Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘sato koichi’

tabloid-poster“Tabloid: An eye-catching photo or headline. A small-scale newspaper focusing on sensational news. Not home delivered but sold at newsstands and stores.”

Kalimat tersebut merupakan kalimat pembuka dari sebuah dorama dengan judul Tabloid. Ya, di Jepang, tabloid memang terkenal sebagai sumber dari berita-berita yang sifatnya sensasional, seperti skandal artis dan semacamnya. Katayama Saki (Tokiwa Takako) adalah seorang wartawan dari media massa terkemuka Chuo Newspaper. Ia adalah seorang wartawan yang pintar dan tajam. Namun, ketajamannya itu malah membawanya pada suatu masalah di suatu hari, dan hal tersebut membuatnya dipindahkan ke sebuah tabloid bernama Yukan Top. Tempat kerja baru Katayama tersebut tentunya sangat berbeda dengan Chuo. Di hari pertama kerja saja, ia sudah ditugaskan untuk menyelidiki seorang artis yang rumornya akan mengeluarkan nude photobook. Berita yang sifatnya ‘vulgar’ tersebut bukanlah berita yang biasa ia tulis sebelumnya. Namun, Katayama hanya bisa menerima nasib tersebut dan terpaksa mengikuti perintah pimpinan barunya, Kirino (Sato Koichi). Selain Kirino, teman-teman barunya di Yukan Top antara lain adalah 1) Kurumi (Tomosaka Rie), wartawan perempuan bermulut pedas yang diam-diam naksir Kirino, 2) Saruwatari a.k.a Saru (Kashiwabara Takashi), fotografer andalan Yukan Top, 3) Chika, pencipta semua headline sensasional Yukan Top, dan masih ada beberapa kru lainnya. Meskipun tetap melakukan pekerjaannya di Yukan Top, Katayama tentu saja tetap ingin meliput berita yang dianggapnya sebagai berita penting. Ia meminta Kirino mengizinkannya untuk menyelidiki kasus pembunuhan seorang entertainer bernama Aoshima Bingo yang terjadi tiga tahun yang lalu. Seorang pria bernama Manabe Toshihiko (Sanada Hiroyuki) ditangkap sebagai tersangka pembunuhan. Namun, setelah tiga tahun ditahan, ia tiba-tiba menyatakan bahwa dirinya tidak bersalah. Kirino mengizinkan Katayama untuk menyelidiki kasus tersebut dan sejak saat itu Katayama mulai rajin mengunjungi Manabe di penjara untuk menggali informasi. Di luar hal itu, Yukan Top sendiri terancam akan ditutup oleh Chuo Group (perusahaan yang menaungi Yukan Top) jika tidak berhasil menjual 500.000 eksemplar sampai tiga bulan ke depan.  Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Manabe benar-benar tidak bersalah dalam kasus tersebut? Apakah Yukan Top akan benar-benar ditutup? Apakah kasus yang diselidiki Katayama tersebut akan berpengaruh pada masa depan Yukan Top?

tabloid-1Yak, dorama ini termasuk dorama jadul karena tayang pada tahun 1998. Tertarik menonton ini karena temanya yang seputar profesi jurnalis tabloid. Awalnya saya mengira dorama ini akan seperti dorama bertema profesi pada umumnya: seorang wartawan dipindahkan ke tabloid yang terancam ditutup lalu berusaha keras mengangkat citra tabloid tersebut agar tidak jadi ditutup. Dan saya bersyukur karena dorama ini tidak jatuh ke klise seperti itu. Tokoh utama dorama ini sendiri sebenarnya tokoh utama yang umum ditemukan dalam dorama bertema profesi: naïf dan keras kepala. Yak seperti jurnalis idealis pada umumnya, ia selalu menjadikan “mencari kebenaran” sebagai pedomannya dalam mencari berita. Sementara itu Kurumi, teman kerja sekaligus rivalnya adalah tipe wartawan yang realistis. Ia tidak peduli pada hal semacam mencari kebenaran atau apa, tapi jika sudah ditugaskan mencari suatu berita, ia akan menyelidiki sampai ke akar-akarnya. Interaksi antara dua perempuan yang bertolak belakang ini merupakan salah satu hal paling menarik dari dorama ini (bagaimana menyebutnya? Sismance? :D)

tabloid-2Namun, hal yang paling disorot dari dorama ini adalah bagaimana tabloid atau media massa dapat memengaruhi orang-orang yang diberitakan atau orang-orang yang membacanya. Begitu juga dengan Yukan Top yang notabene merupakan tabloid “kacangan” yang biasa memberitakan skandal artis dengan harga yang saingannya cuma kopi kalengan. Pengaruh tersebut bisa saja berupa pengaruh negatif ataupun pengaruh positif. Ada yang hatinya bisa terluka hanya dengan membaca sebuah artikel saja. Tapi ada juga artikel yang bisa membuat orang yang membacanya menjadi berterima kasih. Dorama ini tidak hanya menunjukkan putihnya dunia jurnalisme, tapi juga hitamnya. Profesi wartawan tidak diceritakan yang baik-baiknya saja, tapi juga yang jelek-jeleknya. Misalnya, ketika wartawan sedang sibuk meliput berita, terkadang ia menjadi begitu fokus pada kegiatan tersebut dan melupakan hal-hal di sekitarnya. Dan hal tersebut kadang-kadang bisa melukai orang lain tanpa si wartawan tersebut sadari. Dan wartawan juga hanyalah manusia biasa, bukan tidak mungkin suatu hari seorang wartawan jatuh cinta pada objek beritanya. Seperti halnya Katayama yang mulai menaruh perasaan khusus pada Manabe Toshihiko yang sering dikunjunginya di penjara. Apakah perasaan tersebut akan memengaruhi kredibilitasnya sebagai seorang wartawan?

tabloid-3Seperti dorama profesi pada umumnya, di beberapa episode pertama, dorama ini menyajikan satu berita yang menjadi headline di setiap episodenya. Namun, di beberapa episode terakhir dorama ini berfokus pada hal-hal yang berkaitan dengan Manabe Toshihiko dan kasus pembunuhan Aoshima Bingo. Di sinilah satu lagi kekuatan media massa. Keberadaan Yukan Top akan sangat berpengaruh pada nasib Manabe Toshihiko selanjutnya, dan begitu juga sebaliknya. Kasus Aoshima Bingo tersebut merupakan salah satu unsur misteri dari dorama ini. Seperti Katayama, kita akan berusaha menebak-nebak, apakah Manabe Toshihiko benar-benar tidak bersalah? Sehubungan hal ini, terdapat beberapa kejutan di episode-episode akhir, yang meskipun berhasil saya tebak, tapi tetap bikin hati deg-degan dan penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya setelah itu. Hal-hal itulah yang membuat dorama ini keluar dari klise dorama bertema profesi pada umumnya.

tabloid-4Dari segi akting, Tokiwa Takako berakting baik di sini sebagai tokoh utama, meskipun kadang-kadang saya suka merasa sebal pada karakter ini. Sato Koichi seperti biasa selalu menampilkan akting yang menghibur sebagai seorang editor in chief yang santai dan humoris tapi tetap memiliki ketajaman seorang jurnalis. Namun yang paling saya suka di sini adalah Tomosaka Rie yang berperan sebagai Kurumi, wartawan yang juga merupakan seorang single parent. Sifat judes Kurumi digambarkan dengan sangat baik oleh Tomosaka Rie, dan karakternya sendiri karakter yang paling saya suka di sini. Kashiwabara Takashi? Lumayan lah sebagai pemanis, meskipun karakternya ternyata tidak terlalu disorot (kecuali di satu episode yang berfokus pada karakternya). Sanada Hiroyuki pun berperan bagus sebagai Manabe Toshihiko. Misteriusnya dapet banget sehingga penonton pun bisa bingung dalam memilih untuk mempercayainya atau tidak.

Overall, saya sangat menyukai dorama jadul berjumlah 10 episode ini. Recommended, terutama untuk orang-orang yang tertarik pada dunia jurnalistik atau yang bercita-cita (atau sudah) menjadi wartawan. 4 bintang!

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Seorang manager night club bernama Bingo Noboru (Tsumabuki Satoshi) suatu hari terkena masalah besar ketika perselingkuhannya dengan Takachiho Mari (Fukatsu Eri), yang merupakan kekasih dari seorang bos mafia (Nishida Toshiyuki) di kotanya, ketahuan.  Ketika Bingo dan Mari sedang menanti hukuman yang akan diberikan si bos mafia tersebut, tiba-tiba Bingo meracau bahwa ia mengenal seseorang bernama Della Togashi. Sebelumnya, Bingo memang sempat mendengar beberapa anak buah si bos mafia tersebut berbicara tentang Della Togashi, yang tampaknya merupakan orang yang sedang mereka cari. Si bos mafia yang mengatakan bahwa dia adalah penggemar dari Della Togashi lalu menyuruh Bingo untuk mencarikan Della Togashi untuknya. Ia memberi waktu Bingo lima hari, dan jika ia berhasil, Bingo akan terbebas dari hukumannya.

Tanpa bosnya ketahui, Bingo sebenarnya berbohong mengenai Della Togashi. Bahkan, ia sendiri tidak tahu Della Togashi itu siapa. Ia mengatakan bahwa ia mengenal orang itu cuma supaya dibebaskan dari hukuman yang akan menimpanya. Mari pun memberitahu Bingo bahwa Della Togashi adalah seorang pembunuh bayaran legendaris. Tidak ada satu orang pun yang mengetahui wujud sebenarnya dari Della Togashi, karena itulah menemukannya dalam waktu lima hari adalah suatu kemustahilan. Ketika sedang mengobrol dengan Natsuko (Ayase Haruka), perempuan yang bekerja di night clubnya, tentang kota tempat mereka tinggal yang pemandangannya seperti setting film, Bingo pun mendapat sebuah ide. Ide tersebut adalah ia akan mencari seorang aktor yang akan memerankan Della Togashi, dan membuat aktor tersebut berpikir bahwa ia sedang syuting film. Aktor yang dipilih Bingo tersebut adalah Murata Taiki (Sato Koichi), seorang aktor yang terbiasa berperan sebagai peran kecil atau sekadar stuntman. Murata yang sedang frustrasi akan karirnya yang begitu-begitu saja pun tertarik pada tawaran Bingo (meskipun Bingo tidak terlihat meyakinkan sebagai sutradara, bahkan menyiapkan skenario pun  ia tidak). Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah rencana Bingo akan berjalan lancar? Apakah identitas Murata sebagai Della Togashi palsu akan ketahuan oleh si bos mafia? Dan apakah Murata akan menyadari bahwa ia tengah bermain di ‘film palsu’?

Menonton film ini karena tertarik dengan premisnya yang tampak menarik. Gimana coba caranya ada orang yang percaya kalo dia lagi syuting film, tanpa skenario (dialognya terserah si aktor, supaya terkesan natural), kamera yang ceritanya tersembunyi (lagi-lagi biar keliatan natural), dan kru yang cuma tiga orang? Terkesan bodoh banget ya? 😀 Namun, itulah yang jadi sumber kelucuan dari film ini. Tingkah laku Murata dalam berakting di sesuatu yang sebenarnya bukan film itu adalah hal terkocak dari film ini (ya, ini adalah film komedi). Dengan mudahnya, ia berhasil ditipu oleh Bingo. Dan walaupun dengan segala kejanggalan-kejanggalan yang ada pada ‘proses syuting’ film tersebut, Murata tetap percaya bahwa ia memang sedang syuting sebuah film. Adegan pertemuan pertamanya dengan si bos mafia adalah adegan paling menarik di film ini, karena berhasil bikin saya deg-degan sekaligus ketawa. Selanjutnya, masih banyak sederet adegan lucu lainnya, apa lagi selanjutnya Murata akan terseret semakin jauh dengan kelompok mafia tersebut. Dan meskipun kemudian ia mengalami beberapa hal berbahaya, ia masih percaya kalau ia sedang syuting film.

Sato Koichi sangat berhasil memerankan karakter Murata, aktor desperate yang berperan sebagai Della Togashi gadungan. Kepolosannya, dan tingkah lakunya yang banyak gaya, membuat karakter ini akan sangat mudah disukai penontonnya. Meskipun terkesan bodoh, tapi nantinya kita akan mengetahui bahwa karakter ini hanyalah orang biasa yang sangat mencintai pekerjaannya sebagai aktor. Karena itulah, tawaran dari Bingo baginya adalah sesuatu yang menumbuhkan kecintaannya kembali pada pekerjaannya, setelah sebelumnya ia sempat mengalami kebosanan karena selalu memerankan peran-peran tak penting di film-film. Tsumabuki Satoshi pun sangat cocok memerankan karakter pecundang macam Bingo. Begitu pula dengan sederet aktor aktris lainnya macam Fukatsu Eri, Nishida Toshiyuki, Ayase Haruka, Terajima Susumu, Kohinata Fumiyo, dan masih banyak yang lainnya. Dan selain unsur komedinya, salah satu hal menarik dari film yang disutradarai oleh Mitani Koki ini memang lah aktor dan aktris yang berperan di dalamnya. Selain pemain-pemain utama yang sudah saya sebutkan sebelumnya, film ini juga memiliki segudang cameo aktor aktris terkenal, seperti Kagawa Teruyuki, Karasawa Toshiaki, Amami Yuki, Tanihara Shosuke, Suzuki Kyoka, Nakai Kiichi, dan masih ada beberapa lagi. Bahkan, sutradara terkenal Ichikawa Kon pun turut meramaikan film ini sebagai cameo (dan di tahun yang sama dengan rilisnya film ini, beliau meninggal dunia sehingga di akhir film ini terdapat kata-kata “in memory of director Kon Ichikawa”).

Kelebihan lain dari film ini adalah settingnya yang tidak seperti di Jepang. Ya, setting film ini tampak seperti setting di film-film barat klasik tahun 20-30an. Selain itu film ini juga dihiasi oleh lagu-lagu berirama jazz yang menambah kesan film barat klasiknya. Kostum yang digunakan para pemainnya pun turut memperkuat kesan tersebut (seperti gaya berpakaian kelompok mafianya yang lebih mirip mafia Eropa daripada mafia asli Jepang seperti Yakuza). Tampaknya film ini memang dibuat sebagai penghormatan terhadap film barat klasik (dan juga untuk menunjukkan keajaiban proses pembuatan film). Namun, meskipun atribut film ini tampak kebaratan-baratan, film ini tetap terlihat wajar dan tidak terkesan maksa (trivia: di bagian credit film ini kita akan diperlihatkan pada klip mengenai proses pembuatan settingnya).

Well, segini aja review dari saya. Secara keseluruhan saya sangat menyukai film ini karena film ini berhasil menghibur saya dari awal sampai akhir. Cocok ditonton para penyuka komedi, atau penyuka film pada umumnya (karena film ini adalah satu contoh film yang menunjukkan kekuatan sinema). 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »