Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘you’

mondaiposter“I want to do good work. I just want to do good work. I want to feel excited. To be held breathless by the thrill, I want to encounter a moment like that.”

Jepang—negara yang katanya merupakan salah satu negara termaju di Asia, penghasil berbagai macam teknologi super canggih, di sisi lain tampaknya bukanlah tempat terbaik bagi perempuan yang ingin bekerja. Ya, paham patriarki yang sudah tertanam sejak zaman samurai dulu rupanya masih menempel di sebagian besar masyarakatnya. Hal tersebut tidak hanya berlaku dalam hubungan keluarga saja, tapi juga di dunia kerja, terutama di lingkungan kerja yang didominasi pria. Perempuan tidak mudah mengutarakan pendapatnya dan kerap kali mendapat diskriminasi atau pelecehan. Sampai-sampai diciptakan istilah “sekuhara” (yang merupakan kependekan dari “sexual harassment”) yang sempat menjadi buzzword di Jepang saking seringnya kata tersebut diucapkan. Lalu bagaimana ceritanya jika para perempuan kemudian memilih bangkit dan bersama-sama melawan ketidakadilan yang dilakukan para pria kepada mereka? Hal itu dapat kamu lihat di dorama berjudul Mondai no Aru Restaurant/A Restaurant With Many Problems ini.

Singkatnya, Mondai no Aru Restaurant bercerita tentang Tanaka Tamako (Maki Yoko), seorang perempuan yang berniat untuk mendirikan sebuah restoran setelah menemukan fakta bahwa salah seorang sahabatnya yang bekerja di perusahaan yang sama (yang bergerak di bidang food & beverage) mengalami pelecehan seksual yang serius dari direktur perusahaannya. Restoran tersebut ia dirikan di atas atap sebuah bangunan yang terletak tepat di seberang restoran yang dikelola bekas perusahaannya itu. Dengan mengajak beberapa temannya yang lain (lima perempuan dan satu gay crosdresser), tidak mudah bagi Tamako untuk mengelola restoran tersebut karena teman-temannya tersebut memiliki masalah dan kepribadian yang berbeda-beda. Lalu, apa yang akan terjadi pada Tamako selanjutnya? Apakah dia akan berhasil menyatukan teman-temannya dan berhasil mendirikan restoran yang sanggup bersaing dengan restoran yang dikelola oleh para lelaki?

vlcsnap-2015-04-06-20h11m16s20Mondai no Aru Restaurant ditulis oleh penulis skenario Sakamato Yuji, yang kali ini kembali mengetengahkan perempuan sebagai fokus utamanya setelah menulis dorama Mother dan Woman, dan menyuguhkannya dengan gaya komedi hitam seperti di Saikou no Rikon. Dan secara berani, dorama ini berhasil merangkum segala diskriminasi yang kerap kali dialami perempuan di lingkungan kerja, mulai dari yang tampak sepele sampai yang serius, dan tanpa perlu terlihat pretensius. Yang saya suka dari dorama ini seperti dari kebanyakan dorama Sakamoto Yuji lainnya adalah dorama ini dikendalikan oleh karakteristik para karakternya. Meskipun dorama ini memperlihatkan perjuangan para perempuan melawan ketidakadilan yang dilakukan para laki-laki, sosok para perempuan di sini (yang btw lebih mengacu pada identitas feminin dan bukan hanya perempuan yang memang terlahir sebagai perempuan karena mereka juga memasukkan karakter gay pada grup tersebut) tidak lantas digambarkan sempurna dan lebih baik daripada laki-laki. Kamu mungkin akan membenci salah satu dari mereka, atau mungkin akan merasa melihat dirimu sendiri pada salah satu dari mereka. Dan meskipun mereka berjuang untuk tujuan yang sama, mereka tidak lantas jadi saling menyukai satu sama lain. Dalam ‘perjalanan’ tersebut, mereka kerap kali menyakiti satu sama lain, dan proses bagaimana mereka berkembang dan akhirnya benar-benar bersatu menurut saya sangat indah.

vlcsnap-2015-04-06-20h08m50s67Untuk karakter para laki-lakinya sendiri, mereka memang terlihat seperti asshole pada awalnya. Tapi mereka menjadi seperti itu semata-mata karena paham patriarki yang tertanam pada benak mereka sejak dulu, sehingga buat saya musuh utama para perempuan di sini bukanlah para lelaki, tapi pemikiran para lelaki. Dan sedihnya paham tersebut rupanya juga tertanam pada benak sebagian perempuan, yang diwakili oleh karakter Kawana Airi (Takahata Mitsuki), satu-satunya perempuan di tim laki-laki yang selalu menerima-menerima saja perlakuan para laki-laki padanya sehingga membuatnya kerap kali dibenci oleh sesama perempuan. Perkembangan karakternya adalah salah satu yang paling saya suka di dorama ini. Saya juga suka melihat bagaimana ada beberapa karakter laki-laki di sini yang kemudian berkembang menjadi lebih baik, dan ada juga yang tetap sama saja, menunjukkan bahwa realita tidak seindah yang diharapkan.

vlcsnap-2015-04-06-20h02m41s229Karena dorama ini adalah character-driven drama, tentunya akting sangat berpengaruh dan menjadi kekuatan dorama ini. Dan entah kenapa cast yang bermain di doramanya Sakamoto Yuji selalu merupakan aktor/aktris favorit saya (casting director-san, are you stalking my tumblr? xD). Beberapa yang sudah pernah berakting di dorama Sakamoto Yuji sebelumnya seperti Maki Yoko (Saikou no Rikon), Nikaido Fumi (Woman) dan Usuda Asami (Woman) kembali menampilkan akting yang bagus di dorama ini. Para pemain yang baru bergabung ke ‘Team Sakamoto’ seperti Higashide Masahiro, Takahata Mitsuki, Suda Masaki (btw tiga orang ini sebelumnya pernah jadi satu keluarga di asadora Gochisousan XD), Matsuoka Mayu, Yasuda Ken, YOU, dkk pun menampilkan akting yang baik dan membuat saya berharap mereka akan kembali berakting di dorama Sakamoto Yuji berikutnya. Overall, dari segi cast gak ada yang mengecewakan di dorama ini. Dan saya bakal kecewa kalo salah satu dari mereka gak dapat award dari dorama ini, hihi.

vlcsnap-2015-04-06-20h03m45s92Untuk kekurangannya, sebagian mungkin merasa kecewa karena permasalahan paling serius di dorama ini yang menyangkut karakter Fujimura Satsuki (Kikuchi Akiko) terlihat sedikit dikesampingkan. Namun saya tidak begitu terganggu dengan hal itu dan penyelesaian untuk permasalahan itu buat saya sudah diperlihatkan dengan tepat. Yang bikin saya kecewa malah karena karakter Haiji-san (Yasuda Ken) tidak disorot terlalu banyak jika dibandingkan dengan karakter-karakter lainnya. Padahal saya ingin mengetahui lebih lanjut mengenai diskriminasi kaum gay di Jepang. Namun secara keseluruhan kekurangan yang ada pada dorama ini tidak begitu mengganggu saya dalam menikmati dorama ini. Untuk endingnya pun, meskipun terkesan antiklimaks tapi saya suka tone-nya yang menenangkan karena sebelumnya kita sudah disuguhi banyak adegan dramatis (which is in a good way), dan membuat saya merasa sediiiiih sekali karena harus berpisah dengan para karakternya.

Overall, Mondai no Aru Restaurant adalah dorama yang menerapkan semangat feminisme secara tepat. Dorama ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa perempuan harus lebih baik dari laki-laki. Dorama ini hanya ingin mengatakan bahwa perempuan adalah manusia biasa, sama seperti laki-laki, dan yang mereka inginkan hanyalah mereka ingin bekerja bersama-sama dengan para lelaki tanpa ada diskriminasi dan pelecehan. Pendekatan komedi yang terdapat pada dorama ini pun membuat dorama ini juga menjadi sangat menghibur. Salah satu yang terbaik di musim pembuka tahun ini. Highly recommended!
Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Advertisements

Read Full Post »

gmhposterTerdapat dua buah kejutan kecil di tahun 2012 ini, setidaknya kejutan bagi para penggemar dorama sekaligus film Jepang. Ya, dua orang sutradara film Jepang yang namanya mungkin sudah tidak asing bagi para penggemar film di kalangan internasional tahun ini tiba-tiba melebarkan sayapnya ke dunia televisi dengan menyutradarai serial drama. Yang pertama adalah Kurosawa Kiyoshi (Pulse, Tokyo Sonata), yang pada awal tahun menyutradarai mini seri lima episode berjudul Shokuzai (Penance) yang ditayangkan di channel WOWOW. Sementara itu, di akhir tahun ini giliran sutradara Koreeda Hirokazu (Nobody Knows, After Life) yang memberi kita sebuah “hadiah manis” berupa dorama berjudul Going My Home yang akan saya review di postingan ini.

gmh1Going My Home bercerita tentang seorang pria yang bekerja sebagai CM (commercial movie) Producer bernama Tsuboi Ryota (Abe Hiroshi). Ryota sendiri adalah seorang pria yang sudah berkeluarga. Istrinya, Sae (Yamaguchi Tomoko), adalah seorang food stylist (semacam tukang masak masakan cantik untuk keperluan acara TV/majalah) terkenal. Sementara anak perempuan satu-satunya yang bernama Moe (Makita Aju), menimbulkan ‘masalah’ di sekolahnya karena mengaku bisa berkomunikasi dengan makhluk yang ‘tidak kelihatan’. Sebuah masalah terjadi ketika Ryota mendapat kabar bahwa ayahnya mendadak collapse yang berujung pada koma di sebuah kota bernama Nagano. Nagano sendiri adalah kampung halaman ayahnya ketika masih kecil, dan Ryota sendiri merasa heran mengapa ayahnya bisa berada di situ setelah sekian lama. Ryota sendiri kemudian mengunjungi ayahnya secara rutin ke rumah sakit kota tersebut bersama dengan ibu dan kakak perempuannya. Dan pada suatu hari ia melihat seorang perempuan muda cantik sedang mengunjungi ayahnya. Rasa penasaran akan hubungan ayahnya dengan perempuan misterius itu membawa Ryota ke sebuah daerah (masih di Nagano). Ia pun kemudian mengetahui bahwa perempuan yang ternyata bernama Shimojima Naho (Miyazaki Aoi) tersebut adalah putri dari teman lama ayahnya (diperankan Nishida Toshiyuki). Selain itu, ia juga mendapat kejutan lain mengenai alasan ayahnya mengunjungi Nagano beberapa bulan terakhir ini, yaitu berkaitan dengan pencarian sebuah makhluk kecil misterius yang diyakini bernama “Kuna”. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya pada Ryota? Apakah suatu hari ayahnya akan bangun dari komanya? Apa sebenarnya Kuna tersebut, dan apakah makhluk tersebut benar-benar ada? Dan untuk apa ayahnya mencari makhluk tersebut? Tonton aja deh.

gmh2-1Dorama bertema keluarga biasanya selalu berhasil meluluhkan hati saya, tidak terkecuali dengan dorama berjumlah 10 episode dengan judul Going My Home ini. Kata heartwarming rasanya merupakan salah satu kata yang tepat untuk mewakili kesan yang saya dapat dari menonton dorama ini. Dorama ini sendiri seperti filmnya Koreeda kebanyakan: lambat, tenang, sederhana, dan tanpa konflik yang berlebihan. Oleh karena itu, sebagian orang mungkin akan merasa dorama ini membosankan (apalagi jika kamu menyukai film/dorama bertempo cepat dengan konflik yang dramatis) dan tidak menarik. Tapi tidak dengan saya. Saya sangaaaat menikmati dorama ini dari awal sampai akhir. Yang paling saya suka dari dorama ini adalah gambaran suasana serta interaksi tokoh-tokohnya yang terlihat sangat natural dan realistis. Misalnya ketika kita melihat Ryota bersama dengan ibu dan kakak perempuannya. Mereka itu keluarga yang biasa-biasa saja dan bukan keluarga sempurna. Namun, ketika saya melihat mereka sedang berkumpul dan mengobrol bersama, saya seperti sedang melihat keluarga beneran. Interaksi antara Ryota dengan istri dan anak perempuannya pun terlihat sangat natural dan wajar. Mereka bukan tipe keluarga yang lengket atau apa, tapi mereka semua saling menunjukkan perhatiannya kepada satu sama lain dengan caranya masing-masing. Interaksi yang natural antara para anggota keluarga tersebut menurut saya sangat didukung oleh skenario dari dorama ini (yang ditulis Koreeda sendiri). Dialog-dialog yang ada di dorama menurut saya lucu dan gmh4menggelitik (meskipun bukan tipe lucu yang bikin tertawa terbahak-bahak, tapi lebih ke lucu yang bikin kita tersenyum kecil). Sepintas, dialog-dialog yang ada mungkin terdengar kurang penting karena banyak menyinggung hal remeh temeh. Namun, itulah yang menambah kerealistisan dorama ini, karena percakapan mereka rasanya seperti percakapan yang dilakukan oleh kebanyakan orang di kehidupan sehari-hari. Jadi para penyuka dorama bergenre slice of life, mungkin dorama ini akan menjadi pilihan yang sangat tepat untuk kamu tonton.

gmh3Dan selayaknya keluarga yang realistis, meskipun selalu bersama-sama setiap saat, bukan berarti kita sepenuhnya mengetahui segala hal tentang anggota keluarga kita yang lain. Dalam Going My Home, anggota keluarga yang menyimpan sebuah misteri adalah ayahnya Ryota. Meskipun sudah berpuluh tahun bersama, tapi ada juga hal-hal yang Ryota tidak ketahui mengenai ayahnya. Hal itu membawanya pada suatu hal bernama “Kuna”, sebuah makhluk kecil yang kabarnya dapat mempertemukan kita dengan orang yang sudah meninggal. Ryota yang tidak percaya pada segala hal yang tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat diam-diam mulai menunjukkan ketertarikannya pada “kuna”. “Kuna” ini sendiri tidak jelas apakah benar-benar ada atau tidak. Namun, ada atau tidak adanya “kuna” ini sendiri menurut saya bukanlah poin utama dorama ini. Peran “kuna” di sini adalah sebagai simbol harapan sekaligus penyesalan. Kita mungkin menyimpan banyak harapan terhadap orang-orang yang kita sayangi, misalnya anggota keluarga kita. Kadang-kadang, hal tersebut bisa saja berujung pada suatu penyesalan. Namun, adanya kedua hal itu menunjukkan bahwa rasa cinta pernah hidup di hati kita untuk orang-orang tersebut. Ya, hal-hal tersebut sama seperti “kuna”, sesuatu yang tidak bisa kita lihat dengan mata telanjang, tapi bukan berarti tidak ada. Hal itulah yang membuat dorama ini menjadi sangat ‘nancep’ ke hati ini.

gmh5Selain hal-hal yang saya sebut di atas, yang paling saya sukai dari dorama ini adalah jajaran castnya yang bagus. Abe Hiroshi sangat bagus aktingnya sebagai Ryota, pria canggung yang kadang berkelakuan awkward. Begitu juga dengan Yamaguchi Tomoko yang sangat pas berperan sebagai Sae, istri Ryota (btw dorama ini menandakan kembalinya Yamaguchi ke dunia akting setelah 16 tahun lamanya). Miyazaki Aoi pun tampil memikat sebagai seorang single parent bernama Naho. Para aktor-aktris lainnya seperti Nishida Toshiyuki, YOU, Yoshiyuki Kazuko, Arai Hirofumi, Abe Sadao, dan lain-lainnya pun memerankan perannya masing-masing dengan baik. Terakhir, jangan lupakan aktris cilik pendatang baru bernama Makita Aju yang tampil sangat memikat sebagai Moe, anak perempuan Ryota.

Secara keseluruhan, Going My Home merupakan salah satu dorama favorit saya di tahun 2012 ini (meskipun di negaranya dorama ini memiliki rating/viewership yang jeblok). Highly recommended, terutama untuk para penyuka dorama bergenre family & slice of life dan tidak keberatan dengan alur yang slow. 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »