Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘matsushita nao’

kamoposterUeba Kamo (Matsushita Nao) membenci Kyoto, kota di mana ia lahir dan dibesarkan. Sejak lulus SMA, ia pindah ke Tokyo untuk berkuliah di Toudai yang mengantarnya pada pekerjaan top di Departemen Keuangan. Selama sepuluh tahun tinggal di Tokyo, Kamo tidak pernah sekalipun pulang ke kota kelahirannya itu. Sampai pada suatu hari akhirnya ia menginjakkan kakinya kembali di kota yang dibencinya tersebut setelah mendengar kabar mengenai meninggalnya Ueba Kaoru, yang tidak lain adalah ibu kandungnya sendiri. Ueba Kaoru adalah seorang okami (owner) dari Ueba-ya, sebuah ryokan (penginapan bergaya tradisional) yang sudah berdiri lebih dari 200 tahun dan saat ini sedang mengalami krisis karena terlilit hutang. Ueba-ya sendiri adalah salah satu faktor yang menyebabkan Kamo membenci Kyoto. Sejak kecil, Kamo merasa sang ibu lebih peduli terhadap penginapan tersebut daripada terhadap dirinya. Dan kini, nasib Ueba-ya yang disayangi ibunya tersebut bergantung pada dirinya yang merupakan satu-satunya keturunan sang ibu. Seorang konsultan keuangan bernama Kinugawa Shuhei (Shiina Kippei) lalu datang kepada Kamo dan menawari Kamo untuk menjual Ueba-ya demi menghapus hutang penginapan tersebut. Namun, Kamo menolak tawaran tersebut dan berniat untuk meneruskan peran sang ibu dalam mengelola Ueba-ya. Lalu, apa yang akan terjadi pada Kamo selanjutnya? Apakah Kamo akan sukses dalam perannya sebagai okami baru di Ueba-ya? Dan apa yang akan dilakukan Kinugawa selanjutnya dalam usahanya membujuk Kamo untuk menjual penginapan tersebut? Ayo kak, ditonton 🙂

kamo1Menonton Kamo, Kyoto e Iku dengan alasan simpel: theme songnya dibawakan oleh Shiina Ringo. Plus saya agak tertarik ingin tahu lebih jauh mengenai ryokan dengan segala tata cara tradisional di dalamnya. Dan saya tidak menyangka kalau saya akan sangat menyukai dorama ini. Pas nonton dua episode pertama sih, ceritanya masih biasa-biasa aja ya. Dan karakter utama dorama ini, yaitu Kamo, memiliki kepribadian yang begitu menyebalkan dan bikin saya jadi males ngelanjutin nonton dorama ini. Dan saya bersyukur karena saya memutuskan untuk tetap menonton dorama ini. Sama seperti karakter Kamo yang sedikit demi sedikit berkembang menjadi seseorang yang lebih baik, dorama ini pun sedikit demi sedikit berkembang menjadi semakin bagus.

kamo2Dorama ini sendiri bukan dorama yang hanya bercerita tentang “usaha mempertahankan ryokan”. Dorama ini juga merupakan dorama yang bercerita tentang hubungan ibu dan anak. Alasan Kamo dalam mengambil keputusan untuk mengelola Ueba-ya yang dibencinya adalah sebagai pembuktian diri terhadap mendiang ibunya. Sejak kecil, Kamo merasa dirinya selalu kalah dari Ueba-ya dalam urusan yang menyangkut kasih sayang ibunya. Ketika ia demam parah, ibunya malah sibuk mengurus tamunya di Ueba-ya. Ketika ia terjatuh bersama sebuah vas mahal di Ueba-ya, yang dikhawatirkan ibunya adalah vas-nya, dan bukan Kamo. Hal tersebut membentuk kepribadian Kamo seperti yang sekarang ini. Ia tumbuh menjadi perempuan yang mandiri tapi juga arogan. Kepribadian tersebut membuatnya sering mengalami “bentrokan” dengan para staff di Ueba-ya. Hal-hal yang dilakukannya dalam usaha mempertahankan Ueba-ya sering kali ditentang oleh para staff di sana. Namun, berbekal kalimat “kamu tidak mungkin bisa mengelola Ueba-ya” yang pernah diucapkan sang ibu sepuluh tahun yang lalu ketika mengantar kepergiannya ke Tokyo, Kamo tetap bertahan di Ueba-ya. Dengan segala kejadian yang dialaminya dalam usahanya sebagai okami Ueba-ya, ia tidak hanya membuat Ueba-ya berkembang menjadi lebih baik, tapi juga dirinya sendiri, yang berkembang menjadi manusia yang lebih baik. Dan sedikit demi sedikit, ia pun mulai memahami maksud dari perlakuan sang ibu dulu kepada dirinya. Perkembangan diri Kamo ini merupakan salah satu yang saya suka dari dorama ini. Tanpa perlu mengubah karakternya secara drastis, Kamo tetap bisa berkembang menjadi lebih baik meskipun tetap menjadi dirinya sendiri.

kamo3Selain hal di atas, unsur misteri juga merupakan salah satu hal yang membuat dorama ini menjadi lebih menarik dan membuat penasaran. Ya, misteri di sini berkaitan dengan karakter Kinugawa Shuhei, sang konsultan keuangan yang memiliki misi membujuk Kamo untuk menjual Ueba-ya. Kita tidak akan tahu apa yang ada di pikirannya dan hal apa yang akan dilakukannya. Apalagi ketika ia kemudian menawarkan dirinya menjadi manajer untuk membantu Ueba-ya. Dan karakter ini sendiri tampaknya memiliki kenangan khusus dengan penginapan tersebut. Meskipun tergolong karakter misterius, Kinugawa sendiri digambarkan sebagai sosok pria yang ramah, dan mudah sekali bagi penonton untuk menyukai karakternya. Dari segi akting, Matsushita Nao dan Shiina Kippei berakting sangat baik di sini. Apalagi dua-duanya memerankan karakter yang bertolak belakang dengan peran-peran yang biasa mereka mainkan. Matsushita Nao yang sebelumnya berperan sebagai istri pemalu di Gegege no Nyobo berhasil tampil meyakinkan sebagai sosok kamo4perempuan sombong dan arogan di dorama ini. Shiina Kippei yang terbiasa saya lihat berperan sebagai pria tangguh yang cool (Outrage, Shinobi) pun berhasil memerankan karakter yang agak komikal tapi tetap misterius. Selain mereka berdua, pemain-pemain lainnya pun menunjukkan akting yang baik dan memperkuat dorama ini, seperti Wakamura Mayumi (salah satu sosok yang menjadi misteri selain Kinugawa), Daito Shunsuke (teman sejak kecil Kamo, pemanis untuk para cewek-cewek), Katase Rino (head waitress Ueba-ya), dan juga pemain-pemain lainnya.

Secara keseluruhan, saya sangat menyukai dorama berjumlah 11 episode ini. Oh ya, meskipun saya tidak terlalu membahas bagian ryokan-nya, jangan khawatir karena segala hal yang berhubungan dengan ryokan di sini pun digambarkan dengan baik dan kuat. Jadi jika kamu seperti saya, tertarik nonton karena ingin tahu lebih jauh tentang ryokan, dorama ini rasanya tidak akan mengecewakanmu. Jadi, 4 bintang deh untuk dorama ini. Recommended! 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

gegegeposterSetelah menonton Carnation, saya jadi ketagihan pengen nonton lebih banyak asadora. Nah, asadora kedua yang berhasil saya tamatkan setelah Carnation ini memiliki judul “Gegege no Nyobo”. Kalo denger judul itu, mungkin kamu akan teringat pada sebuah anime klasik dengan judul Gegege no Kitaro yang dulu pernah ditayangkan di tv lokal. Dua tontonan tersebut memang berkaitan kok, karena Gegege no Nyobo bercerita tentang kehidupan dari Mizuki Shigeru yang merupakan mangaka dari Gegege no Kitaro. Namun, sesuai judulnya yang memiliki arti “Gegege’s Wife”, kehidupan mangaka tersebut diceritakan melalui sudut pandang sang istri. Drama ini sendiri diangkat dari autobiografi istri Mizuki Shigeru yang bernama Mura Nunoe. Pada drama ini, sang istri memiliki nama Iida Fumie / Murai Fumie, diperankan oleh aktris Matsushita Nao.

gegege1Gegege no Nyobo berkisah pada era Showa (dimulai dari tahun 1939, namun sebagian besar ceritanya berlatar pada tahun 60-an). Iida Fumie merupakan anak keempat dari enam bersaudara. Sejak kecil, Fumie merupakan anak yang pemalu. Ia memiliki tinggi badan di atas anak perempuan rata-rata. Hal tersebut membuat Fumie merasa semakin rendah diri, bahkan ketika ia sudah berusia dewasa. Tinggi badannya tersebut pula membuatnya susah mendapat jodoh meskipun sudah menginjak usia 28 tahun. Sampai suatu hari datang tawaran omiai (arranged marriage/perjodohan) pada dirinya. Namun, laki-laki yang menjadi partner omiai Fumie ini kelihatan kurang meyakinkan. Ia sepuluh tahun lebih tua dari Fumie, bekerja sebagai mangaka untuk rental manga, tinggal di Tokyo, dan (yang paling mengejutkan) tidak memiliki lengan kiri karena terluka ketika ikut perang. Hmm, apa ada perempuan yang mau dinikahkan dengan laki-laki seperti itu? Meskipun beberapa anggota keluarga Fumie tidak menyetujui hal tersebut, sang ayah (diperankan Osugi Ren) bersikeras untuk tetap memproses lamaran tersebut. Fumie yang awalnya merasa ragu pun akhirnya memutuskan menerima lamaran itu, karena ia merasa laki-laki bernama Murai Shigeru (atau punya nama pena Mizuki Shigeru, diperankan oleh Mukai Osamu) yang akan menjadi calon suaminya tersebut adalah orang yang baik.

gegege2Pertemuan antara kedua keluarga pun ditetapkan. Pada pertemuan pertama itu, kedua belah pihak sama-sama setuju untuk menikahkan kedua anak mereka. Yang mengagetkan lagi, pernikahan diputuskan dilaksanakan pada lima hari setelah pertemuan pertama mereka karena Shigeru memiliki deadline pekerjaan sehingga ia harus cepat-cepat kembali ke Tokyo (dan sebenarnya Shigeru tidak pernah berpikir untuk menikah kalau tidak karena dipaksa oleh ibunya). Setelah pernikahan selesai dilaksanakan, Fumie pun dibawa Shigeru ke Tokyo. Meskipun suaminya tersebut tinggal di Tokyo, rumahnya sendiri berada di daerah yang jauh lebih ‘desa’ daripada daerah tempat tinggal Fumie di Otsuka (prefektur Shimane). Ketika sampai pun, Shigeru langsung mengurung diri di kamarnya untuk melanjutkan pekerjaannya dalam menggambar manga. Fumie pun merasa sedih karena ia tetap merasa sendirian meskipun sudah menikah. Di luar hal itu, meskipun Shigeru selalu mengerjakan manganya dengan sepenuh hati, manga-manga karyanya tersebut tidak pernah laku sehingga hal itu membuat pasangan suami istri tersebut harus hidup dalam kemiskinan. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya pada hubungan Fumie dan Shigeru? Apakah mereka berdua sanggup bertahan hidup dalam kemiskinan? Tonton aja deh 😀

gegege3Di balik kesuksesan seorang pria, pasti ada wanita hebat di belakangnya. Pepatah tersebut mungkin sangat tepat untuk menggambarkan inti cerita drama ini. Di balik segala kesulitan yang ditempuh Shigeru dalam usahanya untuk mencapai kesuksesan, ada Fumie yang selalu setia berada di sampingnya. Mungkin terdengar klise ya tapi hal tersebut digambarkan dengan sangat natural dan realistis. Shigeru dan Fumie bukanlah pasangan suami istri yang sempurna. Shigeru bukanlah tipe suami idaman para wanita. Ketika baru menikah, ia langsung kembali ke pekerjaannya dan membiarkan Fumie seorang diri. Dan ketika sedang bekerja, ia sama sekali tidak bisa diganggu oleh apapun. Ia juga miskin dan punya banyak tagihan. Pekerjaannya sebagai mangaka pun tidak menjanjikan apa-apa karena dunia rental manga yang memang sedang berada dalam masa sulit saat itu (manga yang dikerjakan Shigeru dipasarkan melalui rental, bukan majalah manga seperti yang terkenal sampai saat ini). Kadang penerbit membayar Shigeru hanya setengah dari yang seharusnya. Dan kadang ia tidak dibayar sama sekali. Kadang ia juga harus menggadaikan barang berharga miliknya agar bisa makan hari itu. Hmm, kebanyakan perempuan mungkin lebih memilih pergi dan kembali ke orang tuanya ya daripada bertahan hidup dengan Shigeru. Namun Fumie tetap bertahan. Pada awalnya ia memang merasa tidak nyaman dengan keadaannya. Ia merasa jauh dan tidak mengenal suaminya. Namun, sedikit demi sedikit ia mulai membiasakan dirinya dengan hal-hal ‘unik’ yang ada pada diri Shigeru. Sedikit demi sedikit pula, ia mulai jatuh cinta pada Shigeru yang meskipun terlihat cuek di luar, tapi sebenarnya punya hati yang baik dan punya cara sendiri dalam menunjukkan perhatiannya. Pada saat paling sulit sekalipun, Fumie tetap tidak pernah meninggalkan Shigeru. Secara tidak langsung, hal itu menjadi kekuatan bagi Shigeru. Jika tidak ada Fumie, mungkin saja Shigeru tidak akan menjadi sesukses seperti saat ini. Dan hal itulah yang saya suka dari asadora. Asadora selalu menunjukkan “girl power” dengan cara yang berbeda-beda. Di Carnation, girl power-nya ditunjukkan melalui perjuangan Itoko sebagai wanita yang bekerja sekaligus tulang punggung keluarga. Sementara itu di Gegege no Nyobo girl power-nya ditunjukkan melalui kesetiaan sang istri dalam mendampingi suaminya. Hmm, mungkin terdengar pasif ya jika dibandingkan dengan yang di Carnation, tapi bukankah kebahagian tiap perempuan itu berbeda-beda? 🙂

gegege4Selain hal di atas itu, yang menarik lagi dari drama berjumlah 156 episode ini (15 menit tiap episode) adalah kita bisa melihat perjalanan Mizuki Shigeru dalam meraih kesuksesan. Sejak kecil, Shigeru tertarik dengan hal-hal berbau gaib seperti yokai atau semacamnya. Hal itu berpengaruh pada manga-manga ciptaannya yang banyak bercerita tentang hal itu (selain menggambar tentang yokai, Shigeru juga menggambar manga-manga tentang perang berdasarkan pengalamannya ketika ikut perang, sebuah pengalaman yang membuatnya kehilangan sebelah lengannya). Bakat yang ia miliki pun membuat manga-manganya menjadi original dan berbeda dengan manga-manga yang lainnya. Namun, pada masa itu manga masih dianggap sebagai bacaan untuk anak-anak, dan manga-manganya dianggap terlalu seram untuk dibaca anak-anak. Oleh karena itu, manganya pun tidak pernah laku. Namun, tidak ada perjuangan yang sia-sia kan? Ya, proses Shigeru sebelum mencapai kesuksesan ini adalah salah satu yang paling menarik dari drama ini. Ia dan Fumie harus hidup dalam kemiskinan. Tapi miskin di sini bukan miskin kayak di sinetron Indonesia yang selalu terlihat lebay ya, tapi juga bukan berarti miskin di sini adalah hal yang sepele. Saya suka dengan cara Shigeru dan Fumie yang menganggap kemiskinan sebagai suatu tantangan. Ada saat-saat di mana mereka merasa depresi karena kemiskinan, tapi ada juga saat-saat di mana mereka merasa bahagia hanya dengan hal-hal kecil. Dan ketika manga karya Shigeru tiba-tiba mendapat perhatian penerbit besar yang membawanya pada kesuksesan, bukan berarti perjuangan berhenti sampai di situ. Berbagai hal yang menguji rumah tangga mereka berdua tetap ada bahkan ketika Shigeru sudah sukses, tapi yang terpenting adalah bagaimana cara mereka berdua dalam menghadapi ujian-ujian tersebut.

gegege5Seperti asadora pada umumnya, drama ini juga memiliki banyak karakter. Matsushita Nao berperan sangat baik sebagai Fumie, heroine drama ini. Karakternya mungkin tidak terasa istimewa jika dibandingkan dengan karakter sang suami yang kepribadiannya benar-benar unik, tapi ia punya chemistry yang sangat pas dengan Mukai Osamu sehingga peran yang dimainkannya tetap bisa mengimbangi peran sang suami. Dan saya selalu suka Mukai Osamu ketika ia memainkan peran-peran cuek dan easy-going seperti Shigeru ini (karena di peran-peran serius aktingnya biasanya gak terlalu bagus). Gak heran kenapa dia bisa jadi sepopuler itu setelah membintangi drama ini, karena karakternya memang tipe karakter yang gampang disukai (meskipun dengan segala keunikannya). Karakter-karakter lainnya, seperti anggota keluarga Iida (keluarga Fumie) dan keluarga Murai (keluarga Shigeru) pun hampir semuanya memiliki karakterisasi menarik (perhatian khusus untuk Osugi Ren yang berperan sebagai ayah Fumie serta Takeshita Keiko dan Kazama Morio yang berperan sebagai orang tua Shigeru). Para pemeran di luar anggota keluarga Fumie dan Shigeru pun menampilkan akting yang sama baiknya. Beberapa di antaranya adalah Matsuzaka Keiko (pemilik rental manga dekat rumah Shigeru yang menjadi teman pertama Fumie di lingkungan barunya), Sugiura Taiyou (teman sejak kecil Shigeru yang gila duit dan selalu punya banyak akal), Murakami Hiroaki (pemilik penerbitan kecil yang menyadari bakat Shigeru), Kajihara Zen (rekan Shigeru yang sesama mangaka), Emoto Tasuku (asisten terlama Shigeru), dan masih banyak lagi. Semua karakter yang ada di drama ini memiliki pengaruh yang berbeda-beda terhadap pasangan suami istri tersebut dan membuat drama ini menjadi lebih berwarna.

Overall, drama ini menurut saya recommended banget dan cocok ditonton penggemar asadora (atau orang yang baru mau memulai menonton asadora). Tidak semengesankan Carnation tapi dorama ini punya charm-nya sendiri yang menjadikannya memiliki tempat istimewa di hati saya. 4,5 bintang! 🙂

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »