Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘kimiko yo’

Parasyte_Pt1-p1Alien berbentuk parasit bermaksud menguasai bumi dengan cara menginvasi otak manusia dan mengubah mereka menjadi kanibal. Satu di antara mereka gagal menginvasi otak dan alih-alih ‘menginvasi’ tangan kanan saja. Adalah Izumi Shinichi (Sometani Shota), manusia beruntung (?) yang otaknya terselamatkan berkat earphone yang dipakainya ketika tidur. Hasilnya, ia harus hidup berdampingan dengan Migi (yang berarti “kanan”), alien parasit yang menguasai tangan kanannya. Meskipun selamat, Shinichi tentunya tidak bisa merasa tenang karena berbagai macam pembunuhan sadis terjadi di sekelilingnya dan ia tahu “apa” yang ada di balik semua itu. Apalagi, beberapa alien parasit tersebut kemudian muncul di hadapannya dalam berbagai bentuk, mulai dari guru, polisi, murid pindahan, sampai politikus yang sedang mengikuti pemilu. Apa yang akan terjadi pada Shinichi selanjutnya? Apakah para alien parasit tersebut akan berhasil menguasai bumi? Sila ditonton kak, di blitzmegaplex terdekat.

kiseijuu1

Belakangan ini beberapa film Jepang mulai banyak yang ditayangkan di bioskop Indonesia ya. Dan dari beberapa film Jepang tersebut, Parasyte (judul Jepangnya: Kiseijuu) adalah film yang paling saya tunggu-tunggu waktu tayangnya. Salah satu alasannya adalah Sometani Shota (Himizu, Lesson of the Evil), sang pemeran Shinichi, yang menurut saya merupakan salah satu aktor muda paling berbakat yang dimiliki Jepang. Dan saya juga sangat menyukai komik buatan Iwaaki Hitoshi yang menjadi sumber asli film ini (meskipun bacanya belum tamat, hihi). Komiknya sih aslinya diterbitin lebih dari dua dekade yang lalu. Dan saya bersyukur karena film live actionnya baru dibikin sekarang karena teknik CGI buatan Jepang sekarang sudah jadi semakin bagus dan tidak kalah dari film Hollywood. Jadi buat saya lamanya rentang waktu antara awal diterbitkannya manganya dan pembuatan film live actionnya ini worth the wait lah.

Filmnya sendiri buat saya sangat memuaskan. Buat yang gak baca komiknya, gak perlu khawatir gak paham sama filmnya karena plot yang ada pada manganya tergambar dengan baik di filmnya. Buat yang baca komiknya, ada beberapa perubahan pada filmnya tapi buat saya gak mengganggu dan tetap bisa dinikmati. Tidak seperti kebanyakan film blockbuster yang sering kali berhasil menghibur tapi di dalamnya ‘kosong’, Parasyte memberikan sesuatu yang lebih dari sekadar seseorang yang berusaha menyelamatkan umat manusia dari serangan makhluk jahat. Hal itu disebabkan oleh si sosok alien parasit itu sendiri. Meskipun hal yang dilakukan mereka itu dinilai jahat dari sudut pandang manusia, itu tidak berlaku bagi mereka karena yang mereka lakukan adalah sesuatu yang sudah sewajarnya dilakukan. Seperti manusia yang memakan binatang dan tumbuhan untuk bertahan hidup, mereka juga memangsa manusia dengan alasan yang sama. Beberapa pertanyaan filosofis dimunculkan di sini, seperti “apakah hutan-hutan di dunia ini akan terselamatkan jika 99% populasi manusia musnah?” dan berbagai macam pertanyaan sejenis lainnya.

kiseijuu2

Meskipun punya tone serius, film ini tetap memiliki unsur hiburan yang dimiliki kebanyakan film blockbuster. Hiburannya itu terletak pada komedinya yang lebih condong ke black comedy. Kebanyakan sih yang lucunya bersumber dari karakter Migi (disuarakan Abe Sadao), alien parasit yang menempati tangan Shinichi, yang meskipun selalu melindungi Shinichi dari serangan parasit lainnya, tapi di sisi lain juga berharap kaumnya tersebut akan berhasil menguasai bumi. Salut pada animator di balik film ini karena meskipun wujudnya hanya berupa animasi CGI, karakter Migi ini terlihat begitu hidup dan sangat mencuri perhatian, ditambah lagi karena suaranya yang dibawakan dengan sangat baik oleh aktor Abe Sadao. Efek CGI yang bagus ini juga tidak hanya berlaku pada karakter Migi. Karakter alien parasit lainnya, dan bagaimana perubahan manusia menjadi ‘monster’ di film ini digambarkan dengan sangat bagus dan halus. Oh ya, karena film ini juga menceritakan kanibalisme, ada beberapa hal gore di film ini, tapi masih digambarkan dengan kadar wajar sehingga film ini masih aman untuk penonton yang tidak menyukai hal tersebut.

kiseijuu3

Hal lain yang saya suka di sini adalah chemistry antara Migi dan Shinichi yang digambarkan dengan sangat kuat. Salut untuk Sometani Shota karena aslinya kan dia harus berakting sendirian. Di luar itu, aktingnya sebagai Shinichi pun sangat baik meskipun image-nya sedikit berbeda dengan yang di komik. Aktor dan aktris lainnya, mulai dari yang senior seperti Fukatsu Eri, Kimiko Yo, dan Kitamura Kazuki, sampai yang muda seperti Hashimoto Ai dan Higashide Masahiro (salah satu yang bikin saya makin betah nonton film ini, meskipun senyumnya creepy amat :D) pun berakting dengan baik dan memperkuat film ini.

Overall, Parasyte part 1 ini buat saya merupakan salah satu film live action terbaik yang pernah dibuat Jepang. Dan saya harap film ini akan menjadi standar bagi film-film live action yang akan datang. Bagi yang ingin menonton, filmnya masih tayang di bioskop Blitz Megaplex. Dan saat ini saya sangat tidak sabar menunggu part 2-nya yang baru akan tayang di Jepang sekitar bulan April tahun ini. 4 bintang. Recommended!

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Film ini diawali dengan kehebohan yang melanda sebuah desa di mana pada saat itu dokter yang biasa mengobati mereka menghilang entah ke mana. Pada saat itu juga ada dua orang polisi yang tengah mencari dokter yang diketahui bernama Ino Osamu (Tsurube Shofukutei) itu. Selanjutnya scene berganti pada beberapa bulan sebelum kejadian itu yaitu pada saat seorang anak muda bernama Soma Keisuke (Eita) sedang mengendarai mobil menuju desa tersebut. Anak muda tersebut ternyata seorang doctor trainee yang ditugaskan untuk membantu kerja Ino-sensei sebagai dokter di desa tersebut. Ino-sensei sendiri sudah tiga tahun tinggal di desa tersebut dan bisa dibilang ia sangat berjasa dalam melayani kesehatan para warga desa. Setiap harinya ia melakukan kunjungan ke rumah warga untuk memeriksa kesehatan mereka. Selain itu, sudah beberapa kali pula ia berhasil menyelamatkan pasiennya dari kematian. Hal tersebut membuat warga desa tersebut sangat menyayangi dan menyanjung Ino-sensei. Melihat hal tersebut, timbul kekaguman pada hati Keisuke dan ia pun berniat untuk terus berada di desa tersebut sebagai dokter meski waktu prakteknya sudah habis. Namun, Keisuke dan para warga desa tersebut sama sekali tidak tahu bahwa Ino-sensei sebenarnya menyimpan rahasia mengenai statusnya sebagai dokter. Hal itu berujung pada suatu hari ketika Ino-sensei menghilang begitu saja, setelah ia menemui Ritsuko Torikai (Haruka Igawa), anak dari salah satu pasiennya yang merupakan seorang dokter juga. Rahasia apa yang disimpan oleh Ino-sensei? Silakan tonton sendiri 😀

Yak, salah satu film yang saya tonton karena faktor “ada Eita-nya”, dan film ini masih tergolong baru karena ditayangkan di Jepang pada tahun 2009 kemarin. Dear Doctor adalah sebuah drama sederhana yang sangat menyentuh. Saya suka banget sama film ini (bukan cuma karena ada Eita-nya lho :p). Pertama yang bikin saya suka adalah kehidupan di pedesaan yang sangat berbeda dengan kehidupan di perkotaan, di mana di desa suasananya terasa sangat hangat dan akrab. Apalagi cara Ino-sensei datang berkunjung ke rumah pasiennya sendiri membuat dunia kedokteran tidak terasa kaku atau menakutkan (berbeda jika dirawat di rumah sakit).

Tsurube Shofukutei berperan sangat bagus sebagai Ino-sensei, seorang dokter yang memiliki sebuah rahasia mengenai status dokternya. Saya suka ekspresi ‘hampa’nya ketika ia dipuji-puji banyak orang karena telah menyelematkan seorang pasien dan dianggap sebagai pemberani karena telah mengambil tindakan yang tepat namun berisiko untuk menyelematkan pasien tersebut, padahal sebenarnya Ino-sensei sama sekali tidak memiliki keberanian sama sekali untuk melakukan hal itu dan mau melakukan tindakan itu karena desakan Akemi (Kimiko Yo), suster yang selalu mendampinginya. Eita pun di sini berakting dengan baik, meskipun menurut saya perannya di sini gak begitu spesial (etapi dia dapet banyak penghargaan loh melalui perannya di sini). Yang menurut saya paling memukau aktingnya di film ini adalah Kimiko Yo (pernah bermain di Okuribito (Departures) dan the Ramen Girl) yang berperan sebagai suster Akemi, suster veteran yang berperan penting dalam membantu tugas Ino-sensei sebagai dokter.

Melalui cerita film ini, kita akan dibuat untuk bertanya-tanya mengenai batas antara yang benar dan yang salah. Hal yang dilakukan Ino-sensei kalau dilihat dari kacamata hukum mungkin bisa dibilang sebagai hal yang salah dan tidak bisa dibenarkan. Tetapi, kita tidak bisa membenci karakter ini begitu saja karena karakter ini sudah menolong banyak orang, dan pertolongannya tersebut terlihat tulus dan tidak dibuat-buat. Endingnya sendiri dibiarkan menggantung dan seolah tidak ada penyelesaian, dan menurut saya itu adalah ending yang tepat karena batas antara kebenaran dan kesalahan terlampau tipis, sehingga kita tidak dapat memutuskan apa yang tepat untuk menyelesaikan hal ini.

Ps: Film ini memenangkan banyak penghargaan di beberapa movie awards di Jepang, seperti Best Actor untuk Tsurube Shofukutei, best supporting actor untuk Eita, best supporting actress untuk Kimiko Yo, best director dan masih banyak lagi (selanjutnya klik di sini aja buat list awards yang lebih lengkap).

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Tertarik nonton film ini karena judulnya yang kelihatan ‘lezat’ (saya selalu tertarik nonton film bertema makanan :P) dan karena pemeran utamanya adalah Brittany Murphy, aktris Hollywood yang belum lama ini meninggal dunia. Hasilnya, not bad. Film ini lumayan, gak bagus banget tapi juga gak jelek. Standar-standar aja lah. Oke, jadi film ini bercerita tentang Abby (Brittany Murphy), seorang perempuan asal Amerika yang rela menyusul pacarnya yang bekerja di Jepang karena tidak tahan dengan hubungan jarak jauh. Namun malangnya, pacarnya yang bernama Ethan itu justru tidak menginginkan kehadirannya dan meninggalkannya begitu saja ke kota lain. Di tengah kedepresiannya akibat ditinggal Ethan, Abby  yang tengah merokok di beranda melihat sebuah restoran ramen kecil di seberang apartemennya. Restoran ramen itu tampak bersinar dan seolah-olah memanggil Abby untuk datang ke tempat itu. Abby pun datang ke restoran itu, tapi begitu masuk sang pemilik berkata (dalam bahasa Jepang) bahwa restorannya tersebut sedang tutup. Namun, Abby sama sekali tidak beranjak pergi, ia malah menangis sehingga membuat pemilik restoran tersebut kasihan dan akhirnya membuatkan Abby ramen.

Keesokan harinya Abby datang lagi ke restoran itu dan ia terkagum-kagum karena ramen buatan sang pemilik restoran bisa membuat orang yang memakannya jadi bahagia dan tertawa. Dengan mantap, akhirnya Abby memohon pada Maezumi (si pemilik restoran) untuk mengajarinya membuat ramen. Akhirnya, karena permintaan (sebenarnya lebih tepat karena paksaan) Abby, Maezumi mau menjadi sensei (guru)-nya. Namun, selama belajar membuat ramen tersebut, bukan berarti Abby tidak menemui kendala. Sifat Maezumi yang keras dan galak membuat banyak ketegangan dan pertengkaran terjadi di antara mereka (apalagi keduanya pun tidak saling mengerti bahasa masing-masing). Misalnya, sebelum memulai belajar membuat ramen, Abby dituntut untuk membersihkan segala barang yang ada di restoran (dan pekerjaannya ini selalu ‘kurang beres’ sehingga membuat Maezumi kesal). Lalu, apa yang akan terjadi selanjurnya? Apakah Abby akan sukses menjadi pembuat ramen? Silakan deh tonton saja.

Seperti yang saya tulis di atas, film ini termasuk dalam kategori ‘lumayan’ dan cukup menghibur. Selain itu setting-nya yang di Jepang menambah daya tarik film ini untuk saya yang memang menyukai negeri sakura itu 😛 Dalam film ini saya belajar untuk tidak menyerah pada keinginan kita sendiri. Abby yang sempat menyerah karena tidak tahan dengan sifat Maezumi yang keras, akhirnya kembali ke restoran itu karena ingat alasan kenapa dia mau belajar ramen. Hal tersebut memberi pesan pada kita agar tidak gampang mengakhiri sesuatu yang sudah kita mulai dengan begitu saja.

Akting almarhumah Brittany Murphy di sini buat saya tidak jelek, tapi juga tidak bagus. Adegan saat dia menangis di restoran ramen menurut saya terlalu maksa dan dibuat-buat (juga adegan saat dia tertawa setelah memakan ramen). Tapi akting-aktingnya di adegan lain lumayan baik juga (seperti saat dia membalas kata-kata kasar Maezumi). Yang saya suka sih chemistry-nya dengan Maezumi, si ramen chef yang menjadi sensei-nya Abby ini. Abby tidak selalu diam saja saat Maezumi memarahinya *malah sering balik membalas*, sehingga membuat hubungan antara guru dan murid ini jadi lucu dan memancing tawa. Apalagi perbedaan bahasa cukup membuat hubungan di antara keduanya bertambah lucu. Tiap Maezumi ngomong panjang lebar dengan bahasa Jepang, Abby terlihat sangat khusuk memperhatikan, tapi setelahnya ia lalu berkata “aku tidak mengerti”. Oh iya, kisah roman-nya bersama seorang cowok Jepang bernama Toshi lumayan manis juga. Sayang, cowok jepangnya kurang cakep *apa sih*

Ramennya sendiri entah kenapa kurang menggoda, padahal saya kira setelah nonton film ini saya bakal ngidam  berat sama ramen. Tapi penampilan makanan satu ini kurang menggiurkan *dan gak begitu banyak lagi* di film ini. Dan, oh ya, film ini mengajarkan bahwa dalam membuat ramen tidak hanya dibutuhkan keterampilan memasak saja, tapi juga dengan hati atau ‘cinta’. Satu hal yang cukup klise tapi ya namanya juga film :p Oke deh segini aja review dari saya. Secara keseluruhan film ini lumayan menghibur. 3 bintang cukup 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »