Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘wong kar-wai’

Para penggemar film (terutama yang fanatik) mungkin sudah tidak asing dengan nama Wong Kar-Wai, seorang sutradara asal Hong Kong yang namanya tidak hanya harum di negerinya sendiri saja, tapi juga di dunia perfilman internasional. Tapi sebagai penggemar film yang masih cupu, saya baru mengenal sutradara satu ini sekitar satu tahun yang lalu, tepatnya lewat karyanya yang berjudul My Blueberry Nights (2007) yang merupakan debut pertamanya di dunia perfilman hollywood. Dan saya jatuh cinta pada film itu, meskipun banyak penggemar Wong Kar-Wai yang mengatakan bahwa  film tersebut adalah karyanya yang terburuk. Kemudian saya menonton salah satu karya beliau lagi yang berjudul In The Mood For Love. Sama seperti My Blueberry Nights, saya tidak dikecewakan oleh film ini. Malah saya menganggap film itu sebagai salah satu film terbaik yang pernah ada di dunia ini (kapan-kapan saya bakal bikin reviewnya deh). Namun, sayangnya, setelah itu saya kesulitan untuk menemukan film-film Wong Kar-Wai yang lain. Lalu beberapa hari yang lalu, kebetulan saya menemukan salah satu filmnya yang lain yang sudah lama saya cari, yaitu Chungking Express (yang akan saya review ini). Dan lagi-lagi, Wong Kar-Wai membuat saya kembali jatuh cinta pada karyanya.

Chungking Express sendiri memiliki sedikit kemiripan tema dengan My Blueberry Nights, yaitu sama-sama bercerita tentang orang(-orang) yang baru patah hati. Film ini sendiri memiliki dua kisah (atau segmen) yang saling bersentuhan tapi tidak memiliki kaitan yang cukup penting selain kesamaan latar dan tema “patah hati”-nya. Kisah pertama bercerita tentang He Zhiwu (diperankan dengan gantengnya oleh Takeshi Kaneshiro), seorang polisi yang baru saja putus dari pacarnya setelah lima tahun berpacaran. Wu sendiri tampak tidak bisa melupakan mantan pacarnya tersebut. Ia lalu mencoba untuk menghubungi May (nama mantan pacarnya), namun sayangnya tidak pernah berhasil. Untuk mengusir kesedihannya, Wu jadi punya kebiasaan melakukan jogging. Katanya, jogging akan membuatnya berkeringat banyak sehingga tidak ada air yang tersisa untuk membuatnya menangis 😀 Lalu pada suatu malam di sebuah bar, Wu memutuskan untuk benar-benar move on. Ia memutuskan akan jatuh cinta pada wanita yang pertama dilihatnya di bar tersebut. Lalu, wanita macam apa yang akan dilihatnya pertama kali di bar tersebut? Apakah ia akan benar-benar jatuh cinta kepadanya dan berhasil melupakan May?

Sementara itu, kisah yang kedua juga sama-sama bercerita tentang polisi yang baru saja patah hati. Polisi yang ini (diperankan dengan guaaantengnya oleh Tony Leung) tidak diketahui namanya. Identitasnya hanya ditunjukan melalui kode polisinya yang bernomor 663. Ia baru saja diputuskan oleh pacarnya yang seorang pramugari. Hampir setiap malam, ia sering pergi ke suatu kios untuk membeli makanan. Diam-diam, salah satu pegawai kios tersebut yang bernama Faye (Faye Wong) jatuh cinta padanya. Lalu, suatu hari, mantan pacar si polisi datang ke kios tersebut dan menitipkan surat untuk polisi tersebut kepadanya (ke si pemilik toko sih tepatnya). Surat tersebut ternyata berisi kunci apartemen si polisi. Ketika si polisi itu datang, ia menolak untuk menerima surat itu, sehingga surat tersebut terus disimpan oleh Faye. Setelah itu, diam-diam Faye sering menyelinap masuk ke apartemen si polisi dengan menggunakan kunci dalam surat tersebut (waktu si polisinya lagi kerja). Untuk apa ia melakukan itu? Apa yang terjadi jika si polisi mengetahui bahwa apartemennya diam-diam dimasuki tanpa izin? Tonton aja kakaak.

Saya sukaaaaaaa sekali dengan film ini. Beautiful and sweet, itu adalah salah dua kata yang tepat untuk menggambarkan film ini. Menurut saya ini adalah salah satu film termanis yang pernah saya tonton (dan tipe film ‘manis’ emang selera saya banget). Adegan-adegannya banyak yang memorable. Dan sama seperti dengan dialog-dialog di My Blueberry Nights, dialog-dialog dalam film ini juga sangat berkesan dan ‘jleb’ banget di hati (dan rasanya pengen saya quote satu-satu di sini).

Ceritanya sendiri sebetulnya sangat sederhana. Patah hati dan jatuh cinta adalah dua buah perasaan yang lumrah dialami setiap orang, bukan? Ketika orang patah hati, salah satu obat terbaik bukankah dengan jatuh cinta kembali? Seperti itulah film ini. Film ini menunjukan bahwa patah hati bukanlah akhir dari segalanya, toh jika kita sabar suatu saat kita pasti akan jatuh cinta kembali dan menemukan cinta yang baru. Oh ya, biarpun ini film tentang orang patah hati, abis nonton film rasanya saya jadi kepengen jatuh cinta #eaa. Ajaib bukan?

Seperti yang saya bilang sebelumnya, cerita film ini tergolong sederhana. Tapi biarpun sederhana, kesederhanaannya tidak menjadikan film ini menjadi film biasa. Wong Kar Wai berhasil mengemas film ini menjadi suatu tontonan yang cantik, artistik, dan unik *eh, berima*. Padahal latar yang disajikan hanya berupa kios makanan biasa, pasar yang penuh sesak, apartemen yang berantakan, dan tempat-tempat lainnya yang tergolong biasa saja. Tapi banyak hal, mulai dari pergerakan kamera sampai gesture para pemerannya, yang membuat film ini menjadi terlihat begitu cantik dan membawa kita pada pengalaman sinematik yang mengesankan (pengalaman sinematik yg hampir mirip juga saya rasakan pada In The Mood For Love). Penempatan musik yang sangat tepat juga menjadi salah satu faktor penting yang membuat film ini menjadi luar biasa.

Untuk bagian akting, semua pemain dalam film ini berakting dengan sangat bagus dan total. Mulai dari Brigitte Lin yang terlihat cool sekali di sini, Takeshi Kaneshiro yang sangat meyakinkan sebagai pria yang masih belum lupa pada mantannya, Faye Wong yang cuek dan tomboy, dan Tony Leung yang terlihat menyimpan luka terpendam. Saya suka sama semua pemerannya, terutama Tony Leung yang berhasil membuat saya jatuh cinta lewat film ini. Biarpun gak ganteng amat, menurut saya Tony Leung ini punya pesona yang membuat saya terheran-heran kenapa ada cewek waras yang mau mutusin cowok macam begini. Hihi. Terus terus, karakter kedua yang saya suka adalah karakter Faye yang diperankan Faye Wong. Saya suka sekali karakternya yang cuek dan tomboy ini (btw penampilan fisiknya mengingatkan saya pada Ueno Juri di Last Friends) dan juga usahanya untuk menarik perhatian si polisi. Super sweet.

Cuman sayangnya menurut saya kedua kisah dalam film ini tidak disajikan dengan porsi yang seimbang. Saya lumayan suka sama kisah pertamanya (durasinya sekitar 30 menit), tapi begitu pindah ke kisah kedua (durasinya sekitar satu jam), saya jadi mendadak agak lupa sama kisah pertamanya karena pikiran saya jadi lebih fokus pada kisah yang kedua. Begitu beres nonton pun, saya cuma terngiang-ngiang sama kisah yang kedua . Jadi kalo kisah kedua ini dipisah dan dijadikan film sendiri, saya pasti akan kasih lima bintang untuk film ini. Tapiii, karena kisah pertamanya gak senampol kisah kedua, jadi saya kasih 4,5 bintang aja deh (4 bintang untuk kisah pertama dan 5 bintang untuk kisah kedua) :D. Highly recommended 🙂

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »

“How do you say goodbye to someone you can’t imagine living without? I didn’t say goodbye. I didn’t say anything. I just walked away.”

Elizabeth (Norah Jones) harus menerima kenyataan bahwa pacarnya yang sangat ia cintai ternyata memiliki kekasih lain. Hal itu diketahuinya ketika ia datang ke kafe yang biasa dikunjungi pacarnya, dan bertanya tentang pacarnya tersebut kepada si pemilik kafe, yang mengatakan bahwa pacarnya kemarin datang ke kafe tersebut dengan seorang perempuan. Merasa marah sekaligus sedih, Elizabeth kemudian menitipkan kuncinya pada pemilik kafe yang bernama Jeremy (Jude Law) tersebut, agar pacarnya bisa mengambilnya jika datang lagi ke kafe tersebut (sekaligus sebagai tanda perpisahan dari Elizabeth). Keesokan harinya, Elizabeth datang lagi ke kafe tersebut dengan tujuan untuk mengecek apakah kunci tersebut sudah diambil oleh (mantan) pacarnya, yang ternyata belum. Dan begitulah setiap harinya, Elizabeth datang terus ke kafe tersebut untuk mengecek kuncinya sekaligus untuk curhat pada Jeremy. Bagi Jeremy sendiri, ini bukan pertama kalinya ia menemui kejadian seperti ini. Ia sendiri memiliki setoples besar berisi banyak kunci yang pernah dititipkan oleh pengunjung-pengunjung kafe-nya, dan di balik kunci-kunci tersebut terdapat kisah yang berbeda-beda. Elizabeth dan Jeremy pun kemudian menjadi akrab, sampai suatu hari Elizabeth memutuskan untuk mengusir rasa patah hatinya dengan pindah dan bekerja di kota lain. Di bar tempat ia bekerja  (di kota Memphis) ia berkenalan dengan Arnie (David Strathairn), pemabuk yang selalu tampak frustrasi, lalu ada Sue Lynne (Rachel Weisz), perempuan cantik yang ternyata adalah istri Arnie. Lalu di kota lainnya ia bertemu dengan Leslie (Natalie Portman), seorang penjudi yang kemudian meminjam uang pada Elizabeth dan kemudian membawanya ke suatu perjalanan ke Las Vegas. Pertemuannya dengan orang-orang  tersebut membuat Elizabeth mempelajari banyak hal, salah satunya adalah bahwa ‘luka’ akibat patah hati yang dialaminya tidaklah seberapa jika dibanding dengan luka yang dialami orang-orang tersebut.

Tertarik nonton film ini karena melihat jajaran cast-nya yang semuanya menarik. Ada Jude Law, Rechel Weisz, Natalie Portman, dan ditambah penyanyi jazz Norah Jones yang melakukan debut aktingnya di film ini. Pasti ini akan menjadi film yang menarik! Dan untungnya saya tidak dikecewakan oleh nama-nama terkenal tersebut. Saya sangat sangat sangat menyukai film ini. Film bertema patah hati ini berhasil membuat saya jatuh cinta (pada film ini)! Ceritanya sederhana tapi ‘dalem’. Tentang patah hati dan kesepian, suatu hal yang mungkin pernah dialami banyak orang. Dialog-dialog dalam film ini sangat berkesan, dan setelah saya selesai menonton film ini dialog-dialog tersebut masih terngiang-ngiang di kepala saya. Contohnya dialog tentang filosofi blueberry pie (sebelumnya udah pernah saya tulis di blog saya yang ini) yang diucapkan oleh Jeremy ketika Elizabeth bertanya-tanya kenapa pacarnya lebih memilih orang lain. Jeremy mengatakan bahwa di kafenya, blueberry pie adalah makanan yang tidak pernah dibeli oleh pengunjungnya, hal itu bukanlah salah sang blueberry pie tersebut, namun orang-orang lebih memilih makanan yang lain. Juga mengenai kunci-kunci yang disimpan oleh Jeremy yang semuanya memiliki kisah yang berbeda-beda, Elizabeth bertanya kenapa Jeremy tidak membuang kunci-kunci tersebut jika tidak ada yang mengambilnya, dan Jeremy menjawab jika ia membuang kunci-kunci tersebut, pintu-pintu yang memiliki kunci tersebut akan terkunci selamanya, dan itu pun bukan hak dia untuk melakukan itu.

Kisah Arnie dan Sue Lynne juga tidak kalah menarik dan memilukan. Arnie sangat mencintai istrinya yang jauh lebih muda tersebut, tapi Sue Lynne tidak mau dikekang dan ia ingin bebas dari suaminya tersebut. Ketika sesuatu terjadi pada Arnie, kehampaan lalu menyelimuti dirinya. Lalu ada juga kisah Leslie, perempuan tukang judi yang tidak pernah mempercayai siapa pun. Kisah yang ini memang tidak semenyentuh kisah Arnie-Sue Lynne, tapi lumayan meninggalkan kesan yang agak dalam juga.

Dari segi akting, semua pemainnya berakting dengan baik di film yang disutradarai oleh Wong Kar-wai ini. Untuk ukuran debut, Norah Jones menampilkan akting yang lumayan di film ini. Dan Jude Law, aaaah saya suka banget sama karakter Jeremy yang dimainkannya (dan saya seneng liat interaksi dia dengan Elizabeth), dan aktingnya pun bagus di sini. Natalie Portman seperti biasa berakting ciamik di film ini. Tapi yang paling spesial aktingnya di sini menurut saya adalah Rachel Weizs yang berperan sebagai Sue Lynne. Dan dia luar biasa cantik di film ini.

Gambar-gambar di film diambil dengan gaya yang unik. Meskipun beberapa adegan yang dibuat agak slow motion itu tidak begitu nyaman di penglihatan saya, tapi hal tersebut memberikan suatu ciri khas tersendiri. Well, secara keseluruhan film ini sangat bagus dan berkesan banget buat saya. Film yang manis sekaligus pahit. Film ini menunjukkan bahwa patah hati adalah hal yang biasa dan bukan akhir dari segalanya. Film ini cocok untuk ditonton penyuka drama lambat dengan dialog-dialog yang ‘dalem’ dan orang-orang yang pernah merasakan patah hati atau kesepian. 4,5 bintang 🙂

Memorable Quotes:

Elizabeth: So what’s wrong with the Blueberry Pie?
Jeremy: There’s nothing wrong with the Blueberry Pie, just people make other choices. You can’t blame the Blueberry Pie, it’s just… no one wants it.
Elizabeth: Wait! I want a piece.

Elizabeth: The last few days, I’ve been learning not to trust people and I’m glad I’ve failed. Sometimes we depend on other people as a mirror to define us and tell us who we are and each reflection makes me like myself a little more.

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »