Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘action’

Jepang sepertinya memang tidak pernah bosan membuat dorama bertemakan detektif. Pada musim dingin tahun ini pun, terdapat beberapa dorama bertemakan detektif yang ditayangkan di tv-tv Jepang, salah satunya adalah dorama berjudul Lucky Seven yang telah selesai tayang baru-baru ini. Tidak seperti dorama detektif kebanyakan yang biasanya bercerita tentang detektif yang ada di kepolisian, Lucky Seven bercerita tentang sebuah agen detektif swasta yang bernama Lucky Detective Agency.

Lucky Detective Agency pada awalnya hanya terdiri dari enam orang saja. Seperti kebanyakan kantor detektif swasta, mereka melayani permintaan dari klien yang datang. Hal-hal yang mereka selidiki bisa bermacam-macam, bisa menyelidiki kasus perselingkuhan, kasus penipuan, dan berbagai macam kasus lainnya (tergantung permintaan klien). Pada adegan pertama, diperlihatkan bahwa beberapa detektif dari Lucky Detective Agency sedang menyelidiki perselingkuhan yang dilakukan istri dari klien mereka. Bukti bahwa si istri berselingkuh berhasil didapatkan, namun mereka melakukan kesalahan karena salah satu dari mereka, yaitu Nitta Teru (Eita) sempat terlihat oleh Tokita Shuntaro (Matsumoto Jun), selingkuhan dari si istri klien. Pada awalnya Shuntaro tidak menyadari bahwa ia sedang diselidiki. Namun, keesokan harinya, ketika ia mencoba menghubungi selingkuhannya, ia lalu mengetahui bahwa perselingkuhannya telah diselidiki oleh detektif. Dan pada saat itu juga, secara kebetulan ia melihat Nitta, dan langsung menyadari bahwa orang itu adalah detektif yang menyelidikinya. Kejar-kejaran antara Shuntaro dan Nitta pun tidak bisa dihindarkan, dan Shuntaro berhasil mengejar Nitta sampai ke kantornya. Melihat kegigihan Shuntaro dalam mengejar Nitta, Fujisaki Touko (Matsushima Nanako) yang merupakan boss sekaligus pendiri Lucky Detective Agency kemudian menawari Shuntaro untuk bergabung menjadi anggota ketujuh Lucky Detective Agency. Shuntaro yang seorang pengangguran dan tidak pernah punya pekerjaan tetap pun mencoba menerima tawaran itu. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Shuntaro akan betah bekerja di Lucky Detective Agency? Apakah menjadi detektif adalah pekerjaan yang tepat untuknya? Dan, kasus-kasus macam apakah yang akan mereka selidiki selanjutnya? Tonton aja deh.

Yang membuat saya tertarik menonton dorama ini tentu saja karena salah satu pemainnya adalah aktor Jepang favorit saya *uhuk Eita uhuk*, dan dorama bertemakan detektif memang selalu menarik perhatian saya. Dan yang saya suka lagi adalah meskipun dorama ini bertemakan detektif, tapi kasus-kasus yang diselidiki bukan seputar kasus pembunuhan seperti di kebanyakan dorama detektif lainnya (meskipun kasus yang terakhir masih ada sangkut pautnya dengan pembunuhan). Jadi buat kamu yang suka dorama detektif tapi bosen sama dorama detektif yang isinya kasus pembunuhan terus, dorama ini bisa dijadikan sebagai alternatif tontonan (dan bukankah detektif itu tidak harus selalu identik dengan kasus pembunuhan? :)).

Kasus-kasus dalam Lucky Seven sendiri bukan tipe kasus yang hebat, membuat penasaran, atau menguras pikiran. Bagian penyelidikannya pun menurut saya biasa aja. Lalu, apa yang menjadikan dorama ini menjadi menarik dan menghibur? Jawabannya adalah chemistry antara dua tokoh utamanya, yaitu Shuntaro dan Nitta. Menurut saya, interaksi antara dua tokoh ini lah yang membuat dorama ini menjadi sangat menarik. Ya, aroma “bromance” dalam dorama ini memang menjadi kekuatan utama dorama ini, sampai-sampai menutupi karakteristik tokoh-tokoh yang lain (ini jeleknya sih). Diceritakan bahwa Nitta dan Shuntaro ini dari awal tidak pernah akur, tapi meskipun begitu pada akhirnya mereka selalu menjadi tim yang solid.

Selain itu, kelebihan lain dari dorama ini adalah kita juga akan disuguhi beberapa fighting/action scene yang memukau, salah satunya adalah fighting scene antara Shuntaro dan Nitta di episode pertama yang settingnya dibuat ala setting di film Fight Club. Meskipun kesannya fanservice banget, tapi itu adalah salah satu fighting scene terbaik yang pernah saya lihat di dorama Jepang, dan membuat saya merasa harus menonton dorama ini sampai akhir. Di episode-episode selanjutnya pun kita akan disuguhi beberapa action scene yang meskipun tidak se-epik action scene yang pertama, tapi lumayan menghibur. Di luar unsur actionnya, dorama ini juga memuat unsur komedi yang meskipun gak lucu-lucu amat, tapi lumayan lah bikin nyengir-nyengir dikit.

Matsumoto Jun dan Eita berakting bagus di sini. Tapi catatan untuk Matsujun, meskipun dia berakting lumayan baik di sini, di episode-episode awal rasanya dia gak terlihat seperti lead character karena karakter Nitta terlihat lebih menonjol daripada karakter Shuntaro. Menurut saya, karakter Shuntaro ini hanya menarik ketika dia sedang berada di adegan yang sama dengan Nitta. Ketika dia lagi sendirian, karakter ini tiba-tiba jadi ngebosenin (ini saya bukan bias ke Eita loh, karena saya juga adalah penggemar Matsujun). Ya, meskipun cuma pemeran “kedua”, Eita memang sangat menarik perhatian di sini. Meskipun dari segi fisik dia mengalami tanda-tanda penuaan dan tanda-tanda anoreksia, tapi dia berhasil menjadikan karakter Nitta sebagai karakter yang sangat unik dan memiliki daya tarik yang melebihi karakter utama.

Catatan: Mulai dari paragraf ini, SPOILER ALERT ya.

Namun, sayangnya aroma “bromance” antara Shuntaro dan Nitta tidak bertahan lama karena di episode tengah tiba-tiba karakter Nitta menghilang begitu saja (dengan alasan yang awalnya kurang jelas, tapi di episode terakhir karakter ini akan muncul lagi). Beberapa rumor menghiasi hilangnya karakter tersebut, tapi apapun rumornya, hal tersebut tentunya menimbulkan kekecewaan yang sangat besar pada penontonnya (termasuk saya). Sisi positifnya sih, dengan menghilangnya karakter ini, karakter lain seperti Junpei (Oizumi Yo), Asuka (Naka Riisa), dan Touko jadi mulai ditonjolkan, tapi sayangnya pembangunan karakter tokoh yang lain tersebut tidak berhasil membuat dorama ini jadi lebih menarik dari sebelumnya. Sisi positif yang lain, ini adalah kesempatan Matsujun untuk menunjukkan bahwa dia lah lead character dorama ini. Tapi sayangnya meskipun karakter Shuntaro ini memiliki sedikit perkembangan, ia tetap tidak semenarik ketika ia sedang bersama Nitta. Well, dari episode enam sampai episode delapan menurut saya masih menghibur sih, tapi tetep aja rasanya jadi agak hambar karena anggotanya yang gak lengkap, dan di-skip juga kayaknya gak bikin kita kehilangan sesuatu untuk memahami cerita selanjutnya. Baru pas episode sembilan, dorama ini kembali menarik perhatian saya. Tapi sayangnya dorama ini cuma terdiri dari sepuluh episode, jadi dorama ini kembali menarik malah pas udah mau beres 😀

Selain memengaruhi karakter lainnya, hilangnya karakter tersebut juga turut memengaruhi plot cerita dalam dorama ini. Menurut saya dorama ini jadi hilang fokus, maunya nyelidikin satu kasus per-episode atau nyelidikin satu kasus besar yang jadi benang merah dari semua kasusnya (misalnya kayak di dorama Unfair)? Hasilnya, dorama ini juga terlihat mau dua-duanya, biarpun dua-duanya ternyata gak nyambung *err.. gimana ya bahasanya*. Kasus-kasus kecil di dalamnya ternyata gak ada hubungan sama sekali sama kasus besar di episode akhir. Kasus di episode 4-5 sepertinya masih ada kaitan dengan kasus besar itu sih, tapi menurut saya kaitannya kecil banget. Dan kasus yang harusnya jadi kasus besar itu menurut saya gak hebat banget, dan bisa selesai dalam satu episode saja dan gak perlu penyelidikan yang berkelanjutan (apa lagi sampe harus bikin Nitta menghilang beberapa episode untuk menyelidiki kasus tersebut, belum lagi clue yang didapat dari penyelidikannya ternyata cuma gitu doang). Dan saya menemukan sedikit kejanggalan pada kasus yang terakhir itu. Untuk apa menyelidiki kasus yang terjadi 16 tahun yang lalu? Bukannya batas kadaluarsa suatu kasus di Jepang itu cuma 15 tahun ya? *CMIIW* Saya rasa kalo kasusnya diubah jadi kasus 15 tahun lalu dan beberapa hari lagi akan kadaluarsa, kasusnya akan menjadi lebih menarik. Curiganya sih, kasus yang terakhir ini ada di luar rencana skenario awal, dan kemudian dibikin biar hilangnya karakter Nitta yang terasa tiba-tiba jadi terlihat masuk akal.

Catatan: SPOILER berakhir.

Well, terlepas dari segala kekurangannya, saya lumayan suka dorama ini sih. Menurut saya dorama ini tetap layak tonton dan menghibur, meskipun episode-episode tengahnya jadi menurun dan mengecewakan. Jadi, 3,25 bintang deh *iyee maap nanggung*.

Rating : 1 2 3 3,25 4 5

Read Full Post »

Anak-anak dan imajinasi, dua hal tersebut adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Coba saya tanya, waktu kamu kecil kamu pasti senang sekali mengkhayalkan banyak hal kan? (kalaupun nggak, pura-pura bilang iya aja ya). Begitu juga dengan Kenji dan kawan-kawannya. Waktu kecil, Kenji selalu bermimpi ingin menjadi seorang penyelamat dunia. Dia pun merancang sebuah ‘skenario penyelamatan dunia’ pada sebuah buku yang dinamakan “the book of prophecy”, bersama dengan teman-temannya di suatu tempat yang mereka namakan “markas rahasia”. Namun, dunia bisa diselamatkan jika terlebih dahulu ada hal yang mengancamnya bukan? Karena itulah, dalam skenario penyelamatan dunia itu mereka menuliskan bahwa di masa depan, dunia akan diserang oleh berbagai macam hal, mulai dari wabah virus misterius sampai serangan robot seperti yang ada di komik-komik yang mereka baca. Dan tugas mereka adalah menyelamatkan dunia dari hal-hal tersebut.

Namun, imajinasi anak-anak kadang-kadang selalu berakhir menjadi sekadar imajinasi saja. Kenji ketika dewasa sudah melupakan cita-citanya menjadi penyelamat dunia dan malah berakhir sebagai seorang pemilik konbini (semacam mini market). Salah satu cita-citanya yang lain, yaitu sebagai musisi rock pun sudah ia buang jauh-jauh dari dulu. Lalu, beberapa kejadian misterius muncul. Kejadian-kejadian yang pernah Kenji dan kawan-kawannya tuliskan dalam skenario penyelamatan dunia di waktu kecil tersebut satu persatu menjadi kenyataan. Kejadian-kejadian tersebut diduga berkaitan dengan sebuah perkumpulan kultus  yang dipimpin oleh seorang pria misterius bernama “Friend” (atau dalam bahasa Jepangnya “Tomodachi”). Perkumpulan tersebut tampaknya bukanlah perkumpulan biasa karena kabarnya pihak kepolisian Jepang pun sudah dimasuki oleh orang-orang mereka. Yang aneh adalah, perkumpulan tersebut menggunakan simbol yang sama dengan simbol yang digunakan Kenji dan kawan-kawannya waktu kecil sebagai lambang persahabatan mereka. Jadi, siapakah “friend” sebenarnya? Apakah dia yang menyebabkan timbulnya kejadian-kejadian misterius tersebut? Apakah dia merupakan salah satu teman Kenji di masa kecil? Lalu, apakah Kenji dan kawan-kawannya memang ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia? Baca aja deh kakak

Setelah membaca manga ini, saya langsung menobatkan 20th Century Boys sebagai salah satu manga terbaik yang pernah saya baca. Saya sendiri merasa sedikit menyesal karena baru membaca manga hebat tersebut baru-baru ini, padahal manga ini sudah diterbitkan sejak tahun 1999. Tapi better late than never kan? *ting ting*

Mengagumkan. Itu adalah salah satu kata yang tepat untuk menggambarkan manga ini. Membaca manga ini membuat saya bertanya-tanya, Urasawa Naoki (pengarang 20th Century Boys) ini makannya apa ya kok bisa-bisanya bikin manga super jenius kayak gini? Saya benar-benar kagum dengan cara beliau merangkaikan kisah dalam manga ini. Salah satu keunikan manga ini terdapat pada alurnya yang acak-acakan tapi biar begitu tetap membentuk satu kesatuan yang kuat dan tidak membuat bingung. Ceritanya mengalir dengan banyak flash back, dan kadang-kadang alurnya suka loncat-loncat. Misalnya ada suatu kejadian di tahun 2000 lalu kisahnya tiba-tiba loncat ke kejadian di tahun 2014. Kadang-kadang hal tersebut membuat saya merasa gregetan karena alurnya sering tiba-tiba loncat ketika situasi dalam manga itu sedang berada di puncaknya, sehingga hal tersebut membuat pembaca akan selalu merasa penasaran karena banyaknya misteri yang belum terpecahkan. Yang membuat saya kagum lagi, Urasawa Naoki sendiri tampaknya tahu benar cerita dalam manganya tersebut akan dibawa ke mana. Misalnya setelah saya perhatikan, adegan yang terjadi dalam volume 22 (volume akhirnya) ternyata pernah disinggung (biar secuil) dalam volume pertama.

Selain alurnya, yang membuat saya kagum pada manga ini tentu saja ceritanya yang bagus dan kuat. Kisah seputar konspirasi memang selalu menarik perhatian saya. Dan apakah Urasawa Naoki hendak menyampaikan sesuatu melalui manga ini? 😀 Selain itu, di sini juga kita ditunjukan bahwa imajinasi masa kecil tentang penaklukan dan penyelamatan dunia memang sering kali terlihat keren, tapi ketika hal tersebut menjadi kenyataan, apakah kita masih bisa menyebut itu sebagai hal yang keren?

Keunggulan manga ini juga terdapat pada karakteristik tokoh-tokohnya. Yang paling saya suka dari manga ini adalah tokoh utamanya Kenji yang digambarkan sebagai orang yang biasa-biasa saja. Karakternya terasa manusiawi sekali dan kadang-kadang masih punya rasa takut. Karakter-karakter lainnya pun memiliki karakterisasi yang sangat bagus. Selain itu, karena manga ini berlatarkan pada waktu yang berbeda-beda (tahun 70-an, 1997, 2000, 2014), kita jadi bisa melihat bagaimana perkembangan karakter mereka secara psikologis dari kecil sampai dewasa (dan tua). Dan perkembangan karakter tersebut terasa wajar dan masuk akal. Di sini juga kita bisa melihat bahwa apa yang terjadi pada seseorang di masa kecilnya akan sangat berpengaruh bagi perkembangannya ketika menjadi orang dewasa. Jadi buat penyuka manga atau cerita yang rada “nyikologis”, 20th Century Boys adalah salah satu manga yang wajib sekali untuk dibaca.

Dari segi ilustrasi, saya juga suka dengan ilustrasi yang juga digambar oleh Urasawa Naoki ini. Ilustrasinya digambarkan dengan gaya gambar yang agak realis. Plus yang saya suka adalah peletakan panelnya yang sangat rapi, sehingga pembaca yang tidak terbiasa dengan manga dapat dengan mudah mengikuti ceritanya.

Namun, sayangnya endingnya menurut saya rada gantung dan kentang (alias nanggung). Seperti yang sudah saya bilang, manga ini berakhir di volume 22. Tapi sayangnya sampai manga ini berakhir, manga ini masih meninggalkan beberapa misteri yang belum terpecahkan. Namun untungnya setelah itu Urasawa Naoki mengeluarkan manga 21st Century Boys (terdiri dari dua volume) yang akan menjawab rasa penasaran pembaca akan ending yang menggantung tersebut. Saya sendiri lumayan puas dengan 21st Century Boys dan menurut saya manga tersebut adalah ending dari 20th Century Boys yang sebenarnya.

Ja, segini aja review dari saya. Saya sangat merekomendasikan manga ini untuk dibaca semua penggemar manga atau penggemar cerita suspense/supernatural/action/psychological/mystery. Oh ya, biarpun ceritanya keliatan agak berat, tapi manga ini enak diikutin kok, karena pengarangnya sering kali menyelipkan unsur humor di dalamnya. Yang jelas, kalo udah sekali baca manga ini, pasti gak bakalan berhenti baca sampai akhir (kayak saya :D). Jadi, selamat membacaaaaa :)))

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Jadi ceritanya saya sedang malas menulis review dan malas menulis tulisan yang panjang-panjang, tapi tampaknya udah jadi semacam kebutuhan untuk tidak membiarkan blog ini ditelantarkan begitu lama. Jadi seperti pada postingan yang ini, kali ini saya akan menulis review pendek dari beberapa film (tepatnya 3 film) yang saya tonton belakangan ini. CATATAN: film-film di bawah ini tidak akan saya buatkan review versi panjangnya.

1.  A Tale Of Two Sisters (South Korea, 2003)

Film horror yang berasal dari Asia, tapi bukan dari Jepang ataupun Thailand yang sudah terkenal sebagai penghasil film horror berkualitas, melainkan dari Korea Selatan. Dan ini adalah film horror Korea pertama yang saya tonton. Bercerita tentang sepasang kakak beradik perempuan, Soo-mi (Su-jeong Lim) dan Soo-yeon (Geun-young Moon) yang baru saja kembali ke rumah mereka yang terletak di pedesaan. Di rumah tersebut mereka disambut oleh ibu tiri mereka (Jung Ah-yum), yang tampaknya tidak menyukai kedua kakak beradik itu, dan begitu juga sebaliknya. Setelah kedatangan mereka, mulai muncul kejadian-kejadian aneh di rumah tersebut, seperti penampakan seorang perempuan yang dilihat Soo-mi, serta bibi mereka yang tiba-tiba ‘kesurupan’ saat makan malam bersama mereka. Soo-mi juga menemukan bahwa ibu tirinya tersebut suka menyiksa adiknya, Soo-yeong. Yak, meskipun judulnya film horror, film ini sebenarnya lebih menekankan pada thriller psikologis dibandingkan hal-hal berbau supranatural. Ya, memang ada penampakan hantu dan semacamnya, tapi hanya sedikit dan bukan faktor utama yang menjadikan film ini menjadi horror. Dan daripada menakut-nakuti seperti film-film horror pada umumnya, film ini lebih bertujuan untuk bermain-main dengan pikiran penontonnya. Misteri yang disajikan cukup membuat penasaran, dan endingnya menurut saya tak terduga meskipun awalnya sempat membuat saya bingung. Akting pemainnya pun oke, terutama acting Su-jeong Lim yang pernah saya lihat di film I’m a Cyborg but that’s Ok dan Jung Ah-yum yang berperan sebagai si ibu tiri. Kesimpulannya, buat para penyuka film horror berkualitas, sila tengok film ini : ) 4/5

2. My Brother (South Korea, 2004)

Film Korea lagi. Menonton ini dengan tidak sengaja karena ada di tumpukan dvd pinjeman kakak saya. Dan yeah, nama Won Bin pada covernya lah yang akhirnya bikin saya tertarik nonton film ini ;D Ceritanya tentang sepasang kakak beradik juga kayak film di atas, tapi yang ini laki-laki dan bukan film horror :D. Kalau kakak beradik di A Tale of Two Sisters sangat dekat dan akrab, di sini sebaliknya. Jong-hyun (Won Bin) dan Sung-hyun (Ha-kyun Shin) adalah kakak beradik dengan sifat yang sangat bertolak belakang. Jong-hyun lebih suka berkelahi, sementara Sung-hyun lebih suka  belajar. Dari kecil mereka dibesarkan seorang diri oleh ibu mereka, dan dari kecil Jong-hyun menyimpan kecemburuan pada adiknya yang lebih diperhatikan oleh sang ibu karena Sung-hyun adalah seorang harelip (istilah untuk orang dengan bibir sumbing). Sebenernya film ini biasa aja sih, tapi lumayan mengaduk emosi, terutama di bagian-bagian akhir. Endingnya menyedihkan dan sebenernya udah ketebak sejak lihat adegan pertama dan juga judulnya. But overall, film ini lumayan lah 😀 3/5

3. Crows Zero (Japan, 2007)

Yang ini film Jepang, disutradarai Takashi Miike, dan diperankan oleh Shun Oguri, Takayuki Yamada, dan beberapa aktor lainnya. Bercerita tentang sebuah sekolah bernama Suzuran, sebuah sekolah khusus cowok yang isinya berandalan-berandalan yang tampaknya tak punya hobi lain selain berkelahi. Suzuran ini diisi oleh berbagai macam ‘geng’ yang tidak pernah akur. Lalu muncul Genji (Shun Oguri), murid baru yang datang untuk menaklukan serta menyatukan  semua murid Suzuran. Caranya? Dengan mengalahkan pemimpin-pemimpin geng-geng di sekolah tersebut, terutama mengalahkan Serizawa (Takayuki Yamada) yang disebut-sebut sebagai murid terkuat di Suzuran. Overall film ini cukup menghibur sih. Buat para penyuka film action pasti suka film ini, karena film ini dipenuhi adegan-adegan perkelahian yang keren. Film ini juga memiliki sedikit sentuhan humor, dan saya suka banget karakter yang dimainkan Takayuki Yamada (di mana di sini dia jadi orang terkuat tapi ekspresinya rada-rada bego :D). Tapiiiiiii, meskipun menghibur, tapi saya tidak tahu apa tujuan film ini, menyatukan sekolah dengan cara berkelahi? Sebut saya kuno, tapi menurut saya gak sepantasnya anak-anak SMA ini kerjaannya berkelahi terus, meskipun dengan jalan ini mereka bisa bersatu. Tapi meskipun begitu saya tetep tertarik buat nonton sekuelnya kok. 2,75/5

Read Full Post »

Jadi ceritanya saya lagi libur kuliah (tapi ikut sp satu mata kuliah sih) dan selama libur ini kerjaan saya nonton film terus. Saking banyaknya film yang ditonton, saya sampai bingung mau nge-review yang mana dulu. Karena itu kali ini saya akan nulis review singkat dari beberapa film (gak semua ya, kebanyakan soalnya :p) yang saya tonton belakangan ini. Mungkin kalau tidak malas, beberapa film dalam review ini akan saya buatkan review versi panjangnya.

1. Linda Linda Linda (Japan, 2005)

Salah satu film remaja Jepang yang cukup bagus dan menarik. Idenya sederhana, tentang sebuah band yang beranggotakan siswi-siswi SMU yang akan tampil dalam festival sekolah, namun menemui masalah yang menyebabkan dua personil band itu keluar (termasuk sang vokalis). Beberapa hari sebelum tampil, mereka pun mencari vokalis baru secara ‘asal’. Adalah  Son, siswi pindahan dari Korea Selatan, yang menjadi vokalis baru mereka. Lalu timbul berbagai kejadian sebelum mereka tampil, dan meskipun baru beberapa hari, karakter Son ini akhirnya menemukan kegembiraan dan semangat baru sejak bergabung dengan band tersebut. Film ini menarik dan cukup menghibur. Yang saya suka adalah ide cerita film ini sama sekali tidak muluk-muluk, namun tidak mengurangi daya tarik film ini. Akting Bae Doona sebagai orang Korea yang sekolah di Jepang sangat memikat. Begitu juga dengan Kashii Yuu. Terakhir, habis nonton film ini saya jadi terus terngiang-ngiang sama lagu Linda Linda dari The Blue Hearts yang mereka bawakan pada festival tersebut :D. 3,5 / 5

2. Kick-Ass (2010)

Sebenarnya saya tidak pernah tertarik  pada film-film bertema superhero. Bukan karena jelek, tapi memang bukan selera saya saja. Tapi begitu mendengar bahwa superhero-superhero dalam Kick-Ass bukanlah superhero beneran (maksudnya mereka tidak mempunyai kekuatan super), saya pun jadi pengen nonton film ini, dan ternyata saya menyukai filmnya. Film ini lucu dan segar. Humornya yang tergolong ke dalam humor-humor masa kini lumayan menghibur. Dan yang membuat film ini semakin menarik adalah karakter Hit Girl yang diperankan Chloe Moretz. Meskipun memancing banyak perdebatan, tapi saya cinta karakter ini. 4/5

3. Rainbow Song (Japan, 2006)

Nama Shunji Iwai yang berperan sebagai produser dan co-writer film ini lah yang membuat saya menonton film ini. Belum lagi ada Hayato Ichihara, Ueno Juri, dan Yu Aoi. Dan saya gak nyesel nontonnya! Ceritanya termasuk klise, tentang persahabatan yang menjadi cinta *ceileh*. Cewek dan cowok bersahabat, lalu si cewek mulai jatuh cinta pada si cowok. Tapi sebelum si cowok menyadari perasaannya pada si cewek, si cewek keburu meninggal (tenang ini bukan spoiler karena dari awal kita sudah diberitahu kalo ceweknya meninggal). Cerita seklise apapun kalau dikemas dengan baik, pasti akan jadi film yang bagus. Begitu juga dengan film ini. Saya sangat menikmati film ini dari awal sampai akhir. Ueno Juri berakting sangat bagus di film ini sebagai karakter cewek yang meninggal itu. Dan Hayato Ichihara, ini kali kedua saya melihat dia setelah melihatnya di Lily Chou-chou, dan penampilan fisiknya udah jauh berubah dari pas di Lily Chou-chou. Yu Aoi, meskipun kemunculannya tidak begitu banyak  tapi tetap menampilkan akting yang memikat. Sebenarnya film ini memiliki beberapa kekurangan, tapi tidak begitu mengganggu. Yang jelas, ini tipe film yang akan saya tonton berkali-kali. 3,75/5.

4. The Girl Who Leapt Through Time (Japan, 2006)

Akhir-akhir ini lagi ketagihan nonton anime yang berbentuk movie. Dan film ini adalah salah satu anime movie yang sangat saya rekomendasikan untuk ditonton! Tentang seorang siswi SMU yang tiba-tiba memiliki kemampuan untuk meloncati waktu. Dan kemampuannya ini digunakannya untuk mengubah hal-hal yang bisa dibilang sederhana, namun nantinya akan menimbulkan masalah. Film ini lucu dan menghibur, animasinya juga bagus. Selain itu film ini menampilkan kejutan yang tidak saya duga. Review panjangnya menyusul ya. 4/5.


5. The Notebook (2004)

Karena saya ini termasuk orang yang menyukai film-film cinta yang mengharu biru, awalnya saya kira film ini akan berhasil membuat saya termehek-mehek. Tapi nyatanya, dari awal sampai akhir, ekspresi saya tetap datar. Ya ya ya, mungkin ada yang salah pada diri saya karena sebagian besar orang yang menonton film ini mengatakan film ini mengharukan dan sebagainya. Tapi entahlah, saya tidak bisa merasakan kedalaman hubungan antara Noah dan Allie. Karakter Noah yang begitu hidup di bagian awal, setelah berpacaran dengan Allie kok rasanya jadi melempem dan tidak terasa semangatnya. Tapi di luar itu saya suka aktingnya Rachel McAdams. 2,75/5

6. Perfect Blue (Japan, 1998)

Anime movie juga, disutradarai oleh Satoshi Kon. Ceritanya tergolong berat dan sama sekali bukan konsumsi anak-anak karena menampilkan sedikit nudity dan kekerasan. Tentang seorang pop idol yang memutuskan ganti haluan menjadi seorang aktris. Dan hal ini menimbulkan masalah karena ada fans yang tidak setuju dan sebagai aktris ia dituntut untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak dia inginkan. Belum lagi setelah itu muncul persona/kepribadian lain yang terus menghantuinya. Sebuah thriller psychology yang lumayan mencekam. Endingnya juga mengejutkan dan gak ketebak. Sebenernya saya ngerasa kalo film ini dibikin jadi live action, pasti filmnya akan semakin bagus. Tapi okelah anime juga, meskipun saya agak kurang suka desain karakternya. 4,5/5

7. Being John Malkovich (1999)

Edan film ini bagus banget! Jenius! Ceritanya termasuk orisinil dan menampilkan kejutan-kejutan yang tak terduga. Skenarionya ditulis oleh orang yang menulis skenario Eternal Sunshine of The Spotless Mind yang sama-sama sangat orisinil, yaitu Charlie Kaufman. Dan, menurut saya film ini lebih mudah dimengerti daripada Eternal Sunshine. Setidaknya saya tidak perlu mengulang-ngulang beberapa adegannya agar bisa mengerti sepenuhnya seperti pada saat saya nonton Eternal Sunshine. Selain ceritanya yang jenius, film ini juga menurut saya termasuk menghibur dan sudah pasti film ini masuk ke daftar my all time favorite movies. Review panjangnya tunggu saja ya 😀 5/5

8. Aoi Tori / The Blue Bird (Japan, 2008)

Nonton film ini karena faktor Kanata Hongo, dan agak nyesel nontonnya. Mengangkat tema school bullying, sebenarnya film ini berpotensi jadi bagus. Tapi saya malah kebosanan mengikutinya. Karakter guru gagap yang dimainkan Abe Hiroshi sebenarnya unik, tapi entah kenapa saya tidak bisa bersimpati padanya, dan tanggapan saya padanya sama seperti tanggapan murid-murid di sini. Latar belakang anak yang pindah sekolah karena dibully itu pun kurang kuat, mungkin kalo ditampilkan potongan adegan-adegan yang menampilkan karakter ini ketika bersekolah di sekolah itu, film ini akan jadi lebih menarik. Dan Kanata Hongo, kerjanya cemberut aja sik, tapi tetep cakep *alah*. 2,5/5

9. Despicable Me (2010)

Filmnya lucu dan mengharukan, dan tentunya sangat menghibur. Lelucon-leluconnya sebenarnya banyak yang slapstick, tapi tidak begitu mengganggu kok. Dan sejak karakter Gru ini mengadopsi tiga anak yatim piatu tersebut, ceritanya jadi mudah ketebak, tapi meskipun begitu film ini tetap menghibur. Dan yang menonton film ini pasti jatuh cinta pada karakter minion-minion yang menggemaskan itu. Ihik. Pengen cari merchandise-nya. 3,75/5

Read Full Post »

Jadi ceritanya saya lagi punya misi mulia *halah* untuk menonton semua film / dorama yang ada Eita di dalamnya nih, baik itu dia jadi pemeran utama, sidekick, ataupun cuma numpang lewat (kayak di Hanging Garden). Ah ya, sejak nonton VOICE saya emang jadi jatuh cinta sama aktor satu ini. Makanya pas saya nemuin dvd *bajakan tentunya* film Dororo ini, saya senang bukan main. Di sini Eita nggak jadi pemeran utama sih, tapi ya gak ada salahnya toh ditonton. Kebetulan sekarang juga saya lagi nonton dorama Eita yang judulnya Orange Days, dan dua pemeran utama film ini yaitu Satoshi Tsumabuki dan Kou Shibasaki juga kebetulan main di dorama itu. Makanya, nonton film ini berasa lagi liat reuni Orange Days (minus narimiya-miho) tapi dengan cerita dan setting zaman yang sangat berbeda.

Dororo bercerita tentang seorang pengembara laki-laki yang memiliki latar belakang sangat suram. Saat masih dalam keadaan bayi ia dibuang begitu saja oleh orang tuanya dengan keadaan tubuh yang tidak lengkap karena sang ayah, Kagemitsu Daigo, yang merupakan penguasa kejam saat itu (pada era sengoku kalau gak salah), mempersembahkan 48 bagian tubuh anaknya tersebut kepada iblis agar ia memperoleh kemenangan dalam perang secara terus menerus. Beruntung bayi tersebut (yang nantinya dipanggil Hyakki-maru, diperankan Satoshi Tsumabuki) ditemukan oleh seorang pria tua yang sangat ahli dalam bidang obat-obatan *mungkin semacam dukun juga*. Pria tua tersebut menciptakan tubuh baru untuk Hyakki-maru. Ia juga mengajarkan seni bertarung kepada Hyakki-maru. Lalu pada saat Hyakki-maru tumbuh dewasa, pria tua tersebut sakit keras dan sebelum ia meninggal, ia menyuruh Hyakki-maru untuk membunuh 48 iblis untuk mendapatkan anggota tubuhnya yang sebenarnya. Pengembaraan Hyakki-maru pun dimulai. Ketika ia sedang membunuh sesosok monster, aksinya itu dilihat oleh seorang pencuri wanita (yang selalu menganggap dirinya sebagai laki-laki, diperankan Kou Shibasaki) yang agak slengean dan menganggap Hyakki-maru sebagai sosok yang menarik. Pencuri tersebut lalu mengikuti Hyakki-maru karena tertarik pada pedang yang tertanam di tangan kiri Hyakki-maru. Pencuri itu lalu menanyakan siapa nama Hyakki-maru, dan Hyakki-maru berkata kalau ia tidak mempunyai nama yang pasti, kadang ia dipanggil Hyakki-maru, tapi kadang ia juga dipanggil Dororo (yang artinya anak setan). Dan selayaknya pencuri sejati, perempuan itu pun ‘mencuri’ nama Dororo dan sejak saat itu ia mengklaim bahwa namanya adalah Dororo. Mereka pun bertualang bersama mencari iblis-iblis agar Hyakki-maru mendapatkan semua anggota tubuh aslinya kembali.

Sekadar informasi, film ini diangkat dari manga berjudul sama karya Osamu Tezuka, sang ‘dewa manga’ yang terkenal sebagai pencipta manga / anime terkenal “Astro Boy”. Dan menurut saya film ini…..hmmm…. not bad. Film ini masuk kategori “standar / lumayan” (menurut saya tentunya). Yang saya suka dari film ini adalah karakter Dororo-nya itu, serta interaksinya dengan Hyakki-maru. Sungguh aneh karena judul film ini diambil dari nama karakter pendukung, bukan karakter utama. Bukankah karakter utamanya Hyakki-maru? Kenapa filmnya tidak diberi judul Hyakki-maru saja? Tapi saya tidak menyalahkan pemilihan judul ini karena sepanjang film berlangsung memang karakter DORORO inilah yang paling mencuri perhatian saya. Akting Kou Shibasaki hebat banget! Setelah membuat saya terpesona melalui perannya sebagai remaja psikopat dalam Battle Royale, kini aktingnya sebagai Dororo yang slengean dan seenaknya itu juga tidak kalah memukau. Yang bikin saya salut sih logat bicara Kou Shibasaki di film ini sangat berbeda dengan logat bicaranya yang asli, dan logatnya tersebut terdengar alami dan sama sekali tidak terdengar dibuat-buat. Ah, aku cinta perempuan ini!

Meskipun karakter Dororo ini sangat menonjol, tapi bukan berarti Tsumabuki Satoshi sebagai Hyakki-maru sang tokoh utama tidak bagus aktingnya. Dia sangat pas memerankan Hyakki-maru yang cool dan selalu tenang (dan dia tamfaaaan :p). Dan seperti yang saya bilang di atas, saya suka sekali melihat interaksinya dengan Dororo. Meskipun karakter mereka sangat jauh berbeda, tapi mereka bisa bekerja sama dan menjadi partner yang baik. Oh ya, Eita yang merupakan (salah satu) alasan saya menonton film ini juga berakting dengan baik sebagai Tahomaru, tapi di sini dia tidak berhasil membuat saya jatuh cinta karena gaya rambutnya betul-betul nggak banget (informasi gak penting).

Dari segi cerita saya suka ceritanya sih. Tapi sebagai film yang bergenre action-fantasy, buat saya ceritanya terlalu drama, dan meskipun terdapat banyak adegan-adegan aksi-nya, tapi bagi saya kurang berasa greget. Selain itu, special effect-nya menurut saya gak begitu bagus. Di beberapa scene yang menampilkan karakter iblis-iblis, tampak keliatan bohongannya (tapi setidaknya tidak separah special effect sinetron indosiar), tapi di beberapa scene juga ada yang special effect-nya terlihat bagus.

Yah, kesimpulannya film ini lumayan menghibur kok. Cocoklah ditonton untuk mengisi waktu luang. 3 bintang deh 🙂

catatan: aslinya Kou Shibasaki dan Tsumabuki Satoshi ini pacaran loh di dunia nyata *ketika film ini berlangsung*, tapi saya gak tahu apa mereka masih pacaran sampai sekarang ^^

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

“This place is so dead”

Jika kamu ingin menonton film yang bisa membuatmu ketakutan sekaligus tertawa, maka kamu harus menonton film satu ini. Zombieland adalah sebuah film komedi-horror yang sangat menyenangkan. Film ini bercerita tentang Amerika, yang sekarang keadaannya sudah tidak sama lagi karena adanya sebuah wabah ‘zombie’ yang menjadikan negara itu dipenuhi mayat hidup yang juga senang memakan daging manusia. Bisa dibilang hanya sedikit manusia yang tersisa di Zombieland, salah satunya adalah Columbus (bukan nama sebenarnya, diperankan oleh Jesse Eisenberg), yang berhasil bertahan dari serangan para zombie karena mengikuti aturan yang dibuatnya sendiri. Dalam perjalanannya ke rumah orang tuanya di Ohio, ia bertemu dengan Tallahassee (juga bukan nama sebenarnya, diperankan oleh Woody Harrelson), seorang pria yang dari luar kelihatan menyeramkan namun sebenarnya memiliki hati yang lembut (ini kelihatan dari saat ia menceritakan tentang ‘puppy’nya yang sudah meninggal). Mereka berdua lalu memutuskan untuk pergi bersama. Ketika mereka berdua masuk ke sebuah toko makanan, mereka bertemu dengan dua orang lagi manusia yang bertahan dari serangan zombie, yaitu kakak beradik perempuan yang juga merupakan seorang penipu, sebut saja nama mereka Wichita (Emma Stone) dan Little Rock (Abigail Breslin). Akhirnya setelah melalui beberapa hal, keempat orang ini memutuskan untuk pergi bersama, mengikuti tujuan Wichita dan Little Rock ke Pacifik Playland, sebuah amusement park yang diduga bebas zombie. Mengingat karakter mereka sangat berbeda dan mereka tidak saling mempercayai, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah mereka akan selamat dari serangan zombie-zombie kelaparan tersebut? Tonton aja deh :p

 

Fun and entertaining! Itu pendapat saya setelah menonton film ini. Film ini sudah sangat menghibur bahkan sejak detik pertama film ini dimulai dan sampai film ini berakhir. Openingnya yang menampilkan zombie-zombie yang mengejar manusia dengan cara slow motion itu benar-benar memancing tawa. Begitu juga dengan sederet adegan-adegan lainnya. Film ini hadir dengan narasi cerdas dari sang tokoh utama, Columbus, dan itu menambah nilai plus film ini karena saya selalu suka sama film yang ada narasi-nya 🙂

Humor-humor yang ada dalam film ini memang menjadi kekuatan utama dari film ini. Humornya sangat pas, gak berlebihan dan gak slapstick. Namun, film ini tidak hanya berakhir menjadi lucu saja. Ada beberapa hal yang juga menyeramkan, misalnya penampilan para zombie itu yang selalu bikin saya bergidik setiap melihatnya (apalagi kalo zombie itu lagi ‘ngegigit’ orang).

Untuk akting, saya suka akting semua pemainnya. Jesse Eisenberg (entah kenapa liat orang ini saya jadi inget sama Michael Cera) sangat cocok memerankan Columbus, seorang nerd yang juga agak penakut (dan lebih takut pada badut dibanding pada zombie). Rules dalam menghadapi zombie buatannya pun menjadi salah satu yang membuat film ini jadi hidup. Tapi yang paling saya suka karakternya (serta aktingnya) di sini adalah Tallahassee yang diperankan oleh Woody Harrelson. Karakter ini gila banget!! Dari luar keliatannya menyeramkan dan senang membunuh zombie, tapi sebenarnya hatinya baik dan lembut. Apalagi dia punya sebuah misi yang benar-benar bikin saya ngakak, yaitu mendapatkan Twinkies, sebuah merk makanan kecil yang saat itu sudah sangat langka dan sulit ditemukan. Kedua kakak beradik Wichita (Emma Stone) dan Little Rock (Abigail Breslin) pun, meski perannya kalah menonjol dibanding karakter Columbus dan Tallahassee, juga berakting baik di film ini. Cuma saya kecewa karena Abigail Breslin aktingnya gak seistimewa aktingnya di Little Miss Sunshine, tapi di sini dia tetap menampilkan akting yang bagus kok. Jangan dilupakan keberadaan Bill Muray yang menjadi cameo di film ini sebagai dirinya sendiri. Adegan yang melibatkan dirinya adalah salah satu adegan terkocak di film ini 😀

Film ini juga tidak hadir sebagai sekedar film lucu saja. Banyak yang bisa kita ambil dalam film ini, contohnya adalah tentang mempercayai orang lain. Keempat karakter ini pada awalnya tidak saling mempercayai, terbukti dengan masing-masing dari mereka yang tidak memberitahu nama aslinya dan memakai nama samaran. Namun pada akhirnya mereka dapat bersatu dan menciptakan sebuah ‘keluarga’ baru. Melalui film ini juga kita belajar untuk menghadapi dan melawan rasa takut, seperti yang terjadi pada Columbus yang berusaha untuk menghadapi rasa takutnya pada badut (yang di film ini badutnya adalah zombie juga). Well, secara keseluruhan ini adalah film yang bagus dan menghibur. Recommended dan sayang banget buat dilewatkan! Saya kasih 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Ahem. Mungkin rasanya agak telat ya saya me-review film satu ini (berhubung review film ini sudah banyak bertebaran di mana-mana). Tapi, sesuai dengan motto favorit saya, better late than never kan?

Oke, jadi film yg akan saya review kali ini adalah Sherlock Holmes. Well, hanya sedikit informasi yang saya ketahui mengenai salah satu tokoh detektif terkenal di dunia fiksi satu ini, yaitu: 1) pencipta karakter ini bernama Sir Arthur Conan Doyle, 2) dia adalah detektif yang sangat diidolakan oleh Conan Edogawa dalam komik Meitantei Conan, 3) punya partner bernama Watson, 4) tinggal di sebuah rumah di jalan bernama Baker Street, 5) punya musuh abadi bernama Prof. Moriarty. Selain itu, saya sangat buta dan tidak tahu apa-apa mengenai detektif satu ini karena memang belum pernah baca novelnya sama sekali. Tapi karena itu saya jadi tidak punya ekspektasi apa-apa sebelum menonton film ini, dan sebagai orang yang belum pernah membaca novelnya, hasilnya saya merasa sangat puas menonton film ini. Sherlock Holmes adalah sebuah tontonan yang sangat seru dan menghibur.

Film ini diawali dengan adegan penangkapan Lord Blackwood (Mark Strong), seorang pelaku pembunuhan masal 5 orang gadis yang juga penganut ilmu hitam dan pada saat ditangkap ia sedang melakukan sebuah ritual untuk ‘menumbalkan’ gadis yang ke-6. Blackwood lalu dijatuhi hukuman mati. Namun, sebelum ia menemui ajalnya ia meminta untuk bertemu dengan Sherlock Holmes (Robert Downey Jr.), seorang detektif terkenal di London yang merupakan orang yang telah menangkap dan memenjarakan Blackwood. Ia mengatakan pada Holmes bahwa ia akan bangkit lagi dan akan ada beberapa pembunuhan lagi setelah kematiannya. Keesokan harinya Blackwood melaksanakan eksekusi hukuman matinya dengan cara digantung. Watson (Jude Law), seorang dokter yang juga merupakan sahabat Holmes, pun memastikan bahwa Blackwood benar-benar sudah mati. Namun beberapa hari setelah itu ada orang yang melaporkan bahwa ia melihat Blackwood berjalan-jalan di dekat makamnya. Begitu kepolisian memeriksa makamnya, mereka mendapati bahwa orang yang dikuburkan di makam Blackwood adalah orang lain. Dan seperti yang dikatakan Blackwood pada Holmes sebelumnya, terjadi kembali beberapa pembunuhan (yang salah satu korbannya adalah ayah Blackwood sendiri) setelah kejadian itu. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Holmes berhasil memecahkan kasus tersebut? Apakah pembunuhan-pembunuhan tersebut benar-benar berkaitan dengan ilmu hitam (mengingat Holmes tidak memercayai hal-hal yang berada di luar akal sehat)? Silakan deh tonton saja film ini.

Saya sukaaa film ini. Selain itu, saya memang menyukai cerita detektif karena saya sangat menyukai komik-komik detektif semacam Meitantei Conan atau Kindaichi (malah waktu kecil saya sempet bercita-cita jadi detektif karena Conan :D). Dan film ini berhasil membuat saya tegang dan juga penasaran mengenai trik apa yang dilakukan oleh Blackwood. Sayangnya otak saya gak nyampe untuk menebak hal itu :p Dan saya sangat kagum sama penyelesaian akhirnya di mana Holmes mengungkapkan segala hal di balik semua kejadian itu. Keren deh!

Duo Robert Downey Jr. dan Jude Law pun sangat ciamik dan mantap dalam memerankan Holmes dan Watson. Berhubung saya belum baca novelnya, saya gak peduli kalo orang bilang bahwa image mereka di film sangat berbeda dengan di novel. Yang penting akting mereka bagus dan mereka berhasil menampilkan chemistry yang sangat pas. Meskipun kadang kedua partner ini sering bertengkar, tapi mereka ini sejatinya saling membutuhkan dan tidak sanggup meninggalkan satu sama lain. Contohnya pas Watson udah mau pergi untuk menemui calon istrinya, ia memilih untuk balik lagi dan menolong Holmes. So sweet abis gak sih? *err….ini omongan saya kok jadi terkesan saya pengen me-yaoi-kan mereka ya :p*. Robert Downey Jr. sendiri menurut saya sangat sukses memerankan Sherlock Holmes, seorang detektif nyentrik yang sangat hebat dalam menganalisis sesuatu. Saya selalu terkagum-kagum saat melihat Holmes dapat menyimpulkan suatu hal hanya dengan melihat keadaan atau kondisi saat itu, contohnya saat ia ‘menganalisa’ calon istri Watson, hanya dengan melihat keadaan fisiknya saja ia bisa menyimpulkan beberapa hal mengenai wanita itu (meskipun karena itu akhirnya ia malah mendapat sebuah ‘semprotan’ dari Mary). Selain Downey Jr., Jude Law pun sangat bagus memerankan Watson. Saya suka liat ekspresinya saat sedang kesal pada Holmes, namun meskipun begitu ia tetap mau membantu Holmes 😀 Selain kedua tokoh utama itu, jangan lupakan keberadaan Rachel McAdams yang berperan sebagai Irene Idler, mantan kekasih (atau istri?) Holmes yang datang pada Holmes untuk meminta pertolongannya untuk mencari seseorang yang kemudian diketahui adalah anak buah Blackwood (si orang hilangnya, bukan Irene). Akting McAdams di sini pun tidak kalah dengan akting duo Downey Jr. – Law. Yang menurut saya aktingnya lemah di sini malah adalah Mark Strong sebagai Blackwood, entah kenapa menurut saya rasanya karakter ini kurang psikopat dan kurang nyeremin :p

Selain menyuguhkan kecerdasan otak Holmes, film ini juga menyajikan adegan action yang seru dan menegangkan, karena perjuangan Holmes dalam memecahkan kasus ini tidak mudah dan selalu menemui bahaya. Banyak hal-hal yang membuat Holmes dan Watson nyaris mati di film ini, dan hal itu turut membuat penonton tegang saat menonton film ini. Selain hal itu, saya juga sangat menyukai sinematografi film ini. Film ini berhasil menampilkan Inggris sekitar abad 18 melalui suasana kota London dan gaya pakaian yang dikenakan oleh orang-orang pada masa itu. Keren pokoknya 😀

Well, secara keseluruhan film ini adalah film yang sangat menarik dan menghibur. Saya sangat menantikan sekuelnya, berhubung di akhir film ini disinggung sedikit sebuah teka-teki mengenai Prof. Moriarty. Semoga sekuelnya akan lebih seru dan lebih bagus dari film ini. Oh iya, gara-gara nonton film ini saya jadi tertarik pengen baca versi novelnya. Sebelumnya novel-novel detektif yang pernah saya baca cuma novel Hercule Poirot-nya Agatha Christie dan Trio Detektif-nya Alfred Hitchcock (oh iya saya jadi pengen dua novel ini juga diangkat ke film, pasti gak kalah dari Sherlock Holmes). Akhir kata, film ini sangat recommended! 4 bintang deh.

catatan: sutradara film ini adalah Guy Ritchie, yang merupakan mantan suami dari penyanyi wanita legendaris Madonna 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Older Posts »