Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘sasaki kuranosuke’

Film atau serial yang bercerita tentang orang yang bisa membaca isi pikiran orang lain mungkin sudah biasa. Lalu, bagaimana dengan orang yang isi pikirannya bisa didengar oleh semua orang? Mungkin baru Satorare (baik versi film maupun doramanya) yang mengangkat tema tersebut. Ya, jadi dalam dorama ini diceritakan, bahwa ada satu dari sepuluh juta orang di dunia ini yang merupakan seorang Satorare (arti dalam bahasa Indonesia = transparan). Apa itu Satorare? Mereka adalah orang-orang yang isi pikirannya bisa didengar oleh orang-orang di sekelilingnya sampai dengan jarak 12 meter (tapi bisa juga terdengar sampai lebih jauh dari jarak tersebut, tergantung suasana hati si satorare). Biasanya, Satorare adalah orang yang sangat jenius, karena itulah mereka sangat dilindungi oleh negara. Sampai-sampai, dibuat sebuah organisasi atau badan pengawas Satorare yang bertugas untuk mengawasi/melindungi para satorare dan mengatur agar orang-orang di sekeliling Satorare untuk berperilaku normal dan tidak merespon isi pikiran Satorare. Hal itu disebabkan jika seorang satorare mengetahui bahwa isi pikirannya bisa didengar oleh orang lain, bukan tidak mungkin ia akan menjadi depresi, dan akibat yang paling buruk adalah bunuh diri. Untuk itulah, badan pengawas satorare ini didirikan agar seorang Satorare bisa menjalani hidup normal layaknya orang biasa.

Satomi Kenichi (Odagiri Joe) adalah salah satu orang yang dapat disebut sebagai Satorare. Apapun yang ia pikirkan bisa didengar oleh orang lain. Kenichi sendiri adalah seorang dokter yang sangat jenius. Namun, kejeniusannya tersebut ternyata tidak berhasil membuat karirnya sebagai dokter berjalan lancar. Karena Kenichi adalah seorang Satorare, maka rumah sakit tidak pernah mengizinkan ia untuk melakukan operasi terhadap pasiennya. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari hal buruk yang akan terjadi jika sang pasien bisa mendengar isi hati Kenichi ketika operasi. Tentunya hal tersebut membuat Kenichi merasa rendah diri dan menganggap dirinya tidak pantas menjadi seorang dokter. Selain masalah karir, kehidupan percintaannya pun tidak berjalan mulus. Ya, karena isi pikirannya yang sangat transparan tersebut, maka perempuan yang ia sukai pasti akan mengetahui bagaimana perasaannya tanpa perlu ia mengatakannya. Dan siapa sih perempuan yang tidak terganggu dengan hal itu?

Lalu, masalah timbul ketika orang-orang di rumah sakit tempat Kenichi bekerja sudah tidak tahan karena terus menerus harus mendengar isi pikiran Kenichi. Mereka bermaksud ‘menyingkirkan’ Kenichi dengan cara memindahkannya ke National Research Lab, yang artinya jika hal tersebut terjadi maka karir Kenichi sebagai dokter akan berakhir dan berganti menjadi seorang peneliti. Di sisi lain, rumah sakit tersebut kedatangan seorang perempuan bernama Hoshino Noriko (Tsuruta Mayu), yang merupakan pathologist baru di rumah sakit tersebut. Mengetahui bahwa salah satu rekannya adalah seorang satorare membuat ia terkejut dan susah untuk terbiasa. Namun, lama kelamaan ia menjadi orang yang paling dekat dengan Kenichi. Lalu, apa yang akan selanjutnya terjadi pada Kenichi? Apakah orang-orang di rumah sakit tersebut akan berhasil menyingkirkannya dan memindahkannya ke National Research Lab? Apa yang akan terjadi selanjutnya dengan hubungannya dengan Hoshino? Lalu, apakah suatu hari ia akan mengetahui bahwa dirinya adalah seorang Satorare? Tonton aja deh kakak 😀

Saya suka sekali sama dorama ini. Satu hal yang paling saya suka dari dorama ini adalah ide ceritanya yang unik dan tidak biasa, yaitu tentang orang yang isi pikirannya bisa didengar orang lain (meskipun ini bukan ide original karena dorama ini merupakan adaptasi dari film layar lebar berjudul sama). Selain ide ceritanya, yang menarik lagi dari dorama ini adalah unsur komedinya yang sangat berhasil membuat saya tertawa. Tingkah laku orang-orang yang pura-pura gak denger isi hati Kenichi itu loh….bener-bener bikin ngakak! Hal itu membuat saya membayangkan bagaimana jika Satorare benar-benar ada di dunia ini dan saya hidup di lingkungan yang sama dengannya, pasti saya akan dibikin gregetan setiap hari, hihi.

Selain hal di atas, yang paling saya suka dari dorama ini adalah karakter Satomi Kenichi yang diperankan dengan sangat baik oleh Odagiri Joe. Saya suka banget sama karakternya yang begitu lugu dan polos. Meskipun pada awalnya orang-orang di sekeliling Satomi dibuat kesal setengah mati karena terus-terusan ‘diganggu’ oleh isi pikirannya yang transparan, tapi lama kelamaan mereka akhirnya luluh melihat Kenichi yang, baik dalam isi hati maupun perkataannya, tidak pernah memiliki niat yang buruk terhadap orang lain. Karakter-karakter lainnya pun turut mendukung kekuatan dorama ini. Seperti karakter Hoshino Noriko yang menjadi love interest si satorare ini. Biarpun karakternya diceritakan lebih tua dari Kenichi, tapi menurut saya mereka ini cocok sekali. Selain kedua karakter utamanya, yang menonjol di sini adalah karakter Todo-san dan Nakata. Kedua orang ini adalah anggota Satorare Measure Committee yang bertugas untuk mengawasi dan melindungi Kenichi. Biarpun mereka melakukan itu karena faktor pekerjaan, tapi lama kelamaan dapat dilihat bahwa mereka sangat memedulikan dan menyayangi Kenichi.

Meskipun ini dorama komedi, tapi dorama ini tidak berakhir menjadi sekadar dorama yang lucu saja. Seperti kebanyakan dorama Jepang lainnya, dorama ini banyak menyelipkan adegan-adegan yang lumayan menyentuh, khususnya mengenai perjuangan Kenichi untuk menjadi dokter. Siapa coba yang tidak tersentuh melihat usaha dan kegigihan hatinya? Meskipun berkali-kali ia patah semangat, namun ia selalu berhasil bangkit kembali.  Ja, 4 bintang deh untuk dorama ini 🙂

Memorable Quote:

Hoshino: “I thought about why God made satorare. Maybe we need to have satorare around. We live in a world of masked thoughts. That is why people with transparent thoughts are necessary for us.”

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

Jika kamu sedang stress dan butuh tontonan yang bisa membuatmu tertawa, mungkin ada baiknya kamu mencoba film komedi asal Jepang satu ini. Film yang berlatarkan tahun 1979 ini bercerita tentang sekelompok anak sekolah di sebuah desa yang sangat senang melakukan kejahilan. Mereka senang sekali mengerjai orang-orang, mulai dari guru di sekolahnya sampai tetangga mereka. Kejahilan-kejahilan yang dilakukan oleh sekelompok anak yang dipimpin oleh Mamachari / Granny Bike (Hayato Ichihara) ini sebenarnya tidak dilatarbelakangi hal apapun. Mereka melakukannya karena mereka memang senang melakukan kejahilan. Sampai suatu hari, salah seorang dari mereka yang bernama Saijo (Takuya Ishida) menyimpan ‘dendam’ pada seorang polisi di desa tersebut karena ditilang akibat mengendarai motornya terlalu cepat. Sekelompok anak tersebut pun berencana melakukan pembalasan dendam pada polisi tersebut (diperankan Kuranosuke Sasaki) dengan cara mencoba menjahilinya. Hasilnya, usaha yang mereka lakukan ternyata gagal total, dan mereka tertangkap oleh si polisi tersebut. Sejak itulah, ‘perang’ antara Mamachari dkk dengan polisi tersebut dimulai. Mamachari dan kawan-kawannya selalu berusaha menjahili polisi tersebut dengan berbagai cara yang bisa dibilang konyol. Dan si pak polisi tersebut tentunya tidak tinggal diam, dan selalu balas menjahili mereka dengan cara yang tidak kalah konyol. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya pada mereka? Apakah ‘perang’ tersebut akan berakhir dan apakah perdamaian antara mereka akan tercipta? Tonton aja kakaaaa 😀

Menurut saya film ini luar biasa kocak dan konyol (in a positive way). Aksi jahil menjahili antara anak-anak dan si polisi tersebut berhasil membuat saya ketawa terus-terusan. Yang saya sukai pertama dari film ini adalah kenakalan-kenakalan yang dilakukan oleh sekelompok anak tersebut. Jangan berpikir bahwa kenakalan yang mereka lakukan ini kenakalan yang ‘serius’ macam di film All About Lily Chou-chou atau Blue Spring. Kenakalan yang mereka lakukan merupakan kenakalan yang konyol dan bisa membuat tertawa orang-orang yang melihatnya (misalnya menggunakan kostum beruang di hutan untuk menakuti orang yang datang dll). Dan usaha yang mereka lakukan untuk menjahili si polisi tersebut sangat kocak. Belum lagi balasan yang dilakukan si polisi tersebut. Padahal si polisi tersebut tampangnya lumayan serius, tapi ternyata dia bisa juga melakukan hal-hal yang konyol untuk membalas mereka 😀

Para pemeran dalam film ini berhasil menampilkan akting yang lumayan baik di sini. Hayato Ichihara, si remaja depresi korban bullying dalam film All About Lily Chou-chou ini berhasil memerankan perannya sebagai Mamachari / Granny Bike (julukannya karena dia suka mengendarai sepeda nenek-nenek) yang merupakan otak di balik rencana-rencana jahil mereka. Dan meskipun saya belum banyak menonton film yang dibintangi aktor tersebut, menurut saya dia cocok sekali berakting di film komedi. Kuranosuke Sasaki pun sangat cocok memerankan karakter polisi lokal yang tampangnya datar dan super serius, tapi sebenarnya punya sisi yang teramat konyol. Dan saya selalu suka sama akting bapak satu ini. Pemeran-pemeran lainnya pun berakting lumayan baik di sini. Dan jangan dilupakan kehadiran aktor kawakan Naota Takenaka, yang meskipun muncul hanya sebentar, namun merupakan salah satu pemancing tawa terbesar di film ini 😀

Selain hal-hal di atas, film ini juga menurut saya tidak berakhir sebagai film yang konyol saja. Banyak yang bisa kita ambil dari film ini, salah satunya tentang persahabatan. Kita harus mencontoh mereka yang selalu mau saling membantu satu sama lain (dan tidak hanya dalam kejahilan saja). Bagian-bagian akhirnya membuat saya merasa sedikit terharu karena melihat eratnya persahabatan mereka. Oke deh, segini aja review dari saya. Overall, saya sangat suka dengan film komedi satu ini. Meskipun ceritanya tergolong sederhana, tapi unsur komedinya yang sangat lucu membuat film ini sangat layak ditonton. Apalagi, latar pedesaan dan tahun 70an-nya membuat film ini menjadi semakin menarik untuk ditonton. Saya kasih 4 bintang deh 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »