Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘ono machiko’

rikonposter“Marriage is a long long torture.” Itu adalah kalimat yang diucapkan Hamasaki Mitsuo (Eita) di kala sesi curhatnya di dokter gigi. Dia adalah seorang pria berusia 30 tahun yang sudah menikah selama dua tahun dan menyadari bahwa dia dan istrinya memiliki kepribadian yang sangat bertolak belakang. Mitsuo adalah seorang pria perfeksionis (dan hampir OCD mungkin?) yang sangat suka mengeluh, sedangkan sang istri yang bernama Yuka (Ono Machiko) adalah perempuan ceria yang pemalas dan selalu bertindak sesuka hatinya. Perbedaan kepribadian tersebut membuat kehidupan rumah tangga mereka selalu dihiasi oleh pertengkaran. Dan perceraian pun akhirnya melanda pasangan ini. Secara sepihak, Yuka mendaftarkan perceraian mereka ke lembaga hukum. Namun, perceraian adalah suatu hal yang tidak hanya melibatkan dua individu saja, tapi juga melibatkan dua keluarga. Belum siap untuk memberitahu keluarga masing-masing mengenai perceraian mereka, Mitsuo dan Yuka pun akhirnya tetap tinggal serumah untuk sementara waktu meskipun sudah tidak berstatus suami istri lagi.

rikon1Lalu ada Akari (Maki Yoko) dan Ryo (Ayano Go), pasangan yang baru saja menikah selama beberapa bulan. Akari sendiri adalah mantan pacar Mitsuo semasa kuliah dan kemudian bertemu kembali dengan Mitsuo secara tidak sengaja setelah ia pindah ke daerah tempat tinggal Mitsuo. Akari tampak bahagia dengan pernikahannya. Ia dan suaminya pun selalu akur dan tidak pernah bertengkar. Namun, ternyata diam-diam sang suami sering “bermain” dengan banyak wanita. Tidak hanya itu, Ryo pun menyimpan sebuah rahasia yang berhubungan dengan status pernikahan mereka. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya pada kedua pasangan itu? Mari kak, ditonton.

rikon2Yak, seperti yang dijanjikan sebelumnya, di postingan ini saya akan mereview dorama Eita yang lain yang berjudul Saikou no Rikon. Dorama ini adalah dorama yang paling saya nanti-nantikan di tahun ini. Dan itu bukan hanya karena Eita saja, tapi juga karena pemain-pemain lainnya yang menurut saya keren semua, seperti Ono Machiko dan Ayano Go yang keduanya sangat saya cintai di Carnation, serta Maki Yoko yang menampilkan akting yang memikat di Osozaki no Himawari. Tidak hanya jajaran castnya yang sempurna, dorama ini pun ditulis oleh penulis skenario dorama favorit saya, yaitu Sakamoto Yuji yang pernah menulis Soredemo Ikite Yuku (yang mana adalah salah satu dorama yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup). Hasilnya? Saya ternyata tidak dikecewakan oleh nama-nama hebat tersebut. Sesuai judulnya yang memiliki arti “The Best Divorce”, dorama ini pun benar-benar “saikou”.

rikon3Yang saya suka pertama-tama dari dorama ini adalah penggunaan komedi sebagai genre utamanya. Yak, kalo mendengar kata “perceraian”, yang terpikir mungkin cerita depressing ala film Blue Valentine. Namun dorama ini menggunakan komedi dan komedinya itu menurut saya tidak hanya lucu, tapi juga cerdas. Karakteristik, situasi, serta dialog-dialog di dorama ini bersama-sama membangun momen-momen lucu yang berhasil membuat tertawa. Namun, meskipun dorama ini bergenre komedi, dorama ini bukan tipe dorama yang berusaha keras untuk membuat penontonnya terus berhaha-hihi sepanjang episode. Sekalinya ada momen sedih dan heartbreaking, itu benar-benar sedih dan heartbreaking. Dan meskipun Yuka dan Mitsuo bercerai karena alasan yang sungguh sangat sepele, bukan berarti dorama ini pun jadi menganggap isu perceraian sebagai hal yang sepele. Dorama ini berhasil membuat saya bertanya-tanya mengenai: apa sih hakikat pernikahan itu? Seperti apa sih suami istri yang ideal itu? Dan apa perceraian itu selalu akan berakibat buruk, atau malah membuka jalan ke arah yang lebih baik? Intinya, meskipun bergenre komedi, dorama ini tidak lantas menjadi dorama yang enteng. Dengan caranya sendiri, dorama ini berhasil menyuguhkan cerita mengenai perceraian dari sudut pandang lain. Hal itu membuat dorama ini menjadi terasa sangat fresh dan original.

rikon4Kelebihan lain dari dorama ini adalah karakteristiknya yang menurut saya benar-benar kuat dan realistis. Empat karakter utama dorama ini semuanya memiliki kepribadian yang menarik dan multidimensi. Tidak ada karakter yang benar-benar baik atau benar-benar buruk. Mitsuo sang tokoh utama sendiri menurut saya adalah karakter yang sangat menyebalkan. Ia cerewet, selalu mengeluh, dan egois, pokoknya tipe karakter yang punya risiko untuk dibenci banyak orang (dan secinta-cintanya saya sama Eita, saya gak mau punya suami kayak Mitsuo). Kamu mungkin akan membencinya, tapi kamu akan tetap peduli padanya. Eita dengan kemampuan aktingnya yang memukau sangat berhasil membuat karakter menyebalkan seperti Mitsuo ini menjadi menarik (dan aktingnya di sini adalah salah satu penampilan terbaiknya). Bertolak belakang dengan Mitsuo, karakter sang istri (atau mantan istri), Yuka, adalah tipe karakter yang gampang untuk dicintai penontonnya. Yuka sendiri bukan tipe istri ideal: pemalas, berantakan, dan suka bertingkah seenaknya. Namun karakternya yang ceria akan membuat kamu gampang untuk menyukainya. Dan yang terpenting adalah dia berusaha lebih keras untuk rumah tangganya daripada Mitsuo (dan sayangnya hal itu tidak pernah disadari oleh Mitsuo). Saya jadi makin cinta sama Ono Machiko karena dia selalu berhasil membuat karakter yang dimainkannya ini menjadi lovable tanpa harus membuat karakternya kelihatan sempurna. Eita dan Ono Machiko sendiri memiliki chemistry yang sangat pas di sini. Mereka memang punya kepribadian yang bertolak belakang dan selalu bertengkar setiap saat. Tapi saya sangat suka melihat interaksi antara mereka berdua ini dan pertengkaran rikon5mereka pun kadang-kadang terasa sangat lucu karena biasanya terjadi karena hal-hal sepele. Sementara itu, Akari dan Ryo sebagai pasangan kedua di dorama ini pun memiliki karakterisasi yang menarik. Meskipun karakter Akari termasuk karakter perempuan kalem, ia bukan karakter yang membosankan dan karakternya ini kadang menampilkan kejutan-kejutan yang tidak terduga. Pada awalnya mungkin kita akan berpikir bahwa dia adalah perempuan bodoh karena diam saja meskipun tahu suaminya diam-diam berselingkuh dengan banyak wanita. Dan saya bersyukur karena sang penulis tidak menjadikan dia sebagai karakter membosankan seperti itu. Dan Maki Yoko berhasil menjadikan karakter Akari ini sebagai karakter yang memikat. Meskipun doyan selingkuh, saya sendiri menyukai karakter Ryo yang polos dan happy-go-lucky. Dan begitu mengetahui masa lalunya, saya jadi bersimpati pada karakternya meskipun tidak lantas memaklumi perbuatannya. Karakter Ryo ini juga diperankan dengan baik oleh Ayano Go (dan orang ini makin lama bikin saya makin naksir). Permasalahan yang terjadi pada pasangan Akari-Ryo ini sendiri merupakan permasalahan yang jauh lebih kompleks dan serius daripada permasalahan pasangan Yuka-Mitsuo. Dan bagaimana kemudian kedua pasangan ini saling terlibat satu sama lain ditampilkan dengan sangat lucu dan menghibur.

rikon6Selain hal-hal di atas, saya juga sangat menyukai gaya penceritaan dorama ini. Dorama ini punya konsep di mana para karakter di dorama ini punya hobi bercerita kepada orang lain mengenai masalah yang mereka alami (contohnya Eita yang punya hobi curhat di dokter gigi). Dan dialog-dialog di dorama ini pun (baik pada curhatan ataupun dialog antar tokoh)  sangat lucu, menghibur, dan juga ‘dalem’. Ya, sekali lagi Sakamoto Yuji membuktikan kemampuannya dalam menulis skenario melalui dorama ini. Apalagi dorama ini juga selalu menghadirkan kejutan-kejutan tidak terduga di setiap episodenya (dan membuat saya selalu gelisah setiap minggunya). Selain skenario dan gaya berceritanya, saya juga sangat menyukai sinematografi dan soundtrack yang digunakan pada dorama ini. Lokasi yang digunakan pada dorama ini pun sangat berkesan dan membuat saya ingin berkunjung ke sana (kalo suatu hari saya pergi ke Jepang, harus banget dateng ke Nakameguro). Dan tentu saja kita tidak akan bisa melupakan ending credits dorama ini yang benar-benar menghibur dan penuh fanservice (untuk cewek maupun cowok). Seperti apa ending credits-nya itu? Ayo lihat sendiri! 😀

Secara keseluruhan, saya sangaaaaat mencintai dorama ini. Sangat memuaskan dari awal sampai akhir (mungkin satu-satunya yang gak bikin puas cuma penyelesaian dari permasalahan pasangan Akari-Ryo ya, but I’m okay with that). Buat saya, dorama ini adalah yang terbaik di musim dingin tahun ini, dan dengan cepat menjadi salah satu dorama favorit saya sepanjang masa.  5 bintang, highly recommended 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

Setelah bertahun-tahun menonton film dan dorama Jepang, tahun ini saya mencoba untuk menonton dua jenis tontonan lain yang berasal dari negeri sakura itu. Apa itu? Well, masih dalam lingkup dorama sih tapi cuma beda format aja. Yak, dua jenis tontonan itu adalah taiga drama dan asadora  yang keduanya sama-sama ditayangkan di channel NHK. Untuk taiga drama saya memilih drama Atsu-Hime, sedangkan untuk asadora saya memilih drama Carnation. Di postingan kali ini saya mencoba untuk mereview Carnation dulu ya (review Atsu-Hime menyusul).

Sebelum memulai reviewnya, mari saya jelaskan dulu apa maksud dari Asadora. Asadora alias “drama pagi” adalah dorama yang ditayangkan setiap pagi selama enam hari dalam seminggu, dengan jumlah episode mencapai 150-an episode. Wah, banyak amat kayak sinetron! Tenang tenang, meskipun jumlah episodenya ratusan, setiap episode dari asadora hanya memiliki durasi 15 menit saja. Jadi asadora tidak akan menyiksa batin kamu seperti yang biasa sinetron lakukan. Biasanya asadora bercerita tentang apa sih? Asadora biasanya bercerita tentang perjalanan hidup seseorang (biasanya wanita) dari sejak kecil sampai tua (dan meninggal). Mungkin masyarakat Indonesia yang sudah pada berumur tidak asing dengan drama Jepang berjudul “OSHIN”. Nah, itu adalah salah satu contoh dari asadora. Intinya, asadora adalah drama seri yang bercerita tentang perjalanan hidup seorang wanita yang menginspirasi.

Carnation merupakan kisah fiksi yang terinspirasi dari perjalanan hidup Koshino Ayako, seorang desainer terkenal yang merupakan ibu dari Koshino sisters (Koshino Hiroko, Koshino Junko, Koshino Michiko), tiga orang desainer terkenal Jepang yang karirnya sudah mendunia. Pada tahun 2006 lalu, Koshino Ayako menghembuskan napas terakhirnya di usia ke-92. Dan di tahun 2011 lalu, Asadora yang dibuat berdasarkan kisah hidupnya telah ditayangkan. Tokoh utama yang sosoknya terinspirasi dari Koshino Ayako ini punya nama Ohara Itoko, diperankan oleh aktris Ono Machiko.

Cerita dari asadora berjumlah 151 episode ini dimulai pada era Taisho, tepatnya pada tahun 1924, bertempat di daerah Kishiwada, Osaka. Ohara Itoko yang saat itu masih berusia 11 tahun adalah seorang anak dari pedagang kimono bernama Ohara Zensaku (Kobayashi Kaoru). Itoko sangat menyukai festival Danjiri, sebuah festival tahunan yang menjadi kebanggaan warga Kishiwada, dan punya cita-cita ingin menjadi Carpenter (orang yang mengendarai Danjiri). Namun, ia diberitahu bahwa perempuan tidak mungkin bisa mengendarai Danjiri. Suatu hari, cita-citanya sebagai Carpenter teralihkan ketika ia melihat sebuah pesta di kediaman kakeknya di Kobe. Itoko terkagum-kagum melihat pakaian yang dikenakan orang-orang (yang merupakan orang-orang barat) di pesta tersebut yang sangat berbeda dengan kimono yang ia kenakan. Itoko akhirnya mengetahui bahwa pakaian yang dikenakan orang-orang barat itu memiliki nama “dress”. Dan sejak saat itu Itoko bercita-cita ingin membuat pakaian ala barat. Ketika menginjak usia remaja, secara tidak sengaja Itoko melihat sebuah benda aneh yang kemudian diketahuinya sebagai “mesin jahit” di sebuah toko. Dan sejak saat itu Itoko memutuskan mesin jahit sebagai Danjiri yang bisa ia kendarai.

Dalam usahanya untuk memperjuangkan cita-citanya sebagai pembuat pakaian ala barat, Itoko kemudian memutuskan untuk keluar dari sekolahnya dan bekerja di toko yang menyimpan mesin jahit yang pertama dilihatnya. Perjuangan Itoko tentunya tidak berhenti sampai di situ. Banyak tantangan yang ditemuinya, mulai dari ayahnya si pedagang kimono tidak laku yang membenci pakaian orang barat, dipecat dari tokonya, sampai masa perang dunia ke 2 yang mengambil banyak nyawa dari orang-orang yang disayanginya. Lalu, apa lagi yang akan terjadi pada Itoko? Apakah ia akan terus membuat pakaian ala barat sepanjang hidupnya? Tonton aja deh 🙂

Pertama-tama saya mau bilang kalo saya cintaaaaa banget sama asadora ini dan gak nyesel karena milih drama ini sebagai asadora pertama yang saya tonton setelah bertahun-tahun absen (asadora pertama yang saya tonton: Suzuran. Pernah ditayangin di TV Lokal). Awalnya saya milih nonton drama ini cuma karena theme songnya yang dibawakan Shiina Ringo, dan gak nyangka kalo drama ini bisa sebegitu menghipnotis saya. Apa yang membuat saya sangat mencintai drama ini dan menganggap drama ini sebagai sebuah masterpiece? Mari kita lihat.

  • Temanya, yaitu tentang perjalanan seorang desainer pakaian ala barat pada masa di mana orang-orang masih banyak yang menggunakan kimono sebagai pakaian sehari-hari (terutama di daerah tempat Itoko tinggal) .

Apalagi Itoko adalah anak seorang pedagang kimono, sehingga cita-citanya tersebut sangat jelas melawan arus. Dan gini-gini juga saya suka banget ngeliat baju-baju bagus, hihi. Yang jelas, saya jatuh cinta sama dress-dress bergaya vintage yang dirancang Itoko (fyi, baju-baju rancangan Itoko yang ditunjukkan di drama ini merupakan baju-baju asli yang dirancang Koshino Ayako). Jadi, jika kamu pecinta fashion (terutama pecinta baju vintage), sangat-sangat disarankan untuk menonton drama ini.

  • Drama ini memiliki jalan cerita dan skenario yang sangat bagus.

Jalan ceritanya enaaaaak banget diikutin. Mulai dari Itoko kecil, remaja, dewasa, sampai tua, gak ada satu bagian pun yang bikin bosen. Banyak sekali kejadian yang dialami Itoko sepanjang hidupnya, dan yang jelas kejadian-kejadian tersebut berhasil membuat saya merasakan berbagai macam perasaan ketika menontonnya. Senyum, tawa, haru, gregetan, sedih, tangis, adalah berbagai macam ekspresi dan perasaan yang saya rasakan ketika menonton drama ini. Well, intinya ini adalah tipe drama yang akan selalu melekat di hati penontonnya. Menonton drama ini rasanya seperti menemukan sebuah keluarga atau sahabat akrab. Kita akan dibuat peduli untuk mengikuti ceritanya, tokoh-tokohnya, dan banyak hal lainnya, sebagaimana kita memedulikan keluarga/sahabat kita. Tidak hanya itu, saya pun dibuat ingin ikut serta, ingin ikut masuk ke dalamnya, dan hidup bersama mereka.

  • Osaka sebagai latar belakangnya.

Latar belakang drama ini adalah kota Osaka (tepatnya di daerah Kishiwada), dan kayaknya ini pertama kalinya saya nonton drama Jepang yang lokasi utamanya bertempat di Osaka. Ada perasaan yang berbeda ketika menonton drama ini dibandingkan dengan drama Jepang dengan latar belakang daerah lain (seperti Tokyo misalnya). Mungkin karena perbedaan dialek ya. Dialek Osaka emang terdengar sangat khas. Dan, orang-orang Osaka itu keliatannya ‘rame’ banget ya. Mungkin kesannya orang-orang Osaka itu kasar dan blak-blakan (karena pengaruh dialek juga kali ya), tapi itu malah yang bikin drama ini jadi menarik, dan karakter-karakternya jadi cepet berasa akrab sama penontonnya. Kalau ada dorama Jepang yang lokasi utamanya  di Osaka selain Carnation, kasih tahu saya ya 😀

  • Karakterisasi dan akting para pemainnya.

(Untuk karakter Itoko, bakal saya omongin di satu bagian tersendiri) Yak, karena episodenya banyak, jadi banyak karakter yang diperkenalkan di drama ini. Mulai dari anggota keluarga Itoko: ayahnya yang galak, ibunya yang ceroboh, neneknya, dan ketiga adik perempuannya. Ada juga keluarga Yasuoka tetangga mereka: Tamae-Obachan, Taizo-niichan, Kansuke, Yaeko-san. Lalu ada Yoshida Natsu (Kuriyama Chiaki), mantan teman sekelas Itoko yang punya hubungan yang sangat aneh dengannya (dibilang sahabat bukan, musuh juga bukan). Tokoh-tokoh lainnya ada teman-teman Zensaku, keluarga ibu Itoko di Kobe, Masa-chan dan para pekerja di tokonya Itoko, dan masih banyak lagi. Itoko sendiri nantinya akan menikah dan berkeluarga. Adalah Masaru-san (Suruga Taro), mantan teman kerjanya yang kemudian menjadi suaminya. Pernikahan mereka membuahkan tiga anak perempuan (Yuko, Naoko, Satoko), yang nantinya akan mengikuti jejak Itoko sebagai desainer. Saya sangat menyukai karakter-karakter yang ada di dorama ini. Tapi yang paling saya suka dari semua tokoh di drama ini (selain Itoko) adalah karakter Suo Ryuichi yang diperankan Ayano Go. Karakter ini baru muncul di episode 80-an, dan kemudian menjadi salah satu orang paling berarti bagi Itoko. Secara keseluruhan, semua pemain di dorama ini semuanya menunjukkan akting yang bagus. Porsi tampilnya pun pas. Bahkan karakter yang munculnya cuma selewat-selewat dan seolah tidak penting seperti Harutaro (Koizumi Kotaro) saja cukup meninggalkan kesan yang kuat.

  • The heroine, Ohara Itoko.

Last but not least, yang membuat drama ini menjadi sangat menarik dan spesial tentu saja tokoh utama kita, Ohara Itoko. Itoko is the heart of this drama. Itoko bukanlah tipe karakter utama Asadora yang klise. Well, masih inget drama Legal High-nya Sakai Masato? Di drama itu tokoh Mayuzumi dipanggil dengan sebutan “Asadora heroine”. Melalui drama itu saya menyimpulkan bahwa asadora heroine itu punya tipikal karakter yang naïf, berhati bersih, pokoknya kayak malaikat lah. Tipe karakter kayak gitu menurut saya sangat membosankan. Dan untungnya Ohara Itoko tidak jatuh pada tipikal karakter seperti itu. Kadang-kadang ia memang bisa keliatan naïf. Tapi ia juga bisa galak, keras kepala, dan seenaknya sendiri (mungkin karena orang Osaka begitu semua kali ya :D). Meskipun begitu, Itoko tetap bisa menjadi karakter yang dicintai oleh penontonnya tanpa harus terlihat suci bak malaikat. Itoko adalah seorang pekerja keras, dan karakter ini menunjukkan bahwa seorang perempuan seperti dia pun bisa berdiri di kakinya sendiri (apalagi dia hidup di era di mana perempuan masih sering dianggap sebelah mata). Selain sebagai wanita yang bekerja, ia juga adalah ibu dan kepala keluarga, dan sukses mendidik ketiga anaknya menjadi para perempuan yang berkarakter. Hmm, mungkin saya membuat Itoko terlihat seperti perempuan super ya? Tapi tidak kok, di balik segala kelebihan dan keunikannya, karakter ini sama sekali tidak digambarkan sebagai karakter yang super sempurna dan masih sangat mungkin ada di dunia nyata. Hal itulah yang membuat saya sangat menyayangi karakter ini.

Sang aktris sendiri, yaitu Ono Machiko sangat berhasil memerankan karakter satu itu. Saya rasa berakting di Asadora bukanlah hal yang mudah. Asadora mencapai 150-an episode dan membuat penonton tertarik untuk mengikuti sampai akhir tentunya adalah pekerjaan sulit, terutama bagi pemeran utamanya. Dan Ono Machiko sangat berhasil membuat karakter Itoko ini menjadi sangat hidup dan memorable. Ia memerankan Itoko sejak Itoko masih berusia belasan tahun sampai 50 tahun-an (Ono Machiko sendiri aslinya berusia 30 tahun). Dan perkembangannya (kepribadian sampai fisik) terlihat sangat believable. Malah saya sampai nangis di episode terakhir Ono Machiko berperan sebagai Itoko (selanjutnya digantikan Natsuki Mari yang memerankan Itoko dari usia 72 tahun). Rasanya gak rela gitu berpisah dengannya. Untungnya Natsuki Mari berhasil melanjutkan peran Itoko ini dengan tidak kalah cemerlangnya di 20 episode terakhir. Kedua aktris ini sendiri masing-masing mendapat penghargaan atas akting mereka sebagai Ohara Itoko (best actress untuk Ono Machiko, special award untuk Natsuki Mari).

Overall, Carnation adalah asadora yang sangat berkesan untuk saya. Saking berkesannya, setelah menonton ini saya jadi merasa hampa dan bengong terus. Rasanya sediiih banget karena harus berpisah dengan drama ini (rasanya seperti kehilangan orang yang disayangi mungkin? :D). Jadi, 5 bintang deh untuk drama ini. Masterpiece 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

“Di dunia ini ada tiga jenis manusia, yaitu laki-laki, perempuan, dan ibu. Kita tidak akan pernah bisa mengerti jenis yang terakhir itu,” begitulah bunyi dari salah satu dialog yang saya temukan di salah satu episode dari dorama berjudul “Mother”. Pernyataan tersebut mungkin ada benarnya. Ibu memang sepertinya harus memiliki tempat tersendiri yang membedakannya dari sekadar perempuan biasa. Dan seperti kata dialog tadi, kita juga kadang tidak bisa memahami “ibu” ini. Kadang kita menemukan ibu yang sangat pengasih dan sangat menyayangi anaknya, tapi kadang kita juga menemukan karakter ibu yang suka meng-abuse anaknya sendiri. Meskipun begitu, ibu tetaplah bagian dari manusia. Selalu akan ada alasan di balik segala tindakan yang dilakukan mereka, baik itu alasan yang disadari atau tidak.

Michiki Rena (Ashida Mana) adalah seorang anak kecil berusia 7 tahun yang sering di-abuse oleh ibunya sendiri (diperankan Ono Machiko). Hal tersebut disadari oleh Suzuhara Nao (Matsuyuki Yasuko), seorang guru SD di sekolah Rena. Nao sendiri adalah seorang perempuan kaku yang sebenarnya tidak ingin menjadi guru SD dan tidak menyukai anak-anak. Namun, melihat keadaan Rena yang tersiksa sedemikian rupa akibat ulah ibunya membuat insting keibuan pada diri Nao muncul. Tanpa rencana yang matang, Nao mengajak Rena untuk kabur bersamanya meninggalkan Hokkaido (tempat tinggal mereka). Dan sejak itu pula Nao memutuskan untuk menjadi ibu dari Rena (yang kemudian diberi nama baru “Tsugumi”).

Setelah segala upaya dalam mencari tempat tinggal baru, akhirnya mereka sampai di kota Tokyo. Nao sendiri sebenarnya memiliki keluarga di Tokyo yang sudah bertahun-tahun tidak berhubungan dengannya. Sebenarnya keluarga Nao (terutama ibunya, diperankan Takahata Atsuko) sangat menyayangi Nao dan selalu berusaha menghubungi Nao, tapi Nao selalu merasa sungkan kepada mereka karena dia adalah anak adopsi. Di dorama ini kita juga akan diperkenalkan pada Mochizuki Hana (Tanaka Yuko), seorang perempuan tua yang sering mengajak main Rena/Tsugumi dan kemudian berusaha membantu Nao dalam usaha pelariannya. Dari awal dapat ditebak bahwa dia adalah ibu kandung Nao yang menelantarkan dirinya ketika Nao masih berusia 5 tahun. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Nao dan Rena akan selamanya terus ‘berlari’? Bagaimana dengan ibu kandung Rena? Tidak hanya itu, pelarian mereka juga rupanya telah tercium oleh seorang wartawan bernama Fujiyoshi Shunsuke (Yamamoto Koji).

Seperti judulnya, Mother mengajak kita untuk melihat berbagai macam karakter dari seorang ibu (nyaris tidak ada sosok ayah di sini). “Ibu” di sini tidak hanya perempuan yang melahirkan anak dari perutnya sendiri saja ya, tapi juga jenis “ibu” seperti Nao, seorang perempuan yang memutuskan untuk menjadi ibu dari seorang anak yang tadinya merupakan orang asing baginya. Dorama ini berusaha mengangkat berbagai macam permasalahan yang menyangkut sosok ibu dan anak, seperti child abuse, anak yang ditelantarkan, anak adopsi, anak dari single parent, dan lain sebagainya.  Dan berbagai macam isu tersebut berhasil ditampilkan secara seimbang dan tidak berlebihan. Dan seperti yang saya bilang tadi, ibu masih bagian dari manusia. Semua karakter ibu di sini memiliki cerita dan alasan masing-masing dari segala tindakan yang mereka lakukan. Misalnya karakter Michiki Hitomi yang merupakan ibu kandung Rena. Jangan bayangkan karakter ini seperti ibu jahat di sinetron-sinetron ya (yang mana seolah jahat karena takdir dari lahir). Kita akan diperlihatkan kepada latar belakangnya dan mengapa ia bisa melakukan berbagai macam hal buruk kepada Rena. Hal tersebut membuat dorama ini terlihat sangat realistis. Tidak ada yang sepenuhnya putih dan sepenuhnya hitam di sini. Semuanya punya alasan masing-masing, tapi hal tersebut tidak serta merta membuat kita memaklumi tindakan yang dilakukannya.

Selain ibu kandung Rena, kita juga diperlihatkan pada karakter para ibu yang lain. Ada ibu adopsi Nao, seorang single parent yang sangat menyayangi Nao (dan kedua adiknya) meskipun Nao bukanlah anak kandungnya. Melalui karakter ini kita juga dibuat menyadari bahwa ikatan antara ibu dan anak tidak hanya dihasilkan dari hubungan darah saja. Lalu ada karakter Mochizuki Hana, ibu kandung Nao yang menelantarkan Nao ketika usianya masih 5 tahun. Kita akan dibuat bertanya-tanya mengapa perempuan sebaik itu tega menelantarkan anaknya, tapi seperti yang saya bilang tadi, semua punya alasan masing-masing dari segala tindakannya. Dan seorang ibu dan anak pasti akan selalu memiliki ikatan batin, tak peduli seberapa pun lamanya mereka terpisah. Selain mereka, kita juga diperkenalkan pada karakter Suzuhara Mei (Sakai Wakana), adik Nao yang sedang hamil dan sebentar lagi akan menikah. Karakter ini mewakili karakter calon ibu yang punya banyak ketakutan bahwa dia tidak akan jadi ibu yang baik bagi calon anaknya.

Dan karakter ibu terakhir yang diperlihatkan dorama ini adalah Nao. Dia orang yang sangat kaku dan kurang percaya diri. Dia juga bukanlah jenis orang yang menyukai anak-anak. Namun, kejadian yang menimpa Rena membangunkan insting keibuannya. Dengan segala kekurangan yang dimilikinya, ia berusaha menjadi ibu untuk Rena. Ya, salah satu yang paling saya suka di sini adalah ketidaksempurnaan pada diri Nao. Tindakan yang dilakukannya (membawa kabur Rena) adalah tindakan yang impulsif dan tanpa rencana matang. Nao sendiri tidak pernah merasa bahwa yang ia lakukan adalah sesuatu yang benar. Ia juga tidak merasa hal yang ia lakukan telah menyelamatkan diri Rena. Yang ia tahu hanyalah ia ingin menjadi ibu dari Rena. Meskipun pada awalnya karakter ini terasa awkward sebagai seorang ibu, tapi sedikit demi sedikit kita bisa merasakan bahwa ia telah berubah menjadi ibu yang sebenarnya. Matsuyuki Yasuko sangat berhasil memerankan tokoh Nao dengan segala kekakuan dan ke-awkward-annya . Dan ia punya chemistry yang sangat baik dengan Ashida Mana si pemeran Rena/Tsugumi. Ya, satu lagi yang perlu disoroti di dorama ini adalah akting dari Ashida Mana. Menurut saya Rena ini adalah jenis karakter anak kecil yang…bagaimana ya. Dia adalah anak kecil yang sudah harus mengalami hal-hal yang sulit dalam hidupnya, punya pemikiran lebih dewasa dari anak-anak seumurnya (seperti di episode 1 ketika dia bertanya apa surga benar-benar ada), tapi tetap bisa terlihat seperti anak kecil normal dengan segala kepolosannya dan tidak pernah terlihat sok dewasa. Rasanya sulit sekali menemukan aktris cilik yang bisa memerankan karakter ini sebaik Ashida Mana. Yang saya kagumi lagi adalah Mana-chan aslinya masih berusia 5 tahun ketika memerankankan karakter Rena ini (usia Rena: 7 tahun). Aktingnya di dorama ini membuktikan bahwa Ashida Mana memanglah salah satu aktris cilik paling berbakat saat ini.

Overall, dorama ini menurut saya sangat bagus dan menyentuh. Banyak yang bilang dorama ini termasuk dorama yang bisa bikin nangis para penontonnya. Saya sendiri gak sampai nangis sih nontonnya, tapi tetap merasa tersentuh oleh ceritanya. Yang jelas, ini adalah jenis dorama yang setelah menontonnya akan membuat kamu (terutama penonton perempuan) terdiam dan membayangkan akan menjadi ibu seperti apakah kita nantinya? Well, 4 bintang deh. Dorama ini cocok untuk ditonton penggemar dorama yang mengangkat isu seputar kemanusiaan, dan oleh para “anak”, ibu, ataupun calon ibu 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »