Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘identity crisis’

Blog ini tampaknya semakin lama semakin penuh dengan review Jejepangan ya. Maka dari itu, untuk menjaga agar blog ini tetap kembali ke akarnya (akar random maksudnya), kali ini saya akan mereview sebuah film yang bukan berasal dari negeri sakura itu. Film yang akan saya review kali ini adalah sebuah film asal Prancis dengan judul “Tomboy”,  yang disutradarai oleh Céline Sciamma.

Tomboy bercerita tentang seorang anak kecil berusia 10 tahun yang bernama Laure (Zoé Héran). Jika kita menonton film ini tanpa melihat judulnya terlebih dahulu, kita mungkin akan mengira Laure adalah seorang anak laki-laki. Rambutnya pendek, dan pakaian yang biasa dikenakannya adalah pakaian-pakaian yang biasa dipakai anak laki-laki. Tapi tentu saja, melalui judulnya sudah pasti kita akan bisa menebak bahwa dia hanyalah anak perempuan yang punya sifat tomboi. Laure sendiri diceritakan sebagai anak yang baru saja pindah rumah. Ia memiliki keluarga yang normal: ibu (yang sedang hamil), ayah, dan adik perempuan yang bernama Jeanne (yang tampaknya merupakan kebalikan dari Laure karena punya penampilan yang “cewek banget”). Sebagai anak kecil, Laure menjalani hidup yang normal dan tanpa kesulitan yang berarti.

Sebagai seorang “anak baru” di lingkungan barunya, Laure mulai keluar dari rumahnya untuk mencari teman bermain. Orang yang pertama ia temui adalah seorang anak perempuan bernama Lisa (Jeanne Disson). Lisa mengajaknya berkenalan, dan Laure memperkenalkannya dirinya sendiri dengan nama “Mickael”. Setelah itu, Lisa mulai memperkenalkan Laure/Mickael kepada anak-anak yang lain (yang kebanyakan anak laki-laki). Dari nama serta penampilannya, tentu saja anak-anak yang lain memperlakukan Laure sebagai laki-laki. Setelah hari itu, Laure mulai sering bermain dengan anak-anak itu. Dan Laure sendiri tampaknya merasa dirinya tidak cukup meyakinkan sebagai anak laki-laki. Ia mulai melakukan berbagai cara agar dirinya semakin mirip anak laki-laki, mulai dari membuka baju ketika sedang bermain bola sampai membuat penis buatan dari clay ketika mau berenang bersama teman-temannya. “Kelaki-lakian” Laure tampaknya memang sangat meyakinkan, sampai-sampai Lisa pun jatuh cinta padanya. Lalu, apa yang akan terjadi pada Laure selanjutnya? Apakah suatu saat identitas aslinya sebagai anak perempuan akan ketahuan oleh teman-temannya yang lain? Apakah suatu saat orang tua Laure akan mengetahui bahwa selama ini anak perempuan mereka berpura-pura jadi laki-laki di hadapan teman-temannya?

Anak kecil dan krisis identitas, kedua hal tersebut merupakan dua hal utama yang menjadi inti cerita film ini. Setiap orang pasti pernah merasakan sesuatu yang dinamakan krisis identitas, dan hal tersebut bisa saja terjadi ketika mereka masih kecil. Krisis identitas yang dialami Laure adalah krisis identitas yang berkaitan dengan gendernya. Ia adalah perempuan, tapi ia terlihat lebih nyaman berpakaian dan berlaku seperti anak laki-laki. Seperti cara pemikiran anak kecil yang sederhana, film ini juga mengalir dengan sederhana. Dan yang saya suka adalah, sutradaranya tidak berusaha membuat filmnya menjadi kelihatan muluk-muluk. Permasalahan yang dialami Laure tidak dibuat sebagai permasalahan yang sangat berat, tapi permasalah tersebut juga tidak lantas dibuat sebagai permasalahan enteng. Hal itu membuat film ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, karena permasalahan yang dialami Laure adalah permasalahan yang sangat mungkin dialami oleh anak kecil manapun.

Anak kecil dan krisis identitas. Jika ada satu kata yang bisa menggambarkan salah satu sifat anak kecil, kata itu pastilah “labil”. Tidak seperti orang dewasa, isi pikiran anak kecil masih sangatlah sederhana. Hal itu membuat seorang anak menjadi senang mencoba hal baru yang ia sendiri tidak mengerti. Hal itu menumbuhkan sifat labil tersebut, di mana seorang anak masih memiliki kesulitan untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk bagi mereka. Oleh karena itu, krisis identitas yang dialami anak kecil sering kali bersifat sementara dan tergantung dari cepat atau tidaknya penanganan pihak lain (orang tua) terhadap krisis tersebut. Jika melihat Laure, kita mungkin akan dibuat bertanya-tanya, apakah dia memang sungguh-sungguh ingin jadi laki-laki? Apakah ia memang memiliki perasaan (seksual) terhadap Lisa? Atau apakah segala hal yang ia lakukan dilakukan cuma supaya ia tidak ditolak dari pergaulan barunya? Seperti yang saya bilang sebelumnya, sutradara film ini tampaknya tidak berusaha membawa permasalahan dalam film ini ke tingkat yang seserius itu (dan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, lebih baik kembali lagi pada judulnya, Tomboy :D). Film ini hanya menunjukkan krisis identitas gender dari kacamata Laure, anak kecil biasa yang kepribadiannya belum terbentuk sepenuhnya. Ketomboian yang dimiliki Laure masih bisa dijelaskan dengan akal sehat. Dapat dilihat bahwa Laure memiliki insecurity sebagai perempuan. Apalagi di film ini juga diceritakan bahwa ia memiliki adik perempuan yang pernah dibully, dan sifat dasar seorang kakak adalah melindungi adiknya. Namun, Laure tampaknya menjadi lebih percaya diri jika ia bisa melindungi adiknya dalam wujud laki-laki. Dan karena kepribadian Laure belum terbentuk sepenuhnya, tidak butuh penyelesaian luar biasa dalam mengatasi krisis yang dialaminya. Namun, hal tersebut tentunya akan menjadi suatu pembelajaran bagi pendewasaan diri Laure.

Selain hal-hal di atas, yang paling saya suka di sini adalah akting dari para pemainnya. Salut untuk Zoé Héran yang sangat meyakinkan sebagai anak perempuan yang tomboi di sini (sampai-sampai ia menjadi terlihat sangat aneh ketika memakai pakaian perempuan :D).  Jangan dilupakan Malonn Lévana yang begitu adorable sebagai Jeanne, adik perempuan Laure yang begitu lucu dan menggemaskan. Pemeran anak-anak kecil lainnya pun (seperti yang jadi Lisa) turut bermain dengan baik di sini. Dan pemeran orang tua Laure pun sangat pas aktingnya di sini. Mereka (terutama sang ibu) sukses memerankan karakter orang tua yang membebaskan anaknya untuk melakukan apapun, tapi tetap punya sikap dan ketegasan ketika anaknya mengalami masalah. Overall, saya sangat menyukai film ini. Film ini menurut saya berhasil menggambarkan krisis identitas yang dialami anak kecil dengan manis dan sederhana, sesederhana pikiran anak kecil. 4 bintang deh 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »