Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘iseya yusuke’

Jika kamu diminta untuk memilih satu momen paling berarti dalam hidupmu, maka apa yang akan kamu pilih? Mungkin momen ketika kamu masih duduk di sekolah menengah pertama, atau momen di mana kamu sedang bersama dengan orang yang kamu cintai, atau bermacam-macam momen lainnya, yang mungkin akan membuat kamu menjadi bingung mau memilih yang mana. Pertanyaan itulah yang menjadi premis dasar dari film After Life (judul asli: Wandâfuru raifu), sebuah film yang disutradarai oleh Hirokazu Kore-eda, yang terkenal melalui film-filmnya seperti Nobody Knows dan Still Walking.

Sesuai judulnya, After Life berlatarkan sebuah dunia setelah kematian. Bukan surga atau neraka, tapi dunia sebelum itu (mungkin semacam Purgatory?). Ada sebuah bangunan di mana orang-orang yang baru saja meninggal dikumpulkan. Mereka diwawancara satu persatu oleh staff tempat itu, diberitahu bahwa mereka akan tinggal selama seminggu di situ, dan diberi tugas yaitu: memilih kenangan atau momen paling berarti dalam hidup mereka. Cukup satu saja. Mereka diberi waktu tiga hari untuk memutuskan itu. Setelah mereka mantap memilih, staff tempat itu akan menciptakan kembali kenangan yang mereka pilih dan memfilmkannya. Setelah itu, ketika mereka melanjutkan ke tahap selanjutnya (mungkin surga atau neraka, atau mungkin kehidupan selanjutnya, jika reinkarnasi benar-benar ada), mereka hanya akan membawa kenangan yang mereka pilih tersebut, dan melupakan semua hal yang terjadi dalam hidup mereka.

Orang-orang yang telah meninggal tersebut (kebanyakan manula, tapi ada juga gadis remaja) lalu berusaha untuk mengingat-ingat kembali apa saja yang terjadi di kehidupan mereka. Ada yang memilih momen ketika mereka masih kecil, ada yang bingung memilih, ada yang memilih untuk tidak memilih, bahkan ada yang berbohong dan memilih momen yang tidak pernah terjadi di kehidupan mereka, melainkan diharapkan terjadi. Belakangan, hal tersebut nantinya tidak hanya akan mempengaruhi orang-orang tersebut saja, tapi juga para staff tempat itu, yang sebenarnya  tidak jauh berbeda dari mereka.

Menonton film ini membuat saya turut berpikir dan kembali mengingat-ingat apa saja yang telah terjadi dalam kehidupan saya. Seandainya saya berada di posisi mereka, maka kenangan apa yang akan saya pilih? Pertanyaan yang cukup sulit bukan? Karena begitu banyak momen yang ingin saya pilih dan tidak ingin saya lupakan. Menonton film ini rasanya seperti sedang melakukan refleksi akan diri maupun kehidupan kita. Kadang-kadang, dengan mengingat kembali yang telah terjadi, kita jadi bisa memahami apa yang dulu tidak kita pahami, seperti yang terjadi pada salah satu tokoh dalam film ini.

Ya, biarpun berlatarkan dunia setelah kematian, sesungguhnya film ini bercerita tentang kehidupan (dan bukankah kematian sendiri adalah bagian dari kehidupan?). Melalui film ini, kita seolah disadarkan bahwa yang paling berarti dari kehidupan kita itu adalah hidup itu sendiri, sesuai judul aslinya, Wandâfuru raifu (Wonderful Life), yang menurut saya lebih merepresentasikan maksud film ini dibandingkan judul internasionalnya.

Seperti film-film Kore-eda lainnya, film ini berjalan dengan tenang dan tanpa letupan emosi yang berlebihan. Film ini juga banyak mengandung momen menyentuh tanpa perlu dihiasi adegan yang didramatisasi. Selain itu, yang saya suka di sini adalah setting after life-nya yang tidak jauh berbeda dari dunia orang hidup. Orang-orang yang tinggal di sana masih melakukan aktifitas-aktifitas sebagaimana orang hidup, seperti minum teh, gosok gigi, bahkan bermain catur. Proses memfilmkan kenangannya pun sama seperti proses membuat film di dunia nyata. Tidak ada hal yang aneh atau ajaib di dunia tersebut. Mungkin, berdasarkan penafsirannya, Kore-eda mencoba mencoba menunjukkan bahwa dunia orang mati sesungguhnya sama saja seperti dunia orang hidup. Ja, segini aja reviewnya. 4 bintang untuk film ini. Recommended!

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Kita mungkin masih sering bertanya-tanya, untuk apa sih hidup ini? Apa sih arti hidup? Seperti apa sih hidup yang bermakna itu? Dan seperti apa sih hidup yang tidak bermakna itu? Jawaban yang keluar mungkin bermacam-macam. Ada yang mengatakan hidup yang bermakna itu adalah hidup yang dipenuhi kesuksesan atau hidup yang  sesuai dengan keinginan. Ada yang mengatakan hidup yang tidak bermakna itu adalah ketika kita salah jalan, atau ketika kita tidak memiliki kegunaan bagi orang lain, terus mengalami kemalangan tanpa ada titik cerah, dan segala hal yang kita lakukan terasa sia-sia dan tidak ada artinya. Namun, apakah benar seperti itu?

Menonton Memories of Matsuko membuat saya kembali mempertanyakan hal-hal di atas. Sesuai judulnya, Memories of Matsuko bercerita tentang kehidupan seorang perempuan bernama Matsuko Kawajiri (Miki Nakatani). Dimulai dari narasi seorang pemuda bernama Sho Kawajiri (Eita), seseorang yang hidupnya terlihat tidak berguna sama sekali. Kabur dari rumah dua tahun yang lalu dengan tujuan untuk menjadi musisi, namun rencananya tidak berjalan sesuai keinginan. Keluar dari band-nya, diputuskan oleh pacarnya yang terang-terangan mengatakan bahwa “hidup bersamanya benar-benar membosankan”, membuat hidupnya terlihat benar-benar menyedihkan. Tidak ada hal yang dilakukannya selain menonton adult video di kamarnya yang sangat berantakan. Lalu tiba-tiba, setelah dua tahun tidak berhubungan dengan keluarganya, ia tiba-tiba kedatangan ayahnya (diperankan Kagawa Teruyuki), yang mengabari bahwa bibinya yang bernama Matsuko telah meninggal dunia karena dibunuh di sebuah taman entah oleh siapa. Sebelumnya Sho tidak pernah tahu bahwa dia memiliki seorang bibi bernama Matsuko. Ayahnya pun menjelaskan, bahwa Matsuko sudah puluhan tahun tidak berhubungan dengan keluarga mereka. “Her life was meaningless,” kata ayahnya. Ayahnya kemudian meminta Sho untuk membersihkan apartemen yang merupakan tempat tinggal Matsuko dulu. Dan datanglah Sho ke apartemen tersebut, apartemen yang dipenuhi sampah, dan menemukan beberapa hal yang membuatnya penasaran, seperti apakah bibinya tersebut? Seperti apakah kehidupannya yang menurut ayahnya “meaningless” tersebut?

Cerita pun berganti menyorot bagaimana kisah hidup dari karakter Matsuko ini, melalui narasi dari Matsuko sendiri. Matsuko ketika kecil adalah seorang anak manis yang kurang mendapat kasih sayang dari ayahnya. Ayahnya adalah orang yang baik dan sebenarnya menyayangi Matsuko, namun perhatiannya lebih ia tunjukan pada adik perempuan Matsuko yang sakit-sakitan. Ketika dewasa, Matsuko mendapat pekerjaan menjadi seorang guru SMP. Di sini Matsuko digambarkan sebagai guru ala Gokusen, guru yang mati-matian membela muridnya yang terkena masalah. Namun hal itu malah membawanya ke masalah baru yang membuatnya dipecat. Sejak itulah kehidupan Matsuko berubah total. Kecemburuannya pada adiknya membuat dia meninggalkan rumah itu, dan mengalami berbagai macam hal, seperti berpacaran dengan seorang pria yang sering melakukan kekerasan terhadapnya, menjadi simpanan seorang pria beristri, menjadi seorang “massage parlor girl”, membunuh seseorang, masuk penjara, berpacaran dengan yakuza, dan sebagainya. Hidupnya dipenuhi kemalangan, dan pada akhirnya hal tersebut membuat ia menutup diri dari kehidupan sosial, dan puncaknya ia terbunuh oleh entah siapa.  Selain oleh narasi Matsuko sendiri, kisah hidup Matsuko juga diceritakan dari sudut pandang orang-orang yang mengenal Matsuko di masa hidupnya kepada Sho. Hal tersebut membuat Sho semakin ingin bertemu dengan Matsuko, yang kata orang-orang yang mengenal Matsuko, sangat mirip dengannya.

Sebenarnya alasan saya menonton film ini hanyalah karena Eita bermain di dalamnya, dan saya tidak menyangka kalau filmnya ternyata bagus. Bukan bagus lagi, bagus banget malah. Menonton film ini membuat saya ikut terbawa ke dalam kisah hidup Matsuko yang sangat menyedihkan dan tidak pernah mendapat kebahagiaan untuk waktu yang lama. Oh ya sinopsisnya mungkin membuat kamu mengira kalau film ini adalah film sedih. Ya, ini memang film dengan cerita yang menyedihkan, namun semua itu digambarkan dengan penuh warna dan juga beberapa  unsur komedi. Memories of Matsuko adalah film komedi yang pahit, getir, dan menyedihkan. Dan kayaknya saya belum bilang ya kalo ini film musikal? Ini pertama kalinya saya nonton film musikal yang dibuat oleh Jepang, dan tanpa ragu saya mengatakan bahwa  film ini adalah salah satu film musikal terbaik yang pernah saya tonton. Selain itu visual film ini sangat bagus dan indah. Sinematografinya sangat oke, ditambah beberapa efek CGI yang tidak membuat visualnya jadi lemah, tapi malah membuat film ini menjadi semakin kaya.

Gaya penceritaan pada film ini mungkin akan mengingatkan kamu pada film Prancis berjudul Amelie (malah ada yang bilang kalo film ini lebih bagus dari Amelie). Namun, Matsuko sangat berbeda dengan Amelie. Amelie bisa dibilang merupakan karakter yang mesti dicontoh oleh banyak orang. Tapi Matsuko, dia bukan contoh karakter panutan. Sering kali ia salah jalan dan bersikap egois. Tapi, ada satu hal yang membuat karakter Amelie mirip dengan Matsuko. Mereka hanya ingin membawa kebahagiaan untuk orang lain. Matsuko hanya ingin membuat orang lain bahagia, namun sayangnya hal tersebut malah lebih sering berbuntut pada kemalangan. Ada satu quote bagus yang diucapkan oleh mantan pacar Sho: “A life isn’t valued by what one receives. But by what one gives.” Dan seperti itulah Matsuko, hidupnya mungkin terlihat meaningless karena ia lebih sering mendapat penderitaan dibanding kebahagiaan. Tapi di luar itu ia telah memberikan kebahagiaan kepada banyak orang di sekitarnya, meskipun mungkin tanpa disadari.

Kesimpulannya, Memories of Matsuko bukanlah film biasa. Ini adalah film yang sangat bagus. Cerita, visual, musik, serta akting yang gemilang dari para pemainnya, terutama Miki Nakatani sang pemeran Matsuko, yang lewat film ini meraih penghargaan pada kategori Best Actress di Asian Film Awards 2007, membuat film ini sangat layak ditonton. Film yang disutradarai oleh Tetsuya Nakashima ini juga dihiasi oleh beberapa cameo, seperti Kou Shibasaki, Kaela Kimura (yang sekarang menjadi istri dari Eita, gara-gara film ini), Anna Tsuchiya, Bonnie Pink, dan mungkin masih ada lagi tapi saya gak kenal :p Highly recommended!

P.S: lewat film ini, saya pertama kali melihat boyband bernama “Hikaru Genji”, salah satu boyband tertua dari agensi Johnny’s Entertainment yang sangat terkenal itu (di adegan mana? Lihat aja deh sendiri :D)

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »