Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2011


Setelah nonton BOSS (dan diikuti BOSS 2), mood nonton dorama saya jadi naik drastis. Saya pun mencoba menonton episode pertama dari beberapa dorama yang belum pernah saya tonton, tapi sayangnya tidak ada yang membuat saya tertarik untuk melanjutkan ke episode-episode berikutnya biarpun dorama-dorama tersebut sebenarnya memiliki cerita yang menarik. Lalu saya mencoba menonton episode pertama dari dorama Hotaru no Hikari, dorama yang ceritanya udah sering saya denger tapi baru kali ini niat buat nontonnya muncul. Dan ternyata doramanya emang menarik banget dan bikin saya ketagihan dari awal. Dorama berjumlah 10 episode ini pun langsung selesai saya tonton dalam satu hari, dan menyusul setelah itu season keduanya yang juga selesai dalam satu hari (yeah, I really need to get a life).

Hotaru no Hikari (Glow of Fireflies) sendiri bercerita tentang Amemiya Hotaru (Ayase Haruka), seorang perempuan kantoran yang selalu berpenampilan rapi, modis, dan selalu cekatan dalam pekerjaannya. Tapi siapa yang menyangka, penampilan Hotaru di rumah ternyata sangat bertolak belakang dengan penampilannya di kantor. Di rumah ia lebih senang bermalas-malasan sambil minum bir, dengan mengenakan celana training yang sudah sobek dan kaos bernoda, dan dengan rambut diikat ke atas. Rumahnya pun tidak pernah jauh dari kata berantakan. Hotaru juga tidak pernah tertarik dengan kehidupan percintaan karena menurutnya lebih asik bermalas-malasan di rumah daripada berkencan dengan cowok. Jika diistilahkan, perempuan seperti Hotaru ini dapat disebut sebagai Himono Onna (dried fish woman).

Lalu suatu kejadian menyebabkan ia terpaksa berbagi tempat tinggal dengan Takano Seiichi (Fujiki Naohito) yang tidak lain adalah bosnya sendiri. Berbeda dengan Hotaru, Takano (yang biasa dipanggil buchou oleh Hotaru <- sebutan bos/manager/kepala biro dalam bahasa jepang) adalah pria yang sangat perfeksionis dan rapi. Oleh karena itu, tentu saja ia tidak tahan melihat gaya hidup Hotaru yang asal-asalan. Suatu ketika, Hotaru yang sudah lama tidak peduli pada kehidupan percintaan tiba-tiba jatuh cinta pada Teshima Makoto (Kato Kazuki), seorang karyawan kantornya yang baru pulang dari tugasnya di luar negeri. Teshima sendiri sebenarnya juga menyukai Hotaru, tapi karena sifatnya yang kaku, dan juga karena Hotaru yang kurang pengalaman dalam masalah percintaan, hubungan mereka menjadi terasa agak sulit. Belum lagi yang menyukai Teshima bukan hanya Hotaru saja. Namun untung ada Takano, yang selalu membantu dan menyelematkan hubungan Hotaru dan Makoto. Lalu, apakah hubungan antara Hotaru dan Makoto berjalan lancar? Dan bagaimana dengan hubungan Takano dan Hotaru? Apakah rahasia bahwa mereka tinggal serumah suatu saat akan ketahuan? Ayo kaaak, ditonton.

Dua kata untuk dorama ini: KOCAK BANGET. Saya suka banget sama kepribadian karakter Hotaru yang sedikit mengingatkan saya pada karakter Nodame dari Nodame Cantabile. Hotaru ini bener-bener konyol dan sinting ya. Karakter ini sendiri agak menyentil saya yang kalo di rumah gak jauh dari karakter himono onna (tapi saya gak separah Hotaru kok, serius). Ngaku deh, pasti banyak dari kalian yang juga punya sisi himono onna kan? kaaaaan?

Ya ya ya, yang bikin dorama ini menarik dan jadi hidup tentu saja karakter Hotaru si Himona Onna. Segala kekonyolan yang dilakukannya selalu berhasil membuat saya tertawa. Ceritanya sendiri biar gak tergolong original tapi tetap menarik untuk diikuti, dan yang pasti dorama ini bikin saya gemes terus karena penasaran pengen melihat bagaimana perkembangan kehidupan Hotaru selanjutnya. Kisah cintanya itu loh benar-benar menggemaskan! Biarpun di sebagian besar dorama lebih fokus pada kisah cinta antara Hotaru dan Makoto, tapi yang bikin gemes tentu saja adalah hubungan antara Hotaru dan buchou-nya. Momen saat mereka duduk berdua dan ngobrol-ngobrol di beranda rumah adalah momen yang paling saya suka di dorama ini. Chemistry antara kedua tokohnya pun berhasil dibangun dengan baik biarpun dorama ini kering adegan mesra. Biarpun bertolak belakang, keliatan banget kalo mereka saling membutuhkan satu sama lain. Ayase Haruka sangat berhasil memerankan tokoh Hotaru. Begitu juga dengan om Fujiki Naohito yang luar biasa ganteng dan selalu kelihatan muda di sini. Saya suka liat karakternya yang sering kebawa gila gara-gara Hotaru. Kato Kazuki juga lumayan ganteng di sini biarpun aktingnya biasa aja (hey pris, stop using word “ganteng” in your review!).

Well, segini aja review saya. Buat penyuka dorama-dorama bergenre komedi romantis, saaaaangat sangat disarankan untuk menonton dorama ini (tapi dorama ini lebih banyak komedinya sih ketimbang romantisnya). Seperti yang udah dibilang di atas, dorama ini juga memiliki sekuel yang menurut saya sama bagusnya sama yang pertama (but less ngegemesin). Tahun 2012 nanti pun kelanjutan kisah antara Hotaru dan buchou akan dilanjutkan dalam bentuk film layar lebar. Jadi tunggu apa lagi, ayo tontonlah dorama ini! 😀

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

Salah satu hal paling menyenangkan ketika menonton film adalah ketika kita menonton film tanpa ekspektasi apa-apa dan ternyata film yang kita tonton itu berhasil meninggalkan kesan yang dalam di hati kita. Hal itulah yang saya rasakan ketika menonton Flipped, sebuah film karya sutradara Rob Reiner (When Harry Met Sally, The Bucket List). Film ini mungkin luput dari perhatian banyak orang, termasuk saya yang sebelumnya gak pernah ngeh sama keberadaan film ini. Saya pun nonton film ini karena lagi mood buat nonton film-film ringan nan menyenangkan, dan beberapa waktu yang lalu saya sempat denger ada yang bilang kalau film ini bagus dan ringan. Tapi teteup, saya gak berharap banyak-banyak pas nonton film ini dan tanpa disangka-sangka film ini menjadi sebuah kejutan manis di masa liburan saya yang biasa-biasa saja ini. Ya, saya dibuat jatuh cinta oleh film ini.

You never forget your first love, itu adalah tagline dari film ini. Dan seperti kata taglinenya, film ini bercerita tentang cinta pertama, sebuah tema yang sederhana bukan? Namun, jangan remehkan tema sederhana macam ini, karena kesederhanaannya tersebut berhasil digarap dengan baik dan menjadikan film ini menjadi sangat manis dan nyaman ditonton dari awal sampai akhir. Film ini bercerita tentang sepasang anak remaja bernama Juli Baker (Madeline Carroll) dan Bryce Loski (Callan McAuliffe). Mereka pertama bertemu ketika umur mereka sama-sama 7 tahun. Waktu itu adalah ketika masa sebelum mereka memasuki kelas 2 sekolah dasar, dan Bryce kebetulan baru pindah ke rumah seberang rumah Juli. Pertama bertemu, Juli langsung jatuh cinta pada Bryce (atas dasar mata Bryce yang katanya keliatan selalu bersinar). Juli selalu mendekati Bryce, tapi sayangnya Bryce selalu merasa terganggu dengan keberadaan Juli yang dianggapnya sebagai anak aneh. Ketika mereka masuk SMP, keadaan tetap tidak berubah. Juli tetap menyukai Bryce dan Bryce tetap membenci Juli. Sampai beberapa kejadian membuat segalanya menjadi terbalik alias flipped (seperti judul filmnya). Perilaku Bryce yang sering mengecewakan Juli membuat Juli mulai menyadari bahwa Bryce sebenarnya tidak berarti sama sekali, dan membuat Juli mulai membenci Bryce. Dan hal itu malah membuat Bryce menjadi merindukan Juli dan membuat ia mulai menyukai perempuan yang punya hobi memanjat pohon dan memelihara ayam itu. Lalu apa yang akan terjadi pada mereka berdua?  Apakah suatu saat mereka akan berada di posisi yang tidak bertolak belakang lagi seperti biasanya? Tonton aja kakak 😀

Kalo dilihat dari sinopsisnya, mungkin kamu akan menganggap ceritanya sangat biasa. Ya, cerita film ini memang biasa dan simpel banget. Tapi itulah yang saya suka dari film ini. Kesederhanaannya ini mengingatkan saya pada film-film Jepang yang sering mengangkat kehidupan sehari-hari sebagai latarnya, dan saya udah jarang menemukan film-film Hollywood yang seperti itu akhir-akhir ini. Di luar kisah cinta, film ini memang banyak menekankan tentang kehidupan, terutama mengenai cara manusia memandang kehidupan. Berhubungan dengan hal itu, film ini memiliki dua sudut pandang di dalamnya, yaitu sudut pandang Bryce dan sudut pandang Juli. Dengan hal itu, kita bisa tahu apa yang ada di benak mereka dan cara mereka menghadapi hal atau masalah yang ada di sekitar mereka. Dan seperti pada judulnya, melalui film ini kita bisa merasakan bahwa  segalanya bisa berubah dalam hidup ini. Orang yang dulunya kamu benci bukan tidak mungkin nantinya bisa saja menjadi orang yang paling kamu cintai, dan vice versa. Segalanya bisa berubah menjadi terbalik, termasuk perasaan manusia.

Untuk akting, semua pemain dalam film dengan cerita berlatar tahun 60-an ini semuanya menunjukan akting yang bagus, terutama Madeline Carroll yang berperan sebagai Juli Baker. Saya suka banget sama karakter Juli ini. Saya suka banget cara dia memandang kehidupan ini dan juga cara dia menyayangi pohon dekat rumahnya dan ayam-ayam peliharaannya, plus semangatnya yang besar itu bikin dia semakin memiliki nilai lebih. Well, dari film ini saya banyak belajar dari karakter ini.

Ja, segini aja review dari saya. Overall saya suka banget sama film ini. Biarpun sederhana, film ini berhasil meninggalkan kesan yang dalam di hati, dan berhasil bikin saya jadi senyum-senyum sendiri abisnya. Film ini juga nyaman banget ditonton, dan film ini adalah tipe film yang akan saya tonton berulang kali. Oh ya, kalo harus membandingkan sama film bertema serupa, contohnya Crazy Little Thing Called Love yang sama-sama bercerita tentang cinta pertama (dan jauh lebih tenar di Indonesia), saya jauh lebih suka Flipped. Jadi buat kalian penyuka film-film manis nan romantis, atau film-film yang bercerita tentang kehidupan, sangat direkomendasikan untuk menonton film ini.

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »