Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘naka riisa’

Jepang sepertinya memang tidak pernah bosan membuat dorama bertemakan detektif. Pada musim dingin tahun ini pun, terdapat beberapa dorama bertemakan detektif yang ditayangkan di tv-tv Jepang, salah satunya adalah dorama berjudul Lucky Seven yang telah selesai tayang baru-baru ini. Tidak seperti dorama detektif kebanyakan yang biasanya bercerita tentang detektif yang ada di kepolisian, Lucky Seven bercerita tentang sebuah agen detektif swasta yang bernama Lucky Detective Agency.

Lucky Detective Agency pada awalnya hanya terdiri dari enam orang saja. Seperti kebanyakan kantor detektif swasta, mereka melayani permintaan dari klien yang datang. Hal-hal yang mereka selidiki bisa bermacam-macam, bisa menyelidiki kasus perselingkuhan, kasus penipuan, dan berbagai macam kasus lainnya (tergantung permintaan klien). Pada adegan pertama, diperlihatkan bahwa beberapa detektif dari Lucky Detective Agency sedang menyelidiki perselingkuhan yang dilakukan istri dari klien mereka. Bukti bahwa si istri berselingkuh berhasil didapatkan, namun mereka melakukan kesalahan karena salah satu dari mereka, yaitu Nitta Teru (Eita) sempat terlihat oleh Tokita Shuntaro (Matsumoto Jun), selingkuhan dari si istri klien. Pada awalnya Shuntaro tidak menyadari bahwa ia sedang diselidiki. Namun, keesokan harinya, ketika ia mencoba menghubungi selingkuhannya, ia lalu mengetahui bahwa perselingkuhannya telah diselidiki oleh detektif. Dan pada saat itu juga, secara kebetulan ia melihat Nitta, dan langsung menyadari bahwa orang itu adalah detektif yang menyelidikinya. Kejar-kejaran antara Shuntaro dan Nitta pun tidak bisa dihindarkan, dan Shuntaro berhasil mengejar Nitta sampai ke kantornya. Melihat kegigihan Shuntaro dalam mengejar Nitta, Fujisaki Touko (Matsushima Nanako) yang merupakan boss sekaligus pendiri Lucky Detective Agency kemudian menawari Shuntaro untuk bergabung menjadi anggota ketujuh Lucky Detective Agency. Shuntaro yang seorang pengangguran dan tidak pernah punya pekerjaan tetap pun mencoba menerima tawaran itu. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Shuntaro akan betah bekerja di Lucky Detective Agency? Apakah menjadi detektif adalah pekerjaan yang tepat untuknya? Dan, kasus-kasus macam apakah yang akan mereka selidiki selanjutnya? Tonton aja deh.

Yang membuat saya tertarik menonton dorama ini tentu saja karena salah satu pemainnya adalah aktor Jepang favorit saya *uhuk Eita uhuk*, dan dorama bertemakan detektif memang selalu menarik perhatian saya. Dan yang saya suka lagi adalah meskipun dorama ini bertemakan detektif, tapi kasus-kasus yang diselidiki bukan seputar kasus pembunuhan seperti di kebanyakan dorama detektif lainnya (meskipun kasus yang terakhir masih ada sangkut pautnya dengan pembunuhan). Jadi buat kamu yang suka dorama detektif tapi bosen sama dorama detektif yang isinya kasus pembunuhan terus, dorama ini bisa dijadikan sebagai alternatif tontonan (dan bukankah detektif itu tidak harus selalu identik dengan kasus pembunuhan? :)).

Kasus-kasus dalam Lucky Seven sendiri bukan tipe kasus yang hebat, membuat penasaran, atau menguras pikiran. Bagian penyelidikannya pun menurut saya biasa aja. Lalu, apa yang menjadikan dorama ini menjadi menarik dan menghibur? Jawabannya adalah chemistry antara dua tokoh utamanya, yaitu Shuntaro dan Nitta. Menurut saya, interaksi antara dua tokoh ini lah yang membuat dorama ini menjadi sangat menarik. Ya, aroma “bromance” dalam dorama ini memang menjadi kekuatan utama dorama ini, sampai-sampai menutupi karakteristik tokoh-tokoh yang lain (ini jeleknya sih). Diceritakan bahwa Nitta dan Shuntaro ini dari awal tidak pernah akur, tapi meskipun begitu pada akhirnya mereka selalu menjadi tim yang solid.

Selain itu, kelebihan lain dari dorama ini adalah kita juga akan disuguhi beberapa fighting/action scene yang memukau, salah satunya adalah fighting scene antara Shuntaro dan Nitta di episode pertama yang settingnya dibuat ala setting di film Fight Club. Meskipun kesannya fanservice banget, tapi itu adalah salah satu fighting scene terbaik yang pernah saya lihat di dorama Jepang, dan membuat saya merasa harus menonton dorama ini sampai akhir. Di episode-episode selanjutnya pun kita akan disuguhi beberapa action scene yang meskipun tidak se-epik action scene yang pertama, tapi lumayan menghibur. Di luar unsur actionnya, dorama ini juga memuat unsur komedi yang meskipun gak lucu-lucu amat, tapi lumayan lah bikin nyengir-nyengir dikit.

Matsumoto Jun dan Eita berakting bagus di sini. Tapi catatan untuk Matsujun, meskipun dia berakting lumayan baik di sini, di episode-episode awal rasanya dia gak terlihat seperti lead character karena karakter Nitta terlihat lebih menonjol daripada karakter Shuntaro. Menurut saya, karakter Shuntaro ini hanya menarik ketika dia sedang berada di adegan yang sama dengan Nitta. Ketika dia lagi sendirian, karakter ini tiba-tiba jadi ngebosenin (ini saya bukan bias ke Eita loh, karena saya juga adalah penggemar Matsujun). Ya, meskipun cuma pemeran “kedua”, Eita memang sangat menarik perhatian di sini. Meskipun dari segi fisik dia mengalami tanda-tanda penuaan dan tanda-tanda anoreksia, tapi dia berhasil menjadikan karakter Nitta sebagai karakter yang sangat unik dan memiliki daya tarik yang melebihi karakter utama.

Catatan: Mulai dari paragraf ini, SPOILER ALERT ya.

Namun, sayangnya aroma “bromance” antara Shuntaro dan Nitta tidak bertahan lama karena di episode tengah tiba-tiba karakter Nitta menghilang begitu saja (dengan alasan yang awalnya kurang jelas, tapi di episode terakhir karakter ini akan muncul lagi). Beberapa rumor menghiasi hilangnya karakter tersebut, tapi apapun rumornya, hal tersebut tentunya menimbulkan kekecewaan yang sangat besar pada penontonnya (termasuk saya). Sisi positifnya sih, dengan menghilangnya karakter ini, karakter lain seperti Junpei (Oizumi Yo), Asuka (Naka Riisa), dan Touko jadi mulai ditonjolkan, tapi sayangnya pembangunan karakter tokoh yang lain tersebut tidak berhasil membuat dorama ini jadi lebih menarik dari sebelumnya. Sisi positif yang lain, ini adalah kesempatan Matsujun untuk menunjukkan bahwa dia lah lead character dorama ini. Tapi sayangnya meskipun karakter Shuntaro ini memiliki sedikit perkembangan, ia tetap tidak semenarik ketika ia sedang bersama Nitta. Well, dari episode enam sampai episode delapan menurut saya masih menghibur sih, tapi tetep aja rasanya jadi agak hambar karena anggotanya yang gak lengkap, dan di-skip juga kayaknya gak bikin kita kehilangan sesuatu untuk memahami cerita selanjutnya. Baru pas episode sembilan, dorama ini kembali menarik perhatian saya. Tapi sayangnya dorama ini cuma terdiri dari sepuluh episode, jadi dorama ini kembali menarik malah pas udah mau beres 😀

Selain memengaruhi karakter lainnya, hilangnya karakter tersebut juga turut memengaruhi plot cerita dalam dorama ini. Menurut saya dorama ini jadi hilang fokus, maunya nyelidikin satu kasus per-episode atau nyelidikin satu kasus besar yang jadi benang merah dari semua kasusnya (misalnya kayak di dorama Unfair)? Hasilnya, dorama ini juga terlihat mau dua-duanya, biarpun dua-duanya ternyata gak nyambung *err.. gimana ya bahasanya*. Kasus-kasus kecil di dalamnya ternyata gak ada hubungan sama sekali sama kasus besar di episode akhir. Kasus di episode 4-5 sepertinya masih ada kaitan dengan kasus besar itu sih, tapi menurut saya kaitannya kecil banget. Dan kasus yang harusnya jadi kasus besar itu menurut saya gak hebat banget, dan bisa selesai dalam satu episode saja dan gak perlu penyelidikan yang berkelanjutan (apa lagi sampe harus bikin Nitta menghilang beberapa episode untuk menyelidiki kasus tersebut, belum lagi clue yang didapat dari penyelidikannya ternyata cuma gitu doang). Dan saya menemukan sedikit kejanggalan pada kasus yang terakhir itu. Untuk apa menyelidiki kasus yang terjadi 16 tahun yang lalu? Bukannya batas kadaluarsa suatu kasus di Jepang itu cuma 15 tahun ya? *CMIIW* Saya rasa kalo kasusnya diubah jadi kasus 15 tahun lalu dan beberapa hari lagi akan kadaluarsa, kasusnya akan menjadi lebih menarik. Curiganya sih, kasus yang terakhir ini ada di luar rencana skenario awal, dan kemudian dibikin biar hilangnya karakter Nitta yang terasa tiba-tiba jadi terlihat masuk akal.

Catatan: SPOILER berakhir.

Well, terlepas dari segala kekurangannya, saya lumayan suka dorama ini sih. Menurut saya dorama ini tetap layak tonton dan menghibur, meskipun episode-episode tengahnya jadi menurun dan mengecewakan. Jadi, 3,25 bintang deh *iyee maap nanggung*.

Rating : 1 2 3 3,25 4 5

Read Full Post »

Jadi ceritanya saya lagi libur kuliah (tapi ikut sp satu mata kuliah sih) dan selama libur ini kerjaan saya nonton film terus. Saking banyaknya film yang ditonton, saya sampai bingung mau nge-review yang mana dulu. Karena itu kali ini saya akan nulis review singkat dari beberapa film (gak semua ya, kebanyakan soalnya :p) yang saya tonton belakangan ini. Mungkin kalau tidak malas, beberapa film dalam review ini akan saya buatkan review versi panjangnya.

1. Linda Linda Linda (Japan, 2005)

Salah satu film remaja Jepang yang cukup bagus dan menarik. Idenya sederhana, tentang sebuah band yang beranggotakan siswi-siswi SMU yang akan tampil dalam festival sekolah, namun menemui masalah yang menyebabkan dua personil band itu keluar (termasuk sang vokalis). Beberapa hari sebelum tampil, mereka pun mencari vokalis baru secara ‘asal’. Adalah  Son, siswi pindahan dari Korea Selatan, yang menjadi vokalis baru mereka. Lalu timbul berbagai kejadian sebelum mereka tampil, dan meskipun baru beberapa hari, karakter Son ini akhirnya menemukan kegembiraan dan semangat baru sejak bergabung dengan band tersebut. Film ini menarik dan cukup menghibur. Yang saya suka adalah ide cerita film ini sama sekali tidak muluk-muluk, namun tidak mengurangi daya tarik film ini. Akting Bae Doona sebagai orang Korea yang sekolah di Jepang sangat memikat. Begitu juga dengan Kashii Yuu. Terakhir, habis nonton film ini saya jadi terus terngiang-ngiang sama lagu Linda Linda dari The Blue Hearts yang mereka bawakan pada festival tersebut :D. 3,5 / 5

2. Kick-Ass (2010)

Sebenarnya saya tidak pernah tertarik  pada film-film bertema superhero. Bukan karena jelek, tapi memang bukan selera saya saja. Tapi begitu mendengar bahwa superhero-superhero dalam Kick-Ass bukanlah superhero beneran (maksudnya mereka tidak mempunyai kekuatan super), saya pun jadi pengen nonton film ini, dan ternyata saya menyukai filmnya. Film ini lucu dan segar. Humornya yang tergolong ke dalam humor-humor masa kini lumayan menghibur. Dan yang membuat film ini semakin menarik adalah karakter Hit Girl yang diperankan Chloe Moretz. Meskipun memancing banyak perdebatan, tapi saya cinta karakter ini. 4/5

3. Rainbow Song (Japan, 2006)

Nama Shunji Iwai yang berperan sebagai produser dan co-writer film ini lah yang membuat saya menonton film ini. Belum lagi ada Hayato Ichihara, Ueno Juri, dan Yu Aoi. Dan saya gak nyesel nontonnya! Ceritanya termasuk klise, tentang persahabatan yang menjadi cinta *ceileh*. Cewek dan cowok bersahabat, lalu si cewek mulai jatuh cinta pada si cowok. Tapi sebelum si cowok menyadari perasaannya pada si cewek, si cewek keburu meninggal (tenang ini bukan spoiler karena dari awal kita sudah diberitahu kalo ceweknya meninggal). Cerita seklise apapun kalau dikemas dengan baik, pasti akan jadi film yang bagus. Begitu juga dengan film ini. Saya sangat menikmati film ini dari awal sampai akhir. Ueno Juri berakting sangat bagus di film ini sebagai karakter cewek yang meninggal itu. Dan Hayato Ichihara, ini kali kedua saya melihat dia setelah melihatnya di Lily Chou-chou, dan penampilan fisiknya udah jauh berubah dari pas di Lily Chou-chou. Yu Aoi, meskipun kemunculannya tidak begitu banyak  tapi tetap menampilkan akting yang memikat. Sebenarnya film ini memiliki beberapa kekurangan, tapi tidak begitu mengganggu. Yang jelas, ini tipe film yang akan saya tonton berkali-kali. 3,75/5.

4. The Girl Who Leapt Through Time (Japan, 2006)

Akhir-akhir ini lagi ketagihan nonton anime yang berbentuk movie. Dan film ini adalah salah satu anime movie yang sangat saya rekomendasikan untuk ditonton! Tentang seorang siswi SMU yang tiba-tiba memiliki kemampuan untuk meloncati waktu. Dan kemampuannya ini digunakannya untuk mengubah hal-hal yang bisa dibilang sederhana, namun nantinya akan menimbulkan masalah. Film ini lucu dan menghibur, animasinya juga bagus. Selain itu film ini menampilkan kejutan yang tidak saya duga. Review panjangnya menyusul ya. 4/5.


5. The Notebook (2004)

Karena saya ini termasuk orang yang menyukai film-film cinta yang mengharu biru, awalnya saya kira film ini akan berhasil membuat saya termehek-mehek. Tapi nyatanya, dari awal sampai akhir, ekspresi saya tetap datar. Ya ya ya, mungkin ada yang salah pada diri saya karena sebagian besar orang yang menonton film ini mengatakan film ini mengharukan dan sebagainya. Tapi entahlah, saya tidak bisa merasakan kedalaman hubungan antara Noah dan Allie. Karakter Noah yang begitu hidup di bagian awal, setelah berpacaran dengan Allie kok rasanya jadi melempem dan tidak terasa semangatnya. Tapi di luar itu saya suka aktingnya Rachel McAdams. 2,75/5

6. Perfect Blue (Japan, 1998)

Anime movie juga, disutradarai oleh Satoshi Kon. Ceritanya tergolong berat dan sama sekali bukan konsumsi anak-anak karena menampilkan sedikit nudity dan kekerasan. Tentang seorang pop idol yang memutuskan ganti haluan menjadi seorang aktris. Dan hal ini menimbulkan masalah karena ada fans yang tidak setuju dan sebagai aktris ia dituntut untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak dia inginkan. Belum lagi setelah itu muncul persona/kepribadian lain yang terus menghantuinya. Sebuah thriller psychology yang lumayan mencekam. Endingnya juga mengejutkan dan gak ketebak. Sebenernya saya ngerasa kalo film ini dibikin jadi live action, pasti filmnya akan semakin bagus. Tapi okelah anime juga, meskipun saya agak kurang suka desain karakternya. 4,5/5

7. Being John Malkovich (1999)

Edan film ini bagus banget! Jenius! Ceritanya termasuk orisinil dan menampilkan kejutan-kejutan yang tak terduga. Skenarionya ditulis oleh orang yang menulis skenario Eternal Sunshine of The Spotless Mind yang sama-sama sangat orisinil, yaitu Charlie Kaufman. Dan, menurut saya film ini lebih mudah dimengerti daripada Eternal Sunshine. Setidaknya saya tidak perlu mengulang-ngulang beberapa adegannya agar bisa mengerti sepenuhnya seperti pada saat saya nonton Eternal Sunshine. Selain ceritanya yang jenius, film ini juga menurut saya termasuk menghibur dan sudah pasti film ini masuk ke daftar my all time favorite movies. Review panjangnya tunggu saja ya 😀 5/5

8. Aoi Tori / The Blue Bird (Japan, 2008)

Nonton film ini karena faktor Kanata Hongo, dan agak nyesel nontonnya. Mengangkat tema school bullying, sebenarnya film ini berpotensi jadi bagus. Tapi saya malah kebosanan mengikutinya. Karakter guru gagap yang dimainkan Abe Hiroshi sebenarnya unik, tapi entah kenapa saya tidak bisa bersimpati padanya, dan tanggapan saya padanya sama seperti tanggapan murid-murid di sini. Latar belakang anak yang pindah sekolah karena dibully itu pun kurang kuat, mungkin kalo ditampilkan potongan adegan-adegan yang menampilkan karakter ini ketika bersekolah di sekolah itu, film ini akan jadi lebih menarik. Dan Kanata Hongo, kerjanya cemberut aja sik, tapi tetep cakep *alah*. 2,5/5

9. Despicable Me (2010)

Filmnya lucu dan mengharukan, dan tentunya sangat menghibur. Lelucon-leluconnya sebenarnya banyak yang slapstick, tapi tidak begitu mengganggu kok. Dan sejak karakter Gru ini mengadopsi tiga anak yatim piatu tersebut, ceritanya jadi mudah ketebak, tapi meskipun begitu film ini tetap menghibur. Dan yang menonton film ini pasti jatuh cinta pada karakter minion-minion yang menggemaskan itu. Ihik. Pengen cari merchandise-nya. 3,75/5

Read Full Post »