Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘michelle williams’

Banyak orang yang menganggap bahwa pernikahan adalah salah satu cara untuk mencapai kebahagiaan. Dengan menikah kamu akan bahagia, begitu menurut pandangan orang-orang tersebut. Namun, pada kenyataannya, tidak sedikit pasangan suami istri yang setelah beberapa lama menikah kemudian mengalami masalah dan memutuskan untuk berpisah. Tidak jarang pula dari pasangan-pasangan itu yang akhirnya menjadi saling membenci. Satu pertanyaan akan muncul mengenai keadaan ini: pergi ke manakah perasaan cinta yang mereka miliki seperti pada saat mereka belum menikah?

Hal itulah yang terjadi pada pasangan Dean (Ryan Gosling) dan Cindy (Michelle Williams) dalam film Blue Valentine yang disutradarai oleh Derek Cianfrance. Sudah enam tahun mereka menikah. Mereka juga memiliki seorang putri yang sangat manis dan baik. Namun, meskipun begitu, hubungan antara sepasang suami istri ini tidak bisa dibilang baik. Setelah usia pernikahan mereka yang keenam, mereka mulai merasa hubungan mereka berubah menjadi hambar dan tidak ada gairah. Perasaan cinta mereka yang menggebu-gebu selama masa pacaran seperti pergi entah ke mana. Percekcokan pun senantiasa menghiasi hubungan mereka. Lalu, pada suatu hari, Dean mengajak Cindy ke sebuah motel, dengan tujuan untuk mencari suasana baru dan untuk memperbaiki hubungan mereka. Namun, apakah yang terjadi akan sesuai dengan harapan mereka?

Film ini tidak hanya menampilkan bagaimana carut marut kehidupan rumah tangga Dean dan Cindy saja, tapi juga menampilkan saat-saat hubungan Dean dan Cindy bermula, seperti bagaimana pertama kali mereka bertemu, berpacaran, dan kemudian memutuskan untuk menikah. Jadi di sini penonton dihadapkan pada dua keadaan, yaitu keadaan ketika mereka belum menikah yang penuh cinta dan kemesraan, dan keadaan ketika mereka sudah menikah, di mana hubungan penuh cinta itu berubah menjadi kehambaran dan ketidakcocokan. Lalu, apa yang akan terjadi pada mereka berdua? Apakah mereka akan berhasil mengatasi masalah rumah tangga mereka, atau malah sebaliknya? Tonton aja deh.

Awalnya saya nonton ini karena mendengar bahwa film ini memiliki sedikit kemiripan dengan Revolutionary Road (yang lumayan saya suka). Meskipun sebenarnya dua film ini sangat berbeda, ternyata dua film ini memang menampilkan tema yang hampir sama, yaitu tentang sisi lain dari sebuah pernikahan, di mana pernikahan tidaklah seindah yang orang-orang kira. Memang, ada banyak pasangan yang berhasil langgeng sampai kakek nenek, tapi tidak jarang pula yang gagal seperti pasangan Dean dan Cindy ini. Film ini juga menunjukan pada kita bahwa rasa cinta itu bisa saja tidak bertahan lama.

Yang nonton film ini mungkin akan bertanya-tanya, kenapa rasa cinta antara Dean dan Cindy bisa menghilang begitu saja. Padahal ketika mereka berpacaran, mereka terlihat sangat jatuh cinta satu sama lain. Kalo menurut saya, hal itu wajar terjadi. Bisa dilihat kok di scene-scene saat mereka pacaran. Dean hadir tepat ketika Cindy baru putus dari pacarnya. Menurut pengamatan saya sih, Dean ini kok kayak pelarian Cindy ya. Cindy jatuh cinta pada Dean, menurut saya itu benar sekali. Tapi menurut saya lagi, hal itu terjadi karena Dean muncul di saat yang tepat, dan Dean bisa mengobati rasa sakit Cindy yang baru berpisah dengan pacarnya (dan menurut saya kelihatan kok kalo cinta Cindy gak sedalam cinta Dean padanya, terbukti karena dari pasangan itu, cuma Dean yang keliatan bener2 ingin memperbaiki hubungan mereka). Belum lagi, mereka memutuskan untuk menikah bukan karena mereka benar-benar ingin melakukannya, tapi karena Cindy hamil duluan, yang tidak jelas hamil anak siapa. Dean sendiri adalah tipikal cowok ‘kuno’ yang percaya pada cinta pada pandangan pertama. Meskipun ia tidak yakin anak yang dikandung Cindy adalah anaknya, tapi karena ia gentleman sejati, ia mau bertanggung jawab menikahinya. Dengan pekerjaannya yang cuma “tukang bantu pindahan”, Dean berani menikahi Cindy dengan hanya modal “cinta”.

Keadaan di atas menurut saya sudah cukup menjadi alasan mengapa pernikahan Dean dan Cindy tidak berjalan mulus. Pekerjaan Dean yang tadinya “tukang bantu pindahan” cuma berkembang sedikit menjadi “tukang cat”. Ketika belum menikah Cindy tidak peduli apa pekerjaan Dean (karena cinta). Tapi setelah menikah, Cindy jadi ‘gerah’ juga melihat pekerjaan Dean yang tentunya tidak cukup untuk menopang keadaan ekonomi keluarga mereka. Belum lagi, impian Cindy menjadi dokter tidak bisa ia wujudkan setelah ia menikah. Di sinilah, cinta dihadapkan pada realita kehidupan. Cinta saja tidak cukup untuk menjadikan mereka bahagia. Dalam Blue Valentine, realita berhasil mengalahkan dan menghapuskan perasaan cinta.

Makanya, menurut saya film ini tidak hanya bertujuan untuk menampilkan sisi lain dari pernikahan (yang tidak hanya ditunjukan melalui karakter Dean-Cindy saja, tapi juga kedua orang tua masing-masing dari mereka yang pernikahannya juga sama-sama tidak mulus) saja. Ada nasihat terselubung dari film ini, bahwa cinta itu tidak cukup untuk menjadikan suatu pernikahan terjamin kebahagiaannya. Menurut saya bener kalo ada orang bilang bahwa nikah itu bukan cuma modal cinta doang. Cinta itu memang penting, tapi kita juga harus memikirkan faktor-faktor lain sebelum memutuskan untuk menikah. Meskipun itu gak ngejamin pernikahan akan langgeng juga sih…. *eh gimana sih pris?*

Well, ganti ke urusan akting. Saya suka banget sama akting dua pemeran utamanya. Michelle Williams baguuuuus banget aktingnya di sini. Begitu juga dengan Ryan Gosling, yang karakternya di sini agak-agak mirip dengan perannya di film Notebook (tapi karakternya di Blue Valentine lebih menarik). Mereka berhasil menampilkan chemistry yang sangat pas. Akting mereka juga berhasil membuat film ini terasa sangat emosional. Sama seperti Revolutionary Road, buat saya film ini termasuk tipe film depressing. Film ini menyedihkan, tapi sedihnya itu bukan sedih yang bisa bikin saya nangis, tapi lebih ke perasaan sakit seperti…hmm… patah hati? Well, ketika saya sampai di bagian endingnya, hati saya rasanya jadi ikutan hancur *emaap lebay*. Overall menurut saya film ini sukses memainkan perasaan saya. Tapi kalo disuruh nonton ulang, saya bakalan mikir dua kali deh *gak tahan karena terlalu depressing*. So, film ini sangat saya rekomendasikan pada para penyuka film depressing dan film romantis yang berbeda dari film romantis kebanyakan. Dan saya juga menyarankan agar film ini ditonton oleh orang-orang yang mau menikah. Biar mereka gak jadi nikah pris? Bukan kok, tapi biar mereka berpikir, apakah mereka benar-benar siap untuk melanjutkan hidup mereka ke jenjang pernikahan? Kalo setelah nonton ini niat mereka tidak goyah, berarti mereka lulus deh (apa sih…).  So, 4 bintang deh untuk film ini 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »