Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘ichikawa mikako’

Ada pepatah yang mengatakan bahwa yang telah pergi tidak akan mungkin kembali. Ya, ‘pergi’ di sini maksudnya meninggal dunia. Orang yang telah meninggal tidak akan mungkin kembali merasakan kehidupan di dunia sebagaimana ketika ia hidup. Tapi tidak dengan film ini. Apa yang akan kamu lakukan jika orang yang kamu sayangi, yang telah meninggal setahun yang lalu, tiba-tiba muncul kembali di hadapanmu?  Itulah yang menjadi premis dasar dari film Jepang dengan judul Ima, Ai ni Yukimasu atau lebih terkenal dengan judul Be With You ini. Dan ngomong-ngomong, ini bukan film horror 😀

Film ini bercerita tentang seorang pria bernama Aio Takumi (Shidou Nakamura) yang hanya tinggal berdua dengan anak laki-lakinya, Yuji (Akashi Takei), yang masih berusia 6 tahun. Ia kehilangan istrinya, Mio (Yuko Takeuchi), yang telah meninggal setahun yang lalu karena sakit. Meskipun sudah satu tahun berlalu, Takumi dan Yuji masih merasakan kehilangan yang teramat besar dan tidak bernah berhenti merindukan sosok Mio. Apalagi, Yuji memiliki keyakinan bahwa ibunya pasti akan kembali, karena sebelum meninggal Mio pernah berjanji bahwa ia akan kembali pada musim hujan satu tahun kemudian, sesuai dengan cerita pada buku cerita bergambar yang dibuatnya sendiri.

Musim hujan pun tiba. Di hari pertama di musim hujan, Takumi menemani Yuji ke hutan dekat rumah mereka untuk mencari time capsule yang pernah Yuji sembunyikan bersama ibunya. Dan, di hutan tersebut, mereka menemukan seorang perempuan dengan penampilan fisik yang sama persis dengan Mio. Namun, perempuan tersebut sama sekali tidak mengenali Takumi, Yuji, bahkan dirinya sendiri, serta tidak mengingat apa yang telah terjadi sebelumnya. Takumi pun menjelaskan pada perempuan tersebut bahwa namanya adalah Mio, dan dia adalah istrinya sekaligus ibu dari Yuji. Takumi pun membawa Mio ke rumahnya. Dan, meskipun tidak ingat apa-apa (termasuk tidak mengetahui bahwa dirinya sebenarnya sudah meninggal setahun yang lalu), Mio tetap berusaha menjalankan perannya sebagai ibu di rumah tersebut. Ia pun berusaha mengingat-ingat kembali dengan cara menanyakan pada Takumi tentang masa lalu mereka, seperti bagaimana mereka bisa bertemu, berpacaran sampai akhirnya menikah. Dan, meskipun ia tetap tidak bisa mengingat, sedikit demi sedikit Mio mulai merasakan kenyamanan di rumah tersebut dan mulai mencintai Takumi lagi. Hal tersebut tentunya menimbulkan kebahagiaan dan semangat baru bagi diri Takumi dan Yuji. Namun, apakah kebahagiaan tersebut akan berlangsung lama? Mengingat berdasarkan cerita bergambar yang dibuat Mio, Mio akan menghilang bersamaan dengan selesainya musim hujan. Jadi, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Mio akan tetap bersama mereka atau kembali ‘pergi’ seperti pada cerita bergambar tersebut? Tonton aja deh 😀

Touching. Itu adalah salah satu kata yang tepat untuk menggambarkan film ini. Film ini sangat menyentuh dan meninggalkan kesan yang dalam di hati saya. Menonton film ini membuat saya menangis, tapi menurut saya film ini bukanlah tipe film cengeng. Film ini mengalir dengan begitu sederhana dan tanpa perlu adegan yang berlebihan. Seperti ketika Takumi dan Yuji menemukan Mio, reaksi mereka memang terkejut, tapi sama sekali tidak berlebihan. Selain itu, yang membuat saya menyukai film ini adalah bumbu fantasi yang menghiasi film ini, yang membuat film ini terasa beda dari film-film romantis kebanyakan.

Yang paling saya suka dari film ini adalah kisah cinta antara Takumi dan Mio sebelum mereka menikah. Kisah cinta mereka sangat sederhana dan bisa dibilang sangat lambat, dan perjalanan mereka sampai akhirnya bisa menikah menurut saya manis sekali. Selain itu, kisah cinta mereka disajikan melalui dua sudut pandang, yaitu sudut pandang Takumi dan Mio (bikin saya jadi inget sama komik serial cantik berjudul Album Kenangan :D), yang bikin film ini semakin manis karena kita bisa tahu apa yang ada di benak mereka berdua. Pemeran Takumi dan Mio waktu masih SMA juga sangat mirip dengan mereka berdua ketika dewasa, terutama yang memerankan Takumi muda.

Kelebihan lainnya dari film ini adalah film ini tidak hanya bercerita tentang kisah cinta antara pria dan wanita saja, tapi juga cinta dalam keluarga. Yang perlu kita sorot di sini adalah tokoh Yuji, anak Takumi dan Mio yang masih berusia 6 tahun. Tokoh ini adalah salah satu tokoh penting yang membuat film ini jadi hidup. Saya suka melihat interaksinya dengan Takumi dan juga dengan Mio. Di sini keliatan banget kalo Yuji sangat menyayangi kedua orang tuanya. Misalnya ketika Mio sudah meninggal dan Yuji jadi dirawat sendiri saja oleh Takumi. Meskipun masih kecil, Yuji mampu menerima kekurangan-kekurangan ayahnya dan tidak bersikap egois. Mau deh punya anak kayak gini, hihi. Akashi Takei dengan usianya yang masih sangat kecil sangat sukses memerankan karakter Yuji dengan sangat sempurna. Lalu, bagaimana dengan Shidou Nakamura dan Yuko Takeuchi? Mereka pun sukses memerankan karakter masing-masing. Shidou Nakamura berhasil memerankan Takumi, seorang pria dengan fisik yang agak lemah dan sering kali merasa rendah diri, tapi memiliki hati yang sangat baik sehingga saya gak heran karakter Mio bisa jatuh cinta padanya. Yuko Takeuchi pun sukses memerankan Mio, seorang wanita yang sangat lembut dan keibuan. Chemistry antara keduanya pun sangat pas. Kabarnya, gara-gara film ini, mereka jadi menjalin hubungan cinta ‘beneran’ dan menikah pada tahun 2005, tapi sayangnya pernikahan tersebut hanya bertahan setahun karena akhirnya mereka bercerai *eh jadi ngegosip*.

Selain hal-hal di atas, bagian endingnya juga menjadi salah satu bagian terbaik dari film ini dan akan memberi pencerahan bagi para penonton yang bertanya-tanya mengapa karakter Mio bisa muncul kembali setelah setahun kematiannya. Seperti apakah endingnya? Tonton aja sendiri kalo mau tahu 😀 Yang jelas, saya sangat merekomendasikan film ini untuk para penyuka film, terutama penyuka tipe-tipe film romantis dan manis yang bercerita mengenai kekuatan cinta sejati *tsaaah*. Film ini juga menurut saya adalah salah satu film Jepang paling romantis yang pernah saya tonton, selain Love Letter-nya Shunji Iwai yang juga sama romantisnya (ngomong-ngomong yang suka Love Letter pasti suka juga film ini). Highly recommended! 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Kita mungkin masih sering bertanya-tanya, untuk apa sih hidup ini? Apa sih arti hidup? Seperti apa sih hidup yang bermakna itu? Dan seperti apa sih hidup yang tidak bermakna itu? Jawaban yang keluar mungkin bermacam-macam. Ada yang mengatakan hidup yang bermakna itu adalah hidup yang dipenuhi kesuksesan atau hidup yang  sesuai dengan keinginan. Ada yang mengatakan hidup yang tidak bermakna itu adalah ketika kita salah jalan, atau ketika kita tidak memiliki kegunaan bagi orang lain, terus mengalami kemalangan tanpa ada titik cerah, dan segala hal yang kita lakukan terasa sia-sia dan tidak ada artinya. Namun, apakah benar seperti itu?

Menonton Memories of Matsuko membuat saya kembali mempertanyakan hal-hal di atas. Sesuai judulnya, Memories of Matsuko bercerita tentang kehidupan seorang perempuan bernama Matsuko Kawajiri (Miki Nakatani). Dimulai dari narasi seorang pemuda bernama Sho Kawajiri (Eita), seseorang yang hidupnya terlihat tidak berguna sama sekali. Kabur dari rumah dua tahun yang lalu dengan tujuan untuk menjadi musisi, namun rencananya tidak berjalan sesuai keinginan. Keluar dari band-nya, diputuskan oleh pacarnya yang terang-terangan mengatakan bahwa “hidup bersamanya benar-benar membosankan”, membuat hidupnya terlihat benar-benar menyedihkan. Tidak ada hal yang dilakukannya selain menonton adult video di kamarnya yang sangat berantakan. Lalu tiba-tiba, setelah dua tahun tidak berhubungan dengan keluarganya, ia tiba-tiba kedatangan ayahnya (diperankan Kagawa Teruyuki), yang mengabari bahwa bibinya yang bernama Matsuko telah meninggal dunia karena dibunuh di sebuah taman entah oleh siapa. Sebelumnya Sho tidak pernah tahu bahwa dia memiliki seorang bibi bernama Matsuko. Ayahnya pun menjelaskan, bahwa Matsuko sudah puluhan tahun tidak berhubungan dengan keluarga mereka. “Her life was meaningless,” kata ayahnya. Ayahnya kemudian meminta Sho untuk membersihkan apartemen yang merupakan tempat tinggal Matsuko dulu. Dan datanglah Sho ke apartemen tersebut, apartemen yang dipenuhi sampah, dan menemukan beberapa hal yang membuatnya penasaran, seperti apakah bibinya tersebut? Seperti apakah kehidupannya yang menurut ayahnya “meaningless” tersebut?

Cerita pun berganti menyorot bagaimana kisah hidup dari karakter Matsuko ini, melalui narasi dari Matsuko sendiri. Matsuko ketika kecil adalah seorang anak manis yang kurang mendapat kasih sayang dari ayahnya. Ayahnya adalah orang yang baik dan sebenarnya menyayangi Matsuko, namun perhatiannya lebih ia tunjukan pada adik perempuan Matsuko yang sakit-sakitan. Ketika dewasa, Matsuko mendapat pekerjaan menjadi seorang guru SMP. Di sini Matsuko digambarkan sebagai guru ala Gokusen, guru yang mati-matian membela muridnya yang terkena masalah. Namun hal itu malah membawanya ke masalah baru yang membuatnya dipecat. Sejak itulah kehidupan Matsuko berubah total. Kecemburuannya pada adiknya membuat dia meninggalkan rumah itu, dan mengalami berbagai macam hal, seperti berpacaran dengan seorang pria yang sering melakukan kekerasan terhadapnya, menjadi simpanan seorang pria beristri, menjadi seorang “massage parlor girl”, membunuh seseorang, masuk penjara, berpacaran dengan yakuza, dan sebagainya. Hidupnya dipenuhi kemalangan, dan pada akhirnya hal tersebut membuat ia menutup diri dari kehidupan sosial, dan puncaknya ia terbunuh oleh entah siapa.  Selain oleh narasi Matsuko sendiri, kisah hidup Matsuko juga diceritakan dari sudut pandang orang-orang yang mengenal Matsuko di masa hidupnya kepada Sho. Hal tersebut membuat Sho semakin ingin bertemu dengan Matsuko, yang kata orang-orang yang mengenal Matsuko, sangat mirip dengannya.

Sebenarnya alasan saya menonton film ini hanyalah karena Eita bermain di dalamnya, dan saya tidak menyangka kalau filmnya ternyata bagus. Bukan bagus lagi, bagus banget malah. Menonton film ini membuat saya ikut terbawa ke dalam kisah hidup Matsuko yang sangat menyedihkan dan tidak pernah mendapat kebahagiaan untuk waktu yang lama. Oh ya sinopsisnya mungkin membuat kamu mengira kalau film ini adalah film sedih. Ya, ini memang film dengan cerita yang menyedihkan, namun semua itu digambarkan dengan penuh warna dan juga beberapa  unsur komedi. Memories of Matsuko adalah film komedi yang pahit, getir, dan menyedihkan. Dan kayaknya saya belum bilang ya kalo ini film musikal? Ini pertama kalinya saya nonton film musikal yang dibuat oleh Jepang, dan tanpa ragu saya mengatakan bahwa  film ini adalah salah satu film musikal terbaik yang pernah saya tonton. Selain itu visual film ini sangat bagus dan indah. Sinematografinya sangat oke, ditambah beberapa efek CGI yang tidak membuat visualnya jadi lemah, tapi malah membuat film ini menjadi semakin kaya.

Gaya penceritaan pada film ini mungkin akan mengingatkan kamu pada film Prancis berjudul Amelie (malah ada yang bilang kalo film ini lebih bagus dari Amelie). Namun, Matsuko sangat berbeda dengan Amelie. Amelie bisa dibilang merupakan karakter yang mesti dicontoh oleh banyak orang. Tapi Matsuko, dia bukan contoh karakter panutan. Sering kali ia salah jalan dan bersikap egois. Tapi, ada satu hal yang membuat karakter Amelie mirip dengan Matsuko. Mereka hanya ingin membawa kebahagiaan untuk orang lain. Matsuko hanya ingin membuat orang lain bahagia, namun sayangnya hal tersebut malah lebih sering berbuntut pada kemalangan. Ada satu quote bagus yang diucapkan oleh mantan pacar Sho: “A life isn’t valued by what one receives. But by what one gives.” Dan seperti itulah Matsuko, hidupnya mungkin terlihat meaningless karena ia lebih sering mendapat penderitaan dibanding kebahagiaan. Tapi di luar itu ia telah memberikan kebahagiaan kepada banyak orang di sekitarnya, meskipun mungkin tanpa disadari.

Kesimpulannya, Memories of Matsuko bukanlah film biasa. Ini adalah film yang sangat bagus. Cerita, visual, musik, serta akting yang gemilang dari para pemainnya, terutama Miki Nakatani sang pemeran Matsuko, yang lewat film ini meraih penghargaan pada kategori Best Actress di Asian Film Awards 2007, membuat film ini sangat layak ditonton. Film yang disutradarai oleh Tetsuya Nakashima ini juga dihiasi oleh beberapa cameo, seperti Kou Shibasaki, Kaela Kimura (yang sekarang menjadi istri dari Eita, gara-gara film ini), Anna Tsuchiya, Bonnie Pink, dan mungkin masih ada lagi tapi saya gak kenal :p Highly recommended!

P.S: lewat film ini, saya pertama kali melihat boyband bernama “Hikaru Genji”, salah satu boyband tertua dari agensi Johnny’s Entertainment yang sangat terkenal itu (di adegan mana? Lihat aja deh sendiri :D)

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »