Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘shugo oshinari’

Gara-gara Hana and Alice, saya jadi tertarik untuk menonton film arahan Shunji Iwai (sutradara Hana and Alice) yang lainnya. Dengar-dengar, All About Lily Chou-Chou adalah salah satu karya terbaik sutradara tersebut. Saya pun menonton film ini. Sama seperti Hana and Alice, Iwai mengangkat tema “dunia remaja” dalam film ini. Namun, jika dunia remaja dalam Hana and Alice digambarkan dengan cerah ceria, tidak begitu dengan All About Lily Chou-Chou. Dunia remaja dalam film ini adalah dunia yang gelap dan suram. Film ini juga mengangkat sebuah realita yang sering terjadi di sekolah-sekolah di Jepang (atau mungkin di negara-negara lainnya) yaitu school bullying.

Sebelum saya bercerita mengenai cerita film ini, mari kita lihat dulu judulnya, All About Lily Chou-chou. Siapakah Lily Chou-chou? Dia adalah tokoh fiktif yang diciptakan khusus untuk film ini. Diceritakan dia adalah penyanyi Jepang yang memiliki banyak penggemar fanatik. “She was born on December 8th 1980, at 10.50 pm, the exact time Mark David Chapman killed John Lennon.” Itu adalah sekelumit kalimat yang menerangkan penyanyi tersebut, melalui percakapan-percakapan dalam sebuah forum internet (atau bbs?). Yang mengucapkan (atau mengetikkan, dalam hal ini) kalimat tersebut adalah Philia, admin forum tersebut. Percakapan dalam forum tersebut pun mengalir, yang kebanyakan memuja Lily (namun ada jg yang menghujat) sebagai penyanyi yang memiliki Ether, yang maksud dari kata itu sendiri saya tidak tahu. Namun mengenai kata itu, mari kita bahas nanti.

Percakapan-percakapan awal di forum itu terdapat pada opening film ini yang menurut saya cukup keren, dengan pemandangan seorang remaja laki-laki tengah berdiri di tengah sawah (tunjuk poster) yang sedang mendengarkan musik dari discman-nya (waktu itu belum jaman Ipod :p), dan diiringi lagu Arabesque dari Lily Chou-chou. Remaja laki-laki itu bernama Yuichi Hasumi (Hayato Ichihara). Dia adalah remaja berusia sekitar 14 tahun dan merupakan salah satu pemuja Lily Chou-chou. Lalu kita akan melihat bagaimana kesehariannya, berkeliaran dengan anak-anak nakal, mencuri CD (bukan, bukan yang segitiga) dari toko dan menjualnya kembali. Lalu, apakah itu berarti Yuichi anak nakal? Tidak. Yuichi melakukan itu karena ancaman seseorang, yaitu Hoshino (Shugo Oshinari) yang meupakan teman sekolahnya. Yuichi adalah kaki tangan sekaligus korban bullying Hoshino. Hoshino selalu menyiksa dan mempermalukan dirinya, bahkan ia juga menghancurkan CD album terbaru Lily Chou-chou kepunyaan Yuichi.

Kita kemudian akan dibawa pada beberapa waktu sebelum itu terjadi. Kita akan dikejutkan bahwa dulu, Yuichi dan Hoshino adalah sahabat dekat. Bahkan, yang memperkenalkan musik Lily Chou-chou pada Yuichi adalah Hoshino. Hoshino juga dulu terkenal sebagai anak baik-baik dan salah satu siswa terpintar di sekolah. Setelah berlibur ke Okinawa dengan Yuichi dan teman-teman lainnya, perubahan mulai tampak pada diri Hoshino. Ia jadi badung dan nakal, dan suka membully anak-anak lainnya, termasuk sahabatnya sendiri, Yuichi. Salah satu korban lainnya adalah Shiori Tsuda (Yu Aoi), teman sekelas Yuichi, yang diseret oleh Hoshino untuk memasuki dunia prostitusi dan mengambil sebagian keuntungan yang didapatnya. Lalu ada juga Yoko Kuno (Ito Ayumi), gadis yang pintar memainkan piano dan pecinta Debussy, yang kemudian turut menjadi korban bullying Hoshino. Lalu, apa yang akan terjadi pada mereka semua? Apakah Hoshino akan berhenti melakukan tindakan kejam pada teman-temannya? Apa hubungannya dengan Lily Chou-chou? Tonton aja deh.

All About Lily Chou-Chou adalah sebuah film yang memiliki dua kemungkinan bagi anda yang menontonnya. Yang menontonnya mungkin akan membenci atau mencintai film ini, namun  akan jarang yang menganggapnya biasa-biasa saja selain dua perasaan tersebut (ini teori seenak saya, gak usah dipercaya). Saya sendiri termasuk ke golongan nomor 2, yaitu yang mencintai film ini. Well, setelah menonton film ini, saya terus kepikiran dan terngiang-ngiang sama ceritanya. Film ini ‘sakit’ dan bikin depresi (dan sepertinya saya penyuka film-film depressing). Film ini membuat kita merasa miris melihat anak-anak remaja yang harusnya memiliki masa depan yang masih sangat panjang harus dihancurkan hidupnya hanya karena satu orang. Namun, itulah kenyataannya. Hidup memang bisa menjadi sangat kejam.

Untuk karakter Hoshino sendiri, saya tidak bisa membenci karakter ini. Bukannya saya menyetujui tindakan tak terpuji karakter ini. Tapi perasaan saya pada dia lebih kepada kasihan daripada benci. Mungkin orang-orang akan bertanya, kenapa karakter ini tiba-tiba berubah? Saya rasa itu bukan tanpa alasan. Menurut saya, dia lelah karena selalu dianggap sebagai orang yang cerdas dan sempurna, padahal dia tidak seperti itu. Ia ingin orang lain melihat dirinya sebagaimana dirinya yang sebenarnya, namun orang-orang tetap memandangnya terlalu tinggi. Nobody understands me, katanya. Karena itu, ketika di Okinawa ia hampir mati karena tenggelam, ia mulai berubah dan melepaskan image baik-baik yang dikenakannya, dan segala rasa muak yang ia tahan sebelumnya ia keluarkan habis-habisan karena pengalaman hampir matinya tersebut membuatnya merasa mungkin ia tidak akan mendapat kesempatan hidup lagi, sehingga ia mulai menampakan kepribadiannya yang sebenarnya.

Semua pemain di film ini berakting dengan baik. Well, akting mereka lebih banyak ditunjukkan melalui ekspresi-ekspresi yang mereka tampilkan (yang menurut saya inilah kelebihan film Jepang, aktor-aktrisnya lebih banyak bermain dengan ekspresi, sehingga banyak film jepang yang dialognya tidak begitu banyak). Oh ya, di film ini juga  ada Yu Aoi (yang jadi Alice di Hana and Alice) dan menurut saya aktingnya bagus banget. Dia memang aktris yang sangat berbakat 🙂 Dan, seperti di Hana and Alice, sinematografi film ini juga sangat bagus. Selain selalu menyuguhkan cerita yang bagus, kelebihan Shunji Iwai tampaknya ada pada sinematografinya yang wajib diberi 4 jempol. Salut!

Lalu, apa hubungannya Lily Chou-Chou dengan cerita film in? Well, 4 karakter utama film ini semuanya adalah penggemar Lily Chou-Chou (meskipun karakter Shiori baru suka belakangan). Menurut pendapat anggota forum pecinta Lily Chou-Chou yang ada di film ini, musik Lily Chou-Chou itu memiliki ether, yang menurut salah satu anggota dapat diartikan sebagai “a place of eternal peace”. Lily Chou-Chou adalah semacam pelarian dari kehidupan nyata mereka yang penuh kesemrawutan. Hanya dengan mendengar Lily Chou-Chou sajalah mereka dapat menemukan kedamaian. Makanya karakter Lily Chou-Chou ini dipuja habis-habisan oleh para penggemarnya karena musiknya dianggap dapat menyembuhkan luka mereka. Oh ya, percakapan di forum tersebut (yang terselip di beberapa adegannya) memberikan suatu teka-teki tersendiri untuk kita pecahkan. Kita akan dibuat bertanya-tanya apakah user-user forum tersebut adalah karakter-karakter di film ini (seperti Yuichi, Hoshino, dan lainnya)? Kita dapat melihat bahwa user yang menonjol di forum tersebut adalah Philia (admin forum tersebut) dan Blue Cat (member yg tergolong baru dan kemudian memiliki semacam ‘kedekatan’ dengan Philia di forum tersebut). Siapakah mereka sebenarnya? Hal tersebut akan terjawab di bagian akhir, meskipun hal tersebut diperlihatkan secara tersirat, tapi kalo jeli pasti akan ketebak (dan hal tersebut tidak sesuai bayangan saya di awal-awal). Terakhir, soundtrack film ini bener-bener bagus!! Saya langsung download soundtrack film ini (btw yang menyanyikan lagu-lagu di album ini sekaligus yg memerankan Lily Chou-Chou adalah penyanyi Jepang bernama Salyu) dan lagu-lagunya langsung nempel di kepala saya. Dan setelah mendengar soundtracknya, rasanya saya jadi benar-benar mengerti makna kata “the ether” yang sering dibilang penggemar Lily Chou-chou. YES! I CAN FEEL THE ETHER! Favorit saya lagu Glide yang berada di bagian credits film ini. Benar-benar lagu yang bagus dan penempatannya juga pas 🙂 Terakhir (terakhir terus nih, kapan beresnya?), meskipun karakter Lily Chou-Chou ini hanya hidup melalui lagu-lagu serta pembicaraan para anggota forum (dan cuplikan video klip di konser), menurut saya karakter ini terasa nyata sekali. Sayangnya ini cuma karakter fiktif.

Hmm, sebenernya masih banyak yang pengen saya tulis mengenai film ini karena film ini menurut saya berpotensi untuk mengundang berbagai macam diskusi, tapi tampaknya reviewnya udah kepanjangan ya. Saran terakhir saya, lebih baik tonton film ini setidaknya dua kali, karena menurut saya film ini tidak mudah dipahami dengan sekali nonton. 5 bintang dari saya 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »