Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘vincent paronnaud’

Film animasi produksi Prancis ini (tapi saya nonton versi yang didubbing pake bahasa Inggris :D) menceritakan kehidupan seorang perempuan Iran bernama Marjane Satrapi. Ya, Marjane Satrapi ini adalah sutradara dari film ini sendiri (didampingi Vincent Paronnaud). Persepolis sendiri diangkat dari komik (atau bahasa kerennya graphic-novel) autobiografi karyanya yang memiliki judul sama.

Marjane Satrapi (yang biasa dipanggil Marji) adalah seorang anak perempuan yang berasal dari sebuah keluarga liberal nan demokratis. Pada masa itu, sedang ramai masyarakat yang mengajukan tuntutan untuk menurunkan pemimpin Iran saat itu yang memiliki sifat diktator dan kebarat-baratan. Banyak pejuang revolusi yang ditangkap dan keluar masuk penjara pada saat itu, termasuk kakek dan paman Marjane.

Perjuangan mencapai revolusi itu akhirnya berhasil dan pemimpin pada saat itu berhasil diturunkan. Namun, bukannya membawa Iran pada sebuah kebebasan, revolusi malah membawa Iran ke suatu sistem baru yang lebih parah dari sebelumnya, di mana Iran menjadi suatu negara Islam fundamental, di mana kebebasan banyak dikekang dan hal-hal yang dinilai bertentangan dengan agama tidak diperbolehkan ada di negara itu (selain itu, semua perempuan di Iran diharuskan memakai jilbab). Hal itu tentunya tidak cocok dengan Marjane dan keluarganya yang sangat demokratis itu. Apalagi, Marjane kecil adalah penggemar musik punk, menyukai Michael Jackson, dan senang memakai sepatu sneaker. Dan hal itu tentu saja dilarang! Ada satu scene yang amat lucu dan menggelikan di mana transaksi album musik saja dilakukan secara sembunyi-sembunyi seolah-olah seperti sedang transaksi narkoba (pada saat itu ceritanya si Marjane ini sedang membeli album Iron Maiden). Berlebihan banget ya rasanya. Apalagi di mana-mana ada polisi yang ditugaskan untuk mengawasi tingkah laku orang-orang.

Selain hal tersebut, hal itu juga diperparah dengan serangan Irak ke Iran (err….saya lupa tahunnya). Hal itu membuat Marjane dikirim ke Vienna (Austria) untuk sekolah di sana karena Iran sudah tidak aman lagi. Hal itu turut mengubah diri Marjane karena tidak seperti di Iran, kebebasan sangat terbuka lebar di Austria. Marjane kemudian bergaul dengan orang-orang yang berjiwa bebas, senang berpesta, merokok, dan menemukan orang yang dicintainya. Namun, suatu hari ia dikhianati oleh pacarnya dan hal itu membuatnya sangat terpuruk sehingga ia memutuskan untuk kembali ke Iran karena sudah tidak tahan berada di Vienna. Kembalinya ke Iran, keadaan ternyata tidak berubah sama sekali. Revolusi Islam yang bersifat radikal tersebut masih berjalan. Lalu, apa yang akan terjadi pada Marjane? Tonton aja deh.

Film ini baguuuuuus sekali. Kelebihan dari film ini (dan hal yang paling saya suka dari film ini) adalah animasinya yang menurut saya gak kalah dari animasi-animasi disney atau pixar. Malah, menurut saya animasi-nya memiliki perbedaan dan ciri khas sendiri dibanding film-film animasi yang pernah saya tonton sebelumnya. Terus terus, animasi 2D ini 98 % nya dihiasi warna hitam putih saja, dan hal itu sama sekali tidak menurunkan daya tarik film ini, malah itu merupakan salah satu nilai lebih film ini dan tidak kalah menarik dengan film-film animasi berwarna.

Film animasi ini bukanlah film yang pantas ditonton oleh anak kecil (bahkan orang-orang dewasa yang berpikiran sempit). Perlu kedewasaan dan pikiran yang terbuka dalam menonton film ini, karena tema film ini agak menyinggung sesuatu yang berhubungan dengan SARA. Tapi menurut saya, film ini sama sekali gak menyinggung agama kok (dalam hal ini, Islam). Yang dikritik oleh film ini adalah sistem yang dijalankan oleh Iran yang bersifat radikal dan memaksa (bukan agamanya loh, wahai orang-orang skeptis). Banyak adegan yang bikin saya miris, misalnya saat suatu tempat ‘digrebek’ karena disinyalir telah diadakan sebuah pesta di tempat itu (padahal cuma pesta biasa looooh). Hal itu kok jadi mengingatkan saya pada tingkah FPI yang suka main grebek-menggrebek secara anarkis ya. Bukan hanya itu saja, saat Marjane sedang berlari karena takut terlambat sampai ke tempat kuliahnya, ia dihentikan begitu saja oleh para ‘polisi tingkah laku’ karena gerakan larinya dinilai tidak pantas dilakukan (karena membuat pantatnya ikut bergoyang) dan bisa berakibat yang tidak-tidak (duh, ini kan tergantung orang yang ngeliatnya aja pak polisi, atau emang para ‘polisi tingkah laku’ itu pikirannya pada ngeres?).

Lalu, bagaimana akhirnya? (btw, spoiler alert) Pada akhirnya keadaan tetap berjalan sama dan perjuangan Marjane untuk menuntut kebebasan sama sekali tidak berhasil. Ia lalu memilih untuk pindah ke Prancis. Mungkin, Iran memang bukanlah negara yang cocok untuk dirinya yang berjiwa bebas (spoiler end). Film ini sendiri membuat saya bersyukur karena saya tinggal di Indonesia yang  menganut sistem demokrasi meskipun sebagian besar penduduknya beragama Islam. Gak kebayang kalo saya tiba-tiba ditahan hanya karena pake celana jeans atau sepatu sneaker. Dan bagi saya, keimanan itu bukanlah sesuatu yang harus dipaksakan atau hanya dilihat dari segi luarnya saja. Selain itu, keimanan itu sifatnya pribadi antara individu dengan Tuhannya. Sesuatu yang dipaksakan itu buat saya malah bisa berakibat buruk bagi orang tersebut. Untuk apa dari luar kelihatan seperti orang beriman tapi dalam hatinya sama sekali tidak ada perasaan ikhlas sama sekali? Well, itu hanya pendapat saya aja kok. Secara keseluruhan ini adalah film yang bagus dan menarik. Oh ya, film yang konon dilarang ditayangkan di Iran ini juga mendapat banyak  penghargaan dan nominasi di festival-festival film Internasional, salah satunya nominasi Best Animated Feature pada ajang Academy Award tahun 2007. 4 bintang deh 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »