Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2011

1. Morning Glory (2010)

Buat yang lagi lesu dan gak bersemangat, mungkin ada baiknya menonton film ini. Film ini menurut saya merupakan salah satu feel good movie yang menyenangkan dan menghibur. Bercerita tentang Becky Fuller (Rachel McAdams), seorang perempuan workaholic yang baru saja dipecat dari pekerjaannya sebagai executive producer sebuah acara pagi di salah satu stasiun televisi. Setelah sibuk mencari pekerjaan baru, Becky kemudian ditawari bekerja menjadi executive producer sebuah acara pagi bernama Daybreak, sebuah acara TV yang akhir-akhir ini tidak memperoleh rating yang menyenangkan.  Morning Glory adalah salah satu film yang dapat membuat mood penontonnya berubah menjadi baik setelah menontonnya. Begitu juga dengan yang terjadi pada saya. Setelah menonton film ini, rasanya saya jadi ketularan semangatnya Becky. Rachel McAdams tampil sangat memikat di sini. Saya seneng sama karakter Becky Fuller yang ceria dan tidak mudah menyerah ini. Harrison Ford dan Diane Keaton juga bermain baik di sini, dan scene ‘pertengkaran’ mereka di acara Daybreak ini berhasil bikin saya senyum-senyum sendiri. Tapi film ini juga memiliki beberapa kekurangan, seperti plotnya yang biasa dan pasaran. Endingnya juga gampang ditebak.  Oh ya, meskipun ini film Hollywood tapi entah kenapa saya ngerasa film ini dorama banget (mengingatkan saya pada dorama-dorama bertema profesi semacam News no Onna, bahkan ada beberapa adegan dalam film ini yang mengingatkan saya pada dorama itu). But overall, film ini recommended dan layak tonton kok. Dan jika kamu tertarik dengan dunia televisi atau dunia broadcasting, sangat dianjurkan untuk menonton film ini. 3,5/5

2. Tangled (2010)

Buat yang kangen animasi Disney bertema putri-putrian semacam Sleeping Beauty, Snow White, dan teman-temannya, mungkin Tangled akan mengobati kerinduan anda pada film-film berjenis seperti itu. Hadir dengan animasi yang lebih canggih dari film-film yang saya sebutkan di atas, Tangled mengangkat cerita yang mungkin sudah tidak asing di telinga kita, yaitu Rapunzel.  Rapunzel yang rambutnya puanjaaaaaaaaaang itu merupakan salah satu tokoh dalam dongeng klasik yang diciptakan Grimm bersaudara (Cinderella, Sleeping Beauty). Tangled sendiri tidak berbeda dengan film-film Disney sebelumnya di mana slogan happily ever after masih berlaku di film ini. Namun, yang menyenangkan dari film ini adalah tidak ada karakter pangeran tampan yang biasanya seolah-olah diwajibkan untuk selalu ada dalam kisah-kisah seperti ini. Karakter pria dalam film ini bukanlah pangeran, melainkan seorang pencuri yang tentu saja tidak sempurna dan memiliki banyak kekurangan. Tapi itu malah yang saya suka dari versi Rapunzel yang satu ini. Kisahnya jadi lebih manusiawi, meskipun slogan happily ever after-nya tetap tidak hilang. Secara keseluruhan film ini menghibur banget, dan membuktikan bahwa dongeng klasik tetap bisa dinikmati sampai sekarang. Banyak adegan yang menurut saya lucu dan bikin saya ketawa. Lagu-lagunya juga enak dan Disney banget. So, buat yang kangen cerita putri-putrian ala Disney, boleh tuh ditonton. 4/5

3. Evangelion: 1.0 You Are (Not) Alone (Japan, 2007)

Udah lama penasaran banget sama film ini. Well, sejujurnya saya bukan penggemar anime mecha. Saya sulit sekali menikmati anime-anime semacam Gundam. Saya juga belum pernah nonton Neon Genesis Evangelion sebelumnya. Tapi saya penasaran sama serial tersebut karena banyak yang memberi pujian dan tampaknya anime itu tidak sekadar bercerita tentang mecha saja. Tapi karena belum kesampaian nonton versi serialnya, maka saya nonton versi movie-nya karena kebetulan saya nemu dvd-nya di lapak yang biasa saya kunjungi. Dan hasilnya….hmmm, tampaknya saya memang tidak cocok dengan mecha. Katanya, walaupun belum nonton serialnya pasti bakalan ngerti filmnya. Tapi saya masih bingung pas nonton. Permasalahan langsung ada di bagian awal. Dan saya merasa tidak diberi kesempatan untuk ‘berkenalan’ dengan Evangelion ini. Siapa sih Shinji Ikari itu? Kenapa dia yang dipilih jadi pilot Eva? Trus-trus, Rei Ayanami itu siapa? Kok kayaknya kudu nonton serialnya dulu ya biar ngerti? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak saya sepanjang nonton film ini, dan sampai akhir belum terjawab. Pertempuran mecha-nya juga buat saya kurang seru (tapi ini sih emang saya kurang suka yang seperti itu). Tadi saya bilang bahwa tampaknya film ini bukan sekadar tentang mecha saja. Iya sih, di sini juga kita diseret pada kondisi psikologis tokoh Shinji Ikari (yang nantinya akan berkaitan dengan judulnya). Tapi saya yang biasanya tertarik sama masalah seperti itu rasanya sulit bersimpati pada tokoh itu. Jadi, maaf, tampaknya saya tidak cocok dengan film ini. 3/5

Advertisements

Read Full Post »

Detektif, profesi satu itu sempat menjadi salah satu cita-cita saya waktu masih kecil, gara-garanya waktu kecil saya suka banget baca komik Detective Conan. Sejak baca Conan, saya jadi suka sama segala cerita yang berbau detektif, baik itu cerita dalam buku, komik, film, sampai serial. Nah, kali ini saya akan ngereview salah satu dorama bertemakan detektif yang baru-baru ini saya tonton, yaitu Keizoku 2: SPEC. Tapi, tema detektif di sini sedikit berbeda karena ditambah beberapa unsur lain seperti unsur komedi dan supernatural.

Melihat angka 2 pada judulnya, kita pasti akan langsung menebak bahwa dorama ini adalah sebuah sekuel dari dorama yang sudah ada sebelumnya. Ya, dorama ini adalah sekuel dari dorama Keizoku (1999) yang dibintangi oleh Miki Nakatani dan Atsuro Watabe (belum nonton). Tapi menurut info yang saya baca, SPEC bukanlah lanjutan dari seri pertamanya karena karakter-karakter dalam SPEC semuanya adalah karakter baru dan bukan dari dorama pendahulunya (ralat: Raita Ryu ternyata berperan di Keizoku juga). Sehingga, tanpa nonton seri pertamanya kita tetap akan mengerti jalan cerita SPEC karena ceritanya yang berdiri sendiri dan tidak ada sangkut pautnya dengan seri pertamanya. Hubungan antara SPEC dan Keizoku hanya ada pada tema ceritanya yang sama, di mana kasus-kasus yang diselidiki dalam dua dorama itu adalah kasus-kasus yang tidak masuk akal dan tidak bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.

Jadi begini ceritanya, di kepolisian Jepang (tentunya dalam dorama ini) ada sebuah divisi / unit dengan nama Unidentified Crimes Unit. Tugas divisi ini adalah untuk menyelidiki kasus-kasus yang tidak bisa dijelaskan dengan penjelasan yang ilmiah atau masuk akal. Awalnya, divisi ini hanya terdiri dari dua orang saja, yaitu chief Nonomura yang mengepalai divisi ini, serta Touma Saya (Toda Erika), seorang perempuan jenius dengan IQ 201, tapi memiliki penampilan yang serampangan dan asal-asalan. Suatu hari, divisi ini akhirnya bertambah dengan satu orang lagi, yaitu Sebumi Takeru (Kase Ryo), seorang polisi yang dipindahkan dari divisi SIT (saya lupa itu singkatan dari apa, yang jelas divisi ini semacam densus 88 yang tugasnya buat nangkep teroris atau sejenisnya). Sebumi dipindahkan karena sebuah insiden misterius yang membuat seorang anak buahnya terluka. Meskipun tidak dinyatakan bersalah, tapi kemudian Sebumi diberhentikan dari SIT dan dipindahkan ke Unidentified Crimes Unit. Sebumi dan Touma yang masing-masing memiliki kepribadian bertolak belakang (Sebumi orangnya sangat serius sementara Touma terlihat asal-asalan) kemudian menjadi partner dan bersama-sama mereka menyelidiki kasus-kasus yang melibatkan orang-orang yang memiliki SPEC. SPEC sendiri dapat diartikan sebagai semacam kekuatan supernatural yang tidak dimiliki manusia biasa. Orang-orang yang dianugerahi SPEC masing-masing memiliki kekuatan yang berbeda-beda. Ada yang bisa meramal masa depan, membaca pikiran orang lain, telekinesis, dan lain-lain. Kekuatan tersebut tidak jarang disalahgunakan oleh orang-orang tersebut. Salah satu orang ‘berbahaya’ yang menyalahgunakan kekuatan tersebut adalah Ninomae Juuichi (Kamiki Ryunosuke), seorang remaja laki-laki yang memiliki kemampuan menghentikan waktu, yang juga merupakan penyebab kenapa Touma menggunakan gips di tangan kirinya. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Sebenarnya, siapa itu Ninomae? Apakah suatu saat Touma akan berhasil menangkapnya? Lalu, kejutan apa lagi yang akan muncul di dorama ini?

Alasan saya menonton dorama ini adalah karena Kase Ryo bermain di dalamnya. Ya, baru-baru ini saya dibuat terpesona oleh aktingnya di salah satu film garapan Takeshi Kitano yang berjudul Outrage. Kase  Ryo adalah salah satu aktor Jepang yang lebih sering bermain dalam film ketimbang dorama. Meskipun film-film yang dibintanginya udah seabreg banyaknya, tapi kalo soal dorama, jumlahnya masih sedikit sekali. Makanya, pas tahu dia main di dorama ini, ekspektasi saya jadi lumayan tinggi karena jarang-jarang kan Kase Ryo mau main dorama 😀 Dan setelah ditonton, ternyata doramanya emang bagus dan adiktif sekali. Episode pertamanya menurut saya masih tergolong biasa-biasa saja, dan sedikit mengingatkan saya pada dorama Trick-nya Nakama Yukie (tapi kalo dalam Trick kekuatan supernatural itu adalah bohong belaka, kekuatan supernatural dalam SPEC memang benar-benar ada dan bukan trik belaka). Namun, semakin ke sana dorama ini menjadi semakin baik dan semakin bagus.

Yang menarik dari dorama dengan jumlah 10 episode ini tentu saja hubungan antara Touma dan Sebumi, dua orang detektif yang memiliki sifat yang sangat bertolak belakang. Meskipun kadang-kadang tidak akur dan sering saling ledek, belakangan kita bisa lihat kalo sebenarnya mereka saling peduli satu sama lain. Hubungan mereka juga digambarkan dengan sangat lucu. Tapi buat kamu yang mengharapkan adanya hubungan romantis di antara keduanya, siap-siap kecewa deh.  Selain itu, yang menarik dari dorama ini tentu saja adalah karakter-karakternya yang juga didukung akting yang gemilang dari pemain-pemainnya. Karakter Touma yang diperankan Toda Erika menurut saya unik sekali, dan berkat aktingnya sebagai karakter itu, Toda Erika kemudian mendapatkan penghargaan Best Actress di 67th Drama Academy Award. Karakternya sebagai perempuan jenius cuek yang sangat suka makan dan punya ritual unik setiap mau memecahkan kasusnya ini sangaaaaat memikat. Dan kabarnya di dorama ini Toda Erika tidak memakai make up sama sekali, tapi menurut saya dia tetap terlihat cantik di sini. Dan yang tidak kalah memikat tentu saja karakter Sebumi Takeru yang diperankan Kase Ryo. Kase Ryo ini emang jago banget ya aktingnya. Padahal biasanya saya tidak suka sama tipe karakter serius kayak gini, tapi Kase Ryo berhasil membuat karakter Sebumi menjadi tidak membosankan. Saya jadi makin jatuh cinta sama aktor satu ini, hehe. Pemain-pemain lainnya juga  berakting dengan sangat baik di dorama ini, seperti Raita Ryu yang memerankan chief Nonomura, bahkan Shirota Yuu yang tidak terlalu saya suka juga berakting lumayan baik di sini. Satu lagi yang paling menonjol tentunya karakter Ninomae Juuichi yang diperankan Kamiki Ryunosuke. Kamiki  lumayan berhasil memerankan Ninomae, seorang penjahat abg yang punya tampang dan gaya yang sangat ceria.

Seperti serial detektif pada umumnya, setiap episodenya menampilkan satu buah kasus yang berbeda-beda dengan episode lainnya. Tapi meskipun berbeda-beda, kasus-kasus tersebut sebenarnya memiliki kaitan (karena semuanya melibatkan SPEC) dengan kasus besar yang terjadi sebenarnya. Namun sayangnya, setelah menonton sampai akhir, kita masih belum  mendapat pencerahan mengenai hal tersebut. Yak, SPOILER ALERT endingnya sengaja dibikin gantung dan masih banyak teka-teki yang belum terselesaikan. Kenapa saya bilang disengaja? Karena gantungnya tersebut tampak disadari oleh dorama ini, karena di bagian akhir setelah dorama ini selesai, karakter Touma dan Sebumi diperlihatkan berdiri berjajar dan Touma berbicara pada kamera “I’m never going to do a movie.”, seolah bisa membaca pikiran penonton mengenai endingnya. Tapi meskipun Touma bilang gak mau ngelanjutin serial ini menjadi sebuah film, saya punya firasat *halah* kalo dorama ini akan dibuat versi movie-nya, yah paling nggak episode sp mungkin. Saya sendiri sangat berharap dorama ini ada lanjutannya karena sebagai penonton saya masih belum puas dan rasanya tidak rela kalau dorama ini sudah berakhir. Ja, jadi segini aja review gak penting dan lagi-lagi kepanjangan dari saya. 4,5 bintang deh untuk dorama ini (tadinya mau 5 bintang, tapi karena endingnya gantung saya kurangin 0,5). Highly recommended 🙂

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »