Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘toda keiko’

I love Japanese comedy, terutama komedi yang terdapat dalam film atau dorama asal negara tersebut. Dan jika kita berbicara tentang film komedi Jepang, nama Mitani Koki tentunya tidak boleh luput dari pembicaraan. Siapakah dia? Yeah, dia adalah seorang penulis sekaligus sutradara di balik beberapa film komedi terkenal di Jepang. Tidak hanya film, ia juga menulis/menyutradarai beberapa serial tv dan juga pertunjukkan teater. Meskipun cukup terkenal di Jepang, saya sendiri sebenarnya masih asing dengan karya sutradara ini. Saya cuma pernah menontonnya tiga karyanya, yaitu The Magic Hour, Suteki na Kakushidori, dan karyanya yang paling baru Suteki na Kanashibari/A Ghost of a Chance (sayangnya yang ini agak mengecewakan). Dan baru-baru ini akhirnya saya menemukan salah satu filmnya yang lain yang berjudul Welcome Back, Mr. McDonald (judul asli: Rajio no Jikan). Film ini sendiri adalah debut penyutradaraan dari Mitani Koki setelah sebelumnya lebih sering menyutradarai pertunjukkan teater. Dan setelah menonton film ini, saya rasa sebutan Japan’s Master of Comedy yang sering disematkan pada namanya di banyak artikel bukanlah sesuatu yang berlebihan.

Lalu, bercerita tentang apakah film Welcome Back, Mr. McDonald ini? Cukup sederhana, yaitu tentang proses pembuatan sebuah drama radio. Drama radio tersebut berasal dari naskah yang ditulis Suzuki Miyako (Suzuki Kyoka). Miyako sendiri adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Naskah drama berjudul “Woman of Destiny” itu adalah naskah pertama yang ditulisnya. Dan ia beruntung karena naskah pertamanya tersebut berhasil memenangkan lomba penulisan naskah drama radio yang diadakan sebuah stasiun radio. Dan sebentar lagi, naskah tersebut akan diwujudkan menjadi drama radio yang disiarkan secara langsung pada tengah malam. Tidak ada kesulitan yang berarti ketika rehearsal dilakukan. Namun, setelah itu muncul masalah kecil ketika aktris yang mengisi suara pemeran utama drama radio tersebut meminta nama dari peran yang dimainkannya diganti hanya beberapa saat sebelum on air. Sang produser, Ushijima, sama sekali tidak berani menolak permintaan Senbon Nokko (nama aktris tersebut, diperankan Toda Keiko). Maka bergantilah nama karakter utama drama radio tersebut, dari Ritsuko menjadi Mary Jane. Perubahan satu nama saja harusnya sih tidak menjadi masalah besar ya. Harusnya. Tapi hal tersebut rupanya memancing rasa iri dari pemain lain, dan kemudian berujung pada banyak perubahan lain. Lalu, perubahan apa saja kah yang terjadi pada naskah tersebut? Bagaimana perasaan Miyako melihat naskah yang ditulisnya diacak-acak dan menjadi sangat berbeda? Dan apakah proses pembuatan drama radio tersebut akan berakhir dengan lancar? Tonton aja deh.

Yak, satu lagi film komedi Jepang favorit saya. Welcome Back, Mr. McDonald adalah salah satu film yang berhasil bikin saya ketawa terus hampir sepanjang film berlangsung. Jika harus membandingkan dengan film lain, kesan yang dihasilkan film ini hampir mirip dengan kesan saya terhadap film Kisaragi. Keduanya sama-sama bercerita tentang satu buah peristiwa saja dengan lokasi yang terbatas. Keduanya juga menyimpan kejutan-kejutan kecil yang bisa membuat penonton merasa deg-degan terhadap hal-hal yang akan terjadi selanjutnya. Selain itu, kelucuan dari kedua film tersebut juga sama-sama disetir oleh karakter-karakternya yang beraneka ragam. Makanya, jika kamu menyukai Kisaragi, rasanya akan sulit untuk tidak menyukai film ini.

Karakterisasi tokoh-tokoh dalam film ini memang merupakan faktor utama yang membuat film ini menjadi sangat lucu. Meskipun hanya berkisar pada satu buah peristiwa selama kurang lebih satu sampai dua jam saja, dengan mudah kita bisa langsung mengetahui seperti apa kepribadian tokoh-tokohnya. Tokoh-tokoh tersebut antara lain adalah Miyako, si penulis amatir yang pemalu dan tidak bisa berbuat apa-apa ketika naskah ciptaannya diubah dengan seenaknya; Kudo (Karasawa Toshiaki), si sutradara yang cool dan kadang berkata pedas; Ushijima (Nishimura Masahiko), si produser (?) berwajah ramah tapi kurang tegas dalam bertindak; Senbon Nokko, aktris yang bertingkah bak putri raja  sekaligus sumber dari segala permasalahan film ini. Selain mereka, masih ada beberapa tokoh lainnya yang juga berperan penting terhadap perkembangan ceritanya. Segala tindakan dan pilihan tak terduga dari para karakternya lah yang membuat film ini menjadi sangat fun dan penuh kejutan. Hal itu juga membuat film ini jadi sedikit menegangkan dan bikin saya deg-degan dan penasaran ingin tahu perubahan apa lagi yang akan terjadi selanjutnya. Selain unsur tersebut, satu lagi yang membuat film ini menjadi sangat menarik adalah kita bisa melihat proses pembuatan sound effect secara alami di film ini. Hal tersebut terjadi karena CD effect yang mereka miliki terkunci di ruangan lain. Oleh karena itu secara terpaksa mereka harus membuat sound effect sendiri (dengan bantuan seorang kakek). Dan hal tersebut menurut saya sangat mengagumkan 😀

Well, segini aja deh review dari saya. Overall, saya sangat menyukai film ini. Dan meskipun baru sedikit film-film Mitani Koki yang sudah saya tonton, menurut saya ini adalah karyanya yang terbaik. Film ini juga termasuk film yang bisa saya tonton berulang kali. 4 bintang untuk film ini 😀

Trivia: Dalam film ini Mitani Koki tampaknya melakukan tribute untuk sutradara terkenal Itami Juzo (1933-1997). Hal tersebut terlihat dari kemunculan Watanabe Ken yang berperan sebagai seorang supir truk yang sedang mendengarkan siaran drama radio di truknya. Watanabe Ken sendiri juga pernah berperan sebagai seorang supir truk dalam film Itami Juzo yang berjudul Tampopo. Selain itu, di film ini juga ada penampilan cameo dari Miyamoto Nobuko, istri dari Itami Juzo yang juga membintangi sebagian besar film karya suaminya.

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

Tahun 2011 lalu, sutradara Jepang Mitani Koki (The Magic Hour) merilis dua buah proyek dalam waktu yang berdekatan. Dua buah proyek tersebut adalah sebuah film bioskop berjudul Suteki na Kanashibari (bisa disingkat menjadi Sutekana) dan sebuah tanpatsu (dorama yang terdiri dari kurang lebih satu sampai dua episode saja, semacam FTV gitu deh) yang berjudul Suteki na Kakushidori (bisa disingkat menjadi Sutekaku). Yang akan saya review kali ini adalah tanpatsunya yang berjudul Sutekaku, yang tampaknya dibuat dalam rangka menyambut rilisnya Sutekana. Meskipun memiliki judul yang hampir mirip, Sutekaku sendiri tidak memiliki hubungan dengan Sutekana dari segi ceritanya. Namun, kedua proyek tersebut sama-sama memiliki cast yang sama (Fukatsu Eri, Nishida Toshiyuki, Takeuchi Yuko, dll).

Sutekaku bercerita tentang seorang concierge hotel bernama Saijo Mie (Fukatsu Eri). Seperti pekerjaan concierge hotel pada umumnya, ia ditugaskan untuk memenuhi permintaan-permintaan dari para pelanggan hotelnya. Permintaan itu bisa apa saja, mulai dari yang normal sampai yang absurd sekalipun. Mulai dari permintaan macam memesankan reservasi di restoran sampai permintaan untuk menjadi model foto untuk salah satu pelanggan hotel yang seorang fotografer. Seorang concierge tidak boleh mengatakan “tidak” pada pelanggannya. Ia diwajibkan untuk memenuhi segala permintaan pelanggannya, meskipun permintaan tersebut adalah permintaan yang sifatnya tidak mungkin dikabulkan.

Saijo adalah seorang concierge yang baru bekerja selama satu bulan. Ia sendiri merasa dirinya tidak cocok dengan pekerjaan tersebut. Tanpatsu ini bercerita tentang usaha Saijo dalam memenuhi permintaan dari berbagai macam pelanggan hotelnya (yang kebanyakan orang-orang kaya yang memesan suite room) secara bergantian. Para pelanggan tersebut memiliki latar belakang dan permintaan yang berbeda-beda. Ada pelanggan yang berprofesi sebagai seniman (diperankan Asano Tadanobu) yang meminta Saijo untuk memberi inspirasi untuk karya barunya, ada sutradara (diperankan Mitani Koki yang merupakan sutradara film ini) yang baru merilis film barunya dan meminta Saijo untuk memuji-muji filmnya, ada seorang guru masak (diperankan Takeuchi Yuko) yang sebenarnya tidak bisa memasak sama sekali dan meminta Saijo untuk membantunya berlatih memasak, dan masih banyak lagi pelanggan lainnya. Lalu, apakah Saijo akan berhasil memenuhi permintaan-permintaan aneh para pelanggannya tersebut? Apakah dia memang tidak cocok dengan pekerjaannya sebagai concierge?

Menonton Sutekaku bagi saya rasanya tidak seperti menonton film cerita pada umumnya, tapi seperti menonton acara komedi di televisi. Hal itu dikuatkan dengan gaya kameranya yang dibikin ala-ala candid camera, sehingga adegan-adegan dalam tanpatsu ini memiliki kesan yang real meskipun memiliki cerita yang aneh. Ya, tanpatsu ini memang terasa seperti sebuah eksperimen komedi, di mana kelucuannya dihasilkan dari interaksi Fukatsu Eri dengan pelanggan hotel yang berbeda-beda. Meskipun scripted, tapi banyak adegan yang terkesan sebagai improvisasi dan tampaknya tidak ada di skenarionya (seperti adegan Takeuchi Yuko kepeleset, itu saya yakin banget jatuhnya gak sengaja dan gak ada di skenario). Hal itu membuat tanpatsu ini menjadi sangat fun dan asik ditonton.

Seperti yang saya saya bilang sebelumnya, kelucuan di sini dihasilkan dari interaksi antara tokoh yang diperankan Fukatsu Eri dengan para pelanggan hotelnya. Dan yang paling saya suka, pelanggannya kayaknya gak ada yang normal sama sekali 😀 Salut untuk para aktor dan aktris yang berperan sebagai pelanggan di sini, mulai dari Asano Tadanobu, Nishida Toshiyuki, Kusanagi Tsuyoshi, Takeuchi Yuko, dan masih banyak lagi (termasuk beberapa cameo seperti Nakai Kiichi dan Abe Hiroshi). Mereka semua berhasil memerankan perannya masing-masing dengan baik (dan membuat saya membayangkan mereka pasti mengalami proses syuting yang menyenangkan, mengingat sutradaranya sendiri keliatannya emang kocak). Tapi tentu saja yang paling membuat tanpatsu ini menjadi begitu hidup adalah Fukatsu Eri. Saya sukaaa banget sama akting dan karakternya di sini. Fukatsu Eri sangat sukses memerankan Saijo yang ekspresif dan kadang kepedean. Dan interaksinya dengan pemain-pemain lainnya sangat kocak dan menarik untuk disimak. Dan gara-gara tanpatsu ini, saya jadi pengen tahu seperti apakah pekerjaan concierge yang sebenarnya 😀

Tanpatsu satu episode yang memiliki durasi kurang lebih 107 menit ini sendiri tampaknya memang dibuat sebagai sekadar hiburan dan lucu-lucuan saja (dan untuk promosi Sutekana). Jadi, jika kamu menonton ini dengan tujuan untuk mencari makna yang mendalam atau semacamnya, siap-siap kecewa deh. Tapi sebaliknya, jika kamu memang mencari hiburan ringan yang bisa bikin ketawa, maka ini adalah tontonan untuk anda (meskipun saya tidak menjamin kamu akan menyukai tanpatsu ini. Film/drama Jepang itu punya gaya komedi yang lain daripada yang lain. Jadi sebagian mungkin gak bakal nangkep apa lucunya dan menganggap ini aneh. Tapi jika sudah terbiasa menonton film/drama komedi buatan Jepang seperti saya, maka kamu mungkin akan menyukai tanpatsu ini). Well, segini aja review dari saya. Secara keseluruhan sih saya sangat menyukai tanpatsu ini (yang membuat saya semakin ingin menonton Sutekana, yang trailernya ditampilkan sesudah tanpatsu ini). Jadi, 4 bintang deh 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »