Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘documentary’ Category

Sekarang ini adalah zamannya situs jejaring sosial. Kita ini adalah generasi facebook, katanya. Berkomunikasi dengan orang lain saat ini bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Tinggal buka facebook (atau situs jejaring sosial sejenis), dengan mudah kita bisa terhubung dengan orang-orang yang jaraknya mungkin beratus-ratus kilometer dari keberadaan kita, baik orang yang kita kenal maupun kita tidak kenal. Ya, untuk bagian terakhir itu, tidak jarang kita melihat bahwa saat ini facebook (atau situs jejaring sosial sejenis) tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang sudah kita kenal saja, tapi juga untuk berkenalan dengan orang baru yang tidak kita kenal. Mungkin kamu atau orang-orang di sekitar kamu pernah juga mengalami hal ini: berkenalan dengan seseorang yang tidak kamu kenal di facebook, dan setelah itu mulai rutin berkomunikasi dan akhirnya bertemu. Tidak jarang hal tersebut berjalan mulus dan menghasilkan kebahagiaan (misalnya sering kali kita dengar ada orang yang menikah setelah berkenalan di facebook atau dunia maya) bagi orang-orang tersebut, tapi tidak jarang pula jika banyak yang menemui kegagalan atau merasa tertipu karena orang yang dikenalnya melalui facebook tersebut tidak sesuai dengan yang ada di dunia nyata. Inilah salah satu sisi jelek dari sesuatu yang dinamakan “situs jejaring sosial”. Karena keberadaannya yang terbuka dan tanpa syarat yang rumit, dengan mudah kita bisa menciptakan identitas baru di dunia maya. Seperti kata orang-orang, di dunia maya ini kita bisa menjadi siapa saja.

“Catfish” adalah sebuah film dokumenter yang mencoba mengangkat masalah yang mungkin pernah dialami oleh orang-orang yang akrab dengan internet dan situs jejaring sosial seperti facebook. Tunggu dulu, sebenarnya saya tidak yakin kalau film ini murni dokumenter. Dari ceritanya yang tersusun rapi dan beberapa faktor lainnya, saya merasa kalau ini adalah mockumentary alias dokumenter palsu. Dua orang pembuatnya, Henry Joost dan Ariel Schulman sendiri menyatakan bahwa film ini seratus persen asli dan tanpa rekayasa. Tapi apapun kenyataannya, mau ini dokumenter atau mockumentary, menurut saya Catfish tetaplah film yang bagus dan sangat menghibur. Film ini seolah menampar secara halus orang-orang yang sering kali “tidak jujur” dalam situs jejaring sosial. Memang, seperti apa sih ceritanya? Secara singkat, film ini merupakan dokumentasi dari kehidupan seorang Yaniv Schulman setelah ia berkenalan dengan seorang anak kecil bernama Abby yang mengirimkan lukisannya melalui e-mail, yang mana lukisan tersebut dilukis berdasarkan foto jepretan Nev (panggilan Yaniv) yang pernah dimuat di surat kabar. Perkenalannya dengan anak kecil tersebut berlanjut pada perkenalan Nev dengan keluarga Abby, melalui facebook. Nev tertarik dengan kakak perempuan Abby yang bernama Megan yang dilihatnya di facebook, dan mulai sering berkomunikasi dengannya, baik melalui internet maupun telepon. Namun, setelah itu Nev mulai menemukan beberapa kejanggalan pada sosok Megan. Lalu, apa yang akan dilakukan Nev selanjutnya?

Seperti yang telah saya tulis tadi, menonton Catfish rasanya seperti sedang menyaksikan film cerita (bukan documenter). Saya sendiri bukanlah orang yang sering menonton film dokumenter. Tapi menurut saya unsur yang ada di dalam Catfish ini merupakan unsur yang yang biasa dimiliki film cerita. Ceritanya berjalan runtut dan rapi dan memiliki hubungan kausalitas. Catfish juga memiliki unsur yang jarang dimiliki oleh film yang sekadar bertujuan untuk mendokumentasikan suatu kejadian, yaitu unsur misteri yang benar-benar membuat penasaran. Di sini kita ditempatkan di posisi yang sama seperti Nev dan teman-temannya, yaitu posisi “tidak tahu” mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya. Unsur misteri itulah menurut saya yang menjadi kelebihan dari film ini karena berhasil menjadikan film ini menjadi sangat menghibur dan tidak membosankan.

Seperti yang telah saya bilang tadi, film ini menampar secara halus orang-orang yang sering kali “tidak jujur” dalam dunia maya. Namun, film ini sama sekali tidak berniat untuk menghakimi orang-orang tersebut. Film ini mencoba menunjukan bahwa selalu ada alasan di balik tindakan seseorang, begitu juga dengan orang-orang macam ini. Namun, film ini juga menunjukan bahwa ketidakjujuran tidak akan membahagiakan kita dalam waktu yang lama. Pasti akan selalu ada perasaan bersalah karena ketidakjujuran ini. Dan bukankah menjadi diri sendiri itu lebih baik dan tidak menimbulkan beban? Tidak hanya menampar orang-orang tidak jujur tersebut, film ini juga menyindir orang-orang yang gampang terbuai dengan image orang yang sebetulnya tidak ia kenal, di situs jejaring sosial. Orang-orang “tidak jujur” tersebut memang salah, tapi bukankah itu juga kesalahan kita yang dengan mudah tertipu hanya dengan melihat pencitraan mereka di dunia maya? Film ini mencoba menunjukan bahwa tidak ada yang seratus persen benar dan seratus persen salah dalam masalah ini.

Ja, segini aja review dari saya. Secara keseluruhan saya suka banget film ini. Highly recommended buat para penyuka film dokumenter maupun film yang berbau misteri, dan juga buat orang-orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membuka situs jejaring sosial macam facebook :D. 4 bintang deh.

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »