Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘kazama shunsuke’

“Akihabara. Rowdy, vulgar, fanatic. But it’s a thrilling place that definitely won’t appear elsewhere. It’s the holy land for those of us who are called Otaku by others. We won’t be bothered by anyone. It’s the land that allows us to be addicted to our own interest, to forget our gloomy lives, the oasis in the desert for incompetent people like us. No, perhaps this world is actually our real life.”

Jika ada satu kata yang paling tepat yang bisa diasosiasikan dengan Akihabara, kata itu pastilah AKB48 Otaku. Salah satu distrik yang terletak di kota Tokyo tersebut tidak hanya terkenal sebagai pusat perbelanjaan barang-barang elektronik saja, tapi juga terkenal sebagai tempat berkumpulnya para Otaku (penjelasan mengenai Otaku, bisa dibaca di sini). Akihabara adalah surga bagi para Otaku. Segala hal yang berkaitan dengan kesukaan mereka (anime, manga, video game, figurine) ada di sana. Tidak hanya itu, di sana juga mereka bisa menemukan teman yang memiliki minat yang tidak jauh berbeda dengan minat mereka. Lalu, bagaimana jadinya jika satu-satunya tempat ternyaman bagi para Otaku tersebut mulai terusik kedamaiannya?

Akihabara@DEEP adalah jawaban dari hal itu. Akihabara@DEEP merupakan sebuah tim yang didirikan untuk mengatasi segala macam permasalahan di Akihabara. Akihabara@DEEP terdiri dari enam orang biasa yang hampir semuanya merupakan Otaku. Mereka semua terhubung melalui seseorang bernama Yui (Honjo Manami), yang merupakan seorang pemilik situs Yui’s Lifeguard (semacam situs layanan curhat) yang selalu mendengarkan keluh kesah mereka melalui internet. Atas saran Yui, orang-orang tersebut kemudian bertemu dan saling berkenalan. Awalnya, mereka sama sekali tidak terpikir untuk membentuk Akihabara@DEEP. Namun, beberapa permasalahan rupanya menimpa daerah yang mereka cintai tersebut. Permasalahan pertama adalah isu mengenai adanya “Otaku hunting” di Akihabara. Para Otaku yang sedang berjalan sendirian di Akihabara diburu dan dihajar oleh beberapa orang tak dikenal. Mereka pun tidak bisa diam melihat hal itu. Setelah beberapa cara dilakukan untuk mengatasi permasalahan “Otaku Hunting” tersebut, mereka pun kemudian membentuk Akihabara@DEEP, yang namanya merupakan nama permberian Yui.

Btw, enam orang anggota Akihabara@DEEP tersebut adalah (1) Page (Kazama Shunsuke), leader tim ini yang punya kesulitan berkomunikasi dengan orang lain karena cara bicaranya yang gagap, (2) Box (Ikuta Toma), otaku yang menderita gynophobia dan hanya menyukai cewek dua dimensi saja, (3) Taiko (Hoshino Gen), si pembuat musik digital yang punya kelainan di mana ia bisa membeku jika melihat benda/hal yang berkilauan, (4) Akira (Kosaka Yuka), cewek jago tinju yang bekerja di Maid Cafe, (5) Daruma (Himura Yuki), otaku yang punya kesukaan terhadap cosplay dan menjahit sendiri kostum buatannya, dan (6) Izumu (Matsushima Hatsune), programmer jenius yang usianya masih sangat muda (16 tahun). Bersama-sama, mereka mencoba mengatasi berbagai permasalahan yang terjadi di Akihabara. Di luar hal itu, sesuatu telah terjadi pada Yui. Dan tanpa mereka ketahui, gerak-gerik mereka telah diawasi oleh seorang presiden perusahaan IT besar bernama Nakagomi Takeshi (Kitamura Kazuki). Apa tujuan orang tersebut? Apa yang terjadi pada Yui? Dan masalah apa saja yang akan mereka hadapi? Tonton aja deh.

Saya selalu tertarik dengan film/dorama yang menggambarkan kehidupan Otaku (misal: Densha Otoko). Hal itu pula lah yang membuat saya tertarik untuk menonton dorama berjumlah sebelas episode ini. Dan hasilnya, saya sangat menyukai dorama ini! Sebelumnya, beberapa tahun yang lalu (pas masih SMA) saya sempat menonton versi filmnya yang dibintangi Narimiya Hiroki. Dan seinget saya, saya gak begitu suka versi filmnya (mungkin karena waktu itu saya nonton filmnya dengan subtitle yang kacau ya). Tapi versi doramanya sama sekali gak mengecewakan saya. Dan dorama ini adalah salah satu dorama yang berhasil bikin saya ketawa terus dari awal sampai akhir.

Dorama ini sendiri sebenarnya bukan tipe dorama yang gampang disukai semua orang, terutama jika kamu sama sekali tidak akrab dengan dunia otaku (seperti anime, manga, dsb). Tapi jika kamu memang punya minat terhadap hal-hal itu, kamu pasti akan sangat menyukai dorama ini. Ya, bagi kamu pecinta anime/manga/video game, pasti akan suka dorama ini karena banyak anime/manga dan segala hal yang berhubungan dengan Otaku yang disinggung-singgung di dorama ini (cosplay, maid café, figurine, dsb). Dorama ini sendiri menurut saya berhasil menampilkan kehidupan para Otaku dengan baik dan wajar. Penggambaran sosok Otaku di sini sendiri tidak jauh berbeda dengan penggambaran Otaku di dorama/manga/anime/media massa. Mereka adalah orang yang sering dianggap aneh dan tidak bisa dimengerti oleh sebagian orang yang merasa dirinya normal. Namun, pada dasarnya mereka hanyalah orang biasa yang punya passion yang sangat besar terhadap minat mereka. Di sini juga kita bisa melihat permasalahan yang biasa terjadi pada Otaku, seperti kesulitan berkomunikasi dengan orang lain (Page), tidak bisa dekat-dekat dengan perempuan beneran dan hanya menyukai cewek yang ada di anime/manga alias nijikon (Box), atau bahkan hikikomori (Daruma).  Otaku dalam dorama ini sama saja seperti orang biasa. Di luar minat mereka terhadap anime/manga/video game, mereka hanyalah orang biasa yang punya banyak kelemahan. Namun, dengan persahabatan yang terjalin antara mereka serta usaha mereka dalam mengatasi problem yang terjadi di daerah yang mereka cintai tersebut, mereka membuktikan bahwa orang lemah seperti mereka pun bisa melakukan sesuatu yang berguna bagi mereka sendiri dan juga orang lain.

Seperti yang saya bilang sebelumnya, dorama ini adalah salah satu dorama yang berhasil bikin saya ketawa terus dari awal sampai akhir. Unsur komedi memang hal utama yang membuat dorama ini berhasil menghibur penontonnya, dan membuat saya menobatkan dorama ini sebagai salah satu dorama terkocak yang pernah saya tonton. Unsur komedinya selain dihasilkan dari tingkah gila para tokohnya yang “Otaku banget” juga dihasilkan dari dialog dan situasi yang terjadi di dorama ini. Permasalahan-permasalahan yang terjadi juga selalu diselesaikan dengan proses yang kocak dan bikin ketawa. Selain unsur komedi, dorama ini juga memiliki unsur misteri yang membuat saya selalu penasaran ingin cepat-cepat menonton episode selanjutnya. Misteri yang ada sini berhubungan dengan misteri mengenai sosok Yui dan Nakagomi, yang nantinya akan punya pengaruh besar terhadap keberlangsungan Akihabara@DEEP. Selain dua unsur tersebut, sentuhan drama khas dorama Jepang juga turut ada dan ditempatkan sangat pas di dorama ini.

Dari segi akting, saya pun sangat menyukai akting para pemainnya. Dan saya lebih menyukai cast Akihabara@DEEP versi dorama daripada cast versi filmnya. Semua pemain di sini berperan sangat baik dan cocok dengan perannya masing-masing. Misalnya Kazama Shunsuke yang mengejutkan saya di sini sebagai Page yang gagap. Saya cuma pernah melihat dia di dorama Soredemo Ikite Yuku, sebagai sosok pembunuh yang ekspresinya sangat dingin dan nyaris tanpa emosi. Dan perannya di sini sangat jauuuuuh berbeda dengan perannya di dorama tersebut (kalo sebelumnya saya gak ngeliat list nama pemerannya, mungkin saya sama sekali gak bakal nyadar kalo dia itu yang jadi Fumiya di Soredemo). Dia berhasil memerankan tokoh Page yang gagap, pemalu, dan punya kesulitan berkomunikasi dengan orang lain (sehingga kadang harus dibantu sebuah aplikasi komputer). Lima orang pemeran utama lainnya pun berhasil memerankan perannya masing-masing dengan baik, dan semua tokoh di sini memiliki karakteristik yang sangat unik. Di luar enam orang pemeran utama, aktor-aktris lainnya pun berhasil menampilkan akting yang baik. Mulai dari tokoh klien/bintang tamu yang berbeda-beda setiap episodenya, para pelayan di Akanechin (maid café tempat Akira bekerja), otaku-otaku yang sering mampir ke Akanechin, dan masih banyak lagi pemeran lainnya. Namun, yang paling menonjol dan mencuri perhatian di luar enam tokoh utamanya tentu saja tokoh Nakagomi Takeshi yang diperankan dengan sangat baik oleh Kitamura Kazuki. Kitamura Kazuki benar-benar bagus aktingnya sebagai Nakagomi, sosok villain yang bisa terlihat seram dan lucu sekaligus (dan ketawa ku-ku-ku-nya tidak akan mudah dilupakan). Karakter ini benar-benar karakter penjahat yang lain daripada yang lain, dan sudah pasti merupakan salah satu karakter favorit saya di dorama ini (selain karakter Taiko dan Izumu – salah dua karakter yang paling saya suka di dorama ini).

Well, segini aja review dari saya. Dorama ini sangat direkomendasikan bagi orang-orang yang menyukai anime/manga/game dan tertarik pada kehidupan para Otaku, atau penyuka dorama bergenre komedi. 4 bintang 😀

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Kehilangan orang yang kita sayangi tentunya adalah hal yang sangat menyakitkan. Apalagi jika orang tersebut meninggalkan kita dengan cara yang tidak wajar, misalnya dengan cara dibunuh. Namun, luka yang timbul akibat kejadian tersebut tidak hanya akan membekas pada orang terdekat/keluarga korban saja, tapi juga keluarga dari si pembunuh itu sendiri. Setelah kejadian tersebut, segalanya tidak akan bisa berjalan normal bagi mereka, baik bagi keluarga korban maupun keluarga si pembunuh.

Yak, kira-kira itulah premis dari dorama berjudul Soredemo, Ikite Yuku (Still, Life Goes On). Dalam dorama ini, sisi keluarga korban diwakili oleh karakter Fukami Hiroki (Eita). Lima belas tahun yang lalu (ketika Hiroki masih SMP), adik perempuannya yang masih berusia 7 tahun ditemukan tewas tenggelam di sebuah danau. Setelah itu, ditemukan bukti bahwa Aki (nama adik perempuan tersebut) dibunuh oleh Fumiya yang merupakan teman sekolah Hiroki. Setelah lima belas tahun berlalu, Hiroki rupanya masih tidak bisa melupakan hal tersebut. Kematian adiknya tersebut membuat kehidupannya beserta keluarganya berubah total. Kedua orang tuanya bercerai dan ia jadi tidak pernah peduli pada sekitarnya. Sampai suatu saat ketika ayahnya meninggal karena kanker, Hiroki memutuskan untuk meneruskan usaha ayahnya untuk membalas dendam pada Fumiya si pelaku, yang kabarnya sudah bebas dan tidak terlihat menyesali perbuatannya.

Sementara itu, sisi keluarga pelaku diwakili oleh karakter Toyama Futaba (Mitsushima Hikari). Futaba adalah adik perempuan dari si pelaku. Sama seperti keluarga Hiroki, keluarga Futaba juga mengalami banyak perubahan sejak kejadian yang dilakukan salah satu anggota keluarga mereka. Mereka hidup berpindah-pindah karena sering diteror melalui telepon oleh orang tak dikenal. Sang ayah juga sulit mendapatkan pekerjaan karena reputasinya sebagai ayah dari seorang pembunuh. Di luar hal itu, keluarga ini sebenarnya sudah lama tidak berhubungan dengan Fumiya (si pelaku) sejak ia pertama ditahan.

Keduanya bertemu secara tidak sengaja di tempat pemancingan yang dikelola oleh Hiroki. Setelah beberapa kejadian, Futaba akhirnya mengetahui bahwa pria yang tidak sengaja ia temui tersebut adalah kakak dari korban pembunuhan yang dilakukan kakaknya (RALAT: setelah saya tonton lagi, ternyata Hikari datang ke tempat itu bukan secara tidak sengaja. Ia sengaja datang menemui Hiroki karena mengira Hiroki lah orang yang meneror keluarganya). Selain itu, ia juga mengetahui rencana balas dendam Hiroki pada kakaknya tersebut. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Hiroki akan berhasil membalaskan dendamnya? Selain itu, bagaimanakah perasaan Futaba yang sebenarnya pada kakaknya? Di luar hal itu, hubungan Hiroki dengan Futaba selanjutnya menjadi semakin dekat, yang secara norma sosial terasa tidak lazim karena mereka berasal dari dua kubu yang berbeda.

Menurut saya, Soredemo Ikite Yuku adalah salah satu dorama terbaik tahun 2011 lalu (well pendapat ini mungkin kurang bisa dipercaya karena dorama tahun 2011 yang saya tonton itu dikit banget, tapi serius deh dorama ini emang bagus banget). Dorama ini daleeeem banget. Buat saya yang memang pecinta film/dorama bergenre drama, dorama ini memiliki segala aspek yang dimiliki oleh drama yang bagus. Meskipun dari sinopsisnya terlihat bahwa konflik yang ada di dorama ini rada-rada nyinetron, tapi percaya deh ini bukan dorama macam itu. Dramanya sama sekali gak kacangan dan diperlihatkan dengan wajar dan sangat manusiawi. Dorama ini juga sangat berhasil mengaduk-aduk emosi penontonnya tanpa harus terlihat berlebihan.

Yang paling saya suka dari dorama ini adalah bagaimana kita tidak hanya diperlihatkan pada sudut pandang keluarga korban saja, tapi juga sudut pandang keluarga si pelaku (yang biasanya tidak dipedulikan). Sebagai penyuka tontonan yang berbau psikologis *tsaah*, saya sangat menyukai bagaimana kedua hal tersebut digambarkan. Meskipun dua-duanya terlihat sebagai kubu yang berbeda, pada hakikatnya kedua keluarga tersebut adalah sama-sama korban. Ya, bukan hanya keluarga korban saja yang mengalami tekanan akan kejadian tersebut, keluarga si pelaku juga sama-sama tertekan karena dianggap tidak membesarkan anaknya dengan baik. Saya juga suka melihat bagaimana cara pandang masing-masing keluarga (yang diwakili oleh Hiroki dan Futaba) terhadap si pembunuh. Hiroki dan keluarganya membenci habis-habisan Fumiya, dan meskipun samar mereka juga menyimpan suatu perasaan benci tersendiri terhadap keluarga si pembunuh, yang menurut saya manusiawi banget. Misalnya di episode dua ketika Hiroki akhirnya mengetahui bahwa Futaba adalah adik dari Fumiya. Tanggapan yang diperlihatkan terasa sangat wajar, namun yang terpenting adalah bagaimana ia bisa berkompromi dengan perasaan benci tersebut. Sementara itu dari pihak keluarga pelaku, meskipun diperlihatkan sudah putus hubungan dengan Fumiya, kita bisa tahu bahwa mereka (terutama sang ayah dan Futaba) tidak akan bisa membenci Fumiya. Seperti pernyataan Futaba pada Hiroki yang kira-kira begini: “Meskipun seorang kakak sering berlaku jahat pada adiknya, tapi tetap saja, si adik pasti akan selalu ingin mengajaknya bermain.” Yak, sebagai seseorang yang juga berada di posisi adik, saya sangat bisa mengerti perasaan Futaba *kalo kakak saya baca ini kayaknya saya bisa ditabok*. Seburuk-buruknya anggota keluarga kita, kita pasti tidak akan bisa membenci orang tersebut. Bahkan meskipun sudah lama tidak berhubungan dengan si pelaku pun, mereka akan tetap merasa bertanggung jawab dan merasa perlu untuk meminta maaf atas perbuatan yang dilakukan si pelaku, baik itu perbuatan di masa lalu maupun di masa yang akan datang.

Selain itu, yang paling saya suka di sini adalah bagaimana hubungan antara Hiroki dan Futaba digambarkan. Selain karena adanya chemistry yang kuat, hal ini juga sangat dipengaruhi oleh skenario dorama ini yang memang bagus. Saya sangat menyukai dialog-dialog yang ada di antara mereka berdua. Dialog antara mereka sering kali terasa awkward dan aneh, dan dua karakter ini emang sama-sama digambarkan socially awkward sih (hal yang bikin saya makin suka mereka berdua). Namun, karena itu mereka jadi terlihat sangat cocok dan seperti tercipta untuk satu sama lain *tsaaah*. Kesamaan nasib antara mereka berdua membuat mereka seolah-olah menjadi terikat satu sama lain. Dan meskipun berasal dari pihak yang berbeda, kita dapat melihat bahwa hanya Futaba yang bisa memahami Hiroki, dan begitu juga sebaliknya. Namun, meskipun begitu, inti dari dorama ini bukanlah hubungan cinta antara mereka berdua, melainkan tentang bagaimana mereka berdua (beserta keluarga masing-masing) sanggup memaafkan. Memaafkan di sini bukan hanya saling memaafkan antara dua keluarga saja ya, tapi lebih seperti memaafkan diri mereka masing-masing. Seperti pada judulnya, meskipun segala dendam dan luka tertanam di hati mereka, mereka tetap akan hidup dan hari yang baru akan selalu datang.

Selain hal-hal di atas, kelebihan dorama ini juga terletak pada akting dari semua pemainnya. Eita dan Mitsushima Hikari menampilkan akting yang sangat memukau. Namun, tidak hanya mereka saja, pemeran-pemeran pendukung dalam dorama ini juga menampilkan akting yang sangat maksimal, terutama Otake Shinobu yang memerankan karakter ibunya Hiroki serta Kazama Shunsuke yang memerankan karakter Fumiya, si sumber di balik segala hal yang ada di dorama ini. Wajah dingin tanpa ekspresinya itu bener-bener juara. Dan saya senang karena dalam dorama ini ditampilkan juga cerita tentang kehidupan si pelaku, sehingga kita dapat mengerti mengapa karakter ini bisa membunuh Aki. Tambahan, dorama ini juga mendapatkan 6 penghargaan dari 70th Television Drama Academy Award, yaitu pada kategori Best Drama, Best Actor (Eita), Best Supporting Actor (Kazama Shunsuke), Best Supporting Actress (Otake Shinobu), Best Screenwriter, dan Best Director. Kalau saja Mitsushima Hikari tidak kalah dari Inoue Mao (yang mendapat penghargaan Best Actress dari Ohisama), maka lengkap sudahlah kehebatan dorama ini 🙂  (RALAT: ternyata Mitsushima Hikari tidak menang best actress karena ia dimasukkan ke kategori supporting actress. Sistem award di sana menganut satu dorama satu pemain utama, sehingga pemeran utama dorama ini dihitungnya hanya Eita sehingga Hikari kalah dari Otake Shinobu yang memang lebih senior).

Well, segini aja review dari saya. Secara keseluruhan, dorama ini tidak hanya bagus, tapi juga sangat berkesan dan meninggalkan suatu perasaan tersendiri setelah menontonnya. Jadi, 5 bintang deh 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »