Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘romance’

soratobuposter“Life is about encounters.”

Setiap orang pasti memiliki satu atau dua buah impian. Akan tetapi, impian-impian tersebut tidak selalu berhasil diraih oleh semua orang. Inaba Rika (Aragaki Yui) dan Sorai Daisuke (Ayano Go) adalah salah dua orang yang harus merelakan mimpinya dimakan oleh kenyataan. Inaba Rika selalu bermimpi untuk menjadi seorang reporter berita di TV ketika ia dewasa nanti. Mimpi tersebut akhirnya terwujud, tapi sayangnya tidak bertahan lama karena pada suatu hari ia membuat masalah yang membuatnya dipindahkan ke bagian informasi. Sementara itu, Sorai Daisuke yang berhasil meraih mimpinya menjadi seorang fighter pilot untuk Japan Air Self-Defense Force (atau disingkat JASDF) pun suatu hari harus menerima kenyataan bahwa dirinya sudah tidak bisa mengendarai pesawat Blue Impulse lagi setelah mengalami kecelakaan mobil yang membuat kakinya terluka (dan membuatnya dipindahkan ke bagian Public Relation di JASDF). Pada suatu hari, Inaba datang ke bagian Public Relation JASDF karena ditugaskan oleh atasannya untuk membuat liputan mengenai JASDF. Sagisaka (Shibata Kyohei) yang merupakan chief di bagian Public Relation menunjuk Sorai untuk menjadi penanggung jawab dari hal tersebut. Dua orang yang sama-sama berada di “jalur” yang tidak mereka inginkan ini pun bertemu. Lalu apa yang akan terjadi pada keduanya? Ayo ditonton kakaaak.

soratobu1Soratobu Kouhoushitsu adalah dorama musim ini yang paling saya suka. Seperti Kamo, Kyoto e Iku, saya memilih menonton dorama ini karena alasan yang sungguh simpel: Ayano Go. Ya, setahun belakangan ini saya lagi naksiiiiir banget sama aktor ganteng satu ini. Buat saya Ayano Go termasuk aktor yang tergolong underrated, makanya saya seneng banget karena akhirnya dia dapet peran utama juga di dorama. Makanya, cukup ngeliat dia jadi peran utama aja saya udah seneng banget dan gak terlalu berharap dorama ini bakalan bagus banget atau gimana. Belum lagi pada awalnya saya ngerasa plotnya itu kurang menarik. Pas nonton episode pertama, saya masih ngerasa dorama ini biasa aja. Namun, semakin ke sana, saya semakin terbawa ke dalam dunia di dalam dorama ini. Ya, saya dibuat jatuh cinta oleh dorama ini.

soratobu2Soratobu Kouhoushitsu sendiri menurut saya adalah dorama gado-gado (dan untungnya gado-gadonya enak :D). Dorama ini bisa dilihat dari banyak sisi. Bisa dilihat sebagai dorama mengenai media massa (terutama kaitannya dengan JASDF), atau sebagai dorama mengenai propaganda JASDF, dan bisa juga dilihat sebagai dorama romance. Sebagai dorama mengenai media massa, bisa dilihat melalui Inaba dengan pekerjaannya dalam meliput JSDF.  Meskipun tidak mendominasi, tapi peran media sebagai penghubung JASDF kepada masyarakat digambarkan dengan sangat baik di dorama ini, bahwa cara media dalam merepresentasikan JASDF sangat berpengaruh dalam membangun citra JASDF. Sebagai dorama mengenai JASDF, dorama ini banyak memberikan informasi yang ingin kita tahu mengenai JASDF dengan cara yang sangat enak untuk diikuti dan membuat saya jadi penasaran juga pengen tahu lebih banyak tentang JASDF (dan dorama ini juga mencoba meluruskan fakta bahwa fungsi JASDF adalah untuk melindungi, dan bukan untuk membunuh). Dan sebagai dorama romance (yang gak sekadar tentang cinta-cintaan), dorama ini berhasil menyajikan kisah cinta yang begitu manis antara dua orang yang impiannya sama-sama direnggut oleh kenyataan. Dengan soratobu4bertemunya mereka berdua, Inaba dan Sorai tidak hanya saling jatuh cinta, tapi juga saling belajar dari satu sama lain untuk menjadi lebih baik. Saya suka dengan cara mereka berdua yang akhirnya menerima dan kemudian mengerjakan dengan sepenuh hati apa yang menjadi tugas mereka saat ini. Impian mungkin bisa direnggut, tapi mengapa tidak menjadikan apa yang kamu lakukan saat ini sebagai impian barumu? Yak, segala unsur ‘gado-gado’ tersebut, dengan bumbu tambahan seperti drama dan komedi (yang beneran lucu), berhasil dipadukan dengan sangat baik yang menjadikan dorama ini sebagai dorama yang sangat menghibur dan juga menyentuh hati.

soratobu3Hal lain yang memperkuat dorama ini tentu saja akting dan karakteristik dari tokoh-tokohnya.  Aragaki Yui meskipun termasuk aktris yang aktingnya bukan tipe yang bikin kagum berperan sangat baik sebagai Inaba Rika, mantan reporter berita yang berkepribadian keras kepala dan agresif (dalam pekerjaannya, yang membuatnya sering mendapat masalah), dan bagaimana karakter ini berkembang diperlihatkan dengan sangat natural. Ayano Go yang menjadi alasan saya menonton dorama ini pun menampilkan akting yang memuaskan sebagai Sorai, mantan fighter pilot yang pemalu dan canggung dalam masalah percintaan (dan karakternya ini termasuk karakter yang mudah bikin cewek jatuh cinta, gak heran kalo fans Ayano Go nambah setelah dorama ini :D). Dan chemistry antara Aragaki Yui dan Ayano Go pun terasa sangaaaat natural dan interaksi antara mereka berdua adalah salah satu yang paling saya suka di dorama ini. Shibata Kyohei yang berperan sebagai Sagisaka, bosnya Sorai sekaligus peri cinta, pun menampilkan akting yang begitu memikat di dorama ini (dan karakternya ini merupakan karakter bos impian saya :D). Dorama ini pun memeliki sederet pemain pendukung yang berakting bagus dan memperkuat dorama ini, seperti Kaname Jun, Mizuno Miki, Muro Tsuyoshi, Kiriyama Renn, Takahashi Tsutomu, dan Namase Katsuhisa. Para pemeran pendukung ini tidak hanya menampilkan akting yang baik, tapi juga berhasil membuat saya peduli dan sayang sama mereka. 🙂

Secara keseluruhan, saya sangaaaat menyukai dorama ini. Kejutan terbesar di musim ini (atau mungkin tahun ini?), dan juga merupakan salah satu dorama paling mengesankan di tahun ini (setelah Saikou no Rikon dan Mahoro). 4,5 bintang. Highly recommended 🙂

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »

gegegeposterSetelah menonton Carnation, saya jadi ketagihan pengen nonton lebih banyak asadora. Nah, asadora kedua yang berhasil saya tamatkan setelah Carnation ini memiliki judul “Gegege no Nyobo”. Kalo denger judul itu, mungkin kamu akan teringat pada sebuah anime klasik dengan judul Gegege no Kitaro yang dulu pernah ditayangkan di tv lokal. Dua tontonan tersebut memang berkaitan kok, karena Gegege no Nyobo bercerita tentang kehidupan dari Mizuki Shigeru yang merupakan mangaka dari Gegege no Kitaro. Namun, sesuai judulnya yang memiliki arti “Gegege’s Wife”, kehidupan mangaka tersebut diceritakan melalui sudut pandang sang istri. Drama ini sendiri diangkat dari autobiografi istri Mizuki Shigeru yang bernama Mura Nunoe. Pada drama ini, sang istri memiliki nama Iida Fumie / Murai Fumie, diperankan oleh aktris Matsushita Nao.

gegege1Gegege no Nyobo berkisah pada era Showa (dimulai dari tahun 1939, namun sebagian besar ceritanya berlatar pada tahun 60-an). Iida Fumie merupakan anak keempat dari enam bersaudara. Sejak kecil, Fumie merupakan anak yang pemalu. Ia memiliki tinggi badan di atas anak perempuan rata-rata. Hal tersebut membuat Fumie merasa semakin rendah diri, bahkan ketika ia sudah berusia dewasa. Tinggi badannya tersebut pula membuatnya susah mendapat jodoh meskipun sudah menginjak usia 28 tahun. Sampai suatu hari datang tawaran omiai (arranged marriage/perjodohan) pada dirinya. Namun, laki-laki yang menjadi partner omiai Fumie ini kelihatan kurang meyakinkan. Ia sepuluh tahun lebih tua dari Fumie, bekerja sebagai mangaka untuk rental manga, tinggal di Tokyo, dan (yang paling mengejutkan) tidak memiliki lengan kiri karena terluka ketika ikut perang. Hmm, apa ada perempuan yang mau dinikahkan dengan laki-laki seperti itu? Meskipun beberapa anggota keluarga Fumie tidak menyetujui hal tersebut, sang ayah (diperankan Osugi Ren) bersikeras untuk tetap memproses lamaran tersebut. Fumie yang awalnya merasa ragu pun akhirnya memutuskan menerima lamaran itu, karena ia merasa laki-laki bernama Murai Shigeru (atau punya nama pena Mizuki Shigeru, diperankan oleh Mukai Osamu) yang akan menjadi calon suaminya tersebut adalah orang yang baik.

gegege2Pertemuan antara kedua keluarga pun ditetapkan. Pada pertemuan pertama itu, kedua belah pihak sama-sama setuju untuk menikahkan kedua anak mereka. Yang mengagetkan lagi, pernikahan diputuskan dilaksanakan pada lima hari setelah pertemuan pertama mereka karena Shigeru memiliki deadline pekerjaan sehingga ia harus cepat-cepat kembali ke Tokyo (dan sebenarnya Shigeru tidak pernah berpikir untuk menikah kalau tidak karena dipaksa oleh ibunya). Setelah pernikahan selesai dilaksanakan, Fumie pun dibawa Shigeru ke Tokyo. Meskipun suaminya tersebut tinggal di Tokyo, rumahnya sendiri berada di daerah yang jauh lebih ‘desa’ daripada daerah tempat tinggal Fumie di Otsuka (prefektur Shimane). Ketika sampai pun, Shigeru langsung mengurung diri di kamarnya untuk melanjutkan pekerjaannya dalam menggambar manga. Fumie pun merasa sedih karena ia tetap merasa sendirian meskipun sudah menikah. Di luar hal itu, meskipun Shigeru selalu mengerjakan manganya dengan sepenuh hati, manga-manga karyanya tersebut tidak pernah laku sehingga hal itu membuat pasangan suami istri tersebut harus hidup dalam kemiskinan. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya pada hubungan Fumie dan Shigeru? Apakah mereka berdua sanggup bertahan hidup dalam kemiskinan? Tonton aja deh 😀

gegege3Di balik kesuksesan seorang pria, pasti ada wanita hebat di belakangnya. Pepatah tersebut mungkin sangat tepat untuk menggambarkan inti cerita drama ini. Di balik segala kesulitan yang ditempuh Shigeru dalam usahanya untuk mencapai kesuksesan, ada Fumie yang selalu setia berada di sampingnya. Mungkin terdengar klise ya tapi hal tersebut digambarkan dengan sangat natural dan realistis. Shigeru dan Fumie bukanlah pasangan suami istri yang sempurna. Shigeru bukanlah tipe suami idaman para wanita. Ketika baru menikah, ia langsung kembali ke pekerjaannya dan membiarkan Fumie seorang diri. Dan ketika sedang bekerja, ia sama sekali tidak bisa diganggu oleh apapun. Ia juga miskin dan punya banyak tagihan. Pekerjaannya sebagai mangaka pun tidak menjanjikan apa-apa karena dunia rental manga yang memang sedang berada dalam masa sulit saat itu (manga yang dikerjakan Shigeru dipasarkan melalui rental, bukan majalah manga seperti yang terkenal sampai saat ini). Kadang penerbit membayar Shigeru hanya setengah dari yang seharusnya. Dan kadang ia tidak dibayar sama sekali. Kadang ia juga harus menggadaikan barang berharga miliknya agar bisa makan hari itu. Hmm, kebanyakan perempuan mungkin lebih memilih pergi dan kembali ke orang tuanya ya daripada bertahan hidup dengan Shigeru. Namun Fumie tetap bertahan. Pada awalnya ia memang merasa tidak nyaman dengan keadaannya. Ia merasa jauh dan tidak mengenal suaminya. Namun, sedikit demi sedikit ia mulai membiasakan dirinya dengan hal-hal ‘unik’ yang ada pada diri Shigeru. Sedikit demi sedikit pula, ia mulai jatuh cinta pada Shigeru yang meskipun terlihat cuek di luar, tapi sebenarnya punya hati yang baik dan punya cara sendiri dalam menunjukkan perhatiannya. Pada saat paling sulit sekalipun, Fumie tetap tidak pernah meninggalkan Shigeru. Secara tidak langsung, hal itu menjadi kekuatan bagi Shigeru. Jika tidak ada Fumie, mungkin saja Shigeru tidak akan menjadi sesukses seperti saat ini. Dan hal itulah yang saya suka dari asadora. Asadora selalu menunjukkan “girl power” dengan cara yang berbeda-beda. Di Carnation, girl power-nya ditunjukkan melalui perjuangan Itoko sebagai wanita yang bekerja sekaligus tulang punggung keluarga. Sementara itu di Gegege no Nyobo girl power-nya ditunjukkan melalui kesetiaan sang istri dalam mendampingi suaminya. Hmm, mungkin terdengar pasif ya jika dibandingkan dengan yang di Carnation, tapi bukankah kebahagian tiap perempuan itu berbeda-beda? 🙂

gegege4Selain hal di atas itu, yang menarik lagi dari drama berjumlah 156 episode ini (15 menit tiap episode) adalah kita bisa melihat perjalanan Mizuki Shigeru dalam meraih kesuksesan. Sejak kecil, Shigeru tertarik dengan hal-hal berbau gaib seperti yokai atau semacamnya. Hal itu berpengaruh pada manga-manga ciptaannya yang banyak bercerita tentang hal itu (selain menggambar tentang yokai, Shigeru juga menggambar manga-manga tentang perang berdasarkan pengalamannya ketika ikut perang, sebuah pengalaman yang membuatnya kehilangan sebelah lengannya). Bakat yang ia miliki pun membuat manga-manganya menjadi original dan berbeda dengan manga-manga yang lainnya. Namun, pada masa itu manga masih dianggap sebagai bacaan untuk anak-anak, dan manga-manganya dianggap terlalu seram untuk dibaca anak-anak. Oleh karena itu, manganya pun tidak pernah laku. Namun, tidak ada perjuangan yang sia-sia kan? Ya, proses Shigeru sebelum mencapai kesuksesan ini adalah salah satu yang paling menarik dari drama ini. Ia dan Fumie harus hidup dalam kemiskinan. Tapi miskin di sini bukan miskin kayak di sinetron Indonesia yang selalu terlihat lebay ya, tapi juga bukan berarti miskin di sini adalah hal yang sepele. Saya suka dengan cara Shigeru dan Fumie yang menganggap kemiskinan sebagai suatu tantangan. Ada saat-saat di mana mereka merasa depresi karena kemiskinan, tapi ada juga saat-saat di mana mereka merasa bahagia hanya dengan hal-hal kecil. Dan ketika manga karya Shigeru tiba-tiba mendapat perhatian penerbit besar yang membawanya pada kesuksesan, bukan berarti perjuangan berhenti sampai di situ. Berbagai hal yang menguji rumah tangga mereka berdua tetap ada bahkan ketika Shigeru sudah sukses, tapi yang terpenting adalah bagaimana cara mereka berdua dalam menghadapi ujian-ujian tersebut.

gegege5Seperti asadora pada umumnya, drama ini juga memiliki banyak karakter. Matsushita Nao berperan sangat baik sebagai Fumie, heroine drama ini. Karakternya mungkin tidak terasa istimewa jika dibandingkan dengan karakter sang suami yang kepribadiannya benar-benar unik, tapi ia punya chemistry yang sangat pas dengan Mukai Osamu sehingga peran yang dimainkannya tetap bisa mengimbangi peran sang suami. Dan saya selalu suka Mukai Osamu ketika ia memainkan peran-peran cuek dan easy-going seperti Shigeru ini (karena di peran-peran serius aktingnya biasanya gak terlalu bagus). Gak heran kenapa dia bisa jadi sepopuler itu setelah membintangi drama ini, karena karakternya memang tipe karakter yang gampang disukai (meskipun dengan segala keunikannya). Karakter-karakter lainnya, seperti anggota keluarga Iida (keluarga Fumie) dan keluarga Murai (keluarga Shigeru) pun hampir semuanya memiliki karakterisasi menarik (perhatian khusus untuk Osugi Ren yang berperan sebagai ayah Fumie serta Takeshita Keiko dan Kazama Morio yang berperan sebagai orang tua Shigeru). Para pemeran di luar anggota keluarga Fumie dan Shigeru pun menampilkan akting yang sama baiknya. Beberapa di antaranya adalah Matsuzaka Keiko (pemilik rental manga dekat rumah Shigeru yang menjadi teman pertama Fumie di lingkungan barunya), Sugiura Taiyou (teman sejak kecil Shigeru yang gila duit dan selalu punya banyak akal), Murakami Hiroaki (pemilik penerbitan kecil yang menyadari bakat Shigeru), Kajihara Zen (rekan Shigeru yang sesama mangaka), Emoto Tasuku (asisten terlama Shigeru), dan masih banyak lagi. Semua karakter yang ada di drama ini memiliki pengaruh yang berbeda-beda terhadap pasangan suami istri tersebut dan membuat drama ini menjadi lebih berwarna.

Overall, drama ini menurut saya recommended banget dan cocok ditonton penggemar asadora (atau orang yang baru mau memulai menonton asadora). Tidak semengesankan Carnation tapi dorama ini punya charm-nya sendiri yang menjadikannya memiliki tempat istimewa di hati saya. 4,5 bintang! 🙂

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »

saigoposterYoshino Chiaki (Koizumi Kyoko) adalah seorang perempuan berusia 45 tahun yang sampai saat ini masih sendiri dan sudah lama tidak merasakan hubungan percintaan. Perempuan yang bekerja sebagai produser drama tv ini pun memutuskan untuk pindah rumah ke sebuah kota kecil bernama Kamakura untuk menikmati kesendiriannya dengan tenang. Di rumah barunya itu, ia bertetangga dengan sebuah keluarga yang dikepalai oleh seorang duda satu anak berusia 50 tahun yang bernama Nagakura Wahei (Nakai Kiichi). Pertemuan pertama pria yang bekerja di City Hall itu dengan Chiaki sedikit meninggalkan kesan yang buruk, sehingga setiap kali mereka bertemu obrolan mereka selalu diisi dengan berbagai macam perdebatan. Lalu ada Noriko (Ijima Naoko), adik perempuan Wahei yang berusia sama dengan Chiaki. Noriko sendiri sudah berumah tangga dan tidak tinggal di Kamakura. Namun, permasalahannya dengan keluarganya membuat ia sering datang dan menginap di rumah Wahei. Sementara itu, dua adik terakhir Wahei adalah sepasang anak kembar bernama Shinpei (Sakaguchi Kenji) dan Mariko (Uchida Yuki). Shinpei adalah seorang pria baik hati yang menganggap dirinya sebagai ‘volunteer’ bagi para perempuan kesepian seperti Chiaki. Sementara saudara kembarnya, Mariko, adalah perempuan introvert yang senang melakukan eksperimen terhadap sebuah dating site. Apa yang akan terjadi selanjutnya pada kehidupan baru Chiaki di kota tersebut? Apakah kisah cinta akan kembali menghampirnya? Tonton aja deh.

saigokara1Ada satu dialog di dorama ini yang kira-kira berbunyi begini: “orang-orang berusia 20 tahunan tidak akan tertarik menonton kisah cinta orang-orang yang sudah berusia 40-50 tahunan”. Dan dengan berat hati saya harus menyatakan ketidaksetujuan terhadap pernyataan tersebut, karena buktinya saya sangat menikmati dorama yang berjudul Saigo Kara Nibanme no Koi ini. Yeah, Saigo Kara Nibanme no Koi (judul bahasa Inggris: Second to Last Love) adalah sebuah dorama bertema komedi romantis yang melibatkan orang-orang yang sudah berusia sekitar 40 sampai 50 tahunan. Sepintas memang terasa kurang menarik bagi para penonton berusia muda, tapi meskipun begitu saya sendiri sangat menikmati dorama ini dari awal sampai akhir. Ceritanya sih sebenarnya tidak ada yang istimewa dan sudah banyak diangkat ke banyak dorama (misal: Around 40), yaitu tentang perempuan single di usia yang sudah tidak muda lagi yang tiba-tiba mengalami kehidupan percintaan lagi. Kehidupan percintaan di sini pun sebenarnya adalah kehidupan percintaan yang dapat dibilang lambat dan mungkin terasa tipikal: perempuan dan pria bertemu dan berdebat setiap saat namun sebenarnya saling menyimpan perasaan cinta yang tidak disadari. Sungguh klise dan terasa kekanakan karena tokoh utamanya saigokara2berusia lebih dari kepala empat, bukan? Namun, ceritanya yang klise dan tidak dapat dibilang original itu berhasil ditutupi dengan skenarionya yang benar-benar lucu dan cerdas. Pertengkaran dan perdebatan antara Chiaki dan Wahei bukanlah perdebatan yang bikin sebel, tapi malah menghibur karena perdebatan tersebut diisi dengan dialog yang lucu, menggelitik, dan turut membuat penonton turut berpikir (dan sedikit mengingatkan saya pada perdebatan-perdebatan antara Abe Hiroshi dan Natsukawa Yui di Kekkon Dekinai Otoko). Selain dialognya dengan Wahei, dialog Chiaki dengan tokoh-tokoh lainnya, seperti dua sahabatnya yang sesame single, para pekerja di kantornya, dan adik-adik Wahei juga tidak kalah lucu dan turut menghidupkan dorama ini. Oleh karena itu, bukan sebuah kejutan lagi ketika Okada Yoshikazu (penulis skenario drama ini) mendapatkan penghargaan Best Screenwriter berkat skenario dorama ini.

saigokara4Permasalahan-permasalahan yang meliputi kehidupan Chiaki dan Nagakura Family pun menurut saya lucu dan menghibur. Chiaki sendirinya awalnya tertarik pada Shinpei, pria dengan julukan “angel” yang selalu berusaha membuat orang lain bahagia dan menerima permintaan apapun dari Chiaki selama ia tidak diharuskan berkomitmen. Shinpei sendiri menyimpan sebuah rahasia yang menjadi alasannya untuk tidak terikat dengan seorang perempuan. Hubungan Chiaki dengan Shinpei merupakan salah satu langkah awal dari Chiaki untuk mencari cinta yang sebenarnya. Selain Wahei dan Shinpei, ia juga dihadapkan pada permasalahan-permasalahan lain yang melibatkan anggota keluarga Nagakura lainnya, seperti Noriko yang sering merasa sebal pada Chiaki karena kehidupannya yang lebih baik darinya (dan suaminya yang sempat ‘tertarik’ pada Chiaki), dan Mariko yang tiba-tiba merasakan suatu ‘perasaan khusus’ terhadap Chiaki. Permasalahan dalam dorama ini juga tidak hanya seputar Chiaki saja. Wahei pun turut tertimpa sebuah masalah (atau keberuntungan?) ketika ia ditawari omiai (semacam perjodohan) dengan dua orang perempuan yang merupakan ibu dan anak. Bagian omiai ini menurut saya merupakan salah satu bagian paling lucu dan saya suka ekspresi Nakai Kiichi dalam usahanya menolak  ibu dan anak tersebut 😀

saigokara3Selain didukung skenario yang bagus, dorama ini juga didukung dengan jajaran castnya yang sempurna. Koizumi Kyoko (one of my favorite obasan joyuu) sudah tidak perlu diragukan lagi lah ya aktingnya, begitu juga dengan Nakai Kiichi yang berperan sebagai ‘lawan debat’-nya Chiaki. Ijima Naoko dan Sakaguchi Kenji juga turut bermain bagus di sini, tapi yang menjadi kejutan bagi saya adalah Uchida Yuki yang berperan sebagai Mariko, si bungsu berpenampilan aneh dan berkelakuan awkward. Karakter yang diperankannya merupakan karakter yang paling saya suka di dorama ini. Dan perkembangan yang terjadi pada karakter ini pun menurut saya adalah perkembangan yang paling tidak terduga.

Overall, saya sangat menyukai dorama ini. Dialog, interaksi, dan suasana-suasana yang ada di dorama ini (btw saya juga jadi pengen tinggal di Kamakura :D) sangat mendukung cerita yang sebenarnya sudah basi tersebut menjadi sebuah tontonan yang sangat menghibur. Well, ada juga sih hal yang menurut saya menjadi kelemahan dorama ini, seperti bagaimana dorama ini sepertinya ingin sekali menunjukkan bahwa pasangan yang benar-benar serasi adalah pasangan yang selalu berdebat setiap kali bertemu (dan ini bukan hanya ditunjukkan melalui karakter Wahei+Chiaki saja). Tapi secara keseluruhan, dorama ini menurut saya tetep recommended banget, terutama untuk pecinta romantic comedy dengan skenario yang berkualitas. Jadi, 4 bintang deh untuk dorama ini.

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Cowok Kaya dan Cewek Miskin. Si cowok kaya bernama Hyuga Toru (Oguri Shun) yang karakternya mungkin dapat diibaratkan sebagai Mark Zuckerberg-nya Jepang: drop out dari sekolah dan kemudian membangun perusahaan IT besar bernama Next Innovation. Si cewek miskin bernama Sawaki Chihiro (Ishihara Satomi), seorang mahasiswa tingkat akhir Universitas Tokyo (yes, that Toudai) yang selalu gagal dalam mencari pekerjaan. Hyuga Toru adalah seorang pria yang punya penyakit “tidak bisa mengingat wajah dan nama orang”, sedangkan Sawaki Chihiro adalah seorang perempuan yang memiliki kemampuan mengingat yang luar biasa. Kedua orang ini pertama bertemu ketika Chihiro mencoba melamar pekerjaan ke Next Innovation. Pada saat itu, Chihiro sudah gagal di tahap pertama. Namun, pada saat itu ia meninggalkan kesan yang cukup dalam terhadap Hyuga karena Chihiro memiliki nama yang tampaknya punya kenangan khusus dengan Hyuga. Selain itu, kemampuan mengingat Chihiro rupanya menarik perhatian Hyuga sehingga dia kemudian merekrut perempuan tersebut sebagai pegawai sementara di Next Innovation untuk membantunya pada proyek bernama “Personal File” yang menjadi ambisinya. Kedua orang tersebut pun mulai menjadi dekat. Namun, Chihiro rupanya punya rahasia yang berhubungan dengan identitasnya. Apakah rahasia tersebut suatu saat akan ketahuan?

Konflik dari dorama ini tidak berhenti di situ. Selain Hyuga dan Chihiro, ada juga dua karakter lainnya yaitu Asahina Kousuke (Iura Arata) dan adiknya yang bernama Asahina Yoko (Aibu Saki). Asahina adalah orang penting kedua di Next Innovation yang tampaknya memiliki suatu rencana yang akan mempengaruhi masa depan Hyuga selanjutnya. Sedangkan Yoko adalah seorang koki perempuan yang tampaknya pernah punya kenangan bersama Hyuga dan secara terang-terangan memperlihatkan rasa sukanya pada pria tersebut. Lalu, apa yang akan selanjutnya terjadi pada mereka berempat? Tonton aja deh.

Rich Man Poor Woman. Dari judul tampaknya norak ya dan keliatan kayak judul yang biasa dipake di ftv-ftv buatan sctv. Tapi jangan dibuat ilfil dulu sama judulnya yang menipu tersebut. Dorama ini bukan dorama percintaan antara cowok kaya dan cewek miskin yang tipikal. Maksud dari “rich” dan “poor” di sini sendiri menurut saya bukan mengacu pada kekayaan berbentuk uang (mengingat merk handphone-nya Chihiro aja Galaxy S III). Tapi lebih seperti tokoh Hyuga ini “rich” karena ia bisa membangun perusahaan besar meskipun punya latar belakang “drop out dari sekolah”. Sedangkan Chihiro “poor” karena ia selalu mengalami kegagalan dalam mencari pekerjaan meskipun ia kuliah di universitas top di Jepang. Jadi “rich” dan “poor” ini kayaknya lebih mengacu pada cara pemikiran kedua tokohnya.

Dorama ini sendiri adalah satu-satunya dorama musim panas tahun ini yang berhasil saya tamatkan (entahlah, musim ini doramanya pada kurang menarik perasaan). Dan saya sangat menikmati menonton dorama ini. Dorama ini emang punya plot dan jalan cerita yang enak banget diikuti. Belum lagi episode pertamanya menurut saya menarik banget karena punya ending yang mengundang penasaran untuk mengikuti episode-episode selanjutnya. Meskipun misteri seputar identitas Chihiro ternyata tidak punya peran yang begitu penting, tapi hal tersebut menurut saya sudah cukup bagus sebagai hal pertama yang membangun hubungan antara Hyuga dan Chihiro. Yang agak mengecewakan menurut saya adalah konflik utama dorama ini yang berhubungan dengan hal yang direncanakan Asahina. Konflik tersebut mungkin akan mengingatkanmu pada konflik yang terdapat pada dorama Tsuki no Koibito-nya Kimura Takuya. Well, yang mengecewakan saya bukan karena kemiripan konfliknya sih, karena RMPW menurut saya masih lebih baik dari Tsuki no Koibito (tokoh Hyuga dan Asahina gak membosankan kayak karakter yang diperankan Kimura Takuya dan Matsuda Shota. Apalagi Hyuga masih bisa menunjukkan reaksi yang sangat manusiawi terhadap konflik yang ada, gak kayak Kimutaku yang dapet konflik apapun tetep stay cool dan jaim). Yang bikin saya agak kecewa sih penyelesaian dari konfliknya yang menurut saya terkesan klise dan digampangin banget. *SPOILER* Dan pas Asahina nangis dan minta maaf sambil sujud-sujud ke Hyuga itu, kok saya ngerasa itu kayak pembunuhan karakter ya. Rasanya malu sendiri pas lihat Asahina melakukan hal itu*SPOILER ENDS*.

Di luar hal-hal yang agak mengecewakan tadi, dorama ini sendiri menurut saya tetap enjoyable dan layak tonton kok. Hal itu tentu saja karena faktor romance-nya yang sangat-sangat saya suka. Menurut saya dorama romance yang berhasil itu adalah dorama yang juga bisa bikin penontonnya ikut merasa doki-doki (deg-degan) dan berharap kedua tokoh utamanya akan bersatu pada akhirnya. Dan dorama ini berhasil melakukannya. Oguri Shun dan Ishihara Satomi punya chemistry yang sangat baik di sini dan bikin saya ikut doki-doki tiap liat mereka lagi bareng (dan juga bikin saya sebel sama karakter Yoko yang berperan sebagai saingan cinta Chihiro, hihi). Unsur romance-nya juga menurut saya ditempatkan dengan sangat pas. Tidak begitu mendominasi (karena dorama ini lebih banyak fokus ke dunia bisnisnya daripada percintaannya) tapi tetep berhasil bikin doki-doki. Dari akting, semua aktor dan aktris di dorama ini berhasil memerankan perannya masing-masing dengan baik. Oguri Shun cocok sekali dengan peran Hyuga, direktur muda kaya yang kadang suka seenaknya sendiri. Ishihara Satomi juga sangat pas berperan sebagai Chihiro. Karakter ini mungkin akan terasa annoying bagi sebagian orang, tapi saya sendiri sangat menyukai karakter ini. Saya juga sangat menyukai aktingnya Arata meskipun karakternya menjadi terkesan tipikal di akhir-akhir. Dan meskipun saya sebel sama karakternya, Aibu Saki di sini memerankan karakter Yoko dengan cukup baik meskipun tidak istimewa.

Overall, meskipun memiliki beberapa kekurangan, menurut saya Rich Man Poor Woman tetaplah dorama yang layak banget buat ditonton kok, terutama buat penggemar dorama bergenre romance. 3,5 bintang deh 😀

Rating : 1 2 3 3,5 4 5

Read Full Post »

1. Fine, Totally Fine (Japan, 2008)

Seperti yang pernah saya bilang di review Flipped, hal paling menyenangkan ketika menonton film adalah ketika kita tidak menyimpan ekspektasi apa-apa terhadap film tersebut dan ternyata film tersebut berhasil memuaskan kita. Perasaan itu kembali saya rasakan ketika menonton film Fine, Totally Fine yang merupakan debut penyutradaraan dari Fujita Yosuke. Menonton film ini tanpa mengetahui informasi apapun (kecuali pemainnya) dan film ini sukses mengejutkan saya dengan keunikan dan kesederhanaan yang dimilikinya. Film ini sendiri bercerita tentang kisah cinta segitiga yang sangat unik (dan sebenarnya tidak sekadar tentang cinta segitiga). Teruo (Arakawa YosiYosi), si penggemar segala hal tentang horror yang terobsesi ingin membuat rumah hantu yang hebat dan teman sejak kecilnya Hisanobu (Okada Yoshinori), seorang manager rumah sakit yang baik hati dan tidak pernah tega menolak permintaan orang lain sama-sama jatuh cinta pada Akari (Kimura Yoshino), seorang perempuan yang cantik tapi pemalu dan sangat ceroboh. Premis yang super simpel, tapi dieksekusi menjadi sangat unik dan manis. Letak keunikannya tentu saja ada pada unsur komedinya yang benar-benar lucu, meskipun lucu di sini bukanlah tipe lucu untuk semua orang terutama yang tidak terbiasa dengan film komedi khas Jepang. Dan yang saya kagumi dari film ini (dan kebanyakan film Jepang yang lain) adalah segala keunikan dan keanehan tersebut ditempatkan pada latar kehidupan sehari-hari, sehingga meskipun terlihat aneh film ini tetap bisa terlihat sederhana dan membumi. Dan humor-humor yang ada di film ini dihadirkan pada suasana yang tenang dan tidak lebay. Secara keseluruhan, jika kamu menyukai film-film komedi ala Miki Satoshi (Adrift in Tokyo) atau Ishii Katsuhito (The Taste of Tea), mungkin kamu akan menyukai film ini juga karena gaya komedinya cenderung mirip. Yang jelas saya sangat menantikan film-film yang akan disutradarai Fujita Yosuke selanjutnya. Recommended. 4/5

2. Love Me If You Dare (France, 2003)

Film komedi romantis dari Prancis, dibintangi Marion Cotillard dan Guillaume Canet. Bercerita tentang seorang perempuan dan laki-laki yang bersahabat sejak kecil dan sebenarnya saling menyimpan perasaan cinta yang belum mereka disadari. Julien dan Sophie (kedua sahabat tersebut) memiliki sebuah permainan yang mereka mainkan sejak kecil, di mana pada permainan tersebut mereka saling memberikan tantangan yang berbeda-beda kepada satu sama lain. Dan ketika dewasa, permainan tersebut terus berlanjut. Sampai di suatu hari Sophie menantang Julien untuk menciumnya, semuanya berubah. Apakah hal tersebut semata-mata hanya permainan bagi Julien? Bagaimana sebenarnya perasaannya yang sebenarnya terhadap Sophie? Somehow, ini adalah film yang ketika selesai menontonnya saya sulit menentukan apakah saya suka atau tidak terhadap filmnya. Kisah romance antara Julien dan Sophie itu saya akui manis dan unik. Tapi di sisi lain saya merasa permainan yang mereka lakukan itu sudah sampai taraf keterlaluan. Saya juga merasa kasihan terhadap orang-orang di sekeliling mereka, yang terkena imbas dari permainan yang mereka lakukan (mungkin film ini menganut peribahasa “ketika dua orang jatuh cinta, dunia serasa milik berdua, yang lain cuma ngontrak” kali ya). Dan jika saya menemukan dua orang yang seperti Julien dan Sophie di dunia nyata, saya pasti bakalan benci banget mereka berdua, hehe. Tapi di luar semua itu, film ini lumayan menarik dan menghibur meskipun kisahnya kurang believable untuk terjadi di dunia nyata. Cocok ditonton penyuka film romance yang unik dan tidak biasa. 3/5

3. The Woodsman and the Rain (Japan, 2011)

Percayakah kamu pada keajaiban dari proses pembuatan film? Bahkan untuk pembuatan b-movie yang sering dianggap remeh oleh sebagian orang? Meskipun belum pernah melihat proses pembuatan film secara langsung, setelah menonton film ini saya yakin bahwa proses pembuatan film adalah suatu hal yang ajaib dan bisa memengaruhi banyak orang, termasuk bukan penyuka film sekalipun. Koichi (Oguri Shun), seorang sutradara muda yang sangat pemalu, sedang membuat film zombie di sebuah desa. Koichi dan kru-nya tidak sengaja bertemu dengan Katsuhiko (Yakusho Koji), seorang penebang kayu yang sangat jauh dari dunia film dan bahkan tidak pernah mendengar kata “zombie”. Karena tidak begitu mengenali lokasi yang mereka gunakan, Koichi dan kru-nya pun meminta Katsuhiko untuk membantu mereka mencari beberapa lokasi yang bagus di desa tersebut. Tidak hanya itu, mereka pun meminta Katsuhiko untuk berperan sebagai figuran (sebagai salah satu zombie). Katsuhiko yang awalnya tidak begitu tertarik lama-lama jadi antusias dan menjadi sangat bersemangat membantu mereka, bahkan ia pun mengajak warga desa yang lain untuk ikut membantu para kru film tersebut. Hal tersebut juga rupanya memengaruhi diri Koichi dan kepercayaan dirinya sebagai sutradara. Secara keseluruhan, saya sangat menyukai film ini. Film ini begitu heartwarming, dan kecintaan saya pada film menjadi semakin bertambah setelah menonton film ini.  Tidak hanya itu, akting dan chemistry antara Yakusho Koji dan Oguri Shun pun sangat baik dan menambah bagusnya film ini. Film ini juga banyak mengandung momen-momen lucu, terutama di adegan-adegan ketika Katsuhiko membantu para kru film. Well, film ini cocok ditonton bagi pecinta film pada umumnya, terutama yang percaya pada keajaiban dari proses pembuatan film. 4/5

Read Full Post »

Well, di postingan kali ini saya akan memberikan review singkat (mudah-mudahan) dari dua film yang saya tonton belakangan ini. Kebetulan dua film ini memiliki beberapa kemiripan. Dua-duanya bergenre romance dengan dua orang tokoh utama yang hampir sepanjang film tidak pernah saling bertemu secara langsung. Tahun rilisnya pun sama. Film-film apakah itu? Mari kita lihat sinopsisnya terlebih dahulu 🙂

1. Oto-na-ri (Japan, 2009)

Dua tokoh utama film ini sebenarnya memiliki jarak yang sangat dekat, tapi mereka sama sekali tidak pernah saling bertatap muka. Apa hubungan mereka? Ya, tetangga. Satoshi (Okada Junichi) dan Nanao (Aso Kumiko) tinggal di apartemen yang bersebelahan, tapi mereka tidak pernah yang namanya saling bertemu atau berpapasan (apalagi jam kerja mereka pun berbeda). Meskipun begitu, mereka tetap menyadari keberadaan masing-masing. Ya, dinding tipis apartemen mereka membuat mereka bisa saling mendengarkan bunyi-bunyian yang mereka keluarkan. Bunyi gemerincing kunci Satoshi, nyanyian yang selalu disenandungkan Nanao, bunyi mesin pembuat kopi Satoshi, ucapan bahasa Prancis yang dipelajari Nanao melalui CD, dan bunyi-bunyian lainnya. Lalu, apakah suatu saat mereka akan saling bertemu?

2. Castaway on the Moon (South Korea, 2009)

Seorang pria (diperankan Jung Jae-Young) mencoba bunuh diri dengan menjatuhkan diri ke Han River. Hasilnya, ia bukannya mati dan malah terdampar di sebuah pulau kecil tak berpenghuni yang letaknya masih di dalam kota. Awalnya dia ingin keluar dari pulau tersebut, tapi sedikit demi sedikit ia mulai nyaman dengan kesendiriannya di pulau itu. Lalu ada seorang perempuan (diperankan Jung Ryeo-won) yang tidak pernah keluar dari kamarnya selama bertahun-tahun. Hidupnya dihabiskan di internet dengan mencuri identitas orang lain. Dua kali dalam setahun, ia akan membuka jendelanya dan melihat-lihat dunia luar melalui teropong berkameranya. Dan ketika itu, ia menangkap pemandangan pria yang terdampar tersebut melalui teropongnya. Si perempuan pun berusaha untuk berkomunikasi dengan lelaki di pulau tersebut dengan caranya sendiri. Lalu, apakah suatu saat mereka akan bertemu?

Seperti yang saya bilang di atas, kedua film ini memiliki beberapa kemiripan meskipun sebenarnya kedua film ini punya cerita dan gaya yang sangat berbeda. Selanjutnya, reviewnya dipoin-poin aja ya 😀

  • Keduanya adalah film romance yang tidak hanya bicara tentang cinta.

Untuk Castaway on the Moon, malah pada awalnya saya tidak tahu bahwa film itu adalah film romance (cuma tahu kalo itu ceritanya tentang orang yang terdampar di pulau). Ya, meskipun bergenre romance, kedua film ini bukan tipe film yang ngomongin cinta melulu. Kedua tokoh utama dari masing-masing film ini memiliki cerita dan masalah masing-masing. Untuk Oto-na-ri, masalah yang dimiliki kedua tokoh utamanya adalah tentang karir dan kegamangan akan masa depan. Satoshi adalah seorang fotografer yang bisa menjadi fotografer sukses berkat bantuan sahabatnya, Shingo, yang seorang model. Tapi memfoto model bukanlah hal yang disukainya. Ia lebih suka memfoto pemandangan daripada manusia. Namun sang sahabat sudah sangat bergantung pada dirinya dan malah menghilang ketika Satoshi menyatakan keinginan sebenarnya. Belum lagi dengan kemunculan pacar Shingo yang datang pada Satoshi untuk mencari Shingo. Sementara itu Nanao adalah seorang perempuan yang mengutamakan karirnya di atas segalanya. Ia bekerja di toko bunga dan sebentar lagi akan pindah ke Prancis demi karirnya. Karena sangat mengutamakan karirnya, ia pun sering tidak peduli pada kehidupan pribadinya. Sampai suatu hari datang seorang laki-laki pegawai mini market langganannya yang datang ke tokonya dan mengaku sebagai pengagumnya.

Masalah yang dialami kedua tetangga ini kurang lebih sama. Mereka sukses di karir masing-masing. Tapi mereka bingung. Mereka sama-sama tidak tahu apakah pilihan yang akan mereka ambil selanjutnya adalah pilihan yang terbaik untuk mereka. Mereka juga sama-sama merasa sendirian. Mereka hanya butuh orang lain untuk ada di sisi mereka, untuk mendengarkan, atau untuk bertanya “apakah kamu baik-baik saja?” Jika diibaratkan, hubungan mereka berdua sama seperti masalah mereka masing-masing. Mereka dekat tapi tidak pernah bertemu. Tapi bukan berarti mereka tidak akan pernah bisa bertemu. Semuanya tergantung dari pilihan. Jika mereka memilih untuk bertemu, mereka akan bertemu. Hal itu berlaku juga pada masalah yang dialami mereka berdua. Mereka berdua sama-sama punya pilihan. Yang paling penting, apakah mereka mau memilih atau tidak?

Untuk Castaway on the Moon, masalah yang dialami masih mirip dengan masalah yang ada di film Oto-na-ri, yaitu sama-sama masalah yang sangat mungkin dialami oleh masyarakat di zaman modern ini. Masalah di sini adalah kedua tokohnya merasa sangat nyaman dengan kesendirian. Si laki-laki merasa frustrasi, mencoba bunuh diri tapi malah terdampar di sebuah pulau yang menjadi surga baginya. Hidup di pulau dengan modal barang-barang bekas tentunya berbeda dengan hidup di kota. Ia seperti kembali ke zaman primitif. Namun, kadang kembali jadi primitif membuat seorang manusia merasa menjadi lebih nyaman daripada tinggal di kota yang penuh kemudahan. Ia mengenal kembali kata “perjuangan”, “keterbatasan”, dan “harapan”. Dan hal itu membuatnya lebih bahagia dan kembali memiliki harapan hidup. Sementara itu si perempuan terjebak dengan kemudahan zaman modern. Tanpa perlu keluar dari kamarnya, ia bisa menjadi siapa saja. Ia bisa berkomunikasi dengan siapa saja tanpa perlu capek-capek ke luar rumah. Namun, dengan melihat si laki-laki yang tengah berjuang di kejauhan, ia pun ingin ikut berjuang juga. Melalui si laki-laki, ia kembali mengenal kata “harapan” dan berusaha keluar dari zona nyamannya.

Yak, masih sama dengan dengan Oto-na-ri, kedua tokoh di film ini juga masing-masing punya pilihan untuk keluar dari masalahnya. Bedanya, jika dua tokoh di film Oto-na-ri ini punya pilihan untuk keluar dari kondisi yang tidak nyaman, kedua tokoh di Castaway on the Moon punya pilihan untuk keluar dari zona nyaman. Dan masalahnya mereka berdua pada awalnya tidak merasa butuh untuk mengambil pilihan itu. Mereka sama-sama menyukai kesendirian. Namun, sedikit demi sedikit, melalui usaha si perempuan untuk berkomunikasi dengannya, mereka berdua menyadari bahwa mereka tetap membutuhkan orang lain. Senyaman apapun dengan kesendirian, mereka akan lebih bahagia lagi ketika ada seseorang yang mau membalas pesan mereka.

  • Kedua tokoh utama dalam kedua film ini punya cara berkomunikasi yang sangat unik.

Kedua tokoh utama dari kedua film ini hampir sepanjang film tidak pernah saling bertatap muka secara langsung. Pasangan di Oto-na-ri dipisahkan oleh sebuah dinding tipis. Pasangan di Castaway on the Moon dipisahkan oleh sebuah sungai. Namun, mereka berdua punya cara sendiri untuk berkomunikasi. Di Oto-na-ri? Melalui bunyi-bunyian. Makanya pas nonton film ini kita harus pasang telinga baik-baik karena bunyi-bunyian di film ini menjadi kunci untuk memahami hubungan mereka. Ada satu adegan yang menjadi favorit saya (mungkin spoiler). Suatu kejadian membuat ketegaran pada diri Nanao akhirnya runtuh juga. Hal itu disadari oleh Satoshi, ketika ia menangkap ada getaran pada suara Nanao ketika ia sedang belajar bahasa Prancis melalui CD. Satoshi pun menyenandungkan lagu yang sering disenandungkan Nanao untuk menghibur tetangganya tersebut. Dan mereka pun bernyanyi bersama (sampai akhirnya terhenti oleh suara telepon yang mengganggu. Cih…). Menurut saya itu adegan yang sangat romantis dan manis.

Sementara itu, cara berkomunikasi di Castaway on the Moon adalah melalui pesan di botol dan tulisan di pasir. Yang ini agak-agak susah komunikasinya, karena pesan di botol tersebut bisa susah ditemukannya (pesan yang pertama sampai setelah berbulan-bulan). Tapi ini yang bikin hubungan mereka jadi lucu. Apalagi pesan-pesan tersebut memakai bahasa Inggris dan isinya singkat sekali, tapi tetap membuat mereka merasa bahagia ketika mendapat balasan.

  •  Endingnya….. 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Kedua film ini punya ending yang kurang lebih sama dan gampang ditebak, tapi tetap bikin saya terkesan karena ending keduanya sama-sama manis (terutama Oto-na-ri). Yang jelas ending dari kedua film ini akan meninggalkan senyuman di wajahmu 🙂

  • Kesimpulan:

Oto-na-ri: Secara keseluruhan, saya sangat menyukai film ini. Seperti kebanyakan film Jepang, film ini berjalan dengan tenang dan lambat, dan mungkin akan membuat ngantuk sebagian orang. Tapi saya merasa baik-baik saja dengan temponya yang lambat (udah sering nonton yang lebih lambat dari ini). Yang jelas film ini adalah tipe film yang masih bisa membuat saya senyam-senyum sendiri meskipun nontonnya udah berminggu-minggu yang lalu. Cocok ditonton penyuka film romance yang simpel tapi unik dan manis. 4/5

Castaway on the Moon: Saya pun sangat menyukai film ini. Jika dibandingkan dengan Oto-na-ri yang lebih sederhana, film ini memiliki ide yang lebih tidak biasa dan sulit dibayangkan untuk terjadi di dunia nyata. Dan jika Oto-na-ri lebih condong ke drama, film ini lebih condong ke komedi. Sangat cocok untuk ditonton pecinta film komedi romantis yang sedikit unik. 4/5

Read Full Post »

“Manhattan” dalam dorama ini adalah nama sebuah coffee shop yang terletak tepat di seberang sebuah stasiun televisi. Coffee shop ini dimiliki oleh seseorang yang biasa dipanggil Tenchou/manager (diperankan Matsuoka Masahiro). Tenchou (yang sebenarnya lebih ingin dipanggil dengan “master”) adalah seorang barista yang sangat mencintai kopi buatannya, dan yang ia inginkan hanyalah pelanggan café-nya bisa menikmati kopi buatannya. Namun, sejak stasiun televisi di seberang Café Manhattan didirikan, mulai bermunculan pelanggan-pelanggan ‘aneh’ yang datang ke coffee shop-nya bukan dengan tujuan untuk menikmati kopinya, sehingga hal tersebut selalu membuat Tenchou kesal. Tenchou sendiri adalah pria pendiam yang hampir tidak pernah bicara (dan lebih sering berbicara menggunakan suara hatinya). Ia sendiri tidak sendirian dalam mengelola cafenya. Ada Shinobu (Tsukamoto Takashi), satu-satunya pelayan di Café Manhattan yang keberadaannya sangat menolong pekerjaan Tenchou di café tersebut.

Yang menjadi permasalahan dalam dorama ini adalah ketika Tenchou mulai punya hobi “menguping” pembicaraan para pelanggannya. Melalui hobi mengupingnya tersebut, ia menyadari bahwa beberapa pelanggan dalam café tersebut saling terlibat dalam love affair yang sangat kompleks. Btw, pelanggan-pelanggan tersebut adalah: (1) supir taksi perempuan bernama Akabane Nobuko (Koizumi Kyoko); (2) seorang penari bernama Bessho Hideki (Oikawa Mitsuhiro); (3) penulis skenario dorama bernama Chikura Maki (Morishita Aiko); (4) seiyuu/voice actor bernama Doigaki Satoshi (Matsuo Suzuki); dan (5) seorang pembawa berita ramalan cuca bernama Emoto “Emo-yan” Shiori (Sakai Wakana). Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya pada hubungan cinta segi banyak tersebut? Apa yang akan dilakukan Tenchou terhadap permasalahan cinta yang dialami para pelanggannya tersebut? Dan, apakah dia akan turut serta ke dalam ‘siklus cinta’ para pelanggannya tersebut? Tonton aja deh 😀

Setelah menonton Kisarazu Cat’s Eye dan Tiger & Dragon (reviewnya kapan-kapan ya), saya jadi penasaran sama dorama yang ditulis Kudo Kankuro yang lainnya. Pilihan saya lalu jatuh pada dorama ini karena saya ingin tahu bagaimana hasilnya jika Kudo Kankuro menulis cerita romance. Dan ya, di tangannya, cerita romance biasa pun bisa menjadi suatu tontonan yang unik dan tidak biasa. Dari adegan pertama dalam dorama ini, yaitu adegan Akabane mengendarai taksi-nya dengan penumpang yang berbeda-beda (yang menampilkan beberapa cameo, salah satunya cameo karakter Master *Sato Ryuta* dari dorama Kisarazu Cat’s Eye), saya sudah yakin bahwa saya akan sangat menyukai dorama ini. Dan dugaan tersebut ternyata benar. Saya sukaaaa banget sama dorama ini. Ini adalah salah satu dorama yang berhasil bikin saya ngakak terus dari awal sampai akhir. Tidak diragukan lagi, Kudo Kankuro memang pantas disebut sebagai salah satu penulis komedi terbaik di Jepang, karena ia selalu berhasil menyajikan humor-humor yang benar-benar lucu dan berkesan melalui skenario yang ditulisnya.

Unsur komedi memang menjadi kekuatan utama dorama ini. Kelucuan-kelucuan yang ada di dorama ini selain dihasilkan dari skenarionya yang memang bagus juga dihasilkan dari karakteristik serta interaksi antar tokoh-tokohnya. Yang paling lucu tentu saja karakter Tenchou yang diperankan dengan sangat baik oleh Matsuoka Masahiro (drummer band Tokio). Hal-hal yang ia ucapkan di dalam hatinya, ekspresi dan gerak-gerik yang ia keluarkan, dan sifatnya yang sangat kaku adalah salah satu yang membuat dorama ini menjadi sangat lucu. Dan saya suka sekali dengan bagaimana ia kemudian terlibat dan secara tidak langsung membantu permasalahan cinta yang dialami para pelanggannya (meskipun nanti ujung-ujungnya dia juga yang dibantu). Namun, yang paling bersinar di dorama ini tentunya adalah Koizumi Kyoko yang memerankan Akabane si supir taksi. Sebelumnya saya terbiasa melihat Koizumi Kyoko berperan sebagai karakter-karakter yang serius seperti di Shokuzai dan Hanging Garden, makanya di dorama ini saya agak takjub karena  aktris satu ini ternyata cocok juga bermain dalam film/dorama komedi. Aktingnya adalah yang terbaik dari semuanya. Dia berhasil menghidupkan karakter Akabane yang punya kepribadian yang sangat unik. Pada suatu saat ia bisa terlihat sebagai perempuan yang galak dan menyeramkan, tapi di saat yang lain ia bisa tiba-tiba berubah menjadi perempuan centil yang bertingkah laku seperti ABG (terutama ketika sedang jatuh cinta). Tidak heran Koizumi Kyoko berhasil mendapatkan penghargaan Best Supporting Actress melalui perannya dalam dorama ini. Selain mereka berdua, karakter-karakter lainnya juga turut memiliki karakteristik yang menarik, meskipun mungkin agak kurang menarik bagi kamu yang berharap akan menemukan pemain yang cakep dan cantik (dan muda) seperti yang biasa ada di dorama bergenre romance (tapi masih ada Tsukamoto Takashi kok yang bisa jadi eye candy buat cewek-cewek). Para pemain di sini bukan tipe pemain yang luar biasa cakep dan cantik, tapi hal itu malah bikin karakter-karakternya lebih believable meskipun ceritanya sulit dibayangkan untuk terjadi di dunia nyata.

Dari segi cerita, saya pun sangat menyukai ceritanya, meskipun mungkin terkesan agak ribet karena menghadirkan cerita cinta segi banyak. Dan menurut saya ini adalah salah satu dorama terbaik yang menggambarkan cerita cinta segi banyak (saingannya mungkin cuma Love Shuffle yang sama-sama komedi). Di sini kita bisa melihat bahwa pada awalnya si A mungkin menyukai si B dan si B menyukai si C dan si C menyukai si D dan si D menyukai si E, tapi hal tersebut bukan berarti berlaku mutlak dan bisa saja suatu saat berubah. Untuk hal ini, saya ucapkan salut lagi pada Kudo Kankuro karena berhasil menyajikan perubahan-perubahan pada siklus cinta tersebut dengan natural dan gak maksa. Selain itu, dorama berjumlah 11 episode ini juga berhasil memberikan berbagai macam kejutan yang tidak disangka-sangka di setiap episodenya, dan membuat penonton menjadi selalu penasaran ingin tahu bagaimana kelanjutan ceritanya. Kejutan-kejutannya tersebut pula lah yang membuat dorama ini menjadi semakin menyenangkan untuk ditonton.

Overall, menurut saya Manhattan Love Story adalah salah satu dorama terlucu yang pernah saya tonton (kelucuannya hampir mendekati Kisarazu Cat’s Eye, yang merupakan dorama terlucu nomor satu saya). Tambahan, dorama ini juga berhasil memborong 8 penghargaan pada 39th Television Drama Academy Award, yaitu pada kategori  Best Drama, Best Supporting Actress (Koizumi Kyoko), Best Theme Song, Best Scriptwriter (Kudo Kankuro), Best Directors, Best Musical Arrangement, Best Casting, dan Best Opening. Ja, 4,5 bintang deh. Highly recommended.

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »

Older Posts »