belajar bahasa Prancis, pergi ke Afrika, blablabla…” dengan nada santai. Namun, meskipun begitu, pada dasarnya Enoch adalah manusia biasa yang punya rasa sedih. Ketika ajal semakin mendekati Annabel, rasa marah dan tidak rela mulai tumbuh di hati Enoch. Hal itu menunjukkan bahwa kematian memang punya pengaruh yang sangat kuat bagi orang-orang, termasuk pada diri Enoch sekalipun, yang pada awalnya masih bisa tertawa-tawa ketika mendengar gadis yang sangat disayanginya akan meninggal sebentar lagi.

Selain itu, melalui film ini juga kita ditunjukkan bahwa orang yang paling sulit menerima kematian bukanlah orang yang sebentar lagi akan meninggal, melainkan orang-orang yang ditinggalkan. Hal ini selain terlihat dari sikap Enoch juga terlihat dari sikap anggota keluarga Annabel. Sosok Annabel sendiri digambarkan tenang-tenang saja dalam menghadapi penyakitnya, yang menurut saya sebenernya kurang masuk akal sih karena kok bisa-bisanya sih ada orang setabah ini. Tapi mungkin ini supaya perbedaan antara karakternya (yang sebentar lagi akan meninggal) dan karakter Enoch (yang akan ditinggalkan) terlihat lebih kentara. Henry Hopper dan Mia Wasikowska berhasil menampilkan penampilan yang bisa diterima, meskipun bukan penampilan yang luar biasa. Jangan dilupakan karakter Hiroshi yang diperankan aktor Jepang favorit saya, Ryo Kase (alasan utama saya menonton film ini), yang menampilkan akting yang lumayan bagus di sini. Meskipun karakter ini sebenarnya rada gak jelas juga (hantu kah? Ilusi Enoch semata kah?), tapi karakter ini punya peran yang cukup penting untuk memberi sudut pandang yang lain mengenai kematian terhadap karakter Enoch.

Well, meskipun film ini mendapat berbagai macam review negatif dari berbagai kritikus, kenyataannya saya lumayan menikmati film ini. Meskipun ini bukan film yang tergolong luar biasa bagus dan berkesan, dan ada beberapa bagian yang rada datar dan membosankan, menurut saya ini bukanlah film yang buruk. 3,5 bintang deh untuk film ini 🙂

Rating : 1 2 3 3,5 4 5

Read Full Post »