Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘psychological’

Setiap orang pasti memiliki impian untuk menjadi orang yang istimewa, tidak biasa, dan berbeda dari orang lainnya. Tapi tidak dengan cowok berusia 14 tahun bernama Sumida Yuichi (Sometani Shota). Satu-satunya impian Sumida adalah menjadi orang biasa dan menjalani hidup yang biasa. Bukan hidup yang bahagia, tapi juga bukan hidup yang tidak bahagia. I want to live quietly like a mole, itulah mimpi Sumida. Tapi takdir berkata lain. Hidupnya tidak akan pernah bisa menjadi biasa. Ia tinggal berdua dengan ibunya. Mereka hidup dari uang hasil usaha penyewaan boat. Sang ayah (Mitsuishi Ken) yang sudah lama berpisah dengan mereka sering datang untuk mengancam dan mengambil uang Sumida. Dan suatu hari, ibunya pun diam-diam pergi meninggalkannya. Bagaimana bisa ia menjalani hidup yang biasa dengan latar belakang seperti itu?

Lalu ada Chazawa Keiko (Nikaido Fumi). Anak orang kaya ini sangat tergila-gila pada Sumida. Ia juga bisa dikatakan sebagai stalkernya Sumida, selalu memperhatikan Sumida dan bahkan mengkoleksi kata-kata yang pernah diucapkan cowok itu. Ia juga punya impian sederhana, yaitu hidup dengan laki-laki yang ia cintai, saling melindungi satu sama lain, dan kemudian meninggal dengan senyuman. Tapi Keiko juga punya latar belakang keluarga yang suram. Apakah suatu saat impiannya akan terkabul?

Suatu hari, keinginan Sumida untuk hidup dengan biasa tampaknya tidak akan pernah terwujud lagi. Ia melakukan suatu tindakan kriminal yang berhubungan dengan ayahnya. Sejak saat itu, Sumida bertekad untuk melakukan suatu kebaikan terhadap masyarakat, yaitu dengan ‘membasmi’ orang-orang yang selalu menimbulkan kesulitan bagi orang lain. Apa yang akan terjadi selanjutnya pada Sumida? Mampukah ia melakukan hal tersebut?

Film berjudul Himizu yang disutradarai Sono Sion (Love Exposure, Suicide Club) ini merupakan film yang diangkat dari manga berjudul sama karya Furuya Minoru. Film ini sendiri cukup banyak memiliki perbedaan dengan manganya, salah satunya adalah latar waktu di filmnya yang disesuaikan dengan keadaan saat ini, tepatnya pada peristiwa setelah bencana tsunami di Jepang tahun 2011 lalu. Oleh karena itu, film ini juga bisa dilihat dari sudut pandang bencana tersebut, yaitu bagaimana dampak tsunami terhadap kondisi sosial dan psikologis masyarakat Jepang saat itu (selain tokoh Sumida, kita juga akan diperkenalkan pada karakter orang-orang yang menumpang tinggal di tanah milik Sumida, orang-orang yang kehilangan rumahnya akibat tsunami).

Mengenai film ini sendiri, saya sendiri rada susah untuk menggambarkan apa kelebihan atau kekurangan dari film ini, apakah ini film yang bagus atau bukan, atau semacamnya. Film ini memang tidak sebagus film-film Sono Sion yang sebelumnya, dan juga mungkin akan mengecewakan bagi sebagian orang. Tapi yang jelas, film ini berhasil membuat saya merasa terbawa ke dalam ceritanya. Film ini sendiri dapat dimasukkan ke kategori “film depressing”. Tapi depressing di sini adalah depressing yang enak diikuti, bukan tipe depressing yang bikin kamu merasa gak kuat dan gak mau lanjut nonton lagi. Ini adalah jenis film depressing yang bisa saya tonton berulang kali. Film ini juga berhasil membuat saya tertarik dan peduli terhadap tokoh-tokoh di dalamnya. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh akting yang cemerlang dari kedua pemeran utamanya, yaitu Sometani Shota dan Nikaido Fumi (yang sama-sama mendapat penghargaan “Marcello Mastroianni Award” di Venice Film Festival berkat akting mereka di film ini). Sulit rasanya membayangkan ada aktor/aktris muda yang bisa memerankan tokoh Sumida & Keiko sebaik mereka. Pemeran-pemeran lainnya yang kebanyakan sudah pernah bermain di film-film garapan Sono Sion pun turut menampilkan akting yang bagus dan memperkuat film ini.

Meskipun diangkat dari manga, film ini sendiri tetap tidak kehilangan ciri khas Sono Sion. Penggunaan narasi (meskipun sedikit), penggunaan puisi, penggunaan musik klasik, dan kekerasan (tapi kadarnya masih rendah kok), semuanya ada di sini. Film ini juga memiliki kemiripan dengan beberapa film Sono Sion sebelumnya yang selalu bercerita tentang ‘perjalanan’ psikologis manusia yang dipengaruhi oleh suatu hal (bisa tragedi, ataupun hal-hal lainnya). Jadi, untuk penggemar Sono Sion, film ini tentunya adalah film yang tidak boleh dilewatkan.

Well, secara keseluruhan saya sangat menyukai film ini. Ini adalah film yang depressing. Tapi film ini juga menunjukkan bahwa meskipun dunia seolah bertindak tidak adil terhadap kita dan kejahatan akan selalu ada, kita tetap boleh memiliki harapan. Yeah, film ini memiliki pesan yang sangat simpel dan digambarkan dengan sangat jelas (tapi tidak sampai merusak esensi filmnya), yaitu “jangan menyerah, dan bermimpilah”. Oke, 4 bintang deh untuk film ini 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

“Do you know what tomorrow is? Tomorrow is my birthday.”

Iwai Shunji adalah sutradara Jepang pertama yang saya apresiasi. Maksudnya, sebelum menonton film-filmnya Iwai Shunji, saya termasuk tipe orang yang suka nonton film (dalam hal ini, film Jepang) tanpa peduli siapa sutradaranya. Tapi setelah menonton Hana and Alice dan All About Lily Chou-Chou (salah dua film yang disutradarai Iwai Shunji dan merupakan film-film favorit saya sepanjang masa), saya merasa perlu untuk mencari dan menonton karya-karyanya yang lain. Dan setelah itu, saya jadi mulai memperhatikan sutradara-sutradara film Jepang lainnya (tapi Iwai Shunji tetap akan mendapat tempat pertama di hati saya :)).

Saya sudah menonton hampir semua film yang disutradarai Iwai Shunji. Tapi menonton Ritual (judul asli: Shiki-Jitsu) adalah pengalaman pertama saya dalam melihatnya berakting. Ritual sendiri adalah sebuah film yang disutradarai oleh Anno Hideaki (yang terkenal sebagai sutradara anime legendaris Neon Genesis Evangelion). Di film ini, Iwai berperan sebagai seorang pria yang baru saja kembali ke kampung halamannya. Di hari pertama di kampung halamannya, ia melihat seorang perempuan aneh (diperankan Fujitani Ayako) sedang tiduran di rel kereta api sambil memegang payung berwarna merah. Beberapa saat kemudian, ia bertemu lagi dengan perempuan itu. Perempuan itu lalu berkata bahwa yang ia lakukan di rel kereta api tadi adalah sebuah ritual. Selain itu, ia juga memberitahu pria itu bahwa besok adalah hari ulang tahunnya.

Keesokkan harinya, pria itu datang lagi menemui si perempuan aneh yang masih melakukan ritualnya di rel kereta api. Pria tersebut datang dengan membawa kado ulang tahun untuk perempuan itu. Tapi perempuan itu menolaknya sambil berkata “ulang tahunku besok”. Besok dan besoknya lagi, pria itu kembali menemui perempuan itu. Dan perempuan itu tetap meracau bahwa besok adalah hari ulang tahunnya. Di hari keempat, perempuan itu mengajak si pria ke tempat tinggalnya. Tempat tinggal perempuan itu adalah sebuah bangunan beberapa lantai yang hanya diisi oleh “barang-barang yang disukai” perempuan itu. Pria tersebut juga akhirnya mengetahui bahwa perempuan itu masih punya beberapa ritual lainnya. Salah satunya adalah ritual “berdiri di tepian atap rumahnya”. Jika ia bisa berdiri tanpa berusaha melompat, maka artinya dia baik-baik saja. Di hari ketujuh, pria itu memutuskan untuk tinggal bersama dengan perempuan itu. Lalu diketahui bahwa pria tersebut ternyata berprofesi sebagai sutradara dan sejak saat itu ia berusaha memfilmkan kegiatan sehari-hari si perempuan.

Saya sudah menyukai film ini sejak adegan pertama film ini dimulai. Yeah, adegan pertama di film ini, yaitu ketika Iwai Shunji memandangi Fujitani Ayako (yang balas memandangnya sambil tersenyum) di rel kereta api itu memang sangat menarik perhatian dan membuat saya langsung berpikir “wah filmnya pasti aneh nih” dan “wah, kayaknya saya bakal suka banget film ini” (fyi, sebelum menonton film ini saya sama sekali tidak tahu informasi apapun tentang film ini kecuali Iwai Shunji bermain di dalamnya dan Anno Hideaki adalah sutradaranya). Dan setelah adegan itu, semakin lama filmnya menjadi semakin menarik. Menonton film ini mungkin akan membuat kita merasakan sesuatu yang sama dengan yang dirasakan karakter yang diperankan Iwai (yang tidak diketahui namanya dan hanya dipanggil dengan sebutan “Kantoku”/”Sutradara”). Yeah, seperti pada Kantoku, kita akan dibuat untuk terus tertarik dan penasaran ingin mengetahui lebih jauh tentang perempuan itu (yang juga sama sekal tidak diketahui namanya). Si perempuan memang punya kepribadian yang sangat unik dan menarik. Ia selalu berkata bahwa besok adalah hari ulang tahunnya. Dia juga selalu ceria dan selalu tersenyum. Tapi kita tahu bahwa sebenarnya ia hanyalah perempuan kesepian yang mencoba menciptakan dunianya sendiri untuk mengusir kesendiriannya. Ia juga hanyalah perempuan biasa yang butuh orang lain untuk selalu berada di sampingnya (dalam hal ini si Kantoku). Dapat ditebak bahwa ia punya masa lalu yang menyakitkan (yang tampaknya ada hubungannya dengan keluarganya) dan berusaha lari dari kenyataan yang menyakitkan tersebut. Sementara itu, Kantoku adalah kebalikan dari si perempuan. Seperti yang telah diketahui, ia adalah seorang sutradara yang ingin membuat film live action (sepertinya aslinya dia adalah sutradara anime, sama seperti Anno-sensei). Itu berarti dia dekat dengan dunia-dunia yang bersifat fiksi, dan menjadi lelah karena hal itu. Usahanya memfilmkan si perempuan adalah usahanya untuk lari dari dunia fiksi dan kembali ke kenyataan, meskipun hal tersebut seperti kontradiksi karena si perempuan sendiri berusaha lari dari dunia nyata.

Selain hal di atas, yang saya suka lagi dari film ini adalah sinematografinya yang sangat indah dan memberi kesan puitis. Film ini memang punya gambar-gambar yang indah, dan yang paling saya suka adalah keindahan tersebut ditempatkan pada keanehan. Yang paling saya suka adalah bangunan tempat tinggal si perempuan. Tempat tinggalnya itu terlalu aneh untuk disebut sebagai rumah. Isi dari tempat tinggal tersebut pun terlihat sangat ganjil. Namun, sutradaranya berhasil menampilkan keganjilan pada tempat tersebut menjadi sangat indah (terutama pada bagian basement yang gelap dan ‘banjir’, tapi terlihat sangat artistik dengan penempatan payung-payung warna merahnya). Film ini juga punya sentuhan dokumenter, seperti digambarkan pada usaha memfilmkan kegiatan sehari-hari si perempuan. Dan karena Anno Hideaki juga merupakan sutradara anime, di film ini juga disisipkan beberapa sentuhan animasi yang turut membuat film ini menjadi semakin unik. Di luar sinematografinya, saya juga sangat menyukai dialog-dialog dan interaksi antara Kantoku dan si perempuan. Begitu juga dengan narasinya yang dibawakan dengan sangat baik oleh Matsuo Suzuki dan Hayashibara Megumi.

Dari segi akting, Iwai Shunji tampaknya tidak mengalami kesulitan karena perannya tidak jauh-jauh dari profesinya sendiri dan juga tidak memiliki kompleksitas yang rumit. Bintang utama dari film ini tentu saja adalah Fujitani Ayako, yang aktingnya menjadi kejutan terbesar di film ini dan membuat saya terus tertarik untuk mengikuti filmnya. Saya cuma pernah melihat dia sebagai pemeran pendukung di Atami no Sousakan dan sebagai pemeran utama di salah satu segmen di film Tokyo!, sehingga aktingnya di sini membuat saya terkejut karena dia bisa berakting sebegitu bagusnya (dan kejutan yang lain: dia adalah anaknya Steven Seagal!). Tapi kejutan yang paling besar adalah film ini ternyata merupakan film yang diangkat dari novel yang ditulisnya sendiri. Buku dengan judul Touhimu tersebut bergenre fiksi, tapi di beberapa sumber buku ini juga disebut-sebut sebagai semi-autobiografi dari Fujitani Ayako berdasarkan pengalaman akan keterasingannya ketika tinggal di Los Angeles. Hal tersebut membuat saya bertanya-tanya apakah aktingnya di Ritual memang benar-benar ‘akting’ 😀

Well, secara keseluruhan saya sangat menyukai film ini. Satu-satunya yang menjadi poin minus film ini menurut saya cuma endingnya yang digambarkan terlalu jelas. Ya, di sebagian pertama filmnya kita bisa melihat bahwa permasalahan yang dialami si perempuan hanya diperlihatkan secara samar dan melalui beberapa penyimbolan. Di bagian akhir, permasalahan tersebut langsung dijelaskan secara sejelas-jelasnya, yang membuat penonton tidak perlu mereka-reka lagi mengenai apa yang terjadi sebenarnya pada si perempuan itu. Namun, mungkin ending seperti itu adalah ending yang paling cocok untuk film ini.Yosh, menurut saya film ini cocok ditonton oleh penyuka film yang “nyikologis”, penyuka film-film yang artistik, dan penyuka film yang puitis. Film ini juga cocok untuk ditonton penggemar Iwai Shunji yang mungkin penasaran ingin melihat seperti apa ketika dia berakting. 4 bintang 😀

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Ada pepatah yang mengatakan bahwa seorang anak tidak bisa memilih siapa yang akan menjadi orang tuanya ketika ia dilahirkan. Lalu, apakah pepatah ini bisa berlaku untuk kebalikannya? Kalau tahu apa yang akan terjadi nantinya, mungkin saja Eva Khatchadourian (Tilda Swinton) akan memilih untuk tidak melahirkan Kevin (Ezra Miller), atau bahkan memilih untuk melahirkan anak yang lain saja, yang penting bukan Kevin. Kevin memang bukan anak laki-laki yang normal seperti anak-anak yang biasanya. Ia lahir seolah-olah dengan tujuan untuk membuat hidup ibunya hancur. Padahal, Eva rela meninggalkan hal yang ia cintai (seperti kecintaannya terhadap travelling) demi membesarkan Kevin. Namun, sebesar apapun usahanya untuk membesarkan atau mendekatkan dirinya dengan Kevin, selalu saja ada jarak di antara mereka.

We Need to Talk About Kevin berjalan dengan alur non-linear. Film ini dibuka dengan adegan Eva yang sedang bersenang-senang mengikuti pesta tomat di Spanyol. Dapat ditebak bahwa ini adalah kejadian ketika Kevin belum lahir ke dunia. Eva terlihat sebagai perempuan yang bebas dan seolah tanpa beban. Adegan selanjutnya berganti dengan kehidupan Eva di masa kini, di mana ketika ia baru keluar dari rumahnya, ia mendapati dinding rumahnya telah berlumuran cat merah. Lalu, adegan-adegan selanjutnya seperti memperlihatkan bahwa Eva adalah perempuan yang dibenci seluruh umat. Adegan-adegan berikutnya kemudian secara bergantian memperlihatkan kehidupan Eva di masa kini dan kehidupan Eva pada saat sebelum dan sesudah melahirkan Kevin (mulai dari saat ia masih bayi sampai remaja). Sedikit demi sedikit, dengan mudah kita bisa menebak bahwa perlakuan buruk orang-orang terhadap Eva pasti berhubungan dengan hal yang telah dilakukan Kevin.

Kevin sendiri sejak lahir sudah digambarkan sebagai anak yang aneh. Ketika ia bayi ia tidak pernah berhenti menangis. Ketika ia masih balita, ia tidak pernah menanggapi ketika Eva mengajaknya bermain (sehingga awalnya ia sempat dikira menderita autisme). Pokoknya, segala hal yang dilakukan Kevin seolah-olah bertujuan untuk merenggut kebahagiaan ibunya. Ia juga tampak seperti manusia bermuka dua, karena ia selalu bertingkah manis di depan sang ayah, Franklin (John C. Reilly), sementara dengan ibunya, ia terlihat seperti sangat membencinya. Apalagi ketika Celia (anak kedua Eva) lahir. Berbeda dengan Kevin yang introvert, Celia adalah anak yang manis dan ceria, sehingga kasih sayang Eva pada Celia tampak berbeda dengan kasih sayangnya pada Kevin, yang mengakibatkan kecemburuan muncul di hati Kevin. Puncaknya adalah ketika Kevin melakukan suatu hal besar yang sulit dimaafkan, yang membuat hidup Eva tidak akan pernah berjalan normal lagi seperti dulu.

Menonton We Need to Talk About Kevin membuat saya merasa ngeri sendiri dan membayangkan bagaimana nantinya jika suatu saat saya punya anak (#eaa). Ya, menonton film ini mungkin akan membuat penontonnya merasa takut untuk punya anak, takut bahwa mereka tidak cukup baik dalam membesarkan anak mereka, dan takut mengalami hal yang sama dengan Eva. Film garapan sutradara Lynne Ramsay ini memang menunjukkan bahwa membesarkan anak itu bukanlah hal yang mudah. Dan ini bukan tentang perkara cara membesarkan anak saja, karena cara Eva membesarkan Kevin saya rasa adalah cara yang wajar dilakukan para orang tua. Namun, kita dapat melihat bahwa meskipun Eva sudah berusaha keras dalam membesarkan anaknya, dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia juga menganggap Kevin sebagai sebuah beban. Apalagi, kehamilannya akan Kevin adalah suatu hal yang di luar rencana. Dan meskipun masih kecil, mungkin Kevin bisa merasakan hal itu, sehingga perlakuannya pada ibunya seakan-akan dilakukan supaya beban yang dipanggul Eva semakin bertambah.

Yang paling saya kagumi dari film ini adalah bagaimana film ini berhasil menghadirkan sebuah drama thriller yang mencekam tanpa harus memperlihatkan adegan kekerasan. Meskipun hal yang dilakukan Kevin masih berhubungan dengan kekerasan, namun kekerasan tersebut tidak ditampilkan dan seolah-olah diserahkan pada bayangan penonton saja. Namun, dengan melihat ekspresi Kevin saja, kita sudah bisa merasakan terror yang sebenarnya terjadi. Terror yang lain ditunjukkan melalui cat merah yang melumuri dinding rumah Eva, yang menunjukkan bahwa warna tersebut bisa tetap terlihat menakutkan meskipun tidak diperlihatkan melalui darah (dan bagian pesta tomat itu, meskipun kelihatannya menyenangkan bagi Eva, buat saya keliatannya rada serem karena warnanya kayak darah). Alurnya yang maju mundur tak beraturan pun membuat film ini menjadi semakin menarik. Meskipun film ini bukan tipe film yang mengandung twist mengejutkan seperti di kebanyakan film beralur non-linear (karena dari awal ceritanya sudah cukup tertebak), tapi kita tetap dibuat ingin tahu mengenai seperti apa sih karakter Kevin itu.

Para pemain dalam film ini menurut saya berhasil menjadikan film ini terasa semakin mencekam. Tilda Swinton dengan ekspresi suramnya berhasil memerankan karakter ibu yang seolah tidak pernah bisa merasa bahagia lagi sejak anaknya lahir. Ezra Miller sebagai Kevin pun sangat bagus aktingnya. Dari cara ia bergerak dan menatap saja, sudah terlihat bahwa karakter ini memiliki masalah yang berhubungan dengan kejiwaannya (oh iya, dua aktor cilik yang memerankan Kevin balita dan Kevin kecil juga tidak kalah bagus aktingnya). Yang aktingnya saya rasa agak-agak kurang di sini menurut saya John C. Reilly yang memerankan Franklin, suami Eva sekaligus ayah Kevin.  Aktingnya tidak buruk sih, tapi saya ngerasa kurang sreg aja sama perannya di sini dan rasanya agak aneh melihat dia dipasangkan dengan Tilda Swinton, tapi dimaafkanlah karena fokus utama film ini adalah Eva dan Kevin.

Overall, We Need to Talk About Kevin adalah sebuah film yang menunjukkan betapa kompleksnya kepribadian manusia. Segala hal pasti ada alasannya, namun kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa atas hal yang terjadi dalam film ini. Apakah semuanya semata-mata salah Kevin? Atau salah Eva? Kita akan dibuat untuk merasa tidak yakin akan hal itu, sama seperti yang diungkapkan Kevin pada bagian akhir film ini. Ja, 4 bintang.

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Ada yang ingat dengan film Confessions (Kokuhaku)? Film Jepang garapan Nakashima Tetsuya itu bisa dibilang merupakan salah satu film Jepang favorit saya sepanjang masa. Film yang bercerita tentang pembalasan dendam seorang ibu yang anaknya dibunuh tersebut merupakan adaptasi dari novel yang ditulis oleh Minato Kanae. Di tahun 2012 ini, satu lagi novel karya Minato Kanae, yaitu Shokuzai (The Atonement), difilmkan. Namun, tidak seperti Confessions, Shokuzai tidak diadaptasi menjadi film layar lebar, melainkan menjadi mini seri berjumlah lima episode yang ditayangkan oleh channel WOWOW. Kali ini, orang yang bertugas mengadaptasi novel ini ke layar kaca adalah Kurosawa Kiyoshi, yang sebelumnya sudah sering menyutradarai beberapa film yang sudah diakui kualitasnya, seperti Tokyo Sonata dan Cure.

Shokuzai sendiri masih memiliki kemiripan dengan Confessions, yaitu sama-sama bercerita tentang seorang ibu yang anak perempuannya dibunuh. Anak perempuan tersebut bernama Emiri yang merupakan seorang murid baru (kelas 4 SD) di suatu sekolah. Pada suatu hari, ketika ia sedang bermain dengan empat orang temannya, seorang pria menghampiri mereka. Pria (yang wajahnya tidak diperlihatkan) tersebut mengatakan ia sedang membetulkan kipas yang ada di gymnasium sekolah mereka, dan ia meminta tolong Emiri untuk membantunya karena ada bagian yang tidak bisa ia jangkau. Emiri lalu pergi bersama pria itu. Namun, setelah beberapa lama, Emiri tidak kembali juga. Empat temannya yang khawatir pun lalu menyusul ke gymnasium. Dan sesampainya di sana, Emiri sudah terbujur kaku di lantai gymnasium tersebut.

Adachi Asako (Koizumi Kyoko) yang merupakan ibu dari Emiri tidak sanggup menerima kenyataan atas kematian putrinya tersebut. Belum lagi, pelaku pembunuhan anaknya sama sekali tidak tertangkap, dan empat teman Emiri yang merupakan saksi mata pelaku pembunuhan Emiri mengatakan mereka tidak ingat dengan wajah pembunuh tersebut. Pada suatu hari, tepatnya pada hari ulang tahun Emiri, Asako mengundang empat orang teman Emiri tersebut ke rumahnya. Rupanya Asako tidak bisa memaafkan mereka berempat. Pada pertemuan tersebut Asako berkata pada mereka: “I won’t forgive you. Find the suspect for me. Otherwise, you’ll have to pay. Until the crime solve, I’ll never forgive any of you. You can’t escape from your sins.”

15 tahun berlalu setelah perjanjian tersebut. Empat orang teman Emiri telah tumbuh dewasa dan memiliki kehidupan masing-masing. Yang pertama adalah Kikuchi Sae (Aoi Yu), yang punya ketakutan tertentu terhadap laki-laki dan punya semacam kelainan di mana ia tidak bisa mengalami menstruasi. Yang kedua adalah Shinohara Maki (Koike Eiko), yang berprofesi sebagai guru SD yang galak dan pada suatu hari mendapat banyak perhatian setelah ia menyelamatkan murid-muridnya dari serangan pria tak dikenal. Yang ketiga adalah Takano Akiko (Ando Sakura), perempuan yang sejak kematian Emiri menjadi anti memakai pakaian yang cantik dan menganggap dirinya sendiri adalah beruang. Lalu terakhir adalah Ogawa Yuka (Ikewaki Chizuru), pemilik toko bunga yang punya kecemburuan tertentu terhadap kakaknya dan punya perhatian khusus terhadap polisi. Setiap tokoh dieksplor dalam setiap episode secara bergantian (jadi episode pertama fokusnya sama Aoi Yu, episode 2 Koike Eiko, dst). Dan di setiap episodenya, tokoh-tokoh tersebut melakukan suatu hal mengejutkan yang mereka anggap sebagai penebusan dosa atas kematian Emiri.

Shokuzai adalah salah satu dorama yang sudah saya tunggu-tunggu sejak dorama ini belum tayang. Selain karena faktor pengarang Confessions dan Kurosawa Kiyoshi, yang membuat saya tertarik pada dorama ini adalah jajaran castnya yang luar biasa. Kebanyakan pemainnya adalah aktor dan aktris yang lebih sering bermain di film ketimbang dorama. Contohnya adalah Koizumi Kyoko (Hanging Garden, Tokyo Sonata), Aoi Yu (Hana and Alice), Koike Eiko (2LDK), Ando Sakura (Love Exposure), dan Ikewaki Chizuru (Josee the Tiger and the Fish). Pemain-pemain pembantunya pun top semua, mulai dari Moriyama Mirai, Kase Ryo, Ito Ayumi, Arai Hirofumi, sampai Kagawa Teruyuki. Dan untungnya saya tidak dikecewakan oleh nama-nama hebat tersebut.

Seperti kebanyakan film-filmnya Kurosawa Kiyoshi (yang sering membuat film horror/thriller), dorama ini memiliki aura yang suram dan kelam. Warna yang dipakai cenderung gelap, dan semakin mendukung atmosfir kelamnya. Alurnya sedikit lambat, tapi tidak membosankan dan malah memperkuat intensitas ketegangannya. Sinematografinya pun sangat mengagumkan, dan membuat dorama ini tidak terlihat sebagai sekadar tayangan televisi karena kualitas gambarnya yang sudah seperti kualitas gambar pada film layar lebar.

Yang paling saya kagumi dari dorama ini adalah proses pembangunan karakternya yang meskipun terlihat perlahan-lahan tetapi pasti. Di setiap episodenya setiap karakter diperkenalkan. Dan dengan memakai sedikit flashback, kita bisa melihat bahwa kepribadian mereka semuanya terbentuk dari kejadian 15 tahun yang lalu, bahkan untuk karakter Yuka (Ikewaki Chizuru) sekalipun yang mengatakan bahwa ia tidak peduli dengan hal tersebut. Semua karakternya tidak diperlihatkan bersih dan suci. Bahkan untuk karakter Asako sang ibu, yang sebenarnya punya andil dalam kematian putrinya, karena belakangan diketahui bahwa kematian putrinya masih memiliki hubungan dengan masa lalunya sendiri. Makanya, shokuzai atau “the atonement” di sini tidak hanya berlaku bagi empat orang teman Emiri saja, melainkan juga pada karakter Asako sendiri. Well, kalo suka sama tontonan yang rada nyikologis, dorama ini tentunya sangat wajib ditonton karena kita bisa melihat bahwa sebuah kejadian bisa mempengaruhi kepribadian berbagai macam orang dengan cara yang berbeda.

Setiap episode dalam dorama ini memiliki cerita yang berdiri sendiri tapi tetap bersinggungan. Dan masing-masing episodenya memiliki cerita yang sangat menarik. Tapi kalo disuruh milih, favorit saya adalah episode pertama (French Doll) dan episode ketiga (Bear Siblings). Dua episode tersebut menurut saya yang paling menarik dan paling menegangkan. Apalagi episode pertama yang menampilkan Aoi Yu, yang menurut saya serem abis. Para pemain dalam dorama ini semuanya menampilkan akting yang bagus dan memukau. Ekspresi-ekspresi yang ditampilkan, kekosongan yang mereka alami, semuanya ditampilkan secara pas dan tidak berlebihan. Dari lima pemeran utama sampai peran-peran pembantu, semuanya menampilkan akting yang cemerlang.

Secara keseluruhan, dorama ini adalah salah satu dorama paling berkesan di tahun 2012 ini. Dan meskipun tahun 2012 baru berjalan dua bulan, sudah pasti saya akan memasukkan dorama ini ke list dorama terbaik tahun 2012. Satu-satunya kelemahan dorama ini menurut saya hanya pada bagian endingnya. Endingnya tetep bagus sih, dan sepertinya memang seperti itulah dorama ini harus berakhir (dan endingnya itu…ironis sekali). Tapi, kalo dibandingin sama episode-episode sebelumnya, menurut saya kualitas episode ini jadi rada menurun dan kalah sama episode-episode sebelumnya. Padahal saya berharap episode akhir ini menjadi puncak dari semua episodenya. Jadi, 4,5 bintang deh untuk dorama ini. Highly recommended.

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »

Anak-anak dan imajinasi, dua hal tersebut adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Coba saya tanya, waktu kamu kecil kamu pasti senang sekali mengkhayalkan banyak hal kan? (kalaupun nggak, pura-pura bilang iya aja ya). Begitu juga dengan Kenji dan kawan-kawannya. Waktu kecil, Kenji selalu bermimpi ingin menjadi seorang penyelamat dunia. Dia pun merancang sebuah ‘skenario penyelamatan dunia’ pada sebuah buku yang dinamakan “the book of prophecy”, bersama dengan teman-temannya di suatu tempat yang mereka namakan “markas rahasia”. Namun, dunia bisa diselamatkan jika terlebih dahulu ada hal yang mengancamnya bukan? Karena itulah, dalam skenario penyelamatan dunia itu mereka menuliskan bahwa di masa depan, dunia akan diserang oleh berbagai macam hal, mulai dari wabah virus misterius sampai serangan robot seperti yang ada di komik-komik yang mereka baca. Dan tugas mereka adalah menyelamatkan dunia dari hal-hal tersebut.

Namun, imajinasi anak-anak kadang-kadang selalu berakhir menjadi sekadar imajinasi saja. Kenji ketika dewasa sudah melupakan cita-citanya menjadi penyelamat dunia dan malah berakhir sebagai seorang pemilik konbini (semacam mini market). Salah satu cita-citanya yang lain, yaitu sebagai musisi rock pun sudah ia buang jauh-jauh dari dulu. Lalu, beberapa kejadian misterius muncul. Kejadian-kejadian yang pernah Kenji dan kawan-kawannya tuliskan dalam skenario penyelamatan dunia di waktu kecil tersebut satu persatu menjadi kenyataan. Kejadian-kejadian tersebut diduga berkaitan dengan sebuah perkumpulan kultus  yang dipimpin oleh seorang pria misterius bernama “Friend” (atau dalam bahasa Jepangnya “Tomodachi”). Perkumpulan tersebut tampaknya bukanlah perkumpulan biasa karena kabarnya pihak kepolisian Jepang pun sudah dimasuki oleh orang-orang mereka. Yang aneh adalah, perkumpulan tersebut menggunakan simbol yang sama dengan simbol yang digunakan Kenji dan kawan-kawannya waktu kecil sebagai lambang persahabatan mereka. Jadi, siapakah “friend” sebenarnya? Apakah dia yang menyebabkan timbulnya kejadian-kejadian misterius tersebut? Apakah dia merupakan salah satu teman Kenji di masa kecil? Lalu, apakah Kenji dan kawan-kawannya memang ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia? Baca aja deh kakak

Setelah membaca manga ini, saya langsung menobatkan 20th Century Boys sebagai salah satu manga terbaik yang pernah saya baca. Saya sendiri merasa sedikit menyesal karena baru membaca manga hebat tersebut baru-baru ini, padahal manga ini sudah diterbitkan sejak tahun 1999. Tapi better late than never kan? *ting ting*

Mengagumkan. Itu adalah salah satu kata yang tepat untuk menggambarkan manga ini. Membaca manga ini membuat saya bertanya-tanya, Urasawa Naoki (pengarang 20th Century Boys) ini makannya apa ya kok bisa-bisanya bikin manga super jenius kayak gini? Saya benar-benar kagum dengan cara beliau merangkaikan kisah dalam manga ini. Salah satu keunikan manga ini terdapat pada alurnya yang acak-acakan tapi biar begitu tetap membentuk satu kesatuan yang kuat dan tidak membuat bingung. Ceritanya mengalir dengan banyak flash back, dan kadang-kadang alurnya suka loncat-loncat. Misalnya ada suatu kejadian di tahun 2000 lalu kisahnya tiba-tiba loncat ke kejadian di tahun 2014. Kadang-kadang hal tersebut membuat saya merasa gregetan karena alurnya sering tiba-tiba loncat ketika situasi dalam manga itu sedang berada di puncaknya, sehingga hal tersebut membuat pembaca akan selalu merasa penasaran karena banyaknya misteri yang belum terpecahkan. Yang membuat saya kagum lagi, Urasawa Naoki sendiri tampaknya tahu benar cerita dalam manganya tersebut akan dibawa ke mana. Misalnya setelah saya perhatikan, adegan yang terjadi dalam volume 22 (volume akhirnya) ternyata pernah disinggung (biar secuil) dalam volume pertama.

Selain alurnya, yang membuat saya kagum pada manga ini tentu saja ceritanya yang bagus dan kuat. Kisah seputar konspirasi memang selalu menarik perhatian saya. Dan apakah Urasawa Naoki hendak menyampaikan sesuatu melalui manga ini? 😀 Selain itu, di sini juga kita ditunjukan bahwa imajinasi masa kecil tentang penaklukan dan penyelamatan dunia memang sering kali terlihat keren, tapi ketika hal tersebut menjadi kenyataan, apakah kita masih bisa menyebut itu sebagai hal yang keren?

Keunggulan manga ini juga terdapat pada karakteristik tokoh-tokohnya. Yang paling saya suka dari manga ini adalah tokoh utamanya Kenji yang digambarkan sebagai orang yang biasa-biasa saja. Karakternya terasa manusiawi sekali dan kadang-kadang masih punya rasa takut. Karakter-karakter lainnya pun memiliki karakterisasi yang sangat bagus. Selain itu, karena manga ini berlatarkan pada waktu yang berbeda-beda (tahun 70-an, 1997, 2000, 2014), kita jadi bisa melihat bagaimana perkembangan karakter mereka secara psikologis dari kecil sampai dewasa (dan tua). Dan perkembangan karakter tersebut terasa wajar dan masuk akal. Di sini juga kita bisa melihat bahwa apa yang terjadi pada seseorang di masa kecilnya akan sangat berpengaruh bagi perkembangannya ketika menjadi orang dewasa. Jadi buat penyuka manga atau cerita yang rada “nyikologis”, 20th Century Boys adalah salah satu manga yang wajib sekali untuk dibaca.

Dari segi ilustrasi, saya juga suka dengan ilustrasi yang juga digambar oleh Urasawa Naoki ini. Ilustrasinya digambarkan dengan gaya gambar yang agak realis. Plus yang saya suka adalah peletakan panelnya yang sangat rapi, sehingga pembaca yang tidak terbiasa dengan manga dapat dengan mudah mengikuti ceritanya.

Namun, sayangnya endingnya menurut saya rada gantung dan kentang (alias nanggung). Seperti yang sudah saya bilang, manga ini berakhir di volume 22. Tapi sayangnya sampai manga ini berakhir, manga ini masih meninggalkan beberapa misteri yang belum terpecahkan. Namun untungnya setelah itu Urasawa Naoki mengeluarkan manga 21st Century Boys (terdiri dari dua volume) yang akan menjawab rasa penasaran pembaca akan ending yang menggantung tersebut. Saya sendiri lumayan puas dengan 21st Century Boys dan menurut saya manga tersebut adalah ending dari 20th Century Boys yang sebenarnya.

Ja, segini aja review dari saya. Saya sangat merekomendasikan manga ini untuk dibaca semua penggemar manga atau penggemar cerita suspense/supernatural/action/psychological/mystery. Oh ya, biarpun ceritanya keliatan agak berat, tapi manga ini enak diikutin kok, karena pengarangnya sering kali menyelipkan unsur humor di dalamnya. Yang jelas, kalo udah sekali baca manga ini, pasti gak bakalan berhenti baca sampai akhir (kayak saya :D). Jadi, selamat membacaaaaa :)))

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Satu lagi novel dari Paulo Coelho yang baru saya baca beberapa minggu yang lalu. Veronika Memutuskan Mati (yang aslinya berjudul Veronika Decides to Die) bercerita tentang perempuan muda bernama Veronika, yang pada suatu hari memutuskan untuk bunuh diri dengan cara meminum banyak obat tidur. Dia memutuskan untuk bunuh diri bukan karena ia menderita atau depresi (yang sering menjadi motif banyak orang untuk bunuh diri). Hidupnya tidak menderita, namun juga tidak bahagia. Intinya hidupnya flat dan biasa-biasa saja, kehidupannya berjalan sama dan biasa saja setiap harinya, karena itulah Veronika memutuskan untuk bunuh diri karena merasa hidupnya tidak menarik.

Namun, usahanya bunuh diri tidak berjalan sesuai rencananya. Ia berhasil diselamatkan dan terbangun di sebuah rumah sakit jiwa bernama Villete. Dokter memberitahunya akibat banyaknya obat tidur yang ia konsumsi, jantungnya menjadi lemah, dan ia akan meninggal dalam beberapa hari. Awalnya Veronika menerima hal itu dengan biasa saja, karena mati memang tujuannya, jadi ia tinggal menunggu hari tanpa berusaha untuk bunuh diri lagi. Namun, kehidupannya di Villete mulai memberinya harapan untuk hidup lagi. Ia bertemu dengan pasien-pasien rumah sakit jiwa lainnya, seperti Zedka, teman pertamanya yang sebetulnya sudah bisa keluar dari Villete; Mari, mantan pengacara yang masuk Vilette karena menderita Panic Attack, lalu Eduard, seorang penderita skizofrenia yang selalu setia mendengarkan Veronika bermain piano. Harapan hidup Veronika mulai timbul kembali, namun ia sadar bahwa ia akan meninggal beberapa hari lagi. Lalu bagaimana selanjutnya? Apakah Veronika akan mati? baca aja deh.

My Opinion:
Saya makin cinta Paulo Coelho deh setelah baca buku ini. Saya suka banget sama cara Paulo Coelho bercerita. Seperti di bagian awal ketika Veronika merencanakan bunuh diri. Sebetulnya bagian itu agak menggelikan karena Veronika benar-benar matang rencananya. Ia memutuskan cara bunuh diri yang tidak merepotkan orang lain (seperti ia tidak mau bunuh diri dengan cara menjatuhkan diri dari ketinggian, karena hal tersebut akan membuat shock ibunya dan membutuhkan autopsi). Selain itu sebelum ia bunuh diri ia menulis surat protes dulu karena ada orang yang tidak tahu tentang Slovenia, negara tempat tinggalnya, yang akan menjadi motif bunuh diri yang sangat aneh.

Buku ini juga memiliki pertanyaan tentang “apakah arti gila itu?”. Mengingat banyak orang yang merasa dirinya normal karena melakukan hal yang banyak dilakukan mayoritas, dan menganggap hal-hal di luar yang dilakukan mayoritas sebagai hal yang gila. Melalui novel ini juga saya jadi tahu kalau Paulo Coelho dulu ternyata pernah masuk rumah sakit jiwa juga seperti Veronika, hanya karena ia ingin jadi seniman dan keluarganya menganggap hal itu sebagai hal yang aneh.

Saya juga suka melihat bagaimana harapan hidup Veronika muncul lagi melalui kejadian-kejadian yang dialaminya di Villete. Bikin saya gemes dan ikut peduli pada Veronika dan tidak mau ia mati. Dan saya lega melihat endingnya, ternyata…. (eh gak mau spoiler ah) ^^.

Jadi, buku ini sangat recommended. Betul-betul buku yang bagus dan punya makna yang ‘dalem’ dalam pencarian makna hidup. Terjemahannya juga enak dibaca dan bukunya buat saya gak begitu berat.

My Rating: 4 / 5

Read Full Post »