Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘fantasy’

Apakah kamu penggemar game RPG? Jika iya, kamu mungkin akan menyukai dorama ini. Yuusha Yoshihiko to Maou no Shiro adalah sebuah dorama yang dibuat sebagai parodi dari game RPG. Plotnya? Cukup sederhana. Bercerita tentang Yoshihiko (Yamada Takayuki), laki-laki yang terpilih sebagai Yuusha (hero) di desanya. Diceritakan bahwa desa Kaboi (desanya Yoshihiko) terkena wabah penyakit misterius. Oleh karena  itu, Yoshihiko ditugaskan untuk mencari tanaman herbal yang dipercaya bisa menyembuhkan wabah penyakit tersebut. Perjalanan Yoshihiko pun dimulai. Di tengah perjalanan itu, ia bertemu dengan tiga orang yang kemudian bergabung dan membantu rencana Yoshihiko. Tiga orang tersebut adalah: (1) Danjou (Takuma Shin), seorang fighter yang mau bergabung dengan Yoshihiko sampai Yoshihiko mau mendengarkan ceritanya;  (2) Murasaki (Kinami Haruka), perempuan yang menyangka Yoshihiko adalah pembunuh ayahnya dan bergabung dengan Yoshihiko sampai ia yakin bahwa Yoshihiko adalah pembunuh ayahnya, dan (3) Merebu (Muro Tsuyoshi), seorang penyihir yang hanya menguasai satu mantra saja.

Ketika mereka berempat telah berkumpul semua dan siap memulai petualangan, mereka menemukan kenyataan bahwa…. tanamannya telah ketemu. Ya, ketika mereka baru mau memulai pencarian, tiba-tiba mereka bertemu Teruhiko, ayah Yoshihiko yang merupakan Yuusha sebelumnya, dan telah menghilang selama enam bulan dalam misi yang sama dengan Yoshihiko. Ternyata Teruhiko sudah menemukan tanamannya, tapi ia tidak kembali ke Desa Kaboi karena di tengah perjalanannya ia bertemu dengan seorang perempuan yang kemudian dinikahinya. Lalu, apakah petualangan Yoshihiko berhenti sampai di situ? Ternyata tidak saudara-saudara. Ketika mereka berempat siap berpisah, tiba-tiba muncul Hotoke-sama/Buddha (Sato Jiro) di langit. Hotoke-sama memberitahu Yoshihiko dkk bahwa wabah penyakit yang terjadi di desanya adalah ulah dari Maou/devil. Oleh karena itu, tugas Yoshihiko yang sebenarnya bukanlah mencari tanaman herbal, tapi mencari dan mengalahkan Maou. Petualangan Yoshihiko yang sebenarnya pun dimulai. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa sajakah yang akan ditemui Yoshihiko di perjalanannya? Apakah Yoshihiko akan berhasil menemukan dan mengalahkan Maou? Di luar hal itu, tanpa Yoshihiko ketahui, adik perempuannya yang bernama Hisa (Okamoto Azusa) diam-diam mengikuti Yoshihiko karena khawatir pada kakaknya tersebut.

Yuusha Yoshihiko to Maou no Shiro adalah salah satu dorama terlucu yang pernah saya tonton. Jangan tertipu oleh posternya yang memberi kesan bahwa ini adalah dorama aksi petualangan yang serius. Dorama ini murni dorama komedi. Dorama ini dibuat sebagai parodi sekaligus penghormatan terhadap game RPG Jepang, terutama game Dragon Quest (belum pernah main sayangnya). Saya sendiri bukan penggemar game RPG kelas berat, cuma dulu saya suka nontonin sepupu saya main game RPG macam Chrono Cross, dan pernah main beberapa game RPG sederhana di komputer, sehingga saya gak terlalu asing dan cukup mengenal pola umum game RPG. Oleh karena itu, dorama ini berhasil membuat saya tertawa karena parodi RPG yang disajikannya. Seperti game RPG pada umumnya, karakter-karakter pada dorama ini pun akan bertemu dan bertarung dengan monster di tengah perjalanannya (dan akan mendapatkan uang jika berhasil mengalahkannya). Dalam perjalanannya pun mereka akan mampir ke berbagai macam desa, dan kadang mereka akan menerima quest/tugas tambahan dari penduduk desa yang mereka datangi. Para karakter di dorama ini pun dalam petualangannya bisa mempelajari beberapa skill dan bahkan bisa mengubah kelas mereka. Di sini juga mereka ditugaskan untuk mencari item/barang-barang yang bisa digunakan untuk mengalahkan Maou. Selain hal-hal itu, masih banyak adegan-adegan yang merupakan parodi dari RPG yang lumayan bikin saya ngakak (ketika kamu main game RPG, pernah mencoba berbicara dengan penduduk desa biasa berkali-kali dan hasilnya mereka mengucapkan hal yang sama terus menerus? Di sini pun hal semacam itu ada :D).

Selain dimaksudkan sebagai parodi RPG, dorama ini juga melabeli dirinya sendiri sebagai “low budget action adventure story” (seperti dapat dilihat pada bagian openingnya). Dan menurut saya hal ini adalah kelebihan dari dorama ini. Ya, karena dorama ini bergenre fantasi, mungkin kamu akan berharap dorama ini akan menghadirkan efek-efek luar biasa sebagaimana yang biasanya ada pada film/serial bergenre fantasi. Tapi sayang sekali dorama ini bukan dorama penuh efek semacam itu. Namun, seperti yang sudah saya bilang, hal itu merupakan salah satu kelebihan dan salah satu faktor yang membuat dorama ini menjadi sangat lucu. Kita bisa melihat bahwa monster-monster di sini semuanya adalah “handmade” alias buatan tangan (dan beberapa di antaranya ada juga yang hanya kostum), dan bukannya efek CGI atau semacamnya. Dan ketika monsternya adalah monster yang lebih besar, tiba-tiba adegan dorama ini akan berubah menjadi tayangan animasi 2D sederhana (karena membuat monster yang lebih besar akan makan banyak biaya sepertinya). Properti dan settingnya pun kabarnya adalah properti/setting bekas film-film lain. Namun, hal itulah yang saya kagumi dari dorama ini. Budget rendah bukanlah alasan yang dapat membuat sebuah dorama menjadi jelek. Sebaliknya, budget rendah malah bisa dimanfaatkan sebagai suatu lelucon yang ternyata berhasil menghibur.

Selain itu, dorama ini juga tidak hanya memparodikan game RPG saja. Dorama ini juga banyak memparodikan hal-hal lain yang berhubungan dengan dengan pop culture di Jepang. Ada parodi dari anime Doraemon, parodi iklan, sampai parodi dari idol group yang tengah populer di Jepang saat ini (terlihat di salah satu episode di mana Yoshihiko tiba-tiba berubah haluan jadi idol di Akibara Village, di bawah naungan seseorang bernama Aki-mo. Parodi grup apa tuuh?). Selain parodi dari hal-hal itu, di sini juga terdapat parodi dari film komedi klasik Monty Python and  the Holy Grail (selain gaya humornya kadang agak mirip, adegan koala dalam dorama ini juga sedikit mengingatkan saya pada tokoh kelinci di Monty Python). Unsur komedi di sini memang banyak dihasilkan dari unsur parodinya. Tapi karakteristik tokoh-tokohnya juga berperan penting dan menambah kelucuan dorama ini. Karakter-karakter dari dorama ini hampir semuanya sinting. Mulai dari Yoshihiko, yang pada awalnya mungkin terlihat sebagai karakter pahlawan yang cukup umum. Ia adalah seorang pemberani, jujur, dan “pure-hearted”. Tapi nantinya kita akan dibawa pada kejutan-kejutan mengenai karakter ini (apalagi ternyata ia mudah terdistraksi oleh hal-hal remeh temeh). Tiga orang temannya pun sama-sama punya kepribadian yang konyol. Dan karakter Hotoke-sama-nya, benar-benar tidak meyakinkan sebagai Hotoke-sama. Selain karakter-karakter utama, kita juga akan diperkenalkan pada karakter musuh-musuh yang hampir semuanya berkepribadian konyol. Mengenai hal ini, dorama ini juga memiliki cukup banyak bintang tamu yang berperan sebagai musuh dan karakter lain yang ditemui Yoshihiko dkk di perjalanannya. Mulai dari Yasuda Ken, Koike Eiko, Sawamura Ikki, Furuta Arata, Okada Yoshinori, sampai Oguri Shun. Dan mengingat ini adalah low budget drama, kabarnya mereka tidak dibayar dan mau tampil selama beberapa menit di dorama ini sebagai bentuk persahabatan (misalnya Oguri Shun yang bersahabat dengan Yamada Takayuki).

Well, segini aja review dari saya. Overall, saya sangat menyukai dorama berjumlah 12 episode ini (oh ya karena ini adalah midnight drama, dorama ini setiap episodenya hanya memiliki durasi sekitar 28 menit, tidak seperti dorama prime time yang biasanya berdurasi sekitar 45 menit). Highly recommended buat penyuka game RPG dan penyuka dorama bergenre komedi, atau mungkin untuk yang bosan dengan dorama berformat ‘biasa’. Ja, 4 bintang untuk dorama ini.

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

Jika kamu diminta untuk memilih satu momen paling berarti dalam hidupmu, maka apa yang akan kamu pilih? Mungkin momen ketika kamu masih duduk di sekolah menengah pertama, atau momen di mana kamu sedang bersama dengan orang yang kamu cintai, atau bermacam-macam momen lainnya, yang mungkin akan membuat kamu menjadi bingung mau memilih yang mana. Pertanyaan itulah yang menjadi premis dasar dari film After Life (judul asli: Wandâfuru raifu), sebuah film yang disutradarai oleh Hirokazu Kore-eda, yang terkenal melalui film-filmnya seperti Nobody Knows dan Still Walking.

Sesuai judulnya, After Life berlatarkan sebuah dunia setelah kematian. Bukan surga atau neraka, tapi dunia sebelum itu (mungkin semacam Purgatory?). Ada sebuah bangunan di mana orang-orang yang baru saja meninggal dikumpulkan. Mereka diwawancara satu persatu oleh staff tempat itu, diberitahu bahwa mereka akan tinggal selama seminggu di situ, dan diberi tugas yaitu: memilih kenangan atau momen paling berarti dalam hidup mereka. Cukup satu saja. Mereka diberi waktu tiga hari untuk memutuskan itu. Setelah mereka mantap memilih, staff tempat itu akan menciptakan kembali kenangan yang mereka pilih dan memfilmkannya. Setelah itu, ketika mereka melanjutkan ke tahap selanjutnya (mungkin surga atau neraka, atau mungkin kehidupan selanjutnya, jika reinkarnasi benar-benar ada), mereka hanya akan membawa kenangan yang mereka pilih tersebut, dan melupakan semua hal yang terjadi dalam hidup mereka.

Orang-orang yang telah meninggal tersebut (kebanyakan manula, tapi ada juga gadis remaja) lalu berusaha untuk mengingat-ingat kembali apa saja yang terjadi di kehidupan mereka. Ada yang memilih momen ketika mereka masih kecil, ada yang bingung memilih, ada yang memilih untuk tidak memilih, bahkan ada yang berbohong dan memilih momen yang tidak pernah terjadi di kehidupan mereka, melainkan diharapkan terjadi. Belakangan, hal tersebut nantinya tidak hanya akan mempengaruhi orang-orang tersebut saja, tapi juga para staff tempat itu, yang sebenarnya  tidak jauh berbeda dari mereka.

Menonton film ini membuat saya turut berpikir dan kembali mengingat-ingat apa saja yang telah terjadi dalam kehidupan saya. Seandainya saya berada di posisi mereka, maka kenangan apa yang akan saya pilih? Pertanyaan yang cukup sulit bukan? Karena begitu banyak momen yang ingin saya pilih dan tidak ingin saya lupakan. Menonton film ini rasanya seperti sedang melakukan refleksi akan diri maupun kehidupan kita. Kadang-kadang, dengan mengingat kembali yang telah terjadi, kita jadi bisa memahami apa yang dulu tidak kita pahami, seperti yang terjadi pada salah satu tokoh dalam film ini.

Ya, biarpun berlatarkan dunia setelah kematian, sesungguhnya film ini bercerita tentang kehidupan (dan bukankah kematian sendiri adalah bagian dari kehidupan?). Melalui film ini, kita seolah disadarkan bahwa yang paling berarti dari kehidupan kita itu adalah hidup itu sendiri, sesuai judul aslinya, Wandâfuru raifu (Wonderful Life), yang menurut saya lebih merepresentasikan maksud film ini dibandingkan judul internasionalnya.

Seperti film-film Kore-eda lainnya, film ini berjalan dengan tenang dan tanpa letupan emosi yang berlebihan. Film ini juga banyak mengandung momen menyentuh tanpa perlu dihiasi adegan yang didramatisasi. Selain itu, yang saya suka di sini adalah setting after life-nya yang tidak jauh berbeda dari dunia orang hidup. Orang-orang yang tinggal di sana masih melakukan aktifitas-aktifitas sebagaimana orang hidup, seperti minum teh, gosok gigi, bahkan bermain catur. Proses memfilmkan kenangannya pun sama seperti proses membuat film di dunia nyata. Tidak ada hal yang aneh atau ajaib di dunia tersebut. Mungkin, berdasarkan penafsirannya, Kore-eda mencoba mencoba menunjukkan bahwa dunia orang mati sesungguhnya sama saja seperti dunia orang hidup. Ja, segini aja reviewnya. 4 bintang untuk film ini. Recommended!

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Ever wanted to be someone else? Now you can.

Yang namanya manusia itu pasti pernah merasa gak puas dengan dirinya sendiri. Meskipun kamu berkoar-koar kalo kamu merasa puas dan cukup dengan dirimu sendiri, di dalam lubuk hati paling dalam pasti ada, meskipun cuma sedikit, rasa ketidakpuasan tersebut. Hal itu membuat kamu berkhayal, seandainya kamu menjadi orang lain, apakah kehidupanmu akan menjadi lebih baik dari yang sebelumnya? Apalagi jika orang lain tersebut adalah seorang ‘selebriti’, yang menurut pandanganmu hidupnya terlihat penuh kesempurnaan.

Being John Malkovich bercerita tentang hal itu, ketidakpuasan akan diri sendiri dan keinginan menjadi orang lain. Dan hal tersebut dapat diwujudkan dalam film ini. Craig Schwartz (John Cusack) adalah seorang puppeteer (semacam yang mainin boneka puppet) yang sangat berbakat, namun bakatnya tersebut seakan tidak berarti karena pertunjukannya tidak pernah laku. Karena itulah, atas permintaan dari istrinya, Lotte (Cameron Diaz, yang penampilannya acak-acakan di sini), ia kemudian mencari pekerjaan baru. Beruntung tidak butuh waktu lama bagi Craig untuk menemukan pekerjaan baru. Ia mendapat pekerjaan di tempat bernama LesterCorp yang merupakan milik seorang pria tua bernama Dr. Lester, di sebuah lantai yang aneh karena langit-langitnya rendah. Di tempat kerjanya yang baru ia bertemu dengan Maxine (Catherine Keener), seorang wanita cantik dan seksi yang juga bekerja di sana. Meskipun sudah punya istri, Craig tertarik pada Maxine dan kemudian mencoba merayu wanita itu, namun sayangnya selalu mendapat penolakan. Pada suatu hari, di tempat kerjanya Craig menemukan sebuah pintu kecil berbentuk kotak yang ketika dibuka ternyata berisi sebuah lorong panjang. Craig pun memasuki lorong itu, dan terkejut karena mendapati bahwa lorong tersebut merupakan sebuah portal menuju pikiran seorang aktor bernama John Malkovich (yes, John Malkovich beneran). Selama 15 menit ia bisa merasakan dirinya berada dalam sudut pandang John Malkovich, meskipun tanpa bisa mengendalikan tubuhnya. Dan setelah 15 menit tersebut, Craig kemudian terlempar ke pinggir jalan di suatu tempat. Pengalamannya tersebut kemudian ia ceritakan pada Lotte istrinya. Mendengar cerita Craig, Lotte menjadi tertarik untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi John Malkovich. Craig pun membawa Lotte ke lorong tersebut. Dan ternyata setelah itu Lotte jadi ketagihan dan ingin mencobanya lagi. Keesokan harinya Lotte datang ke kantor Craig dan ia melihat Craig sedang bersama Maxine. Lotte meminta Craig agar ia bisa masuk ke lorong tersebut lagi, dan Maxine yang kemudian mengetahui hal tersebut mencoba membuktikan kebenaran portal tersebut dengan cara menemui John Malkovich sendiri. Maxine dan John Malkovich (yang dalam pikirannya terdapat Lotte) pun bertemu. Hal tersebut membuat Lotte menyadari bahwa dirinya adalah biseksual karena ia tertarik pada Maxine, dan Maxine pun tertarik pada Lotte, namun hanya jika ia berada dalam tubuh John Malkovich. Karena itulah dengan menggunakan tubuh John Malkovich, Lotte jadi sering menemui Maxine. Hal itu membuat Craig cemburu karena ia juga menyukai Maxine, sehingga dia dan istrinya saling berlomba-lomba merebut hati Maxine. Oh ya ngomong-ngomong lorong tersebut tidak hanya digunakan oleh Lotte dan Craig saja. Atas ide Maxine, hal tersebut dijadikan ladang bisnis. Dengan 200 dolar, siapapun bisa merasakan bagaimana rasanya berada dalam pikiran John Malkovich selama 15 menit. Dan karena orang-orang putus asa yang tidak puas dengan dirinya sendiri itu jumlahnya ada BANYAK, maka bisnis tersebut laku keras. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya pada mereka? Seperti apakah asal usul lorong tersebut? Dan apakah nantinya John Malkovich akan mengetahui hal itu? Apalagi nantinya hal tersebut akan bertambah gawat, karena sedikit demi sedikit Craig mulai bisa mengendalikan tubuh John Malkovich.

Habis nonton film ini rasanya saya jadi pengen ikutan masuk ke lorong tersebut. Bukan, bukan karena pengen ikutan ngerasain jadi John Malkovich. Tapi pengen ngerasain jadi Charlie Kaufman, sang penulis skenario. Saya pengen tahu dia ini makannya apa sih sampe-sampe bisa kepikiran aja cerita sinting kayak gini. Kelebihan film ini memang ada pada ceritanya yang (pernah saya bilang di short review yang ini) sangat orisinil. Charlie Kaufman memang jenius. Tapi cerita yang bagus kalo tidak digarap dengan baik tentunya hanya akan menjadi karya yang basi. Untuk itu beruntunglah Charlie Kaufman mendapatkan Spike Jonze sebagai rekan kerjanya. Sang sutradara, Spike Jonze, berhasil mengangkat skenario ciptaan Kaufman menjadi sebuah film yang sangat sempurna di mata saya. Abis ini kayaknya saya harus cari film Adaptation yang merupakan karya kolaborasi mereka berdua juga (kasian yee belum nonton).

Film ini juga didukung oleh akting yang gemilang dari para pemainnya. John Cusack, Cameron Diaz, John Malkovich, Catherine Keener, dan lain-lainnya. Semuanya KEREN! Terutama Cameron Diaz, yang karakternya di sini agak beda dari karakternya di kebanyakan film. Oh ya di film ini juga kamu akan terkagum-kagum melihat bagaimana pertunjukan boneka puppet yang dimainkan oleh Craig. Keren dan gerakannya haluuuus banget. Syukaaa deeeh.

Ah, kayaknya saya gak mau ngomong banyak-banyak tentang film ini. Pokoknya tonton aja deh. Mungkin tidak semua orang bisa menikmati film dengan cerita aneh seperti ini. Tapi bagi saya filmnya menghibur kok, karena ada sentuhan humornya juga yang menjadikan film ini jadi kocak. Pokoknya, buat kalian yang suka film-film dengan cerita unik, aneh, gak standar, dan juga cerdas, pasti suka film ini. Oh ya meskipun jalan cerita film ini unik dan gak biasa, pesannya cukup simpel kok, dan mungkin tertera pada motto hidup di diary kalian (halah diary), yaitu….. be yourself. 5 bintang saya kasih deeeeh.

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Film Ghibli ketiga yang saya tonton setelah Spirited Away dan Ponyo *maaf, masih awam di dunia per-ghibli-an :D*. And this movie is really goooood. Masih di bawah Spirited Away tapi lebih menarik dari Ponyo. Film animasi keluaran tahun 80-an yang disutradarai oleh Hayao Miyazaki ini bercerita tentang sebuah keluarga (seorang ayah dan dua anak perempuan *Satsuki, 10 tahun; Mei, 4 tahun*, sementara sang ibu sedang dirawat di rumah sakit) yang baru pindah ke sebuah rumah di daerah pedesaan, dan di sebelah rumah tersebut terdapat sebuah hutan lebat. Suatu hari, ketika Mei sedang bermain-main di halaman rumahnya, ada suatu makhluk kecil yang muncul dan menarik perhatian Mei. Mei pun mengikuti makhluk tersebut, dan hal tersebut membawanya ke dalam hutan sebelah rumahnya dan membawanya pada pertemuan dengan sesosok makhluk besar berbulu lembut *tunjuk poster* yang kemudian disebut Totoro*. Dan setelah melalui berbagai hal, Satsuki pun bertemu Totoro juga dan kemudian kakak beradik ini menjalin suatu persahabatan dengan Totoro. Masalah timbul ketika ibu mereka yang sedang dirawat di rumah sakit ditunda kepulangannya, dan menyebabkan Mei yang sejak kemarin tidak sabar menunggu ibunya menjadi kesal dan bertengkar dengan Satsuki, dan kemudian menghilang. Lalu, apa yang terjadi selanjutnya? Apakah Satsuki akan berhasil menemukan Mei? Apakah Totoro akan membantu Mei menemukan Satsuki? Tonton aja deh.

Film dengan cerita sederhana namun berhasil menyentuh penontonnya. Sepintas terlihat seperti tontonan khusus anak-anak, namun saya yakin orang dewasa pun akan menyukai film ini. My Neighbor Totoro (Tonari no Totoro) membuat saya merasakan kembali semangat masa kanak-kanak yang selalu penuh rasa ingin tahu dan penuh imajinasi. Saya suka karakter kakak adik ini. Karakter mereka sangat real dan dapat kita temui di mana-mana, dan hubungan di antara mereka berdua pun sangat erat selayaknya saudara kandung. Dan keluarga mereka, kita bisa melihat di balik kesederhanaannya mereka adalah keluarga yang sangat hangat dan bisa membuat iri siapa pun. Karakter orang tuanya juga bukan tipe karakter orang tua menyebalkan yang selalu mematikan imajinasi anak-anak. Makanya tidak heran kalau kedua kakak beradik ini sangat menyayangi orang tua mereka.

Karakter Totoro-nya sendiri benar-benar menggemaskan! Padahal karakter ini tidak pernah bertingkah ‘imut’, dan kalau menggeram kadang-kadang terlihat menyeramkan. Namun saya cinta banget sama karakter ini. Kemunculan Totoro adalah salah satu hal yang paling saya tunggu-tunggu di film ini. Saya ikut kegirangan seperti kedua kakak beradik ini ketika melihat dia muncul (dan Totoro ini tidak sering muncul, dan kemunculannya yang jarang ini malah membuat karakternya semakin menarik) . Tidak heran jika Totoro menjadi salah satu maskot terkenal dari film animasi, dan karakter ini pun kemudian menjadi maskot dari studio Ghibli sendiri. Ah aku cinta Totoro!! Selain Totoro, karakter ajaib yang bisa kita temukan di sini adalah Neko no Bus (cat bus), bis berbentuk kucing berkaki banyak yang melaju dengan cara berlari selayaknya kucing biasa. Aku mau naek bus itu!!

Animasinya sendiri mungkin terlihat sederhana jika dibandingkan dengan film-film Ghibli yang sekarang seperti Spirited Away dan Ponyo. Tapi untuk ukuran tahun 80-an, animasinya tergolong ke dalam kategori luar biasa. Animasinya benar-benar indah dan sangat detail. Adegan favorit saya adalah ketika Totoro dan yang lainnya menarikan tarian penumbuh tanaman, dan kemudian bibit tanaman tersebut langsung tumbuh menjadi pohon yang sangat besar dan lebat. Itu keren banget XD

Selain hal tersebut, film ini pun memberikan pesan moral yang sangat bagus dan tidak terlihat menggurui. Totoro yang digambarkan sebagai roh penjaga hutan adalah simbol dari alam. Dan karakter Totoro ini kadang-kadang terlihat menggemaskan dan kadang-kadang juga terlihat menyeramkan, sama seperti alam sendiri yang selain dapat melindungi kita tapi juga dapat menjadi menjadi bencana, tergantung dari sikap kita terhadap alam itu sendiri. Jika kita baik pada alam, maka alam pun akan melindungi kita. Sama halnya dengan kakak adik tersebut yang selalu berperilaku baik pada Totoro, sehingga Totoro pun mau menolong mereka. Selain hal tersebut, masih banyak pesan-pesan lain yang terdapat dalam film ini. 4,5 bintang 🙂

Ps: btw saya ganti header dengan gambar totoro. Bagaimanakah pendapatnya?

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »

Jadi ceritanya saya lagi punya misi mulia *halah* untuk menonton semua film / dorama yang ada Eita di dalamnya nih, baik itu dia jadi pemeran utama, sidekick, ataupun cuma numpang lewat (kayak di Hanging Garden). Ah ya, sejak nonton VOICE saya emang jadi jatuh cinta sama aktor satu ini. Makanya pas saya nemuin dvd *bajakan tentunya* film Dororo ini, saya senang bukan main. Di sini Eita nggak jadi pemeran utama sih, tapi ya gak ada salahnya toh ditonton. Kebetulan sekarang juga saya lagi nonton dorama Eita yang judulnya Orange Days, dan dua pemeran utama film ini yaitu Satoshi Tsumabuki dan Kou Shibasaki juga kebetulan main di dorama itu. Makanya, nonton film ini berasa lagi liat reuni Orange Days (minus narimiya-miho) tapi dengan cerita dan setting zaman yang sangat berbeda.

Dororo bercerita tentang seorang pengembara laki-laki yang memiliki latar belakang sangat suram. Saat masih dalam keadaan bayi ia dibuang begitu saja oleh orang tuanya dengan keadaan tubuh yang tidak lengkap karena sang ayah, Kagemitsu Daigo, yang merupakan penguasa kejam saat itu (pada era sengoku kalau gak salah), mempersembahkan 48 bagian tubuh anaknya tersebut kepada iblis agar ia memperoleh kemenangan dalam perang secara terus menerus. Beruntung bayi tersebut (yang nantinya dipanggil Hyakki-maru, diperankan Satoshi Tsumabuki) ditemukan oleh seorang pria tua yang sangat ahli dalam bidang obat-obatan *mungkin semacam dukun juga*. Pria tua tersebut menciptakan tubuh baru untuk Hyakki-maru. Ia juga mengajarkan seni bertarung kepada Hyakki-maru. Lalu pada saat Hyakki-maru tumbuh dewasa, pria tua tersebut sakit keras dan sebelum ia meninggal, ia menyuruh Hyakki-maru untuk membunuh 48 iblis untuk mendapatkan anggota tubuhnya yang sebenarnya. Pengembaraan Hyakki-maru pun dimulai. Ketika ia sedang membunuh sesosok monster, aksinya itu dilihat oleh seorang pencuri wanita (yang selalu menganggap dirinya sebagai laki-laki, diperankan Kou Shibasaki) yang agak slengean dan menganggap Hyakki-maru sebagai sosok yang menarik. Pencuri tersebut lalu mengikuti Hyakki-maru karena tertarik pada pedang yang tertanam di tangan kiri Hyakki-maru. Pencuri itu lalu menanyakan siapa nama Hyakki-maru, dan Hyakki-maru berkata kalau ia tidak mempunyai nama yang pasti, kadang ia dipanggil Hyakki-maru, tapi kadang ia juga dipanggil Dororo (yang artinya anak setan). Dan selayaknya pencuri sejati, perempuan itu pun ‘mencuri’ nama Dororo dan sejak saat itu ia mengklaim bahwa namanya adalah Dororo. Mereka pun bertualang bersama mencari iblis-iblis agar Hyakki-maru mendapatkan semua anggota tubuh aslinya kembali.

Sekadar informasi, film ini diangkat dari manga berjudul sama karya Osamu Tezuka, sang ‘dewa manga’ yang terkenal sebagai pencipta manga / anime terkenal “Astro Boy”. Dan menurut saya film ini…..hmmm…. not bad. Film ini masuk kategori “standar / lumayan” (menurut saya tentunya). Yang saya suka dari film ini adalah karakter Dororo-nya itu, serta interaksinya dengan Hyakki-maru. Sungguh aneh karena judul film ini diambil dari nama karakter pendukung, bukan karakter utama. Bukankah karakter utamanya Hyakki-maru? Kenapa filmnya tidak diberi judul Hyakki-maru saja? Tapi saya tidak menyalahkan pemilihan judul ini karena sepanjang film berlangsung memang karakter DORORO inilah yang paling mencuri perhatian saya. Akting Kou Shibasaki hebat banget! Setelah membuat saya terpesona melalui perannya sebagai remaja psikopat dalam Battle Royale, kini aktingnya sebagai Dororo yang slengean dan seenaknya itu juga tidak kalah memukau. Yang bikin saya salut sih logat bicara Kou Shibasaki di film ini sangat berbeda dengan logat bicaranya yang asli, dan logatnya tersebut terdengar alami dan sama sekali tidak terdengar dibuat-buat. Ah, aku cinta perempuan ini!

Meskipun karakter Dororo ini sangat menonjol, tapi bukan berarti Tsumabuki Satoshi sebagai Hyakki-maru sang tokoh utama tidak bagus aktingnya. Dia sangat pas memerankan Hyakki-maru yang cool dan selalu tenang (dan dia tamfaaaan :p). Dan seperti yang saya bilang di atas, saya suka sekali melihat interaksinya dengan Dororo. Meskipun karakter mereka sangat jauh berbeda, tapi mereka bisa bekerja sama dan menjadi partner yang baik. Oh ya, Eita yang merupakan (salah satu) alasan saya menonton film ini juga berakting dengan baik sebagai Tahomaru, tapi di sini dia tidak berhasil membuat saya jatuh cinta karena gaya rambutnya betul-betul nggak banget (informasi gak penting).

Dari segi cerita saya suka ceritanya sih. Tapi sebagai film yang bergenre action-fantasy, buat saya ceritanya terlalu drama, dan meskipun terdapat banyak adegan-adegan aksi-nya, tapi bagi saya kurang berasa greget. Selain itu, special effect-nya menurut saya gak begitu bagus. Di beberapa scene yang menampilkan karakter iblis-iblis, tampak keliatan bohongannya (tapi setidaknya tidak separah special effect sinetron indosiar), tapi di beberapa scene juga ada yang special effect-nya terlihat bagus.

Yah, kesimpulannya film ini lumayan menghibur kok. Cocoklah ditonton untuk mengisi waktu luang. 3 bintang deh 🙂

catatan: aslinya Kou Shibasaki dan Tsumabuki Satoshi ini pacaran loh di dunia nyata *ketika film ini berlangsung*, tapi saya gak tahu apa mereka masih pacaran sampai sekarang ^^

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Ahey, akhirnya ada lagi film Ghibli yang saya tonton. Abis rasanya susah banget nemuin film Ghibli itu dan beberapa minggu lalu saya bahagia sekali karena gak sengaja menemukan dvd film ini di lapak dvd bajakan deket kampus *hehe*. Yak, Ponyo adalah film Ghibli kedua yang saya tonton setelah Spirited Away yang memukau itu. Dan film ini pun juga sangat memukau meskipun menurut saya masih lebih bagus Spirited Away.

Oke jadi film ini bercerita tentang Ponyo (yang awalnya memiliki nama Brunhilde), semacam ikan jejadian (mirip ikan mas tapi punya wajah mirip manusia) yang merupakan peranakan manusia dengan dewi laut. Ponyo ini berusia lima tahun, dan seperti halnya anak-anak yang sedang tumbuh, ia memiliki rasa ingin tahu yang besar dan sangat ingin mengetahui bagaimana dunia di atas sana (daratan maksudnya). Ia lalu kabur dan tanpa sengaja terperangkap di sebuah toples kaca. Sousuke, seorang anak laki-laki berusia  5 tahun yang rumahnya berada di atas tebing melihatnya dan menyelamatkan Ponyo dengan cara memecahkan toples tersebut. Tangan Sousuke jadi berdarah dan Ponyo langsung menjilat darahnya sehingga luka di tangan Sousuke tersebut sembuh seketika, membuktikan bahwa ikan kecil tersebut memiliki kekuatan magis. Sousuke yang langsung menyukai ikan kecil tersebut berniat merawatnya dan kemudian memberi nama ikan tersebut dengan nama “Ponyo”. Lalu, meskipun kurang dari sehari mereka bersama, mulai timbul rasa suka dalam hati Ponyo kepada Sousuke. Sayangnya, Ponyo berhasil ditemukan ayahnya, Fujimoto, dan dibawa kembali ke dalam laut. Namun, tekad yang kuat membuat Ponyo (yang sangat ingin berubah menjadi manusia) berhasil kabur kembali. Bukan hanya itu, berkat darah Sousuke, Ponyo berhasil mewujudkan keinginannya menjadi manusia. Wujudnya berubah menjadi seorang anak perempuan kecil. Namun, perubahan dirinya menjadi manusia ini ternyata menimbulkan sebuah bencana yang sangat berbahaya bagi desa tersebut. Jadi, apa yang akan terjadi pada Ponyo selanjutnya? Tonton aja deh.

Meskipun baru dua kali nonton film studio Ghibli, tapi saya tidak ragu untuk mengatakan bahwa Hayao Miyazaki adalah salah satu sutradara / animator hebat dunia. Senang rasanya melihat masih ada yang mempertahankan model animasi 2D di tengah maraknya animasi-animasi 3D dengan efek CGI yang begitu canggih saat ini. Dan, meskipun ini film animasi 2D, animasinya sendiri sangat bagus dan indah. Dunia bawah laut, beserta makhluk-makhluk di dalamnya digambarkan sangat indah dan animasinya sangat memanjakan mata. Namun, Miyazaki tidak hanya memberi kita gambar-gambar indah saja. Dia juga menunjukan sebuah realita di mana ketika Ponyo berenang ke darat, diperlihatkan banyak sampah di lautan yang sedang diangkut oleh sebuah kapal. Tidak mengherankan jika Fujimoto (ayah Ponyo) membenci manusia, karena banyak manusia yang sering mengotori lautan yang dicintainya (tapi gak semua manusia begitu loh :p)

Cerita film ini sendiri, yaitu tentang seekor ikan yang ingin menjadi manusia, mungkin akan mengingatkan kita pada kisah The Little Mermaid karya Hans Christian Andersen. Tapi meskipun keduanya memiliki kesamaan tema, kedua kisah ini jauh berbeda kok. Saya suka persahabatan antara Sousuke dan Ponyo, meskipun persahabatan mereka bisa dibilang baru sebentar, tapi bisa kelihatan kalau Sousuke sangat menyayangi Ponyo, begitu juga sebaliknya. Karakter Sousuke begitu baik dan polos, seperti anak-anak pada umumnya. Ponyo juga begitu menggemaskan, tapi saya lebih suka wujud dia pas jadi ikan dibanding jadi manusia, hehe. Karakter-karakter lainnya pun sangat mendukung cerita film ini, seperti Lisa, ibu Sousuke yang tegas tapi punya jiwa penolong yang sangat tinggi. Begitu juga dengan karakter nenek-nenek di panti Jompo (tempat kerja Lisa) yang turut menghidupkan semangat film ini. Karakter Fujimoto, ayah Ponyo, juga tidak bisa dibilang sebagai karakter antagonis atau jahat karena kebenciannya terhadap manusia sangat beralasan, sehingga tidak ada hitam atau putih dalam film ini.

Yang bagus lagi dari film ini adalah pesan moral yang disampaikan Miyazaki sama sekali tidak terlihat menggurui atau menghakimi. Keindahan lautan yang ditampilkan oleh Miyazaki membuat kita menyadari bahwa itu adalah salah satu harta terbesar dunia yang tidak boleh dikotori oleh tangan kita sendiri. Ayo, bagaimana kalo suatu saat lautan marah karena tindakan kita? Bukan gak mungkin nanti terjadi bencana seperti yang terjadi pada film ini (meskipun bencana di film ini gara-gara si Ponyo sih ^^). Namun, film ini tidak langsung menyalahkan manusia begitu saja, karena ditunjukan juga sisi baik dari manusia melalui karakter Lisa yang jiwa sosialnya sangat tinggi. Ja, sekian aja. 4 bintang saya kasih untuk film ini. Recommended!

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

My name is Salmon, like the fish. First name, Susie. I was fourteen years old when I was murdered on December 6th, 1973. I wasn’t gone. I was alive in my own perfect world. But in my heart, I knew it wasn’t perfect. My murderer still haunted me. My father had the pieces but he couldn’t make them fit. I waited for justice but justice did not come.

Nama Peter Jackson mungkin sudah tidak asing bagi para pecinta film. Ia adalah sutradara trilogi The Lord of the Rings yang luar biasa itu dan juga pernah menyutradarai remake dari film King Kong. Kali ini, ia menyutradarai film yang memiliki tema yang agak berbeda dari film-film yang pernah ia sutradarai sebelumnya, yaitu drama. The Lovely Bones adalah film yang diangkat dari novel best seller karangan Alice Sebold yang berjudul sama. Film ini bercerita tentang Susie Salmon (Saoirse Ronan), seorang anak perempuan berusia 14 tahun yang pada suatu hari dibunuh oleh tetangganya sendiri, Mr. Harvey (Stanley Tucci). Pembunuhan tersebut dilakukan secara ‘rapi’ dan mayat serta beberapa bukti disembunyikan oleh Mr. Harvey sehingga pihak keluarga dan kepolisian tidak bisa menemukan Susie. Susie yang masih belum rela akan kematiannya terjebak di sebuah dunia di antara kehidupan dan surga, sehingga ia masih bisa mengamati bagaimana hidup keluarganya setelah ditinggal dirinya. Dan setelah kematiannya, hidup keluarganya memang tidak sama lagi. Sang ayah, Jack Salmon (Mark Wahlberg), merasa depresi dan terobsesi untuk menangkap pembunuh putrinya dan menjadi paranoid. Sang ibu, Abigail (Rachel Weisz), berusaha menghindari hal-hal yang berhubungan dengan putrinya (misalnya ia tidak mau masuk ke kamar Susie). Selain mereka, Susie juga mengamati orang-orang lain dalam kehidupannya, seperti Lindsey dan Buckley yang merupakan adik-adiknya; Grandma Lynn (Susan Sarandon), neneknya; Ray, cowok yang ditaksirnya; Ruth, anak perempuan aneh yang sanggup merasakan kehadirannya; sampai pembunuhnya sendiri, Mr. Harvey. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Susie pada akhirnya akan memilih untuk pergi ke surga dan berhenti mengamati orang-orang di dunia nyata? Apakah pelaku pembunuhannya, Mr. Harvey, pada akhirnya akan tertangkap? Tonton aja deh.

Sebelum saya nonton film ini, sebelumnya saya udah baca novelnya (yang lumayan tebal ituh) dan jujur, saya kurang bisa menikmati novelnya. Mungkin karena terjemahannya kurang enak ya, saya jadi lama banget baca novel tersebut (beberapa bulan mungkin?) dan selalu ngantuk tiap bacanya. Padahal dari segi cerita, saya suka banget sama ide cerita novel ini. Dan versi filmnya ini menurut saya gak begitu membuat saya bosan sebagaimana versi novelnya. Hmm, ada sih beberapa scene yang membosankan dari film ini, tapi overall gak begitu banyak dan menurut saya film ini lumayan bagus.

Yang patut diacungi jempol dari film ini adalah visualisasi dunia antara-dunia-nyata-dan-surga yang menurut saya keren banget. Pas saya baca novelnya, imajinasi saya kayaknya gak nyampe situ. Indah. Indah banget. Perubahan-perubahan suasana yang ada di dunia tersebut, yang bikin filmnya sedikit bernuansa surealis, juga bikin saya terkagum-kagum melihatnya. Peter Jackson gitu, kayaknya ada yang salah kalo dia gak nyempilin efek-efek canggih :p Oh iya, visualisasi dunia yang ada di film ini juga sedikit mengingatkan saya pada visualisasi dunia-dalam-cermin yang ada di film The Imaginarium of Doctor Parnassus. Tapi masih lebih canggih The Imaginarium meskipun kedua-duanya sama-sama indah.

Dari segi cerita, cerita filmnya tampak lebih sederhana dari versi novelnya, yang menurut saya oke-oke aja *malah kalo terlalu detail kayak di novelnya, mungkin film ini akan tambah membosankan*. Dan menurut saya sah-sah aja menggabungkan beberapa genre dalam sebuah film. Meskipun tema utamanya adalah drama, tapi sang sutradara juga menyisipkan unsur thriller (yang lumayan bikin tegang) dan fantasi (melalui dunia Susie) ke dalam film ini, yang menurut saya oke-oke aja dan sama sekali gak mengganggu cerita secara keseluruhan atau membuat film ini jadi tidak jelas genre-nya. Toh, dalam kehidupan sesungguhnya, tidak mungkin hidup ini hanya berisi satu tema bukan? *ting ting*

Akting-akting pemainnya pun lumayan oke. Yang paling hebat sih, Stanley Tucci sebagai Mr. Harvey. Awalnya sih, sosok Mr. Harvey di film ini gak sesuai sama bayangan saya. Yang di film terlalu ramah abisnya. Tapi begitu ekspresinya berubah jadi kepribadiannya yang sebenarnya *bukan topeng*, saya gak bisa ngomong apa-apa lagi. Salut *lah, ini bisa ngomong?*. Saoirse Ronan juga sangat pas memerankan karakter Susie. She’ll be the next rising star 🙂 Mark Wahlberg dan Rachel Weisz juga sama-sama menampilkan aktingnya yang prima. Oh iya, satu lagi yang paling saya suka aktingnya adalah Susan Sarandon yang berperan sebagai Grandma Lynn. Gokil banget akting nenek satu ini :D. Btw, saya kurang sreg sama pemeran karakter Ray dan Ruth. Kalo soal Ray, ini subjektif sih, kurang suka tampangnya dan gak sesuai sama bayangan saya. Kalo Ruth, menurut saya, tampangnya terlalu tua untuk anak 14 tahun. Selain itu, aktingnya menurut saya agak kaku. Padahal Ruth ini di novelnya adalah salah satu karakter yang paling menarik karena memiliki kepribadian yang unik. Tapi sayangnya di film ini karakternya tidak begitu dikembangkan dan tampak seperti tempelan saja.

Well, segini aja review saya. Secara keseluruhan film ini lumayan bagus, meskipun memiliki beberapa kekurangan. Saya kasih 3,5 bintang deh 🙂

Rating : 1 2 3 3,5 4 5

Read Full Post »

Older Posts »