Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘ikewaki chizuru’

Setiap orang pasti memiliki satu atau beberapa hobi. Ada yang punya hobi membaca buku, menonton film, mengoleksi perangko, dan berbagai macam hobi lainnya. Namun, ada satu orang yang sama sekali tidak memiliki hobi apa-apa. Dia adalah Kiriyama Shuichiro (Odagiri Joe), seorang polisi yang bekerja di divisi Limitation Task Force (divisi yang tugasnya mengurus arsip-arsip kasus yang sudah kadaluarsa, divisi paling membosankan di kepolisian tampaknya). Karena tidak punya hobi itu adalah sesuatu yang buruk, maka Kiriyama pun berusaha mencari sesuatu yang bisa dijadikan hobi baginya. Setelah berpikir keras, akhirnya Kiriyama menemukan suatu hobi yang cocok baginya. Hobi tersebut adalah: menyelidiki kasus yang sudah kadaluarsa.

Di Jepang, suatu kasus memiliki batas waktu selama 15 tahun. Jika 15 tahun sudah berlalu dan kasusnya tetap tidak terpecahkan, maka kasus tersebut akan kadaluarsa. Dan meskipun pelaku kasus tersebut ketahuan setelah itu, si pelaku tetap tidak akan bisa dipenjara. Pada dorama ini, Kiriyama berusaha menyelidiki kasus-kasus yang sudah kadaluarsa sebagai hobinya. Dan karena hal itu ia lakukan sebagai hobinya, maka Kiriyama tidak pernah terobsesi untuk menangkap penjahatnya (karena sudah kadaluarsa pula). Ia hanya ingin mengetahui kebenaran atas kasus tersebut. Kiriyama sendiri tidak pernah sendirian dalam melaksanakan hobinya. Ia biasa ditemani oleh Mikazuki Shizuka (Aso Kumiko), polisi wanita dari divisi lalu lintas yang keliatannya naksir Kiriyama (karena sangat sering mampir ke divisi Limitation Task Force). Berdua, mereka berusaha mencari-cari petunjuk mengenai kasus-kasus yang telah kadaluarsa. Dan yang menarik, setelah pelaku dari kasus-kasus tersebut berhasil ketahuan, Kiriyama selalu memberikan kartu bertuliskan “I won’t tell anybody” kepada si pelaku, sebagai tanda bahwa identitas mereka sebagai pelaku akan dirahasiakan oleh Kiriyama. Lalu, kasus-kasus kadaluarsa macam apakah yang akan diselidiki Kiriyama? Apakah suatu saat ia akan bosan dengan hobinya tersebut? Tonton aja deh 😀

Menonton Jikou Keisatsu (judul bahasa Inggris: Time Limit Investigator) karena tertarik dengan premisnya: menyelidiki kasus yang sudah kadaluarsa sebagai hobi? Kurang kerjaan banget ya kelihatannya? Apalagi walaupun pelakunya ketahuan, Kiriyama tetap tidak bisa melakukan apa-apa untuk menangkap penjahatnya. Terlihat tidak berguna bukan? Tapi, namanya juga hobi. Kadang-kadang hobi sering kali tidak menghasilkan apa-apa, namun hal tersebut tetap akan menimbulkan kepuasan di hati ini. Begitu juga yang terjadi dengan Kiriyama. Dorama ini sendiri punya pola yang sama seperti dorama detektif pada umumnya, di mana ada satu kasus yang diselidiki dalam satu episode. Semua kasus yang diselidiki di sini adalah kasus yang sudah kadaluarsa, tapi ada juga satu episode yang berbeda dengan yang lainnya, yaitu di episode 6 ketika Kiriyama menyelidiki sebuah kasus yang beberapa hari lagi akan kadaluarsa.

Selain premisnya yang menarik dan orisinil, kelebihan lain pada dorama ini juga terletak pada unsur komedinya. Ya, berhubung dengan hal itu, tidak aneh unsur komedinya menonjol karena dorama ini ditulis dan disutradarai oleh Miki Satoshi. Mengenai sutradara ini sudah sering saya singgung di beberapa review sebelumnya (seperti Atami no Sousakan & Adrift in Tokyo). Sama seperti di film-filmnya yang lain, Miki Satoshi masih mengandalkan humor-humor random tidak penting di dorama ini. Hal itu bisa dilihat melalui tingkah Kiriyama dan rekan-rekannya di divisi Limitation Task Force, di mana mereka sering sekali meributkan hal-hal yang tidak penting. Misalnya di episode satu, ketika Matarai-san (Fuse Eri) tidak sengaja menemukan sertifikat pernikahan yang belum diisi di suatu tempat. Dan pada saat itu, mereka malah meributkan siapa yang akan mengisi sertifikat tersebut, yang berujung dengan jan ken pon (selain gak penting, hal itu juga menandakan bahwa divisi itu kebanyakan nganggurnya daripada kerja). Namun, tidak seperti Atami no Sousakan yang memiliki penulis dan sutradara tunggal, dorama ini tidak hanya disutradarai oleh Miki Satoshi seorang (meskipun yang paling banyak berperan di sini adalah Miki Satoshi). Masih ada beberapa sutradara lain yang turut menulis dan menyutradarai dorama berjumlah sembilan episode ini. Salah satunya adalah sutradara Jepang terkenal Sono Sion (Suicide Club, Love Exposure) yang ikut menulis dan menyutradarai salah dua episodenya (episode 4 & episode 6). Namun, meskipun ditulis dan disutradarai oleh beberapa sutradara, gaya humor di semua episodenya kurang lebih serupa dan Miki Satoshi banget.

Selain hal-hal di atas, akting dan karakterisasi adalah salah satu hal yang paling menarik dari dorama ini. Sulit sekali untuk tidak jatuh cinta pada Odagiri Joe di sini. Kiriyama’s character is sooooo cute and lovable. Odagiri Joe emang cocok buat peran cowok polos macam Kiriyama (teringat Satorare). Sifatnya yang polos dan rasa ingin tahunya yang besar bener-bener bikin saya gemes. Saya juga suka banget sama perkembangan karakter Kiriyama. Meskipun dia tampak bersenang hati melakukan hobi anehnya, tapi ada juga saat-saat di mana dia merasa muak dengan hobinya tersebut. Misalnya di episode 6, ketika dia mulai muak karena selalu memecahkan sebuah kasus pada waktu yang sudah terlambat. Apalagi, seperti hobi lainnya, hobi Kiriyama pun turut memakan biaya. Selain Odagiri Joe, Aso Kumiko juga berakting baik di sini. Dan saya rada kasihan sama karakter Mikazuki yang naksir banget sama Kiriyama, tapi cowok tersebut gak pernah nyadar (salah sendiri sih naksir cowok polos & bebal macam Kiriyama :D). Pemain-pemain lainnya yang kebanyakan adalah pemain langganan Miki Satoshi seperti Fuse Eri dan Iwamatsu Ryo (yang turut menyutradari salah satu episodenya) pun turut bermain dengan baik di sini, dan semakin menambah kelucuan dorama ini. Selain pemain utamanya, dorama ini juga turut menghadirkan beberapa bintang tamu di setiap episodenya, seperti Ikewaki Chizuru, Tetsushi Tanaka, Yoshitaka Yuriko, Tomosaka Rie, Nagasaku Hiromi, Ryo, dan beberapa artis lainnya.

Untuk bagian penyelidikannya, penyelidikan yang dilakukan Kiriyama sebenarnya gak hebat-hebat amat. Ia menyelidiki kasus-kasus yang ada di dorama ini dengan cara mewawancarai detektif yang pernah mengurus kasus tersebut serta orang-orang yang terlibat pada kasusnya. Kadang-kadang, obrolan tidak penting antara Kiriyama dan rekan-rekannya sering berguna dan menjadi petunjuk untuk memecahkan kasus yang diselidikinya. Kasus-kasus (yang kebanyakan kasus pembunuhan) yang terjadi di sini pun kebanyakan kasus yang terjadi secara tidak sengaja, tidak dengan trik yang direncanakan matang, tapi malah berakhir menjadi kasus yang tidak terpecahkan. Namun, Kiriyama selalu berhasil menemukan petunjuk yang sebelumnya tidak pernah ditemukan. Petunjuk yang tampak sepele, tapi sebenarnya sangat penting dan berkaitan dengan kasusnya. Pelaku dalam kasus-kasus di dorama ini sendiri sebenarnya sudah ketahuan dari awal episodenya sehingga ini bukan tipe dorama yang bikin kita kaget ketika pelakunya ketahuan, tapi yang menarik adalah cara Kiriyama mendapatkan bukti bahwa orang itulah pelaku tersebut yang disertai dengan beberapa kelucuan.

Well, segini aja review dari saya. Dorama ini recommended buat kamu yang suka dorama detektif atau penyuka film-filmnya Miki Satoshi. Sekadar info, dorama ini juga memilki sekuel yang berjudul Kaette Kita Jikou Keisatsu yang punya format yang hampir sama dengan season pertamanya. Ja, 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

Ada yang ingat dengan film Confessions (Kokuhaku)? Film Jepang garapan Nakashima Tetsuya itu bisa dibilang merupakan salah satu film Jepang favorit saya sepanjang masa. Film yang bercerita tentang pembalasan dendam seorang ibu yang anaknya dibunuh tersebut merupakan adaptasi dari novel yang ditulis oleh Minato Kanae. Di tahun 2012 ini, satu lagi novel karya Minato Kanae, yaitu Shokuzai (The Atonement), difilmkan. Namun, tidak seperti Confessions, Shokuzai tidak diadaptasi menjadi film layar lebar, melainkan menjadi mini seri berjumlah lima episode yang ditayangkan oleh channel WOWOW. Kali ini, orang yang bertugas mengadaptasi novel ini ke layar kaca adalah Kurosawa Kiyoshi, yang sebelumnya sudah sering menyutradarai beberapa film yang sudah diakui kualitasnya, seperti Tokyo Sonata dan Cure.

Shokuzai sendiri masih memiliki kemiripan dengan Confessions, yaitu sama-sama bercerita tentang seorang ibu yang anak perempuannya dibunuh. Anak perempuan tersebut bernama Emiri yang merupakan seorang murid baru (kelas 4 SD) di suatu sekolah. Pada suatu hari, ketika ia sedang bermain dengan empat orang temannya, seorang pria menghampiri mereka. Pria (yang wajahnya tidak diperlihatkan) tersebut mengatakan ia sedang membetulkan kipas yang ada di gymnasium sekolah mereka, dan ia meminta tolong Emiri untuk membantunya karena ada bagian yang tidak bisa ia jangkau. Emiri lalu pergi bersama pria itu. Namun, setelah beberapa lama, Emiri tidak kembali juga. Empat temannya yang khawatir pun lalu menyusul ke gymnasium. Dan sesampainya di sana, Emiri sudah terbujur kaku di lantai gymnasium tersebut.

Adachi Asako (Koizumi Kyoko) yang merupakan ibu dari Emiri tidak sanggup menerima kenyataan atas kematian putrinya tersebut. Belum lagi, pelaku pembunuhan anaknya sama sekali tidak tertangkap, dan empat teman Emiri yang merupakan saksi mata pelaku pembunuhan Emiri mengatakan mereka tidak ingat dengan wajah pembunuh tersebut. Pada suatu hari, tepatnya pada hari ulang tahun Emiri, Asako mengundang empat orang teman Emiri tersebut ke rumahnya. Rupanya Asako tidak bisa memaafkan mereka berempat. Pada pertemuan tersebut Asako berkata pada mereka: “I won’t forgive you. Find the suspect for me. Otherwise, you’ll have to pay. Until the crime solve, I’ll never forgive any of you. You can’t escape from your sins.”

15 tahun berlalu setelah perjanjian tersebut. Empat orang teman Emiri telah tumbuh dewasa dan memiliki kehidupan masing-masing. Yang pertama adalah Kikuchi Sae (Aoi Yu), yang punya ketakutan tertentu terhadap laki-laki dan punya semacam kelainan di mana ia tidak bisa mengalami menstruasi. Yang kedua adalah Shinohara Maki (Koike Eiko), yang berprofesi sebagai guru SD yang galak dan pada suatu hari mendapat banyak perhatian setelah ia menyelamatkan murid-muridnya dari serangan pria tak dikenal. Yang ketiga adalah Takano Akiko (Ando Sakura), perempuan yang sejak kematian Emiri menjadi anti memakai pakaian yang cantik dan menganggap dirinya sendiri adalah beruang. Lalu terakhir adalah Ogawa Yuka (Ikewaki Chizuru), pemilik toko bunga yang punya kecemburuan tertentu terhadap kakaknya dan punya perhatian khusus terhadap polisi. Setiap tokoh dieksplor dalam setiap episode secara bergantian (jadi episode pertama fokusnya sama Aoi Yu, episode 2 Koike Eiko, dst). Dan di setiap episodenya, tokoh-tokoh tersebut melakukan suatu hal mengejutkan yang mereka anggap sebagai penebusan dosa atas kematian Emiri.

Shokuzai adalah salah satu dorama yang sudah saya tunggu-tunggu sejak dorama ini belum tayang. Selain karena faktor pengarang Confessions dan Kurosawa Kiyoshi, yang membuat saya tertarik pada dorama ini adalah jajaran castnya yang luar biasa. Kebanyakan pemainnya adalah aktor dan aktris yang lebih sering bermain di film ketimbang dorama. Contohnya adalah Koizumi Kyoko (Hanging Garden, Tokyo Sonata), Aoi Yu (Hana and Alice), Koike Eiko (2LDK), Ando Sakura (Love Exposure), dan Ikewaki Chizuru (Josee the Tiger and the Fish). Pemain-pemain pembantunya pun top semua, mulai dari Moriyama Mirai, Kase Ryo, Ito Ayumi, Arai Hirofumi, sampai Kagawa Teruyuki. Dan untungnya saya tidak dikecewakan oleh nama-nama hebat tersebut.

Seperti kebanyakan film-filmnya Kurosawa Kiyoshi (yang sering membuat film horror/thriller), dorama ini memiliki aura yang suram dan kelam. Warna yang dipakai cenderung gelap, dan semakin mendukung atmosfir kelamnya. Alurnya sedikit lambat, tapi tidak membosankan dan malah memperkuat intensitas ketegangannya. Sinematografinya pun sangat mengagumkan, dan membuat dorama ini tidak terlihat sebagai sekadar tayangan televisi karena kualitas gambarnya yang sudah seperti kualitas gambar pada film layar lebar.

Yang paling saya kagumi dari dorama ini adalah proses pembangunan karakternya yang meskipun terlihat perlahan-lahan tetapi pasti. Di setiap episodenya setiap karakter diperkenalkan. Dan dengan memakai sedikit flashback, kita bisa melihat bahwa kepribadian mereka semuanya terbentuk dari kejadian 15 tahun yang lalu, bahkan untuk karakter Yuka (Ikewaki Chizuru) sekalipun yang mengatakan bahwa ia tidak peduli dengan hal tersebut. Semua karakternya tidak diperlihatkan bersih dan suci. Bahkan untuk karakter Asako sang ibu, yang sebenarnya punya andil dalam kematian putrinya, karena belakangan diketahui bahwa kematian putrinya masih memiliki hubungan dengan masa lalunya sendiri. Makanya, shokuzai atau “the atonement” di sini tidak hanya berlaku bagi empat orang teman Emiri saja, melainkan juga pada karakter Asako sendiri. Well, kalo suka sama tontonan yang rada nyikologis, dorama ini tentunya sangat wajib ditonton karena kita bisa melihat bahwa sebuah kejadian bisa mempengaruhi kepribadian berbagai macam orang dengan cara yang berbeda.

Setiap episode dalam dorama ini memiliki cerita yang berdiri sendiri tapi tetap bersinggungan. Dan masing-masing episodenya memiliki cerita yang sangat menarik. Tapi kalo disuruh milih, favorit saya adalah episode pertama (French Doll) dan episode ketiga (Bear Siblings). Dua episode tersebut menurut saya yang paling menarik dan paling menegangkan. Apalagi episode pertama yang menampilkan Aoi Yu, yang menurut saya serem abis. Para pemain dalam dorama ini semuanya menampilkan akting yang bagus dan memukau. Ekspresi-ekspresi yang ditampilkan, kekosongan yang mereka alami, semuanya ditampilkan secara pas dan tidak berlebihan. Dari lima pemeran utama sampai peran-peran pembantu, semuanya menampilkan akting yang cemerlang.

Secara keseluruhan, dorama ini adalah salah satu dorama paling berkesan di tahun 2012 ini. Dan meskipun tahun 2012 baru berjalan dua bulan, sudah pasti saya akan memasukkan dorama ini ke list dorama terbaik tahun 2012. Satu-satunya kelemahan dorama ini menurut saya hanya pada bagian endingnya. Endingnya tetep bagus sih, dan sepertinya memang seperti itulah dorama ini harus berakhir (dan endingnya itu…ironis sekali). Tapi, kalo dibandingin sama episode-episode sebelumnya, menurut saya kualitas episode ini jadi rada menurun dan kalah sama episode-episode sebelumnya. Padahal saya berharap episode akhir ini menjadi puncak dari semua episodenya. Jadi, 4,5 bintang deh untuk dorama ini. Highly recommended.

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »