Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘tokyo jihen’

Sebuah bus sekolah yang berisi satu orang supir dan empat orang siswi tengah melaju di jalanan sebuah kota kecil bernama Atami. Di tengah jalan, mereka melihat ada seorang kakek tua yang terbaring di jalanan. Sang supir pun turun dari bus untuk melihat keadaan kakek tua tersebut. Lalu, tiba-tiba bus yang berisi empat orang siswi tersebut melaju sendiri. Si supir yang tengah menolong kakek tua tersebut pun langsung berlari mengejar bus tersebut. Sayangnya, bus tersebut tidak berhasil dikejar dan menghilang bersamaan dengan munculnya kabut.

Tim polisi lokal (yang sepertinya sebelum ini kebanyakan nganggur) pun dikerahkan untuk mencari bus tersebut. Namun, pencarian tersebut tidak membuahkan hasil. Meskipun begitu, salah seorang siswi yang naik bus tersebut, yaitu Shinonome Mai, berhasil ditemukan dalam keadaan tidak sadar. Tiga tahun berlalu setelah kejadian itu. Mai, satu-satunya siswi yang ditemukan tersebut, akhirnya bangun setelah mengalami koma selama tiga tahun. Namun, ia sudah tidak ingat apa-apa mengenai kejadian yang ia alami tiga tahun yang lalu. Dua orang penyelidik dari Wide Area Investigator pun datang ke Atami untuk menyelidiki kasus bus yang hilang tersebut. Dua orang penyelidik tersebut adalah Hoshizaki Kenzo (Odagiri Joe) dan Kitajima Sae (Kuriyama Chiaki). Lalu, apa yang terjadi selanjutnya? Apakah bus tersebut berhasil ditemukan? Apa yang terjadi pada tiga orang siswi yang belum ditemukan? Dan, apakah ada yang menjadi dalang di balik hal tersebut?

Yak, satu lagi dorama detektif yang sudah saya tonton. Berbeda dengan dorama detektif lain yang biasanya berformat satu episode satu kasus, kasus yang diselidiki dalam Atami no Sousakan hanya berkutat pada kasus hilangnya bus tersebut. Jadi mungkin kamu akan sedikit merasa bosan karena kemajuan dalam penyelidikan kasus tersebut terasa agak lambat. Tapi untung saja dorama ini memiliki unsur komedi yang berhasil membuat saya tertawa dan bertahan menonton dorama ini. Memang, unsur komedinya bukan tipe komedi yang gampang disukai semua orang, termasuk oleh penggemar dorama Jepang sekalipun.  Namun, jika kamu menyukai unsur komedi seperti yang ada pada dorama Jikou Keisatsu (dibintangi Odagiri Joe juga) atau film-film Jepang seperti Turtles Swim Faster Than Expected, Adrift in Tokyo, dan Instant Numa, maka kamu pasti akan sangat menyukai dorama ini. Apa kesamaan judul-judul tersebut dengan Atami no Sousakan? Ya, ada pada sutradaranya yang sama, yaitu Miki Satoshi. Miki Satoshi adalah salah satu sutradara film Jepang yang memiliki gaya komedi yang sangat khas (seperti pada Turtles Swim Faster than Expected yang sudah pernah saya review di sini). Gaya komedinya cenderung aneh, garing, dan gak penting. Namun, jika kamu sudah terbiasa dengan gayanya, maka kamu pasti akan dibuat tertawa dengan komedi yang ditampilkan dalam dorama ini.

Yang patut diacungi jempol dari dorama ini adalah akting dari para pemainnya. Sebagian aktor/aktris dalam dorama ini sebelumnya sudah pernah bermain dalam film/dorama yang disutradarai Miki Satoshi, sehingga tampaknya mereka sudah nyaman dengan gaya penyutradaraan Miki Satoshi. Misalnya Odagiri Joe, sang pemeran utama, yang sudah beberapa kali bekerja sama dengan Miki Satoshi (dua season Jikou Keisatsu, Adrift in Tokyo). Di sini ia berperan dengan sangat bagus sebagai Hoshizaki, detektif cerdas yang memiliki peralatan-peralatan aneh untuk membantu penyelidikannya. Fuse Eri, Iwamatsu Ryo, dan Matsushige Yutaka yang sudah sering bekerja sama dengan Miki Satoshi pun memerankan perannya masing-masing dengan sangat baik, terutama Fuse Eri yang sangat mencuri perhatian di sini dengan perannya sebagai polisi lokal yang hobi sekali mengerjai Hoshizaki. Adegan yang melibatkan dia selalu berhasil membuat saya tertawa. Kuriyama Chiaki (Kill Bill Volume 1, Battle Royale) yang belum pernah bekerja sama dengan Miki Satoshi sebelumnya pun berhasil memerankan perannya dengan baik dan tidak canggung. Selain karakter-karakter di atas, dorama ini juga dihiasi oleh wajah-wajah muda yang tampaknya akan memiliki masa depan cerah di perfilman Jepang. Contohnya Miyoshi Ayaka, Nikaido Fumi (yang wajahnya mirip Miyazaki Aoi), Yamazaki Kento, dan Sometani Shota, yang berperan sebagai siswa dan siswi Eternal Forest School, satu-satunya sekolah di kota Atami yang sebagian besar muridnya adalah perempuan (murid cowoknya cuma dua orang).

Untuk bagian penyelidikannya, mungkin penyelidikan dalam dorama ini tidak semenarik dorama detektif lainnya. Namun, setelah beberapa episode (btw dorama ini terdiri dari 8 episode), saya mulai menyadari bahwa ini bukanlah dorama tentang detektif. Fokus utama dorama ini adalah misteri yang ada di dalamnya, yang bukan hanya tentang misteri bus yang hilang saja, tapi misteri tentang kota Atami itu sendiri.  Detektif hanyalah alat yang digunakan untuk memecahkan misteri tersebut. Jadi jika kamu menonton dorama ini dengan harapan ingin melihat detektif yang keren dengan penyelidikan yang keren juga, siap-siap kecewa deh. Tapi jika yang ingin kamu lihat adalah misteri di dalamnya, maka kamu akan menyukai dorama ini. Ending dorama ini sendiri masih menyisakan banyak pertanyaan. Tampaknya, Miki Satoshi sengaja membiarkan penonton untuk menafsirkan sendiri endingnya. Awalnya saya bingung ketika melihat ending dari dorama ini. Namun, kalau kamu jeli, petunjuk-petunjuk tentang misteri yang sesungguhnya dari dorama ini sudah ada dari episode awal kok. Selain itu, dengerin deh theme song dari dorama ini, yaitu lagu berjudul Tengoku e Youkoso yang dibawakan oleh band Tokyo Jihen. Selain pas ditempatkan dalam dorama ini, lirik dalam lagu berbahasa Inggris ini juga sangat tepat dalam menggambarkan hal yang ingin disampaikan dorama ini.

Ja, 4 bintang deh untuk dorama ini. Recommended! Terutama untuk kamu penggemar film/dorama berbau misteri atau penggemar film-filmnya Miki Satoshi.

Trivia: Lampu Yes-No yang dimiliki oleh Hoshizaki serta karakter nenek-nenek yang sedang memakan Chupa Chups dalam dorama ini juga terlihat dalam film Miki Satoshi yang berjudul The Insects Unlisted in the Encyclopedia. Twist dalam Atami no Sousakan sendiri merupakan tema dari film tersebut (dan tampaknya Miki Satoshi terobsesi dengan hal tersebut, hehe). Selain itu, ada satu lokasi dalam film itu yang mirip dengan salah satu lokasi dalam Atami no Sousakan.

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

Yak, akhirnya saya memberanikan diri untuk membuat review dari album ini. Ini review musik pertama saya, dan terus terang saya gak pede banget buat bikin review tentang musik, berhubung saya ini cuma penikmat musik amatir dan sampai sekarang masih sering mengalami kesulitan dalam membedakan berbagai genre musik. But, saya berusaha keras membuat review ini. Berhubung ini review dari album band kesayangan saya, Tokyo Jihen, yang udah saya kagumi sejak tahun 2008 lalu.

Album SPORTS ini adalah album Tokyo Jihen (atau bisa juga disebut Tokyo Incidents) yang ke-4. Judulnya sendiri memiliki hubungan dengan judul-judul album sebelumnya, yaitu Kyouiku (Education), Adult, dan Variety, yang semuanya merupakan genre-genre acara televisi. Album ini dirilis pada tanggal 24 Februari 2010 kemarin. Tapi fans mereka sangat beruntung karena album ini sudah beredar di internet kira-kira seminggu sebelum tanggal perilisannya. Siapapun itu yang menguploadnya, sembah sujud deh saya *halah*.

Sebelum membahas album SPORTS ini, mungkin lebih baik saya membahas Tokyo Jihen-nya dulu. Band macam apa sih Tokyo Jihen itu? Kenapa saya bisa segitu tergila-gilanya sama band Jepang satu ini? *halah yg ini kagak perlu ditanya keknya :p* Well, Tokyo Jihen ini adalah sebuah band yang dibentuk oleh Shiina Ringo, seorang penyanyi solo wanita terkenal di Jepang yang meninggalkan karir solo-nya dengan membentuk band ini. Unik bukan? Biasanya para musisi yang saya tahu awalnya berkarir di band dulu sebelum akhirnya memilih untuk solo karir. Kalau Shiina Ringo, ia solo dulu baru bikin band. Well, Shiina Ringo sendiri tampaknya gak main-main dalam membentuk band ini. Member-member yang dipilihnya adalah musisi-musisi handal Jepang (contohnya: bassist band ini, Kameda, adalah produser musik yang cukup terkemuka di Jepang). Sehingga band ini pun memiliki musikalitas yang sangat hebat. Kalo ditanya genre Tokyo Jihen itu apa? Saya rasa susah untuk menggambarkan jenis musik mereka karena mereka sering mencampurkan berbagai genre musik, yang membuat band ini semakin unik. Tapi secara keseluruhan Tokyo Jihen memiliki genre fusion jazz, karena Tokyo Jihen memiliki genre utama jazz yang juga dicampur dengan genre-genre lain seperti rock.

SPORTS sendiri memiliki lagu berjumlah 13 lagu. Dua di antaranya, Senko Shoujo dan Noudouteki Sanpunkan sudah rilis terlebih dahulu sebagai single. Pembuka lagu ini adalah Ikiru (Living), sebuah lagu yang dibawakan secara a capella. Well, ini adalah lagu Tokyo Jihen yang pertama yang dibawakan secara a capella (tapi tidak penuh a capella karena menjelang akhir mulai terdengar suara alat musik satu persatu). Dan lagu ini bener-bener bikin saya merinding! Sebuah pembuka yang bagus untuk album ini. Dilanjutkan dengan lagu Denpa Tsuushin (Radio Communication), yang nge-rock dengan dipadu music elektronik. Ini adalah salah satu track favorit saya, karena komposisinya begitu dahsyat dan unik. Track ke-3 adalah Season Sayonara (Season Goodbye), dan dilanjut dengan track ke-4 yang berjudul Kachi Ikusa (Victory). Well, Kachi Ikusa ini adalah salah satu track favorit saya juga. Lagunya sangat asik didengar serta didukung oleh lirik (yang semuanya bahasa Inggris) yang bagus (well, pelafalan bahasa Inggris Shiina Ringo juga lumayan lancar). Track ke-5 F.O.U.L, amat nge-rock dan kalau pertama didengar terkesan gak easy listening karena berisik, tapi lama-lama lagu ini jadi amat sangat bikin kecanduan. Lagu ini sedikit mengingatkan saya pada lagu Service yang ada di album Kyouiku, sama-sama asik dan ngerock abis. Track ke-6 adalah Utten Kekkou (Rainy Action), cukup easy listening dan suara Shiina Ringo terdengar sangat imut di sini ^^ Track 7, Noudouteki Sanpunkan (An Active Three Minutes), sesuai judulnya memiliki durasi tepat tiga menit! Lagu ini sudah keluar sebelumnya sebagai single, dan pv-nya sendiri sangat menarik karena di pv ini kita bisa menyaksikan Shiina Ringo dan member Tokyo Jihen lainnya melakukan gerakan moonwalk yang terkenal sebagai gerakan khas sang king of pop Michael Jackson. Track ke-8, Zettai Zetsumei (Desperate Situation), adalah lagu yang paling saya sukai di album ini. Suara Shiina Ringo di bagian awal terdengar imut, dan entah kenapa lagu ini, semakin sering didengar rasanya semakin enak ^^ Track ke-9, F.A.I.R, berirama jazz yang sangat nyaman di telinga. Noriki (Anxiety), sebagai track ke-10, juga enak didengar, dan lagu ini memiliki sound yang membuat suasananya seperti suasana film horror *err….gimana ya menggambarkannya?*. Track 11, Sweet Spot, memiliki kesamaan dengan Kachi Ikusa karena liriknya ditulis dalam bahasa Inggris. Lagu ini memiliki irama R & B, dan suara Shiina Ringo di lagu ini sangat memanjakan telinga. Entah kenapa denger lagu ini bikin saya jadi merasa seksi *halah*.  Senko Shoujo (Flash Girl), yang merupakan track ke-12, sangat asik didengar, pv-nya juga lumayan unik. Terakhir, track ke-13 adalah Kimaru (Dying), lagunya lumayan lambat dan sangat cocok sebagai lagu pengantar tidur. Di antara ke-13 lagu di album ini, ini adalah lagu yang paling jarang saya dengar (mungkin karena saya gak begitu suka lagu yang lambat). Tapi meskipun lambat, lagu ini memiliki musik yang bagus 🙂

Secara keseluruhan, ini adalah album yang sangat bagus dan memuaskan. Favorit saya di album ini adalah Zettai Zetsumei, Denpa Tsuushin, Noudouteki Sanpunkan, Sweet Spot, Kachi Ikusa. Lagu-lagu lainnya pun sama-sama keren dan enak buat didenger. Saya kasih 4,5 bintang deh.

Rating : 1 2 3 4,5 5

Read Full Post »