Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘yakusho koji’

1. Fine, Totally Fine (Japan, 2008)

Seperti yang pernah saya bilang di review Flipped, hal paling menyenangkan ketika menonton film adalah ketika kita tidak menyimpan ekspektasi apa-apa terhadap film tersebut dan ternyata film tersebut berhasil memuaskan kita. Perasaan itu kembali saya rasakan ketika menonton film Fine, Totally Fine yang merupakan debut penyutradaraan dari Fujita Yosuke. Menonton film ini tanpa mengetahui informasi apapun (kecuali pemainnya) dan film ini sukses mengejutkan saya dengan keunikan dan kesederhanaan yang dimilikinya. Film ini sendiri bercerita tentang kisah cinta segitiga yang sangat unik (dan sebenarnya tidak sekadar tentang cinta segitiga). Teruo (Arakawa YosiYosi), si penggemar segala hal tentang horror yang terobsesi ingin membuat rumah hantu yang hebat dan teman sejak kecilnya Hisanobu (Okada Yoshinori), seorang manager rumah sakit yang baik hati dan tidak pernah tega menolak permintaan orang lain sama-sama jatuh cinta pada Akari (Kimura Yoshino), seorang perempuan yang cantik tapi pemalu dan sangat ceroboh. Premis yang super simpel, tapi dieksekusi menjadi sangat unik dan manis. Letak keunikannya tentu saja ada pada unsur komedinya yang benar-benar lucu, meskipun lucu di sini bukanlah tipe lucu untuk semua orang terutama yang tidak terbiasa dengan film komedi khas Jepang. Dan yang saya kagumi dari film ini (dan kebanyakan film Jepang yang lain) adalah segala keunikan dan keanehan tersebut ditempatkan pada latar kehidupan sehari-hari, sehingga meskipun terlihat aneh film ini tetap bisa terlihat sederhana dan membumi. Dan humor-humor yang ada di film ini dihadirkan pada suasana yang tenang dan tidak lebay. Secara keseluruhan, jika kamu menyukai film-film komedi ala Miki Satoshi (Adrift in Tokyo) atau Ishii Katsuhito (The Taste of Tea), mungkin kamu akan menyukai film ini juga karena gaya komedinya cenderung mirip. Yang jelas saya sangat menantikan film-film yang akan disutradarai Fujita Yosuke selanjutnya. Recommended. 4/5

2. Love Me If You Dare (France, 2003)

Film komedi romantis dari Prancis, dibintangi Marion Cotillard dan Guillaume Canet. Bercerita tentang seorang perempuan dan laki-laki yang bersahabat sejak kecil dan sebenarnya saling menyimpan perasaan cinta yang belum mereka disadari. Julien dan Sophie (kedua sahabat tersebut) memiliki sebuah permainan yang mereka mainkan sejak kecil, di mana pada permainan tersebut mereka saling memberikan tantangan yang berbeda-beda kepada satu sama lain. Dan ketika dewasa, permainan tersebut terus berlanjut. Sampai di suatu hari Sophie menantang Julien untuk menciumnya, semuanya berubah. Apakah hal tersebut semata-mata hanya permainan bagi Julien? Bagaimana sebenarnya perasaannya yang sebenarnya terhadap Sophie? Somehow, ini adalah film yang ketika selesai menontonnya saya sulit menentukan apakah saya suka atau tidak terhadap filmnya. Kisah romance antara Julien dan Sophie itu saya akui manis dan unik. Tapi di sisi lain saya merasa permainan yang mereka lakukan itu sudah sampai taraf keterlaluan. Saya juga merasa kasihan terhadap orang-orang di sekeliling mereka, yang terkena imbas dari permainan yang mereka lakukan (mungkin film ini menganut peribahasa “ketika dua orang jatuh cinta, dunia serasa milik berdua, yang lain cuma ngontrak” kali ya). Dan jika saya menemukan dua orang yang seperti Julien dan Sophie di dunia nyata, saya pasti bakalan benci banget mereka berdua, hehe. Tapi di luar semua itu, film ini lumayan menarik dan menghibur meskipun kisahnya kurang believable untuk terjadi di dunia nyata. Cocok ditonton penyuka film romance yang unik dan tidak biasa. 3/5

3. The Woodsman and the Rain (Japan, 2011)

Percayakah kamu pada keajaiban dari proses pembuatan film? Bahkan untuk pembuatan b-movie yang sering dianggap remeh oleh sebagian orang? Meskipun belum pernah melihat proses pembuatan film secara langsung, setelah menonton film ini saya yakin bahwa proses pembuatan film adalah suatu hal yang ajaib dan bisa memengaruhi banyak orang, termasuk bukan penyuka film sekalipun. Koichi (Oguri Shun), seorang sutradara muda yang sangat pemalu, sedang membuat film zombie di sebuah desa. Koichi dan kru-nya tidak sengaja bertemu dengan Katsuhiko (Yakusho Koji), seorang penebang kayu yang sangat jauh dari dunia film dan bahkan tidak pernah mendengar kata “zombie”. Karena tidak begitu mengenali lokasi yang mereka gunakan, Koichi dan kru-nya pun meminta Katsuhiko untuk membantu mereka mencari beberapa lokasi yang bagus di desa tersebut. Tidak hanya itu, mereka pun meminta Katsuhiko untuk berperan sebagai figuran (sebagai salah satu zombie). Katsuhiko yang awalnya tidak begitu tertarik lama-lama jadi antusias dan menjadi sangat bersemangat membantu mereka, bahkan ia pun mengajak warga desa yang lain untuk ikut membantu para kru film tersebut. Hal tersebut juga rupanya memengaruhi diri Koichi dan kepercayaan dirinya sebagai sutradara. Secara keseluruhan, saya sangat menyukai film ini. Film ini begitu heartwarming, dan kecintaan saya pada film menjadi semakin bertambah setelah menonton film ini.  Tidak hanya itu, akting dan chemistry antara Yakusho Koji dan Oguri Shun pun sangat baik dan menambah bagusnya film ini. Film ini juga banyak mengandung momen-momen lucu, terutama di adegan-adegan ketika Katsuhiko membantu para kru film. Well, film ini cocok ditonton bagi pecinta film pada umumnya, terutama yang percaya pada keajaiban dari proses pembuatan film. 4/5

Read Full Post »

1. Usagi Drop (Japan, 2011)

Saya selalu tertarik dengan film yang menggambarkan hubungan ayah dan anak. Dan meskipun ayah dan anak dalam Usagi Drop ini bukanlah ayah dan anak beneran, hal tersebut tidak mengurangi ketertarikan saya pada film ini. Bercerita tentang bujangan berusia tiga puluh tahun bernama Daikichi (Matsuyama Ken’ichi) yang memutuskan untuk mengasuh Rin (Ashida Mana) yang disebut-sebut sebagai anak haram dari kakeknya yang baru saja meninggal dunia, dengan segala lika-likunya. Well, film ini enjoyable dan cocok untuk ditonton para penyuka film-film bergenre slice of life atau film yang bercerita tentang hubungan ayah dan anak. Saya belum pernah baca versi manganya atau nonton versi anime-nya, jadi saya gak bisa mengatakan apakah adaptasi ini berhasil atau tidak. Tapi saya lumayan menikmati film ini. Matsuyama Ken’ichi cukup pas memerankan seorang pria single yang tiba-tiba harus mengasuh anak kecil, dan ia berhasil membangun chemistry yang sangat baik dengan Ashida Mana. Ya, Ashida Mana! Sungguh ya anak kecil satu ini adorable sekali. Dan tidak hanya adorable, aktingnya pun sangat bagus di sini. Di luar hal itu, film ini juga memiliki kekurangan di mana ada part-part yang seharusnya mengaduk-aduk emosi penontonnya, tapi jadinya malah datar-datar aja. Tapi di luar itu saya cukup suka film ini kok. 3,5/5.

2. Chonmage Purin / A Boy and His Samurai (Japan, 2010)

Tertarik menonton film ini karena posternya yang kelihatan lezat, plus karena film ini disutradarai oleh Nakamura Yoshihiro (Fish Story, Ahiru to Kamo no Koinrokka), dan saya cukup penasaran ingin tahu seperti apakah film buatannya ketika ia tidak bekerja sama dengan Isaka Kotaro. Film ini bercerita tentang seorang samurai (pada periode Edo) bernama Yasube Kijima (Nishikido Ryo) yang terkena time leapt ke 180 tahun kemudian. Di 180 tahun kemudian itu, tepatnya di Jepang masa kini, ia bertemu dengan seorang single mother bernama Hiroko (Tomosaka Rie) beserta anak laki-lakinya, Tomoya (Suzuki Fuku). Hiroko lalu mengizinkan Yasube untuk tinggal bersamanya dan anaknya, dan sebagai balas budi, Yasube kemudian membantu Hiroko dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga di rumahnya, yang nantinya berujung ketika ia mulai belajar membuat kue. Film ini mungkin masih mirip-mirip dengan Usagi Drop, di mana bercerita tentang ‘hubungan keluarga’ tanpa ikatan darah. Tapi film ini tidak hanya bercerita tentang hubungan Yasube dengan ibu dan anak tersebut saja. Film ini juga berusaha menyinggung tentang permasalahan gender, yang ditunjukkan melalui sosok Hiroko sebagai single mother yang bekerja di luar, dan Yasube yang melakukan pekerjaan rumah tangga. Menurut saya film ini cukup menghibur dan enjoyable, dan terdapat kejutan manis yang sedikit bikin terharu meskipun gak sampe bikin nangis. Dari segi akting, Nishikido Ryo cukup baik memerankan Yasube, samurai super serius yang kemudian terdampar ke dunia patisserie. Tomosaka Rie dan Suzuki Fuku juga lumayan baik aktingnya (dan Suzuki Fuku ini lucuu, dia ini versi anak laki-lakinya Ashida Mana kayaknya, hehe). Overall, film ini cocok untuk ditonton penyuka film keluarga, dan juga penyuka film tentang makanan, karena kue-kue buatan Yasube di film ini sungguh bikin ngiler (tapi untuk pudingnya ternyata kurang menggiurkan, masih lebih menggiurkan puding yang di My Boss My Hero :D). 3,5/5

3. Toad’s Oil / Gama no Abura (Japan, 2009)

Aktor kawakan Yakusho Koji mencoba untuk menunjukkan bakatnya yang lain, yaitu dalam menyutradarai sebuah film. Dan hasilnya, untuk sebuah debut, film ini menurut saya lumayan banget. Di film ini, ia tidak hanya menyutradarai, tapi juga turut bermain sebagai pemeran utama. Film ini bercerita tentang Yazawa Takuro (Yakusho Koji) yang tinggal di mansion yang cukup besar bersama istri (Kobayashi Satomi) dan anak laki-lakinya, Takuya (Eita). Suatu hari, Takuya mengalami insiden yang membuat dirinya koma. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Menurut saya, film ini berhasil menggambarkan bagaimana rasanya kehilangan dengan sangat baik. Di sini kita dihadapkan pada tokoh Takuro, seorang ayah yang tingkah lakunya masih kekanak-kanakan dan tidak mencerminkan karakter seorang ayah. Saking kekanak-kanakannya, ketika anak laki-lakinya sedang koma di rumah sakit, ia malah sibuk telepon-teleponan dengan Hikari (Nikaido Fumi), pacar LDR Takuya, dengan berpura-pura sebagai Takuya. Setelah suatu hal (yang mungkin sudah bisa ditebak) terjadi, Takuro pun melakukan suatu perjalanan yang nantinya akan mendewasakan dirinya. Menurut saya, ini adalah tipe film yang bisa membuat penontonnya bersedih (meskipun bukan tipe sedih yang bikin nangis) dan tersenyum. Saya lumayan suka perjalanan yang dilakukan Takuro dan Akiba (teman masa kecilnya Takuya) yang dibumbui dengan bumbu komedi ‘unik’ khas Jepang. Saya juga suka melihat bagaimana hubungan Takuro dengan Hikari lewat telepon, yang menurut saya manis sekali meskipun dari luar keliatannya gak wajar. Semua pemain bermain dengan baik di sini, dan nilai plus lagi film ini memiliki sinematografi yang sangat indah. Dan saya lumayan menyukai endingnya yang memberikan kesan pahit dan manis sekaligus. Overall, menurut saya Yakusho Koji cukup berhasil menggambarkan perasaan kehilangan dan perasaan cinta seorang ayah terhadap anaknya dengan baik. Semoga ke depannya ia akan menyutradarai film lagi, karena debutnya yang ini sudah cukup menjanjikan. 3,5/5

Read Full Post »