Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘yamada takayuki’

top 7 actorsHalo, selamat tahun baru ya para pembaca blog ini! Yosh, di awal tahun 2013 ini saya akan menulis postingan yang sudah ingin saya buat dari dulu. Di postingan ini saya akan menulis list tentang tujuh orang aktor Jepang favorit saya. Ya, aktor atau aktris adalah salah satu faktor yang membuat saya memutuskan untuk menonton satu film tertentu. Begitu juga dengan film Jepang. Setelah bertahun-tahun menonton film dan dorama Jepang, banyak sekali perubahan pada list aktor Jepang favorit saya. Contohnya bertahun-tahun yang lalu saya terbiasa mengidolakan aktor-aktor dari Johnny’s macam Yamapi, Nishikido Ryo atau Matsumoto Jun. Sekarang, dengan semakin banyaknya film dan dorama Jepang yang saya tonton, semakin banyak pula aktor Jepang yang saya suka dan membuat list aktor Jepang favorit saya berubah terus. Apa kriteria dari aktor-aktor di list di bawah ini sehingga saya menyebutnya sebagai favorit? Akting tentu saja kriteria nomor satu. Tapi karena list di bawah ini sifatnya personal, ada juga hal-hal lain yang mendasari pemilihan itu, contohnya karena saya *ahem* naksir sama aktornya. Tapi biasanya saya naksir sama seorang aktor setelah terkagum-kagum sama aktingnya kok.

Oh ya, list ini sifatnya personal ya. Jadi jangan protes kalo nama-nama hebat seperti Asano Tadanobu, Watanabe Ken, Yakusho Koji, atau Abe Hiroshi gak masuk list ini. Saya sangat mengagumi mereka dan kayaknya kemampuan akting mereka udah banyak yang tahu, jadi ya gak perlu dimasukkan ke dalam list ini. Dan mengapa cuma tujuh orang? Well, pada awalnya saya berniat untuk memasukkan 10 orang ke daftar ini. Tapi ketika saya memikirkan tiga orang terakhir dari 10 orang itu, saya jadi sangat bingung.  Ada banyak aktor yang ingin saya masukkan, dan rasa suka saya sama mereka kurang lebih sejajar. Jadi daripada bingung mau milih yang mana, mending gak dimasukkan sama sekali (maaf ya, penulis blog ini emang pemalas). Jadi katakanlah daftar di bawah ini adalah daftar yang sudah pasti dan susah berubahnya.

Catatan: para aktor di bawah ini merupakan para aktor kelahiran antara tahun 70-an sampai 80-an awal. Mungkin suatu saat saya akan buat list baru tentang aktor favorit dengan usia yang lebih muda/lebih tua daripada yang ada list di bawah ini. Oke, mari dimulai saja listnya (btw bannernya menyusul ya).

(more…)

Advertisements

Read Full Post »

Apakah kamu penggemar game RPG? Jika iya, kamu mungkin akan menyukai dorama ini. Yuusha Yoshihiko to Maou no Shiro adalah sebuah dorama yang dibuat sebagai parodi dari game RPG. Plotnya? Cukup sederhana. Bercerita tentang Yoshihiko (Yamada Takayuki), laki-laki yang terpilih sebagai Yuusha (hero) di desanya. Diceritakan bahwa desa Kaboi (desanya Yoshihiko) terkena wabah penyakit misterius. Oleh karena  itu, Yoshihiko ditugaskan untuk mencari tanaman herbal yang dipercaya bisa menyembuhkan wabah penyakit tersebut. Perjalanan Yoshihiko pun dimulai. Di tengah perjalanan itu, ia bertemu dengan tiga orang yang kemudian bergabung dan membantu rencana Yoshihiko. Tiga orang tersebut adalah: (1) Danjou (Takuma Shin), seorang fighter yang mau bergabung dengan Yoshihiko sampai Yoshihiko mau mendengarkan ceritanya;  (2) Murasaki (Kinami Haruka), perempuan yang menyangka Yoshihiko adalah pembunuh ayahnya dan bergabung dengan Yoshihiko sampai ia yakin bahwa Yoshihiko adalah pembunuh ayahnya, dan (3) Merebu (Muro Tsuyoshi), seorang penyihir yang hanya menguasai satu mantra saja.

Ketika mereka berempat telah berkumpul semua dan siap memulai petualangan, mereka menemukan kenyataan bahwa…. tanamannya telah ketemu. Ya, ketika mereka baru mau memulai pencarian, tiba-tiba mereka bertemu Teruhiko, ayah Yoshihiko yang merupakan Yuusha sebelumnya, dan telah menghilang selama enam bulan dalam misi yang sama dengan Yoshihiko. Ternyata Teruhiko sudah menemukan tanamannya, tapi ia tidak kembali ke Desa Kaboi karena di tengah perjalanannya ia bertemu dengan seorang perempuan yang kemudian dinikahinya. Lalu, apakah petualangan Yoshihiko berhenti sampai di situ? Ternyata tidak saudara-saudara. Ketika mereka berempat siap berpisah, tiba-tiba muncul Hotoke-sama/Buddha (Sato Jiro) di langit. Hotoke-sama memberitahu Yoshihiko dkk bahwa wabah penyakit yang terjadi di desanya adalah ulah dari Maou/devil. Oleh karena itu, tugas Yoshihiko yang sebenarnya bukanlah mencari tanaman herbal, tapi mencari dan mengalahkan Maou. Petualangan Yoshihiko yang sebenarnya pun dimulai. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa sajakah yang akan ditemui Yoshihiko di perjalanannya? Apakah Yoshihiko akan berhasil menemukan dan mengalahkan Maou? Di luar hal itu, tanpa Yoshihiko ketahui, adik perempuannya yang bernama Hisa (Okamoto Azusa) diam-diam mengikuti Yoshihiko karena khawatir pada kakaknya tersebut.

Yuusha Yoshihiko to Maou no Shiro adalah salah satu dorama terlucu yang pernah saya tonton. Jangan tertipu oleh posternya yang memberi kesan bahwa ini adalah dorama aksi petualangan yang serius. Dorama ini murni dorama komedi. Dorama ini dibuat sebagai parodi sekaligus penghormatan terhadap game RPG Jepang, terutama game Dragon Quest (belum pernah main sayangnya). Saya sendiri bukan penggemar game RPG kelas berat, cuma dulu saya suka nontonin sepupu saya main game RPG macam Chrono Cross, dan pernah main beberapa game RPG sederhana di komputer, sehingga saya gak terlalu asing dan cukup mengenal pola umum game RPG. Oleh karena itu, dorama ini berhasil membuat saya tertawa karena parodi RPG yang disajikannya. Seperti game RPG pada umumnya, karakter-karakter pada dorama ini pun akan bertemu dan bertarung dengan monster di tengah perjalanannya (dan akan mendapatkan uang jika berhasil mengalahkannya). Dalam perjalanannya pun mereka akan mampir ke berbagai macam desa, dan kadang mereka akan menerima quest/tugas tambahan dari penduduk desa yang mereka datangi. Para karakter di dorama ini pun dalam petualangannya bisa mempelajari beberapa skill dan bahkan bisa mengubah kelas mereka. Di sini juga mereka ditugaskan untuk mencari item/barang-barang yang bisa digunakan untuk mengalahkan Maou. Selain hal-hal itu, masih banyak adegan-adegan yang merupakan parodi dari RPG yang lumayan bikin saya ngakak (ketika kamu main game RPG, pernah mencoba berbicara dengan penduduk desa biasa berkali-kali dan hasilnya mereka mengucapkan hal yang sama terus menerus? Di sini pun hal semacam itu ada :D).

Selain dimaksudkan sebagai parodi RPG, dorama ini juga melabeli dirinya sendiri sebagai “low budget action adventure story” (seperti dapat dilihat pada bagian openingnya). Dan menurut saya hal ini adalah kelebihan dari dorama ini. Ya, karena dorama ini bergenre fantasi, mungkin kamu akan berharap dorama ini akan menghadirkan efek-efek luar biasa sebagaimana yang biasanya ada pada film/serial bergenre fantasi. Tapi sayang sekali dorama ini bukan dorama penuh efek semacam itu. Namun, seperti yang sudah saya bilang, hal itu merupakan salah satu kelebihan dan salah satu faktor yang membuat dorama ini menjadi sangat lucu. Kita bisa melihat bahwa monster-monster di sini semuanya adalah “handmade” alias buatan tangan (dan beberapa di antaranya ada juga yang hanya kostum), dan bukannya efek CGI atau semacamnya. Dan ketika monsternya adalah monster yang lebih besar, tiba-tiba adegan dorama ini akan berubah menjadi tayangan animasi 2D sederhana (karena membuat monster yang lebih besar akan makan banyak biaya sepertinya). Properti dan settingnya pun kabarnya adalah properti/setting bekas film-film lain. Namun, hal itulah yang saya kagumi dari dorama ini. Budget rendah bukanlah alasan yang dapat membuat sebuah dorama menjadi jelek. Sebaliknya, budget rendah malah bisa dimanfaatkan sebagai suatu lelucon yang ternyata berhasil menghibur.

Selain itu, dorama ini juga tidak hanya memparodikan game RPG saja. Dorama ini juga banyak memparodikan hal-hal lain yang berhubungan dengan dengan pop culture di Jepang. Ada parodi dari anime Doraemon, parodi iklan, sampai parodi dari idol group yang tengah populer di Jepang saat ini (terlihat di salah satu episode di mana Yoshihiko tiba-tiba berubah haluan jadi idol di Akibara Village, di bawah naungan seseorang bernama Aki-mo. Parodi grup apa tuuh?). Selain parodi dari hal-hal itu, di sini juga terdapat parodi dari film komedi klasik Monty Python and  the Holy Grail (selain gaya humornya kadang agak mirip, adegan koala dalam dorama ini juga sedikit mengingatkan saya pada tokoh kelinci di Monty Python). Unsur komedi di sini memang banyak dihasilkan dari unsur parodinya. Tapi karakteristik tokoh-tokohnya juga berperan penting dan menambah kelucuan dorama ini. Karakter-karakter dari dorama ini hampir semuanya sinting. Mulai dari Yoshihiko, yang pada awalnya mungkin terlihat sebagai karakter pahlawan yang cukup umum. Ia adalah seorang pemberani, jujur, dan “pure-hearted”. Tapi nantinya kita akan dibawa pada kejutan-kejutan mengenai karakter ini (apalagi ternyata ia mudah terdistraksi oleh hal-hal remeh temeh). Tiga orang temannya pun sama-sama punya kepribadian yang konyol. Dan karakter Hotoke-sama-nya, benar-benar tidak meyakinkan sebagai Hotoke-sama. Selain karakter-karakter utama, kita juga akan diperkenalkan pada karakter musuh-musuh yang hampir semuanya berkepribadian konyol. Mengenai hal ini, dorama ini juga memiliki cukup banyak bintang tamu yang berperan sebagai musuh dan karakter lain yang ditemui Yoshihiko dkk di perjalanannya. Mulai dari Yasuda Ken, Koike Eiko, Sawamura Ikki, Furuta Arata, Okada Yoshinori, sampai Oguri Shun. Dan mengingat ini adalah low budget drama, kabarnya mereka tidak dibayar dan mau tampil selama beberapa menit di dorama ini sebagai bentuk persahabatan (misalnya Oguri Shun yang bersahabat dengan Yamada Takayuki).

Well, segini aja review dari saya. Overall, saya sangat menyukai dorama berjumlah 12 episode ini (oh ya karena ini adalah midnight drama, dorama ini setiap episodenya hanya memiliki durasi sekitar 28 menit, tidak seperti dorama prime time yang biasanya berdurasi sekitar 45 menit). Highly recommended buat penyuka game RPG dan penyuka dorama bergenre komedi, atau mungkin untuk yang bosan dengan dorama berformat ‘biasa’. Ja, 4 bintang untuk dorama ini.

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Jika ada orang yang sangat menyukai makan siang lebih dari apapun, orang itu pastilah Mugita Natsumi (Takeuchi Yuko). Natsumi sangaaat menyukai makan siang. Baginya, makan siang adalah hal utama yang membuat dirinya bersemangat. Pada suatu hari, di saat ia sedang menyantap makan siangnya di suatu restoran, seorang pria tak dikenal menariknya keluar dan membawanya ke suatu tempat. Pria yang ternyata pelanggan di coffee shop tempat Natsumi bekerja itu mengatakan bahwa ayahnya saat ini sedang sakit. Dan ia yang sudah dua tahun tidak berhubungan dengan ayah serta keluarganya itu ingin pulang dan membangun kembali hubungannya dengan keluarganya. Oleh karena itu, pria itu meminta Natsumi untuk pura-pura menjadi tunangannya, karena ia butuh alasan agar bisa pulang. Awalnya, Natsumi menolak mentah-mentah permintaan pria aneh tersebut. Namun, dengan iming-iming berupa “the best Omurice in all of Japan” (makanan kesukaan Natsumi), Natsumi pun menuruti permintaan pria bernama Kenichiro (Tsutsumi Shinichi) tersebut. Mereka berdua pun pergi ke rumah keluarga Kenichiro yang ternyata merupakan restoran bernama “Kitchen Macaroni”.

Namun, kedatangan Kenichiro rupanya tidak disambut baik oleh keluarganya. Ternyata, dua tahun yang lalu Kenichiro kabur dari rumah dengan membawa uang 5 juta yen yang merupakan penghasilan dari restoran tersebut. Natsumi pun berusaha membela Kenichiro. Namun, setelah pembelaan yang ia lakukan, nyatanya Kenichiro malah kabur lagi setelah mencuri uang dari kasir restoran. Natsumi jadi merasa bersalah karena mau-maunya dimanfaatkan oleh Kenichiro. Di sisi lain, ia juga jatuh cinta pada Kitchen Macaroni (sebelumnya Natsumi sempat mencoba dan langsung jatuh cinta pada Omurice buatan restoran itu). Oleh karena itu, keesokkan harinya Natsumi datang lagi ke Kitchen Macaroni, dan meminta untuk diizinkan tinggal dan bekerja di tempat itu sambil menunggu Kenichiro kembali. Permintaan tersebut pada awalnya ditentang oleh orang-orang di restoran tersebut (btw, Kitchen Macaroni ini adalah restoran  yang dikelola ayah Kenichiro beserta anak-anaknya *adik-adik Kenichiro* dan sudah berdiri sejak 30 tahun yang lalu). Namun, setelah beberapa hal terjadi, akhirnya Natsumi diizinkan juga tinggal bersama mereka di situ. Dan yang menarik adalah, setelah beberapa lama Natsumi tinggal dan bekerja di situ, satu persatu adik dari Kenichiro diceritakan mulai jatuh cinta pada Natsumi. Btw adik-adik Kenichiro ini adalah (1) Yujiro (Eguchi Yosuke) si anak kedua yang keras kepala dan pada awalnya sangat menentang ide Natsumi untuk tinggal bersama mereka, (2) Junzaburo (Tsumabuki Satoshi), anak ketiga yang polos dan selalu membela Natsumi, dan terakhir (3) Koshiro (Yamashita Tomohisa), si bungsu yang masih sekolah dan kecil-kecil sudah playboy. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya pada Natsumi? Apakah dia akan jatuh cinta pada salah satu dari mereka? Apakah rahasianya sebagai tunangan palsu Kenichiro suatu saat akan terbongkar? Tonton aja deh.

Ide cerita tentang satu cewek dikelilingi pria-pria tampan memang umum ditemukan pada dorama atau manga Jepang (contoh lain: Hanakimi, Atashinchi no Danshi, Hana Yori Dango). Meskipun begitu, cerita seperti ini menurut saya tetap menarik untuk ditonton karena selalu ditampilkan dengan kemasan yang menarik dan menghibur. Lunch Queen (judul asli: Lunch no Joou) adalah salah satu dorama dengan tema tersebut yang menjadi favorit saya. Namun, dorama ini bukan tipe dorama yang cuma menjual cowok ganteng dan kisah cinta saja, tapi juga menjual cerita yang menarik serta akting dan karakteristik yang kuat.

Ya, akting dan karakteristik, itulah yang paling saya suka dari dorama ini. Semua karakter dalam dorama ini menurut saya memiliki karakteristik yang sangat menarik dan gampang disukai. Mulai dari Natsumi si tokoh utama, yang merupakan karakter perempuan yang kuat dan tidak mudah menyerah. Saya suka banget karakter ini, dan menurut saya wajar banget kalo adik-adik Kenichiro pada jatuh cinta sama dia. Dan Takeuchi Yuko sangat berhasil memerankan tokoh ini (oh iya, mbak Yuko ini kayaknya cocok jadi mc acara kuliner, karena tiap adegan dia lagi makan, makanan yg keliatan biasa aja entah kenapa keliatannya kayak enak banget). Karakter-karakter lain seperti karakter adik-adiknya Kenichiro pun tidak kalah menarik. Dan yang paling saya suka adalah, karakter-karakter pria di dorama ini adalah tipe karakter yang akan sering kita temui di dunia nyata. Biasanya kan di dorama ikemen macam gini, karakter cowoknya sering digambarin sempurna dan “menyilaukan”, pokoknya too good to be true lah. Tapi di sini gak kayak gitu, karakternya tetep normal dan sangat manusiawi (yg bikin saya kadang-kadang gak nganggep dorama ini sebagai dorama ikemen). Tapi, meskipun karakter-karakter cowoknya terbilang normal, bukan berarti karakter-karakter cowoknya jadi gak menarik. Saya suka banget sama karakter-karakter cowoknya, terutama karakter Junzaburo yang diperankan dengan sangat baik oleh Tsumabuki Satoshi (yang bikin saya betah banget nonton dorama ini, hehe).  Tapi karakter-karakter lainnya juga pada menarik kok, dan para aktor dalam dorama ini hampir semuanya berhasil memerankan perannya masing-masing dengan baik, mulai dari Eguchi Yosuke, Tsutsumi Shinichi, Yamada Takayuki, Morita Go, sampai Ito Misaki. Paling cuma Yamapi alias Yamashita Tomohisa yang agak kurang aktingnya karena ekspresinya yang selalu datar, tapi gak sampai mengganggu keseluruhan dorama ini kok. Btw, di sini juga ada Eita loooh, jadi peran kecil yang setiap episode munculnya gak sampe lima menit sih, tapi tentu saja saya harus mencantumkan namanya pada review ini *halah*.

Selain karakter, dorama ini juga memiliki cerita yang sangat menarik. Ceritanya sebenernya sederhana, tapi untungnya berhasil digarap dengan baik sehingga dorama ini menjadi sangat asik ditonton dan tidak membosankan. Selain itu, saya juga suka sama unsur komedinya, yang meskipun bukan tipe komedi yang bisa bikin saya tertawa terbahak-bahak, tapi lumayan bisa bikin saya nyengir-nyengir unyu. Untuk kisah cintanya, saya pun sukaaaa banget. Saya sangat suka interaksi Natsumi dengan karakter cowok-cowok di dorama ini, terutama interaksinya dengan Junzaburo, yang bikin saya gemes banget. Tapi seperti yang saya bilang, kisah cinta sepertinya bukanlah jualan utama dorama ini, karena sampai akhir kisah cintanya tetap digambarkan menggantung. Dorama ini lebih ingin menunjukkan bagaimana makanan bisa menimbulkan kebahagiaan dan harapan pada diri orang lain, yang dalam hal ini tidak hanya ditunjukkan melalui tokoh Natsumi serta Junzaburo dan saudara-saudaranya saja, tapi juga melalui karakter-karakter pelanggan di restoran itu. Dan buat yang suka dorama bertemakan makanan, pasti suka banget dorama ini (dan gak mungkin gak ngiler abis nonton dorama ini). Oh iya melalui dorama berjumlah 12 episode ini saya jadi menyimpulkan bahwa orang Jepang itu kayaknya sangat menghargai makanan ya. Coba deh Indonesia, bikin film/sinetron tentang makanan gitu kek. Kita kan punya berbagai macam makanan yang beraneka rupa, dan menurut saya bakal menarik kalo dijadiin tema film/sinetron.

Overall, Lunch Queen adalah dorama yang sangat menarik dan menghibur. Segala unsur yang ada di dorama ini berhasil ditampilkan dengan baik, dan yang pasti dorama ini adalah tipe dorama yang akan sering saya tonton ulang. Ja, 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »


Beberapa bulan yang lalu saya sempat me-review sebuah dorama bertemakan detektif yang berjudul Keizoku 2: SPEC. Nah, kali ini saya akan kembali me-review dorama bertemakan sama (tapi tanpa embel-embel supranatural) yang berjudul BOSS, yang kebetulan juga dibintangi oleh Toda Erika (tapi bukan sebagai pemeran utama).

Sama seperti SPEC, saya pun sangaaaat menyukai dorama ini. BOSS sendiri sebenarnya tidak menghadirkan cerita yang istimewa atau lain daripada yang lain. Ceritanya standar cerita-cerita detektif gitu lah, tentang sebuah unit detektif (Countermeasure Unit) di kepolisian Jepang yang dipimpin oleh seorang perempuan bernama Osawa Eriko (Amami Yuki). Eriko ini baru balik dari pelatihan di Amerika selama kurang lebih lima tahun. Nah, entah malang atau beruntung, anak buah-anak buah yang dipimpinnya tersebut semuanya terlihat agak tidak meyakinkan. Anak buah-buahnya tersebut adalah 1)Katagiri Takuma (Tamayama Tetsuji), seorang detektif yang sebenarnya handal, tapi selalu memancarkan aura suram dan tidak pernah berani menggunakan pistol; 2)Kimoto Mami (Toda Erika) yang selalu terlihat tidak bersemangat dan tukang tidur, 3)Hanagata Ippei (Mizobata Junpei), detektif pemula yang selalu bersemangat dan sedikit polos, 4)Iwai Zenji (Kendo Kobayashi), detektif yang terlihat menyeramkan, tapi aslinya “ngondek” (and yeah, he’s a gay), dan terakhir 5)Yamamura Keisuke (Nukumizu Youichi), detektif yang paling tua di antara semuanya dan memiliki kecerobohan yang luar biasa. Selain mereka, ada Nodate Shinjirou (Takenouchi Yutaka), supervisor divisi tersebut yang punya hobi merayu wanita cantik dan Narahashi Reiko (Kichise Michiko), tante-tante seksi dari scientific crime detection research lab yang suka membantu mereka.

Osawa Eriko sendiri adalah seorang wanita berusia sekitar 40 tahun yang sampai sekarang belum menikah. Ia adalah detektif yang sangat handal, meskipun kadang terlihat konyol. Dorama ini menampilkan usahanya dalam membentuk Contermeasure Unit, divisi yang sering diremehkan oleh divisi-divisi lainnya, menjadi sebuah divisi yang solid. Seperti dorama detektif pada umumnya, dalam setiap episode ada satu kasus (seringnya pembunuhan) yang langsung selesai dalam episode itu juga (tapi ada juga yang satu kasus sampai dua episode). Tapi menjelang akhirnya ditemukan kasus berbau konspirasi yang berhubungan dengan asal-usul kenapa divisi tersebut terbentuk.

 

Seperti yang saya bilang, cerita dorama berjumlah 11 episode ini standar cerita detektif pada umumnya, tapi penggarapannya yang baik membuat dorama ini menjadi sangat berkesan di hati. Yang paling saya suka di sini adalah karakteristik tokoh-tokohnya, terutama karakter Amami Yuki sebagai boss. Amami Yuki ini adorable sekali yaaa, biarpun umurnya udah 40 lebih. Saya baru pertama kali liat dia di sini, dan langsung dibuat kagum sama aktingnya. Pantes aja banyak yang mengidolakan tante satu ini 😀 Karakter-karakter lainnya juga tidak kalah menarik dan para pemerannya berhasil menghidupkan karakter mereka masing-masing dengan baik. Salah satu yang paling saya suka adalah karakter Nodate Shinjirou yang diperankan Takenouchi Yutaka. Setiap ada adegan yang melibatkan dia pasti selalu membuat saya tertawa. Saya juga suka sama karakter yang diperankan Toda Erika. Biarpun sama-sama memerankan detektif, tapi karakternya di sini beda jauh sama karakternya di SPEC. Karakter lainnya yang saya suka adalah duo Iwai-Yamamu, yang merupakan salah satu pemancing tawa terbesar di dorama ini.

Ya, humor lah yang menjadi salah satu kekuatan dorama ini. Biarpun ini dorama detektif, tapi kesannya gak begitu serius karena humor selalu terselip di mana-mana, menjadikan dorama ini sangat nyaman untuk ditonton. Kasus-kasusnya pun menarik. Dan yang paling saya suka adalah penyelesaian dari kasus-kasusnya. Biarpun dari awal kita sudah diperlihatkan seperti apa pelakunya, tapi di bagian akhir episode selalu muncul kejutan yang tidak disangka-sangka. Ya, buat yang suka film/dorama dengan banyak twist, dorama ini bisa dijadikan pilihan 😀

Dorama ini juga menghadirkan beberapa bintang tamu terkenal, seperti Takayuki Yamada, Shida Mirai, Sorimachi Takashi, Ishigaki Yuma, dan Konishi Manami. Saya paling suka episode yang menampilkan Shida Mirai. Selain kasusnya menarik, akting Shida Mirai sebagai siswi pintar yang pintar “memainkan” orang dewasa ini juga bagus banget. Kudos for her!

Ja, segini aja review dari saya. Buat kalian yang suka film/serial detektif, jangan sampai melewatkan dorama ini. Highly recommended 🙂

Nb: dorama ini juga memiliki sekuel yang baru selesai tayang baru-baru ini.

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »

Jadi ceritanya saya sedang malas menulis review dan malas menulis tulisan yang panjang-panjang, tapi tampaknya udah jadi semacam kebutuhan untuk tidak membiarkan blog ini ditelantarkan begitu lama. Jadi seperti pada postingan yang ini, kali ini saya akan menulis review pendek dari beberapa film (tepatnya 3 film) yang saya tonton belakangan ini. CATATAN: film-film di bawah ini tidak akan saya buatkan review versi panjangnya.

1.  A Tale Of Two Sisters (South Korea, 2003)

Film horror yang berasal dari Asia, tapi bukan dari Jepang ataupun Thailand yang sudah terkenal sebagai penghasil film horror berkualitas, melainkan dari Korea Selatan. Dan ini adalah film horror Korea pertama yang saya tonton. Bercerita tentang sepasang kakak beradik perempuan, Soo-mi (Su-jeong Lim) dan Soo-yeon (Geun-young Moon) yang baru saja kembali ke rumah mereka yang terletak di pedesaan. Di rumah tersebut mereka disambut oleh ibu tiri mereka (Jung Ah-yum), yang tampaknya tidak menyukai kedua kakak beradik itu, dan begitu juga sebaliknya. Setelah kedatangan mereka, mulai muncul kejadian-kejadian aneh di rumah tersebut, seperti penampakan seorang perempuan yang dilihat Soo-mi, serta bibi mereka yang tiba-tiba ‘kesurupan’ saat makan malam bersama mereka. Soo-mi juga menemukan bahwa ibu tirinya tersebut suka menyiksa adiknya, Soo-yeong. Yak, meskipun judulnya film horror, film ini sebenarnya lebih menekankan pada thriller psikologis dibandingkan hal-hal berbau supranatural. Ya, memang ada penampakan hantu dan semacamnya, tapi hanya sedikit dan bukan faktor utama yang menjadikan film ini menjadi horror. Dan daripada menakut-nakuti seperti film-film horror pada umumnya, film ini lebih bertujuan untuk bermain-main dengan pikiran penontonnya. Misteri yang disajikan cukup membuat penasaran, dan endingnya menurut saya tak terduga meskipun awalnya sempat membuat saya bingung. Akting pemainnya pun oke, terutama acting Su-jeong Lim yang pernah saya lihat di film I’m a Cyborg but that’s Ok dan Jung Ah-yum yang berperan sebagai si ibu tiri. Kesimpulannya, buat para penyuka film horror berkualitas, sila tengok film ini : ) 4/5

2. My Brother (South Korea, 2004)

Film Korea lagi. Menonton ini dengan tidak sengaja karena ada di tumpukan dvd pinjeman kakak saya. Dan yeah, nama Won Bin pada covernya lah yang akhirnya bikin saya tertarik nonton film ini ;D Ceritanya tentang sepasang kakak beradik juga kayak film di atas, tapi yang ini laki-laki dan bukan film horror :D. Kalau kakak beradik di A Tale of Two Sisters sangat dekat dan akrab, di sini sebaliknya. Jong-hyun (Won Bin) dan Sung-hyun (Ha-kyun Shin) adalah kakak beradik dengan sifat yang sangat bertolak belakang. Jong-hyun lebih suka berkelahi, sementara Sung-hyun lebih suka  belajar. Dari kecil mereka dibesarkan seorang diri oleh ibu mereka, dan dari kecil Jong-hyun menyimpan kecemburuan pada adiknya yang lebih diperhatikan oleh sang ibu karena Sung-hyun adalah seorang harelip (istilah untuk orang dengan bibir sumbing). Sebenernya film ini biasa aja sih, tapi lumayan mengaduk emosi, terutama di bagian-bagian akhir. Endingnya menyedihkan dan sebenernya udah ketebak sejak lihat adegan pertama dan juga judulnya. But overall, film ini lumayan lah 😀 3/5

3. Crows Zero (Japan, 2007)

Yang ini film Jepang, disutradarai Takashi Miike, dan diperankan oleh Shun Oguri, Takayuki Yamada, dan beberapa aktor lainnya. Bercerita tentang sebuah sekolah bernama Suzuran, sebuah sekolah khusus cowok yang isinya berandalan-berandalan yang tampaknya tak punya hobi lain selain berkelahi. Suzuran ini diisi oleh berbagai macam ‘geng’ yang tidak pernah akur. Lalu muncul Genji (Shun Oguri), murid baru yang datang untuk menaklukan serta menyatukan  semua murid Suzuran. Caranya? Dengan mengalahkan pemimpin-pemimpin geng-geng di sekolah tersebut, terutama mengalahkan Serizawa (Takayuki Yamada) yang disebut-sebut sebagai murid terkuat di Suzuran. Overall film ini cukup menghibur sih. Buat para penyuka film action pasti suka film ini, karena film ini dipenuhi adegan-adegan perkelahian yang keren. Film ini juga memiliki sedikit sentuhan humor, dan saya suka banget karakter yang dimainkan Takayuki Yamada (di mana di sini dia jadi orang terkuat tapi ekspresinya rada-rada bego :D). Tapiiiiiii, meskipun menghibur, tapi saya tidak tahu apa tujuan film ini, menyatukan sekolah dengan cara berkelahi? Sebut saya kuno, tapi menurut saya gak sepantasnya anak-anak SMA ini kerjaannya berkelahi terus, meskipun dengan jalan ini mereka bisa bersatu. Tapi meskipun begitu saya tetep tertarik buat nonton sekuelnya kok. 2,75/5

Read Full Post »