Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘oizumi yo’

Dalam pertandingan sepak bola, ada sesuatu yang dinamakan perpanjangan waktu (injury time/additional time/loss time/apalah namanya itu), di mana suatu pertandingan mendapat tambahan waktu beberapa menit dengan beberapa syarat tertentu. Nah, apa jadinya jika hal tersebut berlaku juga di kehidupan nyata? Apa yang akan kamu lakukan jika kamu mendapat perpanjangan waktu di saat ajal akan menjemput?  Ide tersebut merupakan premis dasar dari dorama berjudul Loss:Time:Life, sebuah dorama yang bercerita tentang orang-orang yang diberi perpanjangan waktu ketika kematian mendekati mereka.

Loss:Time:Life sendiri adalah sebuah dorama berjumlah sembilan episode yang setiap episodenya memiliki cerita yang berdiri sendiri dan tidak memiliki kaitan secara langsung antara episode yang satu dengan yang lainnya (kecuali kaitan tema). Setiap episodenya memiliki satu orang tokoh utama yang diceritakan menemui ajalnya dengan cara yang berbeda-beda. Misalnya di episode pertama ada Nakayama Haruhiko (Eita), seorang fotografer berita yang mati karena tertembak oleh penjahat yang sedang diselidikinya. Ketika peluru hampir mengenainya, tiba-tiba waktu di ruangan itu berhenti dan empat orang berpakaian wasit datang menghampirinya. Salah satu di antaranya membawa sebuah papan bertuliskan tambahan waktu yang dimilikinya. Ya, sama seperti sepak bola, rupanya Haruhiko mendapat perpanjangan waktu beberapa jam sebelum ajal benar-benar menghampirinya. Dengan diawasi wasit-wasit tersebut, ia harus memanfaatkan sisa waktunya tersebut untuk menyelesaikan segala urusannya. Dan seperti sepak bola juga, terdapat berbagai aturan yang harus dipatuhi selama masa tambahan waktu tersebut, misalnya tidak boleh memberitahu orang lain bahwa dia sudah meninggal, tidak boleh mengganti baju, dan berbagai macam peraturan lainnya. Jika peraturan tersebut dilanggar, maka ia akan mendapat kartu kuning. Dan ketika tambahan waktu itu akan habis, ia diwajibkan untuk kembali ke tempat kematiannya dan melanjutkan hal yang menjadi takdirnya tersebut. Selain Haruhiko, masih ada delapan tokoh lagi dengan latar belakang dan cara kematian berbeda-beda yang mengalami hal serupa. Siapa saja kah mereka? Apa yang mereka lakukan dalam sisa waktunya tersebut? Apakah mereka benar-benar akan mati? Tonton aja deh.

Ini adalah salah satu dorama yang saya tonton karena faktor ada Eita-nya *ahem*, dan rupanya dorama ini berhasil memuaskan saya. Yang paling saya suka dari dorama ini tentu saja ide atau premisnya yang menarik. Dan ide tersebut berhasil dieksekusi dengan sangat baik. Meskipun punya premis yang terkesan repetitif (orang mati, dapat tambahan waktu, menyelesaikan urusannya, selesai), tapi si pembuatnya berhasil membuat setiap episodenya memiliki keunikan tersendiri yang membedakannya dari episode lainnya, sehingga saya selalu merasa menemukan hal yang baru di setiap episodenya. Setiap tokoh utama di masing-masing episodenya memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Selain Haruhiko si fotografer, masih ada delapan tokoh lain dengan profesi yang berbeda-beda. Ada yang seorang polisi (episode 2, diperankan Koyama Keiichiro), ibu rumah tangga (episode 3, diperankan Tomochika), perawat (episode empat, diperankan Ueno Juri), mangaka (episode 5, diperankan Ito Atsushi), aktor kurang terkenal (episode 6, diperankan Tanaka Naoki), istri yakuza (episode 7, diperankan Tokiwa Takako), wanita karir (episode 8, diperankan Maki Yoko), dan hikikomori (episode 9, diperankan Oizumi Yo). Cara kematiannya pun berbeda-beda, ada yang dibunuh, kecelakaan, bunuh diri, serangan jantung, bahkan ada yang sampai mati karena tersedak makanan. Tambahan waktunya pun berbeda-beda. Ada yang tiga jam, empat jam, lima jam, bahkan ada yang jauh lebih lama dari itu. Segala macam perbedaan tersebut membuat setiap episodenya memiliki daya tarik masing-masing dan menjadikan kesan repetitif itu menjadi tidak terlihat.

Selain itu, yang menarik lagi dari dorama ini adalah cara tokoh-tokoh tersebut menghabiskan waktunya yang tersisa. Yang paling saya suka adalah episode 4 yang memasang Ueno Juri sebagai tokoh utamanya. Di situ ia diceritakan sebagai seorang perawat yang mencoba bunuh diri setelah diputuskan pacarnya. Dan setelah ia mendapat tambahan waktu, yang ia lakukan adalah… mencoba bunuh diri lagi 😀 Selain episode itu, masih ada beberapa episode lainnya yang saya suka. Secara keseluruhan, episode-episode favorit saya adalah episode satu, tiga, empat, lima, dan delapan. Namun, selain episode-episode itu, episode-episode lainnya juga tidak kalah menarik kok. Dan yang paling saya suka adalah setiap episodenya selalu berhasil bikin saya merasa tersentuh dan gak rela kalau mereka bener-bener akan mati (dan saya emang lemah sama cerita yang temanya tentang kematian). Apalagi, melalui tambahan waktu tersebut, para tokoh di sini kemudian menemukan hal-hal berharga yang tidak pernah dialaminya ketika hidup dan tambahan waktu tersebut membuat mereka menjadi lebih menghargai kehidupan.

Di luar hal-hal di atas, yang paling saya suka di sini adalah… karakter wasit-wasitnya. Ya, kayaknya cuma di dorama ini malaikat maut digambarkan dengan sosok manusia berpakaian wasit. Wasit-wasit ini sendiri tidak pernah diperlihatkan berbicara, tapi gerak-gerik mereka selalu bisa bikin saya ketawa. Selain loss time, wasit, dan kartu kuning, ada satu lagi unsur dari pertandingan sepak bola yang dimasukkan di dorama ini dan membuat dorama ini menjadi lebih menarik. Ya, komentator! Pertandingan sepak bola pasti tidak akan seru jika tidak dilengkapi dengan suara komentator. Begitu juga dengan dorama ini. Seperti pada sepak bola, ada suara-suara yang mengomentari segala tindak-tanduk yang dilakukan tokoh-tokohnya (yang komentarnya banyak yang kocak). Bahkan untuk adegan tertentu ada juga yang diulang alias diberi tayangan replay-nya 😀 Hal-hal tersebut membuat dorama ini menjadi semakin menghibur dan meskipun bertema tentang kematian, dorama ini sama sekali tidak memberi kesan depresif.

Overall, saya sangat menyukai dorama berjumlah sembilan episode ini. Oh ya episode-episode di sini memang tidak memiliki kaitan secara langsung satu sama lain. Tokoh utama antara satu episode dengan episode lainnya diceritakan tidak saling mengenal. Tapi ada satu orang tokoh yang selalu ada di setiap episodenya, yaitu tokoh Omoto-san yang diperankan Nukumizu Youichi. Tidak terlalu jelas latar belakang karakter ini, dan berhubung dengan itu, dorama ini memiliki dua episode tambahan (overtime) yang berfokus pada kehidupan karakter itu (dengan ditambah pemeran lain seperti Kuriyama Chiaki dan Sakai Wakana). Sayangnya, dua episode itu menurut saya tidak semenarik sembilan episode sebelumnya dan tidak begitu menjelaskan apa maksud dari keberadaan tokoh itu. Di luar hal itu, karena setiap episodenya berdiri sendiri, menurut saya dorama ini bisa dinikmati secara acak alias tidak berurutan. Saya juga setelah episode satu langsung loncat ke episode 4 dan selanjutnya nonton berdasarkan urutan artis yang saya suka, dan hal itu sama sekali tidak mengganggu kenikmatan menonton dorama ini. Tapi saran saya, jika mau menonton secara acak, lebih baik episode pertama yang ditonton tetap episode 1 dan episode terakhir yang ditonton tetap episode 9 (tengah-tengahnya terserah mau nonton yang mana dulu). Well, 4 bintang deh 😀

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

Jepang sepertinya memang tidak pernah bosan membuat dorama bertemakan detektif. Pada musim dingin tahun ini pun, terdapat beberapa dorama bertemakan detektif yang ditayangkan di tv-tv Jepang, salah satunya adalah dorama berjudul Lucky Seven yang telah selesai tayang baru-baru ini. Tidak seperti dorama detektif kebanyakan yang biasanya bercerita tentang detektif yang ada di kepolisian, Lucky Seven bercerita tentang sebuah agen detektif swasta yang bernama Lucky Detective Agency.

Lucky Detective Agency pada awalnya hanya terdiri dari enam orang saja. Seperti kebanyakan kantor detektif swasta, mereka melayani permintaan dari klien yang datang. Hal-hal yang mereka selidiki bisa bermacam-macam, bisa menyelidiki kasus perselingkuhan, kasus penipuan, dan berbagai macam kasus lainnya (tergantung permintaan klien). Pada adegan pertama, diperlihatkan bahwa beberapa detektif dari Lucky Detective Agency sedang menyelidiki perselingkuhan yang dilakukan istri dari klien mereka. Bukti bahwa si istri berselingkuh berhasil didapatkan, namun mereka melakukan kesalahan karena salah satu dari mereka, yaitu Nitta Teru (Eita) sempat terlihat oleh Tokita Shuntaro (Matsumoto Jun), selingkuhan dari si istri klien. Pada awalnya Shuntaro tidak menyadari bahwa ia sedang diselidiki. Namun, keesokan harinya, ketika ia mencoba menghubungi selingkuhannya, ia lalu mengetahui bahwa perselingkuhannya telah diselidiki oleh detektif. Dan pada saat itu juga, secara kebetulan ia melihat Nitta, dan langsung menyadari bahwa orang itu adalah detektif yang menyelidikinya. Kejar-kejaran antara Shuntaro dan Nitta pun tidak bisa dihindarkan, dan Shuntaro berhasil mengejar Nitta sampai ke kantornya. Melihat kegigihan Shuntaro dalam mengejar Nitta, Fujisaki Touko (Matsushima Nanako) yang merupakan boss sekaligus pendiri Lucky Detective Agency kemudian menawari Shuntaro untuk bergabung menjadi anggota ketujuh Lucky Detective Agency. Shuntaro yang seorang pengangguran dan tidak pernah punya pekerjaan tetap pun mencoba menerima tawaran itu. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Shuntaro akan betah bekerja di Lucky Detective Agency? Apakah menjadi detektif adalah pekerjaan yang tepat untuknya? Dan, kasus-kasus macam apakah yang akan mereka selidiki selanjutnya? Tonton aja deh.

Yang membuat saya tertarik menonton dorama ini tentu saja karena salah satu pemainnya adalah aktor Jepang favorit saya *uhuk Eita uhuk*, dan dorama bertemakan detektif memang selalu menarik perhatian saya. Dan yang saya suka lagi adalah meskipun dorama ini bertemakan detektif, tapi kasus-kasus yang diselidiki bukan seputar kasus pembunuhan seperti di kebanyakan dorama detektif lainnya (meskipun kasus yang terakhir masih ada sangkut pautnya dengan pembunuhan). Jadi buat kamu yang suka dorama detektif tapi bosen sama dorama detektif yang isinya kasus pembunuhan terus, dorama ini bisa dijadikan sebagai alternatif tontonan (dan bukankah detektif itu tidak harus selalu identik dengan kasus pembunuhan? :)).

Kasus-kasus dalam Lucky Seven sendiri bukan tipe kasus yang hebat, membuat penasaran, atau menguras pikiran. Bagian penyelidikannya pun menurut saya biasa aja. Lalu, apa yang menjadikan dorama ini menjadi menarik dan menghibur? Jawabannya adalah chemistry antara dua tokoh utamanya, yaitu Shuntaro dan Nitta. Menurut saya, interaksi antara dua tokoh ini lah yang membuat dorama ini menjadi sangat menarik. Ya, aroma “bromance” dalam dorama ini memang menjadi kekuatan utama dorama ini, sampai-sampai menutupi karakteristik tokoh-tokoh yang lain (ini jeleknya sih). Diceritakan bahwa Nitta dan Shuntaro ini dari awal tidak pernah akur, tapi meskipun begitu pada akhirnya mereka selalu menjadi tim yang solid.

Selain itu, kelebihan lain dari dorama ini adalah kita juga akan disuguhi beberapa fighting/action scene yang memukau, salah satunya adalah fighting scene antara Shuntaro dan Nitta di episode pertama yang settingnya dibuat ala setting di film Fight Club. Meskipun kesannya fanservice banget, tapi itu adalah salah satu fighting scene terbaik yang pernah saya lihat di dorama Jepang, dan membuat saya merasa harus menonton dorama ini sampai akhir. Di episode-episode selanjutnya pun kita akan disuguhi beberapa action scene yang meskipun tidak se-epik action scene yang pertama, tapi lumayan menghibur. Di luar unsur actionnya, dorama ini juga memuat unsur komedi yang meskipun gak lucu-lucu amat, tapi lumayan lah bikin nyengir-nyengir dikit.

Matsumoto Jun dan Eita berakting bagus di sini. Tapi catatan untuk Matsujun, meskipun dia berakting lumayan baik di sini, di episode-episode awal rasanya dia gak terlihat seperti lead character karena karakter Nitta terlihat lebih menonjol daripada karakter Shuntaro. Menurut saya, karakter Shuntaro ini hanya menarik ketika dia sedang berada di adegan yang sama dengan Nitta. Ketika dia lagi sendirian, karakter ini tiba-tiba jadi ngebosenin (ini saya bukan bias ke Eita loh, karena saya juga adalah penggemar Matsujun). Ya, meskipun cuma pemeran “kedua”, Eita memang sangat menarik perhatian di sini. Meskipun dari segi fisik dia mengalami tanda-tanda penuaan dan tanda-tanda anoreksia, tapi dia berhasil menjadikan karakter Nitta sebagai karakter yang sangat unik dan memiliki daya tarik yang melebihi karakter utama.

Catatan: Mulai dari paragraf ini, SPOILER ALERT ya.

Namun, sayangnya aroma “bromance” antara Shuntaro dan Nitta tidak bertahan lama karena di episode tengah tiba-tiba karakter Nitta menghilang begitu saja (dengan alasan yang awalnya kurang jelas, tapi di episode terakhir karakter ini akan muncul lagi). Beberapa rumor menghiasi hilangnya karakter tersebut, tapi apapun rumornya, hal tersebut tentunya menimbulkan kekecewaan yang sangat besar pada penontonnya (termasuk saya). Sisi positifnya sih, dengan menghilangnya karakter ini, karakter lain seperti Junpei (Oizumi Yo), Asuka (Naka Riisa), dan Touko jadi mulai ditonjolkan, tapi sayangnya pembangunan karakter tokoh yang lain tersebut tidak berhasil membuat dorama ini jadi lebih menarik dari sebelumnya. Sisi positif yang lain, ini adalah kesempatan Matsujun untuk menunjukkan bahwa dia lah lead character dorama ini. Tapi sayangnya meskipun karakter Shuntaro ini memiliki sedikit perkembangan, ia tetap tidak semenarik ketika ia sedang bersama Nitta. Well, dari episode enam sampai episode delapan menurut saya masih menghibur sih, tapi tetep aja rasanya jadi agak hambar karena anggotanya yang gak lengkap, dan di-skip juga kayaknya gak bikin kita kehilangan sesuatu untuk memahami cerita selanjutnya. Baru pas episode sembilan, dorama ini kembali menarik perhatian saya. Tapi sayangnya dorama ini cuma terdiri dari sepuluh episode, jadi dorama ini kembali menarik malah pas udah mau beres 😀

Selain memengaruhi karakter lainnya, hilangnya karakter tersebut juga turut memengaruhi plot cerita dalam dorama ini. Menurut saya dorama ini jadi hilang fokus, maunya nyelidikin satu kasus per-episode atau nyelidikin satu kasus besar yang jadi benang merah dari semua kasusnya (misalnya kayak di dorama Unfair)? Hasilnya, dorama ini juga terlihat mau dua-duanya, biarpun dua-duanya ternyata gak nyambung *err.. gimana ya bahasanya*. Kasus-kasus kecil di dalamnya ternyata gak ada hubungan sama sekali sama kasus besar di episode akhir. Kasus di episode 4-5 sepertinya masih ada kaitan dengan kasus besar itu sih, tapi menurut saya kaitannya kecil banget. Dan kasus yang harusnya jadi kasus besar itu menurut saya gak hebat banget, dan bisa selesai dalam satu episode saja dan gak perlu penyelidikan yang berkelanjutan (apa lagi sampe harus bikin Nitta menghilang beberapa episode untuk menyelidiki kasus tersebut, belum lagi clue yang didapat dari penyelidikannya ternyata cuma gitu doang). Dan saya menemukan sedikit kejanggalan pada kasus yang terakhir itu. Untuk apa menyelidiki kasus yang terjadi 16 tahun yang lalu? Bukannya batas kadaluarsa suatu kasus di Jepang itu cuma 15 tahun ya? *CMIIW* Saya rasa kalo kasusnya diubah jadi kasus 15 tahun lalu dan beberapa hari lagi akan kadaluarsa, kasusnya akan menjadi lebih menarik. Curiganya sih, kasus yang terakhir ini ada di luar rencana skenario awal, dan kemudian dibikin biar hilangnya karakter Nitta yang terasa tiba-tiba jadi terlihat masuk akal.

Catatan: SPOILER berakhir.

Well, terlepas dari segala kekurangannya, saya lumayan suka dorama ini sih. Menurut saya dorama ini tetap layak tonton dan menghibur, meskipun episode-episode tengahnya jadi menurun dan mengecewakan. Jadi, 3,25 bintang deh *iyee maap nanggung*.

Rating : 1 2 3 3,25 4 5

Read Full Post »