Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘hiraoka yuta’

“When you love someone, just be brave to say that you want him to be with you. When you hold your love, don’t ever let it go. Or you will loose your chance to make your dream come true.” – (Endah N Rhesa – When You Love Someone)

Kutipan lirik lagu Endah N Rhesa di atas mungkin memang benar. Jika kamu mencintai seseorang, katakanlah hal itu padanya. Kalau tidak, bukan tidak mungkin orang yang kamu cintai itu akan keburu ‘diambil’ oleh orang lain. Hal itulah yang terjadi pada Iwase Ken (Yamashita Tomohisa). Sepanjang hidupnya, hanya ada satu perempuan yang ada di hatinya. Perempuan itu adalah Yoshida Rei (Nagasawa Masami) yang merupakan temannya sejak kecil. Dari kecil hingga dewasa, Ken dan Rei selalu bersama, dan hal tersebut membuat perasaan cinta perlahan-lahan tumbuh di hati Ken. Namun, Ken tidak pernah berani untuk mengungkapkan perasaannya tersebut kepada Rei. Padahal, Rei juga menaruh perasaan yang sama pada Ken. Tapi ya dasar cewek, selalu gengsi buat nyatain duluan dan maunya yang pertama ‘ditembak’. Meskipun Rei memberi sinyal positif, Ken tetap saja tidak pernah berani menyatakan cintanya pada Rei. Hal tersebut akhirnya membuahkan penyesalan pada diri Ken, ketika suatu hari akhirnya Rei memutuskan untuk menikah dengan Tada-sensei yang merupakan dosennya sendiri. Dengan berat hati, Ken menghadiri upacara pernikahan tersebut. Pada pernikahan tersebut, dalam hati Ken mengutuki dirinya sendiri yang tidak pernah berani menyatakan cintanya. Kalau saja ia menyatakan cintanya, mungkin saja yang berdiri di sebelah Rei bukanlah Tada-sensei, tapi dirinya. Di tengah pergulatan hati Ken tersebut, tiba-tiba muncul seorang pria setengah baya yang mengaku sebagai peri dari gereja tersebut. Peri gereja tersebut mengetahui apa masalah Ken dan ia menawari Ken untuk kembali ke masa lalu dan menyatakan cintanya pada Rei. Caranya? Melalui slide foto yang ditampilkan di acara pernikahan Rei. Ya jadi di acara pernikahan tersebut ada pemutaran slide foto Rei yang dari kecil hingga dewasa, di mana Ken juga selalu ikut serta di dalamnya (bersama teman-temannya yang lain). Melalui sihir si peri gereja, Ken kemudian kembali ke masa lalu tepatnya ke beberapa saat sebelum foto-foto tersebut diambil. Namun, dari foto ke foto, Ken tetap tidak bisa menyatakan perasaan cintanya pada Rei. Namun, meskipun begitu, bukan berarti ia tidak melakukan sesuatu. Daripada menyatakan cintanya, Ken lebih memilih untuk mengubah hal-hal kecil yang pernah terjadi di masa lalu, yang ternyata dapat membuat ekspresi cemberut Rei di kumpulan slide foto tersebut kemudian berubah menjadi senyuman. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Ken akan berhasil menyatakan perasaannya? Tonton aja kakaaaa…

Proposal Daisakusen adalah salah satu dorama Jepang favorit saya. Saya pertama kali nonton dorama ini sekitar tiga atau empat tahun yang lalu, tepatnya ketika saya sedang tergila-gila pada Yamapi, si pemeran Ken dalam dorama ini. Menurut saya, ini adalah salah satu dorama paling romantis yang pernah saya tonton. Saya suka sekali dengan jalan cerita dorama ini. Plot magical-nya juga membuat dorama ini menjadi sangat manis. Dorama ini juga berhasil membuat penontonnya merasa gregetan melihat sikap pengecut Ken yang tidak pernah berani menyatakan perasaan cintanya meskipun sudah diberi kesempatan kedua untuk mengulang masa lalunya. Saya sempat merasa berpihak sama Tada-sensei (yang diperankan dengan sangat pas oleh Naohito Fujiki yang meskipun sudah om-om tapi tidak pernah berkurang gantengnya) loh karena sikap Ken tersebut *meskipun nantinya kembali berpihak sama Ken*.

Untuk urusan akting, menurut saya aktor-aktris di sini berperan lumayan baik meskipun tidak spesial. Menurut saya akting Yamapi rada datar di sini (dan emang pada dasarnya mukanya emang datar). Tapi untung dia diberi karakter yang emang cenderung kurang ekspresif dan rada gengsian, jadinya pantes-pantes aja. Dan Masami Nagasawa, ya karakternya termasuk jenis karakter yang sering ia mainkan di dorama lain. Jadinya gak bikin saya ngerasa wow karena perannya termasuk standar. Tapi chemistry antara dua karakter utamanya lumayan dapet kok (mungkin karena Yamapi dan Masami udah pernah main bareng di dorama lain sebelumnya). Untungnya, meskipun akting dan karakteristiknya biasa, dorama ini memiliki kelebihan pada skenarionya yang menurut saya sangat bagus. Meskipun ke tengahnya jadi agak ngebosenin karena gitu-gitu aja, tapi tetap tidak membuat daya tarik dorama ini menjadi berkurang. Plus cerita persahabatan antara Ken, Rei, dan ketiga orang temannya yang lain turut membuat dorama ini tidak hanya berakhir menjadi sekadar dorama cinta-cintaan saja.

Sayangnya dorama ini memiliki ending yang sangat menggantung (yang membuat banyak orang, termasuk saya, semakin geregetan karena endingnya itu). Saran saya sih, abis nonton doramanya kalian langsung nonton SP-nya, karena SPnya yang merupakan lanjutan dari versi doramanya ini akan menjawab rasa penasaran anda mengenai hubungan Ken dan Rei selanjutnya. Overall, saya sih suka dorama ini. Melalui dorama ini, saya belajar bahwa meskipun mengubah masa lalu bisa mengubah keadaan  menjadi lebih baik, tapi hal yang kita lakukan di masa kini lah yang paling berperan penting dalam mengubah nasib kita. Tambahan, ending song dorama ini juga menurut saya enak banget dan menambah keromantisan dorama ini. So, saya kasih 4 bintang deh 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

Ada pepatah yang mengatakan bahwa yang telah pergi tidak akan mungkin kembali. Ya, ‘pergi’ di sini maksudnya meninggal dunia. Orang yang telah meninggal tidak akan mungkin kembali merasakan kehidupan di dunia sebagaimana ketika ia hidup. Tapi tidak dengan film ini. Apa yang akan kamu lakukan jika orang yang kamu sayangi, yang telah meninggal setahun yang lalu, tiba-tiba muncul kembali di hadapanmu?  Itulah yang menjadi premis dasar dari film Jepang dengan judul Ima, Ai ni Yukimasu atau lebih terkenal dengan judul Be With You ini. Dan ngomong-ngomong, ini bukan film horror 😀

Film ini bercerita tentang seorang pria bernama Aio Takumi (Shidou Nakamura) yang hanya tinggal berdua dengan anak laki-lakinya, Yuji (Akashi Takei), yang masih berusia 6 tahun. Ia kehilangan istrinya, Mio (Yuko Takeuchi), yang telah meninggal setahun yang lalu karena sakit. Meskipun sudah satu tahun berlalu, Takumi dan Yuji masih merasakan kehilangan yang teramat besar dan tidak bernah berhenti merindukan sosok Mio. Apalagi, Yuji memiliki keyakinan bahwa ibunya pasti akan kembali, karena sebelum meninggal Mio pernah berjanji bahwa ia akan kembali pada musim hujan satu tahun kemudian, sesuai dengan cerita pada buku cerita bergambar yang dibuatnya sendiri.

Musim hujan pun tiba. Di hari pertama di musim hujan, Takumi menemani Yuji ke hutan dekat rumah mereka untuk mencari time capsule yang pernah Yuji sembunyikan bersama ibunya. Dan, di hutan tersebut, mereka menemukan seorang perempuan dengan penampilan fisik yang sama persis dengan Mio. Namun, perempuan tersebut sama sekali tidak mengenali Takumi, Yuji, bahkan dirinya sendiri, serta tidak mengingat apa yang telah terjadi sebelumnya. Takumi pun menjelaskan pada perempuan tersebut bahwa namanya adalah Mio, dan dia adalah istrinya sekaligus ibu dari Yuji. Takumi pun membawa Mio ke rumahnya. Dan, meskipun tidak ingat apa-apa (termasuk tidak mengetahui bahwa dirinya sebenarnya sudah meninggal setahun yang lalu), Mio tetap berusaha menjalankan perannya sebagai ibu di rumah tersebut. Ia pun berusaha mengingat-ingat kembali dengan cara menanyakan pada Takumi tentang masa lalu mereka, seperti bagaimana mereka bisa bertemu, berpacaran sampai akhirnya menikah. Dan, meskipun ia tetap tidak bisa mengingat, sedikit demi sedikit Mio mulai merasakan kenyamanan di rumah tersebut dan mulai mencintai Takumi lagi. Hal tersebut tentunya menimbulkan kebahagiaan dan semangat baru bagi diri Takumi dan Yuji. Namun, apakah kebahagiaan tersebut akan berlangsung lama? Mengingat berdasarkan cerita bergambar yang dibuat Mio, Mio akan menghilang bersamaan dengan selesainya musim hujan. Jadi, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Mio akan tetap bersama mereka atau kembali ‘pergi’ seperti pada cerita bergambar tersebut? Tonton aja deh 😀

Touching. Itu adalah salah satu kata yang tepat untuk menggambarkan film ini. Film ini sangat menyentuh dan meninggalkan kesan yang dalam di hati saya. Menonton film ini membuat saya menangis, tapi menurut saya film ini bukanlah tipe film cengeng. Film ini mengalir dengan begitu sederhana dan tanpa perlu adegan yang berlebihan. Seperti ketika Takumi dan Yuji menemukan Mio, reaksi mereka memang terkejut, tapi sama sekali tidak berlebihan. Selain itu, yang membuat saya menyukai film ini adalah bumbu fantasi yang menghiasi film ini, yang membuat film ini terasa beda dari film-film romantis kebanyakan.

Yang paling saya suka dari film ini adalah kisah cinta antara Takumi dan Mio sebelum mereka menikah. Kisah cinta mereka sangat sederhana dan bisa dibilang sangat lambat, dan perjalanan mereka sampai akhirnya bisa menikah menurut saya manis sekali. Selain itu, kisah cinta mereka disajikan melalui dua sudut pandang, yaitu sudut pandang Takumi dan Mio (bikin saya jadi inget sama komik serial cantik berjudul Album Kenangan :D), yang bikin film ini semakin manis karena kita bisa tahu apa yang ada di benak mereka berdua. Pemeran Takumi dan Mio waktu masih SMA juga sangat mirip dengan mereka berdua ketika dewasa, terutama yang memerankan Takumi muda.

Kelebihan lainnya dari film ini adalah film ini tidak hanya bercerita tentang kisah cinta antara pria dan wanita saja, tapi juga cinta dalam keluarga. Yang perlu kita sorot di sini adalah tokoh Yuji, anak Takumi dan Mio yang masih berusia 6 tahun. Tokoh ini adalah salah satu tokoh penting yang membuat film ini jadi hidup. Saya suka melihat interaksinya dengan Takumi dan juga dengan Mio. Di sini keliatan banget kalo Yuji sangat menyayangi kedua orang tuanya. Misalnya ketika Mio sudah meninggal dan Yuji jadi dirawat sendiri saja oleh Takumi. Meskipun masih kecil, Yuji mampu menerima kekurangan-kekurangan ayahnya dan tidak bersikap egois. Mau deh punya anak kayak gini, hihi. Akashi Takei dengan usianya yang masih sangat kecil sangat sukses memerankan karakter Yuji dengan sangat sempurna. Lalu, bagaimana dengan Shidou Nakamura dan Yuko Takeuchi? Mereka pun sukses memerankan karakter masing-masing. Shidou Nakamura berhasil memerankan Takumi, seorang pria dengan fisik yang agak lemah dan sering kali merasa rendah diri, tapi memiliki hati yang sangat baik sehingga saya gak heran karakter Mio bisa jatuh cinta padanya. Yuko Takeuchi pun sukses memerankan Mio, seorang wanita yang sangat lembut dan keibuan. Chemistry antara keduanya pun sangat pas. Kabarnya, gara-gara film ini, mereka jadi menjalin hubungan cinta ‘beneran’ dan menikah pada tahun 2005, tapi sayangnya pernikahan tersebut hanya bertahan setahun karena akhirnya mereka bercerai *eh jadi ngegosip*.

Selain hal-hal di atas, bagian endingnya juga menjadi salah satu bagian terbaik dari film ini dan akan memberi pencerahan bagi para penonton yang bertanya-tanya mengapa karakter Mio bisa muncul kembali setelah setahun kematiannya. Seperti apakah endingnya? Tonton aja sendiri kalo mau tahu 😀 Yang jelas, saya sangat merekomendasikan film ini untuk para penyuka film, terutama penyuka tipe-tipe film romantis dan manis yang bercerita mengenai kekuatan cinta sejati *tsaaah*. Film ini juga menurut saya adalah salah satu film Jepang paling romantis yang pernah saya tonton, selain Love Letter-nya Shunji Iwai yang juga sama romantisnya (ngomong-ngomong yang suka Love Letter pasti suka juga film ini). Highly recommended! 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »