Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘hamada gaku’

Dalam pertandingan sepak bola, ada sesuatu yang dinamakan perpanjangan waktu (injury time/additional time/loss time/apalah namanya itu), di mana suatu pertandingan mendapat tambahan waktu beberapa menit dengan beberapa syarat tertentu. Nah, apa jadinya jika hal tersebut berlaku juga di kehidupan nyata? Apa yang akan kamu lakukan jika kamu mendapat perpanjangan waktu di saat ajal akan menjemput?  Ide tersebut merupakan premis dasar dari dorama berjudul Loss:Time:Life, sebuah dorama yang bercerita tentang orang-orang yang diberi perpanjangan waktu ketika kematian mendekati mereka.

Loss:Time:Life sendiri adalah sebuah dorama berjumlah sembilan episode yang setiap episodenya memiliki cerita yang berdiri sendiri dan tidak memiliki kaitan secara langsung antara episode yang satu dengan yang lainnya (kecuali kaitan tema). Setiap episodenya memiliki satu orang tokoh utama yang diceritakan menemui ajalnya dengan cara yang berbeda-beda. Misalnya di episode pertama ada Nakayama Haruhiko (Eita), seorang fotografer berita yang mati karena tertembak oleh penjahat yang sedang diselidikinya. Ketika peluru hampir mengenainya, tiba-tiba waktu di ruangan itu berhenti dan empat orang berpakaian wasit datang menghampirinya. Salah satu di antaranya membawa sebuah papan bertuliskan tambahan waktu yang dimilikinya. Ya, sama seperti sepak bola, rupanya Haruhiko mendapat perpanjangan waktu beberapa jam sebelum ajal benar-benar menghampirinya. Dengan diawasi wasit-wasit tersebut, ia harus memanfaatkan sisa waktunya tersebut untuk menyelesaikan segala urusannya. Dan seperti sepak bola juga, terdapat berbagai aturan yang harus dipatuhi selama masa tambahan waktu tersebut, misalnya tidak boleh memberitahu orang lain bahwa dia sudah meninggal, tidak boleh mengganti baju, dan berbagai macam peraturan lainnya. Jika peraturan tersebut dilanggar, maka ia akan mendapat kartu kuning. Dan ketika tambahan waktu itu akan habis, ia diwajibkan untuk kembali ke tempat kematiannya dan melanjutkan hal yang menjadi takdirnya tersebut. Selain Haruhiko, masih ada delapan tokoh lagi dengan latar belakang dan cara kematian berbeda-beda yang mengalami hal serupa. Siapa saja kah mereka? Apa yang mereka lakukan dalam sisa waktunya tersebut? Apakah mereka benar-benar akan mati? Tonton aja deh.

Ini adalah salah satu dorama yang saya tonton karena faktor ada Eita-nya *ahem*, dan rupanya dorama ini berhasil memuaskan saya. Yang paling saya suka dari dorama ini tentu saja ide atau premisnya yang menarik. Dan ide tersebut berhasil dieksekusi dengan sangat baik. Meskipun punya premis yang terkesan repetitif (orang mati, dapat tambahan waktu, menyelesaikan urusannya, selesai), tapi si pembuatnya berhasil membuat setiap episodenya memiliki keunikan tersendiri yang membedakannya dari episode lainnya, sehingga saya selalu merasa menemukan hal yang baru di setiap episodenya. Setiap tokoh utama di masing-masing episodenya memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Selain Haruhiko si fotografer, masih ada delapan tokoh lain dengan profesi yang berbeda-beda. Ada yang seorang polisi (episode 2, diperankan Koyama Keiichiro), ibu rumah tangga (episode 3, diperankan Tomochika), perawat (episode empat, diperankan Ueno Juri), mangaka (episode 5, diperankan Ito Atsushi), aktor kurang terkenal (episode 6, diperankan Tanaka Naoki), istri yakuza (episode 7, diperankan Tokiwa Takako), wanita karir (episode 8, diperankan Maki Yoko), dan hikikomori (episode 9, diperankan Oizumi Yo). Cara kematiannya pun berbeda-beda, ada yang dibunuh, kecelakaan, bunuh diri, serangan jantung, bahkan ada yang sampai mati karena tersedak makanan. Tambahan waktunya pun berbeda-beda. Ada yang tiga jam, empat jam, lima jam, bahkan ada yang jauh lebih lama dari itu. Segala macam perbedaan tersebut membuat setiap episodenya memiliki daya tarik masing-masing dan menjadikan kesan repetitif itu menjadi tidak terlihat.

Selain itu, yang menarik lagi dari dorama ini adalah cara tokoh-tokoh tersebut menghabiskan waktunya yang tersisa. Yang paling saya suka adalah episode 4 yang memasang Ueno Juri sebagai tokoh utamanya. Di situ ia diceritakan sebagai seorang perawat yang mencoba bunuh diri setelah diputuskan pacarnya. Dan setelah ia mendapat tambahan waktu, yang ia lakukan adalah… mencoba bunuh diri lagi 😀 Selain episode itu, masih ada beberapa episode lainnya yang saya suka. Secara keseluruhan, episode-episode favorit saya adalah episode satu, tiga, empat, lima, dan delapan. Namun, selain episode-episode itu, episode-episode lainnya juga tidak kalah menarik kok. Dan yang paling saya suka adalah setiap episodenya selalu berhasil bikin saya merasa tersentuh dan gak rela kalau mereka bener-bener akan mati (dan saya emang lemah sama cerita yang temanya tentang kematian). Apalagi, melalui tambahan waktu tersebut, para tokoh di sini kemudian menemukan hal-hal berharga yang tidak pernah dialaminya ketika hidup dan tambahan waktu tersebut membuat mereka menjadi lebih menghargai kehidupan.

Di luar hal-hal di atas, yang paling saya suka di sini adalah… karakter wasit-wasitnya. Ya, kayaknya cuma di dorama ini malaikat maut digambarkan dengan sosok manusia berpakaian wasit. Wasit-wasit ini sendiri tidak pernah diperlihatkan berbicara, tapi gerak-gerik mereka selalu bisa bikin saya ketawa. Selain loss time, wasit, dan kartu kuning, ada satu lagi unsur dari pertandingan sepak bola yang dimasukkan di dorama ini dan membuat dorama ini menjadi lebih menarik. Ya, komentator! Pertandingan sepak bola pasti tidak akan seru jika tidak dilengkapi dengan suara komentator. Begitu juga dengan dorama ini. Seperti pada sepak bola, ada suara-suara yang mengomentari segala tindak-tanduk yang dilakukan tokoh-tokohnya (yang komentarnya banyak yang kocak). Bahkan untuk adegan tertentu ada juga yang diulang alias diberi tayangan replay-nya 😀 Hal-hal tersebut membuat dorama ini menjadi semakin menghibur dan meskipun bertema tentang kematian, dorama ini sama sekali tidak memberi kesan depresif.

Overall, saya sangat menyukai dorama berjumlah sembilan episode ini. Oh ya episode-episode di sini memang tidak memiliki kaitan secara langsung satu sama lain. Tokoh utama antara satu episode dengan episode lainnya diceritakan tidak saling mengenal. Tapi ada satu orang tokoh yang selalu ada di setiap episodenya, yaitu tokoh Omoto-san yang diperankan Nukumizu Youichi. Tidak terlalu jelas latar belakang karakter ini, dan berhubung dengan itu, dorama ini memiliki dua episode tambahan (overtime) yang berfokus pada kehidupan karakter itu (dengan ditambah pemeran lain seperti Kuriyama Chiaki dan Sakai Wakana). Sayangnya, dua episode itu menurut saya tidak semenarik sembilan episode sebelumnya dan tidak begitu menjelaskan apa maksud dari keberadaan tokoh itu. Di luar hal itu, karena setiap episodenya berdiri sendiri, menurut saya dorama ini bisa dinikmati secara acak alias tidak berurutan. Saya juga setelah episode satu langsung loncat ke episode 4 dan selanjutnya nonton berdasarkan urutan artis yang saya suka, dan hal itu sama sekali tidak mengganggu kenikmatan menonton dorama ini. Tapi saran saya, jika mau menonton secara acak, lebih baik episode pertama yang ditonton tetap episode 1 dan episode terakhir yang ditonton tetap episode 9 (tengah-tengahnya terserah mau nonton yang mana dulu). Well, 4 bintang deh 😀

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

Nakamura Yoshihiro dan Isaka Kotaro adalah dua orang dengan profesi berbeda yang sering melakukan kerja sama dalam beberapa proyek film. Isaka Kotaro adalah seorang penulis novel misteri yang cukup populer di Jepang, sedangkan Nakamura Yoshihiro adalah seorang sutradara yang beberapa filmnya merupakan adaptasi dari novel-novel yang dikarang oleh Isaka Kotaro. Saat ini sudah ada tiga film karya sutradara tersebut yang diangkat dari novel-novel yang ditulis penulis tersebut, antara lain The Foreign Duck, the Native Duck and God in a Coin Locker; Fish Story (sudah pernah direview di sini); dan Golden Slumber. Saat ini pun, sebentar lagi Nakamura Yoshihiro akan mengeluarkan film terbarunya yang berjudul Potechi, yang lagi-lagi merupakan adaptasi dari cerita yang ditulis oleh Isaka Kotaro.

Namun, yang akan saya review kali ini adalah film pertama dari kolaborasi mereka berdua yang berjudul The Foreign Duck, The Native Duck and God in a Coin Locker (judul asli: Ahiru to Kamo no Koinrokka). Film ini bercerita tentang seorang mahasiswa baru bernama Shiina (Hamada Gaku) yang baru saja pindah ke Sendai, tempat di mana ia memulai studinya. Pada saat ia sedang beres-beres di apartemen barunya sambil menggumamkan sebuah lagu, seorang pria menyapanya dengan sapaan “Dylan?” Rupanya pria tersebut menyadari bahwa lagu yang disenandungkan oleh Shiina adalah lagu milik Bob Dylan yang berjudul “Blowin’ in the Wind”. Pria yang ternyata tetangga sebelah kamar Shiina tersebut lalu mengundang Shiina ke kamarnya. Pria tersebut lalu memperkenalkan dirinya sebagai Kawasaki (Eita). Ia berpendapat bahwa suara Dylan adalah suara Tuhan, dan ia berkata bahwa suara Shiina mirip dengan suara Dylan. Obrolan mereka lalu berlanjut dengan membicarakan salah satu tetangga mereka yang lain yang sempat ditemui Shiina sebelumnya, di mana tetangga tersebut terlihat pendiam dan antisosial. Kawasaki memberitahu Shiina bahwa orang tersebut adalah orang asing asal Bhutan yang bernama Kinley Dorji (Tamura Kei). Kawasaki lalu bercerita bahwa Dorji masih mengalami kesedihan karena dua tahun yang lalu ia kehilangan pacarnya yang bernama Kotomi (Seki Megumi), yang tidak lain adalah mantan pacar Kawasaki. Untuk menghibur Dorji, Kawasaki ingin memberinya sebuah hadiah. Kawasaki berkata bahwa Dorji tidak bisa membaca huruf Jepang, dan dari dulu Dorji ingin mengetahui perbedaan antara kata Ahiru (foreign duck) dan Kamo (native duck), dan ia merasa bahwa kamus Kanji Garden dapat membantunya untuk menemukan perbedaan tersebut. Untuk itu, Kawasaki lalu meminta Shiina untuk membantunya mencuri kamus Kanji Garden dari sebuah toko buku. Mengapa harus mencuri dan bukannya membeli saja? Kawasaki berkata bahwa mencuri akan menimbulkan perasaan yang berbeda daripada membelinya. Akhirnya Shiina terbujuk juga untuk membantu Kawasaki. Pada suatu malam, dengan membawa dua buah pistol mainan, mereka berdua pergi ke sebuah toko buku untuk mencuri kamus Kanji Garden (Kawasaki yang masuk ke dalam untuk mencuri, sementara Shiina berjaga di luar).

Sehari setelah pencurian tersebut berhasil dilakukan, Shiina bertemu dan mengobrol dengan seorang wanita pemilik sebuah petshop yang bernama Reiko (Otsuka Nene). Sebelumnya, Kawasaki sempat memperingatkan dirinya agar tidak mempercayai semua yang diucapkan oleh wanita itu. Melalui obrolan tersebut, Shiina akhirnya mengetahui bahwa Kotomi ternyata pernah bekerja di petshop milik Reiko. Selain itu, Reiko juga sempat menyinggung kasus pembunuhan binatang peliharaan yang terjadi dua tahun yang lalu, dan memberitahu Shiina bahwa Kawasaki menderita sebuah penyakit. Terakhir, ia meminta Shiina untuk tidak mempercayai semua yang diucapkan Kawasaki.

Melalui dua sumber berbeda tersebut, Shiina mulai merasa ada yang aneh pada cerita-cerita tersebut. Ia juga merasa ada yang tidak beres pada diri Kawasaki. Apalagi, pria tersebut terlihat semakin mencurigakan karena setiap malam ia sering pergi entah ke mana dengan menggunakan mobilnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapakah Kawasaki sebenarnya? Apa yang sebenarnya terjadi pada Dorji?

Sama seperti Fish Story, film ini juga memuat sebuah misteri yang membuat kita penasaran. Di film ini, kita ditempatkan pada posisi yang sama dengan posisi Shiina, yaitu orang yang diseret pada cerita-cerita yang sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya. Namun, karena adanya kejanggalan pada cerita-cerita tersebut, mau tidak mau ia jadi dibuat penasaran dan ingin mengetahui cerita yang sebenarnya terjadi (meskipun hal itu tidak akan berpengaruh pada hidupnya). Misteri yang dihadirkan film ini memang cukup membuat penasaran, meskipun rasa penasaran di sini bukanlah rasa penasaran menggebu-gebu seperti ketika menonton film misteri yang lain seperti, katakanlah film Mother yang misterinya membuat saya penasaran abis-abisan dan merasa tegang sepanjang film berjalan. Film ini tidak memberikan rasa penasaran semacam itu, tidak menimbulkan perasaan tegang, tapi kita tetap ingin tahu mengenai apa yang sesungguhnya terjadi. Mungkin karena unsur misterinya dicampur dengan unsur komedi ya (meskipun komedi di sini lebih ke dark comedy). Karena itulah, menurut saya misteri yang ada di film ini agak berbeda dengan film-film misteri kebanyakan karena tidak menghasilkan perasaan yang biasanya dirasakan ketika kita menonton film yang murni misteri. Tapi meskipun begitu, saya lumayan menyukai misteri yang ditampilkan film ini, karena misterinya terasa orisinal dan juga unik.

Karena ini film misteri, maka tentunya kita akan dibawa pada satu atau lebih kejutan kan? Begitu juga dengan film ini. Sedikit demi sedikit kita akan dibawa pada berbagai macam kejutan mengenai kisah yang terjadi sebenarnya. Namun, kejutan di sini bukan tipe kejutan yang membelalakan mata, seperti ketika menonton film Mother. Dan juga bukan tipe kejutan yang memuaskan hati, seperti ketika menonton film Fish Story. Jadi, apakah filmnya jelek pris? Nggak, malah saya suka banget sama film ini. Dengan caranya sendiri, film ini berhasil menghadirkan kejutan yang meninggalkan suatu kesan tersendiri setelah menontonnya. Kejutannya terkesan manis, tapi juga pahit. Atau pahit, tapi juga manis. Dan yang pasti, film ini berhasil membuat saya merasa tersentuh dan bersimpati kepada tokoh-tokohnya, meskipun film ini tidak terlihat memiliki tendensi untuk menyentuh hati penontonnya.

Di luar unsur misteri, film ini juga memuat beberapa kritik sosial. Kritik di sini terhadap dua hal. Pertama, kritik terhadap orang Jepang yang sering kali berlaku buruk terhadap orang asing luar Jepang, terutama orang asing yang tidak bisa berbahasa Jepang. Sebelumnya memang saya sudah sering mendengar kalau orang Jepang itu agak-agak gimanaaaa gitu terhadap orang asing, karena mereka sangat bangga akan negaranya sendiri (misalnya dapat dilihat pada adegan ketika ada orang India (?) yang kebingungan mengenai rute bus dan tidak ada yang membantunya sama sekali). Kritik kedua adalah, kritik terhadap para pelaku penyiksaan binatang. Hal ini berkaitan dengan kasus pembunuhan binatang peliharaan yang terjadi dua tahun lalu di film ini. Saya suka penempatan kritik yang ada di film ini. Kritiknya ditempatkan secara samar dan tidak keras, tapi tetap membuat kita aware akan hal itu.

Mari kita beralih pada pemainnya. Para pemeran dalam film ini berhasil menampilkan akting yang memukau. Mulai dari Hamada Gaku (yang juga bermain dalam Fish Story dan Golden Slumber yang merupakan film duet Nakamura-Isaka juga) yang berhasil memerankan karakter Shiina, sosok mahasiswa baru yang polos dan inosen. Eita dengan tatapan manis sekaligus misteriusnya berhasil memerankan Kawasaki yang bisa dibilang merupakan karakter paling aneh dalam film ini. Seki Megumi dan Otsuka Nene juga menampilkan akting yang baik (terutama Otsuka Nene, yang berhasil memerankan sosok wanita yang terlihat misterius dan berkarisma). Jangan dilupakan kehadiran Matsuda Ryuhei, yang aktingnya berhasil mencuri perhatian meskipun porsi tampilnya tidak begitu banyak (dan jadi siapakah dia di sini? Tebak sendiri deh :D).

Overall, saya sangat menyukai film ini. Film ini berhasil meninggalkan perasaan yang berbeda dengan ketika kita menonton film bergenre misteri kebanyakan. Dan dengan caranya sendiri, film ini berhasil membuat saya merasa tersentuh dan terkesan.  4 bintang deh untuk film ini 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

“When you love someone, just be brave to say that you want him to be with you. When you hold your love, don’t ever let it go. Or you will loose your chance to make your dream come true.” – (Endah N Rhesa – When You Love Someone)

Kutipan lirik lagu Endah N Rhesa di atas mungkin memang benar. Jika kamu mencintai seseorang, katakanlah hal itu padanya. Kalau tidak, bukan tidak mungkin orang yang kamu cintai itu akan keburu ‘diambil’ oleh orang lain. Hal itulah yang terjadi pada Iwase Ken (Yamashita Tomohisa). Sepanjang hidupnya, hanya ada satu perempuan yang ada di hatinya. Perempuan itu adalah Yoshida Rei (Nagasawa Masami) yang merupakan temannya sejak kecil. Dari kecil hingga dewasa, Ken dan Rei selalu bersama, dan hal tersebut membuat perasaan cinta perlahan-lahan tumbuh di hati Ken. Namun, Ken tidak pernah berani untuk mengungkapkan perasaannya tersebut kepada Rei. Padahal, Rei juga menaruh perasaan yang sama pada Ken. Tapi ya dasar cewek, selalu gengsi buat nyatain duluan dan maunya yang pertama ‘ditembak’. Meskipun Rei memberi sinyal positif, Ken tetap saja tidak pernah berani menyatakan cintanya pada Rei. Hal tersebut akhirnya membuahkan penyesalan pada diri Ken, ketika suatu hari akhirnya Rei memutuskan untuk menikah dengan Tada-sensei yang merupakan dosennya sendiri. Dengan berat hati, Ken menghadiri upacara pernikahan tersebut. Pada pernikahan tersebut, dalam hati Ken mengutuki dirinya sendiri yang tidak pernah berani menyatakan cintanya. Kalau saja ia menyatakan cintanya, mungkin saja yang berdiri di sebelah Rei bukanlah Tada-sensei, tapi dirinya. Di tengah pergulatan hati Ken tersebut, tiba-tiba muncul seorang pria setengah baya yang mengaku sebagai peri dari gereja tersebut. Peri gereja tersebut mengetahui apa masalah Ken dan ia menawari Ken untuk kembali ke masa lalu dan menyatakan cintanya pada Rei. Caranya? Melalui slide foto yang ditampilkan di acara pernikahan Rei. Ya jadi di acara pernikahan tersebut ada pemutaran slide foto Rei yang dari kecil hingga dewasa, di mana Ken juga selalu ikut serta di dalamnya (bersama teman-temannya yang lain). Melalui sihir si peri gereja, Ken kemudian kembali ke masa lalu tepatnya ke beberapa saat sebelum foto-foto tersebut diambil. Namun, dari foto ke foto, Ken tetap tidak bisa menyatakan perasaan cintanya pada Rei. Namun, meskipun begitu, bukan berarti ia tidak melakukan sesuatu. Daripada menyatakan cintanya, Ken lebih memilih untuk mengubah hal-hal kecil yang pernah terjadi di masa lalu, yang ternyata dapat membuat ekspresi cemberut Rei di kumpulan slide foto tersebut kemudian berubah menjadi senyuman. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Ken akan berhasil menyatakan perasaannya? Tonton aja kakaaaa…

Proposal Daisakusen adalah salah satu dorama Jepang favorit saya. Saya pertama kali nonton dorama ini sekitar tiga atau empat tahun yang lalu, tepatnya ketika saya sedang tergila-gila pada Yamapi, si pemeran Ken dalam dorama ini. Menurut saya, ini adalah salah satu dorama paling romantis yang pernah saya tonton. Saya suka sekali dengan jalan cerita dorama ini. Plot magical-nya juga membuat dorama ini menjadi sangat manis. Dorama ini juga berhasil membuat penontonnya merasa gregetan melihat sikap pengecut Ken yang tidak pernah berani menyatakan perasaan cintanya meskipun sudah diberi kesempatan kedua untuk mengulang masa lalunya. Saya sempat merasa berpihak sama Tada-sensei (yang diperankan dengan sangat pas oleh Naohito Fujiki yang meskipun sudah om-om tapi tidak pernah berkurang gantengnya) loh karena sikap Ken tersebut *meskipun nantinya kembali berpihak sama Ken*.

Untuk urusan akting, menurut saya aktor-aktris di sini berperan lumayan baik meskipun tidak spesial. Menurut saya akting Yamapi rada datar di sini (dan emang pada dasarnya mukanya emang datar). Tapi untung dia diberi karakter yang emang cenderung kurang ekspresif dan rada gengsian, jadinya pantes-pantes aja. Dan Masami Nagasawa, ya karakternya termasuk jenis karakter yang sering ia mainkan di dorama lain. Jadinya gak bikin saya ngerasa wow karena perannya termasuk standar. Tapi chemistry antara dua karakter utamanya lumayan dapet kok (mungkin karena Yamapi dan Masami udah pernah main bareng di dorama lain sebelumnya). Untungnya, meskipun akting dan karakteristiknya biasa, dorama ini memiliki kelebihan pada skenarionya yang menurut saya sangat bagus. Meskipun ke tengahnya jadi agak ngebosenin karena gitu-gitu aja, tapi tetap tidak membuat daya tarik dorama ini menjadi berkurang. Plus cerita persahabatan antara Ken, Rei, dan ketiga orang temannya yang lain turut membuat dorama ini tidak hanya berakhir menjadi sekadar dorama cinta-cintaan saja.

Sayangnya dorama ini memiliki ending yang sangat menggantung (yang membuat banyak orang, termasuk saya, semakin geregetan karena endingnya itu). Saran saya sih, abis nonton doramanya kalian langsung nonton SP-nya, karena SPnya yang merupakan lanjutan dari versi doramanya ini akan menjawab rasa penasaran anda mengenai hubungan Ken dan Rei selanjutnya. Overall, saya sih suka dorama ini. Melalui dorama ini, saya belajar bahwa meskipun mengubah masa lalu bisa mengubah keadaan  menjadi lebih baik, tapi hal yang kita lakukan di masa kini lah yang paling berperan penting dalam mengubah nasib kita. Tambahan, ending song dorama ini juga menurut saya enak banget dan menambah keromantisan dorama ini. So, saya kasih 4 bintang deh 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Kadang kita sering kali tidak menyadari, bahwa hal-hal kecil yang kita buat, yang dirasa sederhana dan tidak ada artinya, bisa menimbulkan pengaruh yang kuat kepada orang lain. Bahkan, hal kecil tersebut bisa saja menyelamatkan bumi dari kehancuran. Dalam film ini, hal kecil tersebut digambarkan dengan sebuah lagu punk. Ya, lagu punk ternyata bisa menyelamatkan dunia! Lha, kok bisa? Ya bisa aja, namanya juga film *halah*.

Film ini sendiri terdiri dari beberapa cerita dengan kurun waktu yang berbeda. Yang menontonnya awalnya mungkin akan bingung melihat cerita-cerita yang ada di sini dan akan bertanya-tanya “mau dibawa ke mana sih cerita film ini?” Tapi tenang, dibutuhkan kesabaran dalam menonton film ini. Bukan karena filmnya membosankan atau alurnya lambat, tapi karena ya itu tadi, kita masih bingung film ini mau nyeritain apa sih? Tapi tunggu sampe akhir, karena setelah menonton sampe akhir, mungkin kamu akan jadi terkagum-kagum pada film ini seperti saya.

Tahun 2012. Tahun yang diramalkan sebagai tahun terakhir di bumi ini. Dan di film ini, ramalan tersebut sudah mendekati kenyataan. Sebuah komet sudah bisa dilihat oleh mata kepala manusia, dan siap menabrak bumi. Beberapa jam sebelum komet tersebut sampai ke bumi, ada 3 orang yang sedang berada di sebuah toko CD. Dua orang di antaranya memiliki keyakinan bahwa bumi akan selamat, dan akan ada “seigi no mikata” *kayak judul dorama* alias pembela keadilan yang akan menyelamatkan bumi dari kehancuran. Dalam toko tersebut, mereka mendengar sebuah lagu yang direkomendasikan oleh sang pemilik toko. Lagu dengan aliran punk tersebut berjudul “Fish Story” yang dibawakan oleh grup band punk bernama Gekirin 37 tahun lalu, satu tahun sebelum band Sex Pistols eksis dan memperkenalkan aliran musik punk pada dunia.

Cerita beralih pada tahun 1982. Ada 3 orang mahasiswa yang sedang melakukan perjalanan menaiki mobil. Salah satu mahasiswa tersebut (diperankan Gaku Hamada) tergolong lemah dan tampak dijadikan supir saja oleh dua orang temannya. Dalam mobil tersebut, mereka berdiskusi tentang lagu “Fish Story” yang katanya merupakan lagu kutukan karena di tengah-tengah lagu tersebut tiba-tiba tidak ada suara dalam waktu yang cukup lama. Mereka pun sampai di tempat tujuan mereka di mana mereka (tepatnya yang dua orang, yang satu tampak tak dianggap) kemudian berkencan dengan beberapa mahasiswi (goukon gitu deh istilahnya). Salah satu mahasiswi tersebut memiliki indra keenam, dan ia kemudian meramalkan bahwa salah satu pria di tempat itu nantinya akan jadi penyelamat dunia.

Lalu cerita beralih pada tahun 2009, bersetting di sebuah kapal Ferry. Ada seorang siswi SMA (diperankan Tabe Mikako) yang tertinggal di kapal tersebut dari rombongan teman-temannya karena tertidur. Ia pun terjebak dalam kapal yang menuju Hokkaido tersebut. Selagi ia menangisi kebodohannya, ada seorang koki muda (diperankan Mirai Moriyama) yang mengajaknya mengobrol dan berkenalan. Koki muda tersebut bercerita bahwa sejak kecil, ia dibesarkan oleh ayahnya untuk menjadi seorang pembela kebenaran. Dan setelah itu, tiba-tiba kapal ferry tersebut dibajak oleh beberapa pria berpistol.

Lalu ceritanya mundur lagi ke tahun 1975. Yang ini bercerita tentang grup band Gekirin yang membawakan lagu fish story tersebut. Grup band ini membawakan musik-musik yang agak keras (aliran punk, tapi waktu itu mereka belum tahu bahwa itu punk)  dan akhirnya mendapat keberuntungan karena ada label yang tertarik pada mereka. Namun sayangnya, lagu mereka dianggap terlalu keras dan dianggap tidak cocok dengan kuping kebanyakan penggemar musik dan tidak menjual, sehingga produsernya meminta agar lagu-lagu mereka dibuat lebih mellow. Para member tersebut tidak terima dan bersikeras untuk tidak mengubah musik mereka. Pada saat itu, salah satu membernya (diperankan Ito Atsushi) membuat sebuah lagu berjudul “Fish Story” yang liriknya diambil dari sebuah buku yang dimiliki manager mereka. Mereka pun bersikeras merekam lagu tersebut sebagaimana aslinya, meskipun mereka yakin lagu mereka tidak akan terjual. “Mungkin bertahun-tahun kemudian musik kita akan dihargai, dan mungkin saja lagu kita akan menyelamatkan dunia”, begitu kira-kira kata mereka.

Lalu, bagaimana ceritanya sampai lagu “Fish Story” tersebut bisa menyelamatkan bumi? Yang perlu kamu lakukan hanya menontonnya. Awalnya mungkin kamu akan menganggap film ini sebagai film gak jelas, tapi ketika mencapai endingnya kamu akan merasakan sebuah sensasi yang sulit dideskripsikan. Begitu sampai akhir mungkin kamu akan berseru “DAMN! IT’S A GREAT MOVIE” dalam hati, seperti yang terjadi pada saya, dan langsung pengen mempromosikan film ini ke orang-orang. Kelebihan film ini adalah bagaimana kepiawaian sang sutradara menghubungkan cerita yang seolah-olah tidak nyambung tersebut. Dan menurut saya film ini benar-benar menghibur dan gak bikin stress.

Hampir semua cast bermain dengan baik di film ini. Ito Atsushi, si Densha Otoko ini di sini menampilkan akting yang baik sebagai seorang bassist sebuah band aliran punk. Begitu juga dengan Gaku Hamada, yang sangat cocok dengan perannya sebagai pria lemah dan suka dibully. Mirai Moriyama yang menurut saya gak ganteng juga sanggup membuat saya terpesona di film ini. Pemain-pemain lainnya juga berakting sama bagusnya dengan mereka. Yang agak-agak ganggu di film ini menurut saya akting Tabe Mikako. Aktingnya lebay banget, terutama pas nangis, keliatan banget dibuat-buat. Tapi mungkin emang sengaja karakternya dibikin komikal kayak gitu.

Ja, segini aja reviewnya. Jika saya bicara lebih banyak lagi tentang film ini, mungkin akan mengurangi keasyikan dalam menontonnya karena unsur yang membuat film ini jadi bagus adalah unsur kejutannya. Yang jelas, karena film ini, saya jadi tidak mau meremehkan hal-hal kecil yang pernah saya buat, siapa tahu hal tersebut bisa menyelamatkan bumi dari kiamat, hihi. 4 bintang deh untuk film ini 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »