Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘john c reilly’

Ada pepatah yang mengatakan bahwa seorang anak tidak bisa memilih siapa yang akan menjadi orang tuanya ketika ia dilahirkan. Lalu, apakah pepatah ini bisa berlaku untuk kebalikannya? Kalau tahu apa yang akan terjadi nantinya, mungkin saja Eva Khatchadourian (Tilda Swinton) akan memilih untuk tidak melahirkan Kevin (Ezra Miller), atau bahkan memilih untuk melahirkan anak yang lain saja, yang penting bukan Kevin. Kevin memang bukan anak laki-laki yang normal seperti anak-anak yang biasanya. Ia lahir seolah-olah dengan tujuan untuk membuat hidup ibunya hancur. Padahal, Eva rela meninggalkan hal yang ia cintai (seperti kecintaannya terhadap travelling) demi membesarkan Kevin. Namun, sebesar apapun usahanya untuk membesarkan atau mendekatkan dirinya dengan Kevin, selalu saja ada jarak di antara mereka.

We Need to Talk About Kevin berjalan dengan alur non-linear. Film ini dibuka dengan adegan Eva yang sedang bersenang-senang mengikuti pesta tomat di Spanyol. Dapat ditebak bahwa ini adalah kejadian ketika Kevin belum lahir ke dunia. Eva terlihat sebagai perempuan yang bebas dan seolah tanpa beban. Adegan selanjutnya berganti dengan kehidupan Eva di masa kini, di mana ketika ia baru keluar dari rumahnya, ia mendapati dinding rumahnya telah berlumuran cat merah. Lalu, adegan-adegan selanjutnya seperti memperlihatkan bahwa Eva adalah perempuan yang dibenci seluruh umat. Adegan-adegan berikutnya kemudian secara bergantian memperlihatkan kehidupan Eva di masa kini dan kehidupan Eva pada saat sebelum dan sesudah melahirkan Kevin (mulai dari saat ia masih bayi sampai remaja). Sedikit demi sedikit, dengan mudah kita bisa menebak bahwa perlakuan buruk orang-orang terhadap Eva pasti berhubungan dengan hal yang telah dilakukan Kevin.

Kevin sendiri sejak lahir sudah digambarkan sebagai anak yang aneh. Ketika ia bayi ia tidak pernah berhenti menangis. Ketika ia masih balita, ia tidak pernah menanggapi ketika Eva mengajaknya bermain (sehingga awalnya ia sempat dikira menderita autisme). Pokoknya, segala hal yang dilakukan Kevin seolah-olah bertujuan untuk merenggut kebahagiaan ibunya. Ia juga tampak seperti manusia bermuka dua, karena ia selalu bertingkah manis di depan sang ayah, Franklin (John C. Reilly), sementara dengan ibunya, ia terlihat seperti sangat membencinya. Apalagi ketika Celia (anak kedua Eva) lahir. Berbeda dengan Kevin yang introvert, Celia adalah anak yang manis dan ceria, sehingga kasih sayang Eva pada Celia tampak berbeda dengan kasih sayangnya pada Kevin, yang mengakibatkan kecemburuan muncul di hati Kevin. Puncaknya adalah ketika Kevin melakukan suatu hal besar yang sulit dimaafkan, yang membuat hidup Eva tidak akan pernah berjalan normal lagi seperti dulu.

Menonton We Need to Talk About Kevin membuat saya merasa ngeri sendiri dan membayangkan bagaimana nantinya jika suatu saat saya punya anak (#eaa). Ya, menonton film ini mungkin akan membuat penontonnya merasa takut untuk punya anak, takut bahwa mereka tidak cukup baik dalam membesarkan anak mereka, dan takut mengalami hal yang sama dengan Eva. Film garapan sutradara Lynne Ramsay ini memang menunjukkan bahwa membesarkan anak itu bukanlah hal yang mudah. Dan ini bukan tentang perkara cara membesarkan anak saja, karena cara Eva membesarkan Kevin saya rasa adalah cara yang wajar dilakukan para orang tua. Namun, kita dapat melihat bahwa meskipun Eva sudah berusaha keras dalam membesarkan anaknya, dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia juga menganggap Kevin sebagai sebuah beban. Apalagi, kehamilannya akan Kevin adalah suatu hal yang di luar rencana. Dan meskipun masih kecil, mungkin Kevin bisa merasakan hal itu, sehingga perlakuannya pada ibunya seakan-akan dilakukan supaya beban yang dipanggul Eva semakin bertambah.

Yang paling saya kagumi dari film ini adalah bagaimana film ini berhasil menghadirkan sebuah drama thriller yang mencekam tanpa harus memperlihatkan adegan kekerasan. Meskipun hal yang dilakukan Kevin masih berhubungan dengan kekerasan, namun kekerasan tersebut tidak ditampilkan dan seolah-olah diserahkan pada bayangan penonton saja. Namun, dengan melihat ekspresi Kevin saja, kita sudah bisa merasakan terror yang sebenarnya terjadi. Terror yang lain ditunjukkan melalui cat merah yang melumuri dinding rumah Eva, yang menunjukkan bahwa warna tersebut bisa tetap terlihat menakutkan meskipun tidak diperlihatkan melalui darah (dan bagian pesta tomat itu, meskipun kelihatannya menyenangkan bagi Eva, buat saya keliatannya rada serem karena warnanya kayak darah). Alurnya yang maju mundur tak beraturan pun membuat film ini menjadi semakin menarik. Meskipun film ini bukan tipe film yang mengandung twist mengejutkan seperti di kebanyakan film beralur non-linear (karena dari awal ceritanya sudah cukup tertebak), tapi kita tetap dibuat ingin tahu mengenai seperti apa sih karakter Kevin itu.

Para pemain dalam film ini menurut saya berhasil menjadikan film ini terasa semakin mencekam. Tilda Swinton dengan ekspresi suramnya berhasil memerankan karakter ibu yang seolah tidak pernah bisa merasa bahagia lagi sejak anaknya lahir. Ezra Miller sebagai Kevin pun sangat bagus aktingnya. Dari cara ia bergerak dan menatap saja, sudah terlihat bahwa karakter ini memiliki masalah yang berhubungan dengan kejiwaannya (oh iya, dua aktor cilik yang memerankan Kevin balita dan Kevin kecil juga tidak kalah bagus aktingnya). Yang aktingnya saya rasa agak-agak kurang di sini menurut saya John C. Reilly yang memerankan Franklin, suami Eva sekaligus ayah Kevin.  Aktingnya tidak buruk sih, tapi saya ngerasa kurang sreg aja sama perannya di sini dan rasanya agak aneh melihat dia dipasangkan dengan Tilda Swinton, tapi dimaafkanlah karena fokus utama film ini adalah Eva dan Kevin.

Overall, We Need to Talk About Kevin adalah sebuah film yang menunjukkan betapa kompleksnya kepribadian manusia. Segala hal pasti ada alasannya, namun kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa atas hal yang terjadi dalam film ini. Apakah semuanya semata-mata salah Kevin? Atau salah Eva? Kita akan dibuat untuk merasa tidak yakin akan hal itu, sama seperti yang diungkapkan Kevin pada bagian akhir film ini. Ja, 4 bintang.

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »