Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘romance’

Jika ada orang yang sangat menyukai makan siang lebih dari apapun, orang itu pastilah Mugita Natsumi (Takeuchi Yuko). Natsumi sangaaat menyukai makan siang. Baginya, makan siang adalah hal utama yang membuat dirinya bersemangat. Pada suatu hari, di saat ia sedang menyantap makan siangnya di suatu restoran, seorang pria tak dikenal menariknya keluar dan membawanya ke suatu tempat. Pria yang ternyata pelanggan di coffee shop tempat Natsumi bekerja itu mengatakan bahwa ayahnya saat ini sedang sakit. Dan ia yang sudah dua tahun tidak berhubungan dengan ayah serta keluarganya itu ingin pulang dan membangun kembali hubungannya dengan keluarganya. Oleh karena itu, pria itu meminta Natsumi untuk pura-pura menjadi tunangannya, karena ia butuh alasan agar bisa pulang. Awalnya, Natsumi menolak mentah-mentah permintaan pria aneh tersebut. Namun, dengan iming-iming berupa “the best Omurice in all of Japan” (makanan kesukaan Natsumi), Natsumi pun menuruti permintaan pria bernama Kenichiro (Tsutsumi Shinichi) tersebut. Mereka berdua pun pergi ke rumah keluarga Kenichiro yang ternyata merupakan restoran bernama “Kitchen Macaroni”.

Namun, kedatangan Kenichiro rupanya tidak disambut baik oleh keluarganya. Ternyata, dua tahun yang lalu Kenichiro kabur dari rumah dengan membawa uang 5 juta yen yang merupakan penghasilan dari restoran tersebut. Natsumi pun berusaha membela Kenichiro. Namun, setelah pembelaan yang ia lakukan, nyatanya Kenichiro malah kabur lagi setelah mencuri uang dari kasir restoran. Natsumi jadi merasa bersalah karena mau-maunya dimanfaatkan oleh Kenichiro. Di sisi lain, ia juga jatuh cinta pada Kitchen Macaroni (sebelumnya Natsumi sempat mencoba dan langsung jatuh cinta pada Omurice buatan restoran itu). Oleh karena itu, keesokkan harinya Natsumi datang lagi ke Kitchen Macaroni, dan meminta untuk diizinkan tinggal dan bekerja di tempat itu sambil menunggu Kenichiro kembali. Permintaan tersebut pada awalnya ditentang oleh orang-orang di restoran tersebut (btw, Kitchen Macaroni ini adalah restoran  yang dikelola ayah Kenichiro beserta anak-anaknya *adik-adik Kenichiro* dan sudah berdiri sejak 30 tahun yang lalu). Namun, setelah beberapa hal terjadi, akhirnya Natsumi diizinkan juga tinggal bersama mereka di situ. Dan yang menarik adalah, setelah beberapa lama Natsumi tinggal dan bekerja di situ, satu persatu adik dari Kenichiro diceritakan mulai jatuh cinta pada Natsumi. Btw adik-adik Kenichiro ini adalah (1) Yujiro (Eguchi Yosuke) si anak kedua yang keras kepala dan pada awalnya sangat menentang ide Natsumi untuk tinggal bersama mereka, (2) Junzaburo (Tsumabuki Satoshi), anak ketiga yang polos dan selalu membela Natsumi, dan terakhir (3) Koshiro (Yamashita Tomohisa), si bungsu yang masih sekolah dan kecil-kecil sudah playboy. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya pada Natsumi? Apakah dia akan jatuh cinta pada salah satu dari mereka? Apakah rahasianya sebagai tunangan palsu Kenichiro suatu saat akan terbongkar? Tonton aja deh.

Ide cerita tentang satu cewek dikelilingi pria-pria tampan memang umum ditemukan pada dorama atau manga Jepang (contoh lain: Hanakimi, Atashinchi no Danshi, Hana Yori Dango). Meskipun begitu, cerita seperti ini menurut saya tetap menarik untuk ditonton karena selalu ditampilkan dengan kemasan yang menarik dan menghibur. Lunch Queen (judul asli: Lunch no Joou) adalah salah satu dorama dengan tema tersebut yang menjadi favorit saya. Namun, dorama ini bukan tipe dorama yang cuma menjual cowok ganteng dan kisah cinta saja, tapi juga menjual cerita yang menarik serta akting dan karakteristik yang kuat.

Ya, akting dan karakteristik, itulah yang paling saya suka dari dorama ini. Semua karakter dalam dorama ini menurut saya memiliki karakteristik yang sangat menarik dan gampang disukai. Mulai dari Natsumi si tokoh utama, yang merupakan karakter perempuan yang kuat dan tidak mudah menyerah. Saya suka banget karakter ini, dan menurut saya wajar banget kalo adik-adik Kenichiro pada jatuh cinta sama dia. Dan Takeuchi Yuko sangat berhasil memerankan tokoh ini (oh iya, mbak Yuko ini kayaknya cocok jadi mc acara kuliner, karena tiap adegan dia lagi makan, makanan yg keliatan biasa aja entah kenapa keliatannya kayak enak banget). Karakter-karakter lain seperti karakter adik-adiknya Kenichiro pun tidak kalah menarik. Dan yang paling saya suka adalah, karakter-karakter pria di dorama ini adalah tipe karakter yang akan sering kita temui di dunia nyata. Biasanya kan di dorama ikemen macam gini, karakter cowoknya sering digambarin sempurna dan “menyilaukan”, pokoknya too good to be true lah. Tapi di sini gak kayak gitu, karakternya tetep normal dan sangat manusiawi (yg bikin saya kadang-kadang gak nganggep dorama ini sebagai dorama ikemen). Tapi, meskipun karakter-karakter cowoknya terbilang normal, bukan berarti karakter-karakter cowoknya jadi gak menarik. Saya suka banget sama karakter-karakter cowoknya, terutama karakter Junzaburo yang diperankan dengan sangat baik oleh Tsumabuki Satoshi (yang bikin saya betah banget nonton dorama ini, hehe).  Tapi karakter-karakter lainnya juga pada menarik kok, dan para aktor dalam dorama ini hampir semuanya berhasil memerankan perannya masing-masing dengan baik, mulai dari Eguchi Yosuke, Tsutsumi Shinichi, Yamada Takayuki, Morita Go, sampai Ito Misaki. Paling cuma Yamapi alias Yamashita Tomohisa yang agak kurang aktingnya karena ekspresinya yang selalu datar, tapi gak sampai mengganggu keseluruhan dorama ini kok. Btw, di sini juga ada Eita loooh, jadi peran kecil yang setiap episode munculnya gak sampe lima menit sih, tapi tentu saja saya harus mencantumkan namanya pada review ini *halah*.

Selain karakter, dorama ini juga memiliki cerita yang sangat menarik. Ceritanya sebenernya sederhana, tapi untungnya berhasil digarap dengan baik sehingga dorama ini menjadi sangat asik ditonton dan tidak membosankan. Selain itu, saya juga suka sama unsur komedinya, yang meskipun bukan tipe komedi yang bisa bikin saya tertawa terbahak-bahak, tapi lumayan bisa bikin saya nyengir-nyengir unyu. Untuk kisah cintanya, saya pun sukaaaa banget. Saya sangat suka interaksi Natsumi dengan karakter cowok-cowok di dorama ini, terutama interaksinya dengan Junzaburo, yang bikin saya gemes banget. Tapi seperti yang saya bilang, kisah cinta sepertinya bukanlah jualan utama dorama ini, karena sampai akhir kisah cintanya tetap digambarkan menggantung. Dorama ini lebih ingin menunjukkan bagaimana makanan bisa menimbulkan kebahagiaan dan harapan pada diri orang lain, yang dalam hal ini tidak hanya ditunjukkan melalui tokoh Natsumi serta Junzaburo dan saudara-saudaranya saja, tapi juga melalui karakter-karakter pelanggan di restoran itu. Dan buat yang suka dorama bertemakan makanan, pasti suka banget dorama ini (dan gak mungkin gak ngiler abis nonton dorama ini). Oh iya melalui dorama berjumlah 12 episode ini saya jadi menyimpulkan bahwa orang Jepang itu kayaknya sangat menghargai makanan ya. Coba deh Indonesia, bikin film/sinetron tentang makanan gitu kek. Kita kan punya berbagai macam makanan yang beraneka rupa, dan menurut saya bakal menarik kalo dijadiin tema film/sinetron.

Overall, Lunch Queen adalah dorama yang sangat menarik dan menghibur. Segala unsur yang ada di dorama ini berhasil ditampilkan dengan baik, dan yang pasti dorama ini adalah tipe dorama yang akan sering saya tonton ulang. Ja, 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Kuwata Maki (Kirishima Reika) adalah seorang perempuan yang baru saja putus dari tunangannya. Setelah kejadian itu, ia memutuskan untuk tinggal sendiri. Namun, ia tidak punya tempat tinggal dan tidak punya banyak uang. Cincin tunangannya pun hanya laku terjual sebesar 3500 yen. Miyata Takeshi (Nakamura Yasuhi) adalah seorang pria yang masih belum bisa move on meskipun sudah 6 bulan putus dari pacarnya, Ayumi (Itaya Yuka). Miyata masih mencintai mantan pacarnya itu dan saking cintanya ia sampai-sampai membeli apartemen yang bagus untuk ia tempati bersama Ayumi. Namun, baru satu minggu tinggal di apartemen itu, tiba-tiba Ayumi memutuskannya dan menghilang entah ke mana.

Kedua orang tersebut bertemu pada suatu malam di sebuah restoran. Pada saat itu, Miyata sedang makan bersama Kanda Yusuke (Yamanaka So), sahabatnya sejak SMP. Pada saat itu pula, Kanda memberitahu Miyata bahwa sebentar lagi Ayumi akan menikah. Kanda pun menasihati Miyata agar cepat-cepat move on dan mencari cewek lain. Ia pun melihat Maki yang saat itu sedang duduk sendirian di meja belakang mereka. Kanda pun meminta Maki agar ikut makan bersama mereka. Dan tidak lama kemudian, Kanda tiba-tiba pergi dan meninggalkan Miyata berdua saja dengan Maki. Lalu, apa yang akan terjadi pada Miyata dan Maki? Apakah mereka berdua akan saling jatuh cinta? Apakah mereka akan mampu melupakan mantan pacar mereka? Dan apakah film itu memang hanya bercerita tentang mereka berdua saja?

Jika membaca sinopsis di atas, mungkin kamu akan mengira bahwa film ini adalah sebuah film drama romantis. Ya, di 30 menit pertama, film ini memang terlihat hendak bercerita tentang dua orang yang sama-sama  baru patah hati yang kemudian bertemu dan saling jatuh cinta, lengkap dengan iringan suara piano yang mendayu-dayu. Ih, klise banget sih, pris. Eh eh eh tapi tunggu dulu, bersabarlah dalam menonton film ini. Karena setelah 30 menit berlalu, kamu akan dibawa pada berbagai macam kejutan yang menunjukkan bahwa ini bukan film biasa. Dan ya, ini bukanlah film romantis. Bahkan mungkin saja setelah menonton film ini kamu tiba-tiba jadi nggak percaya sama hal-hal romantis seperti yang ada di film-film.

Emang kejutan-kejutannya kayak gimana sih, pris? Kalo diceritain, nantinya gak kejutan dong, hihihi *ditendang*. Intinya sih, film ini memiliki plot non-linear. Plot non-linear itu kayak gimana, pris? Ya pokoknya kamu tonton deh film-film kayak Memento, Pulp Fiction, The Prestige, dan sejenisnya. Non linear  di film ini digambarkan melalui sudut pandang tiga orang yang berbeda akan peristiwa pada suatu malam. Ya, peristiwa utamanya adalah pertemuan Maki dan Miyata di restoran seperti pada sinopsis di atas. Tapi sebenarnya, di balik peristiwa tersebut, ada hal-hal lain yang melatarbelakanginya. Bahkan, hal tersebut melibatkan seorang yakuza! Jadi karena tiga sudut pandang tersebut, jangan heran kalo kamu akan menemukan adegan yang sama (namun dengan sudut pandang yang berbeda) lagi dan lagi.

Tapi A Stranger of Mine ini bukan film berat macam Memento. Filmnya lumayan ringan kok, meskipun pada awalnya mungkin kamu akan dibuat sedikit bingung. Tapi setelah nonton sampai selesai, mungkin kamu akan merasakan suatu kepuasan yang sangat besar, persis rasanya kayak pas abis nonton Fish Story. Ya, film ini memang nuansanya rada mirip sama Fish Story, di mana unsur kejutan adalah suatu hal yang menjadi kekuatan filmnya. Jadi kayak Fish Story juga, semakin sedikit informasi yang kamu ketahui mengenai film ini, maka semakin asik juga menontonnya.

Overall, melalui film ini kita ditunjukkan agar jangan terlalu mudah mempercayai orang lain. Setiap orang itu punya pikiran masing-masing, dan tidak ada yang tahu apakah pikirannya tersebut sejalan dengan apa yang kita harapkan. Bahkan biarpun kita sudah lama mengenal orang tersebut. Well, 4 bintang deh untuk film ini 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »


Katanya, cinta bisa membuat orang-orang mau melakukan hal-hal yang bisa disebut sebagai gila atau bodoh. Mungkin karena cinta jugalah, seorang pria bernama Cal Weaver (Steve Carell) mau melakukan hal gila seperti meniduri banyak wanita setelah istrinya, Emily (Julianne Moore), meminta cerai dan mengaku telah berselingkuh dengan lelaki lain. Hal gila yang dilakukan Cal tersebut semata-mata ia lakukan untuk membalas perbuatan istrinya. Namun, hal tersebut rupanya tidak berhasil menghapuskan perasaan cintanya pada Emily.

Salah satu bentuk kegilaan cinta yang lain juga ditunjukkan melalui tokoh Robbie (Jonah Bobo) yang tidak lain merupakan anak laki-laki Cal yang masih berusia 13 tahun. Ia jatuh cinta pada pengasuhnya sendiri, Jessica (Analeigh Tipton), yang lebih tua beberapa tahun darinya. Ia selalu percaya bahwa Jessica adalah soulmate-nya, dan berbagai cara (yang mungkin bisa dibilang bodoh dan gila) ia lakukan untuk menarik perhatian pengasuhnya tersebut.

Lalu terakhir, ada Jacob Palmer (Ryan Gosling), womanizer kelas kakap yang selalu berhasil merayu wanita untuk tidur dengannya. Dari karakter inilah, Cal belajar bagaimana cara merayu wanita. Namun, ada satu wanita yang tidak berhasil ditaklukkan oleh Jacob. Dia adalah Hannah (Emma Stone), yang nantinya akan mengubah Jacob menjadi orang yang benar-benar berbeda dari sebelumnya.

 

Well, jika kamu menyukai film-film bergenre komedi romantis, akan sangat disayangkan jika kamu melewatkan film ini. Film ini lucu, ringan, dan romantis. Pokoknya Crazy, Stupid, Love ini memiliki semua elemen yang wajib dimiliki sebuah komedi romantis (yang bagus). Film ini memiliki plot yang sama sekali gak kacangan, meskipun endingnya masih tergolong predictable. Film ini juga enak diikuti dan mudah dicerna, meskipun awalnya terkesan ribet karena menghadirkan banyak tokoh.

Film ini juga didukung oleh akting yang mumpuni dari aktor dan aktrisnya (baik yang senior maupun junior). Steve Carell berhasil menghidupkan perannya sebagai pria hopeless yang masih mencintai istrinya. Begitu juga dengan Julianne Moore si pemeran istri. Ryan Gosling (yang saya baru nyadar kalo dia ini ganteng, padahal udah nonton beberapa filmnya sebelumnya) juga menampilkan akting yang baik di sini, biarpun perannya menurut saya tergolong biasa. Emma Stone, suatu saat dia pasti akan menjadi seorang aktris besar Hollywood, meskipun tampangnya menurut saya agak nyeremin (tolong jangan bunuh aku, cowok-cowok penggemar Emma Stone). Dan jangan dilupakan karakter Robbie yang diperankan Jonah Bobo. Saya sempet gak percaya kalo dia ini anak kecil yang ada di film Zathura loh. Udah gede lagi ternyata  =)) Tapi akting yang paling mencuri perhatian di sini menurut saya adalah aktingnya Marisa Tomei yang berperan sebagai perempuan pertama yang berhasil dirayu oleh Cal. Meskipun cuma peran kecil, tapi dia berhasil menampilkan akting yang asik dan sangat mencuri perhatian di sini.

Tapi nih, menurut saya film ini gak segila judulnya. Filmnya tetep lucu sih, tapi menurut saya film ini masih bisa dibikin lebih lucu dan lebih gila lagi (terutama harus diperbaiki di bagian endingnya yang menurut saya agak klise). Namun, secara keseluruhan, saya suka dan lumayan menikmati film ini. Intinya sih, film ini mengajarkan agar kita tidak menyerah dalam memperjuangkan cinta kita. Mungkin dalam prosesnya kita akan jadi melakukan hal-hal yang gila atau bodoh seperti yang dilakukan tokoh-tokoh di film ini, tapi bukankah itu yang paling asik dari jatuh cinta? #eaa. Overall, film ini recommended, terutama buat kamu-kamu yang suka film bergenre komedi romantis 🙂

Rating : 1 2 3 3,5 4 5

Read Full Post »


Setelah nonton BOSS (dan diikuti BOSS 2), mood nonton dorama saya jadi naik drastis. Saya pun mencoba menonton episode pertama dari beberapa dorama yang belum pernah saya tonton, tapi sayangnya tidak ada yang membuat saya tertarik untuk melanjutkan ke episode-episode berikutnya biarpun dorama-dorama tersebut sebenarnya memiliki cerita yang menarik. Lalu saya mencoba menonton episode pertama dari dorama Hotaru no Hikari, dorama yang ceritanya udah sering saya denger tapi baru kali ini niat buat nontonnya muncul. Dan ternyata doramanya emang menarik banget dan bikin saya ketagihan dari awal. Dorama berjumlah 10 episode ini pun langsung selesai saya tonton dalam satu hari, dan menyusul setelah itu season keduanya yang juga selesai dalam satu hari (yeah, I really need to get a life).

Hotaru no Hikari (Glow of Fireflies) sendiri bercerita tentang Amemiya Hotaru (Ayase Haruka), seorang perempuan kantoran yang selalu berpenampilan rapi, modis, dan selalu cekatan dalam pekerjaannya. Tapi siapa yang menyangka, penampilan Hotaru di rumah ternyata sangat bertolak belakang dengan penampilannya di kantor. Di rumah ia lebih senang bermalas-malasan sambil minum bir, dengan mengenakan celana training yang sudah sobek dan kaos bernoda, dan dengan rambut diikat ke atas. Rumahnya pun tidak pernah jauh dari kata berantakan. Hotaru juga tidak pernah tertarik dengan kehidupan percintaan karena menurutnya lebih asik bermalas-malasan di rumah daripada berkencan dengan cowok. Jika diistilahkan, perempuan seperti Hotaru ini dapat disebut sebagai Himono Onna (dried fish woman).

Lalu suatu kejadian menyebabkan ia terpaksa berbagi tempat tinggal dengan Takano Seiichi (Fujiki Naohito) yang tidak lain adalah bosnya sendiri. Berbeda dengan Hotaru, Takano (yang biasa dipanggil buchou oleh Hotaru <- sebutan bos/manager/kepala biro dalam bahasa jepang) adalah pria yang sangat perfeksionis dan rapi. Oleh karena itu, tentu saja ia tidak tahan melihat gaya hidup Hotaru yang asal-asalan. Suatu ketika, Hotaru yang sudah lama tidak peduli pada kehidupan percintaan tiba-tiba jatuh cinta pada Teshima Makoto (Kato Kazuki), seorang karyawan kantornya yang baru pulang dari tugasnya di luar negeri. Teshima sendiri sebenarnya juga menyukai Hotaru, tapi karena sifatnya yang kaku, dan juga karena Hotaru yang kurang pengalaman dalam masalah percintaan, hubungan mereka menjadi terasa agak sulit. Belum lagi yang menyukai Teshima bukan hanya Hotaru saja. Namun untung ada Takano, yang selalu membantu dan menyelematkan hubungan Hotaru dan Makoto. Lalu, apakah hubungan antara Hotaru dan Makoto berjalan lancar? Dan bagaimana dengan hubungan Takano dan Hotaru? Apakah rahasia bahwa mereka tinggal serumah suatu saat akan ketahuan? Ayo kaaak, ditonton.

Dua kata untuk dorama ini: KOCAK BANGET. Saya suka banget sama kepribadian karakter Hotaru yang sedikit mengingatkan saya pada karakter Nodame dari Nodame Cantabile. Hotaru ini bener-bener konyol dan sinting ya. Karakter ini sendiri agak menyentil saya yang kalo di rumah gak jauh dari karakter himono onna (tapi saya gak separah Hotaru kok, serius). Ngaku deh, pasti banyak dari kalian yang juga punya sisi himono onna kan? kaaaaan?

Ya ya ya, yang bikin dorama ini menarik dan jadi hidup tentu saja karakter Hotaru si Himona Onna. Segala kekonyolan yang dilakukannya selalu berhasil membuat saya tertawa. Ceritanya sendiri biar gak tergolong original tapi tetap menarik untuk diikuti, dan yang pasti dorama ini bikin saya gemes terus karena penasaran pengen melihat bagaimana perkembangan kehidupan Hotaru selanjutnya. Kisah cintanya itu loh benar-benar menggemaskan! Biarpun di sebagian besar dorama lebih fokus pada kisah cinta antara Hotaru dan Makoto, tapi yang bikin gemes tentu saja adalah hubungan antara Hotaru dan buchou-nya. Momen saat mereka duduk berdua dan ngobrol-ngobrol di beranda rumah adalah momen yang paling saya suka di dorama ini. Chemistry antara kedua tokohnya pun berhasil dibangun dengan baik biarpun dorama ini kering adegan mesra. Biarpun bertolak belakang, keliatan banget kalo mereka saling membutuhkan satu sama lain. Ayase Haruka sangat berhasil memerankan tokoh Hotaru. Begitu juga dengan om Fujiki Naohito yang luar biasa ganteng dan selalu kelihatan muda di sini. Saya suka liat karakternya yang sering kebawa gila gara-gara Hotaru. Kato Kazuki juga lumayan ganteng di sini biarpun aktingnya biasa aja (hey pris, stop using word “ganteng” in your review!).

Well, segini aja review saya. Buat penyuka dorama-dorama bergenre komedi romantis, saaaaangat sangat disarankan untuk menonton dorama ini (tapi dorama ini lebih banyak komedinya sih ketimbang romantisnya). Seperti yang udah dibilang di atas, dorama ini juga memiliki sekuel yang menurut saya sama bagusnya sama yang pertama (but less ngegemesin). Tahun 2012 nanti pun kelanjutan kisah antara Hotaru dan buchou akan dilanjutkan dalam bentuk film layar lebar. Jadi tunggu apa lagi, ayo tontonlah dorama ini! 😀

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Salah satu hal paling menyenangkan ketika menonton film adalah ketika kita menonton film tanpa ekspektasi apa-apa dan ternyata film yang kita tonton itu berhasil meninggalkan kesan yang dalam di hati kita. Hal itulah yang saya rasakan ketika menonton Flipped, sebuah film karya sutradara Rob Reiner (When Harry Met Sally, The Bucket List). Film ini mungkin luput dari perhatian banyak orang, termasuk saya yang sebelumnya gak pernah ngeh sama keberadaan film ini. Saya pun nonton film ini karena lagi mood buat nonton film-film ringan nan menyenangkan, dan beberapa waktu yang lalu saya sempat denger ada yang bilang kalau film ini bagus dan ringan. Tapi teteup, saya gak berharap banyak-banyak pas nonton film ini dan tanpa disangka-sangka film ini menjadi sebuah kejutan manis di masa liburan saya yang biasa-biasa saja ini. Ya, saya dibuat jatuh cinta oleh film ini.

You never forget your first love, itu adalah tagline dari film ini. Dan seperti kata taglinenya, film ini bercerita tentang cinta pertama, sebuah tema yang sederhana bukan? Namun, jangan remehkan tema sederhana macam ini, karena kesederhanaannya tersebut berhasil digarap dengan baik dan menjadikan film ini menjadi sangat manis dan nyaman ditonton dari awal sampai akhir. Film ini bercerita tentang sepasang anak remaja bernama Juli Baker (Madeline Carroll) dan Bryce Loski (Callan McAuliffe). Mereka pertama bertemu ketika umur mereka sama-sama 7 tahun. Waktu itu adalah ketika masa sebelum mereka memasuki kelas 2 sekolah dasar, dan Bryce kebetulan baru pindah ke rumah seberang rumah Juli. Pertama bertemu, Juli langsung jatuh cinta pada Bryce (atas dasar mata Bryce yang katanya keliatan selalu bersinar). Juli selalu mendekati Bryce, tapi sayangnya Bryce selalu merasa terganggu dengan keberadaan Juli yang dianggapnya sebagai anak aneh. Ketika mereka masuk SMP, keadaan tetap tidak berubah. Juli tetap menyukai Bryce dan Bryce tetap membenci Juli. Sampai beberapa kejadian membuat segalanya menjadi terbalik alias flipped (seperti judul filmnya). Perilaku Bryce yang sering mengecewakan Juli membuat Juli mulai menyadari bahwa Bryce sebenarnya tidak berarti sama sekali, dan membuat Juli mulai membenci Bryce. Dan hal itu malah membuat Bryce menjadi merindukan Juli dan membuat ia mulai menyukai perempuan yang punya hobi memanjat pohon dan memelihara ayam itu. Lalu apa yang akan terjadi pada mereka berdua?  Apakah suatu saat mereka akan berada di posisi yang tidak bertolak belakang lagi seperti biasanya? Tonton aja kakak 😀

Kalo dilihat dari sinopsisnya, mungkin kamu akan menganggap ceritanya sangat biasa. Ya, cerita film ini memang biasa dan simpel banget. Tapi itulah yang saya suka dari film ini. Kesederhanaannya ini mengingatkan saya pada film-film Jepang yang sering mengangkat kehidupan sehari-hari sebagai latarnya, dan saya udah jarang menemukan film-film Hollywood yang seperti itu akhir-akhir ini. Di luar kisah cinta, film ini memang banyak menekankan tentang kehidupan, terutama mengenai cara manusia memandang kehidupan. Berhubungan dengan hal itu, film ini memiliki dua sudut pandang di dalamnya, yaitu sudut pandang Bryce dan sudut pandang Juli. Dengan hal itu, kita bisa tahu apa yang ada di benak mereka dan cara mereka menghadapi hal atau masalah yang ada di sekitar mereka. Dan seperti pada judulnya, melalui film ini kita bisa merasakan bahwa  segalanya bisa berubah dalam hidup ini. Orang yang dulunya kamu benci bukan tidak mungkin nantinya bisa saja menjadi orang yang paling kamu cintai, dan vice versa. Segalanya bisa berubah menjadi terbalik, termasuk perasaan manusia.

Untuk akting, semua pemain dalam film dengan cerita berlatar tahun 60-an ini semuanya menunjukan akting yang bagus, terutama Madeline Carroll yang berperan sebagai Juli Baker. Saya suka banget sama karakter Juli ini. Saya suka banget cara dia memandang kehidupan ini dan juga cara dia menyayangi pohon dekat rumahnya dan ayam-ayam peliharaannya, plus semangatnya yang besar itu bikin dia semakin memiliki nilai lebih. Well, dari film ini saya banyak belajar dari karakter ini.

Ja, segini aja review dari saya. Overall saya suka banget sama film ini. Biarpun sederhana, film ini berhasil meninggalkan kesan yang dalam di hati, dan berhasil bikin saya jadi senyum-senyum sendiri abisnya. Film ini juga nyaman banget ditonton, dan film ini adalah tipe film yang akan saya tonton berulang kali. Oh ya, kalo harus membandingkan sama film bertema serupa, contohnya Crazy Little Thing Called Love yang sama-sama bercerita tentang cinta pertama (dan jauh lebih tenar di Indonesia), saya jauh lebih suka Flipped. Jadi buat kalian penyuka film-film manis nan romantis, atau film-film yang bercerita tentang kehidupan, sangat direkomendasikan untuk menonton film ini.

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Para penggemar film (terutama yang fanatik) mungkin sudah tidak asing dengan nama Wong Kar-Wai, seorang sutradara asal Hong Kong yang namanya tidak hanya harum di negerinya sendiri saja, tapi juga di dunia perfilman internasional. Tapi sebagai penggemar film yang masih cupu, saya baru mengenal sutradara satu ini sekitar satu tahun yang lalu, tepatnya lewat karyanya yang berjudul My Blueberry Nights (2007) yang merupakan debut pertamanya di dunia perfilman hollywood. Dan saya jatuh cinta pada film itu, meskipun banyak penggemar Wong Kar-Wai yang mengatakan bahwa  film tersebut adalah karyanya yang terburuk. Kemudian saya menonton salah satu karya beliau lagi yang berjudul In The Mood For Love. Sama seperti My Blueberry Nights, saya tidak dikecewakan oleh film ini. Malah saya menganggap film itu sebagai salah satu film terbaik yang pernah ada di dunia ini (kapan-kapan saya bakal bikin reviewnya deh). Namun, sayangnya, setelah itu saya kesulitan untuk menemukan film-film Wong Kar-Wai yang lain. Lalu beberapa hari yang lalu, kebetulan saya menemukan salah satu filmnya yang lain yang sudah lama saya cari, yaitu Chungking Express (yang akan saya review ini). Dan lagi-lagi, Wong Kar-Wai membuat saya kembali jatuh cinta pada karyanya.

Chungking Express sendiri memiliki sedikit kemiripan tema dengan My Blueberry Nights, yaitu sama-sama bercerita tentang orang(-orang) yang baru patah hati. Film ini sendiri memiliki dua kisah (atau segmen) yang saling bersentuhan tapi tidak memiliki kaitan yang cukup penting selain kesamaan latar dan tema “patah hati”-nya. Kisah pertama bercerita tentang He Zhiwu (diperankan dengan gantengnya oleh Takeshi Kaneshiro), seorang polisi yang baru saja putus dari pacarnya setelah lima tahun berpacaran. Wu sendiri tampak tidak bisa melupakan mantan pacarnya tersebut. Ia lalu mencoba untuk menghubungi May (nama mantan pacarnya), namun sayangnya tidak pernah berhasil. Untuk mengusir kesedihannya, Wu jadi punya kebiasaan melakukan jogging. Katanya, jogging akan membuatnya berkeringat banyak sehingga tidak ada air yang tersisa untuk membuatnya menangis 😀 Lalu pada suatu malam di sebuah bar, Wu memutuskan untuk benar-benar move on. Ia memutuskan akan jatuh cinta pada wanita yang pertama dilihatnya di bar tersebut. Lalu, wanita macam apa yang akan dilihatnya pertama kali di bar tersebut? Apakah ia akan benar-benar jatuh cinta kepadanya dan berhasil melupakan May?

Sementara itu, kisah yang kedua juga sama-sama bercerita tentang polisi yang baru saja patah hati. Polisi yang ini (diperankan dengan guaaantengnya oleh Tony Leung) tidak diketahui namanya. Identitasnya hanya ditunjukan melalui kode polisinya yang bernomor 663. Ia baru saja diputuskan oleh pacarnya yang seorang pramugari. Hampir setiap malam, ia sering pergi ke suatu kios untuk membeli makanan. Diam-diam, salah satu pegawai kios tersebut yang bernama Faye (Faye Wong) jatuh cinta padanya. Lalu, suatu hari, mantan pacar si polisi datang ke kios tersebut dan menitipkan surat untuk polisi tersebut kepadanya (ke si pemilik toko sih tepatnya). Surat tersebut ternyata berisi kunci apartemen si polisi. Ketika si polisi itu datang, ia menolak untuk menerima surat itu, sehingga surat tersebut terus disimpan oleh Faye. Setelah itu, diam-diam Faye sering menyelinap masuk ke apartemen si polisi dengan menggunakan kunci dalam surat tersebut (waktu si polisinya lagi kerja). Untuk apa ia melakukan itu? Apa yang terjadi jika si polisi mengetahui bahwa apartemennya diam-diam dimasuki tanpa izin? Tonton aja kakaak.

Saya sukaaaaaaa sekali dengan film ini. Beautiful and sweet, itu adalah salah dua kata yang tepat untuk menggambarkan film ini. Menurut saya ini adalah salah satu film termanis yang pernah saya tonton (dan tipe film ‘manis’ emang selera saya banget). Adegan-adegannya banyak yang memorable. Dan sama seperti dengan dialog-dialog di My Blueberry Nights, dialog-dialog dalam film ini juga sangat berkesan dan ‘jleb’ banget di hati (dan rasanya pengen saya quote satu-satu di sini).

Ceritanya sendiri sebetulnya sangat sederhana. Patah hati dan jatuh cinta adalah dua buah perasaan yang lumrah dialami setiap orang, bukan? Ketika orang patah hati, salah satu obat terbaik bukankah dengan jatuh cinta kembali? Seperti itulah film ini. Film ini menunjukan bahwa patah hati bukanlah akhir dari segalanya, toh jika kita sabar suatu saat kita pasti akan jatuh cinta kembali dan menemukan cinta yang baru. Oh ya, biarpun ini film tentang orang patah hati, abis nonton film rasanya saya jadi kepengen jatuh cinta #eaa. Ajaib bukan?

Seperti yang saya bilang sebelumnya, cerita film ini tergolong sederhana. Tapi biarpun sederhana, kesederhanaannya tidak menjadikan film ini menjadi film biasa. Wong Kar Wai berhasil mengemas film ini menjadi suatu tontonan yang cantik, artistik, dan unik *eh, berima*. Padahal latar yang disajikan hanya berupa kios makanan biasa, pasar yang penuh sesak, apartemen yang berantakan, dan tempat-tempat lainnya yang tergolong biasa saja. Tapi banyak hal, mulai dari pergerakan kamera sampai gesture para pemerannya, yang membuat film ini menjadi terlihat begitu cantik dan membawa kita pada pengalaman sinematik yang mengesankan (pengalaman sinematik yg hampir mirip juga saya rasakan pada In The Mood For Love). Penempatan musik yang sangat tepat juga menjadi salah satu faktor penting yang membuat film ini menjadi luar biasa.

Untuk bagian akting, semua pemain dalam film ini berakting dengan sangat bagus dan total. Mulai dari Brigitte Lin yang terlihat cool sekali di sini, Takeshi Kaneshiro yang sangat meyakinkan sebagai pria yang masih belum lupa pada mantannya, Faye Wong yang cuek dan tomboy, dan Tony Leung yang terlihat menyimpan luka terpendam. Saya suka sama semua pemerannya, terutama Tony Leung yang berhasil membuat saya jatuh cinta lewat film ini. Biarpun gak ganteng amat, menurut saya Tony Leung ini punya pesona yang membuat saya terheran-heran kenapa ada cewek waras yang mau mutusin cowok macam begini. Hihi. Terus terus, karakter kedua yang saya suka adalah karakter Faye yang diperankan Faye Wong. Saya suka sekali karakternya yang cuek dan tomboy ini (btw penampilan fisiknya mengingatkan saya pada Ueno Juri di Last Friends) dan juga usahanya untuk menarik perhatian si polisi. Super sweet.

Cuman sayangnya menurut saya kedua kisah dalam film ini tidak disajikan dengan porsi yang seimbang. Saya lumayan suka sama kisah pertamanya (durasinya sekitar 30 menit), tapi begitu pindah ke kisah kedua (durasinya sekitar satu jam), saya jadi mendadak agak lupa sama kisah pertamanya karena pikiran saya jadi lebih fokus pada kisah yang kedua. Begitu beres nonton pun, saya cuma terngiang-ngiang sama kisah yang kedua . Jadi kalo kisah kedua ini dipisah dan dijadikan film sendiri, saya pasti akan kasih lima bintang untuk film ini. Tapiii, karena kisah pertamanya gak senampol kisah kedua, jadi saya kasih 4,5 bintang aja deh (4 bintang untuk kisah pertama dan 5 bintang untuk kisah kedua) :D. Highly recommended 🙂

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »

Banyak orang yang menganggap bahwa pernikahan adalah salah satu cara untuk mencapai kebahagiaan. Dengan menikah kamu akan bahagia, begitu menurut pandangan orang-orang tersebut. Namun, pada kenyataannya, tidak sedikit pasangan suami istri yang setelah beberapa lama menikah kemudian mengalami masalah dan memutuskan untuk berpisah. Tidak jarang pula dari pasangan-pasangan itu yang akhirnya menjadi saling membenci. Satu pertanyaan akan muncul mengenai keadaan ini: pergi ke manakah perasaan cinta yang mereka miliki seperti pada saat mereka belum menikah?

Hal itulah yang terjadi pada pasangan Dean (Ryan Gosling) dan Cindy (Michelle Williams) dalam film Blue Valentine yang disutradarai oleh Derek Cianfrance. Sudah enam tahun mereka menikah. Mereka juga memiliki seorang putri yang sangat manis dan baik. Namun, meskipun begitu, hubungan antara sepasang suami istri ini tidak bisa dibilang baik. Setelah usia pernikahan mereka yang keenam, mereka mulai merasa hubungan mereka berubah menjadi hambar dan tidak ada gairah. Perasaan cinta mereka yang menggebu-gebu selama masa pacaran seperti pergi entah ke mana. Percekcokan pun senantiasa menghiasi hubungan mereka. Lalu, pada suatu hari, Dean mengajak Cindy ke sebuah motel, dengan tujuan untuk mencari suasana baru dan untuk memperbaiki hubungan mereka. Namun, apakah yang terjadi akan sesuai dengan harapan mereka?

Film ini tidak hanya menampilkan bagaimana carut marut kehidupan rumah tangga Dean dan Cindy saja, tapi juga menampilkan saat-saat hubungan Dean dan Cindy bermula, seperti bagaimana pertama kali mereka bertemu, berpacaran, dan kemudian memutuskan untuk menikah. Jadi di sini penonton dihadapkan pada dua keadaan, yaitu keadaan ketika mereka belum menikah yang penuh cinta dan kemesraan, dan keadaan ketika mereka sudah menikah, di mana hubungan penuh cinta itu berubah menjadi kehambaran dan ketidakcocokan. Lalu, apa yang akan terjadi pada mereka berdua? Apakah mereka akan berhasil mengatasi masalah rumah tangga mereka, atau malah sebaliknya? Tonton aja deh.

Awalnya saya nonton ini karena mendengar bahwa film ini memiliki sedikit kemiripan dengan Revolutionary Road (yang lumayan saya suka). Meskipun sebenarnya dua film ini sangat berbeda, ternyata dua film ini memang menampilkan tema yang hampir sama, yaitu tentang sisi lain dari sebuah pernikahan, di mana pernikahan tidaklah seindah yang orang-orang kira. Memang, ada banyak pasangan yang berhasil langgeng sampai kakek nenek, tapi tidak jarang pula yang gagal seperti pasangan Dean dan Cindy ini. Film ini juga menunjukan pada kita bahwa rasa cinta itu bisa saja tidak bertahan lama.

Yang nonton film ini mungkin akan bertanya-tanya, kenapa rasa cinta antara Dean dan Cindy bisa menghilang begitu saja. Padahal ketika mereka berpacaran, mereka terlihat sangat jatuh cinta satu sama lain. Kalo menurut saya, hal itu wajar terjadi. Bisa dilihat kok di scene-scene saat mereka pacaran. Dean hadir tepat ketika Cindy baru putus dari pacarnya. Menurut pengamatan saya sih, Dean ini kok kayak pelarian Cindy ya. Cindy jatuh cinta pada Dean, menurut saya itu benar sekali. Tapi menurut saya lagi, hal itu terjadi karena Dean muncul di saat yang tepat, dan Dean bisa mengobati rasa sakit Cindy yang baru berpisah dengan pacarnya (dan menurut saya kelihatan kok kalo cinta Cindy gak sedalam cinta Dean padanya, terbukti karena dari pasangan itu, cuma Dean yang keliatan bener2 ingin memperbaiki hubungan mereka). Belum lagi, mereka memutuskan untuk menikah bukan karena mereka benar-benar ingin melakukannya, tapi karena Cindy hamil duluan, yang tidak jelas hamil anak siapa. Dean sendiri adalah tipikal cowok ‘kuno’ yang percaya pada cinta pada pandangan pertama. Meskipun ia tidak yakin anak yang dikandung Cindy adalah anaknya, tapi karena ia gentleman sejati, ia mau bertanggung jawab menikahinya. Dengan pekerjaannya yang cuma “tukang bantu pindahan”, Dean berani menikahi Cindy dengan hanya modal “cinta”.

Keadaan di atas menurut saya sudah cukup menjadi alasan mengapa pernikahan Dean dan Cindy tidak berjalan mulus. Pekerjaan Dean yang tadinya “tukang bantu pindahan” cuma berkembang sedikit menjadi “tukang cat”. Ketika belum menikah Cindy tidak peduli apa pekerjaan Dean (karena cinta). Tapi setelah menikah, Cindy jadi ‘gerah’ juga melihat pekerjaan Dean yang tentunya tidak cukup untuk menopang keadaan ekonomi keluarga mereka. Belum lagi, impian Cindy menjadi dokter tidak bisa ia wujudkan setelah ia menikah. Di sinilah, cinta dihadapkan pada realita kehidupan. Cinta saja tidak cukup untuk menjadikan mereka bahagia. Dalam Blue Valentine, realita berhasil mengalahkan dan menghapuskan perasaan cinta.

Makanya, menurut saya film ini tidak hanya bertujuan untuk menampilkan sisi lain dari pernikahan (yang tidak hanya ditunjukan melalui karakter Dean-Cindy saja, tapi juga kedua orang tua masing-masing dari mereka yang pernikahannya juga sama-sama tidak mulus) saja. Ada nasihat terselubung dari film ini, bahwa cinta itu tidak cukup untuk menjadikan suatu pernikahan terjamin kebahagiaannya. Menurut saya bener kalo ada orang bilang bahwa nikah itu bukan cuma modal cinta doang. Cinta itu memang penting, tapi kita juga harus memikirkan faktor-faktor lain sebelum memutuskan untuk menikah. Meskipun itu gak ngejamin pernikahan akan langgeng juga sih…. *eh gimana sih pris?*

Well, ganti ke urusan akting. Saya suka banget sama akting dua pemeran utamanya. Michelle Williams baguuuuus banget aktingnya di sini. Begitu juga dengan Ryan Gosling, yang karakternya di sini agak-agak mirip dengan perannya di film Notebook (tapi karakternya di Blue Valentine lebih menarik). Mereka berhasil menampilkan chemistry yang sangat pas. Akting mereka juga berhasil membuat film ini terasa sangat emosional. Sama seperti Revolutionary Road, buat saya film ini termasuk tipe film depressing. Film ini menyedihkan, tapi sedihnya itu bukan sedih yang bisa bikin saya nangis, tapi lebih ke perasaan sakit seperti…hmm… patah hati? Well, ketika saya sampai di bagian endingnya, hati saya rasanya jadi ikutan hancur *emaap lebay*. Overall menurut saya film ini sukses memainkan perasaan saya. Tapi kalo disuruh nonton ulang, saya bakalan mikir dua kali deh *gak tahan karena terlalu depressing*. So, film ini sangat saya rekomendasikan pada para penyuka film depressing dan film romantis yang berbeda dari film romantis kebanyakan. Dan saya juga menyarankan agar film ini ditonton oleh orang-orang yang mau menikah. Biar mereka gak jadi nikah pris? Bukan kok, tapi biar mereka berpikir, apakah mereka benar-benar siap untuk melanjutkan hidup mereka ke jenjang pernikahan? Kalo setelah nonton ini niat mereka tidak goyah, berarti mereka lulus deh (apa sih…).  So, 4 bintang deh untuk film ini 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »