Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘kiichi nakai’

Jadi ceritanya saya lagi punya misi mulia *halah* untuk menonton semua film / dorama yang ada Eita di dalamnya nih, baik itu dia jadi pemeran utama, sidekick, ataupun cuma numpang lewat (kayak di Hanging Garden). Ah ya, sejak nonton VOICE saya emang jadi jatuh cinta sama aktor satu ini. Makanya pas saya nemuin dvd *bajakan tentunya* film Dororo ini, saya senang bukan main. Di sini Eita nggak jadi pemeran utama sih, tapi ya gak ada salahnya toh ditonton. Kebetulan sekarang juga saya lagi nonton dorama Eita yang judulnya Orange Days, dan dua pemeran utama film ini yaitu Satoshi Tsumabuki dan Kou Shibasaki juga kebetulan main di dorama itu. Makanya, nonton film ini berasa lagi liat reuni Orange Days (minus narimiya-miho) tapi dengan cerita dan setting zaman yang sangat berbeda.

Dororo bercerita tentang seorang pengembara laki-laki yang memiliki latar belakang sangat suram. Saat masih dalam keadaan bayi ia dibuang begitu saja oleh orang tuanya dengan keadaan tubuh yang tidak lengkap karena sang ayah, Kagemitsu Daigo, yang merupakan penguasa kejam saat itu (pada era sengoku kalau gak salah), mempersembahkan 48 bagian tubuh anaknya tersebut kepada iblis agar ia memperoleh kemenangan dalam perang secara terus menerus. Beruntung bayi tersebut (yang nantinya dipanggil Hyakki-maru, diperankan Satoshi Tsumabuki) ditemukan oleh seorang pria tua yang sangat ahli dalam bidang obat-obatan *mungkin semacam dukun juga*. Pria tua tersebut menciptakan tubuh baru untuk Hyakki-maru. Ia juga mengajarkan seni bertarung kepada Hyakki-maru. Lalu pada saat Hyakki-maru tumbuh dewasa, pria tua tersebut sakit keras dan sebelum ia meninggal, ia menyuruh Hyakki-maru untuk membunuh 48 iblis untuk mendapatkan anggota tubuhnya yang sebenarnya. Pengembaraan Hyakki-maru pun dimulai. Ketika ia sedang membunuh sesosok monster, aksinya itu dilihat oleh seorang pencuri wanita (yang selalu menganggap dirinya sebagai laki-laki, diperankan Kou Shibasaki) yang agak slengean dan menganggap Hyakki-maru sebagai sosok yang menarik. Pencuri tersebut lalu mengikuti Hyakki-maru karena tertarik pada pedang yang tertanam di tangan kiri Hyakki-maru. Pencuri itu lalu menanyakan siapa nama Hyakki-maru, dan Hyakki-maru berkata kalau ia tidak mempunyai nama yang pasti, kadang ia dipanggil Hyakki-maru, tapi kadang ia juga dipanggil Dororo (yang artinya anak setan). Dan selayaknya pencuri sejati, perempuan itu pun ‘mencuri’ nama Dororo dan sejak saat itu ia mengklaim bahwa namanya adalah Dororo. Mereka pun bertualang bersama mencari iblis-iblis agar Hyakki-maru mendapatkan semua anggota tubuh aslinya kembali.

Sekadar informasi, film ini diangkat dari manga berjudul sama karya Osamu Tezuka, sang ‘dewa manga’ yang terkenal sebagai pencipta manga / anime terkenal “Astro Boy”. Dan menurut saya film ini…..hmmm…. not bad. Film ini masuk kategori “standar / lumayan” (menurut saya tentunya). Yang saya suka dari film ini adalah karakter Dororo-nya itu, serta interaksinya dengan Hyakki-maru. Sungguh aneh karena judul film ini diambil dari nama karakter pendukung, bukan karakter utama. Bukankah karakter utamanya Hyakki-maru? Kenapa filmnya tidak diberi judul Hyakki-maru saja? Tapi saya tidak menyalahkan pemilihan judul ini karena sepanjang film berlangsung memang karakter DORORO inilah yang paling mencuri perhatian saya. Akting Kou Shibasaki hebat banget! Setelah membuat saya terpesona melalui perannya sebagai remaja psikopat dalam Battle Royale, kini aktingnya sebagai Dororo yang slengean dan seenaknya itu juga tidak kalah memukau. Yang bikin saya salut sih logat bicara Kou Shibasaki di film ini sangat berbeda dengan logat bicaranya yang asli, dan logatnya tersebut terdengar alami dan sama sekali tidak terdengar dibuat-buat. Ah, aku cinta perempuan ini!

Meskipun karakter Dororo ini sangat menonjol, tapi bukan berarti Tsumabuki Satoshi sebagai Hyakki-maru sang tokoh utama tidak bagus aktingnya. Dia sangat pas memerankan Hyakki-maru yang cool dan selalu tenang (dan dia tamfaaaan :p). Dan seperti yang saya bilang di atas, saya suka sekali melihat interaksinya dengan Dororo. Meskipun karakter mereka sangat jauh berbeda, tapi mereka bisa bekerja sama dan menjadi partner yang baik. Oh ya, Eita yang merupakan (salah satu) alasan saya menonton film ini juga berakting dengan baik sebagai Tahomaru, tapi di sini dia tidak berhasil membuat saya jatuh cinta karena gaya rambutnya betul-betul nggak banget (informasi gak penting).

Dari segi cerita saya suka ceritanya sih. Tapi sebagai film yang bergenre action-fantasy, buat saya ceritanya terlalu drama, dan meskipun terdapat banyak adegan-adegan aksi-nya, tapi bagi saya kurang berasa greget. Selain itu, special effect-nya menurut saya gak begitu bagus. Di beberapa scene yang menampilkan karakter iblis-iblis, tampak keliatan bohongannya (tapi setidaknya tidak separah special effect sinetron indosiar), tapi di beberapa scene juga ada yang special effect-nya terlihat bagus.

Yah, kesimpulannya film ini lumayan menghibur kok. Cocoklah ditonton untuk mengisi waktu luang. 3 bintang deh 🙂

catatan: aslinya Kou Shibasaki dan Tsumabuki Satoshi ini pacaran loh di dunia nyata *ketika film ini berlangsung*, tapi saya gak tahu apa mereka masih pacaran sampai sekarang ^^

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »