Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘osugi ren’

gegegeposterSetelah menonton Carnation, saya jadi ketagihan pengen nonton lebih banyak asadora. Nah, asadora kedua yang berhasil saya tamatkan setelah Carnation ini memiliki judul “Gegege no Nyobo”. Kalo denger judul itu, mungkin kamu akan teringat pada sebuah anime klasik dengan judul Gegege no Kitaro yang dulu pernah ditayangkan di tv lokal. Dua tontonan tersebut memang berkaitan kok, karena Gegege no Nyobo bercerita tentang kehidupan dari Mizuki Shigeru yang merupakan mangaka dari Gegege no Kitaro. Namun, sesuai judulnya yang memiliki arti “Gegege’s Wife”, kehidupan mangaka tersebut diceritakan melalui sudut pandang sang istri. Drama ini sendiri diangkat dari autobiografi istri Mizuki Shigeru yang bernama Mura Nunoe. Pada drama ini, sang istri memiliki nama Iida Fumie / Murai Fumie, diperankan oleh aktris Matsushita Nao.

gegege1Gegege no Nyobo berkisah pada era Showa (dimulai dari tahun 1939, namun sebagian besar ceritanya berlatar pada tahun 60-an). Iida Fumie merupakan anak keempat dari enam bersaudara. Sejak kecil, Fumie merupakan anak yang pemalu. Ia memiliki tinggi badan di atas anak perempuan rata-rata. Hal tersebut membuat Fumie merasa semakin rendah diri, bahkan ketika ia sudah berusia dewasa. Tinggi badannya tersebut pula membuatnya susah mendapat jodoh meskipun sudah menginjak usia 28 tahun. Sampai suatu hari datang tawaran omiai (arranged marriage/perjodohan) pada dirinya. Namun, laki-laki yang menjadi partner omiai Fumie ini kelihatan kurang meyakinkan. Ia sepuluh tahun lebih tua dari Fumie, bekerja sebagai mangaka untuk rental manga, tinggal di Tokyo, dan (yang paling mengejutkan) tidak memiliki lengan kiri karena terluka ketika ikut perang. Hmm, apa ada perempuan yang mau dinikahkan dengan laki-laki seperti itu? Meskipun beberapa anggota keluarga Fumie tidak menyetujui hal tersebut, sang ayah (diperankan Osugi Ren) bersikeras untuk tetap memproses lamaran tersebut. Fumie yang awalnya merasa ragu pun akhirnya memutuskan menerima lamaran itu, karena ia merasa laki-laki bernama Murai Shigeru (atau punya nama pena Mizuki Shigeru, diperankan oleh Mukai Osamu) yang akan menjadi calon suaminya tersebut adalah orang yang baik.

gegege2Pertemuan antara kedua keluarga pun ditetapkan. Pada pertemuan pertama itu, kedua belah pihak sama-sama setuju untuk menikahkan kedua anak mereka. Yang mengagetkan lagi, pernikahan diputuskan dilaksanakan pada lima hari setelah pertemuan pertama mereka karena Shigeru memiliki deadline pekerjaan sehingga ia harus cepat-cepat kembali ke Tokyo (dan sebenarnya Shigeru tidak pernah berpikir untuk menikah kalau tidak karena dipaksa oleh ibunya). Setelah pernikahan selesai dilaksanakan, Fumie pun dibawa Shigeru ke Tokyo. Meskipun suaminya tersebut tinggal di Tokyo, rumahnya sendiri berada di daerah yang jauh lebih ‘desa’ daripada daerah tempat tinggal Fumie di Otsuka (prefektur Shimane). Ketika sampai pun, Shigeru langsung mengurung diri di kamarnya untuk melanjutkan pekerjaannya dalam menggambar manga. Fumie pun merasa sedih karena ia tetap merasa sendirian meskipun sudah menikah. Di luar hal itu, meskipun Shigeru selalu mengerjakan manganya dengan sepenuh hati, manga-manga karyanya tersebut tidak pernah laku sehingga hal itu membuat pasangan suami istri tersebut harus hidup dalam kemiskinan. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya pada hubungan Fumie dan Shigeru? Apakah mereka berdua sanggup bertahan hidup dalam kemiskinan? Tonton aja deh 😀

gegege3Di balik kesuksesan seorang pria, pasti ada wanita hebat di belakangnya. Pepatah tersebut mungkin sangat tepat untuk menggambarkan inti cerita drama ini. Di balik segala kesulitan yang ditempuh Shigeru dalam usahanya untuk mencapai kesuksesan, ada Fumie yang selalu setia berada di sampingnya. Mungkin terdengar klise ya tapi hal tersebut digambarkan dengan sangat natural dan realistis. Shigeru dan Fumie bukanlah pasangan suami istri yang sempurna. Shigeru bukanlah tipe suami idaman para wanita. Ketika baru menikah, ia langsung kembali ke pekerjaannya dan membiarkan Fumie seorang diri. Dan ketika sedang bekerja, ia sama sekali tidak bisa diganggu oleh apapun. Ia juga miskin dan punya banyak tagihan. Pekerjaannya sebagai mangaka pun tidak menjanjikan apa-apa karena dunia rental manga yang memang sedang berada dalam masa sulit saat itu (manga yang dikerjakan Shigeru dipasarkan melalui rental, bukan majalah manga seperti yang terkenal sampai saat ini). Kadang penerbit membayar Shigeru hanya setengah dari yang seharusnya. Dan kadang ia tidak dibayar sama sekali. Kadang ia juga harus menggadaikan barang berharga miliknya agar bisa makan hari itu. Hmm, kebanyakan perempuan mungkin lebih memilih pergi dan kembali ke orang tuanya ya daripada bertahan hidup dengan Shigeru. Namun Fumie tetap bertahan. Pada awalnya ia memang merasa tidak nyaman dengan keadaannya. Ia merasa jauh dan tidak mengenal suaminya. Namun, sedikit demi sedikit ia mulai membiasakan dirinya dengan hal-hal ‘unik’ yang ada pada diri Shigeru. Sedikit demi sedikit pula, ia mulai jatuh cinta pada Shigeru yang meskipun terlihat cuek di luar, tapi sebenarnya punya hati yang baik dan punya cara sendiri dalam menunjukkan perhatiannya. Pada saat paling sulit sekalipun, Fumie tetap tidak pernah meninggalkan Shigeru. Secara tidak langsung, hal itu menjadi kekuatan bagi Shigeru. Jika tidak ada Fumie, mungkin saja Shigeru tidak akan menjadi sesukses seperti saat ini. Dan hal itulah yang saya suka dari asadora. Asadora selalu menunjukkan “girl power” dengan cara yang berbeda-beda. Di Carnation, girl power-nya ditunjukkan melalui perjuangan Itoko sebagai wanita yang bekerja sekaligus tulang punggung keluarga. Sementara itu di Gegege no Nyobo girl power-nya ditunjukkan melalui kesetiaan sang istri dalam mendampingi suaminya. Hmm, mungkin terdengar pasif ya jika dibandingkan dengan yang di Carnation, tapi bukankah kebahagian tiap perempuan itu berbeda-beda? 🙂

gegege4Selain hal di atas itu, yang menarik lagi dari drama berjumlah 156 episode ini (15 menit tiap episode) adalah kita bisa melihat perjalanan Mizuki Shigeru dalam meraih kesuksesan. Sejak kecil, Shigeru tertarik dengan hal-hal berbau gaib seperti yokai atau semacamnya. Hal itu berpengaruh pada manga-manga ciptaannya yang banyak bercerita tentang hal itu (selain menggambar tentang yokai, Shigeru juga menggambar manga-manga tentang perang berdasarkan pengalamannya ketika ikut perang, sebuah pengalaman yang membuatnya kehilangan sebelah lengannya). Bakat yang ia miliki pun membuat manga-manganya menjadi original dan berbeda dengan manga-manga yang lainnya. Namun, pada masa itu manga masih dianggap sebagai bacaan untuk anak-anak, dan manga-manganya dianggap terlalu seram untuk dibaca anak-anak. Oleh karena itu, manganya pun tidak pernah laku. Namun, tidak ada perjuangan yang sia-sia kan? Ya, proses Shigeru sebelum mencapai kesuksesan ini adalah salah satu yang paling menarik dari drama ini. Ia dan Fumie harus hidup dalam kemiskinan. Tapi miskin di sini bukan miskin kayak di sinetron Indonesia yang selalu terlihat lebay ya, tapi juga bukan berarti miskin di sini adalah hal yang sepele. Saya suka dengan cara Shigeru dan Fumie yang menganggap kemiskinan sebagai suatu tantangan. Ada saat-saat di mana mereka merasa depresi karena kemiskinan, tapi ada juga saat-saat di mana mereka merasa bahagia hanya dengan hal-hal kecil. Dan ketika manga karya Shigeru tiba-tiba mendapat perhatian penerbit besar yang membawanya pada kesuksesan, bukan berarti perjuangan berhenti sampai di situ. Berbagai hal yang menguji rumah tangga mereka berdua tetap ada bahkan ketika Shigeru sudah sukses, tapi yang terpenting adalah bagaimana cara mereka berdua dalam menghadapi ujian-ujian tersebut.

gegege5Seperti asadora pada umumnya, drama ini juga memiliki banyak karakter. Matsushita Nao berperan sangat baik sebagai Fumie, heroine drama ini. Karakternya mungkin tidak terasa istimewa jika dibandingkan dengan karakter sang suami yang kepribadiannya benar-benar unik, tapi ia punya chemistry yang sangat pas dengan Mukai Osamu sehingga peran yang dimainkannya tetap bisa mengimbangi peran sang suami. Dan saya selalu suka Mukai Osamu ketika ia memainkan peran-peran cuek dan easy-going seperti Shigeru ini (karena di peran-peran serius aktingnya biasanya gak terlalu bagus). Gak heran kenapa dia bisa jadi sepopuler itu setelah membintangi drama ini, karena karakternya memang tipe karakter yang gampang disukai (meskipun dengan segala keunikannya). Karakter-karakter lainnya, seperti anggota keluarga Iida (keluarga Fumie) dan keluarga Murai (keluarga Shigeru) pun hampir semuanya memiliki karakterisasi menarik (perhatian khusus untuk Osugi Ren yang berperan sebagai ayah Fumie serta Takeshita Keiko dan Kazama Morio yang berperan sebagai orang tua Shigeru). Para pemeran di luar anggota keluarga Fumie dan Shigeru pun menampilkan akting yang sama baiknya. Beberapa di antaranya adalah Matsuzaka Keiko (pemilik rental manga dekat rumah Shigeru yang menjadi teman pertama Fumie di lingkungan barunya), Sugiura Taiyou (teman sejak kecil Shigeru yang gila duit dan selalu punya banyak akal), Murakami Hiroaki (pemilik penerbitan kecil yang menyadari bakat Shigeru), Kajihara Zen (rekan Shigeru yang sesama mangaka), Emoto Tasuku (asisten terlama Shigeru), dan masih banyak lagi. Semua karakter yang ada di drama ini memiliki pengaruh yang berbeda-beda terhadap pasangan suami istri tersebut dan membuat drama ini menjadi lebih berwarna.

Overall, drama ini menurut saya recommended banget dan cocok ditonton penggemar asadora (atau orang yang baru mau memulai menonton asadora). Tidak semengesankan Carnation tapi dorama ini punya charm-nya sendiri yang menjadikannya memiliki tempat istimewa di hati saya. 4,5 bintang! 🙂

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »

Dorama ini bercerita tentang sebuah sekolah dasar di sebuah desa yang hanya memiliki satu orang murid saja. Desa tempat sekolah itu berada memang termasuk desa yang sepi dan sebagian besar penduduknya adalah orang-orang yang sudah berumur. Selain hanya memiliki satu orang murid (yang bernama Yabuki Tappei), SD bernama Mori no Mizu itu juga hanya memiliki sedikit kru, yaitu satu orang kepala sekolah (diperankan Osugi Ren), satu orang guru kepala (diperankan Kakei Toshio), satu orang perawat sekolah (diperankan Fubuki Jun), dan satu orang guru/wali kelas yang merupakan guru transfer dari Tokyo yang bernama Terusaki Aiko (Kuninaka Ryoko).

Suatu hari, sekolah tersebut diminta untuk bekerja sama dalam rural study program, di mana pada program tersebut lima orang anak didatangkan dari Tokyo untuk belajar di Mori no Mizu. Rural study program tersebut tentu saja menjadi kesempatan besar bagi Mori no Mizu untuk menaikkan citranya. Selain itu, program tersebut juga diharapkan dapat mencegah sekolah tersebut dari ancaman penutupan karena muridnya yang hanya satu orang itu. Hari yang ditunggu-tunggu itu pun tiba. Lima orang anak itu sampai juga di desa tersebut dan memulai harinya sebagai murid Mori no Mizu bersama-sama dengan Tappei. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah rural study program itu akan berjalan dengan lancar? Apakah lima anak dari Tokyo itu (beserta Tappei) akan betah belajar di Mori no Mizu? Dan apakah program tersebut akan berhasil mencegah sekolah tersebut dari ancaman penutupan? Tonton aja deh 😀

Minna Mukashi wa Kodomo Datta, secara harfiah kalimat tersebut memiliki arti “Kita semua dulunya anak kecil”. Dan seperti itulah dorama ini. Menonton dorama ini mungkin akan membuatmu kembali mengingat perasaan-perasaan yang pernah kamu rasakan ketika masih kecil. Perasaan saat pertama kali mempelajari hal baru, perasaan ketika bermain bersama teman-teman pertamamu, perasaan ketika pertama kali jatuh cinta, dan berbagai macam perasaan-perasaan lainnya yang mungkin sudah lama terlupa dari ingatan kita. Dorama ini memang menampilkan anak-anak selayaknya anak-anak. Dari mana pun asalnya, mau dari Tokyo seperti Momo, Shion, Shin, Fuuta, dan Wataru (nama anak-anak yang ikut rural study program) ataupun anak asli desa seperti Tappei, anak-anak tetaplah anak-anak. Hal itu membuat dorama ini terlihat sangat sederhana dan gak muluk-muluk seperti… katakanlah Laskar Pelangi (versi novel) yang sama-sama berkisah tentang sekolah di desa dengan murid yang hanya sedikit (well, saya suka novel itu tapi kadang-kadang saya merasa tokoh anak-anak di novel itu gak kayak anak-anak).

Ya, sederhana mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan dorama berjumlah 11 episode ini. Dorama ini emang sangat sederhana dan mungkin terlalu biasa jika dibandingkan dengan dorama sekolahan anak SD lainnya (seperti The Queen’s Classroom misalnya). Tapi kesederhanaannya itulah yang membuat dorama ini menjadi begitu enjoyable. Saya sendiri sangat menikmati menonton dorama ini. Saya menyukai ceritanya yang simpel dan gak muluk-muluk. Saya menyukai suasana pedesaannya yang begitu tenang dan bikin saya pengen tinggal di sana. Saya menyukai tokoh-tokohnya yang begitu lovable dan bikin saya pengen jadi bagian dari mereka. Pokoknya saya menyukai segala macam kesederhanaannya yang menjadikan dorama ini menjadi begitu heartwarming. Selain menampilkan anak-anak selayaknya anak-anak, dorama ini juga menampilkan hubungan anak-anak dengan sekitarnya, seperti hubungan anak-anak dengan orang tuanya, hubungan anak-anak dengan gurunya, dan hubungan anak-anak dengan lingkungan di sekitarnya. Intinya sih melalui dorama ini kita akan bisa lebih memahami dunia anak-anak.

Seperti yang saya bilang sebelumnya, salah satu hal yang paling saya suka di sini adalah karakter serta akting pemainnya. Kuninaka Ryoko sebagai pemeran utama dorama ini sangat berhasil memerankan karakter Aiko-sensei, guru transfer asal Tokyo yang selalu bersemangat dan ceria. Sekilas, karakter ini terlihat seperti tipikal karakter yang too good to be true ya karena terlalu baik dan sebagainya. Tapi saya senang karena di dorama ini juga diceritakan sedikit tentang masa lalunya ketika menjadi guru di Tokyo, yang membuat karakter ini menjadi tetap ‘manusia’ yang masih bisa melakukan kesalahan. Dan saya sangat menyukai caranya mengajar, di mana pelajaran yang diberikannya tidak sekadar pelajaran textbook saja, tapi juga pelajaran tentang kehidupan. Takanori Jinnai meskipun sering terlihat overacting tapi menurut saya tetap pas berperan di sini sebagai ayahnya Tappei (dan saya suka melihat hubungan ayah dan anak ini). Eita yang menjadi alasan utama saya menonton dorama ini juga berhasil memerankan perannya dengan baik sebagai Sagami “Masa-nii” Masa, anak kepala sekolah yang ditunjuk menjadi kepala asrama di tempat anak-anak itu tinggal. Masa-nii sendiri sebenarnya memiliki kualifikasi sebagai guru, tapi dia selalu merasa dia tidak pantas dengan pekerjaan tersebut. Di luar tiga karakter itu, pemeran-pemeran dewasa lainnya (seperti Shiraishi Miho, Osugi Ren, dll) juga berhasil menampilkan akting yang baik. Begitu juga dengan pemeran anak-anaknya yang berhasil menghidupkan perannya masing-masing dengan baik, terutama Fukasawa Arashi yang menampilkan akting yang cemerlang sebagai Tappei.

Well, secara keseluruhan, dorama ini menurut saya recommended. Cocok ditonton oleh penyuka dorama bergenre slice of life atau penyuka dorama dengan cerita yang simpel. Dan jika saya menyarankan The Queen’s Classroom untuk ditonton oleh orang-orang yang ingin memahami pendidikan, maka saya akan menyarankan Minna Mukashi wa Kodomo Datta untuk ditonton oleh orang-orang yang ingin memahami dunia anak-anak. Siapa tahu udah banyak yang lupa rasanya jadi anak-anak :p Well, 4 bintang deh 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »